[Series] Listen, I Trust You!! – Part 2 (End)

Author : Gisela

Title : Listen, I Trust You!!

Hahay!!! Aku datang lagi…woohhooohooo…

Ni next part dari FF kemarin, semoga kalian senang…

FF ini sedikit sulit aku selesaikan, soalnya terhenti gara2 kuliah dan kecapekan, aku udah berusaha keras mengingat dan baca berulang – ulang, berharap gada sesuatu yang kulupakan lagi, hehe…

Ya sudah met baca sajo…

Buat yang di tag jangan lupa commentnya ya?? yang ga di tag dan baca juga sangat boleh buat comment. Gomawo!!!

Tak lama setelah itu aku mendengar seseorang mengetuk pintuku dan juga teriakan orang yang kukenali “Yeon?? Non gwaenchanna? Kau di dalam?”

Aku berusaha bangkit dan menyeka air mataku.

Klek…

“Yeon?? Kau tidak apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak tadi?” dia menghujaniku dengan semua pertanyaannya. Aku memeluknya dan aku rasa dia terkejut. Tapi tak lama dia membalas pelukanku dan menepuk pelan kepalaku.

“Gwaenchanna.. Apa tadi mati lampu? Tapi ini masih pagi kan, Yeon?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan mencoba memejamkan mataku.

Cukup lama kami berpelukan, ia tidak berkata apapun dan tetap memelukku, mencoba menenangkanku. Aku menatapnya “Mian sunbae, membuatmu khawatir, aku baik – baik saja”ucapku akhirnya.

Ia menatapku lekat – lekat “Kau yakin? Kau mau beristirahat saja di rumah?”

Aku menggeleng dan tersenyum “Ayo berangkat!!”

Aku menariknya yang masih berdiri mematung.

Sedari tadi aku hanya menatap ke luar jendela mobil tapi aku bisa merasakan Jungsoo sunbae mengkhawatirkanku. Aku menoleh dan tersenyum semanis yang kubisa, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku, meski hatiku terasa sangat kacau, aku takut, sangat takut. Entah apa yang sebenarnya kutakuti.

“Aku pergi dulu, sunbae.”ujarku dan melambaikan tanganku.

“Perlu kutemani, Yeon?”

Aku menggeleng “Aku baik – baik saja. Oya nanti tunggu aku, sunbae. Kita makan siang bersama”jawabku tersenyum.

Akhirnya aku melihatnya tersenyum lagi “Hati – hati”

“Yeonhae-ah!!”

“Wae, Heechul sunbae??”

“Ah, akhirnya kau memanggilku sunbae juga. Haha..” Mau tidak mau aku juga ikut tersenyum.

“Emm.. Sepulang kuliah ada acara bakti sosial di Universitas Jochiwon, kau bisa merekamnya kan?”

“Oh, oke..”

“Ah, baguslah. Si Yesung dan Kangin sibuk dengan kekasih mereka, jadi aku hanya bisa mengharapkanmu, Yeonhae-ah. Gomawo ya?”

Aku tersenyum tapi “Jungsoo sunbae?” Ya, karena Jungsoo sunbae sangat senang merekam atau memotret dimanapun, jadi kalau Yesung dan Kangin berhalangan, dia dengan senang hati mengambil alih tugas itu.

Dia menggeleng “Aku juga tidak tahu, sibuk dengan kekasihnya juga mungkin..hahaha…aku pergi dulu ya. Gomawo…”ucapnya sambil berlalu.

Aku mencoba mencerna perkataan Heechul sunbae, ah dia kan suka ngelantur kalau ngomong. Aku mengibaskan tanganku dan mengelak sebelum pikiranku menjalar kemana – mana.

Aku melirik arlojiku, kuliahku baru saja selesai. Aku berlari kecil menuju balkon atas dan mendapati Jungsoo sunbae sudah menungguku disana. Seperti biasa dia selalu menyambutku dengan senyumnya.

“Ahh, kau lama sekali, Yeon? Aku baru saja pingsan kelaparan.”

“Kalau uda pingsan kenapa bangun lagi, sunbae?” dan dia hanya tertawa dan mengacak rambutku.

“Baiklah, apa menu makan siang kita?” katanya sambil menatap tak sabar pada bekal yang kubawa.

“Wait. Kau harus berjanji padaku satu hal, sunbae. Jangan menertawai bekal buatanku.”ancamku.

Dia tertawa “Araseo, tenang saja aku akan makan sekalipun rasanya tidak enak, Yeon”

“Aku hanya bercanda”lanjutnya setelah melihatku melotot.

Siang itu menjadi saat yang menyenangkan, tapi bukannya hari – hari ini sangat menyenangkan bersamanya. Kalian bertanya dimana bekalku yang lainnya? Ya, aku sudah membaginya terlebih dulu ke para teman klubku, tapi jangan berpikir aku menyogok mereka, untuk meminjam wakil klub ini, bekal itu hanya ungkapan terima kasihku, nyatanya makan bersama bisa menjadi suatu kehangatan yang bisa menyatukan tiap pribadi orang yang berbeda. Tapi saat ini aku harus menikmati makan siang berdua dengan Jungsoo sunbae.

“Sunbae, kau bisa ulangi perkataanmu kemarin?” dia mendongak dan menghentikan makan siangnya.

