[One Shot] Nunmuri Nanda (Tears Are Falling)

Title : Nunmuri Nanda (Tears Are Falling)

Author : neys

Bila mencintaimu adalah sebuah kesalahan maka aku akan tetap mencintaimu. Karena bagiku, cinta adalah…dirimu.

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul tengah duduk seorang diri di teras rumahnya, memandangi rintik hujan yang mengguyur kota Seoul sejak tadi sore. Cuaca menjadi semakin dingin tapi tak sedikitpun memunculkan niat di benak Ga Eul untuk masuk ke dalam rumah walau ia tidak menggunakan mantel. Ia sedang menunggu. Sekalipun dia paling tidak suka menunggu, untuk yang satu ini dia rela walau harus menunggu selama apapun, bahkan jika dia harus menunggu selamanya.

Tak lama terdengar suara pagar terbuka membuat Ga Eul menoleh dengan cepat. Seseorang datang dan langsung memasuki pelataran rumah dengan bajunya yang sedikit basah akibat tidak menggunakan payung saat turun dari mobil. Seseorang itulah yang ditunggu-tunggu Ga Eul sejak tadi. Seseorang yang dengan kehadirannya saja mampu membuat Ga Eul melupakan penantian panjangnya tadi.

“Oppa, kenapa tidak pakai payung?” tanya Ga Eul begitu seseorang tadi berada tepat di hadapannya.

Seseorang yang dipanggil oppa oleh Ga Eul itu lalu tersenyum. Senyum yang sangat disukai oleh Ga Eul.

“Payungku ketinggalan di rumah.”

“Ya sudah ayo masuk, nanti kau kedinginan. Kau mau mandi? Biar aku siapkan air hangat. Atau kau mau makan?” tanya Ga Eul sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Pria itu merebahkan tubuhnya di sofa lalu mengibaskan tangannya, “Tidak perlu. Aku hanya sebentar di sini. Lagipula nanti aku ada janji makan malam di luar.”

Ga Eul menghembuskan nafasnya pelan, “Ah arasseo. Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, ya setidaknya aku dapat melihatmu hari ini. Dan, ah aku sangat lelah, ijinkan aku memejamkan mata sejenak.”

“Baiklah aku tidak akan mengganggu. Kau ingin tidur berapa lama? Biar nanti aku bangunkan.”

“Tiga puluh menit. Ya, tiga puluh menit saja cukup.”

“Arasseo.”

Pria itu memejamkan matanya tapi beberapa detik kemudian ia kembali membuka matanya lalu bergumam pelan saat menyadari Ga Eul sudah tidak ada di hadapannya. “Mianhae.”

= = = n – e – y – s = = =

Kim Jae Joong melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah itu begitu besar tapi begitu sunyi. Langkahnya terasa begitu berat seolah memikul beban yang sangat berat.

“Yeobo, kau sudah pulang? Mau aku siapkan air hangat?”

Pria bernama Kim Jae Joong itu hanya mengangguk singkat sambil tersenyum simpul.

“Baiklah kau tunggu sebentar ya, nanti kalau airnya sudah siap kau aku panggil. Oh ya, kau sudah makan?”

“Sudah. Kau juga sudah makan kan?”

“O, aku tadi makan duluan karena aku sudah sangat lapar.”

“Baguslah.”

Setelah wanita di hadapannya melesat pergi untuk menyiapkan air, Jae Joong meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur lalu menghela nafas berat, “Hidup macam apa yang tengah aku jalani ini?”

Pikirannya melayang ke kejadian setahun yang lalu. Kejadian yang merubah kehidupannya. Ia menyalahkan kebodohannya sendiri yang tidak sanggup melawan atau menyuarakan apa yang hatinya sendiri inginkan.

“Jae Joong ah~ kapan kau akan melamarku? Kita sudah tiga tahun bersama, orang tuaku sudah mendesak supaya cepat menikah. Kau tahu bukan, usiaku sudah tidak muda lagi.”

Jae Joong ingat dia sangat kaget waktu itu, tidak menyangka jika wanita di hadapannya akan mengatakan hal yang sangat dia hindari itu.

“Ya! Kim Jae Joong! Kau mendengarkan ucapanku kan?”

“Ah? Ne.”

Air mata Jae Joong mengalir tanpa ia sadari saat ia harus mengingat keputusan yang ia ambil setelah itu. Ia memutuskan untuk menikah dengan wanita itu tanpa mencintainya dan mengabaikan rasa cintanya sendiri pada seseorang.

