[Series] Till I Found You – Part 1

Author : Gisela

Title : Till I Found You

Tada~

Hai.. hai.. #muncul dengan wajah tanpa dosa 😀

Terasa lama sekali ga post apapun.. mian ya readers, entah kenapa hari-hari kemarin rasanya ga ada feel buat nulis. Ga mau pake alasan banyak tugas juga, karena kalau disempet2in benernya masih ada waktu, tapi beneran deh pikiranku full dengan serba-serbi kuliah. At least, sesekali waktu aku masih nulis kok, cuma belom aku post sama sekali.. hihihihi.. ga punya modem sendiri juga.. hehehe..

Whoa, aku cerewet sekali~~~ Sorry, tapi rasanya kangen muncul lagi. hehe.. miss u all~

Dan.. sudah deh, capcus monggo dibaca. Oya sekedar mengingatkan (uda ga inget lah author, lama banget ngilangnya TT) FF ni kelanjutan FF sebelumnya “Listen, I Trust You!!” meski ga bersinambungan tetapi ada kaitannya juga.

Oya mian ya pyol, baru bisa memenuhi janjiku (FF ini maksudnya), semoga juga tidak mengecewakanmu. ^^

Comment please~

T.H.A.N.K ~ Y.O.U

“Ya, tolong geser sedikit. Ok letakan disitu saja. Terima kasih” gadis bernama Jaemi itu pun kembali mengatur letak tumpukan kardus berat itu. Ia mulai memeriksa satu per satu isi tiap kardus lalu menyeleksi pakaian yang masih layak.

“Jaemi ah, apa semua barang sudah siap?” tanya seorang yang baru saja muncul dan bergabung membantu Jaemi.

“Eh? Kyuhyun sunbae? Aku bisa melakukannya sendiri kok, kau bantu yang lain saja.” sergah Jaemi dan mendorong Kyuhyun untuk menjauh, namun Kyuhyun bersikukuh untuk membantunya.

“Wae? Kau tidak suka denganku, Jaemi ah?”

“Eh?” Jaemi melongo.

“YA!! Park Jaemi!! Sudah kubilang cepat kerjakan tugasmu, jangan santai-santai terus! Jangan ganggu Kyuhyun juga, dia masih harus mempersiapkan yang lain.” Tubuh Jaemi membeku dan ia mengetuk kepalanya sendiri. Sudah kubilang kan, bukan aku tidak mau dibantu tapi dia tidak ingin melihatku terbantu. Batinnya kesal. Ia kembali membereskan pakaian yang masih berserakan, lalu mendahului Kyuhyun dengan memindahkan kardus satu per satu ke bagasi bus. Kyuhyun mengikutinya mengangkut beberapa kardus itu dan membuat Jaemi menghentikan langkahnya.

“Sunbae, kau ingin aku dimarahi lagi?” kyuhyun menggeleng. Jaemi mendesah. Kenapa anggota klub sosial ini sangat keras kepala. Pikirnya.

“Kau lucu. Mian, tapi kau tidak bisa memaksaku atau pun Donghae, tidak ada yang bisa mengubah keinginanku, jadi jangan halangi aku memindahkan kardus ini. Permisi, nona” Kyuhyun mengacungkan telunjuk kirinya dan sedikit menggesernya ke kiri. Jaemi pun mengikuti arah telunjuk itu dan memberi jalan pada Kyuhyun. Dia mendesah lagi.

Setelah perdebatan yang terasa panjang, bus ini pun akhirnya melaju. Tujuan para anggota klub ini adalah panti asuhan yang letaknya di Namwon. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Seoul dengan menggunakan bus. Suasana ramai dan hangat mulai terasa dari dalam bus, namun tidak bagi Donghae. Dia memilih duduk di bangku paling belakang, dengan menutup hampir separuh wajahnya dengan topi kesayangannya, serta headset ipod yang menggantung di kedua telinganya. Jaemi yang duduk di bangku belakang diam-diam mengamatinya, meski sedikit sulit karena tempat duduk mereka terpisah oleh 3 teman-temannya. Jaemi mengalihkan pandangan, mengamati kesibukan teman-temannya yang asyik bernyanyi dan menari dengan diiringi gitar milik Kyuhyun. Lalu ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

Sesampainya di Namwon, mereka segera membereskan barang-barang ke dalam Villa dengan rapi. Mereka akan menginap seminggu di Villa tersebut. Villa itu sederhana tapi terlihat bersih dan nyaman, disana mereka harus mengerjakan semuanya sendiri, karena disana hanya ada seorang kakek tua, yaitu penjaga Villa. Untung saja beberapa dari mereka bisa memasak, sehingga mereka dapat menghemat uang untuk seminggu disana. Tidak hanya itu, Villa tersebut jauh dari keramaian kota, jalanan yang tidak bisa dibilang baik, namun hal positifnya udara disana benar-benar bersih dan sejuk.

Jaemi merentangkan tangannya untuk menghirup udara segar yang amat jarang ia dapatkan. Ia baru saja selesai berbenah dan menunggu teman-temannya memasak di dapur. Ia menyapukan pandangannya, menikmati pemandangan yang serba hijau. Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, Jaemi terlonjak lalu segera turun memeriksa. Ia menyusuri taman kecil di belakang Villa, sampai langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang merintih kesakitan.

