[One Shot] Strawberry Jam (My Everything)

Author : Rina Nay Primadonna

Title : Strawberry Jam (My Everything)

Main Casts :
Park Jae Mi
Lee Dong Hae

Support Casts :
Jung Ga Eul
Jaejoong JYJ as Kim Jae Joong
Ga Eul Junior
Eomma Jae Mi

Genre : Romance

Rating : PG-13 (?)

Length : OS

N/A : Just Fiction 🙂

 

***

 

‘Hidup ini seperti selai strawberry. Manis, asam, dan segar bernaung diantara dua helai roti. Dalam satu gigitan, seluruh partikel rasa itu berbaur menyatu. Menciptakan sebuah rasa yang mengagumkan. Begitu pula dengan kehidupan. Dihiasi dengan kebahagiaan, penderitaan, cinta, dan harapan. Suatu saat partikel emosi itupun akan menyatu tak ayalnya bagai Adam dan Hawa. Yang tanpa kau sadari akan memberimu sebuah makna kehidupan.’

***

AKU mematut lagi diriku didepan cermin besar yang terpajang angkuh dikamarku. Melenggok kesana kemari demi memastikan kesempurnaan yang kuharap. Sekali lagi, aku mengecek penampilanku. Tatanan rambut, make up wajah, pakaian, bahkan sepatu.

Konyol. Memang. Ini bukan kali pertama aku nge-date, tapi kurasa persiapan kali ini benar-benar matang. Benar-benar membuatku gugup. Mungkin ini semua karena aku tidak ingin sang peri cupid membatalkan niatnya untuk menjodohkan kami. Seperti yang pernah terjadi dahulu..

Ah, sudahlah.. Memikirkannya membuat dadaku terasa terhimpit batu kesengsaraan yang begitu berat.

Beep…

Ponsel-ku bergetar satu kali. Pertanda sebuah pesan mampir ke nomor-ku.

Perlahan bibir yang sudah kupoles lipbalm mengukir sebuah senyum simpul ketika membaca sederetan huruf hangul yang tertera dilayar ponsel-ku.

Dari dia..

Seorang namja yang sukses memenuhi seluruh rongga diotakku dengan bayangannya. Seorang namja yang beberapa bulan terakhir ini selalu mondar-mandir dimemory otakku. Seorang namja yang telah berhasil membangkitkan semangatku dari keterpurukan sebuah cinta yang gagal. Seorang namja yang akrab kupanggil Donghae.

From : Donghae

Jaemi~ya, aku sudah sampai ditempat janjian kita. Ppaliwa ^^ ~~

Dengan satu gerakan, aku meraih tas kecil dengan detail yang sesuai dengan pakaianku. Lalu meluncur sekilat mungkin agar namja yang kusukai itu tidak terlalu lama menunggu.

***

Kuedarkan pandanganku ketika kaki jenjangku baru saja menapaki cafe ini. Terlihat seorang namja berpakaian casual melambaikan tangannya padaku. Lee Dong Hae. Ia tersenyum, begitu pula aku.

Baru saja aku ingin membimbing langkahku untuk menghampirinya, ketika dengan terburu-buru ia justru menghampiriku terlebih dahulu.

“Jaemi~ya!” panggilnya ceria.

Aku tersenyum, memaksanya untuk melihat sederetan gigiku yang cukup rapi, “Sudah lama menunggu?” tanyaku berbasa-basi.

Donghae melirik arloji hitam ditangan kirinya. Memasang tampang berfikir, “Eum, sekitar satu jam.” jawabnya polos namun mampu membuat mataku terbelalak.

Satu jam?

Bahkan perjalanan dari rumahku ke cafe ini saja tidak lebih dari 15 menit. Bagaimana bisa??

Sepertinya Donghae mengerti arti dari ekspresi wajahku, maka dia tersenyum dan melanjutkan, “Bukan salahmu. Aku hanya terlalu bersemangat, jadi aku datang satu jam lebih awal.” ujarnya masih tetap tersenyum.

