[Series] Picture of You 일 : Welcome to Seoul

Throw your dreams into space like a kite, and you do not know what it will bring back, a new life, a new friend, a new love, a new country. – Anais Nin

International Photography Contest, atau lebih dikenal dengan IPC merupakan sebuah kompetisi bertaraf internasional di bidang fotografi yang diikuti oleh fotografer-fotografer di seluruh dunia. Menilik pengalaman para pemenang sebelumnya, muncul sebagai pemenang IPC terbukti mampu meningkatkan popularitas yang tentu sangat berguna bagi karir fotografi pemenang yang bersangkutan. Namanya menjadi lebih dikenal, baik di kalangan rekan seprofesi maupun di kehidupan sehari-hari.

Besarnya animo para fotografer untuk mengikuti kompetisi ini mengakibatkan adanya pembaharuan syarat pendaftaran setiap tahunnya. Tahun ini, IPC memperketat proses pemilihan dengan membatasi jumlah peserta tidak lebih dari tiga puluh, dan masing-masing negara yang berpartisipasi hanya boleh mengirimkan satu orang perwakilan saja.

IPC digelar secara rutin setiap tahunnya sejak tahun 2003 lalu. IPC pertama kali diselenggarakan di Tokyo, Jepang. Dan tahun ini Korea Selatan didapuk menjadi tuan rumah, tempat terselenggaranya IPC.

Tidak pernah ada dalam bayangan Cinta sebelumnya bahwa akhirnya dia berhasil lebih dekat dengan impiannya selama ini. Cinta Immanuela Gunawan, wanita berusia dua puluh satu tahun yang terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk mengikuti kompetisi fotografi bertaraf Internasional itu.

Cinta duduk di kursi pesawat terbang yang akan membawanya ke Seoul sambil tersenyum. Terlalu bahagia, mungkin itu yang dirasakan olehnya. Demi Tuhan, aku tidak pernah menyangka bahwa akhirnya aku berhasil menjadi perwakilan Indonesia. Terima kasih. Terima kasih Tuhan, semua usahaku selama ini tidak sia-sia. Aku akan terus berjuang. Semangat Cinta, batin Cinta dalam hati.

Bukan tanpa perjuangan jika akhirnya Cinta berhasil menjadi perwakilan Indonesia untuk berpartisipasi di IPC tahun ini. Dia berhasil mengalahkan sekitar 200 pendaftar lainnya di negaranya sendiri. Selembar foto yang akhirnya berhasil mengantarnya menjadi juara. Salah satu juri mengatakan bahwa suasana kekeluargaan yang begitu alami di tengah ketidak pedulian sesama manusia saat ini itulah yang membuatnya tersentuh. Cinta memotret beberapa petani yang sedang makan bersama di tepi sawah mereka. Petani-petani itu duduk melingkar beralaskan tikar seadanya.

Sebakul nasi jagung, ikan asin, terong, telur, sambal dan beberapa lauk lain tersedia di atas tikar yang sama. Mereka tertawa begitu gembira sambil berbincang satu sama lain. Cinta tahu pasti para petani itu lelah, tapi mereka tetap bersyukur dan semangat menjalani hidup mereka, itulah kenyataan yang Cinta dapat saat akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri mereka untuk sekedar mengobrol.

Saat itu Cinta tengah berjalan-jalan di kota di mana dia tinggal selama ini, Probolinggo. Probolinggo, sebuah kota kecil di wilayah propinsi Jawa Timur, Indonesia yang terkenal akan buah Mangga dan Anggurnya. Cinta memutuskan untuk sedikit berpetualang di kota tersebut, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan objek yang bagus di salah satu bagian dari kota Probolinggo tepatnya Kecamatan Leces.

Berawal dari mimpi kecil hingga akhirnya beralih ke mimpi yang lebih besar. Berawal dari kompetisi-kompetisi bertaraf daerah hingga akhirnya beralih ke kompetisi bertaraf internasional. Itulah yang Cinta lakoni sekarang ini. Bermodalkan kemampuan yang mumpuni, insting objek yang bagus dan hasrat yang besar dia bertekad untuk melakukan yang terbaik di IPC tahun ini.

# # #

Rangkaian International Photography Contest 2012 diselenggarakan selama tiga hari di Korea Selatan tepatnya di Seoul, terhitung mulai tanggal 20 April 2012 hingga 22 April 2012. Seluruh perwakilan dari seluruh dunia diwajibkan untuk mengikuti rangkaian acara hingga akhir untuk mengetahui siapa yang akhirnya berhak untuk menyandang The Best Photographer of IPC.

