[Series] Picture of You 이: Fight to The End

If you can dream it, you can do it. – Walt Disney

Fotografi (dari bahasa inggris photography, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “photos” : cahaya dan “grafo” : melukis/ menulis) adalah proses melukis/ menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ ASA (ISO speed), diafragma (aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, diafragma dan speed disebut sebagai pajanan (exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi digital ISO.

# # #

Hari kedua, 21 April 2012.

Sung Jin tengah mengutak atik kameranya di salah satu kursi di deretan paling belakang saat teman-temannya yang lain masih asik berbincang satu sama lain, menyambung perkenalan mereka kemarin. Semalam, usai sesi pertama semua peserta bersama-sama menuju ke Hotel Provista di dekat Seoul Arts Center. Tiba di hotel, semua peserta diberi waktu satu jam untuk membersihkan diri menjelang makan malam bersama di hall penginapan tersebut. Usai makan malam, semua peserta diberi kebebasan untuk memilih kegiatan, ada yang memilih untuk langsung tidur, ada yang berbincang dengan peserta lainnya dan ada pula yang menyendiri.

Pagi ini, semua peserta IPC kembali berkumpul di hall tersebut. Cinta, Selena dan dua peserta wanita lainnya, Clara asal Mexico dan Kyoko asal Jepang yang kemarin menjadi teman sekamar Cinta nampak tengah berbincang mengenai banyak hal di deretan kursi ketiga dari belakang yang ditata sedemikian rupa di dalam hall tersebut, mulai dari produk-produk wanita yang sedang trend di negara masing-masing hingga pembicaraan mengenai kekasih masing-masing. Ya, mungkin memang seperti itulah jika wanita sedang berkumpul, tidak pernah lupa untuk membahas hal-hal yang dianggap wajib bagi mereka.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Tiga pria dan dua wanita memasuki hall tempat peserta IPC berkumpul. Kelima orang itu adalah juri IPC tahun ini. Mark Boulevard, fotografer ternama yang berasal dari Perancis. Di usianya yang masih tiga puluh dua tahun dia sudah memenangkan bermacam penghargaan di bidang forografi baik di negaranya sendiri maupun di kancah Internasional. Jackie Ang, pengamat foto legendaris yang berasal dari Taiwan. Pria paruh baya ini mengabdikan hidupnya untuk fotografi. Andre Kavez, fotografer muda asal Swiss. Andre memang masih sangat muda tapi juga sangat berbakat. Dia adalah juara IPC tahun 2009. Mia Camelia, model kenamaan asal Perancis. Dan Ueni Fuka, fotografer ternama yang berasal dari Jepang, sekaligus pemenang IPC pertama di tahun 2003.

Jackie Ang memposisikan dirinya di depan sambil memegang sebuah mikrofon. Ia berdeham sekali, membuat peserta yang sebelumnya sudah menghentikan aktifitas mereka masing-masing menjadi semakin memfokuskan pandangan ke depan.

“Selamat pagi. Hari ini adalah hari dimana kalian harus berjuang. Hari ini kalian diwajibkan untuk mencari sebuah objek yang pantas kalian abadikan. Tema kita kali ini adalah cinta. Seperti yang kita tahu, cinta itu bersifat universal, terserah menurut presepsi kalian masing-masing. Ingat, kami hanya akan memilih dua foto terbaik yang nantinya akan memperebutkan gelar juara satu dan dua.”

“Kami tidak menentukan lokasi di mana kalian harus mendapatkan objek itu tapi, kita memiliki prosedur tersendiri supaya kompetisi ini tidak terlalu monoton. Kami tentu juga ingin memperkenalkan seperti apakah Seoul ini pada kalian. Di dalam buku panduan kalian, kami sudah memberikan peta kota Seoul. Kalian siap untuk berpetualang?”