“Mwo?”

Aku memandangnya sebal, apa dia babo? Atau kemarin dia benar – benar hanya bercanda.

Dia tersenyum dan menepuk kepalaku pelan persis seperti anak anjing.

“Kau meragukanku, Yeon? Tidakkah kau percaya padaku?”

“Aku percaya sunbae, hanya ingin kau mengulanginya lagi.”

Dia tersenyum lagi“Itu artinya kau tidak percaya padaku”ucapnya dan melanjutkan makan siangnya.

Aku melotot kesal dan menghela nafas, kalau kau tidak mengatakannya aku juga tidak akan mengatakannya sunbae. Aku melanjutkan makan siangku juga. Bekalku dan bekalnya sama, tidak terlalu istimewa memang hanya bokembap (nasi goreng) tapi bukankah arti di balik makanan itu yang penting.

“Saranghae Yeon.. Saranghaeyo Cho Yeon Hae”ucapnya dan membuatku tersedak. Dia menepuk punggungku dan memberiku segelas jus.

“Kau baik – baik saja?”

Aku mengangguk dan mencoba mengatur nafasku. Dia tertawa “Sudah kubilangkan, kau harus belajar mendengarkan kata – kata kekasihmu ini, ara?” dia lagi – lagi menepuk pelan kepalaku.

Aku mengelak “ YA!!! Aku bukan anak anjingmu sunbae, kenapa seenaknya menepuk kepalaku seperti itu”omelku.

“Kan aku tidak bilang begitu tadi, aku bilang kau kekasihku, tidak ada yang bilang kau anak anjingku, Yeon”

Aku hampir saja tersedak lagi saat meneguk jusku. Aku memukulnya kesal, menendang kakinya dan ia hanya cengengesan.

Makan siang kami memang tidak seromantis pasangan lain, bahkan sebenarnya ini hari jadi kami, bukan? Tapi aku hanya butuh dia, seperti itulah dia dan aku sangat menyayanginya salah! Aku mencintainya…

Sepulang kuliah aku bergegas menuju universitas Jochiwon seperti yang dikatakan Heechul sunbae. Aku tidak tahu Jungsoo sunbae kemana, aku lupa menanyakannya karena sibuk sewot dengannya tadi. Handphonenya juga sibuk mungkin dia berada di basement, sehingga tidak ada sinyal yang ditangkap.

Aku mulai merekam acara bakti sosial yang sebenarnya di khususkan untuk anak – anak yatim piatu, jadi banyak anak kecil yang berlari – lari kesana kemari.

“Ahh.. Selesai..”kataku. Baru saja aku mau membalik badanku dan pulang tapi pandanganku terhenti pada seseorang yang sangat kukenal. Aku mengalihkan pandanganku dan segera menghambur, dia tidak boleh menemukanku, tapi sepertinya terlambat dia sudah melihatku.

“Yoenhae-ah.. Kau disini?”

Aku membalik badanku dan aku dapat melihatnya sekarang, dia tidak banyak berubah, cara menatapku pun juga sama. Aku mengalihkan pandanganku.

“Kau merekam acara ini untuk liputan di kampusmu?”tanyanya lagi sambil memperhatikan camera recorder di tanganku.

Aku mengangguk. “Aku harus pergi.”

Aku membalik badanku tapi dia menahannya “Aku merindukanmu, jagi. Tidakkah kau juga merasakan hal yang sama?”

Aku melepas genggaman tangannya “Aku mohon Hae, aku tidak ingin membuat keributan di kampusmu, lagipula disini banyak anak kecil. Aku mau pulang.”

“Kita akan bertemu lagi, bukan? Ijinkan aku menjelaskannya padamu, jagi.”

Aku menatapnya tajam “Kau tidak berhak memanggilku seperti itu, Hae.”

Aku berbalik dan meninggalkannya, kali ini ia tidak menahanku. Sebelumnya aku mendengar seorang gadis berteriak “Donghae sunbae bisakah kau membantuku? Donghae sunbae!!”

Aku sudah sampai di kampus sekarang, aku tidak pulang ke apartement dulu karena kupikir Jungsoo sunbae masih di basement, handphonenya tetap tidak aktif. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mempunyai Jungsoo sunbae, jadi tidak ada yang perlu kutakutkan. Sekalipun Donghae datang kembali ke hidupku.

Trek…

Aku memasuki ruang basement dan sekujur tubuhku kaku. Apa – apaan ini? Aku menatap sekeliling dinding basement ini. Kenapa seperti ini? Aku mencabut satu dari puluhan foto yang tertempel di dinding basement. Foto itu terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia, prianya mengecup pipi gadis di sebelahnya. Aku mengamati pria di dalam foto itu dan aku yakin itu Jungsoo sunbae. Air mataku jatuh, kenapa harus seperti ini. Aku bersandar di lemari di belakangku. Rasanya seperti baru saja dihantam benda berat dan membuat hatiku hancur, bagaimana tidak aku harus dikhianati untuk kedua kalinya. Tidak lagi melukai hatiku tapi kau membuatnya remuk sunbae. Aku berjongkok dan menangis.

