[One Shot] Love Journey

Author : Gisela

Title : Love Journey

Cast :
Wang Xing Ai ♡ Yan Ya Lun
Chen Li Xia
Wu Mei Xing
Wang Dong Cheng (Da Dong)
Wu Zun
Chen Yi Ru

Hai.. Hai.. Maaf, masih masa hiatus nih. (Payah) Kali ini, author membawa FF dengan romansa mandarin, hehe.. untuk someone special, Yunita Suwitnyo yang lagi ultah ni. Semoga kamu dan readers suka ya? Thanks buat kesediaannya membaca dan comment ^o^v

Oya kalo ada salah kata atau ejaan, mohon maklum soalnya author gabisa bahasa mandarin, padahal dulu ada pelajarannya di sekolah, tapi sudah usang gara-gara kelamaan dianggurin, hehehe..

Semoga author bisa menyelesaikan FF selanjutnya dengan cepat.. Thank you.. See you ^^

Sekali lagi, Happy Birthday pyol ^^.. Love you~~~

Oya Pyol, mungkin kamu uda bisa nebak FF ini, ato pura-pura gatau kek kata Unhye, however semoga kamu suka ya? Dan semoga FF ini bisa kasih dikit aja surprise di hari specialmu ^^V

Gbu all~~~

= = =

Di suatu hari aku terbangun di sebuah tempat yang amat asing, tetapi aku akui tempat ini benar-benar indah. Apakah aku sedang bermimpi? Aku menggeliat dan meluruskan tulang punggungku yang terasa lama tertekuk. Aku menoleh. Pantas saja, aku tertidur dengan menyandarkan punggungku di sebuah pohon yang terlihat sudah tua namun masih kokoh dan rindang.

Banyak pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Kenapa aku ada disini? Dimana ini? Dan sejak kapan aku tertidur di tempat seindah ini? Aku beranjak berdiri dan melepas pandanganku, tempat ini mirip hutan, tetapi tak ada kesan menyeramkan sama sekali, dan tak jauh dari tempatku berdiri aku menemukan sebuah danau kecil. Aku mendekat. Airnya sangat jernih dan anehnya air tersebut berwarna pink. Ah, apa aku benar sedang bermimpi? Aku mencelupkan tanganku ke dalam air tersebut, sangat segar dan harum. Namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah suara disusul sebuah lumba-lumba yang bermunculan dari danau itu. Mereka melompat dan menari, aku benar-benar terpukau dengan semua yang ada di tempat ini. Aku menjauh dari danau itu, menelusuri hutan lebih dalam, aku penasaran apa lagi yang akan aku temui disini?

“Xing ai.”

Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Tidak ada seorang pun disana. Aku semakin penasaran lalu meneruskan perjalananku. Namun, suara itu terdengar kembali. Aku mulai kesal. “Hey, tolong keluarlah, jangan bersembunyi seperti pengecut.” Aku kembali berjalan setelah memastikan tak ada suara lagi. Di tengah jalan aku dikejutkan sebuah sinar yang sangat menyilaukan, aku menyipitkan mataku agar dapat menangkap sosok di hadapanku. Dan perlahan bibirku membentuk senyuman. Dia yang dihadapanku sekarang tengah tersenyum amat manis padaku, pastilah aku sedang bermimpi sekarang. Dia orang yang sangat aku cintai.

“XING AI!!!!”

Bruk.. Aku merintih kesakitan. Setelah mendapat seluruh kesadaranku, Li Xia berjongkok di hadapanku, “Ni mei shi ma?” Aku tercenung memikirkan hutan, lumba-lumba, dan pangeranku tadi hanyalah sebuah mimpi. Aku mendesah berkali-kali dan mendapat serangan dari Mei Xing. Ia melempar boneka lumba-lumbaku tepat ke kepalaku, membuatku kembali terkejut.

“Xing ai, kau benar-benar mengkhawatirkan. Kau kenapa?” seakan mendapat kesadaran penuh dari Mei Xing, aku naik ke tempat tidurku lagi dan dengan semangat menceritakan mimpiku barusan. Mereka terlihat antusias dan Li Xia mengikutiku naik ke tempat tidurku, karena Mei Xing sudah diatas sana sejak tadi.