“Donghae sunbae? Non gwaenchanna?” panik Jaemi dengan segera memeriksa kaki Donghae yang berlumuran darah bercampur lumpur. Sepertinya kakinya terpelosok dan ranting-ranting tajam itu telah menggores kulitnya cukup dalam. Donghae menoleh lalu menghempaskan tangan Jaemi.

“Kenapa justru kau yang datang? Dengan tubuhmu yang kecil itu bagaimana bisa kau menolongku?”

“YA!! Sunbae!! Kenapa kau selalu memarahiku? Yasudah, bangun saja sendiri, berjalanlah ke Villa sendiri, aku lapar, aku kembali dulu.” jaemi memutar badannya dan berjalan menuju Villa. Dalam 5 langkah, ia berhenti dan menoleh. Dasar keras kepala. Batinnya.

“Meski tubuhku kecil, tapi jangan pernah remehkan aku, sunbae. Apa kau tidak pernah mendengar cerita kelinci mampu menggendong kucing?” cerocos Jaemi sambil mengalungkan lengan Donghae di pundaknya dan membantu membopongnya. Donghae pasrah saja dengan apa yang ia lakukan, ia tidak menanggapi perkataan Jaemi, ia hanya meringis menahan sakit di kakinya.

“YA!! Sunbae, aku bicara denganmu!!”

“Ara!! Ara!! Aku tidak tahu, aku tidak tertarik dengan cerita aneh seperti itu.”

“Tentu saja, karena aku juga baru saja dengar saat aku mengatakannya semenit yang lalu. Hehe..” jawab Jaemi asal dan disusul pukulan yang mendarat tepat di kepala Jaemi.

“Kau mempermainkanku, anak kecil?” dia mendengus yang hampir mirip suara tawa yang dipaksakan.

Malamnya, Jaemi tidak bisa tidur, ia melihat kedua teman sekamarnya sudah tidur pulas. Ia menggoyangkan lengan salah satu temannya, tapi nihil. Ia mendesah, padahal besok ia harus bekerja seharian untuk membagikan kardus-kardus ke panti, membuka dan menjaga posko makanan gratis untuk penduduk sekitar. Tapi sampai tengah malam lewat ia masih tidak bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar mencari udara segar, siapa tahu setelah berjalan sebentar ia merasa ngantuk.

Jaemi mencomot jaketnya lalu pergi keluar perlahan, ia tidak ingin membangunkan seisi Villa. Udara Villa ini benar-benar sejuk, terutama di malam hari, lampu gemerlapan dapat terlihat, karena Villa ini memang terletak lebih tinggi dari perkotaan. Lagi-lagi Jaemi menemukan ketua clubnya yang duduk sendiri di tengah rerumputan. Ia memutuskan menghampirinya dan duduk di sebelahnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia menoleh, hmm..masih dengan style yang sama, topi kesayangan dan tidak boleh ketinggalan ipod dan…. Perhatian Jaemi tertuju pada selembar foto yang digenggam Donghae. Baru saja dia berpikir untuk mengambilnya, Donghae membuka matanya dan menyadari kehadiran Jaemi.

“Kau? Kenapa ada disini?”

“Ah, aku tidak bisa tidur sunbae.”

Hening lagi, lalu Donghae memasukkan foto itu ke saku jaketnya.

“Kakimu tidak apa, sunbae?”

“Umh..”

“Kembali ke Villa sana! Aku tidak akan mentolerirmu jika besok kau terlambat.”

Jaemi mengangguk lalu beranjak pergi, namun ia lagi-lagi berhenti, “Sunbae, kau sebenarnya baik, tapi kenapa kau selalu kasar pada wanita?” Donghae tertegun.

“Jangan sok tahu, aku tidak tertarik dengan hal seperti itu.”

“Jadi kau tertarik pada pria, sunbae?”tanya Jaemi dan sekarang ia berjongkok di hadapan Donghae. Donghae memukul kepala Jaemi lagi. “Kau mau kuhajar?” Jaemi terkekeh.

“Kalau begitu kau sangat mencintai wanita itu, bukan?”tanya Jaemi spontan dan sukses membuat mata Donghae melebar. “Wanita yang bersamamu di dalam foto itu. Mian, aku tidak sengaja melihatnya tadi.”

Donghae berdiri dan meninggalkan Jaemi yang masih bengong. “Apa dia marah? akh, kenapa aku mengatakan hal seperti itu. Babo!!”ucapnya pada diri sendiri.

Esok paginya, mereka berangkat pagi-pagi sekali ke Panti Asuhan dan bermain-main dengan anak-anak disana. Jaemi terus mengamati Donghae dan mencoba mendapat maaf atas perkataannya di taman.

“Donghae sunbae, aku membawakan teh untukmu.” Donghae menoleh sekilas lalu pergi menjauh. Jaemi mendesah.

“Untukku?”

“eh? kalau kau mau, sunbae”jawab Jaemi dan Kyuhyun segera meneguknya habis.

“Kau kehausan, sunbae? Mau aku ambilkan lagi?”