Tiba – tiba saja aku merasakan tangan yang hangat menyentuh pundakku. Aku mendongak dan segera bangkit menjauhinya. Aku tidak menangkap guratan penyesalan sekalipun di wajahnya. Apa dia memang sudah merencanakan ini semua? Dia mendekatiku dan aku semakin menjauh darinya.

“Jangan dekati aku, sunbae. Kau tega membohongiku seperti ini”

“Kau tidak percaya padaku, Yeon?”

Aku menggeleng dan tetap terisak, “Bagaimana caranya aku bisa mempercayaimu, sunbae? Bagaimana!!!” emosiku meluap lagi dan membuat tubuhku sedikit limbung. Jungsoo sunbae merengkuhku dalam pelukannya dan aku meronta.

“Aku mohon percaya padaku saja, Yeon”

Aku mengeluarkan sisa tenagaku dan mendorongnya “Aku kecewa padamu, sunbae. Aku membencimu!!”

Aku berlari meninggalkannya dan menabrak seseorang dan aku tak peduli, aku tetap berlari dan ingin segera pulang.

“Yeonhae-ah! Ada apa dengannya??” seru Heechul.

Aku berjalan sempoyongan dan menghentikan langkahku ketika sampai di depan apartementku.

“Kau baru pulang, Yeonhae-ah? Kenapa wajahmu pucat? Kau sakit?”

Aku mengalihkan pandanganku dan tidak menjawabnya.

“Yeonhae-ah, aku ingin kita menyelesaikannya sekarang juga. Kau hanya perlu mendengarkanku, Yeonhae-ah. Kau mau bukan?”

“Aku lelah, Hae.”

“Aku mohon, Yeonhae-ah. Hanya satu kali saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu kalau itu maumu.”

Aku menatapnya “Baiklah, tapi tidak disini. Restoran depan saja”

Aku duduk berhadapan dengannya dan ia belum mengucapkan apapun tapi malah memandangiku.

“Kalau begitu aku pulang saja” Dia menahanku.

“2 tahun yang lalu saat kau menyangka aku dan Jang in ada hubungan itu salah besar, Yeonhae-ah. Aku tidak pernah mencintai gadis lain selain dirimu. Bahkan menyentuhnya pun aku tidak pernah Yeonhae-ah.”

“Lalu kau mau jelaskan apa tentang anak itu, Hae? Bahkan Jang in sendiri mengaku kalau bayi yang dikandungnya adalah anakmu, hasil pengkhianatanmu dan Jang in di belakangku, Hae!!!”emosiku meluap.

“Dia bukan anakku, Yeonhae-ah.”

Aku tersenyum sinis “Kau kejam sekali menyangkal anakmu sendiri, Hae”

“Donghae tidak berbohong, Yeonhae-ah.”

Aku menoleh pada asal suara ini “Jang in??”

“Ne.. Lama tidak berjumpa.”

“Apa maksudnya ini?! Kau sedang mempermainkanku, Jang in??” aku marah dan menggebrak meja. Donghae menarik tanganku, aku mengelak “Yeonhae-ah, kita bicara di luar saja. Kau mau kita diusir?” Akhirnya aku menurutinya keluar dari restoran, karena semua pengunjung sudah memperhatikan kami.

“Sekarang kau bisa menjelaskannya padaku, Yoon Jang in??”teriakku.

“Maafkan aku, Yeonhae-ah. Selama ini aku membohongimu, Donghae memang bukan ayah dari anakku, dia juga tidak pernah berselingkuh, dia sangat mencintaimu, bahkan sampai sekarang. Maaf Yeonhae-ah”

Tiba – tiba saja, kakiku lemas dan aku teduduk di tanah. Donghae membantuku berdiri dan mendudukanku di bangku taman. “Kau baik – baik saja,Yeonhae-ah?”

Aku tetap menatap Jang in dan tidak melepas tatapanku sedikitpun.

“Wae? Kenapa kau melakukan itu? KENAPA KAU MEMBOHONGIKU, JANG IN????”

“Kenapa kau bertanya padaku, Yeonhae-ah?!! Aku lelah, hidup di bawah bayanganmu, Yeonhae-ah. Di sekolah, di rumah kau selalu mendapat kasih sayang dan perhatian yang lebih besar dariku, bahkan keluargaku saja lebih menyayangimu daripada anaknya sendiri. Kau tahu selama 10 tahun lebih aku memendam perasaan ini, Kau tahu selama itu pula aku menyimpan kebencian padamu, tapi aku juga sahabatmu dan aku tidak mungkin mengkhianatimu.”Jang in berbalik berteriak padaku dan tangisnya pecah.

Aku menatapnya tak percaya “Kau bohong, Jang in. Selama ini kita selalu bersama dan aku tahu kau menyayangiku”

Dia tersenyum getir “Mungkin. Tapi kau tahu yang membuatku mampu melakukan ini semua? Karena aku melihatmu berpacaran dengan Lee Dong Hae, orang yang kucintai juga. Apa kau akan menyalahkanku sepenuhnya? Kau tahu, kau sendiri yang pergi meninggalkan Donghae, kau pergi tanpa mengijinkannya menjelaskan padamu. Itu pilihanmu sendiri, Yeonhae-ah”

“Jang in!!” seru Donghae.

Air mataku menetes, bagaimana mungkin? Aku sama sekali tidak pernah tahu hal itu, padahal selama 10 tahun aku tinggal satu atap dengannya. Donghae tetap berdiri di sampingku dan menenangkanku dengan mengusap bahuku.

