[One Shot] The Unexpected Love

The Unexpected Love

Sebuah cerita karya Yunita Suwitnyo (neys) dan Budi Santoso

Dunia itu unik, lucu dan terkadang juga aneh. Setidaknya hal itu yang berputar-putar di otakku belakangan ini. Bagaimana aku mendapatkan semua pemahaman dan pemaknaan akan keunikan dunia ini? Tentu saja dari bagaimana aku melihat dan memahami dunia ini tapi, aku sadar semua orang juga akan memahami dan melihat dunia mereka sendiri dengan cara yang berbeda karena yang “di atas” telah mengaturnya demikian.

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Timur tepatnya Surabaya. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Oh ya, aku belum memperkenalkan siapa namaku. Namaku Ega, lengkapnya Ega Aditya. Entah apa arti namaku ini karena sebenarnya aku bukanlah seorang pemikir yang memikirkan arti dari namaku ini, karena menurutku yang terpenting dalam dunia ini adalah tingkah dan perilaku seseorang karena dari kedua aspek itulah dia dapat dimaknai, bukan dari namanya.

Pemahaman yang aku ceritakan di atas bukanlah pemahaman yang tiba-tiba muncul dalam benakku, hal itu muncul setelah beberapa pemahamanku terhadap studi mata kuliah yang selalu mengajak diriku untuk berpikir mengenai sebuah kata yakni, mengapa. Psikologi, itu adalah nama jurusan perkuliahanku. Sempat beberapa orang bertanya kepadaku mengenai alasanku mengambil jurusan tersebut, apakah aku yakin dengan masa depanku. Aku hanya mampu mendengar dan tersenyum. “Ya karena aku ingin memahami dan memaknai dunia lebih yang aku tahu sekarang.” Itu jawabanku dan aku bangga dengan jawaban tersebut.

Perkuliahan yang aku jalani selama hampir empat tahun ini sungguh sangat berkesan buatku, mulai dari awal perkuliahan yang di mana para dosenku mengajak aku untuk dapat berpikir dan mempertanyakan tentang segala macam kehidupan yang telah aku jalani, ‘mengapa’ adalah kunci di mana aku dapat memahami segala sudut pandang kejadian di dunia ini, setidaknya itu menurutku. Kesenangan akan ini dapat terus aku nikmati hingga tugas akhir dari perkuliahanku. Skripsi adalah saat mempertaruhkan segala ilmu yang telah aku dapat mulai awal perkuliahan hingga akhir sekaligus dapat aku jadikan sebagai pembelajaran secara langsung di dunia nyata. Aplikasi dalam dunia nyata ini aku wujudkan dengan semangat ingin menemukan apa makna kebahagiaan bagi seseorang, cukup abstrak namun secara pribadi aku memang sangat tertarik dengan topik ini karena yang aku tahu semua orang akan selalu berusaha untuk mencari kebahagiaan mereka sendiri.

Dalam tugas akhir skripsiku mengenai makna kebahagiaan, aku sendiri tahu bahwa tidak ada kebahagiaan yang sama di dunia ini, maka dari itu aku pun mengambil sebuah judul skripsi yang menurutku pribadi masih abu-abu. Melalui judul ini aku diperhadapkan pada sebuah realitas akan dunia yang sebelumnya selama ini masih “sangat asing” bagiku. Melalui judul ini pulalah aku diperhadapkan pada banyak kejutan hidup termasuk kejutan yang sangat spesial.

# # #

Pertemuan pertama…

Sampai jumpa di AW, PTC jam 7 malam.

Ega tersenyum saat membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Sebuah pesan yang memang sudah ia tunggu sejak kemarin. Perasaannya campur aduk, antara yakin dan meragu mengenai keputusannya karena bukan hanya harga diri yang ia pertaruhkan tapi juga tahun-tahun perjalanan kuliahnya.

Sedetik kemudian jemarinya bergerak di atas layar ponsel, mengetik sebuah jawaban mengenai kesepakatan tersebut. Usai membalas ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu berjalan keluar dari area kampusnya.

