[Series] Listen, I Trust You!! – Part 1

Author : Gisela

Title : Listen, I Trust You!!

Aku benci dia…sangat membencinya…

“Hhh…” aku mengusap wajahku dan menghela nafas panjang. Dia datang lagi, bahkan di saat aku sudah menghilang dari hidupnya. Kenapa dia selalu muncul di mimpiku. Sungguh memuakkan.

“Yeon hae!!” teriak seseorang dan aku sengaja tidak menghentikan langkahku.

“kau sudah mau pergi ke kelas?” tanya orang yang sama dan ia sudah berjalan di sampingku sekarang. Aku menoleh sebentar dan mengangguk, berjalan lebih cepat dan mendahuluinya. Aku malas berurusan dengannya dan juga siapapun. Aku bisa merasakan langkah seseorang di belakangku, aku tahu dia mengikutiku dan itu sangat menyebalkan.

Aku sedikit membanting tasku dan duduk diam menunggu perkuliahan dimulai. Mengeluarkan sesuatu di tasku untuk mengusir kebosananku. Aku melirik arloji di tanganku, masih ada 15 menit sebelum kuliah dimulai. Aku menutup bukuku dan membawanya keluar, kelasku sangat ramai dan aku tidak menyukainya. Berisik!

“Kenapa ada disini? Kau tidak takut terlambat?”

“Kau mengikutiku, sunbae?” aku menatap tidak percaya pada orang di hadapanku ini. Dia tersenyum dan mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Kau pikir aku sedang tidak ada kerjaan, Yeon hae?”

Aku memutar bola mataku dan kembali berkutat dengan bukuku. Park Jung Soo, nama pria di sebelahku, yang entah sejak kapan dia selalu muncul di sekelilingku. Saat ini, aku pasti akan segera pergi jika seseorang di sebelahku ini adalah orang lain, tetapi aku tidak bisa. Aku tidak menyukainya tetapi juga tidak bisa membencinya, itu karena aku berhutang..

(Flash Back)

Saat itu hujan turun deras dan aku lupa membawa payung. Aku terjebak di sebuah restoran dan hanya menatap keluar. Aku benci hujan dan benci terjebak di situasi seperti ini. Hh.. padahal ini sudah malam dan satu – satunya jalan aku harus menunggu bus selanjutnya datang, 2jam lagi. Aku menarik nafas panjang dan memegang dinding gelas kopiku yang masih hangat.

“Pakai ini saja.”

Aku menoleh pada asal suara itu. “Tidak perlu” jawabku singkat dan kembali menatap kopiku.

“Aku tidak membutuhkannya, buang saja kalo kau memang tidak butuh.” pria itu meletakkan payungnya di dekat tanganku dan berjalan meninggalkanku. Dan yang membuatku tak percaya, dia berjalan tanpa payung atau apapun yang dapat melindunginya.

“Babo” aku bergumam dan mengambil payung yang telah ia tinggalkan untukku, padahal aku tidak mengenalnya.

Esoknya di kampus…

“Jung soo!!! Jangan lupa nanti ada rapat.”teriak seseorang yang cukup menggangguku.

“Hatciu…Hm..Heechul ah, bolehkah aku tidak datang. Sepertinya aku terserang flu.” jawab seorang lainnya.

Aku menutup telingaku kesal, aku tidak dapat membaca bukuku dengan baik, padahal koridor ini biasanya sangat sepi.

“Kau sakit? Em..Baiklah kau pulanglah saja, aku akan memberimu kabar nanti.”

Aku mendengar suara mereka semakin dekat dan aku dapat melihat mereka sekarang. DIA!!!! Aku menatap gusar seorang dari mereka dan dia membalasku dengan senyumnya yang ramah. Aku tergelak dan kembali menatap bukuku sampai mereka berjalan melewatiku. Dia sakit?? Karena aku??

(Flash Back End)

“Ya!! Apa yang sedang kau baca? Tidakkah kau bosan berada di suasana yang sepi seperti ini?” Suaranya membuyarkan lamunanku. Aku hanya menatapnya sekilas.

“Kalau kau bosan, pergilah sunbae. Tidak ada juga yang menyuruhmu disini.”

“Emh.. baiklah.. Oya jangan lupa, nanti siang kau serahkan hasil jepretan seminar minggu lalu, kalau tidak Heechul bisa mengomel tidak jelas. Aku pergi.” Ia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya padaku dan yah ia menabrak tong sampah yang sedari tadi hanya diam disana. Aku mengalihkan pandanganku, sampai kapan dia akan menghentikan tingkah konyolnya itu. Babo!!

Aku berkuliah di Universitas Anam dan baru menjalani 4 bulan disini, di kota yang baru pula, Seoul. Kuliahku sudah selesai dan aku tidak langsung pulang, aku menuju ke sebuah kelas yang terletak di basement. Aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari dalam. Ku ketuk lagi dan masih sama. Akhirnya aku membuka pintu itu dan melihat beberapa orang yang sudah berkumpul disana.

