[One Shot Series] Can’t (Dong Hae’s side)

Author : Rina Nay

Title : Can’t (Dong Hae’s side)

Yeoja itu masih tetap sama, masih menunjukan seulas senyum yang selalu mampu mengundang kedua sudut bibirku untuk ikut tertarik keatas. Aku bersyukur masih dapat melihatnya tersenyum. Aku kira setelah berpisah denganku ia akan kehilangan—setidaknya sedikit saja keceriaannya. Tapi ternyata tidak. Tidak sama sekali.

Mungkin ada sedikit perasaan terhina yang kurasakan. Terhina disini bukan berarti dia menginjak-injak harga diriku atau apalah itu istilahnya. Tapi, aku merasa sedikit tidak berarti baginya. Karena bahkan senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya, padahal jelas-jelas ia baru saja berpisah dengan namjanya—dan itu aku.

Tapi setengah hatiku lagi justru bersyukur. Karena melihatnya tersenyum sudah membuat hariku yang awalnya begitu abu-abu terasa lebih berwarna.

Perasaan menyesal itu muncul lagi tatkala aku begitu merindukan kehadirannya disisiku—seperti saat ini. Penyesalan dari sebuah keputusan bodoh itu; melepasnya..

Seharusnya aku tahu ia yeoja seperti apa. Seharusnya dari awal aku sadar bahwa ia bukannya tidak mencintaiku, tetapi hanya enggan untuk mengumbarnya. Ya, seharusnya dari 6 bulan kebersamaan kami, aku bisa memahaminya. Mengerti segala sifatnya. Tapi bodohnya aku, aku justru melepasnya begitu saja. Melepas senyuman yang awalnya kumiliki..

Aku bodoh, dan aku tahu.

Tapi yang tidak kumengerti adalah.. Mengapa ketika aku mengajaknya untuk kembali ia justru menolakku? Padahal sudah jelas ia mengatakan sendiri bahwa ia mencintaiku, kan? Bukankah ia sudah menjelaskan semua padaku tempo hari lalu? Oke, memang salahku karena saat itu aku tidak langsung menyuruhnya untuk tetap bersamaku, tapi, hey.. Aku butuh waktu..

Dan ketika aku sudah selesai dengan pertimbanganku, mengapa justru ia yang menjauh? Menolak kehadiranku kembali? Bukankah itu membingungkan?

Dengan alasan ‘takut semua akan terulang kembali’ bukankah itu hanya sebuah alasan yang begitu dangkal? Dalam suatu hubungan bukankah wajar jika terjatuh lebih dulu? Bukankah itu justru akan membuat sutu hubungan akan lebih kuat nantinya? Tapi mengapa ia justru…ah, whatever! Memikirkan itu membuatku muak!

Mungkin aku hanya terlalu merindukannya sampai rasanya aku ingin menuntut penjelasan yanglebih masuk akal darinya.

Aku tersenyum sendiri ketika membaca salah satu postingan Jae Mi di salah satu jejaring sosialnya. Jejaring sosial yang seringkali menjadi alasannya mengacuhkanku—ketika kami masih bersama dulu.

Lagi-lagi ia makan mie instant, hm? Malam-malam begini? Asssh jinjja, seandainya saja keadaannya masih sepeti dulu, aku akan langsung meneleponnya dan melarangnya. Atau, aku akan langsung meraih jaketku lalu ke apartment nya yang tidak jauh dari tempatku tinggal. Lalu setelah itu aku akan menemaninya membeli makan. Apapun, asalkan jangan mie instant. Itu tidak bagus untuk lambungnya yang memang sudah eomma-nya ceritakan padaku.

Kulirik jendela disebrang tempatku duduk. Hujan. Dan tanpa sadar aku tersenyum sendiri mengingat Jae Mi seringkali bermain air ketika hujan turun. Terlihat begitu bahagia seperti ia sudah lama sekali dilanda kekeringan berkepanjangan dan baru menemukan air. Dan aku..merindukannya..

Jae Mi..

Aku meraih ponselku, memandangi layarnya. Ragu ingin mengiriminya pesan singkat..

Lalu setelah lama berperang dengan batinku, aku melemparkan ponsel itu ketempat tidur. Mematikan laptop dan pergi tidur.

Aku, Lee Dong Hae sudah bukan siapa-siapa Jae Mi lagi. Dan aku.. Tidak berhak apa-apa lagi atas dirinya..