“Kau benar-benar lucu, Xing Ai.” ledek Mei Xing dan lagi-lagi melempar boneka lain ke arahku, boneka ducky. Ya baiklah, dia menertawaiku, lalu aku beralih menatap Li Xia, menanti cemas seperti apa reaksinya. “Ada apa?”tanyanya dengan senyum yang hampir terurai. Rupanya dia juga menganggap ceritaku sangat lucu.

Aku menarik selimut dan menghempaskan tubuhku ke kasur. “Xing ai, kenapa kau tidur lagi? Hey, kita sudah berjanji akan jalan-jalan hari ini kan? Memangnya kau mau menghabiskan liburanmu hanya dengan tiduran. Ayolah, jangan ngambek.”rengek Mei Xing dan aku semakin memperketat selimutku. “Ah, udaranya dingin enak sekali buat tidur.” Kali ini giliran Li Xia menarik selimutku, “Wang Xing Ai, bangun atau aku akan telepon Ya Lun Ge tentang ceritamu tadi.” Aku bangun dari tidurku, “Kau mau katakan apa? Dia sibuk Li Xia, jadi jangan katakan apapun padanya, shi a?” Li Xia tersenyum puas dan kembali menggodaku, “Tidak akan menghabiskan waktunya kan hanya dengan mengatakan kau sangaaaaattt merindukannya sampai kau memimpikannya.” Aku melotot padanya, baru saja aku ingin menyerukan protesku, Mei Xing ikut menimpalinya, “Ah, dui dui dui dui…“

“Jangan hanya mengatakan itu, jie. Bantu aku menyeretnya ke kamar mandi.” ucap Li Xia sambil meletakkan telunjuknya di depan hidungku. Aku tersenyum melihat ekspresi Mei Xing jie, lalu turun dari tempat tidurku, “Aku akan mandi, kalian tunggu sebentar.” Ucapku lantas melepas tawaku. “Dan jangan katakan apapun pada Ya Lun ge” tambahku. Mereka mengacungkan jempol serempak, namun masih saja terlihat senyum yang mencurigakan.

Li Xia dan Mei Xing adalah sahabatku, walau begitu Mei Xing sudah kuanggap sebagai jiejie, aku kira Li Xia pun juga begitu. Meski umur kita sama, tetapi Mei Xing lah yang paling tua jadi aku memanggilnya jiejie. Kami sering bertemu dan menghabiskan waktu untuk wisata kuliner, seperti hari ini. Untunglah ada mereka, karena aku sering kesepian, aku hanya tinggal bersama Da Dong ge, orang tuaku bekerja di luar kota, jadi jika gege tak ada di rumah aku sering ditemani kedua temanku itu.

Kami sudah sampai di cafe dekat taman kota, café ini adalah café favourite kami dan juga Ya Lun ge. Café ini tidak terlalu besar tetapi aku sangat menyukai dekorasi dan suasananya. Seperti biasa, kami memilih tempat yang mengarah ke jalanan, desir angin juga dapat masuk dengan bebasnya. Café ini memang memiliki dua bagian, indoor dan outdoor. Siang ini, cafe tersebut agak sepi dan rasanya hanya terdengar suara tawa kami. Lihatlah, café ini seperti milik kami, benar-benar sangat bebas.

“Oya, sepertinya aku tidak bisa lama, Wu Zun ge mengajakku ke pameran, dia bilang tidak boleh telat. Dui bu qie, aku harus kembali sekarang.”

“Jie, aku ikut, Yi Ru  ge melupakan barangnya lagi, aku harus pulang sekarang baru ke lokasi syuting.” Mei Xing mengangguk.

“Hey, kenapa kalian pergi semua? Kalian sendiri yang mengajakku kesini kan?”protesku. Mereka menunjukan wajah menyesal mereka. “Baiklah, kalian pergilah, hati-hati.”aku kembali duduk dan meneguk jusku. “Dui bu qie, kau masih disini Xing Ai?” Aku tersenyum lalu mengangguk dan tinggalah aku sendiri disini. Baiklah, lebih baik aku disini daripada di rumah, Da Dong ge juga sama sibuknya dengan mereka. Mungkin besok aku akan mencari kesibukan juga.

“Boleh aku duduk disini, nona?”

Aku menoleh pada asal suara itu. “Hey, tutup mulutmu, kalau ada lalat yang masuk, itu berbahaya bukan?” Aku mendengus kesal, mengerucutkan bibirku sampai dia terkekeh. Baiklah, aku mulai mengerti sekarang atas kepergian kedua temanku itu dengan alasan yang cukup, emh.. aneh.