Seolah tak memberi kesempatan padaku untuk tersipu–karena perkataannya, dengan cepat ia menarik tanganku, “Kajja, kita ketempat lain!”

***

Mobil sport berwarna merah—milik Donghae—berhenti didepan sebuah tempat makan yang sangat familiar untukku. Sejenak, aku tertegun. Perlahan bagian-bagian kecil dari memory itupun singgah kembali diotakku.

“Jaemi~ya, ini tempat makan favorite-ku. Tepatnya, makanan favorite-ku ada direstoran ini. Kau juga harus menyukainya!”

Sial! Kenapa perkataan itu terus saja teringat diotakku?! Lupakan, Jaemi! Lupakan! Lupakan!!

“Jaemi?”

Kutolehkan wajahku kesumber suara guna mencari tahu siapa yang baru saja menembus angan bodohku. Ah, Donghae. Aku sampai lupa bahwa sekarang aku sedang bersamanya. Dan.. Dia yang membawaku ke tempat terkutuk ini!!

“Gwaenchana?” tanyanya. Membuatku otomatis menganggukkan kepalaku.

Donghae keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untukku. Membuatku bak Cinderella tersasar dimalam yang mendadak suram ini. Tentu saja bukan suram karena Pangeran yang kini berjalan santai disampingku, tapi karena tempat makan sederhana yang terdapat dihadapanku. Yang seolah mentertawakanku karena aku telah menelan ludahku sendiri. Mengingkari kata-kata yang aku ikrarkan dahulu.

“Aku tidak akan pernah lagi menjejakkan kakiku direstoran ini!! Tidak akan!!”

Entah waras atau tidak ketika aku mengatakannya. Karena saat itu aku benar-benar berada dipintu jurang keterpurukan. Dengan satu dorongan pelan saja, maka aku akan jatuh.

“Kajja! Tunggu apa lagi??”

Lagi, sang Pangeran menyadarkan Cinderella dari dunia kelamnya sendiri. Membuat sang Cinderella mengangguk pasrah.

“Kau mau pesan apa?” tanya Donghae ketika kami telah menghempaskan pantat kami disebuah kursi kayu bergaya clasic dilatar tempat makan ini. Ya, kami memilih tempat diluar, agar dapat memandang ribuan bintang bersama. Menikmati keindahannya dengan mata telanjang.

“Em..terserah saja. Aku percaya rekomendasi-mu.” sahutku.

“Ye, kau pasti tidak akan menyesal memercayaiku,” katanya yakin kemudian beranjak.

Sistem pemesanan di tempat makan ini masih sama. Harus pembeli yang memesan sendiri dan menunggui makanannya sampai selesai. Lalu pembeli pula lah yang membawa makanannya sendiri.

Merepotkan. Tapi meskipun begitu, entah mengapa tempat makan ini selalu ramai. Apakah makanan yang disajikan benar-benar enak? Entahlah..

Ngomong-ngomong soal makanan, kuharap Donghae benar, bahwa aku tidak akan menyesal memercayai rekomendasinya. Semoga dia tidak memesan makanan itu..

“Pesanan datang, Tuan Putri..”

Aku terkekeh pelan mendengarnya, “Aku ini Cinderella, Lee Dong Hae! Dan kau adalah Pang—”

Ups! Sial! Mulut macam apa kau ini, huh?? Menghianati majikanmu sendiri!!!

Aku terus merutuki diriku sendiri ketika kulihat Donghae sedang menghujaniku dengan tatapan herannya.

“Kau..Cinderella?” ulangnya, “Dan aku? Pang?? Pang apa??”

Tiba-tiba saja kudapati paru-paruku tidak becus bekerja karena kurasakan asupan oksigenku melemah. Ah, berarti ini bukan salah paru-paruku. Tapi hidungku! Kenapa dia tidak mau menghirup oksigen dan justru diam saja?? Aish, ini karena kau, mulut! Lihat saja, sampai dirumah akan aku bungkam kau!!

