[One Shot Series] Our Love Story

isObY45dUJx6h

Previous story
| The Last (Love You Till the End of Time) | Saranghae, My Other Half! | You. Are. Mine. Forever. |

Dear you, Kim Jae Joong…

We came together underneath the stars above. What started out as liking, soon developed into love. I sense a certain something that, in my heart, felt so true that I knew I waited all my life to fall in love with you. – unknown

Di suatu malam di tahun 2007, entah aku yang berhalusinasi atau memang sudah takdir yang menggariskan demikian.  Kau sedang bersama dengan keempat membermu, menikmati waktu senggang di salah satu tempat karaoke hingga suatu waktu kau berpamitan ke kamar kecil. Sementara aku baru saja berniat untuk menunggu salah satu teman sekolahku di depan kamar mandi laki-laki karena sudah diburu waktu pulang. Tak lama kemudian aku mendengar bunyi pintu dibuka dan aku langsung menoleh sembari berseru mengapa temanku cepat sekali. Aku bahkan masih mengingat bagaimana ekspresi bodohku saat menyadari jika aku salah duga.

Kau nampak kebingungan begitu pula denganku. Aku membungkuk berkali-kali sambil meminta maaf. Kau ikut membungkukkan badanmu, mengatakan tidak apa-apa berulang kali. Hingga akhirnya kita sama-sama tertawa, menertawakan kita sendiri atas kekikukan yang kita timbulkan.

Aku masih ingat betul bagaimana kasih mula-mula itu muncul di pertemuan pertama kita. Ketertarikan yang bahkan muncul secara terang-terangan tanpa perlu kita beri aba-aba sebelumnya.

Kau mengulurkan tanganmu lalu berkata, “Kim Jae Joong.”

Aku menjabat tanganmu ragu. Tersenyum kikuk untuk yang kesekian kali. “Aku tahu. Jo neun Jung Ga Eul imnida.”

Aku tahu. Tentu saja aku tahu bahwa pria yang berdiri di hadapanku adalah Kim Jae Joong. Tentu saja aku tahu bahwa dirimu adalah salah satu member sebuah grup yang sangat populer waktu itu, Dong Bang Shin Ki. Aku tahu mengenai kalian tapi tidak tahu jika bertemu langsung denganmu ternyata membawa dampak yang demikian besar untukku. Terlebih, yang aku tidak tahu adalah mengapa kau memilih untuk memperkenalkan dirimu padaku? Di antara sekian banyak hal yang bisa kau lakukan saat itu, mengapa kau memilih untuk memulai kisah antara kita berdua?

“Senang berkenalan denganmu.” Kau tersenyum, kali ini tidak lagi kikuk melainkan begitu tulus dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak membalasnya dengan cara yang sama.

When a girl in in love, you can see it in her smile. When a guy is in love, you can see it in his eyes. – unknown

The right time, the right person. Kurasa kita mendapatkan keduanya. Kita bertemu di waktu yang tepat sebagai dua orang yang ditakdirkan untuk saling menemukan. Sepertinya bahasaku sedikit berlebihan, maklumi saja, tapi kenyataannya memang begitu bukan?

Tidak butuh waktu yang lama hingga akhirnya kita memutuskan untuk bersama, melawan segala ketakutan akan resiko yang harus kita hadapi. Mengesampingkan fakta di mana kita tidak bisa berkencan layaknya pasangan lain di luaran sana. Menahan diri untuk tidak saling menunjukkan status kepemilikan pada orang-orang terdekat kita sekalipun. Mengabaikan ego-ego pribadi yang sebenarnya cukup sulit untuk dipahami, hanya karena kau seorang public figure.

Semua impas. Begitu melihat senyummu, semua pengorbanan itu rasanya begitu adil. Aku bisa melihat cinta di matamu saat memandangku. Melihat rindu yang membuncah tiap kali kita bertemu dan aku selalu gagal menahan senyumku. Gagal untuk tidak mengekspresikan kembali cinta yang tergambar jelas melalui senyumanku.

We are all a little weird and life’s a little weird, and when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall in mutual weirdness and call it love. – Dr. Seuss

“Kau aneh,” ucapku waktu itu.

Kau mengerutkan keningmu, tidak mengerti dengan apa maksudku. Kemudian aku hanya bisa tertawa melihat ekspresimu yang nampak begitu cute itu.