“YA!!! Cho Yeon Hae!!! Kau tahu ini jam berapa, huh?? Kau mau melihat kita mati kebosanan apa?!!” teriak Heechul. Aku menghampirinya yang sedang duduk bersandar di sebuah meja di depan kelas. “Ini… Anda bisa memeriksanya dulu. “ Aku menyodorkan berkas – berkas yang sudah kurapikan kemarin malam. Ia menerimanya kasar dan aku menghambur dengan teman klubku.

Ya.. aku mengikuti klub fotografi di kampusku. Awalnya tidak terpikir sama sekali untuk mengikuti klub ini, aku memang suka memoto, tapi tidak berpikir untuk mengasah hobiku ini. kalau kalian tanya kenapa aku melakukannya? Park Jungsoo. Iya dia yang membantuku dapat masuk ke klub ini. sebenarnya malas tetapi dibanding klub lain aku lebih tidak tertarik. Jadi karena itu aku disini sekarang.

“Kenapa kau telat?”

Aku sengaja tidak menoleh dan tetap menatap lurus ke depan, mendengarkan ocehan Kim Heechul, ketua club kami. Ia menyenggolku cukup keras dan aku berteriak “Wae?!!”

“YA!!!kalian berdua!!” Aku mendongak dan melihat Heechul melotot kesal pada kami.

“Baiklah, rapat selesai. Jangan lupa tugas yang ku berikan pada kalian dan kalian berdua tetap tinggal. Pisahkan potongan – potongan film ini berdasarkan bulannya, mengerti?!” Heechul dan juga teman – teman klubku meninggalkanku dan Jungsoo di kelas.

“Kau puas, Sunbae?”rutukku kesal. Aku beranjak dari kursiku dan mulai memunguti potongan film yang berserakan di bawah.

“Mianhae, Yeonhae-ah.” Dia mengikutiku memungut potongan film itu sambil sesekali menyenggol lenganku pelan.

“Kau pulanglah saja, biar aku yang menyelesaikan ini, hm?” Aku menatapnya dan dia tersenyum sangat ramah padaku. Aku masih heran dengan orang ini, apa dia tidak punya perasaan ya? bukankah aku sudah sering memarahinya, menyuekinya dan segala macam cara agar ia pergi dari hidupku, tapi tetap saja ia bersikap baik padaku. Aku menghela nafas dan meneruskan pekerjaanku lagi. “Tidak perlu, sunbae. Aku masih sanggup”

“Emh, kita bagi tugas saja ya? Aku yang memisahkan film ini dan kau menaruhnya di tiap kotak itu.” Belum aku mengiyakan tapi dia sudah melakukan seperti apa yang baru saja ia katakan. Aku bangkit berdiri dan menuruti perkataannya, berjongkok sebentar saja sudah membuat punggungku sakit. Aku menerima setiap potongan film yang ia operkan padaku. Aku hanya duduk di kursi dan memindahkan film itu ke kotak – kotak, sedang dia tetap berjongkok di bawah dan memisahkan potongan film berdasarkan bulan yang berbeda.  Ya, aku sedikit tidak tega melihatnya seperti itu, tapi itu juga karena salahnya, bukan?

“Aku mau menghancurkan potongan film setahun lalu”kataku.

“Biar aku saja”

“Aku bisa, sunbae” dan berlalu darinya

“Jangan salah ambil, Yeonhae-ah. Di dalam kotak biru”teriaknya.

Aku mengambil beberapa potongan film itu dan menghancurkannya dengan mesin penghancur yang terletak di sebelah ruang yang tadi.

Klik….

Aku terdiam di posisiku dan tidak bergerak sedikitpun. Ada apa ini? Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku. Andwae!!

“Yeonhae-ah? Kau dimana?”

Aku mendengar suaranya tetapi aku tidak bisa bergerak, aku tidak dapat mengeluarkan suaraku. Tubuhku bergetar dan tanganku menjadi dingin. Bagaimana ini? Aku mulai merasa pusing yang sangat amat kuat di kepalaku dan mataku juga terasa berat dan berat.

“Yeonhae-ah?? Yeonhae-ah??”

Aku merasakan desiran angin yang memain – mainkan rambutku dan juga genggaman seseorang, tangannya hangat dan membuatku merasa sangat nyaman. Aku berusaha keras membuka mataku, meski sangat susah dan berat.

“Yeonhae-ah??”

Aku mendengar suaranya lagi dan kali ini aku bisa membuka mataku. Aku mengerjap setengah sadar.

“Eomma??” Aku berusaha duduk dan menatap sekelilingku. Dimana ini? Aku memegangi kepalaku, masih pusing. Aku berusaha mengamati sekelilingku lagi, ini balkon di kampusku. Karena disini terbuka, sinar lampu jalanan cukup menerangi balkon ini. Kenapa aku disini? Aku mencoba mengingat apa yang terjadi, kenapa tadi aku juga mendengar seperti suara eomma.

“Kau sudah sadar, Yeonhae-ah?”

“Sunbae? Apa aku tadi pingsan?”

“Ne, minumlah ini dulu.” Aku menerima segelas kopi darinya. Aku tidak langsung meminumnya melainkan memandangi kopi itu. Bagaimana dia tahu aku sangat menyukai kopi?

