[Series] Till I Found You – Part 2 (End)

Author : Gisela

Title : Till I Found You

Tada~

I’m back with last part. Entah bagaimana tiba-tiba endingnya mengalir menjadi begini. Beneran berbeda sama rencana awal, tapi ya sudahlah, saya akan menunggu comment dari kalian dulu.

Kali ini ga banyak omong deh. Silahkan dibaca, di like, di comment ^^ wkwk..

Comment please~

T.H.A.N.K ~ Y.O.U

Motor itu berhenti di sebuah rumah sakit. Jaemi menimbang-nimbang, ia tidak mau jika Donghae melihatnya disana dan salah paham padanya, namun siapa yang sakit? Kenapa Donghae sangat panik? Apa ibunya? Banyak pertanyaan bermunculan di otaknya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk masuk. Ia mengikuti Donghae hingga kekasihnya berhenti di sebuah kamar rawat. Jaemi memberanikan mendekat ke pintu itu, ia bisa mendengar percakapan di dalam sana.

“Donghae? Kenapa kau bisa ada disini?”

“Apa yang terjadi, Yeon? Kenapa dengan tanganmu? Kau baik-baik saja bukan? Tidak ada luka yang serius bukan?”

“YA! Donghae-ya, kau bertambah cerewet sekarang. Aku baik-baik saja, hanya sedikit ceroboh dan aku terjatuh, apa Jang in yang memberitahumu?”

Hening. Jaemi menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Yeon? Apakah dia yang bernama Yeonhae?  Jaemi membuka pintu itu perlahan, menyisakan celah kecil sehingga ia bisa melihat keadaan di dalam. Ia tidak dapat melihat wajah gadis yang terbaring disana. Punggung Donghae menutupinya.

“Gogjongma, aku baik-baik saja. Aku tidak berbohong, tidak ada luka serius. Kau tidak perlu repot kemari, Hae-ya.”

“Kau tidak senang aku disini, Yeonhae-ya?”

“Anieyo, bukan begitu maksudku.”

kring.. Sebuah ponsel berdering dan gadis bernama Yeonhae berusaha bangkit meraihnya, namun Donghae melarangnya.

“Berbaring saja, biar ku ambilkan.” Ucap Donghae sambil membantu Yeonhae berbaring. Donghae berjalan ke sofa, mengambil tas lalu menyerahkannya pada Yeonhae.

Jaemi menutup pintu tersebut perlahan dan meninggalkan rumah sakit itu dalam diam. Ia yakin gadis itu, Yeonhae, gadis yang sama dengan gadis yang berada dalam foto itu, foto yang selalu dipandangi Donghae, gadis yang selalu dirindukan Donghae, alasan dimana dia menjadi kekasih seorang Lee Donghae sekarang.

Jaemi berjalan gontai, ia bahkan tidak tahu harus kemana. Hatinya sakit. Seharusnya ia tahu jika keputusannya akan membuatnya lebih sakit. Seharusnya ia tahu jika suatu saat dia akan menyesali keputusannya. Seharusnya ia tahu batasannya dan tidak perlu cemburu, karena pada awalnya ia dan Donghae memang tidak ada ikatan apapun. Sebenarnya ia tahu, ia sangat tahu, hanya saja ia berpura-pura tidak tahu, berharap feeling nya akan salah.

“Yeobseyo, oppa. Anieyo, aku tidak apa. Tidak perlu, selesaikan dulu urusan oppa disana. Ne, gogjongma.”

“Apa itu Jungsoo-ssi? Dia tidak menemanimu?” tanya Donghae setelah Yeonhae menutup telponnya.

“Dia sedang di luar kota, ada urusan disana, sudah 2 hari dia pergi. Kau sendiri bagaimana dengan gadis itu?”

“Ne?”

“Masih tidak mau cerita? Gadis bernama Park Jaemi. Seperti apa dia? Kenapa tidak membawanya kesini?”

“Ah, apa Kyuhyun juga yang menceritakannya padamu? Anak itu!”

Yeonhae tertawa dan Donghae menatapnya saksama, “Aku merindukan tawamu.”

Tawanya berhenti, “Hae…”

“Baiklah, aku akan temani kau disini, kau mau makan apa?”

“Hae, ada banyak suster disini. Pulanglah, mungkin Jaemi sedang mencarimu sekarang. Lagipula Jang in sebentar lagi akan datang.”

“Kalau begitu aku temani sampai Jang in datang. Apa itu juga tidak boleh?”

“Kau tetap keras kepala.”

Malamnya, Jaemi dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar. Ia hampir tidak mempercayai penglihatannya dan berulang kali menggosok matanya sambil menatap layar ponselnya. Dengan segera ia mengambil jaket lalu berlari keluar rumahnya. Sekali lagi ia masih tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

“Donghae oppa? Kenapa kau disini?”

Donghae yang masih duduk di motornya memandang Jaemi sayu dan tetap diam. “Kau baik-baik saja, oppa? Aku dengar kau tidak kembali ke kampus. Apa ada sesuatu yang terjadi oppa?” Donghae tersenyum namun Jaemi tidak menyukai senyum itu, senyum yang menyiratkan kesedihan.

“Kau mencariku? Bahkan kau saja peduli padaku, kenapa dia tidak? Rupanya kau menjalankan peranmu dengan baik. Jadi, bagaimana jika kita mulai kencan pertama kita?”

“Ne?” tanya Jaemi tak mengerti.

“Naiklah.”

