[Series] In the name of LOVE – Chapter 2 ::: 안녕, Paris! ~

Title : In the name of LOVE

Author : neys

Mencintai itu ibarat arang yang rela meski dirinya berubah menjadi abu karena terbakar.

Amarah pada orang yang kita cintai itu ibarat jejak kaki di tepi pantai yang langsung lenyap oleh sapuan ombak.

Cemburu itu ibarat garam pada masakan, yang bisa menyempurnakan atau juga bisa merusak cita rasa.

Saat mencintai, ada hal-hal yang berjalan tidak selaras dengan pemikiran saat cinta itu belum singgah di dalam hati. Hal-hal tersebutlah yang dirasa sedikit di luar batas wajar. Menyenangkan tapi kadang juga bisa terasa menyedihkan.

Jae Joong melewatkan jam istirahatnya dengan duduk seorang diri di kursi yang ada di sudut Kona Beans, coffe shop yang biasanya selalu penuh dengan ELF – sebutan untuk penggemar grup band Super Junior. Dan andai saja dia juga seorang ELF, itu berarti dia termasuk salah satu ELF yang beruntung karena sekarang leader dari grup itu sendiri yang sedang menjadi kasir. Tapi tentu toh Jae Joong tidak begitu peduli dengan hal itu. Yang dia butuhkan hanya menenangkan diri. Hari senin yang melelahkan, batin Jae Joong.

Jae Joong nampak berusaha menikmati Strawberry Cup Muffin sementara pikirannya sudah melayang entah kemana. Secangkir Americano Coffe yang ada di meja pun mulai dingin karena terlalu lama tidak diminum serta Ice Cream Sauce Special-nya yang tidak sedingin saat baru disajikan. Banyak hal yang dia pikirkan, mulai dari proyek besar yang tinggal menunggu bulan, kematian seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya, hingga hubungannya dengan Ga Eul. Dan diantara semua itu, masalah ketigalah yang paling mendominasi pikirannya.

Ia masih dengan pemikirannya saat dua orang yang lain masuk ke dalam Kona Beans. Seolah tersengat listrik, tiba-tiba saja Jae Joong mendongakkan kepalanya. Ia terkesiap melihat siapa yang tengah sibuk memilih pesanan di depan meja kasir. Ya, tidak salah lagi. Jung Ga Eul bersama dengan seorang pria yang selama ini Jae Joong ketahui sebagai sahabat Ga Eul yang bernama Jung Yong Hwa.

“Bukankah Ga Eul bilang dia ada di Paris? Kenapa bisa ada di sini?”

Tak berlama-lama menentukan pilihan, Ga Eul dan Yong Hwa memutuskan untuk duduk di area yang sama dengan Jae Joong – VIP seat. Saat mereka berdua memilih-milih di mana kira-kira mereka akan duduk, Jae Joong menundukkan kepalanya agar tidak terlihat.

Ga Eul bukannya tidak tahu ada Jae Joong di sana, hanya saja ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Ia tidak ingin terlihat lemah dengan menghindari Jae Joong, tapi tidak menutupi bahwa ada perasaan lega saat mendapati Jae Joong hanya seorang diri di sana.

Jae Joong mengamati Ga Eul dan Yong Hwa dalam diam. Tidak keduanya sebenarnya karena sejak tadi hanya Ga Eul yang menjadi objek matanya, seolah memuaskan kerinduan setelah tiga hari tidak melihatnya. Tanpa ia sadari, ia tersenyum saat melihat Ga Eul tersenyum. Ia sedikit tidak rela saat melihat Ga Eul tersenyum semanis itu pada pria yang bukan dirinya. Jelas, Jae Joong cemburu. Dan lebih tidak rela lagi saat Ga Eul tertawa begitu riang usai mendengar perkataan Yong Hwa yang entah apa.

Jae Joong memicingkan matanya saat dia melihat Yong Hwa tengah mengusap sudut bibir Ga Eul, membersihkan sisa ice cream yang baru saja ia suapkan. Jae Joong tidak dapat menahan diri lagi, ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke arah Ga Eul. Baru saja Ga Eul menoleh, Jae Joong langsung menggandeng tangan Ga Eul dan sedikit menyeretnya keluar dari Kona Beans. Yong Hwa yang juga terkejut hanya bisa memandang kedua orang itu.

Jae Joong membawa Ga Eul menuju mobilnya, ia membuka pintu lalu sedikit mendorong Ga Eul supaya masuk ke dalam. Setelah yakin Ga Eul tidak akan kemana-mana, dengan sedikit berlari Jae Joong memutari mobilnya sendiri lalu duduk di balik kemudi.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” bentak Ga Eul sesaat kemudian.

Jae Joong menatap Ga Eul intens, berusaha mengatur nafas serta emosinya yang seakan hendak meledak karena cemburu.

“Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria tadi.”

“Pria itu bernama Yong Hwa dan jelas kau sudah tahu itu.”

“Ya, aku tidak suka melihatmu bersama dengan Yong Hwa.”

“Atas dasar apa? Dia sahabatku dan aku rasa kau tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapapun, mengingat kita tidak memiliki hubungan apa-apa.”

