[Series] In the name of LOVE – Chapter 1 ::: Our Destination, Paris~

Title : In the name of LOVE

Author : neys

Ga Eul mengetuk-ngetukkan ponselnya ke atas meja, pertanda bosan. Ia sudah menunggu selama satu jam tapi sosok yang ditunggu masih belum muncul juga. Satu jam menunggu, dua cangkir kopi sudah ia habiskan dan kini tinggal menunggu untuk cangkir ketiga yang tak lama lagi juga akan habis. Sudah lama Ga Eul tak minum kopi, tepatnya semenjak ia berpacaran dengan mantan tunangannya, Kim Jae Joong. Jae Joong tidak mengijinkan Ga Eul minum kopi dengan alasan kesehatan dan Ga Eul dengan rela hati menurutinya. Ya, mungkin itulah salah satu bukti kekuatan cinta.

“Mian, aku terlambat.”

Ga Eul menoleh, sosok yang ditunggu akhirnya datang. Ia tersenyum sinis lalu berkata, “Ada pertemuan dengan pacar barumu, ne?”

Sosok itu – Kim Jae Joong segera mengambil tempat untuk duduk di hadapan Ga Eul, “Bisakah kau berhenti membicarakan hal itu?”

“Wae?”

“Aku tidak menyukai bahasan itu.”

“Jinjja? Maaf kalau begitu. Maaf kalau aku terkesan begitu ikut campur dalam hubungan kalian. Ya, kita kan sudah tidak ada hubungan apa-apa. Itu kan maksud dari kata-kata ‘kau dipecat’-mu kemarin?”

Jae Joong hanya menatap Ga Eul, waut wajahnya nampak begitu tertekan. Dia berdeham pelan lalu tersenyum, “Kau cukup pintar ternyata untuk mengerti maksudku.”

“Tentu saja. kau tidak perlu khawatir akan tingkat kecerdasanku. Kata-katamu sangat mudah untuk diterjemahkan.”

“Jadi apa tujuanmu mengajakku bertemu? Aku tidak punya banyak waktu.”

“Tidak terlalu penting mungkin untukmu…”

Ga Eul sedikit menggantung ucapannya, ia menatap cincin yang tersemat di jari manis tangan kirinya – cincin pertunangannya dengan Jae Joong. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, bukannya menangis seperti kehendak mata dan hatinya. Ia melepas cincin itu lalu meletakkannya di atas meja.

“Kukembalikan cincin itu padamu. Terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini terlepas dari apa kau benar-benar mencintaiku atau tidak. Terima kasih juga untuk semua cinta yang kau berikan padaku, sekali lagi terlepas apakah itu tulus atau tidak. Terima kasih. Aku pergi dulu.”

Ga Eul bangkit berdiri lalu berjalan menuju kasir, membayar pesanan tiga cangkir kopinya tersebut lalu langsung keluar dari café tersebut. Sementara Jae Joong hanya bisa menatap cincin pertunangan milik Ga Eul yang kini suda berada dalam genggamannya.

Jae Joong menghembuskan nafasnya kasar, menyadari ada tiga cangkir di hadapannya. Kopi. Dia melihat ketiga cangkir itu sendu.

“Kau minum kopi lagi. Bukankah sudah kubilang, kopi tidak baik untuk kesehatanmu. Bodoh!”

= = = n – e – y – s = = =

Jae Joong terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja sebelah tempat tidurnya dengan enggan, “Yeoboseyo.”

“Sajangnim, ada hal yang harus saya laporkan. Saya sudah berhasil menemukan di mana makam orang yang sajangnim maksud. Makamnya ada di Busan, kota kelahirannya.”

“Busan? Baiklah, aku akan mengunjungi makam tersebut hari ini juga. Kau tunda semua jadwalku hari ini. Dan, tolong lakukan perintahku kemarin.”

“Arasseo. Tapi sajangnim, apa Anda tidak ingin mengantarkannya sendiri ke tempat agashi?”

“Tidak.”

“Baiklah sajangnim.”

