[One Shot Series] Can’t

Author : Rina Nay

Title : Can’t

Mencintai memang sulit. Tetapi ternyata ada yang lebih sulit; mengekspresikannya..

***

Aku tidak pernah mampu mengekspresikan segala hal dengan tepat. Aku pikir—awalnya itu sama sekali bukan masalah yang patut dibesar-besarkan. Tapi—lagi-lagi aku salah. Itu bukan masalah kecil. Mungkin untuk diriku sendiri itu hanya sebuah hal tidak penting. Tetapi aku lupa dengan keberadaan orang-orang disekelilingku. Orang-orang yang bisa saja salah mengartikan semuanya.

Seperti Dia..

Namja itu tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ada dihatiku. Tidak ada yang tahu selain Tuhan. Karena bahkan aku sendiripun tidak tahu..

Park Seo Jin terlihat disudut lorong, melambaikan tangannya padaku sambil memamerkan seulas senyuman. Aku membalasnya dengan hal yang sama, tetapi dengan senyum yang lebih lebar.

“Gwaenchana?” tanya chin-gu-ku yang satu ini setelah langkah kami bersisian.

Aku tidak ingin berpura-pura bodoh dan polos untuk bertanya ‘maksudmu?’ padanya. Percuma. Seo Jin tidak akan percaya bahwa aku tidak mengerti maksud pertanyaan rancunya. Dan itu memang benar. Aku mengerti. Sangat mengerti mengenai apa yang tengah ia bicarakan.

I’m fine..” jawabku sekenanya.

Fine’? Benarkah aku baik-baik saja?

Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan kini. Seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya, aku—Park Jae Mi, tidak pernah mampu mengekspresikan segalanya. Rasa senang, sedih, bahkan bimbang sekalipun, aku tidak mampu mengeluarkan semua itu begitu saja. Karena aku bahkan tidak tahu apa yang tengah kurasakan.

“Park Jae Mi-ya!!”

Aku menoleh dan menyadari Park Seo Jin sedang menatapku sebal, “Nde?”

Bukannya menjawab, ia justru menarik tanganku, membawaku kesebuah sudut yang lebih sepi daripada koridor kampus tadi.

“Dengar,” katanya memulai, “Kau tidak boleh seperti ini terus, Jae Mi!”

Aku tahu.

Aku tahu arah pembicaraan ini.

“Lalu?” sungguh, hanya itu yang bisa kukeluarkan dari mulutku.

Seo Jin mendengus pelan. Aku mengerti posisinya. Setiap kali kami seperti ini, pasti ia ikut pusing. Karena kepadanya lah aku bercerita. Hanya kepada Seo Jin. Karena kurasa hanya dia yang mengerti jalan pikirku.

“Apa yang kau rasakan sekarang?”

Pertanyaannya persis dengan apa yang Dong Hae oppa lontarkan padaku semalam.

Dong Hae. Lee Dong Hae, namjachinguku. Ah, mungkin sekarang aku harus menyebutnya sebagai ex-namjachingu?

“Mollaseo.” Kataku sambil nyengir, tapi Seo Jin sama sekali tidak menanggapi cengiranku. Aku tidak tahu Seo Jin bisa seserius ini, tapi, sungguh, aku lebih tidak tahu lagi dengan apa yang tengah kurasakan.

“Jika kau mempertahankan sifatmu yang seperti ini, aku yakin bukan hanya Dong Hae yang akan pergi darimu. Tapi semua. Semua orang yang mencintai dan kau cintai.”

“…”

“Pikirkan kata-kataku,”

***

From : Dong Hae Oppa

Aku rasa lebih baik kita berteman. Percuma jika suatu hubungan hanya bertepuk sebelah tangan. Jaga dirimu. Maaf, dan terimakasih untuk segalanya.

Aku membaca (lagi) sederetan Message yang Dong Hae oppa kirimkan padaku kemarin malam. Sampai sekarang aku belum membalas apapun. Aku belum memberi penjelasan apapun. Tapi, haruskah aku menjelaskan lagi? Untuk apa? Bukankah ia sudah mengakhiri semuanya?

Mengakhiri. Berakhir. Benarkah sudah benar-benar berakhir?

Ada perasaan tidak rela disini. Ada yang hilang.

Aku tidak mengerti mengapa Dong Hae oppa selalu mempertanyakan perasaanku padanya. Aku tidak tahu mengapa Dong Hae oppa selalu tidak meyakini perasaanku terhadapnya. Ia sering bertanya apakah aku memang benar-benar menyukainya?

Pertanyaan bodoh, bukan?

Jika tidak menyukainya, mengapa selama hampir enam bulan ini aku bertahan untuk bersamanya?

Jika tidak menyukainya, mengapa nomor ponselnya kusimpan sebagai salah satu nomor yang mudah untuk kuhubungi disaat-saat darurat?

Jika aku tidak menyukainya, mengapa aku merindukannya setiap kali aku mulai merasa ingin bersandar karena lelah menghadapi kehidupan?

Jika aku tidak menyukainya, mengapa aku mulai merasa hampa ketika tidak ada Message darinya yang mampir di inbox-ku?