“Kau lebih aneh,” balasmu ketika aku tidak juga menghentikan tawaku meski semenit telah berlalu.

“Kau lebih aneh karena mau bersama orang aneh sepertiku,” jawabku ketika akhirnya aku berhasil menghentikan tawaku – dengan susah payah.

“Yeah, kau benar.”

Dan tawaku tidak terbendung lagi setelahnya.

Yes, we are weird and we love each other. How weird we are. XD

One day you’ll meet someone who doesn’t care about your past because he/ she want to be with you in your future. – unknown

Ketika kita menyayangi seseorang, kita akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk dirinya. Kita akan selalu mengusahakan apa-apa yang baik untuk dirinya. Kau setuju denganku?

Entah berapa kali aku mengingatkanmu supaya berhenti merokok tapi pada kenyataannya rokok telah membuatmu merasakan candu yang sungguh tidak kusukai. Tapi candu bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihentikan, bukan? Saat kau sembuh nantinya, aku tidak akan lagi peduli jika dulu kau pernah menjadi penggemar benda yang bisa merusak tubuhmu itu.

Kau ingat aku pernah melakukan hal konyol demi membuatmu meninggalkan rokok?

Kau tengah merokok di balkon saat aku datang ke tempatmu. Aku yang tidak tahan dengan asap rokok sengaja menghampiri lalu duduk di sampingmu. Sesuatu yang tentu saja membuatmu sedikit kaget.

Tanpa menunggu lama aku mengambil rokok yang ada di mulutmu lalu menghirupnya dengan mulutku sendiri. Aku menghembuskan asap rokok itu perlahan. Ya, aku merokok. Aku mengikuti jejakmu, tapi apa yang kau lakukan? Di saat aku hendak mengulangnya, kau bergegas menarik rokok itu dari mulutku lalu mematikannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanyamu waktu itu. Dari nadamu jelas aku bisa mendengar ada kemarahan di dalamnya. Kau marah jika aku merokok, tidakkah itu juga berarti aku boleh marah jika kau merokok?

Aku mengendikkan bahuku, berusaha tidak terbawa emosimu. “Aku hanya berusaha mengimbangimu. Kalau kau tidak bisa berhenti maka aku yang akan mengikuti jejakmu. Aku hanya sedang belajar merokok, itu saja.”

Kau menarik nafasmu dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. “Tidak. Kau tidak boleh merokok. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu merokok lagi.”

“Wae? Kau mencemaskanku?”

“Tentu saja.”

Aku tersenyum lalu meraih sebelah tanganmu, menggenggam jemarimu. “Begitupun diriku. Berhentilah… Bukan hanya untukku, tapi lebih untuk dirimu sendiri. Untuk kesehatanmu. Untuk masa depanmu. Untuk masa depan kita nantinya.”

Kau mengalihkan pandanganmu sejenak dariku. Menghela nafasmu berat, seolah sekaligus menyalurkan keluar beban yang ada di dalam hatimu selama ini.

“Akan kucoba. Kau harus membantuku,” jawabmu sambil balas menggenggam jemariku.

Aku tersenyum mengiyakan permintaanmu. Permintaan yang tentu saja akan kukabulkan dengan senang hati.

I love you not only for who you are, but for who I am when I am with you. – unknown

Aku tengah menyiapkan dua cangkir teh di dapur saat kau tiba-tiba saja berdiri di sebelahku. Malam itu sekitar tiga tahun lalu seingatku, kedua orang tuamu datang berkunjung di rumahku, sesuatu yang tidak aku perkirakan sebelumnya. Setengah jam sebelum kedatanganmu bersama orang tuamu, kau mengabariku lewat pesan singkat yang kau kirimkan padaku.

Seingatku itu bukanlah hari di mana kita harus memperingati atau merayakan sesuatu, membuatku bertanya-tanya ada apa gerangan. Aku bergegas mengganti piyamaku dengan pakaian yang sedikit lebih rapi tapi tidak berlebihan. Sweater hijau cerah dan celana tiga perempat dengan warna senada. Memastikan bahwa wajahku tidak kusut atau semacamnya meski aku tetap membiarkannya polos tanpa riasan apa-apa.

