[Series] Picture of You 삼 : Sarang is Cinta

 | 

Don’t find love, let love find you. That’s why they call it falling in love. You don’t force yourself to fall. You just fall… – unknown

 

Riuh. Satu kata itu yang cocok untuk menggambarkan situasi hall saat ini. Semua peserta sibuk dengan urusannya masing-masing, sibuk memilih foto mana yang akan mereka ikutsertakan di kompetisi ini. Cinta duduk sambil menyangga dagu menggunakan tangannya, tatapannya kosong. Dia sudah menyerahkan kamera beserta foto yang ia anggap pantas untuk dilombakan tapi pikirannya masih memutar kejadian tadi sore di Hangang Park, sesaat sebelum Cinta dan Sung Jin kembali ke hotel.

Tadi, setelah Sung Jin menurunkan kameranya, Cinta berlari menuju Sung Jin lalu bertanya sambil menunjuk kamera dari panitia IPC, “Kenapa kau memotret menggunakan kamera yang ini?”

“Memang kenapa?”

“Tidak apa-apa sih. Apa hasilnya bagus?”

Sung Jin mengangguk. “O, hasilnya sangat bagus.”

“Coba kulihat,” ucap Cinta sambil menggerakkan tangannya untuk mengambil alih kamera Sung Jin tapi Sung Jin mengelak dengan segera. Sung Jin menjauhkan kameranya dari jangkauan Cinta. “Kau tidak boleh melihat foto ini. Ini foto terbaik yang pernah kuambil.”

“Foto terbaik?”

Sung Jin lagi-lagi mengangguk. “Foto terbaik karena terdapat objek terbaik di dalamnya.”

Cinta menghela nafas. Foto terbaik karena terdapat objek terbaik di dalamnya? Apa maksudnya? tanya Cinta pada dirinya sendiri tidak habis pikir.

Sementara Cinta masih larut dalam pikirannya sendiri, teman-temannya yang lain sudah duduk dan mengobrol bersama yang lain, begitu pula Sung Jin yang nampak tengah berbincang dengan beberapa teman barunya.

Sung Jin bukannya tidak tahu Cinta sedang melamun, dia ingin menghampiri gadis itu lalu mengajaknya ngobrol tapi sepertinya situasi sedang tidak memungkinkan, dia tidak mungkin meninggalkan temannya yang sedang berbicara secara tiba-tiba bukan?

Tak lama Sung Jin melihat seorang pria menghampiri Cinta. Kalau tidak salah ingat dia adalah perwakilan dari Malaysia. Entah berdasarkan alasan apa perasaan Sung Jin menjadi sedikit tidak enak. Ada perasaan tidak rela melihat Cinta berdekatan dengan pria lain selain dirinya. Egois? Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta…

# # #

Kelima juri duduk di hadapan seluruh peserta IPC. Banyak dari peserta IPC yang sudah hadir jauh sebelum jam ketentuan, tentu saja hal itu dikarenakan mereka yang belum mengenal daerah-daerah di Seoul dan pada akhirnya memutuskan untuk berburu foto di sekitar COEX Mall. Namun ada pula beberapa peserta yang nekat bepergian menggunakan kereta bawah tanah ke tempat-tempat terkenal yang ada di Seoul dan terbukti mereka berhasil kembali ke hotel dengan selamat.

“Kami senang, kalian semua berhasil memenuhi tantangan dari kami. Kami tahu, ada beberapa dari kalian yang kurang cepat tanggap terhadap petunjuk dari kami. Tidak masalah, saya yakin kalian sudah berjuang dengan semaksimal mungkin,” ucap Mark.

“Saya sempat melihat beberapa foto tadi, saya cukup takjub melihat objek-objek yang berhasil diabadikan. Beberapa di luar perkiraan tapi benar-benar bagus.”

“Satu jam lagi kita berkumpul di sini untuk makan malam, kami memberi kesempatan bagi kalian yang mau membersihkan diri. Jangan lupa mengisi buku panduan kalian, ada beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab. Baiklah kalau begitu, sampai jumpa satu jam lagi.”

# # #

Cinta mengetuk-ngetukkan bolpoint ke keningnya. Cinta tengah duduk di salah satu kursi di restoran Felice, restoran yang berada di dalam Hotel Provista. Cinta memutuskan untuk mengisi buku panduan IPC di restoran itu. Dan tangannya terhenti saat dia diharuskan mengisi nama untuk foto yang ia ikutsertakan.

“Nama apa ya yang cocok untuk menggambarkan fotoku?” gumam Cinta.