Ega memutuskan untuk langsung pergi ke tempat yang sudah dijanjikan meskipun waktu janjian masih lebih dari dua jam lagi. Ia memilih untuk duduk sembari memikirkan opsi pertanyaan yang akan ia ajukan pada narasumbernya.

“Kamu yang namanya Ega?”

Sebuah suara itu membuyarkan Ega dari lamunannya, dua jam telah berlalu. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis bertinggi semampai dengan rambut lurus sebahu dan berparas rupawan berdiri di sisi kanan tempat duduknya.

“Iya, saya yang namanya Ega,” jawab Ega dengan sopan dan hati-hati.

Gadis itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya menarik kursi di hadapan Ega lalu duduk. Ia mengangsurkan tangan kanannya ke hadapan Ega. “Kenalin, aku Jesslyn.”

Jesslyn memperhatikan Ega, tubuhnya kurus tapi tidak terlalu tinggi. Wajahnya cukup tampan didukung kulitnya yang putih bersih membuat penampilannya yang hari itu mengenakan kemeja biru bergaris putih berlengan pendek itu tampak begitu menarik.

Ega menyambut uluran tangan Jesslyn dengan ragu. Ia tersenyum kikuk sebelum kembali melepaskan jabatan tangannya dengan gadis itu.

So, apa agenda kita hari ini?” tanya gadis itu. “Eh, bentar aku pesen dulu ya, sekalian makan siang soalnya. Kamu belum pesen?”

Ega menggelengkan kepalanya, “Saya sudah makan di kampus tadi.”

Ega memperhatikan gadis yang saat ini tengah antre di depan kasir. Jesslyn ternyata jauh di luar bayangannya. Jesslyn cantik meski tanpa perlu make up tebal yang melekat di wajahnya. Caranya berbusana pun sangat santai, jauh dari kesan glamour. Kemeja kotak-kotak berlengan tiga per empat dipadu dengan celana jeans hitam. Di samping itu, cukup mengejutkan karena gadis itu lebih memilih memakai tas model selempang daripada tas jinjing, ia juga lebih memilih mengenakan flat shoes dibanding sepatu-sepatu model-model lain yang saat ini tengah digemari gadis seusianya. Melihat penampilannya, gadis ini sungguh berbanding terbalik dengan realitasnya.

“Baru ditinggal bentar aja udah ngelamun. Jadi gimana, udah tau kita mau ngapain hari ini?”

Ega menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Bukannya ia tidak pernah berduaan dengan seorang gadis sebelumnya, hanya saja kali ini terasa berbeda. Alasan perkenalan mereka bukanlah sesuatu yang lumrah, hal itulah yang beberapa kali mengganggu pikiran Ega.

“Kamu lucu, ya,” celetuk Jesslyn sebelum meneguk milkshake coklat pesanannya. Ega hanya tersenyum mendengar celetukan Jesslyn, namun dalam hatinya justru berkata lain. Kamu memang salah satu ciptaan Tuhan yang terindah, gurau Ega dalam hati.

Sejenak mereka hanya bertatapan tanpa suara, sekilas namun terasa lama hingga Jesslyn memulai membuka kembali pembicaraan. “So, kamu udah tau aku kan, jadi sekarang gimana?”

Ega pun untuk beberapa saat hanya tertegun hingga akhirnya sebuah kalimat terlontar dari bibirnya. “Kamu bahagia?” Sebuah kalimat pendek namun mengandung beribu arti di dalamnya. Dengan wajah bingung, sembari mengerutkan dahi Jesslyn pun menjawab dengan singkat, “Seperti yang kamu lihat sekarang, tentu saja aku bahagia.”

“Kamu yakin?” tanya Ega sekali lagi dan langsung membuat suasana kembali hening. Entah mengapa ada keraguan yang mencuat di benak Ega saat ia melihat gadis ini secara langsung. Sebelumnya ia hanya sering mendengar nama gadis ini di sela pembicaraan teman-teman kuliahnya. Sesekali ia juga mendengar tentang bagaimana gadis yang tengah duduk di hadapannya ini menjadi pujaan banyak pria. Sebagai seorang mahasiswa psikologi ia bisa melihat sisi lain yang mungkin bahkan gadis itu sendiri pun tidak sadari atau sebenarnya ia menyadari tapi selalu berusaha menyangkalnya.