Jae Joong menutup sambungan telepon dengan asistennya. Saat hendak meletakkan kembali ponselnya, sesuatu – wallpaper ponselnya – mengurungkan niatnya. Tampak dirinya yang tengah merangkul pundak Ga Eul saat mereka berlibur ke pulau Jeju tahun lalu.

“Ga Eul ah~ mianhae.”

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul berjalan malas ke arah pintu sembari merapikan anak rambut yang mencuat kemana-mana. Ia terbangun karena bunyi bel. Ia membuka pintu apartment-nya namun tidak menemukan siapapun. Saat ia hendak berbalik ia menyadari ada sesuatu yang tergeletak begitu saja di depan pintu apartment-nya.

“Tulip putih?” tanyanya lebih pada diri sendiri saat mengambil barang yang ternyata merupakan sebuket tulip putih yang sudah tertata rapi di vas.

Indah. Komentar Ga Eul dalam hati.

Ia berusaha mencari kartu yang mungkin terselip di dalamnya. Lalu tersenyum tipis saat berhasil menemukannya.

Love…

Terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar sepengetahuan kita, di luar kuasa kita. Terpaksa membiarkannya terjadi dalam kehidupan kita.

Ingin mengingkari tapi terlambat, waktu telah mengubahnya menjadi bagian dari masa lalu.

Ada kalanya pula masa lalu tersebut mengharuskan adanya perubahan di masa depan. Meski itu menyakitkan tapi seolah menjadi sesuatu yang tak terbantahkan.

Atas nama cinta, aku hanya ingin meminta maaf. Maaf untuk semua hal yang membutuhkannya.

Jujur, aku tidak lagi berani menjadi diriku sendiri saat berhadapan denganmu karena akulah yang telah menyebabkan air mata dalam hidupmu di masa lalu dan mungkin di masa-masa yang akan datang.

Maafkan diriku yang selama ini bersembunyi di balik topeng.

Jika suatu hari nanti waktu memberikan jawabannya, mungkin dirimu tidak akan sudi lagi walau untuk sekedar menatapku.

Satu hal, aku sangat mencintaimu dan demi itu pulalah aku harus berhenti menyakitimu dengan ingatan yang tidak seharusnya.

Ga Eul mengernyit tidak mengerti begitu ia selesai membaca kata-kata di kartu tersebut. “Apa maksudnya?”

Ga Eul berjalan masuk lalu memutuskan untuk meletakkan bunga tersebut di ruang tamu. Ia berjalan masih sambil menduga-duga maksud dari kata-kata tadi dan siapa yang kira-kira mengirimkannya.

“Tulip putih, bukankah berarti permintaan maaf? Kata-kata di kartu juga meminta maaf. Aish! Apa sih maksudnya?”

Ponsel Ga Eul berdering membuatnya tersadar dari pikirannya sendiri lalu bergegas kembali ke kamar. Ia tersenyum saat mengetahui siapa yang menghubunginya.

“Yong! Kau ada di Seoul?” seru Ga Eul begitu ia menerima panggilan tersebut.

“Ga Eul ah~ bogoshipoyo. Ne, aku baru saja tiba di Seoul. Kau pulang jam berapa hari ini, biar aku jemput.”

“Aku tidak bekerja hari ini, Yong. Aku dipecat.”

“MWO? Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti.”

“Bagian mana yang tidak kau mengerti, Yong? Aku dipecat dan aku belum mendapat pekerjaan baru jadi ya aku tidak ada acara hari ini.”

“Bukan itu maksudku. Jae Joong hyung memecatmu? Mana mungkin?”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Yong. Buktinya Jae Joong benar-benar memecatku, Yong.”

“Lalu? Bagaimana dengan hubungan kalian?”

“Bukankah sudah jelas? Tentu saja hubungan kami berakhir.”

“MWOYA? Maldo andwae. Kau memutuskan Jae Joong hyung, lalu dia memecatmu. Begitu?”