“Kalian akan menuju ke sebuah tempat. Kami baru akan memberitahukan tempat itu setelah kalian melewati rintangan pertama. Kalian akan mendapatkan petunjuk, dan nanti begitu kalian sampai di tempat yang kita maksud, kalian harus mencari petunjuk selanjutnya. Dan terakhir, pastikan kalian kembali ke hotel sebelum jam enam.”

“Baiklah, waktu selanjutnya saya serahkan kepada Andre. Silakan.”

Andre Kaves, berdiri menggantikan posisi Jackie Ang. Andre menatap wajah para peserta sambil tersenyum. “Selamat pagi. Langkah pertama untuk hari ini, mari kalian siapkan otak kalian untuk sedikit berpikir. Hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat, dialah yang akan mendapatkan petunjuk. Setelah mendapat petunjuk, kalian bisa langsung menjalankan misi tersebut. Bagi yang belum berhasil, memiliki kesempatan di pertanyaan berikutnya.”

“Baiklah, di hadapan kursi kalian semua sudah disediakan sebuah laptop yang menampilkan halaman yang tersambung dengan para juri di sini. Setelah saya menyebutkan pertanyaan pertama, jika kalian mengetahui jawabannya langsung ketik di halaman tersebut. Para juri akan langsung menilai dan memilih satu jawaban terbaik. Kalian siap?” tanya Andre dan dijawab dengan anggukan dari para peserta.

“Elemen-elemen apa yang dapat memberi efek pada kualitas dan estetika pada foto yang dihasilkan?”

Para peserta nampak tegang, hamper semua dari mereka belum menunjukkan reaksi apapun. Sung Jin berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya dia mulai mengetik jawabannya.

 1.      Panjang fokus dan jenis lensa (normal, long focus, wide angle, telephoto, macro, fisheye dan zoom)

2.      Filter yang ditempatkan di antara subyek dan materi rekaman cahaya, baik di depan atau di belakang lensa.

3.      Sensitivitas yang melekat pada media untuk intensitas cahaya dan warna/ panjang gelombang.

4.      Sifat dari materi rekaman cahaya, misalnya resolusi yang diukur dalam pixel atau butir perak halida.

“Peserta di kursi dua belas dipersilakan untuk mengambil petunjuk pertama.”

Sung Jin mendongakkan kepalanya, cukup terkejut saat mengetahui bahwa dirinyalah yang berhasil menjadi yang pertama. Dia melangkah mendekat ke arah keempat juri yang duduk di sisi kiri, tepat di sebelah pintu keluar. Dia menerima sebuah amplop sebelum akhirnya keluar dari hall, meninggalkan teman-teman atau yang kini lebih cocok disebut rival-rivalnya.

# # #

Cinta membuka amplop yang baru saja ia terima dan tercengang saat melihat isinya. Selembar kertas berisikan sebuah instruksi dan peta lokasi yang harus ia tuju – COEX Mall.

“Astaga, aku bahkan belum pernah ke Korea sebelum ini. Tempat apa ini? Bagaimana caranya aku bisa ke sana seorang diri?”

Cinta menghela nafas lalu kembali mengamati instruksi yang tertera di kertas tersebut.

Pergilah menuju ke COEX Mall di Gangnam-gu Seoul.

Pergilah ke stasiun Gyodae, 0.4 km dari Provista Hotel. Naiklah kereta di line 2 menuju Jamshil, lalu turunlah di stasiun Samsung. Gunakan nomor exit 6 yang langsung terhubung dengan COEX Mall.

Selamat berpetualang!

Cinta membulatkan tekadnya. Aku pasti bisa, Tuhan pasti akan menyertai aku, batin Cinta meyakinkan dirinya sendiri. Cinta melangkah pasti keluar dari Hotel. Dan syukurlah dia mengerti ke arah mana dia harus berjalan agar sampai di Stasiun Gyodae.