“Kau sudah baikan sekarang? Mau kuantar pulang?”tawarnya.

Aku sedikit tertegun dengan ucapannya. Normalnya seseorang yang tidak mengenal apapun tentang orang lain, akan bertanya apa yang terjadi? Ada apa sebenarnya? Atau sekumpulan pertanyaan yang bermaksud seperti menginterogasi. Kenapa dia tidak? Apa dia sudah tahu aku takut gelap, tapi bagaimana bisa? Aku terhanyut dengan pikiranku sendiri dan ia mengambil tas dan juga beberapa barangku.

“Kau mau kemana, sunbae?”

“Mengantarmu pulang, akan lama kalau menunggumu selesai berpikir.”ucapnya dan lagi – lagi tersenyum padaku.

“Tapi hukuman kita?”

“Sudah selesai”ucapnya dan berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dan menarik tasku tapi dia mengelak.

“Kau berhati – hati berjalan saja, ara?” Aku menuruni tangga. Koridor kelas dan seisi kampusku sudah kembali terang dan aku bisa bernafas lega. Tetapi aku teringat sesuatu, bagaimana dia bisa membawaku ke balkon yang letaknya 5 tingkat dari basement? Omo!! Dia tidak menggendongku bukan??

Aku berlari kecil mematikan kompor di dapur dan segera menuangkan air panas ke dalam gelasku, tetapi karena aku tergesa – gesa air panas itu pun terciprat mengenai tanganku. Aku refleks menghindar dan mengusap punggung tanganku. Aku tidak bisa memperhatikan tanganku sekarang atau aku akan terlambat. Aku mencomot roti dan segera memasukkannya ke dalam mulutku, mengunyahnya cepat dan meneguk kopiku. Berlari menuju teras, memakai sepatu, dan mengunci pintu apartementku, tapi baru aku tiba di depan aku memaki kesal. Kunci mobil!!!

Di Seoul, aku memang melakukan semuanya sendiri, ibuku sudah lama meninggal dan ayah? Jangan harapkan ia tinggal bersamaku, ia hanya peduli pada pekerjaan dan juga istri barunya. Sudah lama aku hidup tanpa mereka jadi tidak ada yang bisa ku ceritakan tentang mereka. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama nenekku dan aku sangat menyayanginya begitu juga dengan beliau. Tetapi setelah sepeninggalnya aku tinggal bersama keluarga sahabatku, ya sahabatku dulu. Nenek satu – satunya orang yang akan memukulku saat aku nakal, jadi hanya nenek yang bisa kurindukan saat hidup jauh seperti sekarang. Selain dia…

Aku pindah ke Seoul setelah kelulusan SMA ku di Kwangju. Kenapa? Untuk alasan yang sangat ku benci. Meski orang mengatakan menghindar itu adalah tindakan seorang pengecut, aku hanya bisa melakukan itu, untuk bisa hidup seperti orang normal dan menjalani hidupku yang baru, tetapi rupanya aku salah, karena aku tetap dihantui olehnya.

Tak lama kemudian aku sampai di kampusku dan segera menuju perpustakaan. Beberapa minggu ini aku disibukkan oleh tugas kuliah dan juga kegiatan klub, sebentar lagi memang akan ada libur semester, ya mungkin karena alasan itu juga. Aku semakin sering menghabiskan waktuku di perpustakaan dan juga laboratorium. Terkadang membuatku harus pulang larut karena menunggu hasil praktikumku. Tetapi aku sungguh merasa terbantu akhir – akhir ini, seperti minggu lalu.

(Flash back)

Aku menguap sekali lagi dan berusaha membuat mataku tetap terjaga. Saat ini aku sedang menunggu hasil praktikumku. Tidak ada orang selainku disini, sebelumnya memang ada beberapa karena sebenarnya ini tugas kelompok, tapi mereka baru saja pulang. Aku memang ketua kelompok jadi bagaimanapun ini adalah tanggung jawabku. Aku tidak bisa menyalahkan mereka juga, karena aku tahu mereka juga cukup tertekan dengan sikapku yang seenaknya. Aku memang tidak suka bekerja berkelompok, aku tidak percaya pada kemampuan mereka, jadi lebih baik kulakukan sendiri.

Lagipula ini hanya pekerjaan menunggu, pekerjaan yang sering membuat orang bosan. Tapi orang yang bodoh sepertiku bukannya memang hanya bisa melakukan itu. Aku membuka bukuku dan dengan sangat hafal membuka tepat di halaman 91. Aku menggenggam foto yang sudah terlihat usang itu. Ya tentu saja karena foto itu diambil sudah 3 tahun lamanya, saat aku masih SMA kelas 1. Aku mengamati orang yang berada di foto itu, orang yang membuatku berubah menjadi dingin dan kaku seperti sekarang, orang yang tidak bisa kubenci meski ingin sekali rasanya membunuhnya, tetapi yang selalu membuatku menjadi lemah adalah perasaan yang sama di hatiku, aku membenci diriku sendiri, karena aku tetap mencintainya, bahkan aku selalu merindukannya seperti sekarang, aku tidak bisa berbohong kalau aku selalu menunggunya, berharap suatu hari saat aku membuka pintu apartetmentku dan melihatnya datang dengan senyum yang lebar. Harapan yang sangat bodoh!