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul menggosok-gosokkan kedua telapan tangannya. Cuaca begitu dingin dan dia bahkan tidak mengenakan penghangat macam mantel, syal ataupun sarung tangan sama sekali. Dia meniupkan nafasnya perlahan ke telapak tangannya, menyalurkan hawa panas dari dalam tubuhnya. Sudah satu jam dia mati-matian menahan dingin. Dan dengan bodohnya dia bersikeras untuk tetap menunggu di tempat yang sama hanya demi seseorang, entah sampai kapan.

Dia sedang menunggu, lagi-lagi seseorang yang sama. Seseorang yang sangat penting baginya, tidak peduli bahkan entah berapa kali hatinya tersakiti karena pria itu. Dia tak pernah bisa untuk berbalik menjauh dari pria itu. Tidak bisa atau mungkin sebenarnya, tidak ingin?

Sebuah mobil berhenti di depan Ga Eul, kaca mobil berangsur turun dan menampakkan sosok yang tengah ditunggu-tunggu oleh Ga Eul, “Cepat masuk.”

Tidak butuh waktu yang lama untuk Ga Eul menuruti perintah pria itu. Ia tersenyum saat melihat seseorang yang ditunggunya kini sedang duduk di sampingnya.

“Kenapa masih menungguku? Cuaca sangat dingin, kau bisa sakit,” ucap pria itu sambil meraih kedua tangan Ga Eul lalu menggenggamnya, berusaha menghangatkan tangan Ga Eul yang dingin itu.

“Kau kan memintaku untuk menunggumu di sana, bagaimana mungkin aku pergi begitu saja?”

“Tapi kau bisa sakit. Kau bahkan tidak memakai mantel. Kau ini masih saja ceroboh. Bagaimana jika kau benar-benar sakit?”

“Kalau aku sakit paling tidak aku bisa semakin sering bertemu denganmu, oppa. Aku yakin kau akan meluangkan waktumu untuk merawatku.”

Pria itu melepaskan genggamannya lalu beralih memasangkan sabuk pengaman untuk Ga Eul. “Jangan macam-macam. Berhenti menyakiti diri sendiri kalau itu hanya untuk merebut perhatianku,” ucapnya lalu mulai menjalankan mobilnya.

“Aku sedang berusaha menarik perhatianmu. Itu yang mau kau katakan?”

“Jika memang kau sedang berusaha untuk itu. Sia-sia. Tidak akan ada yang berubah.”

“Aku? Ya, oppa! Kenapa kau bepikir seperti itu? Apa aku terlihat sebegitu menyedihkan sampai harus mengemis perhatian darimu? Atau mungkin kau memang sudah tidak lagi peduli padaku? Ah, aku paham sekarang mengapa akhir-akhir ini kau berubah menjadi lebih dingin padaku.”

Pria itu berusaha tidak menanggapi kata-kata Ga Eul. Jujur saja bukan itu maksudnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena telah membuat Ga Eul merasa seperti itu.

“Aku tidak tahu apa-apa jadi bisakah kau memberitahuku? Kau tahu posisiku tidak mudah kan, oppa? Kau bisa memahami bagaimana perasaanku bukan?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau selalu seperti ini. Ya, mungkin karena memang aku bukan siapa-siapa untukmu jadi aku tidak perlu tahu. Bahkan status pun aku tidak pantas untuk mendapatkannya.”

Pria itu merasakan perih saat mendengar kata-kata Ga Eul. Tapi ia sadar, sakit yang dirasakan Ga Eul jauh lebih besar dibandingkan dengan sakit yang ia rasakan.

“Seharusnya dari awal aku tahu bahwa memang aku tidak boleh berharap banyak. Ya, seharusnya aku sadar diri.”

Pria itu memberhentikan mobilnya mendadak. Dia menatap Ga Eul intens, ada tatapan marah tapi tatapan itu begitu sendu, menyiratkan kesedihan yang begitu dalam.

“Ga Eul ah~ mianhae.”

Ga Eul tersenyum miris. Ia tidak menyangka hatinya akan sesakit ini. Dia membalas tatapan pria itu lembut lalu berkata, “Gwaenchanna.”

= = = n – e – y – s = = =

“Yeobo, mengapa pulang begitu larut?”