“Tidak perlu, kau mengejekku ya? Emh, apa kau dapat masalah lagi dengan Donghae?”tanya Kyuhyun sambil menggendong gadis kecil yang berlari mendekatinya.

“Emh, aku melakukan sedikit kesalahan, hehe..”

“Jeongmalyo? Mau kuberi tips?” Kyuhyun mencondongkan kepalanya ke telinga Jaemi dan membisikkan sesuatu, detik. “Kau yakin itu akan berhasil?” tanya Jaemi sedikit ragu. Kyuhyun mengangguk tegas sambil mengedipkan sebelah matanya. Jaemi pamit sambil menggidikkan bahunya, genit sekali sunbae nya satu itu.

Setelah posko tutup, mereka semua bergegas kembali ke Villa. Perjalanan ke Villa bisa ditempuh kurang dari setengah jam. Jaemi menggunakan kesempatan ini untuk menghibur Donghae. Ia menyanyi, menari, dan melakukan segala hal konyol yang bisa membuat seniornya itu tertawa, setidaknya untuk tersenyum saja. Usahanya memang berhasil membuat seisi bus tertawa, terkecuali Lee Donghae. Ia nampak tidak tertarik dan tetap memasang wajah kakunya. Jaemi menghela nafas, habislah harga dirinya.

“Siapa yang akan membuat makan malam hari ini?” tanya Shindong, yang tak lain adalah senior disana juga.

Suasana gaduh, masih sibuk saling berbincang dan tak menghiraukan ucapan Shindong. Jaemi masih duduk tak bergeming, hingga Kyuhyun menyenggol lengannya. Jaemi menoleh dan Kyuhyun memberi isyarat agar Jaemi mau melakukannya.

“Annyeonghaseyo!! Aku berbicara pada kalian. Apa malam ini kalian semua sedang diet, huh?”

“Park Jaemi bersedia.” Jawab Kyuhyun mewakili Jaemi. Jaemi membelalakan matanya. Ia hendak protes tetapi terlambat, Shindong sudah menghilang entah kemana.

“YA! Sunbae, kau sengaja melakukannya? Bukankah aku sudah mengatakan jika aku tidak bisa memasak.”

“Aku? Aku hanya membantumu Jaemi. Bukankah kau ingin berbaikan dengan Donghae? Hm, apa kau sudah jatuh cinta pada temanku yang aneh itu?” ucapan Kyuhyun berhasil membuat wajah Jaemi memerah.

“Anieyo, aku hanya bersalah padanya. Baik aku akan melakukannya, aku ke dapur dulu sunbae.” Jawab Jaemi cepat dan segera melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun yang tersenyum jahil.

Beberapa menit kemudian, makanan telah siap dihidangkan, cukup banyak untuk seluruh orang di Villa itu. Semua orang tertegun, Jaemi sangat cekatan, ia juga kreatif, makanan itu telah ia sulap menjadi bentuk-bentuk lucu dan manis. Kyuhyun pun tak menyangka Jaemi bisa melakukannya sebaik ini. Mereka semua segera duduk dan berebut, tak ketinggalan senior yang memang menjadi alasan Jaemi berkonsentrasi penuh dengan masakannya.

Namun, kebahagiaan tidak berlangsung lama, suasana riang segera berubah  hening. Satu per satu temannya meninggalkan ruang makan. Awalnya Jaemi bingung, namun tanpa mendengar langsung komentar dari teman-temannya ia sudah tahu jika masakannya pastilah sangat mengerikan rasanya. Dia menunduk, ini namanya bunuh diri dan ia pasti akan semakin dibenci oleh Donghae.

“Kyuhyun-ah, kau mau ikut atau titip saja? Kita mau ke kedai di seberang.” Tanya Shindong yang kembali muncul.

Seakan tersadar, Jaemi menatap Kyuhyun yang masih berada disana. Hanya tinggal ia, Kyuhyun dan Donghae sunbae rupanya. Kyuhyun melambaikan tangan sambil tersenyum. Ingin sekali Jaemi berteriak pada senior yang telah memberikan ide konyol padanya, namun lidahnya tercekat saat ia melihat Donghae baru saja menghabiskan semangkuk sup buatannya. Hatinya mencelos, kenapa masih dimakan jika rasanya tidak enak, pikirnya.

“Mau sampai kapan kau berdiri disana terus? Ini masakanmu bukan? Kau harus menghabiskannya.”

Jaemi menurut dan duduk. Ia mengamati senior di hadapannya.

“Apa rasanya enak, sunbae?”

“Kau masih berani bertanya? Cobalah sendiri dan kau akan tahu.”

Jaemi memasukan sesendok sup ke mulutnya dan segera meneguk segelas air.

“Sangat asin. Huek..” ucap Jaemi.

Donghae melihatnya sekilas, “Kau benar-benar bodoh, jika tidak bisa memasak kenapa menawarkan diri?”

“Anieyo, aku tidak menawarkan diri. Ah araseo, aku tidak akan memasak lagi, mianhae. Tapi sunbae, kenapa kau masih memakannya? Ah, jangan-jangan kau sudah titip pada Shindong sunbae?”