Setelah berjalan kaki selama beberapa menit sampailah Cinta di Stasiun Gyodae. Tidak bisa ditutupi, Cinta tengah kebingungan. Dia tidak bisa berbahasa korea, ingin bertanya dalam bahasa inggrispun tidak banyak orang korea yang mengerti bahasa inggris. Hingga akhirnya Cinta mengandalkan jurus bahasa tubuh supaya mereka mengerti apa maksud Cinta.

Perjuangan Cinta terbayar sudah, kini dia sudah duduk dengan tenang di dalam kereta bawah tanah. Sedikit lagi, pikir Cinta.

Tiba-tiba seseorang duduk tepat di sebelah Cinta, reflek dia menolehkan kepalanya dan mendapati salah satu rivalnya tengah tersenyum padanya.

“Hai! Kau mengenaliku?” tanya rivalnya itu.

“Tentu. Kau salah satu peserta IPC kan? Leganya, aku tidak perlu seorang diri menuju ke tempat antah berantah itu.”

“Klahan. Aku berasal dari Thailand. Kalau tidak salah, kau yang bernama Cinta. Apa aku benar?”

“Kau mengenaliku? Ya, aku Cinta asal Indonesia. Ngomong-ngomong, namamu cukup unik di telingaku.”

“Klahan artinya berani. Bagus bukan?”

Cinta mengangguk antusias. Dia tersenyum, bukan hanya karena arti nama Klahan yang bagus tapi juga karena dia mendapatkan teman baru yang akan menemaninya ke COEX Mall, tempat yang menurutnya antah berantah itu.

Exit enam? Ah, di mana itu?” tanya Cinta saat mereka baru saja turun dari kereta.

“Lihat! Itu exit satu. Kalau exit satu ada di sini, kemungkinan exit enam-nya berada di sana. Ayo!”

Cinta dan Klahan sedikit berlari menuju tempat yang diduga sebagai tempat di mana exit enam itu. Tepat sesuai dugaan mereka, memang di sanalah exit enam itu berada.

“Yes! Kita berhasil!” ucap mereka bersamaan lalu reflek melakukan tos satu sama lain.

# # #

COEX Mall adalah pusat perbelanjaan bawah tanah yang terletak di Gangnam-gu, Seoul. Ini adalah pusat perbelanjaan bawah tanah terbesar di Asia dengan luas sekitar 85.000 meter persegi.

Sung Jin memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Sebenarnya ia sudah sampai di COEX Mall sejak tadi, kira-kira tiga puluh menit yang lalu tapi sengaja tidak masuk. Sung Jin sedang menunggu seseorang.

Matanya menyipit saat melihat seseorang yang ditunggunya berjalan bersisian dengan seorang pria. Sung Jin mengenal pria itu. Klahan, peserta IPC asal Thailand yang tidur di sebelah kamarnya.

“Sung Jin? Kenapa masih di luar?” tanya Cinta begitu ia menyadari keberadaan Sung Jin dan langsung menghampirinya.

“Aku menunggumu. Lebih baik kita masuk bersama saja, aku takut kau tersesat.”

“Benarkah? Kau baik sekali. Kalau begitu kita masuk bertiga saja. Aku bertemu Klahan tadi di kereta. Ngomong-ngomong apa kalian sudah saling kenal?”

Mendengar pertanyaan Cinta, Sung Jin dan Klahan mengangguk serentak yang mau tak mau membuat Cinta tertawa. “Kalian kompak sekali. Ayo!”

Begitu melangkah masuk ke dalam COEX Mall, Cinta tidak dapat menutupi kekagumannya, menatap takjub apa yang ada di hadapannya saat ini. “Aku tidak menyangka ada mall yang begitu mewah di sini.”

“Ya! Apa di negaramu tidak ada mall?” tanya Sung Jin penasaran

“Tentu saja ada. Tapi aku rasa tidak ada yang sebesar ini. Lagipula aku tinggal di Probolinggo. Probolinggo hanya sebuah kota kecil di negaraku dan di sana tidak ada mall. Wah, ini benar-benar menakjubkan. Ngomong-ngomong kita harus mencari objek di sini? Bukankah tadi mereka bilang akan ada petunjuk baru setelah kita sampai di sini?”