Meski Jaemi tahu apa yang sebenarnya terjadi, meski hatinya masih sakit, namun ia tidak ingin meninggalkan kekasihnya itu sendirian. Saat itu, sekali lagi ia melihat sosok Donghae yang rapuh. Beberapa menit kemudian, motor Donghae berhenti di sebuah taman bermain. Mereka mencoba banyak wahana disana, namun seakan hanya Jaemi yang menikmati permainan itu. Sedang kekasihnya hanya diam dengan pandangannya yang kosong.

“oppa, kau mau es krim? Atau coklat? Kakakku pernah mengatakan jika hati kita sedang tidak enak, coklat akan sangat membantu untuk mengobati hati kita. Aku pun setuju dengannya. Ah tetapi itu karena dia penyuka segala makanan. Ah mian, aku berceloteh lagi.”

“Lalu? Apakah kakakmu selalu bahagia setelah memakan coklat?”

Jaemi mengangguk, “Tentu, karena dia yang mengatakannya padaku. Sayangnya, dia tidak bisa lagi menikmati coklat, ataupun segala jenis makanan. Dia meninggalkanku untuk selamanya.”

Donghae menatapnya, sekilas ia melihat kesedihan di mata Jaemi, namun gadis itu menutupi dengan senyumnya.

Hening.

“Dia tidak menginginkanku lagi. Bahkan ia tidak ingin aku berlama-lama di sisinya. Apa coklat itu bisa membawanya kembali padaku?”

Jaemi diam, ia tahu siapa yang dimaksudkan Donghae. “Kau tahu, semakin aku ingin melupakannya, semakin besar rasa rindu itu. Dan aku baru menyadarinya sekarang, aku hanya ingin melihatnya dan tinggal di sisinya. Namun ia menginginkan sebaliknya. Bahkan ia lebih ingin bertemu denganmu daripada aku.”

Jaemi tidak lagi ingin bertanya meski ia penasaran bagaimana Yeonhae tahu akan dirinya, ataukah Donghae yang bercerita? Apa itu mungkin? Kini, hatinya terlalu sakit bahkan untuk bernafas. Sesak.

“Kau mau menemaniku?” tanya Donghae dan kali ini ia menatap Jaemi yang masih menunduk.

“Yeon, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Donghae menghampiri Yeonhae lalu meletakkan sebuket bunga mawar.

“Sangat baik. Oh? Diakah yang bernama Park Jaemi? Annyeonghaseyo. Dia sangat manis Hae, kau benar-benar beruntung.” Ucap Yeonhae lalu Jaemi ikut memperkenalkan dirinya. Kali ini, Jaemi dapat melihat lebih jelas, gadis di hadapannya sedikit berubah dari foto yang selalu dibawa Donghae, namun mereka adalah orang yang sama. Yeonhae memang terlihat sedikit lemah, dengan tangan kanannya yang dibalut kain putih, namun ia masih terlihat ceria. Jadi dia orang yang selalu dirindukan Donghae?

“Apa kau sudah makan siang? Oya, aku membawa ipod dan sudah mengisinya dengan lagu-lagu kesukaanmu, jadi kau tidak akan sangat kesepian disini. Ngomong-ngomong kenapa kau sendirian lagi? Dimana Jang in?”

“Ne, aku sudah makan. Gomawoyo ipodnya. Dan.. Jang in? Ia pergi makan siang bersama Kyuhyun.”

“Mereka asik pacaran dan meninggalkanmu sendirian?”

“Aku bukan anak kecil, Hae. Lagipula mereka juga butuh bersenang-senang. Oh ya, Jaemi-ah, mianhae membuatmu diam, kekasihmu ini benar-benar cerewet.”

“Gwaenchanna eonnie. Hm, rupanya eonnie juga mengenal Kyuhyun sunbae. Dan rupanya dia sudah memiliki kekasih?”

“Ah benar, dia satu club juga denganmu. Hm, sebenarnya mantan kekasih, namun mereka masih berhubungan baik. Lalu, bagaimana dengan seniormu yang satu ini? Dia memperlakukanmu dengan baik bukan?”

“Ne, eonnie. Donghae oppa sangat baik padaku.” Jawab Jaemi ramah.

Yeonhae mengangguk-angguk. Beberapa saat Jaemi berbincang-bincang dengan Yeonhae dan Donghae hanya diam menatap Yeonhae. Sesekali Jaemi melirik Donghae, kekasihnya itu tidak melepas pandangannya sedikitpun dari sosok gadis yang asyik berbincang dengannya. Meski ia tidak tahu mengapa, tetapi apa yang diucapkan Donghae kemarin memang benar, Yeonhae tidak memiliki perasaan yang sama. Apakah ini keuntungan bagi Jaemi? Haruskah dia bahagia melihat orang yang disukainya patah hati? Meski begitu, melihat perhatian Donghae membuat dada Jaemi sesak.

“Aku permisi ke toilet dulu.” ucap Jaemi berpamitan dan beranjak keluar. Ia harus menenangkan perasaannya.

Sesaat kemudian, Jaemi berjalan kembali menuju kamar rawat Yeonhae, namun ia bertemu dengan Donghae di koridor rumah sakit itu. Jaemi terpaku pada gelas plastic yang dibawah Donghae.

“Apa itu oppa? Teh?”

“Ne, aku kembali ke kamar dulu, kasihan jika ia sendirian disana.”

“Untuk Yeonhae eonnie?”

Donghae mengangguk lalu berjalan melewati Jaemi, namun tiba-tiba dia berbalik, “Jika kau mau, kau bisa mengambilnya sendiri di kantin.”

Jaemi tersenyum, ia berharap jika itu bisa membuat dirinya lebih baik. Ia berjalan ke kantin, lalu kembali ke kamar sambil membawa 2 gelas teh hangat. Namun saat ia berada di depan pintu, langkahnya terhenti.