“Jaemi? Hey! Yaah, melamun!! Sudah, makan makananmu! Nanti keburu dingin!” suruhnya.

Hufh!

Akhirnya aku bisa bernafas lega juga. Syukurlah Donghae tidak mempermasalahkannya.

Aku menunduk guna mencari tahu apa yang dipesan oleh Pangeranku ini.

Deg!

“I..ini??”

“Ne, roti panggang!”

Aku tahu. Aku tahu ini roti panggang. Tapi demi Tuhan, katakan padaku selai apa yang Donghae pilih untuk dipadukan dengan roti panggang ini!! Semoga bukan—

“Roti panggang isi selai strawberry!”

Deg!

Oh, Tuhan! Katakan padaku bahwa aku salah dengar, jebal~

“Jaemi~ya, ottoke? Kau suka??”

“Roti panggang isi selai strawberry!!!”

“Selai strawberry?”

“Ne, Kau pasti suka ‘kan, jagi?? Apalagi selai strawberry memiliki filosofi kehidupan yang bermakna.”

“Filosofi kehidupan?”

“Ne, dengarlah, ‘Hidup ini seperti selai strawberry. Manis, asam, dan segar bernaung diantara dua helai roti. Dalam satu gigitan, seluruh partikel rasa itu berbaur menyatu. Menciptakan sebuah rasa yang mengagumkan. Begitu pula dengan kehidupan. Dihiasi dengan kebahagiaan, penderitaan, cinta, dan harapan. Suatu saat partikel emosi itupun akan menyatu tak ayalnya bagai Adam dan Hawa. Yang tanpa kau sadari akan memberimu sebuah makna kehidupan’. Tahu, kan?”

“Ne, aku tahu..”

“Jadi, kau suka selai strawberry??”

“Jaemi~ya?? Kau..kau tidak suka selai strawberry, ya??” pertanyaan Donghae mampu menembus alam bawah sadarku yang sedang berkelana kekejadian sekitar setahun yang lalu. Membuatku mengerjap samar, dan mendapati Donghae tengah menatapku. Meminta jawaban.

“Aku..aku…”

“Aku memang tahu filosofi itu, oppa. Tapi, aku tidak suka selai strawberry..”

“Kau tidak suka selai strawberry???”

“Ne.”

“Jaemi~ya..kita akhiri saja.”

“Mwo??”

“Hubungan ini. Kita..kita akhiri saja. Selamat tinggal.”

 

“Aku..aku suka selai strawberry.” kataku akhirnya.

Donghae tersenyum, memamerkan pesonanya yang begitu memukau, “Aku tahu kau akan menyukai rekomendasiku,” katanya.

Aku menghela nafas. Kuperhatikan makanan dihadapanku. Dia seolah mentertawakanku karena kini aku harus berpura-pura menyukainya.

Ah, kenapa aku harus melakukan ini?? Berpura-pura menyukai selai strawberry hanya demi seorang namja yang bahkan belum resmi menjadi namjachingu-ku. Ini konyol. Atas dasar apa aku melakukannya? Apakah karena aku sungguh-sungguh menyukai seorang Lee Dong Hae? Ataukah hanya takut jika kejadian bersama Kim Jae Joong—mantanku—dulu terulang kembali??

“Donghae,”

“Uhm?”

“Kau..kalau boleh aku tahu, kenapa kau menyukai selai strawberry?”

Pertanyaan konyol. Aku tahu Donghae pun beranggapan sama sepertiku. Terbaca jelas dijidatnya yang tertulis besar-besar ‘pertanyaan bodoh macam apa itu?’.

Tapi Donghae sungguh baik, karena ia justru tersenyum, “Karena..selai strawberry itu enak!”

Aku membelalakkan mataku, hanya itu? Hanya itu jawabannya? Good. Jangan kait-kaitkan dengan filosofi bodoh itu!!