“Kau tidak suka melihatku, Xing Ai? Tidak merindukanku?” tanyanya lagi namun kali ini membuatku sedikit tersentak. Merindukanmu? Tentu saja! Tetapi mengingat kejadian kemarin malam, aku tidak bisa memaafkannya semudah ini. “Kau berkomplot dengan teman-temanku, ge?” dia tersenyum lagi, sangat manis, sama persis waktu bertemu denganku tadi, di mimpiku. “Dui bu qie, aku harus melibatkan mereka untuk mengeluarkanmu dari rumahmu, kau keras kepala sih.”

Aku melengos. Bisa-bisanya dia mengataiku setelah melakukan kesalahan. “Xing Ai, sudah kubilang itu hanya tuntutan pekerjaan, aku tidak pernah menggunakan perasaanku, itu bukan Yan Ya Lun. Jadi jangan cemaskan hal itu lagi, kau kan tahu siapa gadis yang kucintai.” Aku menghela nafas panjang, aku mengerti, sangat mengerti jika ini hanya untuk sebuah pekerjaan, hanya untuk Fahrenheit, group terkenal dimana Da Dong ge, Ya Lun ge, Yi Ru ge, dan Wu Zun ge bernaung. Aku sangat tahu tetapi kenapa kejadian itu terus berulang? Itu menyakiti hatiku dengan telak. Setiap MV yang mereka buat akhir-akhir ini melibatkan adegan kiss dan Ya Lun ge yang seringkali menjadi tokoh utama MV tersebut, yang sialnya harus berpasangan dengan model-model cantik yang tak kukenal.

“Apa yang kau pikirkan, Xing Ai?” ucapannya mengagetkanku dan aku kembali diam. “Kau bisa percaya padaku, Xing Ai.” Dia meraih jemariku dan menggenggamnya erat membuatku menatap matanya yang bulat. Mata yang mampu membuatku jatuh cinta padanya, mata yang selalu ingin kulihat, mata yang tak kutemukan kebohongan di dalamnya. “Aku percaya, ge. Tetapi tetap saja, aku tidak suka. Tidak akan ada adegan seperti itu lagi kan, ge? Shi a?”aku mengguncangkan punggung tangannya dan ia menggenggam tanganku dengan tangan lainnya yang bebas. “Aku pun berharap seperti itu.”

Tak lama setelah itu, aku mendapat pesan dari ponselku. Aku membukanya lalu tersenyum. “Ada apa, Xing Ai?” tanya Ya Lun  ge. Aku mengangkat ponselku, “Mendapat sms pengakuan penipuan dan permohonan maaf dari Li Xia dan Mei Xing jie” Ya Lun  ge ikut tersenyum, “Jangan marah pada mereka, aku yang memintanya.” Aku menghentikan mengetik sms dan menatap Ya Lun ge “Tentu saja, karena aku marah padamu, ge.” dan beralih menatap layar ponselku lagi. “Eh? Xing Ai, kenapa marah padaku? Kan sudah kujelaskan tadi. Xing Ai….” Aku menggelengkan kepalaku dan membuatnya merengek minta maaf, lucu sekali kekasihku ini, padahal dia 5 tahun lebih tua dariku.

Waktu benar-benar terasa berjalan sangat cepat dan hari pun beralih gelap. Ya Lun  ge mengantarku ke rumah. “Ge, xie-xie untuk hari ini. Hati-hati di jalan.”aku berbalik tetapi dia menahanku. Aku menatapnya, raut wajahnya berubah, tidak seperti tadi yang terlihat sangat bebas. Aku menatapnya penuh tanya dan dia berkali-kali menghela nafas. “Wei shen me, ge?” dia menunduk.

“Xing Ai, ada sesuatu yang ingin kukatakan. Ada kabar baik dan kabar buruk, mana yang ingin kau dengar terlebih dulu?” dia menatapku lekat-lekat. “Kabar buruk?” Dia nampak gelisah dan akhirnya membuka mulutnya lagi.

Aku memasuki rumahku dengan malas, dan kulihat Da Dong ge sedang sibuk dengan laptopnya di kamarnya. Aku melongokkan kepalaku dan menyapanya. Dia menyuruhku masuk. Aku hanya diam di sampingnya untuk beberapa lama, sampai gege menghentikan aktivitasnya.