Cinta mengarahkan kameranya menuju orang-orang yang tengah berlalu lalang di dalam mall. “Apa kita bisa mendapat objek luar biasa di sini? Di sini hanya ada manusia dan toko, sementara tema kita mengenai cinta. Apa kita harus mencari pasangan yang ada di sini?”

Sung Jin mengetuk kepala Cinta pelan. “Kau lucu sekali sih?”

“Atau aku harus mengambil gambar diriku sendiri?”

“Memang kenapa?” tanya Sung Jin.

“Karena arti namaku sama dengan arti dari kata sarang dalam bahasamu.”

“Jinjja? Baiklah, kalau begitu mulai saat ini aku akan memanggilmu sarang.”

Cinta mengernyitkan keningnya, tidak setuju dengan usul Sung Jin. “Tidak. Aku lebih suka kalau kau memanggilku Cinta.”

“Arasseo…” sahut Sung Jin sambil tersenyum jahil.

“Sepertinya kalian berdua sudah sangat dekat. Apa aku salah tangkap?” tanya Klahan dengan raut wajah yang sedikit heran.

“Eh? Kami memang dekat karena sudah saling mengenal di hall Seoul Arts Center kemarin. Dia memilih fotoku, begitupun sebaliknya,” cerita Cinta, masih sambil membidikkan kameranya ke segala arah.

Tiba-tiba saja tubuh Cinta oleng, semua terjadi begitu saja saat Cinta kehilangan keseimbangan setelah ada seseorang menyenggolnya. Cinta yang sedang tidak dalam keadaan siaga karena masih berburu foto harus merelakan dirinya jatuh, bersama dengan kameranya tentu. Seperti belum lengkap saja, kamera Cinta jatuh tidak dalam batas wajar, kameranya terpental cukup jauh. Melihat kondisi kamera itu sekarang, sekali lihat juga tahu bahwa kamera itu pasti rusak.

Cinta berlari menuju tempat di mana kameranya berada, di susul oleh Sung Jin dan Klahan. Sung Jin bisa melihat mata Cinta yang berkaca-kaca dan entah kenapa membuat Sung Jin tidak suka.

“Kameraku rusak. Bagaimana ini?”

“Kau mau kutemani mencari tempat memperbaiki kamera di sini?” tawar Sung Jin.

“Apa ada?”

“Aku pernah beberapa kali ke sini, tapi belum pernah melihat toko seperti itu di sini. Tapi, tidak ada salahnya mencoba kan?”

“Tapi, itu pasti menyulitkanmu. Kau masih harus mencari petunjuk berikutnya.”

“Tidak apa-apa. Kita masih punya waktu cukup panjang sampai jam enam. Iya kan, Klahan?”

Klahan yang kaget hanya bisa mengangguk tapi kemudian dirinya menyadari sesuatu. Ini kompetisi, bagaimanapun dia harus berjuang agar bisa menang bukan?

“Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa menemani kalian. Tidak apa-apa kan, Cinta?”

Cinta mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja. Aku tidak boleh menyulitkan kalian berdua. Kau juga Sung Jin, lebih baik kau juga pergi bersama Klahan. Aku akan mengurus kameraku terlebih dulu.”

“Tidak, tidak. Aku akan menemanimu. Ayo, kita pergi. Klahan, sampai jumpa!”

# # #

Sung Jin dan Cinta sudah berputar-putar di dalam COEX Mall tapi belum juga menemukan tempat yang bisa memperbaiki kamera Cinta dengan segera. Satu jam berlalu, mereka juga belum menemukan adanya tanda-tanda agar mereka mendapat petunjuk selanjutnya.