Well… Aku ada janji sebentar lagi, setidaknya kita sudah bertemu dan aku tau kamu siapa dan kamu sudah melihat diriku seperti apa, sebaiknya kita atur janji untuk dapat berbincang lebih panjang di kemudian hari.” Ucapan itu keluar berbarengan dengan Jesslyn yang beranjak berdiri dari kursinya. Gadis itu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan sekali lagi dengan Ega. Ega pun mengatakan bahwa pertemuan selanjutnya akan kita atur lewat telepon, setidaknya tujuan utama dari pertemuan pertama mereka telah tercapai. ”Ya, setidaknya saya sudah tahu tentang dirimu dan kamu tahu diriku”. Cepat-cepat Jesslyn menjawab, “Kayaknya nggak enak deh kalo kamu nyebut diri kamu pake kata saya, jangan terlalu kaku sama aku. Panggil aja dirimu aku, biar sama-sama enak.” Setelah itu mereka melepaskan jabatan tangan dan Jesslyn pun meninggalkan Ega yang hanya tersenyum dan terdiam tersebut.

# # #

Pertemuan kedua…

“Aku masih nggak ngerti deh sama jawaban kamu waktu itu. Jawaban kamu itu agak sedikit ngambang,” kata Ega.

Ega dan Jesslyn kembali mengatur sebuah pertemuan, kali ini atas permintaan Jesslyn mereka memutuskan untuk bertemu saat jam makan siang di Mc Donald dekat rumah Ega.

Ega menopangkan kepalanya di atas kedua telapak tangannya. Ia memandang Jesslyn yang duduk di hadapannya lekat sementara gadis itu malah asik menghabiskan kentang goreng pesanannya.

“Ngambang apanya sih?” Jesslyn kembali mencocolkan kentangnya pada saus sambal lalu melahapnya dalam sekali suap. Ia tampak berpikir sejenak sebelum kembali menjawab, “Aku sekarang sedang menikmati hidupku dengan cara nyenengin banyak orang. Kehidupanku sebagiannya ya kerjaanku ini, tapi toh nggak ada pengaruh apa-apa. Aku ngelakuin kegiatanku ya karena aku seneng aja bukannya karena terpaksa, lagian aku bisa menghasilkan uang, uang dari jerih payahku sendiri. Adakah alasan yang mengharuskan aku nggak bahagia dengan semua ini?”

Okay, next aja deh. Customer kamu biasanya siapa aja?”

“Ya nggak mesti, mulai dari yang muda sampe yang tua ada.”

“Mayoritas?”

“Kebanyakan sih udah umur empat puluh tahunan gitu. Emang pertanyaan ini penting ya buat skripsi kamu?”

Ega mengangguk cepat membuat Jesslyn tergelak. “Kamu beneran lucu. Polos banget. Aku jadi heran kenapa kamu malah memilih buat ambil topik ini sih buat skripsi? Untung ya aku masih semester dua jadi masih belom berpusing-pusing ria mikirin ‘skripshit’,” ucap Jesslyn yang diakhiri dengan gelak tawa.

“Biasanya kalian ngapain aja?”

Jesslyn menyipitkan matanya, berusaha tampak seperti seseorang yang sedang berpikir keras. Ia menggumam tidak jelas lalu mencondongkan kepala dan badannya mendekat pada Ega membuat pria itu mundur secara reflek sebelum akhirnya kembali pada posisinya semula.

Jesslyn menghela nafas. “Seperti yang bisa kamu bayangkan, masa mau di praktekin di sini sih?” sambungnya dengan gelak tawa yang lebih besar lagi.

Mata Ega melotot mendengar jawaban yang baru saja Jesslyn lontarkan. Seperti yang ia bayangkan? Jesslyn mengangguk saat melihat tatapan Ega yang penuh dengan ekspresi tidak percaya.