Aku membalik foto itu dan membaca tulisan yang tergores.

“Saengil cukhae Yeonhae-ah… Neomu…neomu…neomu Saranghae ^^”

By : Hae yang mencintaimu, forever. Jangan lupakan itu?!

Aku tersenyum getir, kenapa hatiku terasa begitu sakit setiap aku membaca tulisannya. Foto itu memang hadiah ulang tahunku ke 16 darinya, nenek yang mengambilnya saat kita tidak menyadarinya, entah itu bagian rencananya atau tidak. Dalam foto itu, ia membawakanku kue tart buatannya sendiri, lengkap dengan lilin – lilin berjumlah 16 dan aku disana sedang memejamkan mataku, berdoa tentang harapanku. Dia memang suka memasak dan semua masakannya selalu lezat, itu pula salah satu alasan aku menyukainya. Kepalaku sakit memikirkan itu semua dan aku memejamkan mataku, itu terasa lebih baik.

Entah berapa lama aku tertidur dan memegangi foto itu, tetapi saat aku terbangun posisi dan ruang lab itu sedikit berubah. Aku menggosok mataku pelan dan beranjak dari kursi panjang yang menjadi pengganti kasurku malam tadi. Aku mendekati mejaku dan benar – benar yakin ada seseorang yang masuk tadi malam. Buku – buku itu tersusun rapi padahal jelas aku ingat kemarin aku menaruh sekenanya. Tiba – tiba aku teringat fotoku, aku membongkar tiap buku disana dan membuatnya jatuh berserakan.

Ya, aku menemukannya tetap di buku yang sama hanya di halaman yang berbeda. Aku menghela nafas lega, tapi aku menatap tak percaya laporan di hadapanku. Aku membolak – balik laporan itu, bagaimana bisa?

“Yeonhae? Kau datang pagi sekali?”

“Apa yang kau pegang itu?” tanya seorang dari lainnya dan mengambil laporan yang dari tadi kupandangi.

Aku memandang penuh tanya pada mereka, meminta mereka menjelaskan, tapi justru mereka memberiku jabatan dan tepuk tangan yang riuh.

“Kau benar – benar hebat, Yeon.”

“Dari awal aku percaya kau pasti bisa melakukannya dengan baik”ucap yang lainnya. Tawa mereka pecah kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku terdiam dan mencoba memutar otakku, siapa yang melakukan ini semua? Siapa yang dengan diam – diam menyelesaikan laporan praktikumku? Aku teringat seseorang. Aku berdecak kesal, dia selalu begitu, apa dia akan melakukan hal yang bodoh lagi demiku?

(Flash back end)

Beberapa menit kemudian aku sampai di kampusku dan menuju perpustakaan. Perpustakaan tetap sepi seperti biasanya dan karena itu aku senang menghabiskan waktuku di perpus,tidak akan ada orang yang menggangguku, selain dia. Aku sudah berhadapan dengan banyak buku dan mulai membukanya satu per satu. Aku memilih duduk di bawah dan menyandarkan kepalaku, rasanya lebih nyaman saja. Aku melirik arlojiku, benar saja kenapa orang itu belum datang? Tumben?

Aku menguap dan tertidur dengan posisi buku terbuka di pangkuanku. Akhir – akhir ini aku hanya bisa tidur 2-4 jam. Klub juga akan memiliki acara besar, jadi semuanya bekerja keras mempersiapkannya.

Aku mengerjapkan mataku terkejut saat aku merasakan seseorang memindahkan bukuku. “Jungsoo sunbae?”

“Ne? Mian membuatmu terbangun.” Dia duduk di sebelahku.

Aku melipat jaket yang ia gunakan sebagai selimut untukku. “Ini” aku menyerahkan jaketnya tetapi dia menggeleng “Pakai saja, kalau kurang tidur akan sangat mudah masuk angin”

Aku hanya diam dan merapatkan jaketnya, perpus memang sangat dingin, tapi hanya disini aku bisa tenang. Tiba – tiba aku teringat tentang laporan di lab minggu lalu, tapi apa ini tidak terlalu terlambat membahasnya? Aku memang jarang bertemu dengannya karena kesibukan kita berdua masing – masing. Dia sahabat Heechul dan juga wakil ketua klub jadi tugasnya pasti lebih berat dari ku yang seorang member. Tapi walau begitu aku tetap merasa bahwa dia ada di sekelilingku, seperti tadi saat aku tertidur, minggu yang lalu dan banyak lagi.

Jujur saja aku mulai terbiasa dengan kehadirannya dan merasa ada yang aneh saat dia tidak mengusikku. Tetapi ia selalu membuatku sebal karena ia membuatku semakin banyak berhutang. Aku sudah lama tidak mengucapkan terima kasih atau semacam itu, tapi dia sudah melakukan banyak hal. Aku mendesah pelan.

“Wae?”tanyanya pelan tapi cukup mengejutkanku.