“Apalah arti sebuah nama…”

Cinta mendongakkan kepalanya dan mendapati Sung Jin tengah berdiri di seberang meja. Sung Jin tersenyum lalu menggeser kursi yang ada di hadapan Cinta, “William Shakespeare pernah mengatakan demikian. Jadi untuk apa pusing hanya untuk memikirkan sebuah nama. Untuk beberapa kasus mungkin nama menjadi hal yang penting tapi untuk kasus kita saat ini, aku rasa nama bukan masalah besar. Apapun nama yang akhirnya kau pilih tidak akan mengubah kualitas dari fotomu.”

“Kau benar tapi tetap saja aku belum menemukan nama yang pas untuk fotoku. Setidaknya aku tidak boleh sembarang memberi nama pada karya yang sudah aku usahakan dengan begitu rupa.”

“Cinta… You are really one in millions.”

“Maksudnya?”

“Kau menakjubkan.”

“Me… menakjubkan?”

Sung Jin mengangguk lalu mengacak poni Cinta sekilas. “Kau itu wanita langka. Satu dari jutaan. Kau tangguh dan berjiwa sosial. Dan itu yang membuatku tidak bisa berpaling darimu.”

Cinta terperangah mendengar ucapan Sung Jin. Wanita langka? Satu dari jutaan? Dan tadi Sung Jin berkata apa? Tidak bisa berpaling? Apa Cinta tidak salah dengar?

“Kau mengerti tentang autofocus point bukan?”

Cinta hanya mengangguk mendengar pertanyaan Sung Jin. Ya, tentu saja dia paham apa itu autofocus point, salah satu pengetahuan wajib di dunia fotografi.

“Seperti autofokus yang langsung bergerak secara otomatis untuk mendapatkan fokus objek terbaik, seperti itu pula diriku.”

Cinta memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti dengan apa yang baru saja Sung Jin ucapkan. Dia memandang Sung Jin lekat, mencoba membaca ekspresi wajah Sung Jin yang nampak sedikit berbeda dengan awal perjumpaan mereka.

“Kau aneh.”

# # #

Sung Jin menatap layar ponselnya tanpa melakukan apapun. Ia baru saja menerima telepon dari seseorang, seseorang yang seharusnya mampu membuat Sung Jin menjadi lebih bersemangat. Jung Hae Mi, wanita yang telah menjadi kekasihnya selama tiga bulan itu baru saja meneleponnya. Sung Jin bahkan memilih untuk mengakhiri panggilan itu hanya berselang lima menit sejak ponselnya berbunyi. Dia mengatakan bahwa ada hal yang harus ia kerjakan. Bukan, bukan maksud Sung Jin untuk berbohong hanya saja ia tidak bisa terus berpura-pura antusias menerima panggilan itu.

Sung Jin tidak atau mungkin belum mencintai Hae Mi. Sung Jin tidak benar-benar jatuh hati pada Hae Mi saat gadis itu menyatakan perasaannya pada Sung Jin. Dan saat Hae Mi meminta Sung Jin untuk menjadi pacarnya, Sung Jin hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Bisakah itu diartikan Sung Jin menerima pernyataan cinta dari Hae Mi? Entahlah, dan sekarang berkat kehadiran seseorang, hati Sung Jin semakin ragu untuk meneruskan apa yang dari awal sebenarnya sudah tidak lurus itu.

Sung Jin memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu kembali berjalan ke meja di mana Cinta berada. Cinta masih pada kegiatannya tadi, memikirkan nama untuk fotonya.

“Jangan berpikir terlalu keras, lihat muncul keriput di keningmu.” Setelah mengucapkan itu, Sung Jin langsung tertawa membuat Cinta melirik Sung Jin tajam.

“Aku bercanda, jangan marah ya?”

“Apa kau sudah menemukan nama untuk fotomu?”

“Tentu saja. Sudahlah, inspirasi akan datang tepat waktu. Ngomong-ngomong, keberatan menceritakan kehidupanmu di Indonesia? Apa yang biasa kau lakukan di negaramu? Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”

“Aku? Aku bekerja di sebuah perusahaan tepatnya di bidang perbankan. Aku bekerja dari hari Senin hingga Sabtu. Pulang kerja biasanya aku menghabiskan waktu bersama keluargaku, terkadang kami pergi jalan-jalan bersama. Minggunya aku pergi ke gereja, setelah itu aku punya cukup banyak waktu untuk berburu foto. Begitu saja. Bagaimana denganmu?”

“Tidak ada yang spesial. Aku bekerja sebagai fotografer di majalah Ceci. Aku…”

“Ceci? Serius?”