Making love?” tanya Ega memastikan.

Jesslyn mengangguk dan tertawa. “Yes. Masa making cake?

# # #

Pertemuan ketiga…

Ega mengacak rambutnya frustasi. Ia menghembuskan nafasnya kasar, pikirannya belakangan ini terasa kacau. Baru dua kali ia bertemu dengan Jesslyn tapi gadis itu telah mampu menyita perhatiannya. Mendadak ia merasa perlu untuk menyadarkan gadis itu bahwa pekerjaannya bukanlah yang sepatutnya ia lakukan namun dia juga menyadari betul akan prinsip dalam dunia psikologinya bahwa dunia yang paling benar adalah dunia klien. Mendadak ia merasa pilihannya kali ini adalah sebuah kesalahan. Apa seharusnya dia tidak menanyakan tentang wanita dengan profesi seperti ini pada temannya dulu? Apa seharusnya ia mengubah judul itu untuk skripsinya sehingga ia tidak perlu mengenal Jesslyn?

Dari kejauhan ia bisa melihat Jesslyn tengah berjalan ke arahnya. Sudah banyak pertanyaan yang ia ajukan pada gadis itu selama dua kali pertemuan dan ia menetapkan sore itu adalah pertemuan terakhir mereka. Pertemuan kali ini, tidak lagi untuk mengorek informasi melainkan untuk bertukar pandangan mengenai apa yang ada di pikiran Ega dengan realita kehidupan Jesslyn.

Jesslyn tersenyum lalu duduk di sisi Ega. “Sorry, udah lama ya?”

Ega menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia berbohong, sudah sejam ia tiba di tempat itu. Sibuk memikirkan kata-kata yang pas yang akan ia ucapkan pada Jesslyn.

“Sore ini pertemuan kita yang terakhir ya, Ga? Aku kok nggak rela ya?”

“Aku pasti bakalan sibuk dengan skripsiku setelah ini, mengolah data dari informasi yang kudapat dari kamu. Doain ya semoga skripsiku lancar.”

“Pasti. Ntar kalo udah lulus jangan lupa makan-makannya loh.”

“Iya deh ntar aku traktir makan, di sini juga boleh,” balas Ega mengarah pada restoran di mana mereka berdua sedang duduk saat itu yakni Boncafe sambil mengacak rambut Jesslyn lembut. Langkah yang salah mungkin karena perlakuan Ega barusan membuat keduanya terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing.

Ega merutuk dirinya sendiri. Shit! Apa yang baru aja aku lakuin?

Jesslyn yang pertama kali berhasil menguasai diri. Ia memaksakan diri untuk tersenyum lalu bertanya, “Kamu udah punya pacar?”

Ega menghela nafasnya, sekedar untuk mengusir rasa gugup yang tiba-tiba saja menghinggapinya. Ia menggeleng dan malah balik bertanya, “Kamu sendiri?”

Jesslyn tertawa sinis. “Kalo aku punya pacar mungkin aku nggak jadi kayak gini. Mana ada pacar yang rela coba? Iya nggak?”

Jawaban Jesslyn menyadarkan Ega bahwa inilah saatnya untuk membahas tujuannya mengajak gadis itu kembali bertemu. “Terlepas dari punya pacar atau nggak, yang paling penting adalah apakah hatimu menginginkan pekerjaan ini?”

“Kamu terlalu berharga untuk membahagiakan orang dengan jalan itu. Kamu belajar  yang rajin, jadi anak dan temen yang baik aja kamu udah bisa ngebahagiain mereka semua kok. Ada banyak jalan untuk membuat orang lain bahagia. Lagian, bukan tugas kamu untuk ngebahagiain semua orang.”