“Anieyo”jawabku cepat. Ia malah tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Kau harus berbagi hanya untuk sekedar melepas kepenatanmu, Yeon. Kau bisa gila kalau memikirkan semua masalahmu sendirian, ara?”

Aku menepis tangannya dan tersenyum sinis “Kau pikir kau siapa, sunbae? Jangan kau kira aku akan berubah sikap padamu hanya karena kau bersikap sok baik padaku. Aku tidak pernah memintamu untuk menyelesaikan laporan praktikumku, jadi aku juga tidak perlu berterima kasih padamu.” Aku merapikan semua bukuku dan berdiri meninggalkannya, tetapi baru beberapa langkah, aku berbalik “Dan jangan memanggilku dengan sebutan seenakmu, Park Jungsoo.”

Aku berjalan cepat meski aku tahu dia tidak akan mengejarku. Aku sebal mendegarnya berbicara seakan dia sangat mengenalku. Kau bukan siapa – siapa dan tidak tahu apapun tentangku. Karena aku kalut dengan emosi aku menabrak seseorang.

“Yeonhae-ah?? Ada apa denganmu?”

Aku mendongak “Anieyo. Aku ke kelas dulu”

Tetapi orang itu mencegahku “Wait.. Kau lihat dimana Jungsoo? Aku mengkhawatirkannya”

Aku menoleh “Waeyo?”

Heechul melanjutkan perkataannya “Entahlah, potongan film bulan ini hilang, aku dan dia sudah mencarinya tapi tetap nihil. Dia mengaku itu kesalahannya karena saat aku menghukum kalian berdua dia mengatakan kau pingsan dan dia yang melanjutkannya. Apa kau tidak melihat potongan film bulan ini, Yeonhae-ah??” Aku menggeleng.

“Kenapa dengan tanganmu?”tanyanya sambil memperhatikan tanganku. Aku mengerutkan alisku dan menatap tanganku. Kenapa ada plester? Aku mencoba mengingatnya, Ah mungkin luka terkena air panas pagi tadi, tapi seingatku aku tidak mengobatinya. Apa ini kerjaan dia lagi?

“Ya sudahlah, aku akan mencari Jungsoo. Oya kalau kau ingat tentang film itu, beritahu aku atau Jungsoo secepatnya, kau tahu itu sangat penting, bukan? Aku pergi.”

“Dia di perpus”

“Ne??”

“Jungsoo sunbae di perpus”ulangku.

Heechul tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku. Aku menggelengkan kepalaku, kenapa aku bisa terjebak dengan orang – orang yang konyol?

2 tahun kemudian..

“Yeonhae-ah, apa menurutmu jepretan kita sudah bagus?”

“Emh..Sepertinya kurang fokus, Yesung sunbae”

Dia mengangguk dan mengamati tiap jepretannya di kamera kesayangannya. Setiap orang di sini sangat menyayangi kameranya, mereka memperlakukannya seperti kekasih mereka dan sering membuatku geli melihatnya.

“Ah…Aku datang…Apa kalian lapar??”teriak Kangin.

Kangin juga member di klub kami, kalau dilihat – lihat klub ini lebih memiliki banyak member cowok. Bukan karena kurang peminat tetapi seleksi mereka sangat ketat dan karena mereka sangat menyayangi klub ini, mereka tidak ingin yang menjadi member disini hanya bermain – main atau sekedar mencuri perhatian dari para cowok disini, karena mereka bisa dibilang tampan.

Kangin, Yesung dan aku kebetulan ditempatkan sebagai seksi publikasi dan dokumentasi. Jadi saat ada acara – acara, merekam dan mengambil beberapa foto yang bagus adalah tugas kami. Aku sangat menyukai tugasku ini dan aku yakin mereka juga merasakan hal yang sama.

“Yeonhae-ah..Kemarilah, kau tidak lapar?”

Aku tersenyum dan menghampirinya, ikut bergabung dengan mereka semua. 2 tahun ini memang menjadi tahun yang berat untukku, tetapi apakah kalian percaya bahwa aku bisa melewatinya dan kembali menjadi diriku yang dulu. Aku tidak lagi dikenal sebagai Yeonhae yang dingin dan cuek, aku telah berubah. Aku berubah karena seseorang, tidak! Aku berubah karena aku mengenal seseorang yang membuatku mengenal begitu banyak kebaikan, kehangatan dan juga teman – teman yang menyayangiku.

“Yeon, ikut aku!!”

“Waeyo sunbae?”tanyaku dan ia menarik tanganku.

Kami berhenti di taman belakang kampus, aku diam terpukau sedang dia bermain – main dengan kameranya.

“Kau tidak mau mengambil gambarnya? Kau akan menyesal, Yeon.”ujarnya.

Aku mengambil kameraku dan mengabadikan matahari terbenam itu. Sangat indah.

Akhirnya kami duduk di sebuah bangku kecil, aku memperhatikan hasil jepretanku. Aku tersenyum sendiri saat melihat jepretanku yang kabur karena Jungsoo sunbae berusaha ikut difoto dan aku mengelak.