“Ta..tapi Jang in, bukannya kau sudah memiliki kekasih sebelum aku dan Donghae berpacaran?”suaraku mulai melemah, rasanya hari ini berat sekali untukku.

“Ya, kau benar Yeonhae-ah dan anak itu adalah anaknya, bukan anak Donghae. Awalnya aku pikir akan menyimpan rahasia ini sampai aku mati, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa berpura – pura tidak melihatmu saat kau memelukku melindungiku dari pukulan ayah dan diam – diam mengobati lukaku, sejak itu aku tahu aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Yeonhae-ah. Donghae masih mencintaimu, Yeonhae-ah, dia seperti orang gila mencari informasi dimana kau tinggal sekarang. Kembalilah dengan Donghae, Yeonhae. Jadi aku bisa hidup tenang. Maafkan aku..”

Plak…

Aku melayangkan tanganku pada pipi Jang in, aku tidak tahu kenapa aku berani melakukannya dan aku sadar aku menyesal setelahnya.

“AAAHHHHHH….”Aku berteriak dan meremas rambutku sendiri, rasanya kepala ini akan pecah. Aku marah tapi pantaskah aku marah? karena apa yang dikatakannya memang benar, aku tidak mengijinkan Donghae menjelaskannya padaku, bahkan aku tidak bertanya padanya apakah yang kudengar bohong atau tidak. Donghae mengalihkanku menghadapnya.

“Yeonhae-ah, aku sengaja membawa Jang in kesini untuk meminta maaf padamu dan menjelaskan kebenarannya. Aku mohon kau jangan seperti ini. Maafkan kita, Yeonhae-ah. Aku yang salah, seharusnya aku bisa mempertahankanmu di sisiku, seharusnya aku bisa melindungimu dan tidak membiarkanmu terluka seperti ini”

Aku tetap menangis dan berusaha memukul diriku sendiri tetapi Donghae menahan tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku hanya bisa menangis, menangis sekeras mungkin, aku tidak bisa berpikir, semuanya seperti pukulan yang keras untukku. Kenapa kebenaran ini baru datang sekarang? Selama ini aku hidup seperti orang yang bodoh, aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana perasaan sahabatku sendiri. Dan kenapa Donghae malah minta maaf, akulah yang harus minta maaf karena tidak mempercayainya.

Malam itu, Donghae mengantarku sampai di depan apartementku.

“Masuklah, kau terlihat sangat lelah, Yeonhae-ah. Besok aku akan menjemputmu lagi, tidur nyenyak, jagi…” Donghae mengusap kepalaku dan hendak mengecup keningku tapi aku menghindarinya, aku tidak tahu kenapa.

“Aku pergi, hati – hati”

“Hae..”ucapku dan dia menoleh.

“Mianhae..”

Dia tersenyum “Gwaenchanna.. Aku senang bisa kembali ke sisimu lagi, jagi.”

“Kumohon jangan panggil aku seperti itu, Hae. Aku..sebenarnya aku sudah memiliki kekasih.”

Aku melihatnya terkejut tapi kemudian tersenyum lagi.

“Kalau kau menyuruhku pergi, aku akan pergi, Yeonhae-ah. Apa kau bahagia bersamanya?”

Pertanyaan Donghae bagaikan petir yang menyambar, “Aku tidak tahu, sepertinya semua akan berakhir.”

“Ada aku disini. Ijinkan aku mengobati lukamu, Yeonhae-ah”ucapnya.

“Yeonhae-ah, kemarin kau kenapa?”tanya Heechul begitu aku masuk ke basement. Aku melirik ke arah Jungsoo sunbae sekilas, dia juga sedang menatapku.

“Anieyo, gwaenchanna sunbae.”jawabku dan segera masuk sebelum dia menanyaiku macam – macam.

Aku sengaja memilih duduk di samping Yesung sunbae dan kami semua mengikuti rapat.

“Oke. Jangan lupa tugas kalian, rapat selesai”

Aku merapikan catatanku dan memasukkannya segera ke dalam tas, tapi karena tergesa – gesa aku malah menjatuhkannya.

“Kau ingin menghindariku lagi, Yeon?”tanyanya sambil membantuku memunguti catatanku.

Aku merebut semua catatanku dari tangannya dan memasukkannya ke dalam tasku. Dia menarikku keluar, aku berusaha melepasnya tapi gagal. Aku merasa dia marah, kecewa atau apalah aku tak mengerti. Akhirnya dia melepaskan genggamannya di halaman kampus.

“Apa yang kau lakukan, sunbae” Aku mengusap pergelangan tanganku yang merah dibuatnya.

Dia memandangku lekat – lekat “Kau belum bisa percaya padaku, Yeon?”

“Kau yang membuatku tak bisa mempercayaimu, sunbae!”

“Apa aku harus menceritakan semua kisah hidupku agar kau percaya?!” Aku terkejut karena aku menangkap nada marah di perkataannya. Aku melihat kilatan kesedihan di matanya, kenapa dia seperti ini?

“Foto itu ad….”ucapnya terhenti.

“Yeonhae-ah.. Kau baik – baik saja?”

Aku menoleh mendengar suaranya, Donghae? Kenapa dia bisa ada disini?

