[One Shot] 영원히 (Yeongwonhi)

Title : 영원히 (Yeongwonhi)

Author : neys

Bohong adalah saat aku mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja asalkan kau bahagia. Bohong adalah saat aku berusaha tersenyum saat aku tahu bahwa kau tidak akan pernah menjadi milikku seutuhnya. Bohong adalah berusaha menahan tangis meski harus rela menahan sakit yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku masih mengingat dengan jelas setiap kenangan yang kuukir bersamamu. Aku hafal semua kata-kata yang kau ucapkan padaku. Sekalipun menyakitkan, aku tidak pernah sanggup untuk menghapus semua kenangan kita.

“Hyun-ah, kau pernah dengar? Jika kita menyukai dua orang dalam waktu yang bersamaan, kita harus memilih orang yang kedua. Karena, kalau kita benar-benar mencintai yang pertama, kita tidak akan bisa mencintai orang lain.”

“O, aku pernah mendengarnya. Wae?”

“Entah aku harus percaya atau tidak. Tapi satu hal yang saat ini aku tahu…”

Jeda beberapa saat sebelum akhirnya kau melanjutkan kata-katamu. “Aku menyukaimu. Dan kau adalah orang kedua tersebut.”

Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Kau tidak sedang bercanda kan?”

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”

Aku tersenyum. Katakan aku wanita yang jahat, aku tidak akan marah. Aku jelas tahu bahwa pria yang ada di hadapanku saat ini adalah kekasih orang lain tapi aku masih tidak tahu diri dengan menyambut perasaan ini.

“Aku juga menyukaimu.”

Hari itu, awal dari kehancuranku sendiri. Aku tidak pernah berharap banyak. Tidak akan pernah menuntut untuk mendapat lebih banyak dari apa yang pantas aku dapat karena sebenarnya aku tidak pantas mendapatkan apa-apa.

Aku yang menjerumuskan diriku sendiri untuk terperosok semakin dalam. Tapi, jika mencintaimu memang adalah sebuah kesalahan, aku rela untuk tetap mencintaimu. Tidak peduli seberapa menyakitkan dampak dari kisah ini, asalkan aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang yang aku cintai, semua bisa kutahan.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Apa kau akan meninggalkanku?”

“Ya! Hyun! Sebenarnya ada apa?”

Aku hanya bisa menggeleng sambil menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku. “Lupakan.”

Haruskah aku mengatakan jika aku melihatmu menghabiskan waktu bersama dengan berjalan sambil bergandengan tangan di sepanjang jalanan kota Seoul? Haruskah aku mengatakan jika aku melihatmu tersenyum dengan sangat lebar saat bersamanya? Haruskah aku mengatakan jika kau nampak begitu bahagia saat bersamanya? Kalian berdua nampak… serasi?

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak.”

Dan kali ini aku hanya bisa menjawabmu dengan sebuah anggukan.

Cha Sun Woo. Atau aku harus memanggilmu dengan Baro? Tidak, sepertinya aku harus membiasakan diri untuk memanggilmu Sun Woo. Kau bukan lagi Baro-ku. Tidak ada lagi panggilan khusus, aku bukan seseorang yang lagi berhak memanggilmu secara khusus.

“Cha… Sun… Woo…”

“Wae?”

“Aku tidak suka memanggilmu begitu. Aku tidak ingin aku memanggilmu sama seperti orang lain memanggilmu.”

“Lalu? Kau ingin memanggilku apa?”

“Biarkan aku berpikir sebentar… Sunny? Ah, terlalu feminin. Woonie? Ah, kedengaran pasaran. Apa ya…”

“Panggil apa saja boleh,” ucapmu sambil mengacak poniku. “Panggil yeobo saja bagaimana?”

“Andwae! Itu juga pasaran. Hm… Baro! Aku akan memanggilmu Baro!”

“Baro? Kenapa Baro?”

“Molla~ tiba-tiba saja terlintas di pikiranku dan aku rasa nama itu cukup unik. Eotte?”

“Joha.”

Aku memainkan jariku di atas tuts piano sambil mengingat-ingat saat dimana kau memainkan sebuah lagu untukku. Tapi kini, tidak akan ada lagi lagu cinta yang kau nyanyikan untukku itu. Sekarang, hanya aku sendiri yang bernyanyi. Seorang diri.

I think I stayed up all night that day
Like a fool, I erased and erased but
It disappears and appears again, as if I’m troubled
In my ears I hear the wind and waves
I guess I can’t be helped
I guess I need to hold onto you forever
I can’t do this, though I try to deny you
Each time, tears form

Because sadness spread over me
My heart has become broken
In case I can’t use it ever again
In case I hurt even more
I eventually call out to you, don’t go

I think I saw you in my dream
In order to erase you I tried many different things
Memories of loving you
I guess they are nailed to my heart and can’t be taken out
Each time I try to cut them out, the good memories
Search for you, what do I do?

(Navi – I Think My Love is You)

 

Aku mengusap pipiku yang sudah basah oleh air mata. Mengapa harus demikian sakit? Bukannya aku tidak pernah mencoba untuk melupakanmu atau lebih tepatnya merelakanmu. Tapi hatiku tidak pernah menurut padaku. Di hatiku hanya ada dirimu, lantas… bagaimana aku bisa mengisinya dengan orang lain?