“Ada apa, Xing Ai? Bertengkar lagi dengan Ya Lun?” aku menggeleng. “Ada yang ingin kutanyakan, ge.” Dia mengangguk. “Apa gege juga akan pergi minggu nanti?” Gege hanya diam dan menatapku lama. “Dui bu qie, Xing Ai, aku sangat menyesalinya, tetapi memang kami harus pergi ke Seoul untuk seminggu. Kau bisa tinggal bertiga dengan Li Xia dan Mei Xing, dengan begitu kekhawatiran gege akan berkurang.”

Aku hanya terdiam. “Kau marah pada gege?” Aku menggeleng, “Tidak apa, aku bisa bersenang-senang dengan mereka. Aku kembali ke kamar dulu.” aku tersenyum dan gege mengacak rambutku. “Jangan lupa bawa oleh-oleh untukku, ge atau tidak ada lagi pintu untukmu.” Aku menghambur keluar karena Da Dong ge mencoba menangkapku.

***

Aku terbangun karena bunyi ponselku yang berdering lama. Jam berapa ini, pikirku. Aku meraih ponselku yang terletak tak jauh dariku. Sms dari Ya Lun  ge membuatku terduduk dan menyadarkanku dengan cepat. Tanpa pikir lama, aku mengambil jaket yang tergantung di kursi dan dengan segera aku berlari keluar rumah.

“Ge? Kenapa pagi-pagi begini sudah disini?” Dia hanya tersenyum lalu mengacak rambutku, “Cepat mandi sana, aku tidak mau menyia-nyiakan liburanku ini. oya, pakai baju santai saja. ayoo…” aku hendak protes namun dengan sigap dia mendorong punggungku. “Ah iya baiklah, tunggu di dalam saja, ge. Aku tidak akan lama.”

Dia pun mengikutiku masuk dan kubiarkan dia sendirian di ruang tamu. Hari ini kami memang sudah berjanji untuk jalan-jalan bersama, dan untuk besok dan besok lusanya lagi. Tepatnya dalam 3 hari kedepan. Memang agak aneh, dia bisa memiliki waktu luang sebanyak ini, tetapi aku juga tidak ingin menyiakan waktu-waktu ini, dan inilah yang ia maksud kabar baik.

“Kita akan kemana, ge?” tanyaku saat mobilnya telah memasuki daerah yang asing untukku.

“Rahasia, sebentar lagi kita akan sampai kok.”

Tak lama kemudian, mobilnya berhenti di sebuah emh.. rerumputan yang luas. Disini angin berhembus bebas, untung saja aku tidak membiarkan rambutku terurai, aku mengikatnya ke samping kiri. Ya Lun ge menarik tanganku untuk turun. Rerumputan itu tingginya hampir sebahuku. Aku yang tidak terlalu tinggi sedikit kesusahan untuk melihat jalan di depan dan akibatnya berkali-kali aku tersandung. Untung saja, ada Ya Lun ge di sampingku. Setelah berhasil menembus rerumputan itu, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Aku tak pernah tahu ada pantai yang benar-benar indah dan bersih. Tak ada sampah sama sekali, bahkan pantai ini seperti belum terjamah oleh manusia.

“Darimana kau tahu tempat sekeren ini, ge?” Dia menggenggam tanganku dan berjalan mendekati bibir pantai. Aroma pantai benar-benar terasa, aku sangat suka udara sejuk seperti ini.  Ya Lun ge menghentikan langkahnya lalu duduk sambil memainkan air dengan kakinya. Aku pun duduk di sampingnya.

“Itu juga rahasia, yang kuinginkan sekarang, teruslah tersenyum. Aku ingin menggantikan air matamu yang mengalir, aku ingin menggantikan tissue yang banyak kau habiskan karena aku.” Aku tersenyum, “Darimana kau belajar menggombal?” dia mengacak rambutku sehingga ikatanku pun menjadi berantakan.

Malamnya, Ya Lun ge mengajakku pergi keluar lagi. Aku sedikit menyesalkan ajakan Li Xia dan Mei Xing jie malam ini sehingga tidak bisa menemaninya. Untungnya, mereka selalu bisa mengerti keadaanku. Aku sudah berada di dalam mobil Ya Lun ge dan sedikit merasa aneh dan canggung. Atas paksaan Ya Lun ge, aku pun memakai jumper yang ia berikan padaku siang tadi. Jumper kami sama, seperti jumper pasangan, hanya warna saja yang membedakannya, milikku orange sedang miliknya berwarna hijau, di tengahnya terdapat rajutan bertuliskan LOVE dan yang membuat jumper ini terlihat manis adalah kantung besar yang terletak di tengah ditambah pinggiran hitam putih yang mengelilingi tepi jumper pada bagian bawah dan tangan.