Donghae meletakkan sendoknya dan menatapku, “Apa kau benar-benar merasa bersalah? Kau membuatku harus menyantap makananmu yang aneh ini dan masih menuduhku?”

Jaemi terdiam, “Bukan begitu sunbae, mianhaeyo. Aku hanya tidak mengerti kenapa sunbae masih disini?”

Donghae kembali melanjutkan makan malamnya, “Karena aku tidak suka membuang makanan, termasuk makanan aneh ini. Jadi diam dan makanlah!”

Jaemi mengangguk dan ikut makan bersama seniornya itu. Walau masakannya terasa sulit sekali ditelan, hatinya sangat senang. Dibalik pintu, ada seorang lagi yang ikut berbahagia, ia tahu jika ide nya akan berhasil, karena ia sangat tahu sifat teman kecilnya itu.

Esok paginya, Jaemi bangun lebih cepat. Masakannya telah berubah petaka baginya, semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ia terpaksa keluar masuk toilet. Jaemi berjalan lemah ke arah dapur, ia butuh sesuatu yang bisa membuatnya hangat atau menghentikan sakitnya.

“Apa yang kau lakukan sepagi ini? Masih mencoba untuk memasak?”

Jaemi tidak menoleh ke asal suara itu, ia hafal dengan suaranya.

“Aku tidak memasak. Jangan khawatir sunbae, jangan pedulikan aku.” Ucapnya lemah.

Donghae berbalik dan terdengar gelas yang membentur lantai. Ia menoleh dan mendapati Jaemi berlutut lemah. Ia menarik lengannya dan memapahnya ke sofa. Lalu kembali berkutat di dapur dan kembali dengan membawakan secangkir teh hangat.

“Sunbae, kau tidak sakit juga bukan?” gumam Jaemi yang masih bisa didengar oleh Donghae.

“Seharusnya kau tidak memakan masakanku kemarin. Perutmu pasti sakit.”

Donghae masih diam meski dia jelas mendengar gumaman Jaemi. Ia menarik tissue di sampingnya dan menghapus keringat di kening Jaemi.

“Babo! Sudah sakit masih bisa memikirkan orang lain? Mianhae Jaemi-ah, tetapi seharusnya kau tidak berada dekat denganku.” Ucap Donghae saat Jaemi tertidur.

Beberapa saat kemudian, Jaemi terbangun, dan begitu terkejutnya ia mendapati dirinya tidak lagi di kamar melainkan sofa di ruang tengah. Ia duduk termenung dan saat Donghae menghampirinya, perasaan bersalah itu kembali hadir.

“Sunbae, apa kau juga sakit? Kau harus memuntahkannya sunbae!!” Jaemi menarik tangan Donghae ke arah kamar mandi, dan dengan segera Donghae melepas genggaman Jaemi.

“Hei anak kecil, kau pikir aku temanmu? Aku bukan orang lemah sepertimu, jadi khawatirkan dirimu sendiri. Jangan membuat orang lain menjadi repot. Di meja makan ada bubur, dimakan atau tidak itu terserah padamu!” dan segera Donghae berbalik pergi. Jaemi menghela nafas, lagi-lagi ia membuat seniornya itu marah.

“Jaemi-ah, non gwaenchanna? Aku dengar kau terkena diare? Mianhae, seharusnya aku tidak memberi ide konyol kemarin.”

“Gogjongma Kyuhyun sunbae, aku sudah sehat. Hehe.. itu bukan salahmu, itu karena aku yang terlalu bodoh. Mianhae.” ucap Jaemi lalu meninggalkan Kyuhyun sendiri.

Malamnya, mereka membuat api unggun dan membakar jagung untuk dimakan bersama. Karena esok pagi, mereka harus kembali ke Seoul, maka mereka sepakat membuat pesta perpisahan kecil-kecilan. Mereka juga mendirikan tenda, berniat untuk menikmati outdoor. Jaemi tampak sibuk berlalu lalang membantu para senior dan teman clubnya itu.

“Jaemi, bisa kau bawa kayu-kayu itu ke depan?” tanya Shindong.

Jaemi mengangguk dan berusaha membawa setumpuk kayu bakar dengan tangannya yang mungil. Lalu ia meletakkannya di tumpukan lain dan teman lainnya bersiap untuk membakar. Beberapa kali ia berjalan bolak-balik mengangkut kayu tersebut.

“Gadis bodoh, apa kau tidak bisa mengatakan tidak?” ucap Donghae yang tiba-tiba muncul dan merebut seluruh kayu dari tangan Jaemi. Kini, Donghae yang menggantikan Jaemi mengangkut kayu-kayu tersebut.

“Tidak bisakah kau minggir? Jangan menghalangi jalanku!” omel Donghae, namun Jaemi masih mengikutinya, ia bersikeras tidak ingin dibantu. Ucapan Donghae pagi tadi masih ia ingat.

“Berikan padaku, sunbae. Karena aku bodoh kenapa kau masih ingin direpotkan olehku? Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Paksa Jaemi namun Donghae tidak terlihat ingin menyerahkan kayu itu padanya. Semakin Jaemi berusaha, Donghae malah mengangkat kayu itu semakin tinggi. Alhasil Jaemi berulang kali melompat untuk menggapainya. Donghae tertawa.