“Kita sudah berputar-putar selama satu jam, lebih baik kita berpencar. Aku akan mencari tempat untuk memperbaiki kameraku, kau mencari petunjuk selanjutnya. Aku tidak bisa melibatkan dirimu terus. Kau juga harus berjuang demi dirimu sendiri.”

Sung Jin menatap Cinta sambil mengerutkan keningnya. Sung Jin tidak setuju dengan ide Cinta, bagaimanapun dia ingin membantu Cinta.

“Cinta, kita pasti akan menemukan tempat itu sebentar lagi.”

“Tidak, tidak. Ini akan memakan banyak waktu jika kita terus berjalan bersama, ada baiknya kita berpencar. Anggap saja kita bagi tugas. Ayolah, tidak ada salahnya bukan?”

“Kalau begitu, pinjam ponselmu,” ucap Sung Jin sambil menengadahkan tangannya pada Cinta. Cinta yang sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari Sung Jin tetap menurutinya. Sung Jin mengutak atik ponsel Cinta beberapa saat lalu mengembalikannya pada Cinta. “Aku sudah mendapat panggilan tak terjawab darimu, ini simpan nomorku. Nanti kalau kau butuh bantuanku, hubungi aku. Dan begitu aku mendapat petunjuk atau mengetahui di mana letak toko itu, aku juga akan menghubungimu. Bagaimana?”

“Baiklah. Kalau begitu kita berpencar di sini. Sampai jumpa. Semangat!”

Sung Jin dan Cinta akhirnya berpencar, Sung Jin memutuskan untuk menjelajah ke wilayah barat sementara Cinta ke wilayah timur.

Cinta berjalan cepat menyusuri setiap toko dengan tingkat kewaspadaan tinggi, kalau-kalau melihat toko kamera atau mendapati petunjuk sekecil apapun. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda seperti yang Cinta harapkan.

Waktu terus bergulir sementara Cinta belum menemukan kedua hal yang menjadi tujuannya. Cinta bertemu dengan salah satu rivalnya di toko buku Bandi and Lunis.

“Keira?” panggil Cinta memastikan.

Merasa dipanggil, Keira pun menoleh ke arah Cinta. Dia nampak seperti berusaha mengingat sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. “Cinta?”

“Ya, aku Cinta. Kau sudah mendapat objek yang bagus?”

“Sayangnya belum, tapi aku tadi sudah berkeliling COEX Mall. Lumayan, jalan-jalan.”

“Benarkah? Kau sudah berkeliling COEX?”

“Tentu.”

“Apa kau melihat ada toko kamera di sini?”

“Hm… Sepertinya aku sempat melihat tadi. Ada apa?”

“Aku harus ke toko kamera secepatnya, kameraku rusak. Kau bisa mengantarku kesana?”

Keira kembali berpikir, dia bukannya wanita jahat yang tidak mau membantu sesamanya tetapi bagaimanapun ini kompetisi dan dia sendiri belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Keira menggigit bibir bawahnya, tak sanggup untuk menolak sebenarnya. “Cinta maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku masih harus mencari petunjuk dan juga objek yang bagus. Apa kau akan marah padaku?”

Cinta cukup kaget dengan jawaban Keira meski sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri akan penolakan dari Keira. Dia mengerti bagaimanapun mereka sedang berkompetisi. Cinta tersenyum. “Tidak akan, aku mengerti Kei. Terima kasih sudah memberitahuku, setidaknya aku tahu di COEX ada toko kamera. Kalau begitu aku pergi dulu.”

# # #

Cinta menatap kameranya sendu. Dia sudah berusaha menemukan toko kamera itu tapi belum juga menemukannya, entah Cinta yang kurang teliti atau memang toko itu yang tidak terlihat seperti toko kamera sehingga Cinta tidak menyadarinya.

Tiba-tiba muncul sebersit ide di benak Cinta. “Ah! Kenapa ide ini baru muncul sekarang?”