“Apa yang kau lakukan?”tanyaku.

“Menjemputmu. Siapa dia? Apa dia menyakitimu, Yeonhae-ah?”

Aku menoleh menatap Jungsoo sunbae lagi, dia tampak terkejut dan menatap Donghae.

“Kita pulang sekarang, Hae.” Aku menatap sekilas Jungsoo sunbae dan aku melihatnya terkejut, lebih terkejut dari sebelumnya. Dia menahan tanganku “Yeon, aku belum selesai bicara”

“Tapi aku sudah sunbae.”

Aku berpikir sejenak, aku sangat lelah dengan semuanya, semalam aku hanya memikirkan hal ini dan kukira “Aku kira kita berakhir disini saja, sunbae. Aku pergi” Aku baru saja membalik tubuhku.

“Apa karena dia, Yeon? Dia sudah kembali dan kau juga akan kembali padanya?”

Aku terkejut dengan perkatannya, Jungsoo sunbae tahu siapa Donghae?

“Benarkah kau akan bahagia bersamanya, Yeon?”

Aku menatap Donghae lalu menoleh pada Jungsoo sunbae “Ne, aku akan bahagia”

Dia mengangguk dan berbalik meninggalkanku. Hatiku teramat pedih melihatnya meninggalkanku seperti itu. Kenapa kau tidak mencegahku, sunbae? Kenapa kau tidak mencoba menjelaskannya padaku? Dan kukira aku akan menyesal dengan keputusanku yang terucap tadi.

“Dia kah orangnya?”ucapan Donghae menyadarkanku. Aku mengangguk dan ia menggandengku “Aku akan selalu disini, Yeonhae-ah. Bersamamu kapanpun kau mau.”

Beberapa hari ini aku menghabiskan waktuku bersama Donghae, kami makan, nonton, dan berbelanja seperti sepasang kekasih, meski aku tidak memberinya jawaban apapun. Pikiran dan hatiku terus berisi Jungsoo sunbae. Seperti pemutar video rusak dan tidak bisa berhenti berputar. Aku ingin menghentikannya tapi tetap tidak bisa. Sungguh menyebalkan! Tapi dimana dia? Dia tidak menemuiku sama sekali. Aish, apa dia memang tidak peduli lagi padaku? Apa dia memang hanya mempermainkanku?

“Yeonhae-ah??”

“Ne??”

“Kau melamun lagi. Kau tidak suka makanannya?”

Aku tersenyum “Anieyo. Aku baru mau memakannya”

“Yeonhae-ah, aku sangat senang kau mau memberiku kesempatan, aku tidak akan menyiakan kesempatan ini, Yeonhae-ah. Kau bisa percaya padaku.”

“Aku tidak butuh janji, Hae. Aku lebih menghargai sebuah tindakan dari pada sekedar janji – janji”

Dia mengangguk pasti.

Aku tetap melanjutkan ativitasku seperti biasa, hanya saja aku merasa kehilangan sesuatu yang membuat hidupku ini terasa berat. Aku jarang berkumpul di ruang klubku, padahal selama ini ruang itu telah menjadi rumah keduaku, tapi aku tidak bisa, hatiku selalu sakit setiap melihat Jungsoo sunbae, meski aku sangat merindukannya, aku tetap tidak bisa. Sifat keras kepalaku juga tidak mau hilang, sungguh memalukan kalau dia tahu aku mencarinya, jadi beginilah aku harus hidup sekarang.

Sekarang aku menghabiskan waktuku di perpus, aku tidak tahu bisa bertemu dengannya atau tidak. Aku ingin melihatnya, aku merindukannya, kalaupun dia melihatku juga tidak masalah, bukannya aku memang sering ke perpus?

Aku mendesah pelan, sudah 2jam dan aku tidak melihatnya sama sekali. Aku merapikan bukuku dan kuputuskan untuk pulang saja.

Aku mondar – mandir di teras kampusku, sepertinya hujan sudah turun sejak tadi dan aku tidak membawa payung. Aku melirik arlojiku. Dan sepertinya hujan ini masih lama mau berhentinya. Aku berlari kecil dan memayungi kepalaku dengan telapak tanganku. Terpaksa aku harus hujan – hujanan. Aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi bergantung pada Jungsoo sunbae. Aku membulatkan tekad untuk menghilangkan kebiasaanku. Aku harus ingat untuk membawa payung, harus!!

Hujan masih deras justru semakin deras dan aku tetap berlari, tapi karena sepatuku licin terkena air hujan, aku tergelincir dan hampir saja jatuh kalau tidak ada yang menahan tanganku. Aku menoleh “Jungsoo sunbae?” Apa aku tidak salah lihat? Kenapa dia bisa ada disini?

“Kuantar kau pulang”ucapnya.

Kami berjalan dengan diiringi bunyi air hujan, karena tak dari satupun dari kami yang berbicara. Dia tetap memandang lurus ke depan sambil membawa payung yang biasa kami gunakan. Terus terang aku senang sekali bisa pulang berdua dengannya lagi, tapi hatiku masih saja sakit.

“Kenapa tidak menyuruh kekasihmu menjemputmu?”tanyanya akhirnya.

Aku berpikir, kekasih? “Donghae maksudmu, sunbae?” dan dia mengangguk.