“Kau menertawakanku? Guerae, terserah kau sunbae. Tetapi kau harus ingat jika kali ini aku tidak meminta bantuanmu dan tidak merepotkanmu.” Ucap Jaemi kesal dan meninggalkan seniornya yang masih menahan tawa.

“Kau disini rupanya? Aku mencarimu daritadi.” ucap Kyuhyun sambil merangkul bahu Donghae, entah sejak kapan ia muncul.

“Waeyo?”tanya Donghae singkat.

“Aku merindukanmu, kau tega sekali meninggalkanku sendirian? Lihatlah, semua tenda-tenda itu aku yang mendirikannya. Aku sangat hebat bukan, teman?”

Donghae melepas rangkulan temannya dan berjalan meninggalkannya, “Berhenti bersikap berlebihan, Kyu.”

Kyuhyun memandang temannya sambil tersenyum, hatinya sangat lega telah melihat sosok sahabat kecilnya mulai kembali. Setidaknya melihatnya tertawa lepas sejenak membuatnya bisa sedikit memaafkan dirinya sendiri.

Malam sudah larut, namun Jaemi masih terjaga. Ia keluar tenda dan menemukan Kyuhyun masih menyalakan api unggun. Jaemi duduk di sampingnya, “Kau belum tidur sunbae?” Kyuhyun menggeleng, “Kau sendiri? Masih sakit?” Jaemi tersenyum lalu menggeleng. Ia mengamati keadaan sekelilingnya dan Kyuhyun menangkap tingkah Jaemi.

“Kau kecewa menemukanku disini dan bukannya Donghae?”

Jaemi segera menggeleng, “Anieyo. Aku benar-benar tidak berpikir seperti itu sunbae. Aku tidak mencari Donghae sunbae.”

Kyuhyun tersenyum, “oh ya? Hmm, Jaemi-ah, apa kau bisa mengambil gitar di ruang tengah? Aku minta tolong padamu.” Pinta Kyuhyun dan dijawab anggukan oleh Jaemi.

“Dia benar-benar polos, mudah sekali terbaca.”

Saat Jaemi hendak kembali ke tempat api unggun, ia menemukannya, menemukannya sedang duduk sendiri di tempat yang sama seperti malam itu. Jaemi berjalan menghampirinya. Ia menyapanya dan Donghae mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Apakah aku salah lihat? Tidak! Aku melihatnya dengan jelas, Donghae sunbae menangis! Ia benar-benar menangis!

“Sunbae kau baik-baik saja? Apa perutmu sakit?”

Donghae mengalihkan pandangannya, Jaemi bergerak mendekatinya bermaksud memeriksa keadaannya namun tanpa sengaja ia melihat selembar foto yang digenggam Donghae. Jaemi membeku, jadi karena gadis itu kau sampai menangis? Jika kau mencintainya sebesar ini, bagaimana aku bisa terlihat olehmu, sunbae?

Jaemi bangkit berdiri dan berbalik meninggalkannya, namun Donghae menahan tangannya. “Bisakah kau berceloteh seperti biasanya? Malam ini rasanya sangat sepi.”

Jaemi kembali duduk, namun lidahnya terasa kelu, otaknya membeku, ia tidak sanggup memenuhi permintaan Donghae.

“Kenapa diam? Bukankah kau senang sekali mengangguku? Ataukah kau sudah kehabisan lelucon?”

Jaemi menggigit bibir bawahnya dan meremas ujung hoodienya, ia tidak ingin terlihat lemah  dihadapan orang yang disukainya, terlebih saat ini. Donghae menoleh lalu menghela nafas panjang.

“Apa kau menyukaiku?”

Mata Jaemi membesar, namun ia tidak berani menatap sosok di sampingnya.

“Cih. Sangat terlihat jelas. Jika benar, cepat lupakan aku, aku paling membenci gadis bodoh dan merepotkan.” Ucap Donghae lalu beranjak berdiri.

“Dia gadis seperti apa? Ah tidak, jika kau mencintainya sebesar itu aku tidak mungkin bisa menjadi sehebat dia. Kau ingin aku seperti apa?”

Donghae kembali berbalik, “Apa maksudmu? Bukankah aku sudah bilang, Lupakan aku!”

“Anie, Anieyo! Shireo! Kau tidak berhak mengaturku, ini perasaanku! Sekalipun kau tidak peduli tentang perasaanku aku lah yang berhak memutuskan.”

Donghae kembali menghela nafas, “Kenapa kau begitu keras kepala dan bodoh? Apa kau senang tersakiti?”

Kali ini Jaemi memberanikan menatap Donghae, pandangannya sedikit buram karena air mata yang menggantung di pelupuk matanya. “Kenapa kau harus peduli aku tersakiti atau tidak? Kau mau aku seperti apa? Atau cukup berpura-puralah tidak mengetahui kehadiranku, bukankah kau selalu bersikap begitu pada wanita yang pernah menyukaimu?”

Tes.. Jaemi menunduk, air matanya telah jatuh dan ia tidak mampu membendungnya lagi. Donghae bergerak mendekatinya, dan melingkarkan tangannya ke bahunya. Jaemi membeku, Donghae memeluknya. Lee Dong Hae tengah memeluknya sekarang.