“Sepertinya aku menyesal, sangat menyesali keputusanku waktu itu. Kau tahu Yeon, aku tidak bisa melepasmu, aku masih mencintaimu. Jika aku bisa memutar waktu, aku tidak akan membiarkanmu pergi waktu itu, tidak sekalipun dengan Park Jungsoo itu.”

“Hae..”

Jaemi melangkahkan kakinya ke belakang, ia tidak sanggup lagi berada diantara mereka. Hatinya terlalu sakit untuk menerima semuanya.

“Hae, kau jangan mulai lagi. Kau juga tahu, jika keadaan tidaklah sama, begitu pun dengan hatiku. Aku juga percaya kau pun akan berubah, kau harus berubah. Bukankah kau mempunyai Jaemi disisimu? Jangan sampai kau terlambat untuk kedua kalinya, Hae. Jangan sampai kau menyesal untuk kedua kalinya. Jaemi, dia gadis yang baik dan tulus. Tidakkah kau menyadari itu? Pulanglah, Jaemi pasti lelah menemanimu disini.”

Donghae nampak enggan untuk meninggalkan rumah sakit, namun Yeonhae tidak lagi mempedulikan orang di hadapannya itu. Dengan setengah hati, Donghae berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Hae, jangan memikirkan aku lagi, dan kau boleh menemuiku jika perasaan itu tidak ada lagi. Hati-hati di jalan. Selamat malam.”

Lama, Donghae berdiri di depan pintu Yeonhae, hatinya sakit, ia putus asa dengan hatinya sendiri. Seakan sadar dari dunianya, ia menyapukan pandangannya, koridor rumah sakit sudah sepi, dan ia tidak menemukan sosok Jaemi. Baru saja ia berniat menelpon Jaemi, pandangannya tertuju pada dua gelas teh di atas bangku di depan kamar Yeonhae. Teh itu masih mengepulkan asap. Donghae berjalan sambil menghubungi Jaemi.

“Kau dimana?”

“Mianhae oppa, aku pulang terlebih dulu, ada sedikit urusan mendadak. Apa oppa masih di rumah sakit? Titipkan salamku pada Yeonhae eonnie ya.”

“Jae… Hah? Dia memutuskan telponnya dulu? Kau pikir aku siapa?” ucap Donghae kesal.

Esok paginya, Jaemi berangkat ke kampus seperti biasanya. Hampir seharian Jaemi tidak melihat Donghae sama sekali. Tidak juga di ruang club. Ia menghela nafas, ataukah dia berada di rumah sakit?

“Kau sedang apa, Jaemi-ah?”

“Oh? Kyuhyun sunbae? Anieyo hanya sedang menikmati pemandangan saja.” Jawabnya asal.

“hmm rupanya kau juga suka berada di taman ini?”

“Kau juga sunbae?”

Kyuhyun menggeleng, “Donghae, dia suka merenung disini. Apa kau juga sedang merenungkan dia tadi?”

Glek! Jaemi menjawab gelagapan. Dan disusul tawa Kyuhyun.

“Kau benar-benar lucu. Ah itu dia. Donghae-ya!!” Suara Kyuhyun segera menyadarkan Jaemi, ia menoleh dan benar! Kekasihnya itu berjalan menuju arah mereka. Kyuhyun mendahului menghampirinya. “Jangan buat dia menangis.”bisiknya.

“Aku pergi dulu, Jaemi-ah. Bye~” ucap Kyuhyun lalu berlalu.

Donghae duduk di samping Jaemi. Tidak ada yang membuka percakapan untuk beberapa saat. Jaemi memberanikan menoleh menatap kekasihnya, wajah yang sama seperti sebelumnya, ekspresi ini ekspresi yang membuatnya penasaran dan tidak bisa melepas pandangannya.

“Oppa sudah makan siang?” tanya Jaemi membuka percakapan.

Hening.

“Oppa darimana saja? Aku tidak melihatmu dari tadi.”

“Apa aku harus memberitahumu kemana aku pergi? Dan kau seenaknya pergi begitu saja tanpa memberi kabar.”

“Eh? Maksudmu tentang kemarin oppa? Itu karena aku benar-benar terburu. Mianhae, aku tidak tahu jika kau akan semarah ini.”

“Kau pikir aku pembantumu? Bukankah aku menyuruhmu untuk menemaniku? Kenapa kau justru meninggalkanku?”

Jaemi terkejut melihat Donghae yang marah atas kelakuannya, namun ada perasaan senang di hatinya.

“Mianhae, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” ucapnya sambil tersenyum.

“Bagaimana persiapan festival nanti? Kau dan Kyuhyun sudah mendapat ide?”

“Belum, tetapi Kyuhyun sunbae sudah bersedia mengajariku memasak, jadi pada festival nanti aku bisa membantunya.”

Kriuk..

Donghae terkejut lalu menatap Jaemi, “Suara apa itu?”

“Suara perutku oppa. Aku lupa aku belum makan. Aku ke kantin dulu, oppa mau titip?”

Donghae mendengus, “Kau pikir aku sekejam itu? Ayo ke kantin bersama, aku juga lapar.” Ucap Donghae sambil menggandeng Jaemi. Jaemi hampir tidak mempercayai hal itu.

“Oppa, apa makanan favouritemu? Jika aku sudah pintar memasak, aku akan memasakannya untukmu.”

“Jangan bermimpi, kau pikir Kyuhyun pandai memasak?”

“Mwo?? Jadi dia menipuku, oppa?” Melihat ekspresi Jaemi, Donghae tidak bisa menahan tawanya lagi. Jaemi terkejut sekaligus senang.

