[One Shot] I’m Sorry

cover I'm sorry

Credit poster : Haruhi

Decitan kursi mengusik tidur seorang gadis di pojok kelas. Ia membuka matanya lalu menoleh enggan pada asal suara dan mendapati seorang pria tengah menatapnya dengan tatapan datarnya. Pria itu seolah enggan untuk menunjukkan ekspresi apapun membuat gadis itu mendecak pelan.

“Kenapa sih kau suka sekali mengganggu tidurku?”

Pria itu tersenyum separuh lalu berkata, “Aku mau duduk, bukan salahku kalau bunyi kursinya membangunkanmu.”

Pria itu mengalihkan perhatiannya pada tas ransel yang ia bawa lalu mengeluarkan sebuah buku – entah buku apa sepertinya sebuah notes. “Lagipula kenapa sih kau selalu tidur di sekolah setiap hari senin pagi?” tanya pria itu, merujuk pada kebiasaan si gadis, setiap hari senin ia akan datang ke sekolah pagi-pagi benar lalu tidur di bangku pojok kelas mereka.

Gadis itu urung merebahkan kembali kepalanya di meja. Ia berjalan menghampiri pria yang duduk dua bangku di depannya. Ia menarik kursi di sebelah pria itu lalu duduk. “Entahlah, aku selalu tidak bisa tidur di hari minggu.”

Pria itu – Shim Chang Min mendengus mendengar jawaban gadis itu – gadisnya, Kim Yoon Hee.

“Dasar aneh!”

= n = e = y = s =

Yoonhee memainkan sepatunya di atas pasir halaman sekolahnya. Sudah setengah jam ia menunggu Changmin tapi pria itu belum menunjukkan batang hidungnya lagi sejak menitipkan tas sekolahnya pada Yoonhee begitu bel pulang sekolah berbunyi.

Yoonhee yang masih memeluk tas ransel Changmin itu beranjak dari tempatnya berdiri, memutuskan untuk mencari tempat duduk karena kakinya mulai lelah. Ia pikir Changmin tidak akan selama ini. Yoonhee menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang kantin sekolah lalu meletakkan tas Changmin di sebelahnya.

Sudah jadi kebiasaan Yoonhee untuk selalu menunggu Changmin. Menunggu Changmin rapat OSIS seperti sekarang misalnya. Menunggu Changmin menjemputnya di rumah saat hendak berangkat sekolah – selain hari senin tentunya. Termasuk menunggu Changmin mengungkapkan perasaan padanya. Meski saat ini mereka berpacaran, belum pernah sekalipun Changmin mengungkapkan bahwa ia mencintai Yoonhee.

Hubungan mereka tidak lebih dari anggapan pribadi, bahwa tak perlu ada kata-kata ‘maukah kau menjadi kekasihku?’ diantara mereka. Tak perlu mengumbar kata cinta untuk menunjukkan perasaan. Mereka tahu perasaan masing-masing, begitu saja cukup. Meski sebenarnya Yoonhee tidak terlalu setuju dengan anggapan itu, ia selalu berusaha menahannya sendiri demi Changmin.

Ponsel Changmin berdering, membuyarkan lamunan Yoonhee. Ia meraih ponsel Changmin di tas pria itu lalu menatap layar sejenak saat mendapat sederet nomor tak dikenal. Ragu-ragu Yoonhee menyentuh layar ponsel, mengangkat panggilan tak dikenal tersebut.

“Yeoboseyo…”

Tidak ada jawaban. Orang tersebut mengakhiri panggilan itu sepihak.

Yoonhee berdecak pelan lalu meletakkan ponsel Changmin di atas meja. Selama setahun mereka dekat, belum pernah sekalipun ia melihat-lihat isi ponsel Changmin. Yoonhee kembali meraih ponsel Changmin, ragu ia menekan tombol di sisi kanan ponsel tersebut.

Pattern lock.

Yoonhee berpikir sejenak sebelum akhirnya membentuk huruf S di layar dan mendapati pola tersebut salah. Tak lama berselang ia kembali menyentuhkan jemarinya di atas layar dan membentuk pola menyerupai huruf M tapi sayang lagi-lagi polanya salah.

“Apa dia menggunakan namaku ya?” gumam Yoonhee.

“Bagaimana cara membentuk huruf Y ya? Sepertinya bukan, kalau begitu mari kita coba huruf h.”