“Tadi aku sedikit urusan. Mian karena aku lupa tidak memberitahumu.”

“Gwaenchanna. Oh ya, tadi eomma menelepon, katanya kita diminta ke sana besok.”

“Besok? Ada apa?”

“Besok kan hari minggu, hari libur. Sudah lama eomma dan appa tidak bertemu dengan kita. Jadi mereka meminta kita ke sana. Kau bisa kan?”

“Ah ye, tentu saja. Kau siapkan saja barang-barang yang perlu kita bawa. Atau mungkin kau ingin membawa makanan besok ke sana?”

“Ani. Eomma bilang dia akan memasak untuk kita berdua jadi aku rasa tidak perlu, lagipula yang paling penting adalah kehadiran kita berdua kurasa.”

“Arasseo.”

Jae Joong terbangun keesokan harinya lalu bersiap-siap menuju rumah eomma-nya. Hari minggu ini akan lain dari biasanya.

Jae Joong tengah bercengkerama bersama dengan kedua orang tuanya saat ponselnya berbunyi. Ia memberi isyarat untuk menjauh sebentar.

“Yeoboseyo.”

“Oppa, eoddiya?”

“Aku sedang berada di rumah orang tuaku. Waeyo?”

“Oppa…tidak bisakah nanti kau ke rumahku? Hari ini…sebentar saja.”

“Mian, sepertinya hari ini aku tidak bisa kerumahmu.”

Hening selama beberapa saat membuat Jae Joong bertanya, “Kau masih di sana?”

“Ye, oppa. Arasseo, semoga harimu menyenangkan. Annyeong!”

Jae Joong mengerutkan keningnya. Ada apa dengan gadis itu, batinnya. Tidak biasanya dia menelepon. Gadis itu bahkan hampir tidak pernah meneleponnya, mengirim pesan pun jarang. Tapi hari ini? Ada apa?

“Yeobo, ada apa? Siapa yang menelepon?”

“Ani. Kajja, kita kembali ke dalam.”

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul mengusap air matanya. Tiba-tiba saja dia begitu merindukan sosok pria yang selama ini mengisi hatinya. Tiba-tiba saja dia merasa seperti ada firasat tidak baik dan membuat air matanya menetes tanpa sadar.

Ia ingin memastikan bahwa firasatnya salah tapi apa yang didapatkannya? Mungkin firasatnya ini bukan tentang dia tapi lebih kepada dirinya sendiri. Karena pada akhirnya dirinya sendirilah yang merasakan pedih. Ada sebuah kenyataan yang selalu membatasi kebersamaan mereka dan saat ini karena alasan itu pulalah yang seolah kembali menyadarkannya bahwa mereka memang tidak seharusnya bersama.

Ga Eul menatap layar ponselnya sendu. Jari-jarinya bergerak menyusuri layar ponsel, lebih kepada mengusap wajah seseorang yang menjadi wallpaper. Ia menangis, lagi. Mereka bahkan tidak pernah mengambil foto berdua. Lagi-lagi menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi jika mereka berdua memaksakan.

Ga Eul ingin melihat wajah pria itu secara nyata saat ini. Ia begitu merindukannya, setiap hari selalu merindukannya. Tidak peduli seberapa sering bertemu, seberapa lama bersama, saat perpisahan itu ada maka rasa rindu juga akan muncul dengan sendirinya. Apakah Ga Eul mencintainya sebesar ini?

= = = n – e – y – s = = =

“Jae Joong ah~ kau harus lebih memperhatikan istrimu mulai sekarang.”

“Nde?” tanya Jae Joong, heran dengan kata-kata eomma-nya.

“Istrimu kan sedang hamil. Kau tidak boleh pulang malam lagi, harus selalu pulang tepat waktu dari kantor. Arasseo?”

DEG! Jae Joong kaget luar biasa mendengar perkataan eomma-nya. Istrinya hamil? Ia senang, tapi harus diakui ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Ada perasaan sedih saat memikirkan akan ada perasaan seseorang yang hancur setelah ini.

“Jae Joong ah~ kau mendengar kata-kata eomma kan?”

“Nde? Ye, eomma. Arayo.”

“Ah, eomma sangat senang karena akan segera memiliki cucu. Nanti kalau usia kandungannya sudah besar, eomma akan tinggal di rumah kalian saja. Aku tidak bisa tenang.”