Tuk.. Aku menoleh “Kau darimana sunbae?” dan dia menurunkan kaleng minuman yang ia taruh di kepalaku tadi.

“Membeli jus ini.. Sepertinya akan turun hujan nanti, Yeon.” jawabnya dan menyodorkan jus padaku lalu menatap langit. Aku menerima jus itu dan mengamatinya.

“Kau tidak suka? Mau kubelikan yang baru?”

“Ani. Kenapa kau tidak membelikanku kopi, sunbae?”

“Terlalu banyak kopi tidak baik untuk kesehatan, Yeon. Aku curiga kau salah jurusan”godanya.

“Ara.. Kau yang paling pintar, sunbae. Araseo!!!!”jawabku kesal. Dia terkekeh dan mengacak rambutku.

“YA!!! Kenapa kau tidak berubah, sunbae??”

“Kau mau aku berubah menjadi orang yang dingin dan cuek?”dia melirikku.

“Kau menyindirku, sunbae?” Dia mengangkat bahunya dan aku hanya bisa tersenyum.

Cklik…

Aku menoleh “YA!!! apa yang kau lakukan, sunbae??”

Dia berlari menghindar sambil menyembunyikan kameranya, aku mengejarnya dan berusaha merebut kamera itu. Alhasil kita berputar – putar di sekitar taman.

Hari itu memang turun hujan, tetapi tidak menjadi masalah yang besar buatku. Aku bahkan menyukai hujan sekarang, tidak seperti Cho Yeon Hae 2 tahun lalu. Ya, Jungsoo sunbae membantuku keluar dari tembok yang kubuat sendiri. Kenapa aku tidak menyukai hujan? Hm.. karena luka yang selalu membekas di hatiku, aku benci menangis, benci hujan, dan hal yang hanya membuatku lemah. Entah sejak kapan tapi hujan justru menyiratkan tiap kenangan baru di Seoul. Aku kira aku bisa melanjutkan hidupku yang baru disini, bersama orang – orang yang menyayangiku dan mempercayaiku dengan tulus.

“Sunbae aku lapar, makan di sana saja ya?”

“Oke..”jawabnya dan kita berjalan menuju kedai di ujung jalan.

Ada satu yang tidak berubah dariku, yaitu kecerobohanku dan penyakit pelupaku. Meski Jungsoo sunbae selalu mengingatkanku untuk membawa payung, aku selalu saja lupa. Jadi kami sering pulang dengan satu payung, miliknya. Aku menggeser payung yang ia pegang, karena ia terlalu banyak memberikan ke sisiku, jadinya pundaknya basah. Ia tersenyum “Kau tahu, Yeon, kalau kau begitu baik sekarang aku jadi takut. “

“YA!!!” aku menghindar. Ia segera menarikku kembali ke bawah payung dan tidak melepas genggaman tangannya. “Cepatlah aku lapar, apa kau keong? Kenapa jalanmu begitu lambat?”katanya lagi.

Aku melirik kesal ke arahnya, melepas genggamannya dan berjalan mendahului tentunya dengan payungnya di tanganku. Ia meneriakki namaku dan berlari kembali ke bawah payung.

Tak pernah terpikir olehku aku akan bersikap ramah padanya, justru akhir – akhir ini dia yang sering mengataiku. Aku mengingat kejadian yang membuatku merubah penilaianku terhadapnya.

(Flash back)

Ya Tuhan! Aku berdiri kaku di depan kotak – kotak yang berisi potongan – potongan film. Aku baru menyadari kesalahanku yang membuat semua orang pusing dan terutama membuat Jungsoo sunbae disalahkan dan bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Aku berlari di sekitar kampus, terus terang aku tidak tahu harus kemana. Heechul sunbae, dimana dia?

“Ada apa, Yeonhae-ah? Apa ada masalah?”

Aku membalik badanku dan menatap orang di hadapanku.

“Wae??”tanyanya sekali lagi dan aku bisa melihat kekhawatiran di matanya.

Aku menangis, aku tidak tahu kenapa disaat seperti ini aku justru menangis. Tapi aku tidak bisa menahannya dan air mata ini keluar begitu saja. Dia mengguncangkan lenganku, tapi aku hanya bisa menangis. Aku sangat merasa bersalah padanya. Aku selalu menyusahkannya dan aku masih menyangkal dan justru membentaknya seperti di perpustakaan kemarin. Ia menatapku bingung dan memelukku.

Aku semakin kehilangan kendali atas diriku dan terisak semakin dalam. Seandainya ia bersikap jahat padaku, aku akan lebih berterima kasih, tetapi kenapa dia tetap begitu baik padaku?

“Mianhae..”kataku akhirnya.

Ia melepas pelukannya dan menatapku bingung “Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku, Yeonhae-ah.”

Aku menggeleng “Aku banyak bersalah padamu, sunbae. Ikut aku, aku akan menyelesaikan semuanya.” Dia menahanku. “Ada apa sebenarnya?”