Jemari Yoonhee bergerak di atas layar, membentuk pola menyerupai huruf h kecil. Dan… berhasil.

Yoonhee tertawa kecil saat berhasil membuka kunci di ponsel Changmin, selain tentu saja bahagia mengetahui inisial namanyalah yang menjadi kunci untuk ponsel Changmin.

“Mari kita melaju ke galeri. Apa dia menyimpan gambarku ya? Dia kan sangat menyebalkan, jangan-jangan tidak ada fotoku di sini.”

Yoonhee menyentuh sekilas simbol galeri di ponsel Changmin yang langsung menampilkan beberapa folder. Ia melihat sekilas nama-nama folder di sana dan memutuskan untuk melihat isi folder yang Changmin beri nama ‘Me and Her’ karena folder itu menujukkan fotonya bersama Changmin yang pernah mereka ambil beberapa bulan lalu saat mereka menghadiri sebuah pesta ulang tahun teman sekelas mereka.

Hanya ada beberapa belas foto di sana karena memang Changmin seringkali menolak saat Yoonhee mengajaknya foto bersama. Yoonhee tersenyum melihat foto-foto yang ada di sana, bahagia karena ternyata Changmin menyimpan semua foto yang ia kirimkan di kakaotalk setiap kali mereka usai foto bersama menggunakan ponsel miliknya.

Ia keluar lalu beralih ke folder lain yang Changmin beri nama ‘HR’. Folder itu menunjukkan foto seorang gadis yang belum pernah Yoonhee lihat sebelumnya. Ia membuka folder tersebut dan menemukan puluhan foto gadis itu di dalamnya. Mulai dari fotonya saat memainkan ponsel, fotonya saat menulis, fotonya saat tertawa, fotonya saat berpose di pantai dan… sebuah foto di mana ia mengecup pipi Changmin.

Seperti ada debu yang tiba-tiba masuk ke matanya, air mata Yoonhee keluar begitu saja.

Siapa gadis ini?

Yoonhee mengusap air matanya, ia tidak boleh berburuk sangka lebih dahulu. Siapa tahu gadis itu saudaranya yang belum ia kenal. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri meski jujur saja hatinya menolak untuk mempercayai apa yang baru saja ia pikirkan.

Ia keluar dari galeri lalu kembali menekan tombol di sisi kanan ponsel Changmin. Ia sudah tidak tertarik lagi untuk menjelajahi ponsel kekasihnya.

Ia menghabiskan waktu berikutnya hanya dengan menatap kosong tembok di seberang mejanya masih dengan pikiran yang kacau.

“Ayo pulang.”

Suara itu membuyarkan Yoonhee dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Changmin tengah menatapnya. Pria itu lalu mengendikkan kepalanya, kembali mengajak gadisnya beranjak. Changmin meraih tas miliknya sekaligus tas milik Yoonhee lalu berjalan menuju pintu gerbang, meninggalkan Yoonhee beberapa langkah di belakangnya. Sengaja, ia tahu bahwa Yoonhee akan segera menyusulnya – seperti biasa.

“Kau selalu meninggalkanku di belakangmu. Selalu. Tidak pernahkah kau tahu, aku ingin kau menungguku untuk berjalan di sisimu,” ucap Yoonhee lirih sebelum akhirnya ia berlari menyusul Changmin.

“Kenapa lama sekali? Biasanya larimu cepat.”

Yoonhee hanya menggeleng sekilas, enggan untuk menjawab pertanyaan Changmin lebih lanjut. Ia tengah menimbang-nimbang apakah ia harus menanyakan perihal foto gadis di ponsel Changmin atau tidak. Ia takut jika jawaban Changmin menyakiti hatinya tapi ia juga sangat penasaran.

“Changmin-ah…”

“Hm? Ada apa?”

“Ada yang ingin kutanyakan.” Yoonhee mengatakannya sambil meremas ujung kemeja seragam sekolahnya.

Changmin yang menyadari tingkah Yoonhee mengernyitkan dahinya.

Tidak biasanya Yoonhee seperti ini. Ada apa sebenarnya?

“Tanyakan saja. Ada apa?”

“Aku tadi sempat melihat-lihat ponselmu. Lalu-“

“Apa? Kau melihat apa?” potong Changmin. Ia sedikit terkejut karena tidak biasanya Yoonhee melihat-lihat barang miliknya.