“Eomma…”

“Wae? Kau tidak suka ya diganggu? Lebih suka berduaan dengan istrimu?”

“Bukan begitu. Tapi…”

“Ah sudah menurut saja pada eomma. Oh ya…”

Blablabla…

Jae Joong tidak lagi fokus pada pembicaraan selanjutnya. Pikirannya menguasai dirinya sendiri. Pikirannya tengah dipenuhi dengan sosok seseorang. Seseorang yang selalu ia usahakan untuk tetap terjaga perasaannya, seseorang yang sangat penting baginya tapi setelah ini sakit itu tidak mungkin lagi dielakkan.

Jae Joong berpikir dan terus berpikir sampai akhirnya ia jatuh pada sebuah pilihan. Pilihan yang akan menyakiti mereka berdua. Pilihan yang akan sangat merubah kehidupan mereka. Pilihan yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan tapi harus. Mianhae, batin Jae Joong pedih.

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul tengah memejamkan mata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, menikmati musik yang mengalun melalui headphone-nya. Ia bahkan tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi. Ia baru menyadarinya saat musik tiba-tiba saja berhenti, siapa lagi kalau bukan ulah seseorang tersebut?

Ga Eul mengerjapkan matanya. Ia memandang sosok yang ada di hadapannya lalu tersenyum lebar. Ia bangkit berdiri lalu langsung memeluk sosok tersebut, “Oppa, bogoshipoyo.”

Pria itu membalas pelukan Ga Eul. Ia bahkan memeluk Ga Eul sangat erat sekaligus berusaha menahan air mata yang hendak jatuh.

“Oppa waeyo? Hari ini pelukanmu terasa berbeda.”

Pria itu tidak menjawab pertanyaan Ga Eul. Ia membenamkan wajahnya ke bahu Ga Eul. Ia terisak, tidak lagi sanggup menahan air mata.

“Oppa, kau menangis? Ada apa?”

“Mian. Mianhae. Jeongmal mianhaeyo, Ga Eul ah~”

Ga Eul berusaha melepaskan pelukannya. Sedikit susah karena pria itu berusaha menahannya.

“Jelaskan padaku ada apa. Kenapa meminta maaf?”

“Oppa…”

Pria itu terduduk dengan lemas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Argh!”

“Ga Eul ah~” ucap pria itu sambil menggenggam jemari Ga Eul. Ga Eul duduk di samping pria itu lalu membalas genggaman tersebut.

Tangan kanan pria itu yang masih bebas bergerak menyusuri pipi Ga Eul. “Kita tidak bisa seperti ini lagi. Kita harus berhenti.”

Ga Eul menangkap maksud pria di hadapannya itu dan langsung bertanya dengan nada tinggi, “Apa maksud oppa?”

“Aku tahu kau mengerti maksudku. Ga Eul ah~ kumohon, kita tidak mungkin bertahan seperti ini terus.”

Ga Eul menyentakkan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh pria itu lalu menurunkan tangan pria itu yang masih berada di wajahnya. Ia menarik nafas lalu bangkir berdiri, “Pulanglah! Kembalilah saat pikiranmu sudah kembali ke tempatnya.”

Pria itu ikut bangkit lalu menahan kedua pundak Ga Eul, “Aku sudah memikirkan ini dengan baik-baik. Kita harus berpisah.”

“WAE? WAE OPPA?” tanya Ga Eul parau. Ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.

“Istriku hamil. Dia hamil, Ga Eul ah~. Apa itu tidak cukup untuk menjadi alasan untuk perpisahan kita.”

“Andwae! ANDWAE! Aku tidak ingin berpisah denganmu, oppa.”

Ga Eul menghambur ke dalam pelukan pria itu, “Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa tanpamu, oppa.”

“Ga Eul ah~ bahkan dari awal kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Dari awal kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Kita…”

“ANDWE! STOP! AKU TIDAK MAU DENGAR!”

Ga Eul mendorong tubuh pria itu menjauh. Ia terjatuh di lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis dan tangisannya terdengar begitu memilukan bagi pria yang ada di hadapannya.

Pria itu berjongkok lalu memeluk tubuh Ga Eul. Ia bisa merasakan betapa rapuhnya keadaan Ga Eul saat ini.