Seoul adalah ibukota dari negara republik Korea Selatan dan merupakan jantung dari peradaban Korea, mulai dari budaya, politik, ekonomi, dan pendidikan. Berada di sepanjang tepian sungai Han, kini Seoul memiliki penduduk lebih dari sepuluh juta jiwa.

Korea Selatan merupakan negara kosmopolitan dan multikulturalisme yang ditunjukkan melalui beragam perayaan yang mayoritas diselenggarakan di kota Seoul.

Seoul merupakan kota terbesar ke-10 di dunia. Uniknya, Seoul merupakan perpaduan antara budaya masa lampau dengan modernisasi. Terlihat dari bangunan-bangunan bersejarah seperti Istana Gyeongbokgung, tempat ibadah hingga gerbang-gerbang kota yang kental dengan sejarah, yang kemudian berdiri berdampingan dengan bangunan-bangunan modern semisal gedung-gedung perkantoran, apartement, ataupun pusat-pusat perbelanjaan.

Fakta-fakta itulah yang akhirnya membawa IPC tahun ini diselenggarakan di Seoul. Seoul dianggap mampu menyediakan objek-objek yang layak untuk diabadikan.

# # #

Hari pertama, 20 April 2012.

예술의 전당 atau Seoul Arts Center (Pusat Kesenian Seoul) adalah sebuah gedung untuk pementasan kesenian yang terletak di Seoul, Korea Selatan. Bangunan ini didirikan mulai tahun 1984 dan diselesaikan pada bulan Februari 1993 dengan rancangan desainer Kim Seok Chul. Seoul Arts Center merupakan komplek yang terdiri dari banyak bangunan yang berbeda-beda fungsinya. Keseluruhannya mencapai 9 buah bangunan, antara lain: Opera House, Music House, Hangaram Art Gallery, Seoul Calligraphy Art Museum, Arts Library, Opera Theater, Towol Theater, Jayu Theater dan Hill Stage.

Pusat Seni ini menyelenggarakan berbagai pertunjukkan seni budaya dan pameran, mulai dari tari, opera, teater, film dan sebagainya. Seoul Arts Center merupakan markas besar dari beberapa organsisasi kesenian dan kebudayaan penting Korea Selatan. Gedung Seoul Arts Center bersebelahan dengan gedung NCKTPA, organisasi yang dikenal dalam pelestarian dan pementasan musik dan tari tradisional Korea.

Good afternoon everybody!”

Para peserta IPC yang semula sibuk dengan urusannya masing-masing, secara hampir serentak menoleh ke arah suara tersebut berasal. Pemilik suara tersebut rupanya seorang pria yang kira-kira berusia antara tiga puluh hingga tiga puluh lima tahun. Dia memegang sebuah mikrofon dan berdiri di depan para peserta IPC yang sudah duduk memenuhi salah satu ruangan di dalam gedung Seoul Arts Center.

“Perkenalkan nama saya Mark Boulevard, salah satu juri dari International Photography Contest, mungkin beberapa dari kalian ada yang mengenal saya, begitu pula dengan teman-teman saya yang lain. Tapi di kesempatan kali ini saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut tentang siapa kami karena kita bisa berkenalan lebih lanjut setelah ini,” lanjut pria tersebut masih menggunakan bahasa inggris, sembari menatap satu persatu wajah peserta yang ada di hadapannya.

“Agenda kita hari ini adalah melihat hasil karya kalian masing-masing. Setelah itu kalian wajib untuk memilih satu foto yang kalian sukai, yang kalian nilai sebagai yang terbaik di antara yang lainnya. Foto-foto terbaik tentunya akan mendapat nilai plus tersendiri di akhir penilaian juri.”

“Kalian bisa menuliskan nomor foto di buku yang ada di tangan kalian. Buku itu berisi panduan, apa saja yang akan kita lakukan selama tiga hari ini.”

Mark meletakkan mikrofon di meja yang ada di hadapannya lalu berjalan ke sisi kiri layar, bergabung bersama beberapa rekan juri yang lain. Selang beberapa saat, layar di dalam gedung tersebut mulai menampilkan foto demi foto.

Ruangan itu hening, sesekali terdengar decakan kagum dari para peserta yang notabene belum saling mengenal itu. Juri-juri rupanya belum memberikan waktu luang kepada mereka untuk sekedar berkenalan. Wajah-wajah lelah juga sepertinya tidak menjadi pertimbangan untuk mengundur waktu.

“Wow!” kagum seorang wanita yang duduk di barisan paling belakang saat melihat foto induk burung yang tengah memberi makan anaknya di dalam sangkar. Induk burung itu meletakkan makanan yang ada di pucuk paruhnya ke dalam mulut anaknya. Wanita itu langsung menulis angka dua puluh empat di bukunya tanpa ragu.