“Ponselmu. Ya, aku melihat ponselmu.” Yoonhee menghentikan langkahnya. Saat ini mereka masih berada di halaman sekolah, sudah sangat dekat dengan pintu gerbang. Beberapa anak OSIS lain sempat menoleh pada mereka berdua sebelum akhirnya berlalu begitu saja karena Changmin dan Yoonhee tidak ada yang menggubris keberadaan mereka.

“Aku melihat foto seorang gadis di sana. Aku hanya… Aku hanya ingin tahu dia siapa. Itu saja.”

Changmin menghela napasnya kasar lalu membuang pandangannya dari Yoonhee. “Hyerin. Namanya Hyerin kalau kau ingin tahu. Dia cinta pertamaku, aku sudah pernah bercerita padamu sebelumnya kan kalau sebelum ini aku pernah mencintai seorang gadis saat SMP?”

“Ya, tapi-“

“Lebih baik kita membahas hal lain saja, aku malas membicarakannya. Ayo pulang.”

Changmin tidak memberi Yoonhee kesempatan untuk bertanya lagi. Ia meraih jemari Yoonhee lalu mengajak gadis itu bergegas. Tidak memedulikan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benak Yoonhee.

Ia tidak peduli. Ia tidak pernah peduli.

 = n = e = y = s =

Changmin melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Sudah beberapa kali ia menghubungi Yoonhee tapi tidak mendapatkan jawaban. Gadis itu mengacuhkan panggilannya.

Changmin sendiri sebenarnya tidak benar-benar yakin mengenai apa yang akan ia bicarakan jika gadis itu mengangkat ponselnya tapi ekspresi Yoonhee sore tadi benar-benar membuatnya tidak tenang.

Gadis itu terluka, Changmin tahu itu tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.

“Maafkan aku, Yoonhee-yah…”

= n = e = y = s =

Yoonhee menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menghembuskannya perlahan. Ia tengah menunggu jemputan Changmin, ia tidak bisa terus-terusan menghindari Changmin.

Yoonhee berlari kecil saat pintu gerbang rumahnya berbunyi. “Eomma, aku berangkat.”

“Hai!” sapa Yoonhee pada Changmin yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

“Tidak biasanya kau sudah siap,” ucap Changmin yang hanya disambut dengan cengiran oleh Yoonhee.

Memang, biasanya Changmin akan menunggu barang sepuluh atau bahkan lima belas menit, menunggu gadis itu menghabiskan sarapannya tapi hari itu Yoonhee memutuskan untuk melewatkan sarapannya – tidak selera.

“Eomoni, kami berangkat dulu,” pamit Changmin yang dibalas dengan senyum lebar.

Changmin dan Yoonhee sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun selama setengah perjalanan. Sama-sama bingung harus memulai darimana.

“Kapan masa tugas OSIS-mu berakhir?” tanya Yoonhee akhirnya.

Changmin menoleh cepat, sedikit kaget mendengar pertanyaan gadis itu. Bukan karena pertanyaannya tapi lebih ke keputusan gadis itu untuk memulai percakapan lebih dulu.

“Sebentar lagi. Bagaimanapun juga kan kita sudah kelas 3, meski aku ingin sekali tetap menjadi bagian dari mereka tapi tetap saja tidak bisa.”

Yoonhee hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Changmin. Pria itu benar, mereka sudah kelas 3 yang itu artinya tidak lama lagi mereka akan lulus. Ke manakah mereka setelah ini? Haruskah Yoonhee mengikuti universitas pilihan Changmin kelak? Atau… Haruskah ia memilih universitas yang lain?

“Setelah lulus nanti-“

Ponsel Changmin bergetar, menahan pertanyaan pria itu. Ia mengambil ponselnya dan sedikit kaget saat mendapati sederet nomor yang sudah ia hafal luar kepala tengah menghubunginya. Tidak, ia tidak bisa mengangkat panggilan itu sekarang. Tidak saat Yoonhee bersamanya. Changmin mengabaikan panggilan tersebut, kembali memasukkan ponselnya ke saku.

“Siapa?” tanya Yoonhee.

“Entahlah, nomornya tidak tersimpan di ponselku.”

“Kenapa tidak coba diangkat? Siapa tahu penting.”

“Biarkan saja, belakangan banyak orang iseng yang menghubungiku.”

Yoonhee hanya bisa mengangguk-angguk mendengar jawaban Changmin.

“Soal kemarin… Mari kita lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah melihat ponselmu.”