“Ga Eul ah~ mungkin aku belum pernah mengatakan hal ini padamu. Aku, Kim Jae Joong sangat mencintai Jung Ga Eul. Aku, Kim Jae Joong selalu ingin seorang Jung Ga Eul berbahagia. Aku tidak mungkin terus mengurungmu seperti ini. Aku bahkan tidak bisa membahagiakanmu. Aku selalu menyakitimu dengan semua perbuatanku. Bahkan statusku pun mampu membuatmu sakit. Tidak hanya dirimu tapi juga istriku. Aku bersalah pada kalian berdua dan tidak seharusnya aku meneruskan kesalahan ini. Aku bukan pria yang tepat untukmu. Percayalah kau akan menemukan pria yang lebih baik untukmu. Pria yang bisa menjagamu seutuhnya. Pria yang bisa membuatmu bahagia. Pria yang menjadikanmu wanita nomor dua yang ada di hatinya setelah ibunya. Pria yang akan menjadikanmu istri dan ibu dari anak-anak kalian. Pria yang bisa melengkapi hidupmu. Pria itu…bukan aku.”

Ga Eul menggeleng dalam pelukan pria itu, Kim Jae Joong. Ga Eul terus menggeleng sambil menangis. Ia belum siap. Perpisahan seperti ini bahkan tidak pernah ada dalam pikirannya. Bahkan setelah firasat yang ia dapat hari itu.

“Ternyata akan begini. Ternyata firasatku waktu itu benar. Aku begitu merindukanmu tapi aku tidak bisa melihatmu. Dan sekarang aku harus menerima jika kenyataan akan seterusnya begitu. Begitukah?”

Ga Eul tertawa tapi tawa itu justru seolah mencabik hati Jae Joong. Ia tahu tawa itu palsu. Ia tahu betapa sakitnya hati Ga Eul saat ini. Tapi ia yakin waktu akan mengubah segalanya. Ga Eul pasti mampu melewati semua ini. Ga Eul akan menemukan masa depannya dengan seseorang yang tepat untukknya. Ga Eul akan memulai cerita baru dengan pria lain, bukan dirinya.

“Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Kau akan segera menemukan seseorang itu. Kau akan segera mendapatkan obat untuk setiap sakit yang disebabkan olehku. Kau akan segera menemukan penggantiku.”

“Aku tidak berniat untuk menemukan penggantimu.”

“Ga Eul ah~ jebalyo, lepaskan dirimu sendiri dari sakit ini. Aku tahu kau lebih tersakiti dibandingkan diriku. Berhenti menyakiti dirimu sendiri.”

Ga Eul menangis. Lagi. Jae Joong memeluk Ga Eul lembut. Sangat lembut. Ia mengusap rambut Ga Eul perlahan. Mereka berdua, masih menangis.

“Oppa…gomawo. Gomawo untuk membuatku menjadi wanita yang sangat bahagia saat berada di sisimu. Bagiku, kau adalah kebahagiaan. Tapi jika kebahagiaan itu saat ini harus pergi. Seperti katamu, aku akan menemukan kebahagiaanku yang lain.”

Jakku nunmuri nanda shirun nunmuri nanda
Gaseum apaseo neo ttaemune apawaseo
Niga geuriun naren itorok geuriun naren
Bogo shipeo tto nunmuri nanda

Tears are falling again. Painful tears are falling
My heart is hurting, hurt because of you
On the day that I miss you. On the day that I miss you this much
Tears are falling again because I want to see you

Jakku heulleo naerinda niga heulleo naerinda
Gaseume chaseo gaseume niga neomchyeoseo
Apeun nunmuri dwenda geuriun nunmuri dwenda
Nae gaseume neon geureohke sanda oh…

Tears are falling again. You are falling
Filled in my heart, filled in my heart with you
It becomes painful tears and longing tears
You are living in my heart like that

Jakku nunmuri nanda shirun nunmuri nanda
Saranghanikka sarangeun nunmurinikka
Neoreul gyeote dugodo ireohke gyeote dugodo
Mottahan mal neoreul saranghanda

Tears are falling again. Painful tears are falling again
Because I love you, because they are tears of love
Even if you are by my side, like this
The words I couldn’t say. I love you

(Shin Jae – Nunmuri Nanda)

= = = n – e – y – s = = =

Ga Eul duduk seorang diri di teras rumahnya. Hari-harinya terasa begitu sepi. Sejak hari itu, ada perubahan besar yang terjadi di hidupnya. Tidak ada lagi pria yang ia tunggu. Tidak ada lagi pria yang membuatnya tersenyum saat tiba-tiba dia ada dihadapannya. Tidak ada lagi pria itu di hari-harinya dan itu membuat Ga Eul merasakan kosong.