“Ya, Ceci. Mungkin terdengar hebat, tapi ya aku berjuang untuk itu. Kau mau main ke redaksi kami kapan-kapan?”

“Kau sudah menjanjikan dua tempat padaku.”

“Aku tidak keberatan mengantarmu, bahkan keliling Korea sekalipun.”

“Wah, kau baik sekali ternyata. Senang mendapat teman sepertimu, Sung Jin.”

“Teman?”

“Ya, teman. Teman baik. Kau adalah teman terbaik yang aku dapat di sini. Aku benar-benar beruntung karena mengenal dirimu.”

Thank God I’ve met you.”

No, thank God we’ve met each other.”

# # #

Hari ketiga, 22 April 2012.

International Photography Contest hari terakhir. Kelima juri sudah berkumpul di hall Hotel Provista. Begitu pula dengan seluruh peserta IPC. Hari ini adalah hari di mana seluruh dunia akan tahu siapa yang mendapatkan gelar The best photographer of IPC 2012.

Wartawan-wartawan baik dari dalam maupun manca negara nampak berjejer di sisi kanan panggung yang sudah diatur sedemikian rupa. Sebuah layar besar mendominasi dinding di hadapan para peserta. Layar itulah yang nantinya akan menampilkan foto-foto terbaik pilihan juri.

“Selamat pagi saya ucapkan kepada semua yang hadir pagi ini. Selamat pagi untuk para peserta dan selamat pagi untuk para wartawan yang sudah menyempatkan hadir pagi hari ini,” ucap Jackie Ang membuka acara.

“Seperti yang kita tahu, hari ini adalah hari dimana kita akan mengumumkan siapa yang akan menjadi the best photographer of the year dan runner up-nya. Untuk hadiah, saya juga yakin kita semua sudah mengetahuinya. Juara pertama akan mendapatkan piala beserta sertifikat, uang tunai yang tidak perlu saya sebutkan lagi jumlahnya dan juga paket jalan-jalan ke negara yang diinginkan. Begitu pula dengan juara dua yang akan mendapatkan sertifikat, uang tunai dan paket jalan-jalan ke negara yang sudah ditentukan juri sebelumnya. Kami sudah memilih tiga negara, dan juara dua bisa memilih satu dari antara tiga negara tersebut. Dan untuk peserta lain yang belum berhasil akan mendapatkan masing-masing sertifikat dan sejumlah uang.”

“Baiklah saya rasa kita semua di sini sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa pemenangnya. Tapi sebelumnya saya ingin membacakan cerita dari pemilik foto yang menjadi juara dua. Cerita ini adalah cerita yang kalian tulis di buku panduan kalian masing-masing.”

“Setelah saya membacakannya, saya yakin pemiliknya akan segera mengetahuinya. Penulis cerita ini seorang wanita.”

“Saya terlahir tidak dengan kemampuan menganalisa bakat. Saya tumbuh bersama dengan bakat-bakat saya yang nampak cukup adil dan tidak menonjol pada salah satu bakat saja. Tetapi ketika saya beranjak remaja, saya mencoba untuk memaksa diri untuk mencari potensi yang sesungguhnya.”

“Ketika banyak orang berkata bahwa saya begitu piawai dalam mengambil gambar, maka saat itulah menjadi titik balik karir saya di dunia fotografi. Saya mulai menggali dan terus mengasah kemampuan, saya mengikuti berbagai kompetisi. Tujuan saya bukan hanya untuk menambah wawasan dan pengalaman saja. Prestasi yang saya dapatkan, saya gunakan sebagai pembuktian. Bukti pada semua orang yang sempat meremehkan dan memandang saya pribadi ataupun keluarga saya sebelah mata.”

“Cinta saya pada keluargalah yang pada akhirnya menjadi dorongan yang paling kuat agar saya terus berjuang, sesulit apapun itu kelihatannya. Dan demi keluarga juga, ijinkan saya untuk terus melangkah di dunia yang membawa saya pada banyak dunia baru yang begitu menakjubkan. Terima kasih, fotografi.”

“Sebuah cerita yang mengharukan tentang perjuangan dan rasa cinta terhadap keluarga. Baiklah, saya rasa sudah saatnya untuk mengumumkan siapa pemenangnya. Mari kita lihat video-nya bersama-sama.”