“Benarkah? Sekalipun aku memintamu untuk selalu berada di sampingku, kau akan melakukannya? Sekalipun saat bersamamu, aku memikirkan wanita lain? Itu yang kau inginkan?” Donghae melepas pelukannya dan menatap Jaemi nanar. Pandangan yang penuh kehampaan dan rasa sakit, membuat dada Jaemi semakin sesak.

“Jika kau ingin aku membantumu untuk melupakannya, aku bersedia. Sekalipun kau akan membuangku nantinya, aku tidak akan marah.”

Donghae menarik nafasnya dalam. Sakit. Tangannya terulur menyentuh pipi Jaemi, mengusap air mata yang masih mengalir. “Kau yakin tidak akan menyesal?”

Jaemi mengangguk.

Donghae kembali memeluknya, mengusap punggungnya, dan membiarkan Jaemi menangis di pelukannya. Ia sadar keputusannya sangat konyol dan akan menyakiti gadis di pelukannya kini, namun sebagian dirinya menginginkan Jaemi untuk tetap tinggal di sisinya. Ia tidak ingin sendirian saat ini. Bolehkah aku egois hanya untuk kali ini saja?

Lega, itu yang dirasakan oleh Kyuhyun. Setidaknya sahabatnya tidak akan sendirian lagi sekarang. Ia melangkah meninggalkan 2 temannya itu.

Seoul.

Jaemi nampak bergegas mengayuh sepedanya, ia hampir terlambat ke kampus. Ia berlari di koridor dan tanpa sengaja menabrak seseorang.

“Jeongmal mianhae. Mianhae. Aku sedang terburu sekarang, sekali lagi mianhaeyo.” Cerocos Jaemi dan segera berlalu.

“YA! Donghae-ya itu kekasihmu bukan? Park Jaemi, jurusan seni, tingkat 3?” tanya Eunhyuk.

“Ne? Bagaimana kau bisa tahu?”

“Haha.. Aku kira semua kampus juga sudah mengetahuinya, siapa lagi kira-kira yang semangat akan hal besar ini?”

“Ah Kyuhyun! Dasar anak itu!”

“Baiklah, aku harus ucapkan selamat pada temanku ini, dan ajak kekasihmu nanti di Caramel Resto, kau harus memperkenalkannya pada kekasihku. Sekaligus kau harus mentraktir kami.”

“Ya Eunhyuk-ah! Jangan bersikap berlebihan, dia sibuk, jadi lain kali saja.”

“YA!!!! Lee Dong hae!! Kau harus membawanya nanti, jika kekasihku mengetahui kau sudah memiliki kekasih, dia tidak akan cemburu lagi pada kita. Hehe.. kau harus membawanya, ok? Aku mohon, kau juga harus membersihkan nama baikmu, memangnya kau senang dicurigai seorang gay?”

“YA!! Eunhyuk tutup mulutmu! Tentu saja aku normal, kalaupun aku bosan dengan wanita, aku tidak akan memilihmu. Ara??!!” ucap Donghae kesal dan berlalu.

“Baiklah, araseooo.. Jangan lupa ya nanti ku tunggu!! Oh ya, kekasihmu sangat manis. See you, baby~” teriak Eunhyuk dan dibalas lambaian oleh Donghae.

Lee Donghae, jurusan seni tingkat 5. Dia sangat populer di kalangan mahasiswi, namun dia terkenal cuek dan susah didekati dan tak pernah sekalipun dia terlihat akrab dengan seorang wanita. Kabar hubungannya dengan Jaemi menjadi berita besar di kampusnya dan membuat Park Jaemi ikut mencicipi kepopuleran kekasih barunya itu.

“Jaemi-ah!! Kau tega sekali tidak bercerita padaku. Kau tidak peduli lagi padaku?” teriak Choi Hye Jin.

“Ne? Cerita apa?” tanya Jaemi dengan polos.

“Lee Donghae, kau pacaran dengannya bukan?”

Jaemi segera menutup mulut sahabatnya itu, “Jangan berteriak, aku tidak ingin orang lain tahu. Tetapi darimana kau tahu?”

“Ck, jadi kau sengaja menyembunyikannya dariku? Kau lupa siapa Lee Donghae? Pria tampan dan pintar banyak hal seperti dia tentu saja terkenal, apa kau pikir berita sebesar ini bisa disembunyikan?”

“Omo!! Jadi sudah menyebar? Secepat ini? Aigo, bagaimana aku bisa menghadapinya?” rengek Jaemi.

“Apanya? Kenapa harus sedih? Nikmati saja Jaemi-ah, kau akan segera populer. Hihi.. Tetapi, bagaimana ceritanya kalian bisa pacaran? Seingatku hari pertama di Villa kau bercerita di telpon jika dia selalu marah-marah padamu? Aku melewatkan banyak hal, ya?”