Pikiran Ga Eul melayang ke saat-saat mereka masih bersama. Bersama dalam artian mereka sendiri. Tidak ada status untuk mereka, karena dari awal semua sudah salah. Perasaan yang belum sempat terungkap dengan jelas terbentur dengan kenyataan bahwa Jae Joong sudah menikah.

“Ijinkan aku untuk selalu berada di dekatmu. Berada di dekatmu membuatku merasa tenang dan bahagia.”

“Jeongmalyo?”

“O, kau tidak percaya?”

“Ani. Aku hanya heran, kenapa perasaanku juga seperti itu saat bersamamu.”

“Kalau begitu, biarkan aku selalu berada di sisimu seperti ini.”

Ga Eul mengusap air matanya. Kenapa harus seperti ini? Kenapa dia harus kehilangan sosok yang ternyata juga mencintainya?

“Sejak kapan? Sejak kapan kau mencintaiku, oppa? Lalu kenapa kau harus menikah dengan wanita selain diriku?”

“Oppa… Haengbokhaseyo…”

Doushite kimi wo suki ni natte shimattan darou?
Donna ni toki ga nagaretemo kimi wa zutto
Koko ni iru to, omotteta no ni
Demo kimi ga eranda no wa chigau michi

Why did I fall in love with you?
No matter how much time passed by
I though you’d still be right here
But you ended up choosing a different path

Mou doushite kimi wo suki ni natte shimattan darou?
Ano koro mo, bokura no koto, mou moderenai (kangaeta) modorenai (kangaeta)

So why did I end up falling for you?
We cant go back to that time, or how we were (Ive thought it through)

Doushite kimi no te wo tsukami ubaenakattan darou?
Donna ni toki ga nagaretemo kimi wa zutto
Boku no yoko ni, iru hazu datta (sono mama nii)

Why couldn’t I hold on to your hand?
No matter how much time passed by
I though you’d always be by my side
Just like how it used to be

Sore demo kimi ga boku no soba nara to itte mo
Eien ni kimi ga shiawase de iru koto
Tada negatteru
Tatoe sore ga donna ni sabishikutemo (tsurakutemo)

But, even though you’re no longer next to me
I’ll pray that you’ll be happy for eternity
No matter how lonely that would make me feel
(How lonely that would make me feel)

(TVXQ – Why Did I Fall in Love with You)

 

Fin.

Woah! Rasanya lama udah ga nulis. Lumayan bikin kangen. Hahaha.

Aduuu, mian ya lagi-lagi cerita sedih. Ga tau kok belakangan bawaannya pengen nulis yang sedih-sedih ya? Padahal sebenernya ga gitu suka sama yang sedih-sedih. Tapi yang ini bukan karna lagi galau lo ya? Saya lagi seratus persen bebas galau.

Oh ya, pas adegan pisah di atas itu asli terinspirasi dari adegan pisahnya Yi Soo sama Yi Kyung. Pake lagu yang sama pula. Buat yang ngerasa ga ada mirip-miripnya, pokoknya aku terinspirasi dari adegan itu dan langsung kepikiran buat dibikin gitu. Soalnya adegan itu yang paling nyesek buat aku. Bocoran, aku baru nonton 49 days and seneng banget sama pasangan itu, sekaligus sedih soalnya mereka ga bisa bersatu. Oh ya, telat banget ya aku baru nonton 49 days? Hahaha.

Dan lagu terakhir itu… Itu lagu juga aku suka banget. Liriknya ngena banget dan yang paling penting, Jae Joong-nya aku suka banget *oke kayaknya dunia ga perlu tahu*

Udah ah sampe disini aja curhatnya. Saengil chukahamnida Nara eonni! Jang Na Ra jjang! *numpang ngucapin di sini ya*

Annyeong! *kali ini bener-bener pamit*

Advertisements

2 thoughts on “[One Shot] Nunmuri Nanda (Tears Are Falling)

  1. keren..hehe .
    tp aku ga bs dapet feelnya jaejoong . haduuh.. entah knpaa rasanya peran jaejoongnya berasa datar . apa aku bacanya pas lg ga ngeklik kali yaa . hehe.. good story eonni .^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s