“Potongan film itu, bukan kelalaianmu sunbae, tapi aku sendiri yang menghancurkannya. Aku yang harus bertanggung jawab, aku yang harus keluar dari klub seharusnya kalau itu perlu, aku yang harus bekerja keras mengumpulkan berita itu lagi, bukan kau sunbae.” mataku berkaca – kaca lagi dan wajah Jungsoo sunbae tidak terlihat jelas lagi.

“Emm… Anggap saja hanya kita berdua yang tahu, kau tidak perlu melakukan apapun, Yeonhae-ah.  Anggap saja aku memohon padamu, kau akan membantuku jika kau berpura – pura tidak mengetahuinya, ara?”

Aku menggeleng “Itu tidak adil, sunbae. Aku tidak bisa” Aku berjalan dan lagi – lagi dia menahanku.

“Aku mohon, kita adalah tim, aku mau jika kau membantuku tapi tidak mengacaukan keputusanku. Aku mohon hargai keputusanku, Yeonhae-ah.” Dia menatapku lekat – lekat dan aku tidak bisa membatahnya lagi. “Aku akan membantumu sunbae, beritahu aku harus memulainya darimana?” dia mengangguk dan tersenyum, senyum ramah yang selalu membuat hatiku bergetar.

(Flash back end)

Aku mengerjapkan mataku dan menggeliat. Sinar mentari mulai merambat mencuri masuk dari jendela kamarku. Aku membuka mataku dan memulai aktivitasku, tapi karena aku masih setengah sadar, aku menabrak meja di sebelah tempat tidurku dan membuat buku – bukunya berserakan.

Deg..

Hatiku seperti dihujani pisau. Aku segera memasukkan foto itu ke dalam lemari. Tidak! Aku tidak ingin mengingat apapun tentang dia, aku tidak mau menjadi Yeonhae yang dipenuhi kebencian. Aku sudah melupakanmu, Hae. Aku menghela nafas dan tersenyum untuk diriku sendiri. Aku pergi ke dapur dan mulai memasak.

Beberapa menit kemudian aku menatap puas ke meja makan. Banyak makanan yang terliat lezat, aku menyiapkannya untuk klubku. Ya, mereka telah menjadi temanku sekarang, aku sangat menyayangi mereka, bukan karena kelebihan mereka, tetapi karena kesederhanaan mereka mau menerimaku. Terkadang memang kita perlu bertaruh untuk merubah semuanya menjadi lebih baik, yaitu berawal dari merubah diri kita sendiri. Aku tersenyum mengingatnya, aku mengenal mereka dari seseorang bernama Park Jung Soo. Orang yang selalu ingin kusingkirkan dulu, tapi sekarang justru aku tidak ingin dia meninggalkanku.

Aku teringat sesuatu..

(Flash back)

“Mwo?? Kau hanya bercanda bukan, sunbae?” aku menatapnya tak percaya. Dia malah tertawa dan mengacak rambutku. Aku sedikit sebal jika ia melakukan itu padaku, seperti aku anak anjingnya saja.

“Aku serius, Yeon. Jadi bagaimana? Kau mau atau tidak?”

Aku menggaruk kepalaku “Tapi ini terlalu mendadak sunbae..”

“Sudah 2 tahun aku mengenalmu, Yeon dan kau bilang mendadak? Kau mau menunggu aku menua?”

Aku terkejut mendengar ucapannya, aku sudah sangat tegang saat ini, dia malah bercanda.

“Mau atau tidak? Suka atau tidak? Cinta atau tidak?”

“Aish, kau berisik sunbae.”

“YA!! Aku menunggu jawabanmu, Yeon.”

Aku melengos pergi meninggalkannya dan ia meneriakki namaku.

“Cho Yeonhae!!! Saranghae!!!”teriaknya dan cukup membuat orang – orang di sekitar kami menoleh. Aku melotot ke arahnya dan ia hanya nyengir. Menyebalkan! Sungguh memalukan! Aish, rasanya ingin melemparnya ke kolam supaya dia diam.

(Flash back end)

Aku tersenyum, bagaimana bisa aku menyukai orang aneh sepertinya? Aku menatap lama pada salah satu bekal yang kubuat, aku sengaja membuatnya berbeda.

“Bekal special untuk orang yang special”batinku.

Tet…

Aku merapikan segera bekal – bekalku dan berlari menuju ke pintu depan. Aku menghela nafas panjang dan membulatkan tekatku untuk memberi jawaban yang kutunda kemarin.

“Sunbae, kau ti……”ucapku terhenti saat melihat siapa orang yang berada di depan pintu apartementku.

“Yeonhae-ah. Aku sangat merindukanmu.”

Aku melangkah mundur tak percaya dan hampir saja jatuh kalau dia tidak menahan tanganku.

“Lepaskan!!” ucapku saat sadar ia tetap memegang tanganku.

“Yeonhae-ah, aku mohon jangan seperti ini. Dengarkan aku, jebal” dia mencengkeram lenganku dan segera ku hentakkan.

Aku tidak peduli lagi padanya “Pergi!!!!”

“Yeonhae-ah? Kau tidak serius bukan? Kekasihmu baru datang dan kau mau mengusirnya?”rajuknya.

“PERGI LEE DONG HAE!!!” aku mendorongnya keluar.

