[Songfic] This is our end?

Halooo semuaaa… Kangen kah sama saya? Saya bawa FF baru nih! Yup! Kali ini Songfic. Dua lagu ini berhasil menginspirasi saya untuk membuat FF. Sangat menyentuh. Tapi entahlah apa FF ini berhasil buat kalian tersentuh apa ga. Oh ya, ntar pas baca sambil dengerin lagunya ya? Ditunggu comment-nya… ^_^

♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥

Title : This is our end?

Author : neys

CAST

Jung Yong Hwa ♥ Song Min Hyo

Song :

M Signal – I Guess You Don’t Know (Min Hyo’s pov)

Jung Yong Hwa – Because I Miss You (Yong Hwa’s pov)

 

I met you, loved you and hurt by that love

Just looking at you without being beside you, I’m a fool

When you cried, I cried. When you smiled, I smiled

Like a child, just following you whatever you do, I’m a fool

Aku memandang wajahnya yang sendu itu. Entah mengapa aku menjadi seseorang yang sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku hanya bisa berada di sisinya tanpa melakukan apapun.

“Apa aku tidak pantas mendapatkan cinta, Hyo?”

Mendengar pertanyaannya reflek membuatku langsung menggelengkan kepala, “Tentu saja berhak. Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

Hening. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Apa terjadi sesuatu saat aku kemarin tidak masuk kuliah?”

“Yong! Katakan sesuatu, jangan hanya diam seperti ini. Kau membuatku khawatir.”

Yong menoleh padaku, masih dengan tatapan sendunya. Dia tersenyum tapi senyuman itu justru membuatku semakin yakin bahwa dia tidak sedang dalam keadaan yang baik.

“Kau tahu apa yang terjadi padaku kemarin?”

“Kemarin… Shin Hye menolak cintaku. Setelah sekian lama aku mendekatinya, setelah semua usahaku, setelah… Demi Tuhan! Aku begitu mencintainya, Hyo.”

Yong menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mengerang frustasi. Sesaat aku tahu bahwa dia sedang menangis. Dan tanpa dikomando air mataku pun ikut menetes. Sesakit itukah hatimu, Yong?

 

I love you but you can’t hear it

I love you but you don’t know it

I shed teardrops in my heart but you don’t see it

“Hyo!”

Aku merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja belajarku. Kertas-kertas yang berisikan ungkapan-ungkapan hatiku. Tidak ada seorangpun yang mengetahui isi hatiku. Tidak juga dengan Yong.

“Ya! Apa yang kau sembunyikan?” tanya Yong sambil menarik selembar kertas dari tanganku secara acak.

 

Haruskah aku menjadi pengecut dan terus berada di sisimu seperti ini?
Bolehkah aku keluar dari tempat persembunyianku untuk sekedar melihat keluar?
Masih bisakah aku menatap sosok selain dirimu?
Bersediakah kau melepaskanku dari belenggu ini?

 

“Hyo, apa maksud kata-katamu ini? Sedikitpun aku tak paham. Kau sedang menulis novel, o?” tanya Yong sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur usai mengembalikan kertas yang tadi direbutnya.

“Ada apa kerumahku?”

“Ya! Jadi sekarang aku harus memakai sebuah alasan untuk bertamu ke rumahmu? Bukannya biasanya juga tidak perlu.”

“Bukan begitu, aku kan hanya bertanya.”

“Oh ya Hyo, Il Woo sunbae menitipkan salam padamu.”

“Salam? Untuk apa?”

“Nappeun yeoja! Dia menyukaimu, tentu saja. Bagaimana? Mau kirim salam balik tidak? Dia bukan namja yang bisa diremehkan. Dia senior kita dan popularitasnya di kampus kau sudah tahu sendiri bukan? Tunggu apa lagi, toh kau juga tidak pernah punya pacar selama ini. Jarang-jarang ada namja tampan yang menyukaimu.”

“Aku tidak tertarik.”

“Wae?”

Karena aku mencintaimu, Yong. Selama aku masih mencintaimu, hati ini tidak akan terbuka untuk namja lain. Tidak akan.

 

I call out your name but you can’t hear it

You are the only one for me but you don’t know it

My love is blind, my love is poignant, and I can’t do that

“Aku ingin memberi Shin Hye kejutan,” ucap Yong saat aku baru saja masuk ke kelas. Dia berlari ke arahku sambil menampakkan senyumnya yang entahlah nampak begitu menyebalkan hari ini.