“Belajarlah, dan buatkan aku Jjajangmyun. Jika kau berhasil membuatku memuji masakanmu, aku akan temani kau kemana pun.”

“Jeongmalyo??” tanya Jaemi antusias dan membuat Donghae tersenyum lagi.

“Jangan menatapku dengan matamu yang besar. Atau aku tarik ucapanku barusan.”

Jaemi menggeleng cepat dan menarik kedua ujung matanya, hingga menyipit, membuat Donghae kembali tertawa. “Hentikan. YA!! Jaemi-ah hentikan!”

Benar, aku akan selalu menemanimu, oppa. Tak peduli, bagaimana perasaanmu padaku, aku akan selalu di sampingmu. Aku ingin membuatmu tertawa, melihatmu banyak tertawa, lebih banyak lagi tersenyum. Aku mohon, lebih lama bertahan di sisiku. Tetaplah seperti ini oppa.

“Jaemi!! Eh? Kau pulang sendiri?”

“Hyejin? Kapan kau datang? Tidak mengabari dulu, jadinya aku harus menungguku.” Jawab Jaemi sesampainya di rumah.

“Mana Donghae? Dia tidak mengantarmu?”

“Anieyo, aku bukan gadis manja. Dia ada urusan.”

“Jeongmalyo? Tetapi dia juga tidak menjemputmu. Apa kekasihmu itu begitu sibuk?”

“hmm, daripada membicarakannya, ada hal yang lebih penting, hye. Kau harus membantuku mengajariku memasak makanan yang lezat.”

“Mwo?? Kau ingin memasak??” teriak Hyejin.

“Sstt.. Kenapa kau berteriak? Kau tidak bersedia?”

“Anieyo, hanya saja ajaib. Sahabatku yang paling tidak tertarik dengan hal dapur, tiba-tiba saja? Ayo kita belajar!!”

Beberapa jam kemudian, beberapa makanan sudah terhidang di meja makan. Mereka berdua tersenyum puas. Semoga rasanya pun secantik luarnya. Hyejin membiarkan sahabatnya mencicipi terlebih dahulu, melihat masakan-masakan itu mengingatkannya pada seseorang yang selalu memuji masakannya. Karena seseorang itu pula ia enggan memasak kini. Tes! Air mata Hyejin keluar begitu saja.

“Coba cicipi yang ini, Hyejin-ah. Oh? Hyejin-ah, non waeire?”

Hyejin menghapus air matanya dengan segera, “Tak apa.”

Jaemi memeluk sahabatnya, “Kau pasti teringat si tukang makan itu? Mianhae, kau sudah menghindari dapur tetapi aku malah memintamu untuk mengajariku. Mianhae Hyejin-ah.”

Akhirnya semalaman Jaemi berkutat di dapur sendirian, mencoba beberapa kali namun hasilnya selalu tidak enak. Siangnya di kampus, Jaemi menemui Donghae. Ia teringat perkataan Kyuhyun dan pergi ke taman itu. Benar rupanya, Donghae berada disana.

“Donghae oppa, aku sudah belajar keras. Jadi cicipilah.” Ucap Jaemi riang.

“Tidak akan membuat sakit perut bukan?” Jaemi menggeleng lalu Donghae mencicipinya sedikit demi sedikit.

“Apa ini kerja kerasmu??”

Jaemi meringis, “Masih tidak enak ya?”

“Kau tidak mencicipinya terlebih dulu? Saat festival nanti, club kita bisa rugi kalau masakanmu begini.”

“Aku sudah mencicipinya, tetapi karena terlalu banyak mencicipi, lidahku jadi mati rasa. Buang saja, oppa, kita makan di kantin saja.”

Donghae menahan bekal makan di tangannya, “Makan ini saja. Sebentar lagi aku ada kelas.”

Jaemi tersenyum lega. Namun suara ponsel Donghae berdering, ia membuka sebuah pesan dan dengan segera ekspresinya berubah. Lagi-lagi dia beranjak dan pergi begitu saja. Jaemi menatap bekal makanan buatannya. Seakan mengingat sesuatu, Donghae berbalik, “Letakkan saja bekalnya di loker, aku akan memakannya nanti.”

Jaemi menghela nafas, apakah sekarang ia menyesal? Ia bertingkah konyol sekarang. Berjalan mondar mandir di depan loker, hanya untuk memastikan Donghae menghabiskan bekalnya. Namun, hingga petang, orang yang ditungguinya tak muncul sedikit pun. Akhirnya ia pun menyerah karena rasa kantuk, ia berjalan pulang.

Esok paginya, Jaemi membuka loker Donghae dan mendapati bekalnya. Donghae tidak menyentuhnya sama sekali. Ia mengambil dan membuang makanan yang sudah basi. Jaemi bergegas menemui Donghae di taman.

“Apa kau senang mempermainkanku oppa? Kau tahu aku sudah bersusah payah membuatkan bekal itu untukmu.”

Donghae nampak terkejut, ia lupa dengan perkataannya kemarin.

“Aku sibuk, lain kali aku akan memakannya.”

“Sibuk? Kau pergi ke rumah sakit lagi bukan? Aku tidak akan menghalangimu untuk menemuinya, tetapi bisakah kau menghargaiku sedikit saja?” Jaemi menarik nafasnya dalam, dan rasa sakit itu menjalar searah dengan nafasnya.

“Ne, aku memang menemuinya, aku juga mengantarnya pulang ke rumah, lalu? Apa kau lupa jika kita tidak benar-benar sepasang kekasih? Apa kau pikir aku benar-benar kekasihmu? Awalnya kupikir kau orang yang menyenangkan, tetapi kau tahu? Kau berubah menjadi gadis yang membosankan sekarang, dengan sikapmu seperti ini, kau sama dengan gadis lainnya, kau membuatku muak.”