“Demi Tuhan Ga Eul ah~ kau…”

“Apa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”

Jae Joong memukul setirnya, menahan emosi. “Aku cemburu kalau kau belum paham.”

Ga Eul tertawa sinis mendengar perkataan Jae Joong. Tapi dalam hati diam-diam ia ingin menangis mendengarnya. “Kau? Cemburu? Terima kasih untuk cemburumu yang tak berdasar itu. Permisi, Yong sudah menungguku di dalam.”

Ga Eul hendak keluar tapi tangan Jae Joong menahan pergelangan tangan Ga Eul. “Mianhae.”

Ga Eul berbalik, menatap Jae Joong lalu tersenyum sinis. “Gwaenchanna.”

= = = n – e – y – s = = =

Pagi itu, kompleks pemakaman nampak sepi, hanya beberapa orang saja yang mengunjungi keluarga, teman atau entah siapa yang dimakamkan di sana. Di salah satu makam, nampak seorang gadis yang menatap makam itu dengan berlinangan air mata.

“Oppa… Kenapa kau harus pergi secepat ini? Andai saja kau masih ada, mungkin aku tidak akan merasakan sakit seperti ini.”

“Oppa…”

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Kebiasaan cerobohnya masih belum hilang sepenuhnya. Apalagi selama ini dia terbiasa diingatkan oleh Jae Joong untuk selalu memakai sarung tangan saat keluar di musim dingin, seperti saat ini. Banyak hal di mana Jae Joong selalu menjaga Ga Eul agar tetap sehat dan terlindungi, dan kini dia harus mulai membiasakan diri untuk hidup tanpa Jae Joong.

Ga Eul merogoh tas tangannya, berusaha mencari benda kecil yang biasanya selalu ia bawa kemana-mana.

“Masa iya ketinggalan? Benar-benar ceroboh!” rutuk Ga Eul pada dirinya sendiri.

Ga Eul berbalik lalu berjalan untuk masuk kembali ke dalam gedung apartemennya. Tidak hanya sarung tangan namun pinselnya juga tertinggal. Biasanya ponsel selalu ia bawa kemana-mana, tentu saja untuk berkomunikasi dengan Jae Joong. Tapi, kini tentu saja semua berbeda, tidak ada lagi Jae Joong yang senantiasa menelepon atau sekedar mengirimkan pesan, entah hanya memberi kabar atau untuk mengingatkan Ga Eul.

“Ternyata memang membutuhkanku. Kau harus bisa belajar hidup tanpa aku, Ga Eul. Kau pasti bisa,” ucap Jae Joong di balik kemudi mobilnya, yang sudah berada di depan apartemen Ga Eul sejak setengah jam yang lalu.

Beberapa hari belakangan ini Jae Joong memang kerap kali mengikuti Ga Eul, sekedar memastikan bahwa Ga Eul baik-baik saja. Dengan mengikuti Ga Eul diam-diam seperti ini setidaknya sedikit mengobati kerinduan Jae Joong pada gadis itu. Meski terkadang dia menyesal mengikuti gadis itu jika akhirnya tempat yang dituju adalah tempat di mana Yong Hwa menunggunya. Atau menahan kesal saat ia melihat Yong Hwa berkunjung ke apartemen Ga Eul.

Jae Joong tahu. Dia sangat tahu bahwa Yong Hwa menyukai gadisnya sejak dulu. Sejak pertama kali ia mengenal pria itu, saat Ga Eul memperkenalkan Yong Hwa padanya beberapa tahun yang lalu.

Tak lama kemudian Ga Eul kembali muncul, kali ini lengkap dengan sarung tangan berwarna putih yang Jae Joong kenali sebagai sarung tangan yang Ga Eul pakai saat kencan mereka pada pergantian tahun baru kemarin. Jae Joong tersenyum tipis, “Kurasa akan sulit bagimu untuk melupakanku. Barang-barangmu yang akan mengingatkanmu padaku, sekalipun benda itu bukan pemberian dariku.”

Ga Eul memberhentikan sebuah taksi membuat Jae Joong memacu mobilnya untuk segera mengikuti Ga Eul. “Kenapa tidak naik mobil sendiri ya?”

= = = n – e – y – s = = =

“Aku masih tidak mengerti kenapa kau menyuruhku kemari menggunakan taksi sementara kau sendiri tidak membawa mobilmu,” ucap Ga Eul kepada Yong Hwa setelah ia mengetahui bahwa pria itu juga tidak membawa mobilnya.

“Kau akan mengerti sebentar lagi.”

“Sampai kapan aku harus menunggu dalam ketidak pastian seperti ini? Sementara kau dengan asiknya duduk sambil membaca surat kabar.”

Yong Hwa terkekeh lalu melipat surat kabar yang sedari tadi menenggelamkan tubuhnya dari pandangan Ga Eul. “Arasseo, mianhae. Kau mau minum apa? Aku tadi belum memesankan untukmu.”

“Tidak perlu. Aku belum merasa haus.”

“Kalau begitu kita langsung berangkat saja. Kajja!” ajak Yong Hwa lalu menggandeng tangan Ga Eul.