Lagi, Changmin menoleh cepat. Yoonhee berkata dia akan melupakan kejadian kemarinn? Seolah ada batu yang terangkat dari pundaknya, ia menghela napas lega. Setidaknya ia tidak perlu mengucapkan kebohongan-kebohongan baru pada Yoonhe.

= n = e = y = s =

Bulan bulan selanjutnya, baik Changmin maupun Yoonhee disibukkan dengan persiapan ujian kelulusan mereka sekaligus persiapan masuk universitas. Changmin memutuskan untuk mencoba peruntungannya untuk kuliah di Seoul National University yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Yoonhe. Ia tidak sepintar Changmin jadi ia memutuskan untuk memilih universitas yang berbeda.

“Kau yakin tidak ingin mencoba ujian masuk di sana juga?” tanya Changmin pada Yoonhee yang tengah sibuk melihat-lihat brosur-brosur universitas.

Yoonhee menggeleng yakin. “Aku bisa mati jika kuliah di sana. Lebih baik aku kuliah di luar negeri saja sekalian.”

Changmin mengetuk dahi Yoonhee pelan. “Kau pikir kuliah di luar negeri itu mudah? Ingat kemampuan bahasa inggrismu, meskipun tidak buruk tapi percayalah kuliah di luar negeri tidak semudah yang kau bayangkan.”

Yoonhee menjulurkan lidahnya. “Aku tidak bilang kuliah di luar negeri akan mudah tapi kuliah di Seoul National University sepertinya lebih tidak bisa kuterima.”

Changmin mendengus. “Terserah kau sajalah.”

Hubungan Yoonhee dan Changmin berangsur-angsur membaik, kembali pada titik semula. Yoonhee dengan keceriaan dan sifatnya yang blak-blakan serta Changmin yang akan selalu menegur semua kecerobohan dan sikap spontan Yoonhee. Changmin yang selalu tertutup yang tanpa disadarinya selalu menyakiti hati Yoonhee.

Satu hal yang Changmin tidak tahu, ada sebuah gagasan di benak Yoonhee yang meski ia sendiri ingin mengenyahkan tapi tidak juga berhasil. Sebuah gagasan yang meskipun ingin ia hindari tapi sekaligus ingin ia ambil.

= n = e = y = s =

Ponsel Changmin bergetar, layarnya berkedip-kedip menandakan ada sebuah panggilan masuk. Changmin masih ada di kamar mandi jadi Yoonhee meraih ponsel itu. Lagi-lagi nomor tak dikenal.

“Yeoboseyo…”

“Yeoboseyo… Siapa ini?”

“Apa aku bisa bicara dengan Changmin oppa?”

Changmin oppa? Yoonhee bertanya dalam hati. Siapa gerangan gadis ini? Kenapa ia mencari Changmin?

“Ya, dengan siapa aku bicara?”

“Hyerin.”

Hyerin? Hyerin cinta pertama Changmin?

“Changmin sedang ada di kamar mandi. Nanti akan kuminta dia menghubungimu kembali.”

Yoonhee langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari Hyerin. Matanya memanas, air matanya siap menyeruak. Ada begitu banyak pikiran yang mengganggunya.

Apakah Changmin dan gadis itu berhubungan dibelakangku?

Apakah Changmin masih mencintai gadis itu?

Apakah Changmin sebenarnya tidak pernah mencintaiku?

Kenapa Changmin tidak bercerita apa-apa padaku?

Kenapa kepercayaanku pada Changmin tiba-tiba saja luntur begitu saja?

Yoonhee sesenggukan. Ia tidak lagi bisa mengontrol emosinya. Jadi, inikah alasan Changmin tidak pernah berkata cinta padanya? Pikiran itu terus mengganggu dan menyakiti hatinya.

Hyerin?

H?

Jadi… Inisial h di ponselmu ini untuknya?

“Bodoh! Aku memang bodoh,” rutuk Yoonhee sambil memukul kepalanya.

Changmin yang baru saja kembali ke ruang tamu bergegas menghampiri gadis itu. Ia menahan tangan gadis itu yang masih saja terus memukuli kepalanya.

“Yoonhee-yah, ada apa denganmu?”

“Pulanglah… Aku tidak ingin melihatmu lagi. Seharusnya aku tahu sejak awal ada yang salah dengan hubungan kita.”