“Dan aku bukan kekasihmu lagi, ingat itu” aku menutup pintu apartementku dan menangis di baliknya.

“Yeonhae-ah..Aku ingin bicara denganmu, aku mohon biarkan aku masuk”

Aku masih mendengar suaranya dan semakin membuatku terisak. Aku terduduk dan memeluk lututku, semua rasa sakit itu muncul kembali, rasa sakit yang amat sangat menyiksaku dan menjadikan ku seorang yang tidak berperasaan, aku memegangi kepalaku, dan kenangan yang menyakitkan itu bermunculan di otakku.

(Flash back)

“Jang in, kau berbohong bukan? KATAKAN PADAKU KAU BERBOHONG!!!”teriakku dan aku duduk lemas. Jang in memelukku.

“Maafkan aku Yeonhae-ah, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu dan semuanya terjadi begitu saja. Aku mohon jangan katakan pada ayah”

Aku mendorongnya “Bagaimana kau bisa mengatakan semudah itu, huh? Memaafkanmu? Apa kau pikir aku bisa? Apakah kau pikir aku sebaik itu, HUH?!! Jawab Aku!!! Jang in!!!” Aku menggoncangkan lengannya dan ia hanya menangis menunduk.

Aku bangkit dan meninggalkannya sendiri, aku tidak pernah bisa percaya, sangat tidak masuk akal, sahabatku sendiri yang sudah ku anggap sebagai saudaraku, sekarang ia telah mengandung anak dari kekasihku sendiri. Aku berjalan sempoyongan dan seseorang menahanku “Jagi, waeyo? Kau sakit?”

Aku menoleh dan menatap orang di sebelahku. Kenapa dia tega membohongiku? Kenapa dia tega mengkhianatiku? Apa salahku? Aku menghempaskan tangannya dan berlari meninggalkannya.

Sepulang sekolah aku hanya diam di rumah, bukan rumahku memang, tapi rumah Jang in. Aku tinggal disini sudah lama, sekitar 10 tahun setelah nenek meninggalkanku selamanya. Keluarga Jang in sudah seperti keluargaku sendiri, aku sangat menyayangi mereka. Aku mendengar keributan di luar dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau sungguh memalukan!!! Anak kurang ajar!!”teriak ayah Jan in.

Aku melihat Jang in sudah berlutut di bawah dengan keadaan yang mengenaskan. Ayah Jang in memang orang yang keras dan Jang in sudah babak belur dibuatnya. Hatiku sakit melihatnya seperti itu, tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin melindunginya seperti yang sudah – sudah saat Jang in mendapat nilai merah, saat Jang in ketahuan bolos sekolah, aku akan selalu ikut berlutut minta maaf pada ayahnya dan akhirnya aku juga kena pukulan ayahnya.

Tanpa sadar air mataku menetes, aku tidak sanggup melihat ibu Jang in menangis seperti itu dan entah keberanian darimana sehingga aku berlari dan memeluk Jang in. Satu – satunya yang terpikir olehku adalah bayi di kandungan Jang in, yang juga anak dari kekasihku. Aku tidak mau dia terluka, seperti keadaanku dan ibunya sekarang.

Plak…

Aku merasakan lenganku panas, aku meringis kesakitan. Ayah Jang in berjongkok lemas dan memperhatikan keadaanku.

“Yeobo, cepat bawa Yeonhae ke kamar, obati dia.”seru Ayah Jang in.

Malam itu, aku terus berpikir dan kupikir tidak ada lagi alasan untuk tinggal disini lagi. Aku baru saja lulus SMA dan aku bisa bebas memilih universitas yang bagus untukku terutama tidak di kota yang selalu mengingatkanku pada pengkhianatan. Aku bangun dari tempat tidur perlahan, karena aku tidak mau Jang in terbangun dan menggagalkan keputusanku.

Aku mengambil kertas dan menulis sesuatu. Aku tidak membereskan baju atau apapun karena kebanyakan bukanlah milikku, mungkin sejak awal aku tidak boleh datang ke rumah ini. Aku mendekati Jang in dan melihat sekujur tubuhnya penuh lebam. Aku mengobati sekenanya dan tanpa sadar air mataku menetes lagi.

Aku menutup perlahan pintu rumah itu dan memandangi rumah itu untuk terakhir kalinya, aku pasti akan merindukan Ajushi dan Ajumma. Selamat tinggal. Aku masuk ke mobil dan aku tahu mobil ini akan melaju dan membawaku ke kota yang baru. Aku memang menelpon ayahku di London tadi, aku memintanya memenuhi permintaanku. Awalnya ini menjadi suatu kebimbangan buatku, hubunganku dan ayah tidak baik, tapi kurasa kali ini aku harus menurunkan ego ku dan untuk pertama kalinya memohon padanya.

(Flash back end)

“AAAHHHHH…….”aku berteriak sekeras mungkin. Aku tidak sanggup mengingat luka yang terlalu dalam digoreskan di hatiku. Kenapa kau harus datang lagi disaat aku memulai merangkai cerita bahagia di lembaranku yang baru.

to be continue…

First published on Gisela’s FB on Monday, January 24th 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s