Kami mengelilingi pusat kota, berjalan kaki di malam hari ternyata sangat menyenangkan. Walau aku sedikit khawatir, jika ada fans yang akan mengenali Ya Lun ge, meski ia telah menyamarkan wajahnya dengan kacamata termasuk mengubah gaya rambutnya. Tetapi sepertinya dia benar-benar tidak mempedulikan itu semua. Kami berhenti di toko boneka, lalu dia mengajakku masuk. Kami berjalan lagi, menelusuri jalanan yang ramai dengan pejalan kaki lainnya, Ya Lun ge mengatakan terkadang tempat berbahaya itu justru tempat yang paling aman dan kata-katanya menghilangkan seluruh kekhawatiranku.

Aku masih memeluk boneka dolphin yang baru saja ia belikan, dia menarik tanganku lagi, aku hanya mengikutinya dan kami berhenti di tempat ice skating. Aku menoleh dan menatapnya, “Ge, aku tidak bisa bermain ski.” Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ipod miliknya, lalu memasangkan headseat di telingaku dan memasangkan sebelahnya lagi di telinganya, “Ayo! Percaya saja padaku, ikuti aku, aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendiri, ok?” dia menggenggam jemariku amat erat, meski aku masih takut, toh aku mengikutinya juga.

Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, sangat lelah tetapi hari ini benar-benar menyenangkan. Aku mengambil ponselku dan memencet salah satu nomor di call log. Aku ingin menceritakan semua kejadian menakjubkan hari ini kepada mereka. Aku ingin berterima kasih pada orang yang telah menciptakan layanan conference, ini sangat memudahkanku membagikan kebahagiaanku pada orang-orang yang kusayangi.

***

Aku mengganti lensa kameraku beberapa kali dan dari ujung mataku aku dapat melihat Ya Lun ge tengah memperhatikanku. Aku menoleh, “Kau tidak mau kufoto, ge?” Dia terkekeh, “Kau fans beratku juga rupanya?” lalu berpose sangat imut di depan boneka-boneka beruang.

Saat ini kami berada di istana boneka, berbagai macam boneka ada disini, mickey mouse, teddy bear, pooh dan teman-temannya. Hari ini adalah hari kedua traveling kami. Di tempat ini banyak dipenuhi pasangan dan juga anak-anak kecil. Melihat boneka-boneka ini rasanya ingin kubawa pulang, tetapi itu tidak mungkin. Aku memeluk gemas salah satu boneka kelinci berukuran besar dan Ya Lun ge memotretnya untukku. Setelah kami puas bermain dan mengambil beberapa jepretan, kami menikmati makan siang di sebuah kedai, rumah alpukat namanya. Tempat ini benar-benar unik, hampir semua perabotan berwarna hijau dan menyerupai alpukat, begitu pula dengan makanan dan minuman yang disajikan, semuanya memanfaatkan buah manis ini.

“Tempat hebat mana lagi kali ini, Xing Ai?”tanya Mei Xing jie di telepon.

“Bu zhi dao, aku benar-benar diberi surprise 2 hari ini, jie.” sahutku sembari merapikan dressku. Dress ini hadiah dari Da Dong ge, sudah lama tidak kupakai, jadi tak ada salahnya kupakai malam ini. Aku menyukai dress ini, simple dan nyaman. Dress berwarna pink pucat selutut, dibagian leher tedapat pita panjang dengan ujung pita yang tergerai. Dan membiarkan rambut sebahuku terurai.

Ting Tong…

Pasti itu Ya Lun ge, pikirku. “Jie, Ya Lun ge sudah menjemputku, nanti malam akan kutelpon lagi, titip salam untuk Li Xia. Sampai jumpa nanti.” kataku dan memutus sambungan telepon setelah Mei Xing jie mengiyakan.

Tujuan kami malam ini adalah pondok cokelat. Saat melihat papan nama toko ini, mataku membulat dan ada sesuatu yang melonjak dalam jantungku. “Ge…” kataku menatapnya, mungkin saat ini, sihir dongeng sedang bekerja padaku, mataku pasti tengah berbinar sekarang. Dia tersenyum lalu membelai kepalaku, “Kau bisa makan sepuasnya hari ini, kau juga boleh membawanya pulang, tetapi ingat jangan makan berlebihan, selain coklat tidak terlalu baik untuk kesehatan wanita, aku juga tidak mau kau sakit gigi karena aku, hm?” Aku mengangguk antusias.