Changmin membeku. Tidak mengerti dengan perkataan Yoonhee. Ia hanya meninggalkan Yoonhee selama beberapa menit untuk ke kamar mandi tapi tiba-tiba saja Yoonhee menjadi seperti ini.

“Yoonhee-yah, ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti.”

Yoonhee mendengus. “Apa kau bilang? Tidak mengerti?”

“Hyerin. Apa kau masih tidak mengerti juga setelah aku mengucapkan nama itu?”

Changmin membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu tapi akhirnya malah mengurungkannya. Ia melepaskan tangannya di pergelangan tangan Yoonhee lalu merapikan barang-barangnya lalu meninggalkan rumah Yoonhee.

Meninggalkan Yoonhee yang sudah tidak menangis tapi merasa begitu hina.

Kau bahkan tidak berniat menjelaskan apa-apa padaku. Sebegitu tidak berartinyakah aku untukmu… Changmin?

= n = e = y = s =

“Maafkan aku, Yoonhee-yah…”

Changmin menutup pintu gerbang rumah Yoonhee lalu berjalan menjauh.

Menjauh dari hati Yoonhee.

Menjauh dari hidup Yoonhee.

= n = e = y = s =

Changmin menatap ponselnya. Bukan ponselnya sebenarnya melainkan wajah seorang gadis yang menghiasi layarnya.

Kim Yoon Hee.

Betapa Changmin sangat merindukan gadis itu. Betapa menyesalnya ia karena harus membuat gadis itu menangis dan tersakiti karena dirinya. Betapa inginnya ia bertemu dengan gadis itu.

Berulang kali ia berniat untuk menelepon Yoonhee atau bahkan sekedar mengirimi gadis itu pesan di akun kakao miliknya tapi selalu Changmin urungkan. Ia takut kemunculannya hanya akan menyakiti gadis itu. Lagi.

Hyerin. Changmin memang masih belum bisa melupakan gadis itu. Siapa yang bisa melupakan cinta pertamanya begitu saja? Tidak ada kan? Begitu juga dengan Changmin. Bukan, bukan itu artinya dia tidak mencintai Yoonhee. Ia hanya takut perbuatannya tidak sebanding dengan kata cinta yang ia umbar pada gadis itu.

Dulu, ia pernah begitu mencintai Hyerin. Ia pernah melewati masa di mana kata cinta itu ia ucapkan sesering yang ia bisa agar Hyerin tahu betapa Changmin mencintainya. Tidak ada hal besar yang membuat jalinan cinta antara Changmin dan Hyerin berakhir. Mereka putus, begitu saja.

Changmin dan Hyerin melanjutkan SMA di sekolah yang berbeda, jadi mereka memutuskan untuk berpisah.

Saat Changmin bertemu Yoonhee, perlahan-lahan gadis itu merebut perhatian Changmin dengan semua tingkahnya. Yoonhee membuat waktu Changmin untuk memikirkan Hyerin sedikit demi sedikit berkurang, berganti dengan memikirkannya. Yoonhee membuat Changmin berani untuk kembali menjajaki sebuah hubungan baru.

Changmin memilih untuk tidak menceritakan soal Hyerin adalah karena ia tidak ingin menyakiti Yoonhee. Ia tidak ingin Yoonhee tahu betapa Changmin pernah mencintai Hyerin. Betapa Changmin selalu mengatakan cinta pada gadis itu sementara ia sendiri tidak pernah mengatakannya pada Yoonhee.

Oleh karena itu Changmin sengaja tidak menyimpan nomor Hyerin, ia tidak ingin kembali menghubungi gadis itu jika saja ia tiba-tiba teringat pada Hyerin. Ya meskipun sebenarnya sia-sia saja, toh Changmin menghafal nomor gadis itu di luar kepalanya.

Soal foto-foto Hyerin. Jujur saja, ia tidak memiliki alibi untuk itu. Terkadang ia merindukan gadis itu. Tidak, mungkin lebih tepatnya merindukan kenangan-kenangannya bersama gadis itu.

Sesekali Hyerin memang menghubungi Changmin. Tidak ada yang spesial. Saling bertukar kabar. Semuanya sudah berubah. Hubungan mereka tidak lagi sama. Mereka hanya berusaha untuk berteman meski nyatanya hal itu juga sulit diwujudkan.

Sementara Yoonhee? Changmin mengusap wajahnya. Ingin sekali ia menertawakan kebodohannya sendiri. Menyia-nyiakan gadis yang ia cintai dengan sikap pengecutnya. Melewatkan setiap kesempatan yang ia punya untuk menjelaskan perasaannya yang sebenarnya pada Yoonhee.