“Aa anieyo, terjadi begitu saja, hehe. Sudah dulu, Hye Jin-ah aku ada rapat. Sampai besok.” Jawab Jaemi dan segera menghindar dari segala pertanyaan Hye Jin. Inilah yang ia takuti, ia tidak akan bisa menutupi hal ini pada sahabatnya. Hye jin sangat jeli dan sifat penasarannya akan terus mengejarnya sampai ke akar permasalahan. Dia sering bercerita, pun tentang Donghae pada sahabatnya itu, namun untuk kali ini ia harus menyimpannya sendiri.

Jaemi menghabiskan waktunya di perpus, sebenarnya rapat yang dikatakannya pada Hye jin masih 2 jam lagi dan ia sedang tidak ingin menunggu di club, ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Donghae dan teman-temannya.

“Kau disini rupanya? Kau sering ke perpus?”

“Eh? Donghae sunbae?”

“Kenapa terkejut begitu? Susah sekali mencarimu, kemarikan ponselmu.”

Jaemi menyerahkan ponselnya dan masih tertegun. “Eh? Kau tidak menyimpan nomorku? Kau tidak mengetahuinya?”

Jaemi terdiam, bingung harus menjawab apa. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena nomornya sudah sangat ia hafal. Lagipula ia ingin seniornya itu menghubunginya dulu, ia tidak ingin dianggap seorang penguntit.

“Kyuhyun? Kau memiliki nomor Kyuhyun dan tidak punya nomorku? Apa kau benar-benar menyukaiku, Jaemi-ah?”

Jaemi mendecakkan lidahnya dan merebut ponselnya, “Kau ingin menginterogasiku dengan memeriksa ponselku, sunbae? Kau juga tidak punya nomorku, bukan?”

Donghae tertawa tetapi lebih terdengar sebuah ejekan, “Tentu saja, karena aku tidak menyimpan perasaan apapun padamu.”

Jaemi tertegun mendengar jawaban Donghae lalu memberengutkan wajahnya, memperbesar senyum jahil Donghae. “Oh ya, Eunhyuk ingin bertemu denganmu, jadi kau harus ikut ke Caramel resto sepulang kita rapat, ok? Jangan terlambat rapat. Aku pergi.”

Jaemi menatap Donghae yang berlalu pergi meninggalkannya. Apakah benar ia akan diperlakukan seperti ini untuk seterusnya?

2 jam kemudian, ruang club sudah mulai ramai. Donghae masih sibuk mendengarkan music melalui earphonenya.

“Donghae-ya, dimana Jaemi?” tanya Kyuhyun.

Donghae melirik arlojinya, “Anak ini selalu terlambat.”

“Mianhae, aku terlambat.”

“Ah, gwaenchanna Jaemi-ah. Donghae juga akan setia menunggumu.” Ujar seorang teman di club.

Jaemi memandang sekilas kearah Donghae, lalu berjalan sambil menundukkan wajahnya. Rapat berlangsung sekitar 1 jam, kali ini club mempunyai kegiatan cukup besar, karena kampus mengadakan sebuah festival dan club sosial boleh ikut serta dan menggalang dana untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Kali ini, setiap pos hanya terbagi oleh 2 orang, dan dipilihlah melalui undian.

“Mianhae Donghae-ya, atau kau ingin bertukar denganku?” tanya Kyuhyun menggoda.

“Anieyo, aku justru beruntung tidak satu tim dengannya. Selamat bekerja untuk awal bulan nanti, Kyuhyun-ah.”

“Kalian membicarakan apa? Serius sekali?” tanya Jaemi yang baru saja ikut bergabung. Beberapa anggota club sudah bergegas pulang.

“Kau tidak perlu tahu. Jika sudah selesai, kita ke Caramel Resto.” Ujar Donghae dan meninggalkan kelas terlebih dahulu. Kyuhyun menghela nafas.

“Ayo Jaemi-ah, sini kubantu membawa bukumu.” Tawar Kyuhyun.

Sesampainya di parkiran, Jaemi nampak kebingungan. Kyuhyun dan teman lainnya sudah pergi ke Caramel terlebih dahulu.

“Kenapa tidak naik? Kau tidak mau pergi?”

“Anieyo, aku hanya mencemaskan sepedaku?”

Donghae menatap Jaemi diam, seperti tampak berpikir sejenak. “Naiklah, sepedamu biar disini, besok aku akan menjemputmu.”

“Jeongmalyo?! Ah maksudku, Gomawo sunbae.” Jawab Jaemi antusias dengan senyum yang nyaris membuat kedua matanya tak terlihat.

Sesampainya di Caramel Resto, sudah banyak orang berkumpul, meski Jaemi sudah mengenal beberapa dari mereka yang tak lain teman satu club, Jaemi merasa sangat canggung.

“Nah, jagiya ini kekasih Donghae yang kuceritakan, aku tidak berbohong, jadi jangan cemburu lagi padaku dan Donghae ya?” ucap Eunhyuk mengawali perkenalan mereka.

“Annyeonghaseyo, Park Jaemi imnida.” Ucap Jaemi sambil sedikit membungkuk. Donghae duduk terlebih dahulu di samping Eunhyuk, diikuti Jaemi.

“Aku tak menyangka akhirnya kau bisa melupakan Yeonhae, Donghae-ya. Aduh! Kenapa kau menginjak kakiku?” ucap seorang yeoja, salah satu teman SMA Donghae. Donghae menatap tajam temannya itu, “Mari kita makan dan segera pulang, aku tidak punya banyak waktu.”