Benar juga, kenapa tidak terpikir olehku, Donghae pasti akan segera menjemputku.

“Sudah sampai”ucapnya. Aku mendongak dan memperhatikan bangunan di hadapanku, benar ini apartementku. Aku melangkah memasuki apartementku dengan ragu dan tak lama dia berpamitan dan meninggalkanku. Aku menghela nafas panjang, mungkin memang harus seperti ini.

Esok malamnya, Donghae mengajakku makan malam lagi dan sebenarnya aku malas untuk pergi, tapi dia memaksaku, sebagai keputusan katanya, terus terang aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi akhirnya aku juga pergi bersamanya. Sebelumnya dia mengajakku bermain, naik bianglala, jet coaster, berburu hantu dan masih banyak wahana yang kami masuki. Cukup menyenangkan untuk malam ini karena aku bisa melepas sedikit kepenatanku dengan melampiaskannya pada mainan ini dan berteriak sekuat tenaga. Tapi karena hujan tiba – tiba turun, kami akhirnya berteduh di dalam restoran dan aku kembali kehilangan kata – kata. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat bersamanya.

“Yeonhae-ah, apa kau bahagia sekarang?”tanyanya tiba – tiba.

Aku menghentikan makan malamku “Hmm..”jawabku.

“Yeonhae-ah, kau bisa menatapku?”

Aku mengernyitkan dahiku, ada apa dengannya? Aneh sekali. Dan akhirnya aku menatapnya, begitu pula dengannya. Kemudian aku melihatnya tersenyum.

“Pergilah, Yeonhae-ah. Aku tidak akan menahanmu lagi.”ucapnya dan membuatku terkejut.

“Apa maksudmu, Hae?”

“Jangan berbohong, Yeonhae-ah. Aku tidak pernah merasa bahwa kau bahagia saat bersamaku, meski kau tersenyum tapi aku tahu kau hanya berpura – pura. Pergilah ke tempat dimana hatimu berada. Awalnya, aku yakin akan membuatmu mencintaiku lagi, karena dulu kau pernah mencintaiku. Tapi sampai detik ini, aku tidak bisa melihat itu dari matamu.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi aku dapat melihat ketulusan di matanya dan juga dia mencintaimu sama sepertimu mencintainya.”lanjutnya.

“Jangan sok tahu, Hae”

“Aku tahu, Yeonhae-ah. Karena begitulah caramu memandangku dulu, aku bisa merasakan bahwa kau mencintaiku, tapi itu dulu dan sekarang aku tidak merasakannya lagi.” Dia menghentikan perkataannya dan memaksakan senyumnya.

“Terus mempertahankanmu disisiku hanya akan membuatku merasa semakin bersalah. Aku tahu setelah kau pergi meninggalkanku itu menjadi hari – hari yang berat untukmu, karena aku juga merasakan hal yang sama.”

“Jangan biarkan ego mu membuatmu menyesal, Yeonhae-ah. Kesempatan memang bisa datang 2 kali tapi kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan lenyap. Percayalah pada hatimu sendiri, Yeonhae-ah. Semua bergantung padamu, aku hanya ingin kau bahagia.”

Aku terpaku mendengar setiap ucapannya, benarkah? Benarkah Jungsoo sunbae tidak mempermainkanku? Benarkah dia sungguh – sungguh mencintaiku dengan tulus? Otakku mulai mereview saat – saat aku bersamanya, dan ya! kenapa aku tidak memberinya kesempatan? Aku tidak ingin mengulang kebodohanku lagi.

“Gomawo, Hae. Aku pergi”jawabku dan beranjak dari kursiku.

“Mau kuantar, Yeonhae-ah? Di luar sedang turun hujan”

Aku menggeleng dan berlalu meninggalkannya, tapi sebelumnya aku tersenyum padanya, dan ia membalasku dengan senyumnya. Suatu hari nanti, kau juga akan menemukan cintamu, Hae.

Aku berlari di bawah payungku. Ya, mulai pagi tadi aku sudah membawa payung. Sungguh tertolong rasanya. Aku berteduh di halte sambil mengutak – atik handphoneku

“Heechul sunbae? Ne, kau tahu Jungsoo sunbae dimana sekarang? Hm.. araseo.. Gomawo!!” ucapku dan mengakhiri telepon.

Aku menaikki bis dan meletakkan payungku di sampingku. Aku sudah menghubungi rumah Jungsoo sunbae dan katanya ia tidak di rumah, karena itu aku menghubungi Heechul sunbae. Aku yakin dengan keputusan yang baru saja terlintas di pikiranku di restoran tadi.

10 menit kemudian, bis sudah sampai di halte berikutnya dan aku pun turun. Aku menaikkan alisku, aku lupa payungku masih di dalam bis. Saat aku menoleh, bis sudah berlalu. Akhirnya aku terpaksa berhujan – hujanan dan berlari, berharap sampai ke kampus secepatnya.

Aku berlari menyusuri koridor dan dengan sangat hafal aku menemukan ruangan itu lagi. Aku membukanya perlahan dan aku tersenyum lega. Dia benar – benar ada disana.

“Apa yang kau lakukan, Yeon? Kenapa kau kesini saat hujan turun? Bukannya besok juga bisa?” cercanya.