Air mata Jaemi menetes.

“Jangan buatkan bekal lagi untukku.”

Donghae berlalu meninggalkannya. Air mata Jaemi mengalir semakin deras. Ia menekan dadanya dengan tangan, terlalu sakit.

Esoknya, Jaemi terasa menghilang, Donghae sedikit merasa aneh karena tak biasanya gadis itu tak nampak di sekitarnya. Donghae memasuki perpustakaan, namun nihil. Ia bahkan duduk di taman lebih lama dari biasanya, namun tak ada sosok Jaemi muncul di hadapannya. Ia mulai merasa aneh saat tak ada Jaemi. Terlalu sepi. Tiba-tiba ia teringat perkataannya kemarin, ia sedikit menyesal sekarang.

“Hm, Kyu, tumben kau tidak bersama Jaemi?”

“Kau mencarinya?”

Donghae hanya diam.

“Dia sakit lambung, kata temannya karena ia menghabiskan masakannya sendiri. Kasihan dia, semangat sekali belajar memasak tetapi tidak ada yang menghargai hasil masakannya. YA! Donghae-ya kau mau kemana? Aku belum selesai bicara.” Ucap Kyuhyun lalu tersenyum.

Esok paginya, Jaemi dikejutkan oleh Donghae yang sudah berdiri di depan rumahnya.

“Kau sedang apa, oppa?”

“Bagaimana perutmu? Sudah tahu perutmu rewel kenapa masih makan begitu banyak?”

“Eh? Sayang jika harus dibuang. Lalu kenapa oppa disini? Oppa menjemputku?”

Donghae menghela nafas, bagaimana bisa ada seseorang sepolos ini. “Cepat naik, sebelum aku berubah pikiran.”

Di tengah perjalanan, mereka saling diam. “Mianhae.” gumam Donghae yang masih bisa didengar oleh Jaemi. Perlahan, senyum Jaemi mengembang.

Beberapa hari berikutnya, Jaemi membuat bekal makan siang setiap hari untuk Donghae, namun kekasihnya masih belum memuji masakannya. Walau begitu, Donghae selalu menghabiskan bekalnya. Suatu siang, Jaemi tidak menemukan Donghae di taman. Ia berkeliling hampir seluruh kampus, pesannya pun tidak dibalas, dan ia menemukannya di sebuah kelas. Donghae sedang tertidur pulas. Jaemi mendekatinya dan mengamati setiap lekuk wajahnya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah buku yang terbuka, dan ada sebuah gambar. Gambar seorang yeoja, Jaemi membalik kertas itu, dan tertulis “Yeonhae, bogoshipoyo.”

“Donghae-ya, Oh? Jaemi-ah? Kau disini?” tanya Kyuhyun dan menghampirinya. Jaemi segera menutup buku itu dan meletakkannya di tempat semula.

“Ah anak ini malah tertidur. YA!! Donghae-ya!!”

Donghae terbangun sambil mengusap-usap matanya. “Jaemi-ah? Kenapa kau disini?”

“Aku membawa bekal untukmu oppa. Kali ini pasti enak.”

“Jeongmalyo? Kau sudah bisa memasak? Whoa, aku boleh mencicipinya, Jaemi-ah?” tanya Kyuhyun. Jaemi mengangguk dan membuka bekal milik Donghae. Donghae mengalihkan pandangannya, menatap heran buku disampingnya yang sudah tertutup. Ia menoleh menatap Jaemi.

“Aaaaa..” Kyuhyun membuka mulutnya lebar, membuat Jaemi hendak menyuapinya.

Tiba-tiba saja, Donghae menarik tangan Jaemi dan memasukan makanan itu ke mulutnya. Jaemi tertegun.

“Aish, Kalau begitu biar aku makan sendiri. Jaemi kau ada sumpit lagi?” tanya Kyuhyun. Jaemi mengangguk dan menyerahkan sumpit lain ke Kyuhyun. Baru saja Kyuhyun hendak menusukan sumpitnya, Donghae membawa bekal makannya dan menghalangi Kyuhyun dengan tangannya.

“Pergilah, jangan ganggu aku.”

“YA! Donghae-ah kenapa kau pelit sekali? Jaemi besok kau bawakan bekal untukku juga, ok?”

Jaemi yang masih bengong pun mengiyakan dan tanpa sadar jika sepasang mata memandangnya.

“Jangan-jangan kau menipuku, oppa. Bahkan eomma mengatakan masakanku sudah lumayan, kenapa kau belum memujiku?” tanya Jaemi saat mereka berada di ruang club mempersiapkan festival besok.

Donghae menoleh lalu memukul kepala Jaemi, “Kau mengataiku penipu? Saat kau dibohongi Kyuhyun, kau tidak menegurnya malah memasakan bekal untuknya. Sekarang kau mengolokku?”

Jaemi mengusap kepalanya dan hendak protes namun Kyuhyun memanggilnya, “Jaemi-ah, ayo kita belanja bahan masakan untuk besok.  Kkaja!!”

“Oh, ok. Aku pergi, oppa.”

Donghae menatap skeptis pada dua orang yang berlalu meninggalkannya.

Jaemi dan Kyuhyun menggunakan bus untuk sampai ke supermarket. Sesampainya di supermarket, mereka dikejutkan oleh sosok Donghae disana.

“Oppa? Kau mengikuti kami?”

Kyuhyun nyaris tertawa mendengar pertanyaan Jaemi, polos sekali gadis ini.

“Aku? Apa kau pikir aku gila mengikuti kalian? Aku juga membutuhkan beberapa bahan untuk festival besok.”