“Maafkan aku, Yoonhee-yah…”

= n = e = y = s =

Yoonhee membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ia mengambil air putih di meja sisi tempat tidurnya lalu meminumnya hingga habis.

Shim Chang Min.

Nama pria itu berdengung di telinganya. Sudah beberapa bulan berlalu dan untuk kesekian kalinya ia memimpikan pria itu.

“Aku terus saja membuatmu terjaga dengan memimpikanmu. Kapan aku akan berhenti memimpikanmu?” tanya Yoonhee, lebih pada dirinya sendiri.

Yoonhee mengambil ponselnya lalu mengecek akun kakao miliknya. Ada beberapa pesan baru tapi mengabaikannya begitu saja. Ia malah melihat-lihat kontak yang ada lalu jemarinya terhenti saat membaca nama Changmin. Foto yang dipasang belum berubah, foto hasil jepretannya saat mereka makan malam di rumah Yoonhee tak lama setelah mereka berpacaran.

Yoonhee masih ingat bagaimana hari-hari mereka saat masih bersama. Meski Changmin tidak pernah benar-benar menunjukkan perasaannya secara langsung tapi ia bisa merasakan bagaimana pria itu selalu menjaganya.

“Changmin-ah… Bagaimana kabarmu?”

Detik itu juga pertahanan Yoonhee runtuh. Gadis itu menangis.

Ia merindukan bagaimana pria itu menjemputnya setiap pagi, berbincang dengan ibunya sambil menunggunya menghabiskan sarapan. Ia merindukan bagaimana pria itu mengajarinya pelajaran-pelajaran yang belum ia pahami. Ia merindukan bagaimana pria itu selalu menggenggam jemarinya saat berkencan. Ia merindukan bagaimana pria itu selalu ada untuknya.

Ia merindukan Changmin-nya.

= n = e = y = s =

Sinar matahari menyilaukan menyembul dari celah jendela di kamar Changmin membuatnya mau tidak mau bangun dari tidurnya.

Setelah semalaman tidak bisa tidur akhirnya ia bisa terlelap setidaknya sekitar dua jam lalu dan demi Tuhan, dari dua jam itu kenapa harus ada Kim Yoon Hee di dalamnya?

Changmin memimpikan Yoonhee.

Aku memimpikannya? Apakah dia merindukanku?

Changmin tidak akan melewatkan pertanda ini begitu saja atau ia akan menyesal selamanya.

Yoonhee-yah… Bagaimana kabarmu?

Changmin mengirimkan pesan itu yakin. Ia melihat lagi foto yang Yoonhee pasang di akun kakao miliknya. Fotonya berdiri di sebelah patung Hachiko. Ya, Yoonhee memang akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang. Setelah sebelumnya sempat ragu akhirnya ia menerima tawaran ayahnya yang tengah bekerja di Jepang untuk pindah ke sana.

Satu menit terasa begitu lama bagi Changmin. Ia takut Yoonhee bahkan tidak akan lagi bersedia membalas pesannya. Sudah begitu lama mereka tidak berhubungan. Tidak, meskipun Changmin tahu Yoonhee akan ke Jepang ia tidak juga bereaksi. Tidak, meskipun Changmin tahu Yoonhee kemungkinan akan menetap lama di Jepang ia masih juga tidak bereaksi apa-apa. Oleh karena itu saat ini ia diliputi ketakutan.

Sementara itu, jemari Yoonhee bergetar saat mengetahui siapa yang mengiriminya pesan. Seharusnya ia marah, ia tahu itu. Seharusnya ia kecewa, ia juga tahu itu. Tapi, mengapa yang terjadi justru sebaliknya? Hatinya meletup-letup karena bahagia. Jantungnya berdebum karena rindu. Kalau cinta sudah bicara, mau apa lagi?

Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Ngomong-ngomong apakah kau terjaga semalaman tadi?

Changmin melonjak saat membaca balasan Yoonhee. Ia tidak tahu jika rasanya akan sebahagia ini membaca balasan dari Yoonhee. Ia sudah melakukan banyak kesalahan pada Yoonhee tapi ternyata gadis itu masih sudi membalas pesannya bahkan menanyakan keadaannya. Ia tidak tahu saja jika Yoonhee juga merasakan hal yang sama saat tahu ia mengiriminya pesan di kakao.