Cinta baru saja akan berjalan, hendak menghampiri petugas keamanan yang sedang berdiri di salah satu sudut toko saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Sung Jin tengah menatapnya.

“Bagaimana?”

Cinta menggeleng lemah. “Aku tidak menemukan toko itu. Bagaimana denganmu?”

“Entahlah, aku juga belum menemukan petunjuk apapun.”

Sung Jin dan Cinta terdiam selama beberapa saat, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Kira-kira apa ya petunjuk selanjutnya?” tanya Cinta pada Sung Jin.

Sung Jin hanya terdiam menanggapi kata-kata Cinta. Dia tengah berpikir, tidak mungkin mereka berputar-putar di COEX Mall tapi tidak mendapatkan petunjuk apapun. Apa petunjuk itu sebenarnya? Apa memang kita saja yang belum menyadarinya, batin Sung Jin.

Seperti tersengat listrik, Sung Jin mendongakkan kepalanya tiba-tiba. Dia menjentikkan jarinya lalu tersenyum. “Aku tahu. Sepertinya aku melihat sesuatu di peta yang kita dapat tadi pagi.”

Sung Jin kembali mengeluarkan amplop yang ada di tasnya. Dia mengeluarkan kertas tadi lalu mengamati peta tersebut baik-baik. Cinta yang ada di sebelahnya otomatis ikut mengamati peta tersebut.

Evan Record?” pekik Sung Jin dan Cinta bersamaan saat menyadari adanya petunjuk pada peta COEX Mall tersebut, lokasi Evan Record dilingkari menggunakan tinta merah dan terdapat tulisan ‘HERE!’ di atasnya.

Sung Jin menoleh ke arah Cinta begitu pula sebaliknya. Mereka tersenyum satu sama lain saat mereka menyadari bahwa akhirnya mereka berhasil menemukan petunjuk yang mereka cari-cari.

“Kajja! Kita harus segera kesana, aku tahu tempatnya,” ajak Sung Jin sambil menggandeng tangan Cinta yang langsung sukses membuat detak jantung Cinta berdetak dua kali lebih cepat.

# # #

Evan Record Shop merupakan sebuah toko yang menjual album-album musik baik dari dalam maupun manca negara yang berada di dalam COEX Mall.

Penjaga yang ada di Evan Record langsung tersenyum begitu melihat Cinta dan Sung Jin masuk ke dalam toko dengan nafas yang memburu.

“Apakah petunjuk kami selanjutnya ada di sini?” tanya Sung Jin langsung tepat sasaran.

“Tentu. Kalian ketinggalan cukup banyak. Tadi sudah banyak teman kalian yang datang kesini. Sekarang, carilah salah satu album dari boyband korea yang pernah mengadakan fan signing di sini. Kalian hanya punya kesempatan untuk memilih tiga album.”

“Mwo? Aku mana tahu? Boyband?”

“Lebih baik kita cari saja,” ajak Cinta pada Sung Jin

Sung Jin dan Cinta mencari bersama-sama. Setelah beberapa saat mencari, Cinta menghampiri Sung Jin sambil membawa dua album yang sama. Cinta menyodorkan salah satunya pada Sung Jin, “Ini. Boyband korea yang pernah mengadakan fan signing di sini, SHINee.”

“SHINee? Kau tahu darimana? Kau yakin? Apa tidak sebaiknya kita mengambil beberapa album boyband lainnya?”

“Tidak perlu. Aku tahu dengan pasti kok, aku kan seorang Shawol. Jangan khawatir.”

“Baiklah. Terima kasih sudah membantuku.”

“Kau yang lebih dulu membantuku tadi. Sudah, kita tidak boleh membuang-buang waktu.”

Sung Jin dan Cinta kembali ke tempat di mana petugas tadi berada lalu menyerahkan kedua album SHINee tersebut. Petugas itu tersenyum lalu nampak mengambil sesuatu di meja yang ada di belakangnya lalu menyerahkannya pada Sung Jin dan Cinta.