“Dengarkan aku sunbae. Aku percaya padamu, aku percaya dengan semua yang kau katakan, aku tidak peduli lagi dengan foto itu atau apapun, bolehkah aku mempercayaimu?”

Aku melihatnya terkejut kemudian berubah dengan senyuman, senyum yang kurindukan. Dia memelukku “Gomawo, Yeon. Ne, kau harus percaya padaku. Gomawo.”

“Saranghae”kataku.

“Akhirnya kau mengatakannya juga, Yeon? Tapi sekalipun kau tidak katakan, aku sudah tahu. Gomawo” Jawabannya cukup membuatku terkejut, bagaimana dia tahu? Tapi benar juga aku belum mengatakan perasaanku sama sekali padanya, sebodoh itukah diriku?

Aku berjalan memperhatikan ruang basement ini, rasanya seperti setahun tidak kesini. Aku baru saja selesai berganti baju, kemeja Jungsoo sunbae tepatnya, ya karena bajuku tadi basah kuyup dan Jungsoo sunbae masih menunggu di luar. Aku mendongak dan melihat beberapa lembar foto yang tergantung. Aku membalik salah satu foto tersebut. Aku menaikkan alisku dan memperhatikan foto lainnya. Semuanya fotoku dan aku tidak ingat kapan aku tertawa selepas itu, kapan dia mengambil foto ini?

“Jadi ini yang dilakukan sunbae saat merindukanku?” aku tersenyum.

Beberapa menit kemudian, kami berdua duduk di sofa dan aku masih tersenyum mengingat foto – foto tadi.

“YA!! Kau sakit, Yeon?”Jungsoo sunbae menyentuh keningku dan aku masih saja tersenyum bahkan nyaris tertawa.

Sekarang aku mulai mengerti apa yang dikatakan Donghae. Aku bisa merasakan kalau sunbae memang mencintaiku sekalipun ia tidak mengatakannya. Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu? Babo!!

“YA!! Kau mengerikan”ucapnya sambil mengacak rambutku dan tersenyum. Dan aku tidak lagi sebal dia melakukan hal itu, aku bisa merasa bahwa ia memang menyayangiku.

“Kau mau kuantar pulang, Yeon? Ini sudah malam” dan aku menggeleng “Aku masih ingin disini, sunbae”

“Oya, kenapa kau tidak mengejarku setelah aku melihat foto itu, sunbae?”lanjutku.

“Wae? Hm.. karena ternyata keong juga bisa berlari cepat, aku tidak bisa mengejarmu, Yeon”godanya dan aku mendengus kesal. Dia tertawa

“Sudahlah, aku mengantuk. Mau tidur.” Dia mengeluarkan tikar dari tasnya dan menggelarnya di bawah sofa yang kududuki.

“Kau membawa tikar, sunbae?”tanyaku heran. Dia juga menyelimutiku dengan selimut yang ia keluarkan dari tasnya. “Kau juga membawa selimut? Kau berencana menginap disini, sunbae?”tanyaku lagi.

“Hm.. aku banyak tugas, Yeon. Disini aku bisa mengerjakannya dengan tenang. Sudah jangan cerewet, cepat tidur. Lampunya kubiarkan menyala.”ucapnya dan membenarkan letak selimutku. Mau tidak mau aku juga memejamkan mataku.

“Foto itu..”ucapnya beberapa menit kemudian.

“Fotoku bersama kekasihku dulu, Kim Hee Ra dia sudah meninggal 4 tahun lalu. Sebenarnya hari saat kau melihat foto itu adalah hari peringatan kematiannya, dan aku baru pulang dari makamnya saat melihatmu menangis di ruang ini. Maafkan aku, Yeon. Aku tidak sanggup menceritakan masa laluku, bukan aku tidak mau tapi aku tidak sanggup, aku sudah mengubur kenangan itu sedalam mungkin. Sebenarnya memang kau berhak tak mempercayaiku karena aku jarang mengatakan tentang perasaanku dan mengatakan seberapa besar artimu untukku, tapi sekali lagi bukan aku tidak mau, tapi aku tidak ingin kehilanganmu, Yeon seperti Hee Ra dulu.”

Aku mendengar jeda dari ucapannya, kenapa dengan kekasihnya? Aku tetap membiarkan mataku terpejam, meski aku tetap bisa mendengar suaranya. Dan kurasa dia tahu aku belum tidur.

“aku selalu mengatakan cinta padanya dan memberinya kejutan setiap waktu dan karena kejutan tololku, dia nekat melarikan diri dari rumah sakit untuk bertemu denganku. Dan dia colaps tak lama setelah itu. Bahkan sampai akhir nafasnya aku tidak tahu bahwa ia sedang sakit, Yeon. Aku tidak tahu dia menyembunyikan penyakit jantungnya sejak lama. Aku juga tidak tahu dia telah dirawat di rumah sakit lama dan melarikan diri saat itu. Aku sungguh mengutuk diriku. Aku penyebab kematiannya, ya bisa dikatakan seperti itu. Aku sudah lama menutup semua kisah masa laluku dan kupikir aku tidak akan membuka kenangan itu lagi.”