Ah? Kenapa aku malah menceritakan hal ini padamu ya?

Malam itu kau tersenyum sambil berkata. “Sepertinya orang tuaku ingin cepat-cepat melamarmu untukku.”

Ada sesuatu di dalam dada ini yang rasanya berdebum keras saat mendengar ucapanmu. Melamar diriku untukmu? Jujur saja, itu merupakan tawaran yang sangat menggiurkan sebenarnya, sebelum akhirnya pemikiran-pemikiran itu datang menghalau.

Pernikahan? Siapkah kita?

Bukan soal usia. Bukan soal materi. Tapi tentang hati. Siapkah kita?

Aku bahagia bersamamu. Bahagia saat bisa menjadi seseorang yang kau cari ketika kau membutuhkan seseorang untuk bersandar, atau bahkan hanya untuk sekedar berbincang mengenai hal-hal sederhana.

Aku bahagia bersamamu. Bahagia saat bisa memegang perananku untuk menjadi penolong untukmu. Memberimu semangat ketika kau mulai merasa lelah dengan apa-apa yang kau hadapi. Menyadarkanmu ketika kau mulai salah langkah dan lupa diri.

Aku bahagia bersamamu. Karena saat bersamamu kau membuatku menjadi seseorang yang lebih baik, seseorang yang mempedulikan pasangannya lebih dari apapun.

I cant wait… to spend the rest of my life with you.

To be honest… Yes, I can’t wait to spend the rest of my life with you. Aku tidak sabar, tapi untukmu aku akan berusaha untuk sabar. Setidaknya yaaa, hingga kau menyelesaikan kewajibanmu mengikuti wajib militer. ^.^v

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar meski tidak bisa dibilang juga bahwa dua tahun adalah waktu yang lama, tapi yang pasti dua tahun ini akan terasa berbeda. Berbeda saat aku tidak lagi leluasa menemuimu (yah meski sebelumnya juga begini sih). Berbeda saat aku tidak lagi bisa menikmati aksimu di dunia hiburan (tidak apa-apa, ini berarti aku bisa memilikimu untukku sendiri selama dua tahun kedepan – setidaknya aku senasib dengan penggemarmu).

Aku berpikir tentang masa depan kita… Pernahkah kau memikirkannya juga? Tentang seperti apa pernikahan kita nantinya. Tentang di mana kita berdua akan tinggal. Tentang berapa anak yang kita miliki. Tentang seperti apa dekorasi rumah kita nantinya. Tentang di mana anak-anak kita akan menuntut ilmu. Tentang… Cinta kita di tahun-tahun mendatang.

Seperti apapun masa itu nantinya, asalkan itu bersamamu… Aku tidak sabar!

Everyone says you only fall in love once, but thats not true, because everytime I see you, I fall in love all over again. – unknown

Melihat dirimu beberapa tahun silam, saat aku pertama kali mengenalmu. Lalu melihatmu saat ini, dengan dirimu yang sudah jauh berbeda. Nyatanya aku masih jatuh cinta padamu, pada seorang Kim Jae Joong.

Tidak peduli berapa banyak tattoo yang melekat di tubuhmu, tidak peduli kau masih dalam proses untuk berhenti merokok, tidak peduli pada hatimu yang begitu rapuh, tidak peduli pada karakter 4D-mu yang kerap kali muncul. Tidak peduli pada apapun itu yang mungkin bagi sebagian orang patut untuk dipertimbangkan. Tidak peduli pada siapapun yang mungkin terlalu menyukaimu atau malah justru tidak. Tidak, tanpa perlu aku kendalikan untuk tidak mempedulikan itu semua, nyatanya hatiku memang selalu memilihmu. Hatiku selalu jatuh, hanya padamu, lagi dan lagi.

Happy Birthday my love, Kim Jae Joong! For better and for worse I will always love you and I will always be here for you. Being someone who called ‘home’ by you. Being someone who you can lean on. Being someone who you trust most in this world. Being someone who loving you for who you are. Being someone who you love for who I am. Being everything that you need. Being your soulmate, forever. Sounds cheesy, but it’s true.

I’ve made lots of wish for you, but today the only wish I wanna make is hoping you happy forever.

I love you and always will.

Every love story is beautiful, but ours is my favorite.

ask me anything here 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s