“Dan, lagipula…” ia menggantungkan kalimatnya sendiri, lalu melahap sepotong roti,

“Bukankah selai strawberry memiliki filosofi kehidupan yang bermakna?”

***

Aku termenung dimeja belajarku. Karena meja belajar ini berhadapan langsung dengan jendela besar berdinding kaca, dengan bebas aku dapat melihat langit biru. Langit yang tenang, namun tidak setenang hatiku.

Ini aneh. Bagaimana bisa lagi-lagi aku terjerat pada pesona seorang namja yang menyukai selai strawberry?? Ini konyol. Haruskah aku belajar menyukai selai strawberry? Kuakui selai strawberry memang enak. Tapi aku tidak suka..

“Jaemi, kajja, temani eomma ke Supermaket!”

Kutolehkan wajahku kesumber suara. Terlihat eomma sudah rapi ingin pergi. Aku menggeleng malas.

“Aku lelah, eomma..” rengekku.

“Aih, kau ini! Ya sudah, kau jaga rumah. Eomma ke Supermaket dulu.”

“Eomma,” panggilku ketika eomma hampir saja menghilang (bagai jin XD) dibalik pintu. Eomma menoleh, dan menatapku dengan tatapan penuh tanya.

“Boleh menitip sesuatu?”

“Apa?”

“Emm, tolong belikan—ah! Tidak jadi deh!” kataku.

Untuk apa..? Untuk apa aku berkorban untuk seseorang belum tentu menyukaiku? Lupakan, itu konyol!!

Beep..

1 New Message from Donghae

From : Donghae

Tengok ke halaman dibawah kamarmu, sekarang ^^

 

Hey? Apa maksudnya?? Tanpa membalas pesan misterius dari Donghae, aku segera beranjak menuju balkon dan seketika terpana melihat kebawah sana.

Bunga-bunga merangkai sebuah kalimat I LOVE U. Donghae? Apa dia yang menyiapkan semuanya?? Astaga..

“Eomma, siapa yang menyiapkan ini semua?” tanyaku pada eomma yang sudah berdiri disisiku entah sejak kapan.

“Tadi ada temanmu yang meminta izin. Namanya Lee Dong Hae. Nuguseyo?”

“Jinjja??” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaan eomma mengenai siapa itu Lee Dong Hae.

Eomma mengangguk dan itu membuat senyumku semakin merekah.

“Emm..eomma, tolong belikan aku..selai strawberry.” kataku pelan.

“Jaemi~ya?” mata eomma-ku membulat sempurna mendengarnya, “Kau.. Kembali lagi dengan Jaejoong???”

“Aniyo, eomma. Kini bukan Jaejoong..”

***

Malam ini Donghae mengajakku dinner. Kuharap bukan ke tempat itu lagi. Seharian ini aku telah menghabiskan banyak selai strawberry hanya untuk membiasakan lidahku terhadap rasanya. Kepalaku sampai terasa pening. Jadi, jika malam ini aku disuguhi selai strawberry lagi, kurasa aku akan pingsan.

Ya, sudah kuputuskan untuk belajar menyukai selai strawberry. Demi dia. Demi namjachingu baruku. Lee Dong Hae.

“Jaemi, ada Donghae!”

“Ne, eomma. Sebentar!”

***

Bulan memancarkan sinarnya malu-malu. Mengintip dibalik awan malam yang menjadi saksi kegusaranku. Oke, Donghae memang tidak mengajakku ke tempat makan itu lagi. Dia membawaku ke sebuah restoran Italia yang begitu menakjubkan! Tapi, hey! Lihat menu apa yang ada dimeja kami sekarang! Memang bukan roti panggang. Tapi…sebuah makanan—entah apa akupun tidak tahu namanya—yang juga mengandung selai strawberry!!

Sial! Tidak bisakah ia melupakan sejenak saja selai itu dimalam penting ini??