Layar yang tadinya berwarna hitam mulai berubah warna, memunculkan sebuah foto. Foto sekumpulan petani yang sedang makan bersama di tepi sawah. Terdengar suara dari speaker yang ada di sisi kiri dan kanan layar tersebut. “Cinta Immanuela Gunawan. Gadis berusia dua puluh satu tahun asal Indonesia yang berhasil menawarkan unsur kebersamaan alami yang sudah mulai luntur di beberapa bagian di dunia ini. Kebersamaan tanpa ada unsur kepura-puraan. Cinta berhasil mengemas semua unsur itu menjadi satu di dalam foto yang akhirnya berhasil mengantarnya ke Korea Selatan sebagai perwakilan dari negaranya.”

Cinta hanya bisa menatap layar yang ada di depan tanpa berkedip. Ia bahkan tidak sanggup berkata-kata. Dia terlalu terkejut, rasanya sulit mempercayai bahwa dialah yang berhasil meraih juara dua. Sung Jin yang duduk di sebelahnya menggenggam jemari Cinta, entah alasan apa yang membuat Sung Jin melakukan itu tapi toh ternyata Cinta terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak sempat untuk melakukan aksi penolakan.

“Dan kali ini sebuah kebersamaan pula yang akhirnya berhasil membawanya menjadi runner up the best photographer of IPC 2012. Dan mari kita sambut runner up kita, Cinta Immanuela Gunawan dengan Love is grow old together.”

Layar  menampilkan foto yang berhasil Cinta abadikan itu, foto sepasang kakek nenek yang saling suap di bawah pohon sakura yang bermekaran, bersamaan denga setitik air mata Cinta yang menetes, mengalir dengan mulus membasahi kedua pipi Cinta. Dia tidak menyangka jika dialah yang berhasil mendapatkan gelar tersebut. Sung Jin mengeratkan genggamannya, memberikan semangat. Cinta yang menyadarinya menoleh lalu menatap Sung Jin sambil tersenyum. “Tidak akan ada runner up bagiku tanpa dirimu. Terima kasih.”

“Hal yang menyenangkan bisa melihatmu bahagia. Majulah, semua menunggumu.”

Cinta bangkit dari tempat duduknya lalu maju ke podium. Jujur saja dia tidak pernah menjadi juara di ajang sebesar ini dan itu malah membuatnya bingung harus mengatakan apa. Para wartawan menjepret kamera mereka berkali-kali dan dengan sigap bersiap untuk menulis pidato kemenangan Cinta.

“Terima kasih. Penghargaan ini benar-benar menjadi hadiah terindah bagi saya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih International Photography Contest. Terima kasih keluarga saya. Dan terima kasih untuk semua teman-teman yang ada di sini, terutama untuk teman seperjuangan saya, Sung Jin.”

Sung Jin membelalakkan matanya tidak percaya saat Cinta menyebutkan namanya di daftar ucapan terima kasih. Harus dia akui, dia bahagia bisa mendengar namanya. Sung Jin tersenyum lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Cinta.

“Silakan berdiri di sebelah kiri, Cinta. Baiklah, Cinta dengan Love is grow old together berhasil meraih posisi kedua. Kalau begitu sekarang saya akan membacakan cerita dari seseorang yang berhasil mengabadikan objek yang kami anggap mampu menjabarkan perasaan cinta yang begitu tulus.”

“Saya bukan sosok yang terlahir luar biasa. Saya lahir di tengah-tengah keluarga yang biasa saja tapi mampu memberikan rasa hangat dan pengertian akan apa yang dinamakan keluarga. Saat saya merasa terpuruk, tidak ada orang yang mau mendukung, hanya dengan pulang ke rumah maka saya akan mendapatkan senyum dan semangat hidup saya kembali. Ya, itulah yang dinamakan keluarga. Itulah yang dinamakan rumah.”

“Saya tumbuh tidak dengan bakat luar biasa. Saya tumbuh dengan bakat biasa yang saya kembangkan dengan luar biasa. Luar biasa banyak berlatih dan pantang menyerah. Berapapun banyaknya kegagalan yang saya terima tidak akan bisa meruntuhkan niat saya untuk terus melangkah di jalan impian saya. Hingga akhirnya saya berhasil mendapatkan sesuatu yang kebanyakan orang masih bermimpi tanpa berusaha deminya. Sebuah pekerjaan yang menjadi impian bagi sebagian orang yang memiliki minat yang sama. Fotografi membuatku melihat dunia lebih dalam lagi. Seperti halnya foto, tidak selamanya hanya akan menjadi hitam dan putih belaka. Dalam hidup akan muncul banyak warna baru untuk mewarnai hari-hari kita. Hidup tidak bisa hanya dibedakan dalam dua dimensi saja. Hitam dan putih. Salah dan benar.”