Jaemi mengangguk. Kyuhyun menggaruk kepalanya, kapan dua orang temannya ini akan benar-benar jujur pada perasaannya? Apa harus dia campur tangan lebih jauh lagi?

Saat asyik belanja bersama, tiba-tiba seseorang memanggil salah satu dari mereka.

“Donghae-ya?”

Donghae nampak terkejut, begitu pula dengan Jaemi yang berada di sampingnya.

“oraenmanieyo Jaemi-ah.”

Jaemi mengangguk dan membalas salam Yeonhae. Dan tak lama seorang namja muncul dan merangkul bahu Yeonhae, “Kau sudah belanjanya, Yeon? Oh? Donghae-ssi, oraenmanieyo? Hm, nuguseyo? Kekasihmu?” Donghae tersenyum dan memberi salam.

“Ne, dia kekasihku.” Ucap Donghae sambil mengusap kepala Jaemi.

Suasana menjadi aneh setelah pertemuan singkat itu. Jaemi merasa jika Donghae telah memanfaatkannya. Tak lama kemudian, Kyuhun kembali dari toilet.

“Kalian kenapa? Bertengkar?”

“Anieyo. Kyuhyun sunbae, aku sudah mendapatkan barang-barang yang kita butuhkan, kkaja kita pulang sebelum hujan turun Donghae oppa, aku pulang.”

“Kau pulang denganku. Kyu, kau pulanglah sendiri.” Ucap Donghae dingin sambil menarik tangan Jaemi. Kyuhyun tersenyum melihat mereka berdua yang berlalu meninggalkannya.

Jaemi berusaha melepas genggaman tangan Donghae dan berhasil saat mereka telah berada di luar supermarket. “Kau menyakitiku oppa.”

“Berhenti bersikap baik-baik saja. Katakan jika kau tidak suka. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan. Jangan tersenyum jika kau memang tidak ingin. Marahlah jika kau ingin marah. jangan berlalu-lalang di hadapanku seakan kau baik-baik saja. Jangan memasang wajah yang dipaksakan. Kau benar-benar membuatku seakan aku orang yang sangat jahat.”

Jaemi tertegun, “Kau berubah lagi oppa. Aku bingung dengan setiap perubahan sikapmu yang tiba-tiba. Yang mana dirimu yang sebenarnya? Jangan membuatku bingung.”

“Tetapi kau benar oppa, berpura-pura baik, itu memang bukan lah seperti seorang Jaemi.”

“Jadi, mari kita hentikan sandiwara ini.”

Jaemi berbalik dan berlalu meninggalkan Donghae yang mematung. Tak lama kemudian hujan turun, dan seakan tersadar Donghae berlari memasuki rintik hujan. Berlarian mencari sosok kekasihnya itu, nihil, ia sudah telambat. Jaemi sudah mendapatkan bus untuk kembali pulang.

Festival.

Kampus sudah terlihat ramai oleh para mahasiwa yang sibuk mempersiapkan pembukaan pos mereka. Begitu pula dengan Jaemi dan Kyuhyun, mereka akan menjual jajanan yang disukai oleh banyak kalangan. Sedangkan Donghae, ia terlihat gusar, teman satu pos nya, Shindong masih belum datang.

“Jaemi-ah, kau harus bantu aku sekarang.”

“Donghae oppa? Tetapi aku masih belum selesai.”

“Sudah, pergi saja Jaemi, kelihatannya Shindong terlambat. Aku akan mengurus sisanya.” Ucap Kyuhyun sambil mendorong Jaemi.

Donghae membuka pos makanan juga, hanya saja ia menjual fast food. Jaemi pun membantunya meski sesekali ia melihat posnya sendiri. Tak lama para pengunjung semakin ramai berdatangan. Jaemi masih terjebak di pos Donghae.

“Oppa, sebenarnya Shindong sunbae kemana? Kenapa sampai sekarang ia belum muncul?”

“Mollayo, mungkin tidak bisa datang. Karena itu kau harus membantuku, ara?”

“Tetapi Kyuhyun sunbae juga sendirian, pos ku juga ramai. Otteokhae?”

“Pokoknya, kau harus membantuku. Aww..”  Donghae merintih tiba-tiba.

“Kau kenapa?”

“Tanganku terluka sekarang. Itu karena kau mengomel terus, sekarang kau masih ingin meninggalkanku? Kau benar-benar kejam, Jaemi-ah.” Ucap Donghae sambil menggenggam telunjuknya.

“Mianhaeyo, sini biar kuobati dulu.” ucap Jaemi sambil meraih tangan Donghae, namun Donghae mengelak.

“Aku akan obati sendiri. Gantikan aku dulu memasak, ok?” ucap Donghae lalu membungkus telunjuknya dengan perban. Jaemi pun menurut tanpa sadar jika seseorang tengah memperhatikannya sambil tersenyum puas.

Di sisi lain, Kyuhyun terpaksa menangani pengunjung sendirian. Meski ia sendiri yang menyuruh Jaemi pergi, namun akhirnya ia pun kewalahan. Untung saja, ada pengunjung yang bersedia membantunya.

“Oh? Eonnie? Selamat datang.” Sapa Jaemi saat melihat Yeonhae berkunjung di posnya.

“Ne, anyeonghaseyo. Whoa, ternyata berasal dari sini. Sejak aku datang, perutku sudah lapar karena aroma yang menggugah ini.”

“Kalau begitu, untukmu gratis eonnie.”

“YA!! Jaemi-ah, ini pos ku kenapa kau seenaknya memberi makanan secara cuma-cuma?” sanggah Donghae.