Sebuah kantung hitam yang cukup besar. Sung Jin lebih dulu melihat apa isi dari kantung tersebut. Sebuah kamera dan sebuah amplop.

“Kamera?”

Sung Jin langsung membuka amplop yang ada di genggamannya lalu membaca apa yang tertera di atas kertas yang ada di dalamnya.

Gunakan kamera ini untuk berburu objek. Dapatkan objek terbaik di seluruh pelosok Korea Selatan ini. Kalian bebas berpetualang kemana saja.

Ingat! Kalian sudah harus tiba di hall hotel Provista sebelum pukul enam. Serahkan kamera ini pada kami. Dan di dalam kamera ini yang hanya diperbolehkan berisi satu foto terbaik. Selamat berjuang!

“Sekarang, tidak ada alasan kau tidak bisa mengikuti kompetisi ini, Cinta. Kita punya waktu tujuh jam sampai batas waktu yang ditentukan. Kajja! Terima kasih, tuan,” ucap Sung Jin lalu membungkuk singkat kepada petugas Evan Record tersebut seraya menarik pergelangan tangan Cinta. Cinta pun bergegas membungkukkan badannya. “Kami permisi dulu.”

# # #

Cinta menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Bulan april berarti musim semi di Korea Selatan, suhu di musim semi rata-rata berkisar antara lima hingga lima belas derajat dan Cinta tentu saja belum terbiasa dengan suhu sedingin itu. Indonesia hanya mempunyai dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Dari kedua musim itu tidak ada yang bertemperatur serendah itu.

Cinta sedikit tersentak saat ia merasakan ada sesuatu yang tersampir di pundaknya. “Pakai saja jaketku. Kau pasti kedinginan.”

Cinta mengerjapkan matanya. “Lalu bagaimana dengan dirimu?”

“Kau pikir aku tega melihatmu kedinginan? Sudah pakai saja, aku sudah terbiasa dengan suhu seperti ini, kau tenang saja. Oh ya, kau punya ide kita harus kemana?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Di mana kita bisa mendapatkan objek yang bagus?”

“Kau benar. Hm… Sepertinya aku tahu harus mengajakmu kemana. Kajja!” ajak Sung Jin sambil menggandeng tangan Cinta kembali, melangkah semakin jauh dari COEX Mall.

# # #

Hangang Park (한강공원) adalah sebuah taman yang indah di Pulau Yeouido (여의도) yang terletak di tengah-tengah kota Seoul, di samping sungai Han, yang memisahkan kota mengagumkan ini menjadi dua bagian.

Hangang Park didedikasikan untuk warga negara Korea Selatan, menyediakan area untuk olahraga dan relaksasi. Kita bisa melihat banyak orang berjalan-jalan atau jogging di sepanjang jalan. Terdapat pula lintasan skater, pengendara sepeda, lapangan sepak bola dan lapangan basket.

Sementara Sungai Han merupakan sungai utama di Korea Selatan sekaligus merupakan sungai terpanjang keempat di semenanjung Korea setelah Amnok, Duman dan Nakdong. Di sepanjang tepi sungai, terutama di Seoul, trotoar bagi para pejalan kaki dan jalur sepeda tersedia di kedua sisi sungai. Sementara jembatan yang melintasi sungai Han adalah untuk kendaraan bermotor atau kereta bawah tanah saja, warga dapat menyeberangi jembatan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda.

“Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Tempat ini indah sekali, Sung Jin,” ucap Cinta sambil menatap takjub pemandangan yang ada di hadapannya.

“Apakah itu Namsan Tower?” tanya Cinta sambil menunjuk sebuah menara. Sung Jin mengikuti arah yang ditunjuk Cinta lalu mengangguk. “O, itu adalah Namsan Tower. Kapan-kapan kuajak kau kesana kalau kita punya kesempatan.”