“Kau belum menyerah?”

“Tentu tidak. Aku akan berjuang sekali lagi untuk mendapatkannya. Masa iya dia tidak akan jatuh pada pesonaku.”

“Kejutan apa?”

“Justru itu, aku ingin menanyakannya padamu. Wanita suka diberi kejutan yang seperti apa?”

“Aku tidak tahu,” jawabku sambil duduk.

“Masa kau tidak tahu? Kau ini yeoja apa bukan sih?”

“Ya! Kau kan tahu sendiri aku belum pernah pacaran? Aku mana tahu hal-hal semacam itu?”

“Ah! Kau benar! Lalu aku harus memberinya kejutan apa?”

“Let me think.”

Aku berusaha memutar otak. Kejutan. Kejutan. Kejutan. Argh! Kenapa tidak ada satupun ide yang muncul?

“Ah!”

“Mworago?”

“Bagaimana jika kau menyanyikan lagu ciptaanmu sendiri? Kau ajak dia makan malam lalu berikan dia kejutan itu.”

“Lagu ciptaanku sendiri?”

“Ya, lagu yang pernah kau nyanyikan untukku waktu itu.”

“Tapi kan lagu itu…”

“Wae?”

“Ani. Baiklah, aku akan mencobanya. Terima kasih telah memberiku ide yang begitu cemerlang.”

 

Just turn around and I’m right here behind you

When you’re tired of someone else’s love, hurt by someone else’s love

Dan di sinilah aku, duduk di sebuah kursi di sebuah café. Seorang diri, hanya ditemani segelas ice lemon tea. Bodoh? Mungkin iya, aku mengamati dirinya – mereka lebih tepatnya. Aku memilih untuk mengikuti Yong ke café ini, apa kau ingin melihat dirimu sendiri hancur malam ini, Hyo?

 

The day when I first saw you
Your bright smile full of shyness
We’ll get closer after today
Every day, I have heart-fluttering expectations

 

Aku melihatnya. Aku melihat Yong berada di panggung duduk sambil memetik gitarnya, bernyanyi sambil menatap Shin Hye yang masih duduk di tempat mereka tadi. Dia benar-benar menjalankan rencana ini.

 

What to say to you
How to get you to laugh
I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand
All I can do is smile shyly

Hopefully we can speak banmal to each other
Even though it’s still awkward and unfamiliar
Instead of saying ‘thank you’
Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other
You walk towards me slowly, step by step
Now look at my two eyes and tell me
I love you

 

Yong meletakkan gitarnya, mengambil mic dari stand-nya lalu turun dari panggung. Dia menghampiri Shin Hye lalu menggenggam jemari Shin Hye. Tatapan Yong pada Shin Hye sungguh membuatku ingin menangis. Aku memegang dadaku yang terasa sesak. Yong, kalau dengan Shin Hye bisa membuatmu bahagia aku rela. Aku rela menahan rasa sakit ini seorang diri untuk dirimu.

 

The day when I held your hand
I felt my heart stop beating
I don’t even remember what I said
All I feel is a flutter in my stomach

Hopefully we can speak banmal to each other
Even though it’s still awkward and unfamiliar
Instead of saying ‘thank you’
Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other
You walk towards me slowly, step by step
Now look at my two eyes and tell me
I love you

Hopefully we can fall in love with each other
I’ll never let go of your two hands from my grasp
The light of your eyes, gazing at me
I hope there will only be joyful smiles

We can probably fall in love with each other
We can lean on one another and take care of each other
Looking into your eyes, my two eyes
They’re talking to you
I love you

 

“Saranghae.”

Aku masih dapat mendengar dengan jelas pengakuan Yong tersebut. Lagi-lagi air mataku jatuh. Ya Tuhan! Sakit sekali. Selama ini akulah yang selalu berada di sisi Yong Hwa, apa sekarang aku harus merelakan untuk tak lagi selalu berada di sisinya?

“Mianhae. Aku tidak mencintaimu. Permisi,” ucap Shin Hye sambil menepis tangan Yong yang masih menggenggamnya sejak tadi lalu pergi keluar dari café.

“Yong…” gumamku secara tidak sadar.