“Lupakan aku. Kita tidak akan pernah bersatu. Maaf. Maafkan aku, Hyun.”

Kenapa? Kenapa kau membohongiku? Kenapa, Baro? Kau jelas tahu aku mencintaimu tanpa syarat. Kau jelas tahu bahwa aku…

“Mwo?”

Ponselku terjatuh begitu saja di lantai, aku tidak lagi memikirkannya. Aku berlari sekuat tenaga, tidak peduli seperti apa penampilanku saat ini. Hanya satu yang ada di pikiranku. Baro.

Aku menerobos kerumunan orang yang ada di depan kamar sebuah rumah sakit. Aku hanya ingin melihat Baro. Melihat Baro baik-baik saja.

“Apa ini? Jadi selama ini kau membohongiku?”

“Hyun?”

“Kau bilang aku yang kedua? Nyatanya kau tidak pernah memiliki kekasih. Kau bilang kita harus berpisah karena kau tidak bisa meninggalkan kekasihmu, tapi nyatanya apa?”

“APA?”

“Kenapa kau tega melakukan ini semua padaku? Wae?”

“Hyun-ah…”

“Kau menderita tapi bahkan aku tidak tahu. Menyedihkan. Aku begitu menyedihkan. Aku mencintaimu, Baro. Aku tidak peduli apa kau sakit leukemia atau tidak. Aku tidak peduli jika aku harus melewati hari-hariku dengan merawatmu. Seharusnya kau tahu itu.”

Aku terjatuh karena tidak lagi sanggup menahan bobot tubuhku sendiri. Lututku menghantam permukaan lantai cukup keras. Sakit, tapi tidak lebih sakit dari hatiku. Aku dibohongi, terlebih aku merasa tidak berguna.

Aku menangis. Ada banyak hal yang memenuhi pikiranku. Tidak, aku tidak sanggup menghadapi kemungkinan terburuk. Aku lebih rela melihatnya bahagia meskipun tanpa diriku daripada aku tidak bisa melihatnya lagi.

Aku menangis dan terus menangis. “Aku mencintaimu, Baro. Kenapa hidup harus demikian kejam padaku?”

“Hyun… Kemarilah…”

Aku berusaha bangkit, berjalan ke arahmu lalu menggenggam jemarimu. Dingin. Wajahmu pucat.

“Apa kau tersiksa?”

Kau mengangguk. “Sakit, Hyun. Sangat sakit. Tapi lebih sakit melihatmu menangis seperti ini. Itu sebabnya aku merahasiakan semua ini darimu.”

“Selama ini… kau menderita?”

“O, berjuang seorang diri tanpa dirimu ternyata rasanya jauh lebih mengerikan. Tapi aku tidak ingin melihatmu menderita bersamaku.”

Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku yang bebas. Aku menahan isakanku yang semakin menjadi tapi sepertinya usahaku sia-sia belaka.

“Hyun, maafkan aku. Jangan menangis lagi karenaku. Kau hanya boleh tersenyum saat mengingatku. Dengan begitu aku baru bisa pergi dengan tenang.”

Kau mengulurkan jari kelingkingmu padaku. “Yaksok?”

Aku mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingku pada milikmu. “Ne. Yaksok.”

“Saranghae, Hyun.”

Tepat setelah kau mengatakan itu, kau menutup matamu dan aku tahu bahwa kau telah pergi untuk selama-lamanya. Aku memeluk tubuhmu, menumpahkan tangisku di pundakmu.

“Na do. Na do saranghae, nae Baro. Yeongwonhi saranghaeyo.”

Aku tersenyum saat menyelesaikan lagu-ku. Aku tersenyum. Cha Sun Woo… Nae Baro… Meski kau tidak ada di sisiku saat ini. Meski kau tidak bisa kumiliki secara utuh, aku memiliki hatimu meski tanpa raga. Terima kasih karena pernah hadir di hidupku. Terima kasih karena pernah membuatku mengerti bagaimana mencintai dan dicintai. Terima kasih untuk semuanya.

Hati ini selamanya hanya untukmu. Saranghae, Baro…

.end.

Annyeong! Ada yang kangen sama saya? Ayo angkat tangan! Hehehe. Entahlah ini FF apa, berantakan banget. Ini juga bikinnya dadakan setelah comment2an sama Nay tentang sad FF. Dan jadilah FF ini. Btw, ini cast-nya kamu loh Nay, tuh liat namanya. Tadi aku ubek2 notes kamu. :p

Oh ya, ,mian ya readers kalo aku hiatusnya kelamaan, soalnya mood ngetik FF-nya menghilang sejak aku memutuskan buat hiatus dan belum balik sampe sekarang. So, kalo FF aku ini kesannya maksa ya mohon dimaklumi. Hehehe. Kritik, saran dan pujian akan aku terima dengan senang hati.

Akhir kata, mau ngucapin selamat berpuasa buat yang menjalankannya ya? Mohon maaf lahir dan batin. ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s