Sepulang dari pondok cokelat, kami duduk di sebuah taman kecil. Kami banyak bercerita, rasanya sudah sangat lama aku tidak berbincang dengannya. Aku yakin setelah liburan ini selesai, aku pasti sangat merindukannya. “Ayo, aku antar kau pulang.” Aku beranjak dari kursi namun aku terduduk lagi, pergelangan kaki kiriku terasa sangat nyeri. “Kau tidak apa? Emh, sepertinya terkilir saat kau jatuh di ice skating kemarin.” Dahiku mengernyit, “Tetapi sebelumnya tak apa, ge. Bahkan kita berjalan cukup jauh hari ini, bukan?” Ya Lun ge berjongkok dan memeriksa pergelangan kakiku, “sepertinya semakin parah karena hari ini dan juga udara malam ini.” Aku mendesah, rupanya kebahagiaan memang tidak bisa lepas dari rasa sakit. Entah aku harus senang atau sebaliknya, Ya Lun ge menggendongku di punggungnya sampai kami sampai di parkiran. Terima kasih untuk orang yang telah membangun arena ice skating.

***

Siang ini, aku menghabiskannya di rumahku sendiri. Ya Lun ge mengatakan masih harus mengurus kepergiaannya ke Seoul besok, begitu pula dengan Da Dong ge. Aku mendesah. Meski akhir-akhir ini, aku menghabiskan waktuku bersama Ya Lun ge, tetapi tetap saja, aku ingin merayakan bersama dengannya besok. Ini akan menjadi hari ulang tahunku yang tersepi dan menyedihkan, tanpa orang-orang yang sangat kusayangi. Aku teringat percakapanku dengan Li Xia dan Mei Xing di telepon kemarin malam. Aku mendesah lagi, benar-benar sendiri, benakku. Li Xia harus mengurus kuliahnya yang akan dimulai minggu depan sedang Mei Xing jie mengatakan ada masalah dengan café milik keluarganya, sehingga ia harus pulang malam ini juga.

Malam harinya, Ya Lun ge mengajakku ke taman bermain. Hampir semua wahana telah kami naiki. Seru sekali!

“Ge, kita naik torpedo yuk!”ajakku namun aku merasa tanganku tertahan. Aku menoleh, Ya Lun ge tengah menundukan kepalanya. Aku mengangkat wajahnya hingga sejajar dengan wajahku, wajahnya pucat. Apa aku yang menyebabkannya seperti ini? “Istirahat sebentar, Xing Ai.” Aku mengangguk dan kami duduk di sebuah bangku kayu. Tepat jauh di hadapan kami, wahana torpedo mulai bergerak dan teriakan histeris mulai menyeruak. Ah, lebih baik tidak bermain lagi, aku tidak ingin menyiksa kekasihku lebih jauh lagi.

“Xing Ai, malam ini juga aku akan terbang ke seoul, kau tak marah bukan?”

“Oh, malam ini ya? Tak apa, ge. Hati-hati ya?” Kami kembali diam sampai ponselku berdering, “Oh Da Dong ge, ada apa? Oh begitu, iya aku mengerti, hati-hati. Umh, iya kami di taman bermain sekarang. bye..” Aku memasukkan ponselku kembali. “Da Dong ya? Dia sudah berangkat?” Aku mengangguk. “Ayo, ada satu wahana lagi yang tidak boleh dilewatkan.” Dia menarik tanganku erat.

Tak membutuhkan waktu lama, sekarang kami sudah diatas bianglala. Menikmati pemandangan kota Taiwan dari atas. Sungguh malam yang menakjubkan. Aku sangat menyukai bianglala, sejak kecil sampai sekarang bahkan sampai tua nanti. “Kau senang?” tanyanya sambil mengusap kepalaku pelan. Aku tersenyum lalu mengangguk tegas.