Seorang pria yang duduk di sebelahnya menoleh sambil tersenyum. “Kamsahamnida. Itu fotoku,” ucap pria itu.

Mendengar seseorang berbicara di sebelahnya membuat wanita itu menoleh. “Cheon mane mal seumnida. Fotomu benar-benar bagus.”

“Ah, kau mengerti bahasa korea?”

“Tidak, tidak. Aku hanya mengerti sedikit. Aku sering mendengarnya di drama-drama korea,” jelas wanita itu sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

“Kim Sung Jin. Peserta asal Korea Selatan. Kau?” tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya. Wanita itu tidak langsung menyambut uluran tangan Sung Jin, ia malah memperhatikan raut wajah Sung Jin yang nampak begitu ramah dan bersahabat. Lesung di pipinya terlihat sangat jelas saat dia tersenyum. Wanita itu juga dapat melihat wajah Sung Jin yang putih bersih, kedua matanya yang tidak besar tapi juga tidak kecil, hidungnya mancung dan bibir merahnya yang sedang tersenyum. Perawakan Sung Jin yang sedikit kurus tapi cukup berbentuk serta tinggi badannya yang menurut wanita itu cukup proporsional dalam posisi duduk tersebut membuat Sung Jin layak mendapatkan nilai yang cukup tinggi untuk ukuran fisik seorang pria. Setelah cukup puas mengamati Sung Jin, wanita itu tersadar lalu segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sung Jin. “Cinta. Peserta asal Indonesia.”

Sama halnya dengan Cinta. Sung Jin pun tengah sibuk dengan pikirannya sendiri saat Cinta membalas jabatan tangannya. Ia masih menatap sosok yang ada di depannya tanpa berkedip, entah ada magnet apa yang mampu membuatnya terus menatap Cinta. Sosok wanita berperawakan mungil, kulitnya kuning langsat dan nampak begitu bersih, sementara wajahnya memancarkan aura kecantikan tersendiri. Mata yang belo berpadu dengan hidung mancung dan bibir kecil tipisnya itu ternyata mampu membuat Sung Jin mengaguminya dalam diam. Sung Jin lagi-lagi tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Senang berkenalan denganmu, Cinta.”

# # #

Ruangan yang awalnya begitu hening kini berangsur-angsur semakin ramai. Setelah dua jam berlalu, tiba saatnya istirahat bagi semua peserta IPC yang berjumlah 26. Para peserta memanfaatkan waktu tersebut untuk berkenalan satu sama lain.

“Terima kasih sudah memilih fotoku tadi,” ucap Sung Jin saat ia kembali berpapasan dengan Cinta. Cinta yang baru saja berkenalan dengan peserta asal Perancis itu tersenyum. Senyum yang baru saja Sung Jin akui sebagai salah satu senyum terbaik yang pernah dia lihat.

“Fotomu pantas untuk dipilih. Aku tidak menyangka kau berhasil mendapatkan moment sebagus itu untuk diabadikan.”

“Aku menunggu selama beberapa jam untuk mendapatkan foto itu.”

“Benarkah? Kalau begitu aku tidak salah pilih, fotomu benar-benar layak untuk dipilih. Kau sendiri memilih foto apa tadi?”

“Aku memilih foto dengan nomor urut dua puluh.”

Jawaban Sung Jin membuat Cinta kaget, nomor dua puluh berarti empat foto sebelum foto Sung Jin. Kedua bola mata Cinta membulat secara otomatis. “Dua puluh? Aku tidak salah dengar?”

 “Tentu saja tidak. Memang ada apa? Kau tidak setuju? Aku belum pernah melihat kejadian seperti itu sebelumnya, dan saat melihat foto itu membuatku ingin berkunjung ke tempat itu suatu hari nanti. Sayang sekali, aku bahkan tidak tahu di mana lokasinya.”

“Indonesia.”

“Indonesia?”

“Ya, lokasi foto itu adalah Indonesia. Foto itu milikku.”

“Wah, ini benar-benar kebetulan yang sangat menyenangkan. Bisa kau beritahu aku…”

Ucapan Sung Jin terputus saat seseorang menepuk pundaknya. “Apa kau Sung Jin? Peserta asal Korea Selatan?”

Sung Jin mengangguk antusias. “Ya. Aku Sung Jin, peserta asal Korea Selatan.”

Wanita di hadapannya tersenyum. “Sepertinya kau lupa padaku. Aku Selena, kita pernah bertemu di kompetisi fotografi sebelumnya.”

Sung Jin menepuk dahinya. “Aigo! Aku ingat sekarang. Kau peraih juara dua bukan?”