***

“Seo Jin-ah,” yeoja yang kupanggil Seo Jin itu menoleh. Ya, benar, dia adalah chingu terdekat Jae Mi.

“Nde?”

“Ah, uhm.. Kau..sendirian?” tanyaku ragu.

Seo Jin menoleh kekanan dan kiri dirinya sendiri, kemudian kembali menatapku, “Seperti yang kau lihat,” jawabnya, bisa diartikan dengan simpel sebagai jawaban ‘Ya, aku sendiri’.

“Park Jae Mi,” kataku lagi, “Eoddiga?”

Seo Jin membuka mulutnya—hendak menjawab, tapi menutupnya lagi lalu melemparkan senyuman padaku, “Kau masih peduli padanya, eo?”

“Tentu saja,” jawabku cepat. Terlalu cepat.

“Jae Mi sakit.” Jawabnya singkat, “Penyakit langganannya,” jelasnya lagi seraya menepuk perutnya.

Aish, benar ‘kan apa kataku, seharusnya ia tidak makan mie instant semalam! Argh!

“Kaja, temui dia! Kurasa dia membutuhkanmu untuk mengantarnya pulang kerumah eomma dan appa-nya. Dan tentu saja ia tidak akan meneleponmu lalu memohon agar kau mengantarnya.” Ujar Seo Jin lagi, “Aku tahu betul Jae Mi bukan tipe yeoja seperti itu. Dan seharusnya kau pun tahu, kan?” setelah mengatakan hal itu Seo Jin berbalik pergi meninggalkanku.

Ya, Seo Jin benar. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku tahu sejak dulu..

***

Wajahnya memang tidak terlalu pucat seperti perkiraanku, tetapi disana terlihat jelas bahwa ia memang sedang tidak sehat. Terlihat begitu lemah. Satu menit pertama aku habiskan untuk menatapnya, hanya menatapnya. Setelah itu aku mencoba tersenyum padanya dan aku bersyukur (lagi) senyuman itu belum sirna diwajahnya.

“Kau sakit?” tanyaku.

Ia tersenyum, “Penyakit biasa,” jawabnya seraya menepuk perutnya pelan.

“Makan mie instant lagi?” tanyaku lagi dengan satu alis terangkat.

Yeoja itu tidak berhasil menyembunyikan keterkejutannya, membuatku bahwa yakin tebakanku tepat. Dan sepertinya iapun tidak mau repot-repot menanyakan darimana aku tahu itu, karena ia hanya membalasnya dengan senyuman meng-iya-kan.

“Kau tidak menyuruhku masuk ke apatment mu?” lagi, aku bertanya. Mengingat posisi kami masih berhadapan didepan pintu apartmentnya yang terbuka.

“Aaa,” kulihat ia ragu sejenak, “Apartment ku berantakan, opp—ah, Dong Hae-ssi.”

Sejak kapan ia sungkan padaku? Ah, benar juga, aku bukan siapa-siapanya sekarang..

“Baiklah.” Kataku, “Seo Jin bilang kau mau pulang kerumah orangtuamu, hm? Cepatlah bersiap-siap, aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu.” Jawabnya tanpa berpikir.

“Wae?”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Tapi kau sedang sakit, Jae Mi-ya.”

“Itu tadi, sekarang aku sudah minum obat dan merasa jauh lebih baik,”

“Jae Mi, dengarkan aku, aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli padamu. Jadi aku mohon, biarkan aku mengantarmu.”

“Dong Hae, aku—“

“Kau tanggung jawabku.” Potongku cepat, sebelum ia mengelak lagi, “Itu yang eomma-mu katakan padaku ketika ia mengijinkanmu untuk tinggal sendiri disini beberapa bulan yang lalu. Jadi aku punya hak untuk mengantarmu sekarang.”

Jae Mi tertunduk, kemudian kembali menatapku dengan tatapan sendunya, “Baiklah, tunggu aku.”

***

Aku mengendarai motorku pelan. Tidak kencang karena aku tahu Jae Mi sedikit takut naik motor. Aku tidak merasakan pegangan tangannya dipinggangku seperti ketika dulu kami bersama. Perubahan ini sungguh membuatku tidak nyaman. Tidak bisakah semua kembali seperti semula?

“Jae Mi, berpeganglah padaku! Kau bisa jatuh,” suruhku ketika kami berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah menyala.

“Ne?”

Aku tahu ia tidak akan menurut sehingga kini tanganku meraih kedua tangannya dan meletakkannya dipinggangku agar ia berpegang pada jaketku. Hanya pada jaketku. Ia menurut, mungkin karena tubuhnya sudah lemas.

Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, membuatku melaju. Beberapa menit berlalu tanpa ada sesuatu yang terjadi. Tapi tiba-tiba aku merasakan Jae Mi yang duduk dibelakangku menjulurkan tangannya melingkari pinggangku. Ia memelukku! Aku tidak berani berharap lebih karena mungkin saja ia hanya merasa begitu lemah karena akupun merasakan kepalanya menyandar dibahuku.

“Jae Mi? Kau masih sadar?” tanyaku, takut-takut ia tidak sadarkan diri dibelakang sana.

Jae Mi tidak menjawab, tapi aku merasakan anggukan kepalanya dibahuku.

“Kau baik-baik saja? Apa perlu kita ke dokter sekarang juga? Atau kerumah sakit?”

Kini ia menggeleng.

“Jae Mi,” aku menghentikan laju motor, ingin memastikan keadaan Jae Mi-ku.

“Kenapa berhenti?” akhirnya Jae Mi buka suara, “Aku baik-baik saja. Ayo, jalankan lagi motormu.” Lanjutnya tanpa mengubah posisinya.

“Jae Mi-ya—“

“Gwaenchana…oppa. Selama ada kau, aku percaya aku akan baik-baik saja.”

Aku menyerah. Menyerah ketika Jae Mi sudah memanggilku ‘Oppa’ seperti dulu lagi. Aku menyerah ketika ia sudah mulai memercayaiku lagi atas keadaannya. Aku menyerah. Apapun status kami saat ini—dan mungkin nanti, biarkan saja itu mengalir. Yang terpenting, aku hanya ingin ada disisinya dalam keadaan apapun..

***END***

Annyeonghaseyoooooo! *bows with all cast*

Ini Dong Hae’s Side nya. Ah, kok agak aneh ya? Biarlah ahahah namanya juga FIKSI! Oiya jadi inget, aku tekankan ya, kalo ini tuh FIKSI! Sungguh, ini F-I-K-S-I !!!! *Readers : biasa aja dong, thor! Ngajak ribut, lu?* ahahah abisnya kok pada bilang ini pengalaman pribadi? Aaaa, akunya kan jadi enak *??* ahahah

Oiya, ada juga (banyak) yg comment katanya ‘karena judulnya Can’t jd harus sad ending (gak nyatu) gitu?’. Ahaha, suer, ini bukan masalah judul, Readers ku yang dicintai para biaaaass… Tapi ini masalah konsep. Dari awal aku udah susun konsep cerita ini begini, jadi aku Cuma ngikutin konsep awal. Haha. Dan, lagi.. Sebenernya aku juga mau ajak Readers berpikir. Gini, loh……

Pernah gak, Readers suka sama seseorang tp gengsi? Entah itu karena alasan apa, tp Readers ogah aja ngehubungin org yg disuka duluan. Mikirnya tuh ‘ngapain sih gw hubungin dia duluan, toh dia jg gak ngehubungin gw. Belum tntu jg dia suka sm gw kan’. Nah, pernah gak terpikir sekali aja dipikiran Readers kalo ternyata orang itu bukannya gak suka sm Readers, tp dia juga gengsi (sama ky Readers)? Dan akhirnya sama2 gengsi dah tuh.

Dan, gimana kalo kasusnya ky Dong Hae sm Jae Mi? Mereka ‘kan udah sama2 tau kalo mreka  sama2 suka, knapa gak nyatu aja? Yg ky gitu jg trnyata masih ada saling gengsinya jg lhooo.. Dan yang kaya gitu, sampe monyet bertelur *?* juga gak akan nyatu.. nah, aku sih Cuma pengen menggambarkan yg kaya gitu aja. Yaaa, mungkin emang kayanya kalo dipikirin gampang aja kalo sama-sama suka, kenapa gak jadian? Gitu, kan, maksud Readers semua?? Tapi masalahnya gak sesimpel itu, dan salah satunya aku gambarkan dicerita ini. Oke, sekian ^.^ ditunggu RCL nya yaaa

First published on Nay’s FB on Monday, May 14th 2012

My comment :
Gampang bermasalah sama perut… Takut naik motor… Kamu ini paranormal apa ya? Itu eonnie banget tau!!! Sampe kaget pas baca… Hahaha…

Ah! Itu so sweet tp pas adegan naik motor… Mau deh kalo yang bonceng Donghae… :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s