“Waeyo? Bukankah aku juga yang memasak? Lagipula ini kan Yeonhae eonnie?”

“Lalu kenapa kalau dia?”

“Dimana kekasihmu itu? Biar dia saja yang membayarnya.”

Yeonhae tertawa, “Kalian benar-benar serasi. Araseo, Hae, aku akan membayarnya. Kekasihmu itu sangat pelit rupanya, Jaemi-ah.”

Jaemi tertegun, kekasih? Benar, itu yang masih dipikirkan Yeonhae. Tetapi kata-kata itu telah menusuk hatinya sendiri. “Eonnie, bisa kau berjaga disini? Aku harus kembali ke pos ku sendiri.”

“Ne?” Yeonhae belum sempat mengiyakan namun Jaemi sudah bergegas menyusul Kyuhyun.

“Jadi dia tidak berjualan bersamamu?” tanya Yeonhae.

“Ck. Anak kecil itu! Ne, dia bersama Kyuhyun.” Ucap Donghae sambil sibuk memasak.

“Dan.. kau merasa cemburu? Tetapi kenapa kau berjualan sendiri?”

“YA! Siapa yang cemburu? Ah, itu karena Shindong….”

(Flashback)

“YA!! Shindong hee, kau dimana?! Cepat datang!” teriak Donghae di telepon.

“Mianhae Hae, aku terjebak macet. Kau siapkan dulu, aku akan menyusulmu.”

Donghae menghela nafas, namun tiba-tiba ia terpikir suatu ide. “Ah, kau tidak perlu datang jika memang tidak bisa. Tidak perlu terburu.”

“NE??? Apakah kau benar Lee Dong Hae, temanku?”

“Iya, bukankah aku sudah katakan? Sudah kau tidak perlu datang, ara? Awas kau berani muncul di festival nanti. Bye.”

(Flashback end)

 

“Ngomong-ngomong dimana Jungsoo? Aku tidak melihatnya. Kau pergi sendiri?”

“Dia akan menyusul sebentar lagi. Aku kesini dulu, karena sangat lapar. Sudahlah, aku berkeliling dulu sepertinya banyak yang menarik disini. Aku pergi.”

“Ya! Rupanya dia tidak berniat membantuku.” Ucap Donghae yang sudah sendiri lagi di posnya sekarang. Berulang kali ia memperhatikan pos Kyuhyun dan berteriak memanggil Jaemi, namun karena festival saat itu penuh pengunjung, suaranya seakan tertelan dan lenyap.

Usai festival, club sosial mengadakan pesta kecil di sebuah kedai, sekedar untuk merayakan kerja keras mereka. Donghae datang sedikit terlambat karena ia harus merapikan posnya sendirian.

“Kyu, aku mau duduk disini. Kau pindahlah.”

“Ya! Kenapa kau seenaknya mengatur orang? Kyuhyun sunbae sudah duduk disini sejak tadi.” Celoteh Jaemi yang duduk di samping Kyuhyun.

“Tidak apa, Jaemi-ah. Mungkin Donghae memang ingin duduk disini, aku akan pindah ke tempat lain.”

“Kau keterlaluan Donghae oppa. Apa kau ada masalah dengan Kyuhyun sunbae? Sejak tadi kau terus mengganggunya.”

“Anieyo.” Jawab Donghae enteng.

“Oh? Tanganmu? Tidak ada luka, bagaimana mungkin bisa sembuh secepat ini?” tanya Jaemi sambil memperhatikan telunjuk Donghae yang bersih tanpa goresan sedikitpun.

Donghae segera menyembunyikan telunjuknya, “Memang sudah sembuh. Ayo makan!”

Usai pesta, Donghae mengantar Jaemi pulang, awalnya Jaemi menolak, namun Donghae masih bersikukuh. Sesampainya di ruamh Jaemi, Donghae tidak langsung pulang.

“Jaemi-ah, besok malam kau ada acara?”

“Hmm, ne, Kyuhyun sunbae mengajakku nonton. Wae?”

“Benar rupanya.” Gumam Donghae.

“Ne?” tanya Jaemi memperjelas.

“Anieyo. Batalkan saja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Mwo?? Kenapa kau senang mengatur orang? Pergi atau tidak itu urusanku. Gomawo sudah mengantar. Selamat malam.”ucap jaemi dan berbalik masuk ke dalam rumahnya. Donghae menghela nafas, ia teringat kata-kata Kyuhyun di parkiran tadi.

“Aku akan mengajaknya nonton besok. Kalian sudah putus bukan? Kalau begitu tak ada masalah untukku. Oh ya, Hae, untuk masalah ini, aku tidak ingin lagi mengalah padamu.”

Donghae mengacak rambutnya kesal. Ia tidak tahu sejak kapan, namun kebersamaan Kyuhyun dan Jaemi selalu membuatnya kesal. Ia sendiri masih tidak percaya dengan keputusan Jaemi untuk mengakhiri sandiwara mereka. Benarkah ini semua hanya sandiwara?

Esok malamnya, Jaemi sudah bersiap dengan hoodie putih dan celana panjang jins, tak lupa tas yang sudah menyelempang di tubuhnya. Bel rumah berbunyi dan ia berlari menyongsongnya. Namun yang ia lihat di depan pintu rumahnya berbeda dengan pikirannya.

“Donghae oppa?”

“Aku menjemputmu.”

“Mwo? Bukankah aku sudah mengatakan jika hari ini aku akan pergi dengan Kyuhyun sunbae?”

“Batalkan Jaemi-ah. Ikutlah denganku.”