Selena mengangguk sambil tersenyum. Selena dan Sung Jin memang sempat bertemu sebelumnya di sebuah kompetisi fotografi di Los Angeles tahun lalu. Kompetisi itu diikuti oleh para mahasiswa-mahasiswa jurusan fotografi di seluruh dunia. Sung Jin meraih juara pertama disusul Selena di posisi kedua.

“Oh, kenalkan. Ini Cinta, peserta asal Indonesia.”

“Selena, peserta asal Inggris. Senang berkenalan denganmu Cinta,” ucap Selena sambil mengulurkan tangannya. Cinta langsung menjabat tangan Selena sambil tersenyum. “Ya, senang berkenalan denganmu Selena.”

“Baiklah kalau begitu, kalian lanjutkan saja obrolan tadi. Sampai jumpa.”

Selepas Selena pamit, Sung Jin kembali menanyakan apa yang tadi hendak ia tanyakan pada Cinta. “Apakah kau keberatan memberitahuku seperti apa Indonesia itu?”

Cinta tersenyum mendengar pertanyaan Sung Jin. “Tentu saja tidak. Aku akan menjelaskannya dengan senang hati.”

“Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa. Indonesia juga adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri lebih dari tiga belas ribu pulau. Untuk menyebut kepulauan Indonesia, kami biasa menyebutnya dengan dari sabang sampai merauke. Kota sabang merupakan salah satu kota di Aceh yang disebut sebagai titik paling utara Indonesia. Sementara merauke merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua. Kabupaten ini adalah kabupaten terluas sekaligus paling timur di Indonesia.”

“Tiga belas ribu? Wah, itu banyak sekali. Mungkin suatu hari nanti setidaknya aku berkesempatan pergi ke dua tempat yang kau katakan tadi. Lalu, apa lagi?”

“Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Ngomong-ngomong soal perbedaan, negara kami memiliki semboyan nasional untuk itu. Kau mau tahu?”

“Tentu saja,” jawab Sung Jin sambil tersenyum.

“Bhinneka tunggal ika. Yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.”

“Artinya sangat bagus.”

“Sebenarnya semboyan itu menggunakan bahasa Sanskerta. Bagaimana cara menjelaskan tentang Sanskerta ya? Hm… Bahasa Sanskerta atau Sansekerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa yang paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Kata Sanskerta sendiri memiliki arti bahasa yang sempurna.”

“O, aku mengerti. Aku tidak menyangka, ada negara semenarik itu.”

“Kapan-kapan kau harus ke Indonesia dan membuktikannya sendiri kalau begitu.”

Sung Jin hanya mengangguk-angguk kecil menanggapi Cinta. “Terima kasih sudah menjelaskan padaku tentang negaramu yang sangat luar biasa itu. Kau pasti bangga menjadi orang Indonesia ya?”

Cinta mengangguk antusias menanggapi pujian dari Sung Jin tersebut. “Juga sebuah kebanggaan bagiku kalau aku bisa menceritakan tentang negaraku di dunia internasional seperti ini. Lalu, seperti apa Korea Selatan?”

“Hm… Kurasa Korea Selatan saat ini sudah lebih terkenal daripada jaman dulu mengingat Korean wave yang tengah melanda.” Sung Jin tertawa sejenak sebelum melanjutkan ceritanya, “Begini… Republik Korea biasanya dikenal sebagai Korea Selatan, sebuah negara di Asia Timur yang meliputi bagian selatan Semenanjung Korea. Di sebelah utara, Republik Korea berbataskan Korea Utara, di mana keduanya bersatu sebagai sebuah negara hingga tahun 1948. Setelah liberalisasi dan pendudukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia kedua, wilayah Korea akhirnya dibagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.”

Cinta bertepuk tangan kecil usai mendengarkan penjelasan dari Sung Jin. “Wah… Kau mengetahui sejarah negaramu dengan sangat baik ya? Aku seperti mendengar seseorang yang sedang membacakan buku sejarah Korea Selatan padaku. Hebat!”

Sung Jin tertawa kecil lalu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Terima kasih. Sudah sepatutnya seperti itu.”

Cinta mengacungkan kedua jempolnya pada Sung Jin lalu berkata, “Indonesia dan Korea Selatan, keduanya sama-sama hebat.”

.이 장의 끝.

Advertisements

2 thoughts on “[Series] Picture of You 일 : Welcome to Seoul

  1. Ehm.. Ehm..
    Hai thor.. Q pembaca baru.. Hehe..
    Bangapta 🙂

    itu cerita pengalaman pribadi atau imajinasi?
    Ff-nya berbobot. ada pengetahuan yg bsa diambil dari situ.
    Done dari saya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s