“Jesslyn itu artinya diberkati dengan kekayaan dan kecantikan. Aku yakin orang tua kamu ngasih nama itu berbekal doa dan cinta mereka sama kamu. Mereka berharap kamu bukan hanya kaya dan cantik di luar tapi juga di dalam. Aku bukan mau nyeramahin kamu tapi, rasanya dalam hatiku ini nggak rela aja kamu harus kayak gini, menurutku pribadi kebahagiaan ini terlalu semu, hanya sesaat setelah itu kekosongan yang kamu dapat, ya itu pemikiranku entah benar entah salah. Setelah kenal sama kamu ya meskipun kita baru ketemu dua kali, aku ngerasa kamu orangnya baik dan sayang kalo kamu harus hidup kayak gini terus. Kamu bisa punya masa depan yang indah, Jess. Semua tergantung pilihan kamu. Aku nggak yakin kamu bener-bener bahagia dengan kerjaan kamu ini. Percaya sama aku, Jess. Kamu berhak untuk meraih kebahagiaanmu sendiri.”

Jesslyn tersenyum tipis, mengedipkan kedua kelopak matanya dengan tatapan kosong sekaligus menahan air matanya yang hendak tumpah. “Makasih ya, kata-katamu ngebantu aku untuk melihat diriku dengan lebih dalam, jauh ke dalam diriku, bahagia atau nggak sekarang aku bingung, Ga. Mungkin kerjaanku ini emang hanya pelarian semata. Keluargaku baik-baik aja tapi sayang, keluarga bagiku hanya sebuah keluarga tanpa ada arti yang lebih, mereka memang menganggap aku ada namun mereka tidak pernah ada bagiku, kamu tahu kan gimana perasaanku? Tapi… Mungkin juga justru aku yang terlalu menutup diri dari mereka, mungkin…”

“Entahlah… Mungkin aku memang harus…,” sambung Jesslyn lagi tanpa meneruskan kata-kata terakhirnya.

# # #

Pertemuan keempat…

Ega memacu mobilnya lebih cepat, suara tangisan Jesslyn membuatnya panik dan segera meninggalkan kegiatan UKM-nya di kampus meskipun ia tidak tahu benar apa yang sebenarnya membuat gadis itu menangis. Sepuluh menit kemudian ia sudah sampai di alamat yang tadi gadis itu kirimkan lewat pesan. Ia melihat gadis itu duduk di taman rumahnya sambil menangis dan memeluk seekor kucing.

“Jess?”

“Ega!” Jesslyn meletakkan kucing dalam pelukannya lalu bergegas berdiri dan menghampiri Ega. Ia menatap pria itu dengan berlinang air mata. Ega mengusap pundak Jesslyn lembut, berusaha menenangkan gadis itu.

“Maaf udah manggil kamu ke sini hanya untuk melihatku menangis. Kamu pasti jengkel ternyata aku minta kamu ke sini cuman gara-gara hal sepele.”

Ega mengusap kepala Jesslyn. “Nggak kok, aku nggak jengkel sama kamu. Udah jangan nangis lagi, nanti mukamu berkerut lho. Sana, usap air mata kamu,” katanya sembari mengangsurkan sapu tangan miliknya pada Jesslyn.

“Jangan terlalu baik sama aku, nanti aku jatuh cinta sama kamu,” ucap Jesslyn sambil mengusap air matanya

“Jangan!” larang Ega.

Stop saying about that stuff.”

“Jess… Tapi itu nggak mungkin,” jawab Ega yang masih berusaha menenangkan Jesslyn. Dalam kondisi tenang, dalam hati kecil Ega sebenarnya menyesal mengatakan hal tersebut namun dia juga menyadari akan posisinya, dia adalah seorang mahasiswa psikologi yang sedang mengalami kondisi “transference” yang dialami oleh kliennya. Psikolog dan klien yang kali ini adalah narasumber dilarang terlibat hubungan yang lebih jauh termasuk jatuh cinta.

Memang dalam dunia psikologi ada sebuah aturan di mana tidak boleh ada perasaan cinta antara seorang psikolog dengan klien. Hal ini disebabkan oleh perasaan cinta yang muncul antara psikolog dan klien dinilai muncul secara tidak alami (transference). Perasaan yang tidak terselesaikan di masa lalu diceritakan di masa sekarang. Pencerita cenderung merasakan nyaman karena didengarkan. Saat itulah biasanya perasaan kenyamanan tersebut biasanya berubah menjadi rasa cinta, ya proses itulah yang biasa disebut dengan transference.