Ga Eul terkekeh mendengar perkiraan dari lawan bicaranya itu, “Aniyo. Hubungan kami berakhir begitu saja saat dia memecatku. Dia memecatku sesaat setelah aku melihatnya berpelukan dengan gadis lain di ruangannya.”

“Jae… Jae Joong hyung… selingkuh?”

“Ehm… Kira-kira begitu.”

“Ga Eul ah~ kau baik-baik saja?”

“Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja. Tapi kau tenang saja, aku masih cukup pintar untuk tidak bunuh diri dan aku masih cukup kuat untuk bertahan hidup tanpa dia.”

“Ga Eul ah~ kau jangan kemana-mana, aku akan ke apartment-mu sekarang. Eh, kau masih tinggal di apartment yang dulu kan?”

“Ya, aku masih di sini. Jae Joong melarangku pindah.”

“NDE? Aish! Sudahlah, nanti kau ceritakan semua padaku. Sampai jumpa.”

KLIK.

Ga Eul lagi-lagi hanya bisa terkekeh dengan tanggapan Yong – Jung Yong Hwa – sahabatnya, yang menurutnya sangat lucu. Yong memang selalu seperti itu dan Ga Eul merindukan sosoknya yang sudah setahun ini meninggalkan Seoul karena pekerjaan.

“Sepertinya hari ini akan menyenangkan. Syukurlah Yong pulang di saat seperti ini.”

= = = n – e – y – s = = =

Jae Joong menatap lurus makam yang ada di hadapannya. Ia hanya memandang makam itu usai meletakkan bunga di atasnya. Dia ingin menangis tapi tidak punya cukup kuat ikatan emosi dengan seseorang yang berada di dalam makam. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu apa yang seharusnya dikatakan. Dia terdiam, merenungi jalan hidupnya yang harus berkaitan dengan seseorang yang sudah meninggal.

“Sajangnim…”

Jae Joong cukup kaget dengan panggilan dari asistennya tersebut. Ia menoleh lalu bertanya, “Ada apa?”

“Tuan Kim baru saja menelepon. Beliau sedang ada di kantor dan menanyakan mengapa sajangnim tidak ada di kantor.”

“Appa ke kantor? Katakan padanya aku sedang ada urusan jadi tidak bisa ke kantor hari ini.”

“Ye, sudah saya sampaikan seperti itu. Beliau mengatakan agar sajangnim menghubungi beliau langsung jika urusan sajangnim sudah selesai. Ini tentang proyek yang akan digelar di Eropa tiga bulan lagi.”

“Arasseo. Kajja, kita kembali ke Seoul.”

= = = n – e – y – s = = =

“Kau ikut aku saja bagaimana?”

“Kemana?”

“Tentu saja ke Paris.”

“Paris? Apa kau gila?”

“Gila? Kau seorang perancang busana berbakat, Ga Eul ah~. Sudah seharusnya kau berada di Paris untuk jenjang karirmu atau setidaknya untuk memperdalam kemampuanmu. Kau tahu Paris itu kota mode bukan? Dengan berada di sana semua akan menguntungkan untuk profesimu.”

“Aku…”

“Kau kenapa? Kau tidak rela meninggalkan Jae Joong hyung?”

“Bukan begitu. Hanya saja, apa ini semua tidak terlalu di luar rencana?”

“Terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar rencana dan Tuhan memberikan kesempatan padamu lewat kejadian yang menimpamu belakangan ini. percayalah, kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang kau dapatkan di sini.”

“Yong…”

Jung Yong Hwa bangkit dari tempat duduknya lalu berjongkok di hadapan Ga Eul lalu menggenggam kedua jemari Ga Eul, “Ikutlah denganku dan kita mulai hidup yang baru di sana.”

“Kita? Maksudmu?”

“Menikahlah denganku lalu ikut aku ke Paris.”

Kedua mata Ga Eul membulat. Pria di hadapannya ini bisa dibilang sedang melamarnya, bukan?

“Micheoso! Apa yang kau pikirkan, Yong? Aku bahkan baru saja putus!” bentak Ga Eul sambil menghempaskan tangan Yong.