“Fotografi juga membawa saya pada dunia lain, dunia yang sebelumnya belum pernah saya masuki. Dimensi ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih mulia dari kepuasan semata. Dimensi ini memberikan sebuah perasaan tulus yang tidak pernah menyiratkan kepalsuan. Dunia baru ini, baru saja aku masuki dan aku tidak ingin keluar begitu saja. Sebuah dimensi bernama cinta.”

“Sebuah tulisan yang sangat mengesankan. Saya sangat tersentuh membaca tulisan ini. Kehidupan, fotografi dan cinta. Sebuah kombinasi yang sempurna.”

Layar kembali memunculkan sebuah foto. Foto yang sama dengan yang menjadi pilihan Cinta di awal penjurian IPC. Foto induk burung yang tengah memberi makan anaknya di dalam sangkar. Induk burung itu meletakkan makanan yang ada di pucuk paruhnya ke dalam mulut anaknya.

“Kim Sung Jin. Pria berusia dua puluh tiga tahun asal Korea Selatan lewat fotonya mampu bercerita akan kasih sayang yang begitu besar dalam sebuah keluarga, bahkan hewan sekalipun. Kasih sayang sang induk pada anaknya. Foto yang sama yang akhirnya berhasil membawanya ke ajang ini dengan menjadi wakil untuk Korea Selatan.”

“Adakah yang bisa menolak perasaan yang tiba-tiba hadir di dalam hati? Perasaan yang seringkali disebut dengan… Jatuh cinta…”

Layar menampilkan foto siluet seorang gadis yang senyumnya masih bisa dilihat jika pengamat cukup jeli mengamati siluet tersebut. Berlatar belakangkan sungai Han yang indah, rambutnya berkibar terkena hembusan angin. Foto itu nampak begitu indah dalam kesederhanaannya.

“Sarang is Cinta. Marilah kita sambut sang juara kita untuk tahun ini. The best photographer of IPC 2012, Kim Sung Jin.”

Cinta membelalakkan matanya tidak percaya, dia sangat tahu bahwa gadis dalam foto itu adalah dirinya. Dan apa tadi yang dikatakan narasi? Jatuh cinta? Cinta menggeleng-gelengkan kepalanya tidak paham.

Sung Jin melangkah ke depan sambil tersenyum. Sung Jin sangat bahagia, dia bahagia karena berhasil memenangkan kompetisi bergengsi seperti IPC tapi dia jauh lebih bahagia karena sadar berkat siapa dia berhasil menjadi juara kali ini.

“Sarang is Cinta muncul dari ketidak sengajaan, objek yang muncul begitu saja di hadapan saya. Objek yang berhasil membuat saya jatuh cinta. Terima kasih pada seseorang dalam foto tersebut yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada objek indah tersebut yang sangat nyata dalam jangkau pandang saya. Terima kasih, Cinta.”

.이 장의 끝.

Chapter depan adalah chapter terakhir dari cerita ini dan aku akan menggembok chapter terakhir ini dan hanya kalian yang sudah pernah comment di tiga chapter sebelumnya yang akan mendapatkan password dariku. Buat yang mengikuti cerita ini tapi belum pernah meninggalkan comment itu artinya kalian harus kembali mengunjungi chapter-chapter sebelumnya dan meninggalkan jejak kalian. Aku harap comment kalian cukup ‘berisi’.

Buat kalian yang merasa sudah meninggalkan jejak kalian di tiga chapter ini, begitu chapter empat (terakhir) di post, kalian bisa langsung mention di twitter-ku @neys_jc dan akan kukirimkan password-nya melalui DM ke kalian. Setelah mendapatkan password dariku, yang ingin unfollow dipersilakan.

Keputusan menggembok ini aku buat setelah melihat stat dari cerita ini yang sebenarnya cukup tinggi tapi kurangnya pembaca yang mengapresiasinya dengan meninggalkan comment. Bukan bermaksud memaksa tapi sepertinya memang perlu sedikit dipaksa. Jadi untuk kalian yang pada akhirnya bersedia bolak-balik ke chapter sebelumnya untuk meninggalkan comment, aku anggap kalian udah berusaha untuk mengapresiasi usahaku dan untuk karya-karya selanjutnya, aku sangat berharap kalau kalian dengan sukarela langsung meninggalkan jejak tanpa harus dipaksa terlebih dahulu. Bukan masalah kwantitas, selama kalian mengapresiasi karyaku entah itu hanya satu atau dua orang saja yang membaca karyaku, itu akan membuatku lebih merasa dihargai. Betapa comment dari pembaca itu sangat berharga untuk seorang penulis sepertiku ini.

Terima kasih! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s