“Ega, aku tahu alasan kamu menolak pernyataanku ini, jiwa seorang mahasiswa psikologi kan?”

Ega hanya terdiam, tidak sanggup bereaksi apa-apa di hadapan Jesslyn yang terlihat sangat kacau, wajahnya masih penuh dengan air mata dan ia terlihat sangat rapuh, membuat Ega ingin menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

Ia jelas tahu bahwa dirinya tidak boleh terlalu ikut campur ke dalam ruang lingkup pribadi Jesslyn. Tidak seharusnya ia menjadi seseorang yang saat ini tengah berdiri di hadapan kliennya yang sedang menangis meskipun dia tidak mengerti alasan menangis tersebut. Ia jelas tahu bahwa dirinya sudah sepatutnya hanya meneliti dan menjadi pendengar yang baik, bukannya justru ingin “menyembuhkan” gadis tersebut. Tapi entah mengapa, pertemuan terakhirnya malah ia isi dengan berbagai petuah supaya gadis itu berubah menjadi gadis “baik-baik”. Ia juga jelas tahu bahwa dirinya dilarang untuk terlalu dekat, terlebih melakukan kontak fisik dengan gadis itu tapi mengapa ia malah merasa nyaman saat berdekatan dengan Jesslyn? Mengapa semua yang seharusnya salah malah terasa benar? Pertanyaan itulah yang justru hingga detik ini belum juga ia temukan jawabannya.

# # #

Makasih ya Ega… Mengenal kamu adalah sesuatu yang luar biasa untukku.

Ega tersenyum membaca pesan Jesslyn yang baru saja masuk ke ponselnya. Asal gadis itu tahu saja, ia juga merasakan hal yang sama. Mengenal gadis itu, bisa jadi adalah sesuatu yang membuat pikirannya kacau bahkan sempat merasa bahwa itu adalah sebuah kesalahan tapi saat ini, setelah mengenal gadis itu lebih jauh ia yakin bahwa pertemuannya dengan gadis itu merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk disesali. Pertemuan mereka adalah hal yang akan selalu ia syukuri.

Mengenal kamu adalah kejutan termanis yang pernah Tuhan berikan buat aku, Jess. Semoga hatimu selalu kaya dan cantik.

# # #

Pertemuan kelima…

Lima bulan sudah berlalu, Ega dan Jesslyn memang tidak pernah lagi bertemu tapi mereka kerap berkomunikasi. Ega sudah bersiap untuk sidang dan Jesslyn tidak lagi menekuni profesi abu-abunya.

Hari ini Jesslyn sengaja berkunjung ke rumah Ega yang berada di komplek perumahan Dharma Husada Indah, hendak memberi kejutan serta semangat untuk pria itu. Ia mengetuk pintu rumah Ega entah untuk yang keberapa kali namun Ega belum juga nampak.

Gadis itu mencoba untuk membuka pintu dan terkejut saat mendapati pintunya tidak terkunci. Ia melongokkan kepalanya, mencari-cari keberadaan Ega. Nihil, Ega tidak ada di batas pandangannya.

Pria itu memang pernah bercerita bahwa orang tuanya jarang ada di rumah, mereka berdua lebih sering berada di rumahnya yang ada di Jakarta sekaligus mengurus bisnis di sana. Tapi, tidak seharusnya rumah dibiarkan tidak terkunci bukan jika memang di dalamnya tidak ada siapa-siapa?

Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu di rumah tersebut, ia mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya di meja ruang tamu tersebut. Ia memutuskan untuk duduk di sofa, menunggu kemunculan Ega. Ia mengambil skripsi milik Ega yang ada di atas meja. Ia tersenyum miring saat melihat judul yang tertera di sana.