Sederhananya, jika aku tidak menyukainya, mengapa air mataku mengalir dengan sendirinya ketika aku membaca Message yang mengatakan bahwa ia ingin berpisah dariku?

Tidakkah ia menyadarinya? Tidakkah ia memikirkan segala kemungkinan itu?

“Oppa, eottokehaeyo?”

***

“Oppa!”

Namja yang kupanggil ‘oppa’ itupun menoleh. Dan hatiku berdesir perih melihatnya masih mampu memberikan senyuman itu padaku. Padaku yang telah menyakitinya.

“Ne?” katanya.

Aku menarik napas secara tidak kentara dan mengembuskannya dengan cara yang sama.

“Apa yang harus kukatakan padamu agar kau memercayaiku?”

“…”

“Oppa, kau tahu aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku dengan mudah. Kau tahu aku tidak mampu melampiaskan semua dengan bebas. Aku tidak seperti orang lain yang bisa begitu saja mengumbar cinta sekalipun pada kekasihnya. Aku berbeda.”

“…”

“Jadi maafkan aku jika selama ini aku terkesan tidak menyukaimu. Maaf jika aku terkesan tidak peduli padamu, pada hubungan kita. Maaf.”

“…”

“Jujur saja, awalnya aku sama sepertimu. Sempat meragukan perasaanku sendiri. Sama sepertimu yang meragukan perasaanku padamu.”

“…”

“Tapi kemudian aku sadar, oppa.”

“…”

“Jika aku tidak menyukaimu, mengapa aku begitu merindukan genggaman tanganmu ketika kau jauh? Jika aku tidak menyukaimu, mengapa aku berani menunjukkan air mataku dihadapanmu? Jika aku tidak menyukaimu, mengapa sebagian dari diriku ikut terpanggil jika ada yang menyebut namamu?”

“…”

“… Jika aku tidak menyukaimu, mengapa aku bertahan selama ini untuk bersamamu, oppa?”

“…”

“Simpelnya, jika aku tidak menyukaimu, mengapa sekarang aku ada disini dan menjelaskan semua ini kepadamu?”

“…”

Dong Hae oppa bergeming. Aku tahu ia sedang menatapku meski tatapanku tertuju ke sepatuku sendiri dibawah sana. Aku terlalu takut untuk menatapnya. Aku terlalu malu untuk mengakui semua. Ini adalah kali pertama aku melakukan hal ini. Agak sedikit memalukan, tapi rasanya lega.

Setelah beberapa saat, aku mengangkat wajahku, dan Dong Hae oppa masih menatapku, “Baiklah, tugasku sudah selesai untuk mengekspresikan segala yang aku rasakan padamu, oppa. Sekarang aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Hm, yeah, mungkin hanya sekali-kali jika aku sudah tidak mempu menahan rasa rinduku padamu.” Kataku lalu tertawa kecil, “Sekarang, aku pergi. Jaga dirimu. Semoga kau mendapatkan yang lebih segala-galanya dibanding aku. Selamat tinggal, oppa.”

Aku berbalik. Dan aku sadar setelah ini semuanya akan benar-benar berakhir.

“Jae Mi,”

Hatiku mencelos, tetapi terlalu takut untuk berharap lebih. Aku diam, memberinya kesempatan untuk menyuarakan apa yang ingin ia suarakan.

“Kau..” kudengar ia berdehem pelan, “Semoga kau mendapatkan yang lebih baik dariku.”

“…”

“…”

“Neodo, oppa..”

Mungkin memang banyak yang lebih baik darimu, tapi tidak akan ada seseorang yang sama sepertimu, oppa..

Aku tidak pernah membayangkan ternyata sesakit ini rasanya mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang pernah menjadi salah satu bagian dari hidupku. Ternyata sesakit ini mendoakannya agar mendapat yang lebih baik dariku. Ah, sudahlah, sakit ini hanya akan bertahan sementara. Ya, aku yakin..

Dan aku yakin, hidupku tak akan lagi sama tanpa kehadiran seorang Lee Dong Hae..

***End***

Oke, readers, maaf aku hadir bawa Ficlet gajelas nih. Ahaha. Tiba-tiba pengen nulis gini aja tengah malem. Yeah, maaf ya kalo kurang memuaskan dan kurang jelas. Tapi, aku tetep mengharap C & L lho. 🙂

Oiya, Yunita eonni & Risty, aku pinjem namkor kalian yaaaa.. Abisnya bingung mau pake Cast siapa yang bisa di-pair sama si ikan (Dong Hae) haha dan aku inget aku punya Yunita eonni yang biasnya si ikan..

Yasudah, makasih yang mau sempetin baca. Saranghae 🙂

First published on Nay’s FB on Monday, April 23th 2012

My comment :
Ahahaha! Nay!!! Kau mengagetkanku! Pas baca dalam hati ngmg, “Loh? Kok Park Jae Mi?” Trus lanjut baca eh, “Loh? Kok Dong Hae?” Hahahaha..
Jd berasa dbkinin FF lg sama kamu.. Gomawo ya.. 🙂 *geer*
Waaa tp itu endingnya knapa Donghae gamau ngerti jg sih.. Ya ampun dungek!!! Aku itu cinta sama kamu! *ups!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s