Cinta menatap satu-persatu detil pemandangan yang ada di hadapannya. Dia bisa melihat keindahan sungai Han dan jembatan-jembatan yang melintas di atasnya. Cinta juga dapat melihat para pengendara sepeda, sekelompok anak muda yang berkumpul dan menghabiskan waktu bersama-sama, serta bunga sakura yang bermekaran.

“Sepertinya tidak salah jika kompetisi ini diadakan di musim semi, aku jadi bisa melihat bunga sakura yang bermekaran. Ah, Sung Jin, bisakah aku minta tolong padamu?”

“Tentu.”

“Bisa kau ambil gambarku di sini dengan menggunakan kamera pribadimu? Nanti kalau kompetisi ini sudah selesai kirimkan padaku melalui e-mail. Kau keberatan?”

Sung Jin tertawa ringan lalu menggeleng, “Tentu saja tidak. Ayo, kuambil gambarmu.”

“Kau memang yang terbaik. Terima kasih,” ucap Cinta sedikit keras karena dia sudah berlarian mencari tempat yang menurutnya paling bagus untuk di jadikan setting.

“Sudah. Kau mau difoto di mana lagi?”

“Eh? Sudah tidak usah, kita berburu foto saja. Aku bersyukur, ternyata kita diharuskan memakai kamera dari panitia jadi aku masih bisa melanjutkan langkahku.”

“Kau beruntung.”

“Wah! Coba kau lihat, ada pasangan yang sedang berciuman,” pekik Cinta lalu segera mengarahkan kameranya pada pasangan itu sampai dia mendengar bunyi kamera.

CEKREK.

Cinta reflek menoleh, tidak jadi mengabadikan objek tersebut. Kedua matanya memicing melihat seorang wanita yang berdiri hanya berjarak sekitar satu meter darinya. Cinta menarik lengan baju Sung Jin lalu berkata, “Dia peserta IPC juga kan? Ternyata tidak hanya kita saja yang memilih untuk berburu di sini.”

Sung Jin berpikir sejenak lalu menggeleng. “Sepertinya, tapi aku tidak terlalu ingat. Sudahlah kita cari objek lain saja.”

Sung Jin dan Cinta menghabiskan siang hari dengan berjalan-jalan di Hangang Park, sambil sesekali mengabadikan objek yang dianggap menarik. Tidak jarang pula Sung Jin mengambil gambar Cinta yang berpose di tempat-tempat yang menurutnya layak diabadikan. Mereka juga sempat foto bersama dengan menggunakan Sungai Han sebagai latar belakang.

Cinta merasa sudah menemukan sebuah foto yang layak ia serahkan pada juri nanti malam. Sepasang kakek dan nenek yang saling suap di bawah pohon sakura yang bunganya tengah bermekaran. Foto itu nampak begitu hangat dan alami. Sementara Sung Jin merasa belum menemukan sebuah foto yang layak ia kompetisikan. Hingga hari menjelang sore, Sung Jin belum juga puas dengan foto-foto yang ia ambil.

Sung Jin sedang memperhatikan sekelilingnya saat ia melihat Cinta berdiri membelakangi Sungai Han, sosok Cinta membentuk sebuah siluet dikarenakan sinar matahari mulai berubah orange dan berada tepat di belakang Cinta, siap untuk terbenam. Cinta tengah menatap Sung Jin sambil tersenyum lebar, rambutnya berkibar tertiup angin. Sung Jin membalas senyum Cinta, setelah ia sadar jaket kesayangannya kini melekat sempurna di tubuh Cinta. Sung Jin mengangkat kameranya, mengarahkannya pada sosok Cinta yang masih enggan beranjak dari sana.

CEKREK.

Sung Jin tersenyum melihat hasilnya dan detik itu juga dia tahu foto mana yang akan ia ikutsertakan.

.이 장의 끝.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s