“Jaemi, kenapa tidak dimakan?? Kau tidak suka?”

“Ah, aniyo aniyo. Aku suka, kok!” sahutku.

“Donghae?” sebuah suara milik seorang yeoja—entah siapa—hadir diantar perbincanganku dan Donghae. Membuat kami memutar kepala bersamaan guna mencari tahu sang empunya suara lembut itu.

“Gaeul!” seru Donghae seraya tersenyum. Ia meraih tanganku untuk ikut berdiri dengannya. Alhasil kini kami—aku dan Donghae—sudah berhadapan langsung dengan seorang yeoja yang tadi dipanggil Gaeul.

Yeoja bernama Gaeul ini tidak sendiri. Ia menggendong seorang bayi yang—menurutku usianya belum genap satu tahun. Entah mengapa, melihat anak ini, melihat mata, hidung dan bibirnya, mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang—

“Jaemi, kenalkan ini Gaeul. Jung Ga Eul, temanku saat di SMA dulu. Dan ini, Gaeul junior. Haha.” ujar Donghae memperkenalkan kami, “Dan ini, Park Jae Mi. Yeojachingu-ku.” lanjutnya.

Gaeul tersenyum. Begitu juga dengan Gaeul junior yang memperlihatkan gusinya yang belum ada giginya. Lucu.

“Aigo, lucunyaaa..” kataku seraya mencubit gemas pipi Gaeul junior. Anak ini benar-benar mirip dengan orang itu..

“Donghae~ya, benar Jaemi ini yeojachingu-mu? Aigo, pintar mencari yeoja sekarang kau, ya!” ledek Gaeul dan kami hanya tertawa.

“Mana appa-nya?”

“Aaa, dia sedang ditoilet,” jawab Gaeul, “Nah, itu dia! Yeobo! Disini!” seru Gaeul sambil melambaikan tangannya.

“Nah, kenalkan Jaemi, ini suamiku. Namanya—”

“Oppa..”

“Jaemi?”

“Eh? Kalian sudah saling mengenal?” tanya Donghae. Mewakili rasa penasaran Gaeul yang tersirat diwajahnya.

“Ah, ne. Oppa adal—Em, maksudku, Jaejoong adalah senior kami dikampus dulu, sebelum dia keluar. Ya, kan, Donghae??” jawabku.

Kulihat Donghae mengangguk, dan Gaeul hanya ber-Oh ria. Sementara kusadari aku dan Jaejoong oppa saling tertegun.

Bagaimana tidak, mantanku ternyata sekarang sudah memiliki istri dan seorang anak yang sangat mirip dengannya.

Ah, Kim Jae Joong. Setelah perpisahan yang menyakitkan itu, kenapa kita dipertemukan sekarang dan dengan cara yang seperti ini? Tapi, entah mengapa rasa sakit yang dulu selalu menghantuiku ketika teringat denganmu, kini tak lagi kurasakan. Mungkinkah karena seorang namja yang kini menggenggam tanganku?

Tunggu! Anak ini..usianya hampir satu tahun. Dan, bukankah berakhirnya hubungan kami adalah sekitar satu tahun yang lalu? Jangan-jangan—

“Kalian memesan makanan itu?” tanya Jaejoong tiba-tiba sambil melirik menu dimeja kami.

“Ne, waeyo?” tanya Donghae balik.

“Bukankah 75% dari makanan itu adalah—”

“Selai strawberry.” potong Donghae, “Lalu kenapa??”

Jaejoong mengalihkan pandangannya kearahku. Oh, Tuhan! Jangan biarkan Jaejoong memberitahu Donghae bahwa aku…

“Bukankah Jaemi…”

Tuhan, jebaaaaal!!!

“Bukankah Jaemi tidak—”

“Appa~” tiba-tiba Gaeul junior memanggil Jaejoong. Membuat kata-kata Jaejoong terhenti. Syukurlah.. Terimakasih, Tuhan..