“Ga Eul ah~ kau jelas tahu bagaimana perasaanku padamu kan? Hanya saja kau yang selalu menutup pintu hatimu untukku. Apa salahnya mencoba menerimaku? Setidaknya aku tidak akan menyakitimu seperti Jae Joong hyung.”

“Yong… Selama ini aku selalu menganggapmu sahabatku. Kau yang selalu ada untuk mendengar ceritaku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan sahabat sebaik dirimu.”

“Kau tidak akan kehilangan sosok seorang sahabat dariku. Aku bisa tetap mendengarkan ceritamu dan selalu ada untukmu.”

“Yong… Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin menikah denganmu sementara hatiku masih pada orang lain. Aku tidak ingin menyakitimu. Setidaknya belum sekarang. Kumohon mengertilah…”

“Arasseo. Kita tidak perlu menikah. Tapi, ikutlah denganku. Raih mimpimu di sana.”

“Akan kupikirkan lagi.”

= = = n – e – y – s = = =

Jeje Entertainment. Salah satu agensi terbesar di Korea Selatan yang menaungi penyanyi-penyanyi kenamaan di Korea Selatan, bahkan di belahan dunia lainnya. Founder dari agensi ini adalah ayah dari Kim Jae Joong, Kim Jong Kook. Jeje Entertainment, walau baru beroperasi selama lima tahun namun prestasinya sudah mampu bersaing dengan agensi-agensi besar yang sudah berdiri lebih lama seperti SM Entertainment, JYP Entertainment dan beberapa agensi lainnya.

Penyanyi-penyanyi di bawah naungan Jeje Entertainment sebagian besar memulai debutnya dua tahun yang lalu setelah melewati tiga tahun masa trainee. Mungkin bagi sebagian orang masa trainee tiga tahun itu terlalu singkat tapi sebenarnya lama atau tidaknya itu relatif. Tergantung dari bagaimana cara penyampaian materi kepada para trainee, bagaimana kemampuan serta kesiapan mental dari para trainee itu sendiri.

Di antara semua penyanyi yang sudah diorbitkan oleh Jeje Entertainment, banyak yang mampu menunjukkan kemampuan serta kelayakan eksistensi mereka di dunia hiburan. Album-album mereka laris di pasaran, lagu-lagu andalan mereka berhasi merajai chart-chart musik serta kualitas suara yang prima saat diharuskan untuk bernyanyi sambil menari secara langsung.

Lima tahun berlalu, lima tahun yang berhasil mengukuhkan posisi Jeje Entertainment sebagai salah satu agensi terbaik di Korea Selatan. Kini, Jeje Entertainment ingin melebarkan sayapnya lebih lebar. Jeje Entertainment siap mengirim penyanyi-penyanyinya untuk mengadakan konser di belahan dunia lainnya. Kali ini tujuan mereka adalah Negara-negara yang ada di Benua Eropa.

Beberapa bulan ini Jeje Entertainment disibukkan dengan persiapan-persiapan konser gabungan perdana mereka di salah satu Negara di Benua Eropa tersebut yang rencananya kalau konser itu berhasil akan mereka lanjutkan dengan kembali mengadakan konser serupa di Negara lainnya.

Dan Negara pertama yang akan mereka kunjungi adalah…

PERANCIS.

To be continue…

Aaancuuur! Sorry2, update-nya lama udah gitu ceritanya malah ga jelas gini. Ada yang bisa nebak ga ini cerita mau dibawa kemana sebenernya? Trus ada yang bikin kalian penasaran ga dari part pertama ini? *kebanyakan nanya*

Yang belum baca prolognya, baca dulu gih sana! Hahaha.

Ya sudahlah ga banyak omong lagi, ditunggu commentnya dan lagi-lagi sorry buat part dua ga bisa janji cepet. Hehehe. *kabuuur*

Oh ya, terakhir. Lanjut nanya dari pertanyaan aku di prolog kemaren. Buat yang nonton SS4INA, mana ceritanya? Bagi dooong…

Gomawo… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s