Setelah 3 kali putaran, Ya Lun ge mengantarku ke rumah dan ia mengecup keningku sebelum kami berpisah untuk satu minggu ke depan. “Sampai jumpa”kataku dan segera memasuki rumahku. Di halaman depan aku dikejutkan seseorang, “Li Xia? Kau ada disini? Sejak kapan? Kenapa tidak memberitahuku? Di luar kan sangat dingin?” aku merocos begitu saja. “Haha, Jangan khawatir, aku baru saja datang.” Aku memutar knop pintu dan mempersilahkannya masuk, lalu membuatkan segelas teh panas untuknya. “Seharusnya mengurus kuliahmu bukan?” Dia tersenyum, “Sudah diurus gege, jadi aku menginap disini tak apa kan?” Aku melompat ke sofa yang didudukinya, “Kau serius? Ah itu benar-benar bagus.” Li Xia kembali tersenyum lalu memelukku.

Malam ini aku terlelap lebih cepat dari biasanya, begitu pula dengan Li Xia yang lebih dulu tertidur. Udara sejuk juga menambah rasa kantukku.

“Xing Ai. Xing Ai.” Aku mengerjap, “Eh? Li Xia? Kau belum tidur?” tanyaku lalu berusaha bangun. “Tidak bisa tidur, Xing Ai. Perutku lapar, makan yuk.” Rengeknya sambil mengelus perutnya. “Ahh, tetapi makan tengah malam begini bobotku bisa bertambah drastis.” Dia memulai menggunakan puppy eyes nya, “Tak akan, hanya untuk malam ini. hm?” Aku mengangkat kedua bahuku dan dia tersenyum penuh kemenangan. Aku membuka pintu kamarku dan bunyi letupan-letupan segera menyeruak, “Hei. Hei. Ada apa ini?” Aku mengerjap-ngerjap, berusaha mengamati sosok di hadapanku, karena lampu-lampu di ruang tengah sudah kumatikan, hanya tersisa lampu kecil di taman belakang, ditambah korden yang menutupi seluruh pencahayaan dari taman belakang.

“Happy birthday Wang Xing Ai!!!”

Aku memekik, “Kalian?!” setelah mendengar suaranya, aku tahu itu pasti mereka. Mereka telah membohongiku. “Cepat buat permohonan dan tiup lilinnya.” emh, ini pasti suara Mei Xing jie.

Aku memejamkan mataku, membuat satu permohonan lalu meniup semua lilin di atas tart yang dibawa Ya Lun ge. Dan dengan segera, seluruh lampu di ruang tengah menyala terang. Aku melipat kedua tanganku ke depan, “Kalian tega! Lagi-lagi bersama-sama merencanakan ini untuk mengerjaiku.” Mereka tertawa, kompak sekali pikirku. “Kita tidak berbohong kok, Fahrenheit memang ada konser di Seoul tetapi untuk akhir tahun nanti.” Ya Lun ge mengawali penjelasan. Mei Xing jie melanjutkan, “Aku juga harus pulang, café akan direnovasi, tetapi itu masih seminggu lagi.” Bagus sekali, mereka merancang ini semua. “Selesaikan sekarang.”

Mereka saling bertukar pandang lalu menatapku bingung. “Jika masih ada pengakuan lainnya atau kejutan yang lainnya, selesaikan saja sekarang, jangan membuatku terkejut terus.” Mereka menggeleng, “Sudah tidak ada kok, tetapi Xing Ai aku tidak berbohong kalau aku lapar sekarang, kapan makannya?” ucapan Li Xia membuatku dan yang lain tertawa dan kami pun makan bersama di tengah malam. Tentu saja, aku tidak ikut memasak, selain ini hari special ku, itu hukuman juga untuk mereka. Dan terima kasih untuk orang-orang yang sangat kusayangi.

“Ah, aku lupa!” teriak Mei Xing jie. “Ada apa?” tanya Wu Zun ge diikuti pandangan kami yang meminta penjelasan. “Ge, tas ku tertinggal di toko tart tadi. Di dalamnya banyak barang-barang penting. Bagaimana ini?” Wu Zun ge mengetuk kepala Mei Xing jie, “Kenapa kau selalu ceroboh? Ayo kita kesana.”

“Tunggu, kami ikut.” Dahiku mengernyit, “Kenapa ‘kami’? Sangat mencurigakan.” Dan mereka pergi hanya dengan menjawab pertanyaanku dengan senyuman. Baiklah, apa lagi sekarang?