Yong Hwa memberhentikan sebuah taksi. “Bandara Incheon.”

“MWO???” pekik Ga Eul kaget setelah mendengar tujuan mereka. “Bandara Incheon? Tunggu… Tunggu…”

“Kita berdua akan terbang ke Paris.”

“Apa kau bilang? Ya! Aku bahkan belum menyetujuinya.”

“Tak masalah. Anggap saja liburan, aku tidak memaksamu untuk tetap tinggal di sana kok. Kalau sudah puas berlibur kau boleh kembali ke Seoul. Atau… Kalau kau memutuskan untuk tinggal di sana, kau boleh kembali ke Seoul sementara untuk mengambil pakaianmu.”

“YA!”

“Kalau tidak begini kau tidak mungkin mau mempertimbangkan Paris.”

“Kau menyebalkan.”

= = = n – e – y – s = = =

“PARIS!!!” jerit Ga Eul begitu Yong mengajak gadis itu untuk langsung mengunjungi salah satu taman di Paris.

“Reaksimu antara sebelum berangkat dan setelah sampai di sini berbeda sekali. Dasar!” ucap Yong sambil mengacak poni Ga Eul.

“Aku kan tidak tahu Paris seindah ini.”

“Aku akan membawamu pada keindahan Paris yang lainnya nanti.”

“Jeongmalyo? Ah… Gomawoyo, Yong ah~.”

Jardin du Luxembourg, atau Kebun Luksemburg, adalah taman publik terbesar kedua di Paris (224.500 m² (22,5 hektar) terletak di arondisemen 6 Paris, Perancis.

Taman ini sebagian besar ditujukan untuk kebun hijau dari kerikil dan rumput, yang ditempatkan bagi patung-patung dan berpusat pada baskom air besar bersegi delapan, dengan jet pusat air, di dalamnya anak-anak berlayar menggunakan perahu model. Taman ini terkenal karena ketenangannya. suasana. Di sekeliling Bassin pada teras di atas balustraded merupakan serangkaian patung mantan ratu Perancis, orang-orang kudus dan salinan benda-benda kuno seperti patung romawi. Di sudut barat daya, ada kebun apel dan pohon pir dan Teater des marionnettes (teater boneka). Taman-taman, termasuk taman bermain berpagar besar untuk anak-anak muda dan orang tua mereka dan korsel vintage. Selain itu, pertunjukan musik gratis yang disajikan dalam sebuah gazebo dan ada sebuah restoran kafe kecil di dekatnya, di bawah pohon, dengan tempat duduk, baik indoor dan outdoor di mana banyak orang menikmati musik ditemani segelas anggur.

“Perjalanan sebelas jam jadi tidak percuma setelah melihat keindahan Paris. Lagipula masih siang di Paris, gara-gara perbedaan waktu yang sangat mencolok dengan Seoul. Wah, saat ini pasti sudah malam ya di Seoul.”

“Kau ini bicara apa sih. Cerewet sekali. Kau masih mau di sini atau langsung ke apartment-ku?”

“Tunggu sebentar lagi. Di sini sangat nyaman, Yong. Kau harus sering-sering mengajakku ke sini.”

“Arasseo, nona Jung.”

“Ngomong-ngomong apartment-mu di mana?”

“Di wilayah Montparnasse. Apartment-ku dekat dengan gedung pencakar langit. Kau juga bisa melihat Menara Eiffel dari apartment-ku”

“Jinjja? Wah… Kalau begitu ayo kita ke apartment-mu sekarang.”

Yong Hwa hanya bisa terkekeh menanggapi reaksi Ga Eul. “Sepertinya aku akan menjadi pemandu wisata untukmu selama beberapa hari ke depan.”

“Harus.”

To be continue…

Credit : http://sjforindonesia.wordpress.com/2012/01/28/tour-at-kona-beans/ ; Wikipedia

Annyeong!!! I’m so sorry for belated update. I’ve been a little busier than usual recently. And when I have my free time after go home from office – at night, unfortunately I have no certain idea to write and no strong mood to think about it. I prefer spend that little time with watching “We Got Married – YongSeo’. Yeah, I just got this DVD few days ago from my father.

FYI, I love how Yong Hwa treats Seo Hyun in We Got Married. He looks gentle and friendly. I love the way he starts the conversation. I love that he looks so naturally on that reality show. I love every things he does. How about you?

Btw, I still stuck on episode 12. Because, I spend my whole free time yesterday without watching it. I spend my yesterday with relax and hang out with my friends to harbour. Took pictures then go to eat outside. Absolutely a nice day!

And today, I still have my free day. In the morning I just spend my time with listening to the music. Then, I decided to continue write my second chapter. Here they are… I’m sorry if this part going to be not like what you want to be. I’ve tried my best and hope you understand.

I put some pictures on this chapter. Hope that pictures will helps you to imagine what I try to explain here.

Just left your comment here. Let me know your aspirations after you read this chapter. Tell me if you have some idea or even question. Then, I will work hard for the next chapter.

Last… Which one do you like? Jae Joong or Yong Hwa? ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s