“Ah, kami harus pulang. Sepertinya uri Gaeul junior sudah mengantuk. Kami duluan, ya!” pamit Gaeul, “Annyeong!” lanjutnya sambil menggamit tangan Jaejoong.

Ketika keluarga kecil itu telah menghilang dari pandangan kami, Donghae menarikku agar kembali duduk. Ia melahap makanannya, “Jaemi, makanlah..”

“Ah? Ne.” sahutku kemudian melahap makanan dihadapanku ini dan—

“Hoeeek~”

“Jaemi? Gwaenchana?? Aigo, wajahmu pucat! Kau sakit??”

Haaaahh! Kenapa mual sekali?! Mulutku benar-benar tidak mampu lagi menampung makanan apapun yang berbau selai strawberry. Sudah kubilang ‘kan kalau seharian ini aku menghabiskan banyak selai strawberry? Dan ini adalah puncak dimana mulutku tak lagi menginginkannya.

“Aku..aku tidak enak badan, Donghae. Bisa antar aku pulang?”

Maaf. Maafkan aku karena menghancurkan kencan pertama kita sebagai sepasang kekasih. Maafkan aku..

***

“Astaga, Jaemi?!! Gwaenchana??”

Aku diam. Tak menjawab pertanyaan eomma yang terlihat begitu khawatir melihatku. Separah itukah keadaanku? Kuakui kepalaku sangat pening, perutku mual, dan dapat kurasakan langkahku pun tidak teratur.

“Ahjumma, katanya Jaemi tidak enak badan.” sahut Donghae yang memang mengantarku sampai pintu.

“Kau Donghae, kan?”

“Ne, joneun Lee Dong Hae imnida.”

“Apa kau baru saja memberi Jaemi selai strawberry??”

“Eomma!!” seruku, “Sudahlah, kau pulang saja, Donghae!” aku berusaha mendorong Donghae agar ia beranjak. Tapi sepertinya ia lebih tertarik dengan pembicaraan eomma, karena ia tetap bertahan untuk ada disini.

“Anak muda, ketahuilah, Jaemi tidak suka selai strawberry. Dia hanya—”

“Eomma, cukup!!” potongku.

“Diam, Park Jae Mi! Biarkan namja ini tahu!” eomma balik membentakku, membuatku bungkam. Sementara kulihat Donghae hanya diam.

“Jaemi tidak suka selai strawberry. Jadi…tinggalkan dia secepatnya! Sebelum dia benar-benar cinta mati kepadamu! Jangan seperti Jaejoong!”

“Jaejoong?” ulang Donghae.

“Ne! Kim Jae Joong. Dia—”

“Eomma!” teriakku lagi, “Aku mohon..hiks~ Hentikan..”

***

Angin musim panas berhembus pelan. Menyapa permukaan kulitku lembut. Aku sedang berada di taman dibelakang kampus. Taman yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan pertamaku dengan namja itu. Lee Dong Hae.

FLASHBACK

“Yeay! Dapat!!” seruku ketika berhasil mendapatkan seekor kumbang kecil ditanganku.

Kumbang. Ya, aku suka kumbang. Jangan tanya alasannya karena akupun tidak tahu mengapa aku bisa menyukai hewan mungil berbintik ini.

“Yah! Berikan padaku!”

Aku menengadahkan kepalaku. Berusaha mencari tahu siapa sang pemilik suara yang ingin merebut kumbang tangkapanku. Mataku menyipit silau–karena sinar matahari. Dan didetik berikutnya aku telah hanyut dalam pesona namja dihadapanku ini.

“Berikan padaku!” ujar namja itu seraya merebut kumbang ditanganku.

“Yah! Andwae!! Kumbang ini milikku!” cegahku.

“Aish! Aku harus mendapatkan kumbang ini! Darurat!”

Aku menautkan alis heran, “Untuk apa?”

“Untuk merayu seorang gadis,” jawabnya polos namun mampu membuat mulutku menganga (bagai gua hantu XD).