Bagaimana kau bisa tahu?

Changmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa Yoonhee mengetahuinya?

Aku memimpikanmu. Kata orang, ketika kita tidak bisa tidur dan malah terus terjaga itu artinya kita sedang berada di dalam mimpi orang lain.

Changmin tersenyum membaca jawaban Yoonhee. Ada satu hal tentang mimpi yang gadis itu tidak ketahui.

Apa kau merindukanku?

Cukup lama Changmin menunggu jawaban untuk pertanyaannya kali ini. Hanya untuk mendapatkan jawaban….

Eh?

Changmin mengetikkan jawabannya dengan senang hati. Ia senang, jawaban Yoonhee membuatnya yakin jika kata-katanya benar. Aku merindukannya dan dia memimpikanku. Dia merindukanku dan aku memimpikannya, pikirnya girang.

Tidakkah kau tahu, kata orang juga… Jika kita merindukan seseorang, orang yang kita rindukan itu akan memimpikan kita. Kuberi tahu sesuatu… Bukan hanya kau yang memimpikanku karena aku baru saja memimpikanmu. Itu artinya, kau merindukanku kan, Kim Yoonhee?

Membaca penjelasan Changmin membuat Yoonhee teringat akan satu hal.

Dulu… Saat kita masih sekolah, apa kau selalu memimpikanku di hari minggu?

Changmin tergelak membaca pertanyaan Yoonhee. Sekarang ia tahu apa penyebab keanehan yang gadis itu ciptakan setiap hari senin.

Menurutmu?

Yoonhee mendengus. Pria brengsek! Dulu, mereka nyaris tidak pernah melewatkan hari minggu bersama karena lebih memilih untuk bersama-sama dengan keluarga tapi nyatanya Yoonhee selalu merindukan laki-laki itu. Susah dipercaya memang, tapi toh nyatanya mitos soal mimpi itu berlaku pada mereka berdua.

Changmin rupanya tidak ingin menyia-nyiakan momen langka ini. Momen di mana seorang Yoonhee kehilangan kata-kata.

Jadi… Kau sedang merindukanku kan, Kim Yoonhee?

Baiklah, tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Yoonhee meyakinkan dirinya sendiri. jemarinya menari lincah di atas ponselnya, memberikan jawaban singkat pada pria di seberang sana.

Sepertinya…

Belum pernah Changmin merasa excited seperti ini beberapa waktu belakangan. Seberapapun kerasnya usaha yang ia lakukan untuk kembali menjalani hari-harinya seperti biasa selalu saja gagal. Ia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri untuk setiap kebodohan dan sikap pengecutnya selama ini. Seperti manusia tanpa jiwa, berjalan ke sana ke sini tapi tidak bergairah sama sekali.

Sementara kini, senyum merekah itu kembali menghiasi wajahnya. Mungkin dulu Yoonhee adalah sosok yang menggantikan posisi Hyerin tapi saat ini Yoonhee adalah sosok yang tak tergantikan di hati Changmin. Tidak ada yang bisa dan tidak ada yang akan Changmin biarkan untuk itu.

Hanya Yoonhee yang bisa membuatnya melakukan hal-hal yang sangat tidak dirinya, menjadikan hal itu menjadi masuk akal.

Ada yang bilang ketika kita jatuh cinta kita akan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, padahal pada kenyataannya, ketika kita jatuh cinta, semua akan menjadi masuk akal karena kita melakukannya atas nama cinta. Yeah, begitulah cara kerja cinta…

Oh ya…

Kau bilang kau memimpikanku kan?

Itu karena aku merindukanmu.

Itu karena aku mencintaimu.

Maafkan aku, Yoonhee-yah…

= n = e = y = s =

Sometimes, two people have to fall apart to realize how much they need to fall back together.

neys is back! Hehehe… Ada yang kangenkah sama saya? Atau minimal sama tulisan saya deh.

Baiklah, anggap aja ini FF comeback dari saya. Semoga kedepannya bisa aktif menulis lagi. Amin.

Ide cerita ini berawal dari bahasan seputar mitos mimpi bersama teman-temanku beberapa waktu lalu dan sebuah lagu dari Kim Junsu, I’m Sorry.

Terima kasih untuk kalian yang udah baca cerita ini. Seperti biasa semoga kalian suka dan ada hal baik yang kalian dapat setelahnya.

Sampai jumpa,

neys-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s