Makna Kebahagiaan Seorang Mahasiswi Berprofesi “Ganda”

Gadis itu nampak hanyut dalam tiap lembar isi skripsi yang tengah ditekuninya. Sesekali ia tersenyum dan tak jarang pula mengerutkan dahinya. Tapi ia malah mendengus usai membaca isi skripsi tersebut. Rupanya pria itu masih belum mengerti juga apa makna kebahagiaan bagi gadis itu saat ini.

“Bodoh!” Jesslyn tertawa kecil sebelum akhirnya kembali berkata, “Yang bikin aku bahagia sekarang itu kamu.”

Pintu yang berada di sisi kiri ruang tamu yang ternyata merupakan perpustakaan mini itu berderit, membuat Jesslyn menoleh. Tak lama, muncul sosok Ega dengan senyum separuhnya. Ia berjalan mendekat lalu mengacak rambut Jesslyn lembut lalu berkata, “Aku tahu kok.”

Selesai.

Cerita ini kubuat bersama temanku, Budi. Cerita duet pertamaku dan aku senang sekali saat cerpen ini selesai.

Semoga kalian suka dan ada hal baik yang kalian dapat setelah baca.

Terima kasih! ^^

Gambar diambil dari http://fotoimagepics.info/2013/06/quotes-unexpected-love/famous-quotes-unexpected-love/

Advertisements

20 thoughts on “[One Shot] The Unexpected Love

  1. ceritane lucu lo!! idene out of the box juga!! meskpun singkat tapi menyentil!!
    cinta bisa datang kapan saja dan dimana saja serta melalui jalan apa saja waahh kereeenn deh!!
    bagusss!! hihihiih

    Like

    • Ide yg muncul dari percakapan kacau antara aku sama budi. Haha!
      Iyaaa… Begitulah cinta… Datang tak diundang, pulang tak diantar..
      Tengkiuuu ya, Hye! ^^

      Like

  2. simple.. fresh.. dan lucu lagi.. cerita seorang psikolog.. dalam hal tema ” bahagia “.. ceritanya dalem bgt cuii.. hehehe.. congrats buat yunita and budi.. ( tapi mosok iya seh harus budi ???? ) good job.. cerita yang lain ada??? antara anak hukum and anak psikolog ??? ato anak manajemen and anak seni ??? hahahhahha…

    Like

    • Iyaaa emang budi, ngel. Kamu kok kayak’e ga rela gt? Haha! Waaah… ini kebetulan duet’e mbe budi jadi ya begini, kalo duet’e sama yg lain jadine ya lain lg. XD

      Like

  3. akhirny bisa baca lagi hehehe
    aku jadi tau nih istilah dalam psikologi yang transference 🙂
    oiya eonni kuliah jurusan psikolog ?????

    Like

  4. well….. definisi bahagia disini semakin memperjelas arti bahagia untuk semua manusia itu memang berbeda. tidak ada manusia yang memiliki arti bahagia yang sama. dan salah satu contohnya fic ini… bahagia dengan laki-laki yang ia suka…

    great job neys…
    walo ga menang tapi jika mau diulik lebih dalam lagi konfliknya, pasti bisa lebih indah. 🙂

    Like

  5. uhuk! sebenarnya udah baca ini cerita dari kapan hari kamu kasih linknya yun.. 😀 tapi lupa mulu mau komen. kebetulan barusan kamu kasih linknya lagi. jadi sekalian deh ya aku lunasin hutang komen 😀

    Ceritanya ngena banget yun… dan ga ngira banget kalau ternyata si ceweknya kerjanya begituan. Dan tentang definisi bahagia…semua orang punya versi sendirinya… dan seneng juga akhirnya dicerita ini si cewek akhirnya nemuin arti bahagia buat hidupnya yang lebih baik lagi…
    dan…istilah dalam psikologi yang muncul lumayan nih buat pengetahuan baru.. 😀

    Like

      • sipp..sama2 yun…
        oiya satu lagi kelupaan, sempet ngira ini dari sudut pandang cewek.. tapi setelah lanjut ternyata cowok ya.. tapi abis itu bisa mahamin sih karakter ini cowok gimana.. dah itu 😀
        aku baca yang lain dulu ya ^^

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s