“Untuk merayumu. Untuk berkenalan denganmu,” katanya lagi dan kini sukses membuat bola mataku hampir keluar.

Sementara aku sibuk mencerna apa yang tengah namja ini katakan, ia terus memamerkan senyumnya yang memesona. Membuatku terhanyut (di kali XD) dalam pikiranku sendiri.

“Lee Dong Hae imnida,” ujarnya dengan tangan terulur, “Dan kau?”

FLASHBACK END

 

Bahkan sampai sekarangpun jika mengingat semua itu, aku tidak dapat menahan diriku sendiri untuk tersenyum. Dasar, Donghae! Namja macam apa kau sebenarnya? Haaaah, bogoshipo..

Ini adalah hari ketiga aku tidak menemui Donghae. Ah, aniyo. Mungkin lebih tepatnya, ‘Donghae tidak menemuiku’.

Benar dugaanku. Setelah ia mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak suka selai strawberry. Dia pergi. Menghilang bagai ditelan kenangan. Miris. Kisah cintaku benar-benar tragis. Dua kali dicampakkan oleh namja pecinta selai strawberry.

Aku mengambil sesuatu dari dalam tasku. Memerhatikannya sebentar, kemudian meraih penutupnya. Membukanya perlahan. Kumasukkan jari telunjukku guna mengambil sedikit isinya. Menatapnya agak lama, kemudian dengan mata terpejam aku mulai membimbingnya kedalam mulutku.

SRET!!

Tiba-tiba kurasakan seseorang—entah sengaja atau tidak—menyenggol—ah, lebih tepatnya ‘menepis’ tanganku yang hampir sampai dimulutku. Membuatku refleks membuka mata. Belum sempat aku menguasai keterkejutanku, sosok yang tadi menepis tanganku kini merebut paksa toples kecil selai strawberry yang sejak tadi kugenggam. Dia membuangnya asal.

Dari tatapan matanya aku tahu dia sedang marah. Tapi kenapa? Apa karena aku telah membohonginya? Berpura-pura menyukai selai strawberry didepannya?

“Dong—”

“BODOH!!” serunya, “Kenapa kau seperti ini, huh?!!”

“Mianhata..” hanya itu yang mampu kukatakan. Aku bahkan tidak sanggup untuk menatap matanya yang terlihat sangat marah itu. Hingga yang kini kulakukan hanyalah menunduk.

“Kau—”

“Maaf. Maafkan aku, Donghae. Maaf karena aku tidak menyukai selai strawber—”

“Hentikan kebodohanmu itu, Jaemi!!!” bentaknya. Membuatku tersentak. Kurasakan mataku mulai memanas dan air matapun bergulir dipipiku.

“Maaf..” kataku lagi dengan suara yang bergetar.

Kukira Donghae akan memarahiku lagi, tapi ternyata aku salah. Dia justru menarik tubuhku kepelukannya. Mengalirkan sebuah energi positif yang mampu menguatkanku.

Aku menangis sebentar dalam rengkuhannya. Entah apa yang aku tangisi. Rasanya sesak seperti dulu ketika Jaejoong meninggalkanku. Tuhan, kenapa aku harus merasakan ini lagi??

Perlahan kurasakan pelukan Donghae merenggang. Dia akan melepasku. Melepasku dan pergi. Aniyo, aku tidak mau! Jadi, yang kulakukan adalah menahannya agar terus memelukku.

“Jaemi..”

“Jangan lepas. Jangan lepas..aku tahu jika kau melepaskan pelukanmu maka kau benar-benar akan melepasku. Hiks.. Jangan lepas, kumohon.. Biarkan lebih lama sedikit saja, kumohon..” racauku dalam pelukannya.

Pelukan ini.. Pelukan yang baru saja aku miliki. Haruskah secepat ini aku merelakannya pergi??

“Jaemi..”