“Kau tahu, Yeon. Aku menutup hatiku untuk siapapun dan saat melihatmu duduk sendiri di restoran malam itu, aku melihatmu sama sepertiku, aku bisa melihatnya dari matamu. Mungkin semua orang di kampus mengenalmu sebagai Cho Yeon Hae yang dingin dan cuek, tapi aku justru melihatmu seperti bunga dandelion yang bisa rapuh kapanpun. Sejak itu aku hanya ingin berada di dekatmu dan melindungimu. Aku menemukan suatu hidup baru bersamamu, Yeon. Aku menemukan harapan hidupku lagi. Orang bilang dandelion adalah simbol harapan, karena ia bisa tumbuh dimanapun dengan mudah.”

Mendengar semua ucapannya membuatku tak sadar meneteskan air mata dan ia menyekanya. Aku membuka mataku perlahan dan melihatnya berlutut di depanku, persis di depanku saat aku berbaring.

“Gomawo telah mempercayaiku.”ucapnya dan tersenyum.

“Aku mau mengunjungi makamnya kelak sunbae.” Ia mengangguk.

“Sekarang tidurlah”ucapnya dan membaringkan tubuhnya.

Aku sungguh merasa lega, bukan karena ia telah menceritakan semuanya tapi aku lega telah mengambil keputusan yang tepat, keputusanku untuk kembali padanya

“sekarang aku tahu maksudnya. Hee Ra selalu mengatakan aku akan menemukan kebahagiaan yang lain yaitu bertemu denganmu, Yeon”

“gomawo kau tetap bersamaku, sunbae. Gomawo untuk semuanya”ucapku dan ia tersenyum.

Aku masih tidak bisa tidur, karena terlalu senang mungkin. Hmm..

“Emh..sunbae?”

“Hmm..”

“Tapi kenapa foto itu kau tempel di ruang klub?”

“tentu saja bukan aku, Yeon. Yang menempel itu semua adalah Heechul, dia kakak dari kekasihku dulu. Katanya hanya mau memberiku kejutan, dia tidak bermaksud untuk melukaimu, bahan dia yang menyuruhku untuk menceritakan semua cerita di balik foto itu”jawabnya dan matanya tetap tertutup.

“Ohh..lalu kenapa kau membiarkanku pergi dengan Donghae waktu itu, sunbae?”tanyaku lagi.

“Karena kupikir kau akan kembali padanya”

“Aku pernah tak sengaja melihat fotomu bersama Donghae dan juga membaca pesan di baliknya sewaktu kau tertidur di lab. ”

Dia sudah tahu? Dia tahu Donghae selama itu?

“Kau tidak kedinginan, sunbae?”tanyaku lagi dan menggeser selimutku ke bawah sehingga ia juga bisa memakai selimut itu.

“YA!!! kenapa kau begitu cerewet, Yeon?? Kau bisa membangunkan kucing tidur, Yeon”

“YA!! Kenapa kau menyebalkan, sunbae? Aku menyesal berbagi selimutku denganmu” ucapku dan mengubah posisiku menjadi duduk disofa.

Dia bangun juga “Itukan selimutku, Yeon? Aku hanya meminjamimu.”

“Ara!! Ara!! Aku juga tidak butuh selimutmu, sunbae!”aku melempar selimutnya ke arahnya lalu menghempaskan tubuhku dan memejamkan mataku.

Sungguh sulit dipercaya, kenapa senang sekali membuatku sebal. Aku mendengar samar suara tawanya dan membuatku sedikit terkejut saat ia menyelimutiku lagi.

“Jal jayo, Yeon. Saranghae” ia mengecup keningku.

Aku terbangun dari tidurku dan mengerjapkan mataku karena banyak sinar matahari yang masuk. Aku menoleh dan melihat Jungsoo sunbae duduk di kursi dan sibuk dengan kertas – kertas. Aku menghampirinya “Kau mengerjakan apa, sunbae?”

“Tugas dari Heechul. Kau sarapanlah dulu, tadi aku beli roti. Aku harus menyelesaikan ini baru mengantarmu pulang.”

Aku merasa ada yang aneh dan mencoba mengingatnya “Ah!!!”seruku.

“Wae?”

“Aku lupa mengerjakan tugas dari Heechul sunbae, bagaimana ini?”teriakku panik.

Jungsoo sunbae menggeleng dan mengambil sebuah laporan dari beberapa tumpukan kertas di meja itu. “Ini?”

Aku menerima laporan itu dan tersenyum lega, ia telah mengerjakannya untukku. “Hehe”

“Awas kau lupa lagi!! Bukan Heechul lagi yang akan mengoceh di sampingmu, tapi aku”ancamnya dan aku hanya cengengesan. Dia tersenyum padaku dan aku harap ia selalu tersenyum untukku.

Ternyata jika aku membuka hatiku sedikit saja, aku bisa merasakan begitu banyak kebaikan yang selama ini tidak terlihat olehku. Dan menyimpan kebencian merupakan hal paling bodoh yang pernah kulakukan, tidak semua yang terlihat buruk adalah buruk, tidak ada pedoman seperti apa sesuatu baru bisa dipercayai. Hanya kata hati yang menuntunku menemukan kebahagiaan di hidupku. Ucapan bisa saja adalah suatu omong kosong belaka, tapi bukankah kita semua mempunyai hati. Follow your heart!!!!

–The end–

First published on Gisela’s FB on Tuesday, January 25th 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s