Hening untuk beberapa saat. Aku membuka percakapan, “Kau tidak ikut mereka juga, ge?” Ya Lun ge hanya menggeleng. Suasana hening kembali hadir. Ah, sungguh membosankan dan aku beranjak dari kursiku, namun Ya Lun ge menggenggam tanganku dan mendekati taman belakang. “Ada apa?”tanyaku. Dia tersenyum lalu menggeser pintu sehingga kami bisa melihat jelas pemandangan taman belakang rumahku. Mataku membulat, “Ge? Kau yang membuat ini semua?” Dia tersenyum lagi, “Kau suka?”

Kami berjalan ke tengah taman yang dikelilingi lilin kecil dengan aroma yang harum. Bahkan di tengah kolam juga nampak beberapa lilin yang mengapung. Ya Lun ge menghentikan langkahnya di kursi kayu kecil. Kursi itu Da Dong ge sendiri yang merancangnya, bentuknya unik dengan ukiran yang menggambarkan kursi itu sebuah batang pohon tua yang ditebang. Kami duduk disitu dan menatap lilin-lilin yang kami lewati tadi. Dari kursi ini, lilin tersebut terlihat membentuk dua hati yang saling berkait.

“Benar-benar keren.”ucapku sambil menyandarkan kepalaku ke bahunya dan  terus memandangi taman rumahku yang telah disulap menjadi sangat cantik, padahal aku masih ingat dedaunan kering berserakan di setiap sudut, kolam dan tentu saja tidak ada lilin.

“Happy birthday, Xing Ai.” ucapnya lalu memelukku. “Xie xie ge. Untuk semuanya, xie xie.” Dia melepas pelukannya dan menatapku, “Pengakuan selanjutnya..” Aku menatapnya tak mengerti. “Aku tidak melakukannya sendiri, mereka yang menyulap taman ini, aku hanya membuat rencananya saja.” Aku menggembungkan pipiku, “Kapan mereka melakukannya? Bukannya Da Dong ge ada pemotretan hari ini?” Ya Lun ge mengangguk, “Yup, Li Xia dan jie jie mu yang melakukannya saat kita berada di taman bermain” Aku tersenyum, “Mereka rupanya, wah, beraninya masuk rumah orang dan mengacak tamanku.” Aku memukulnya dan dia mengelak, “Hei, kenapa kau memukulku?” aku mengejarnya yang terus berlari menghindari pukulanku, “Itu karena kau yang ada disini sekarang, ge. Hey! Jangan lari!”

Malam itu lebih tepatnya subuh itu, yang kudengar hanya suara tawaku dan Ya Lun ge. Terima kasih semuanya. Terima kasih Tuhan telah mengiriman mereka padaku.

*Selesai*

Footnote :
Ni mei shi ma? (Kau tidak apa-apa?)
Dui bu qie (Maaf)
Wei shen me? (Ada apa?)
Bu zhi dao (Tidak tahu)

First published on Gisela’s FB on Sunday, June 26th 2012

My comment :
Unnie!!! Teriak pake TOA!!!

Asli ya? Pas baca notif unnie tag FF sih udah tau.. Cuma ya belaga cool, pura2 gatau.. :p

Eh, asli ya? Aku baca’ne suwi puol.. Gatau, ga isa konsen.. Kebayang Ko Aaron mulu.. Hehehe..

Pertama.. Koko Aaron wo ai ni!!! #oke abaikan

Kedua.. Itu.. itu.. Tempat apa? Knapa kamu buat bgitu banyak setting yg asing n bikin aku pengen ksana??? #keinget trans studio bandung.. T.T

Ketiga.. Itu.. itu.. Jumper-nya.. Mauuu!!! #tanggung jawab!

Keempat.. Ah! Aku disini jd pacar seorang Ya Lun Feilunhai? *nyengir* #oke abaikan lagi

Kelima.. Hug Ko Aaron! #oke lagi2 abaikan

Keenam.. Terharu.. Xiexie ya jie? hehehe.. Aku seneeeng banget unnie dah mau bikinin aku FF, aku ngerti pasti susah ya? Cast-nya Ko Aaron sih.. (Keinget kalo aku bkin FF cast teukie.. Ups!)
Aku ngerti jg kok.. Pas unnie tanya2 bahasa mandarin ke aku.. Wo zhi dao le! Wo ming bai le! Tp ya itu.. Pura2 gatau.. Sok surprise.. *evil smile*

Ketujuh.. Aku tunggu FF2 slanjutny.. Inget! Penulis! That’s your destination! 🙂

Unnie!!! Wo ai ni!!! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s