“Ah, sudah kita jangan bahas hal lain, bukankah kita disini untuk bersenang-senang.” Ucap Eunhyuk mengembalikan suasana riang.

Jaemi mengamati kekasihnya yang sedari tadi diam. Ia mengambil sepotong udang lalu menaruh di piring Donghae yang masih belum disentuh oleh pemiliknya.

“Eh? Jaemi? Kau tidak tahu Donghae alergi udang?” tanya Eunhyuk heran.

Jaemi tak kalah kagetnya dengan orang-orang disana, “Eh? Jeongmalyo? Mianhae sunbae, aku tidak tahu.” Baru saja Jaemi hendak mengambil udang itu kembali, Kyuhyun mengambilnya terlebih dahulu. “Kalau begitu buatku saja, aku tidak menolak semua makanan. hoho..” Jaemi memaksakan senyumnya.

“Eh?? Kenapa kau masih memanggilnya sunbae, Jaemi-ah?”tanya Shindong.

“Memangnya aku harus memanggilnya apa?” tanya Jaemi polos.

“Jagiya~ sepertiku dan kekasihku ini.” jawab Eunhyuk sambil merangkul bahu kekasihnya. Jaemi tersenyum melihat mereka, tiba-tiba terbesit rasa iri di dalam hatinya. Ia melirik Donghae sekilas, sedang kekasihnya itu tidak bergeming.

“Setidaknya kau panggil dia oppa. Donghae oppa~” ucap Shindong dengan gaya manja yang khas, membuat Jaemi tertawa. Ia bersyukur teman-teman kekasihnya menyambutnya dengan baik.

“Hentikan, Shin Dong Hee!” tegas Donghae dan temannya masih terkekeh.

“Gomawo sudah mengantarku oppa.” Ucap Jaemi setelah sampai di depan rumahnya. Donghae menatapnya sedikit terkejut.

“Hm, mian, maksudku Donghae sunbae.”

“Gwaenchanna, setidaknya itu tidak akan membuat teman-temanku curiga. Besok, aku harus menjemputmu jam berapa?”

“Jam 8. Tetapi benarkah oppa akan menjemputku? Maksudku oppa benar-benar akan menungguku di depan rumahku?”

“YA!! Kau pikir aku berbohong? Jika kau terlambat, aku akan meninggalkanmu.”

“Araseo. Tidak akan terlambat, aku hanya terlambat sedikit saat rapat tadi. Hehe.”

“Hanya? Kau terlambat kuliah, berlarian sampai menabrak orang. Apa itu kebiasaanmu Park Jaemi?”

“Oh? Bagaimana bisa oppa tahu? Oppa memata-mataiku?”

Donghae nyaris tersenyum, “Mwo? Apa aku sudah gila hingga harus memata-mataimu? Kau bahkan tidak mengenaliku saat itu?”

Jaemi menutup mulutnya dengan kedua tangannya, “Itu oppa? Mianhae oppa, karena aku terburu, aku tidak mengenalimu. Mianhae.”

“Sudahlah, jangan berani terlambat besok. Aku pulang.” Ucap Donghae dan segera melajukan sepeda motornya bahkan sebelum Jaemi mengucapkan selamat malam.

Paginya, Donghae menjemput Jaemi seperti yang dikatakannya kemarin. Jaemi hampir tidak mempercayai hal ini, dia sangat senang sekali. Sesampainya di kampus, tiba-tiba ponsel Donghae berbunyi.

“Yeobseyo. Jang in? wae gurae? Kenapa kau menangis? Mwo?! Aku akan kesana.”

Jaemi tertegun melihat tingkah kekasihnya itu. Bahkan Donghae tidak memandangnya sedikit pun. Ia hanya menatap deru asap motor yang tertinggal. Jang in? Nugu? Pikirnya. Tanpa pikir panjang, Jaemi segera berlari dan menghentikan taxi. Ia hanya ingin memastikan kekasihnya baik-baik saja, selain untuk memenuhi rasa penasarannya.

See you in next part~ ^^

First published on Gisela’s FB on Friday, January 27th 2012

My comment :
Kkk~~ First kah? 🙂
Gwaenchanna, unnie.. Akhirnya di post jg FF yang satu ini..

Ih Dungek kok mbencekno soro seh nd sini? Ws mbencekno gara2 melok WGM eh skrg.. *lo? Malah ngedumel dwe.. Hahaha..
Imej’e dee nd sini sok cool ah.. Biasane lak mellow2 gt.. *tabok dungek

Eh itu Kyu ws kayak penguntit’e aku ma dungek.. Ngefans apa ya? :p

Lalala~~ Jang In itu cewek xg dulu ngmg hamil itu bukan ya? Rodo lali aku..

Weee.. Btw, itu Jaemi knapa polos bin lugu sekali nd sini? Aku ae smpe kudu geleng2 kepala rasane.. Dan kata2 dungek itu bikin aku ngguyu, apa kau tidak bisa berkata tidak? :p

Yawes.. Next part ditunggu..

Gomawo unnie.. *kiss cup2 muach ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s