“Kau bersikap begini lagi, oppa. Apakah kau menganggapku sebuah mainan? Kau mau orang lain selalu mengikuti kata-katamu. Kau mau semuanya sesuai dengan kendalimu. Kau benar-benar egois oppa. Pulanglah, aku tidak akan ikut denganmu.” Ucap Jaemi lalu berniat menutup pintu rumahnya. Donghae menahan pintu itu.

“Kau benar, mungkin seperti itu  lah aku. Tetapi aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayang sekali lagi, hanya karena kebodohanku. Aku tidak pernah menganggapmu sebuah mainan, Jaemi-ah. Mianhae membuatmu bingung dan sedih selama ini, tetapi aku benar-benar ingin kau kembali ke sisiku. Bukan sebagai sandiwara, tetapi untuk menjadi kekasihku sesungguhnya.”

Genggaman Jaemi terlepas dari knop pintu. Sebagian dirinya sulit untuk mempercayainya, namun sebagiannya lagi ingin sekali mempercayainya sekalipun jika itu hanya kebohongan belaka. Bolehkah aku mempercayainya, oppa?

“Aku sudah berjanji oppa. Kyuhyun sunbae sangat baik padaku dan aku tidak ingin menyakitinya. Pulanglah.”

Donghae menarik tangan Jaemi ke arahnya dan memeluknya. “Kkajima. Aku mohon, jangan pergi.”

Mata Jaemi melebar, untuk kedua kalinya, ia berada di pelukan orang yang ia cintai. Namun, benarkah ini menjadi berbeda? Benarkah ia tidak lagi merasakan perasaan itu sendirian? Benarkah ia boleh memilikinya sepenuhnya?

“Kita mau kemana?”

Donghae melepas pelukannya dan tersenyum, “Merayakan hari jadi kita. Untuk selamanya, aku akan menjaga tanganmu ini selalu berada di genggamanku. Dan kau harus selalu berada di jangkauanku. Kkaja!!” ucap Donghae sambil menggenggam jemari Jaemi. Tanpa mereka sadari, jika ada sepasang mata yang mengawasi mereka sejak tadi dan senyum lebar tersungging di bibirnya.

“sunbae aku minta maaf, aku membatalkan janji malam itu tiba-tiba.”

“Gwaenchanna, kau tidak perlu merasa bersalah. Aku juga sedang sibuk waktu itu. Untunglah kau membatalkannya.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum.

“Jeongmalyo?”

“Ne, aku sibuk menyatukan sahabatku yang keras kepala. Tetapi sekarang aku lega, mereka sudah bersatu sekarang.”

Jaemi mengangguk, “Kau benar-benar baik, sunbae.”

“Ne? Kau baru tahu? Kkkk.. Sebenarnya aku hanya ingin memaafkan diriku, meski temanku itu mengatakan sudah memaafkanku dan tidak menyalahkanku, tetap saja aku merasa bersalah. Aku ingin dia bahagia.”

“Memang apa yang kau lakukan padanya sunbae?”

“Sewaktu kami masih SMA, kekasihku menyukainya dan berusaha memisahkan dia dengan kekasihnya waktu itu, aku mengetahuinya tetapi aku berpura-pura tidak tahu apa-apa. Kekasihku mengandung dan mengakuinya sebagai anak temanku,sedang aku diam saja menutupi kebohongannya. Waktu itu aku hanya takut, jika dia akan membunuh anakku, dia mengancam akan menggugurkan kandungannya.”

“Temanku itu adalah kekasihmu, Jaemi-ah, ya, Lee Donghae, sahabatku.” Ucap Kyuhyun dalam hati.

“Apa yang kalian bicarakan? YA!! Kyuhyun-ah, kenapa kau disini?”

“Ara, ara, aku pergi, aku tidak akan mengganggu kalian. bye…”

“Oppa, jangan-jangan kau cemburu? Kenapa kau selalu memarahi Kyuhyun sunbae saat bersamaku?”

“Akhirnya kau mengerti juga? Jadi, jangan dekat-dekat dengannya ataupun pria lain, ara?”

“curang! Kau juga harus berjanji hal yang sama padaku.”

“Algesemnida, jagi.”

“Oppa??”

“Ayo kita makan, aku membuatkanmu bekal.”

“Jeongmalyo?”

Jaemi memakan bekal buatan Donghae dengan lahap. Ia baru tahu jika kekasihnya pandai memasak.

“Saranghaeyo, Jaemi-ah.”

“Na dd..o, op….pa.”

“YA! Jangan bicara dengan mulut penuh dengan makanan.”

Jaemi mengangkat tangannya, menyatukan telunjuk dan jempolnya membuat tanda O, membuat Donghae tertawa melihat ekspresi Jaemi.

End

First published on Gisela’s FB on Wednesday, February 01st 2012

My comment :
Annyeong!!! Aku datang!!! Hahaha.. Itu ending-e lucu.. Aku smpet terkekeh pas baca nado oppa.. :p

Eh tp ya tp.. Gini un, aku kok ngerasa part 2 ini alur’e kecepeten.. Bener2 cepet.. Express.. Tau2 ws gini.. Tau2 ws gitu.. Hehehe..
Trus itu dungek kok tega banget sih ma Jaemi? Awas ya, nti ta bikin FF balas dendam.. Hahahahaha.. *evil laugh
Trus trus itu.. Yeon ma teukie kayaknya mesra gt ya? Ecieee.. *toel2 pipi unnie
Apa lg ya, mngkin aku jg ws agak lupa ma critamu xg sblme.. Ada nyinggung2 Kyu apa ga ya?
Oh ya, km kudu crita versi sblme ke aku.. Ta tunggu nd what’s app..
Anw, thank you ya??? *kiss unnie
Terus berkarya dan saya tunggu karya2mu brikutnya.. *kedip2 mata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s