Dengan berat hati aku melepaskan pertahanan akan pelukan Donghae tadi. Air mataku semakin deras sekarang. Memalukan..

“Kenapa kau begitu bodoh?? Berpura-pura menyukai selai strawberry? Kau konyol, Jaemi!!”

“Aku tahu.. Aku hanya tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan Jaejoong dulu,” jawabku masih menunduk.

“Jaejoong, huh?!!” dengusnya, “Kau ini polos atau apa, sih?? Kau percaya kalau dulu Jaejoong memutuskan hubungan kalian hanya karena kau tidak suka selai strawberry??”

“Memang seperti itu..”

Donghae berdecak, “Selama tiga hari terakhir ini aku mencari Jaejoong. Ternyata dia sedang di Busan, dirumah keluarga Gaeul.” ceritanya tanpa diminta, “Kau tahu untuk apa aku mencarinya??”

Aku menggeleng.

“Untuk menanyakan suatu kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian setahun yang lalu.”

Kini Donghae berhasil membuatku menatapnya, “Kesalahpahaman?”

“Ye. Ketahuilah, dia memutuskan hubungan kalian bukan karena masalah selai strawberry.”

“Lalu?”

“Itu karena..karena dia harus segera menikahi Gaeul yang sudah hamil.”

Kali ini benar-benar membuatku tak mampu berkata-kata. Jadi, karena itu?? Astaga..

“Jaejoong tidak berani berkata jujur padamu mengenai dia yang telah berselingkuh dibelakangmu. Jadi, dia berusaha mencari alasan. Dan—”

“Tapi alasan karena aku tidak menyukai selai strawberry itu konyol..”

“Dan yang lebih konyol adalah orang yang memercayainya begitu saja.” sindir Donghae.

Untuk beberapa saat kami hanya berpandangan. Sampai akhirnya aku kalah dan menunduk.

Kurasakan Donghae menyentuh daguku dengan tangan kanannya, kemudian memaksaku untuk mendongak. Untuk menatap matanya. Ketika melihat matanya dengan mataku yang bengkak ini, aku tidak lagi melihat kemarahan seperti tadi. Kini dimatanya penuh (belek XD) sinar ketulusan.

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever known
Your spirit pulls me through
When nothing else will do

 

Donghae terus saja bernyanyi tanpa mau peduli pada air mataku yang kini mulai menganak sungai lagi.

Every night I pray
On bended knee
That you will always be
My everything


Bertepatan dengan berhentinya nyanyian dari mulutnya, ia menghapus air mataku dengan tangannya. Mencium keningku, lalu mendekapku.

Bukannya berhenti menangis, air mataku justru bertambah deras.

“Sshh..uljima.. Jangan lagi menangis karena ku. Itu membuatku merasa sangat jahat.” katanya dipuncak kepalaku. Membuatku mengangguk.

Donghae melepaskan pelukannya, menatapku tepat dimata, “Jangan pernah berpikiran aku akan melepasmu hanya karena selai strawberry. Itu konyol! Aku tidak akan melepasmu. Tidak akan pernah..” ucapnya, membuatku tersenyum.

Lagi, ia mendekapku. Hangat..

“Saranghaeyo, My Everything..”

“Na do saranghae..”

End

 

aaaaaaaaahahahhaha ayo silahkan komen 🙂

 

First published on Nay’s FB onSaturday, August 20th 2011

My comment :
Whoa!!! Jeje oppa teganya dirimu!!! *mewek d pojokan..
Tp untungnya jd sama Ga Eul ya? *itu kan aku jg???
Mana udah ada Ga Eul junior pula.. *maluuu!!!

Eh itu si Dong Hae beneran suka selai strawberry ga ya? Soalnya aku jg kebetulan beneran ga suka selai strawberry.. Hehehe..

Ah! Critanya so sweet.. Gomawo ya, saeng.. Nomu nomu johayo.. 🙂

Oh ya, boleh ijin repost d note fb aku ga? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s