Yong Hwa menghela nafas. Dia menangis, aku tahu itu. Dia mengambil dompetnya, meletakkan beberapa lembar uang lalu beranjak untuk pergi. Aku bergegas melakukan hal yang sama dengannya. Aku harus memastikan dia tiba di rumahnya dalam keadaan utuh.

Aku berjalan dan terus berjalan. Kenapa dia harus berjalan kaki? Jarak antara rumah dan café tidak bisa dibilang dekat. Apakah patah hati mampu membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi lemah? Aku rasa iya.

“AAA!!! PARK SHIN HYE!!!”

Yong berteriak bercampur menangis. Berhentilah menangis, Yong. Berhentilah menangis, tidakkah kau melihat aku pun ikut menangis bersamamu sejak tadi?

Akhirnya dia sampai di rumahnya. Aku bisa bernafas dengan lega. Setidaknya dia tidak berbuat hal-hal bodoh. Seandainya saja tadi kau mau menoleh ke belakang, Yong. Sekali saja menoleh ke belakang maka kau akan tahu bahwa aku selalu ada untukmu.

 

I love you but you can’t hear it

I love you but you don’t know it

I shed teardrops in my heart but you don’t see it

“Bagaimana hubunganmu dengan sunbaenim?”

“Maksudmu Jung Il Woo?”

“Tentu saja. memang dengan sunbae mana lagi kau berhubungan?”

“Biasa saja.”

“Kau tidak ingin berbagi cerita?”

“Tidak ada yang perlu diceritakan.”

“Oh ayolah, pasti ada kan?”

“Kenapa tidak kau saja yang bercerita? Yang baru pergi kencan kan kau bukan aku?”

“Kalau aku tidak menceritakannya padamu, tentu saja kau sudah bisa menebak sendiri kan?”

“Baiklah, aku anggap aku mengerti. Kau ingin pergi keluar? Akan kutraktir kau ice cream. Anggap saja untuk melepas penat. Bagaimana?”

“Kenapa kau begitu baik, Hyo? Kajja!”

Karena aku mencintaimu, Yong. Akan kulakukan apapun asal kau bahagia.

 

I call out your name but you can’t hear it

You are the only one but you don’t know it

My love is blind, my love is poignant

Aku dan Yong Hwa sedang duduk berdua di salah satu kedai ice cream. Kami berdua berbincang dan bercanda. Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini. Semenjak dia memutuskan untuk mengejar gadis bernama Park Shin Hye.

“Sepertinya aku merindukanmu, Hyo.”

“Nde?”

“Aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat dimana kita berdua tertwa lepas. Membicakan apapun yang kita inginkan. Ah! Rasanya benar-benar melegakan.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Aku bahagia, ani lebih tepatnya sangat bahagia.

“Yong Hwa ya? Min Hyo ah?”

“O, sunbaenim. Annyeong!” ucap Yong Hwa menyapa seseorang yang ternyata adalah Il Woo sunbae.

Aku tersenyum sekilas, “Sunbae annyeong!”

Dan sepertinya aku harus rela waktuku dan Yong Hwa kami bagi bersama dengannya. Tidak apa, asal itu membuat Yong Hwa melupakan bahwa saat ini dia baru patah hati, aku rela.

 

Today I call you a thousand times

Even though you can’t hear it

Tubuhku terasa berat. Aku mengambil ponselku, mengetikkan sebuah pesan untuk Yong Hwa.

 

To : Yong ^^
Hari ini aku tidak masuk kuliah, kau tidak perlu menjemputku di rumah.

From : Yong ^^
Wae? Kau baik-baik saja kan?

To : Yong ^^
Aku baik-baik saja.

 

Aku kembali tertidur dan saat bangun aku merasakan tubuhku basah oleh keringat.

“Hyo, kau sudah bangun?”

“Oppa…”

“Gwaenchanna? Aku baru saja menelepon Yong Hwa supaya dia segera kemari.”

“Yong? Untuk apa?”

“Saat tidur kau terus memanggil namanya jadi kupikir lebih baik aku menyuruhnya datang saja.”

“Oppa…”

 

I love you so, please look at me

I love you so, please come to me

Please come one step closer, I will wait for you

“Hyo, gwaenchanna?”

“Gwaenchanna. Mian merepotkanmu, aku tidak tahu kalau Jong Ki oppa meneleponmu tadi.”

“Apa yang kau bicarakan? Kau ini sahabatku, seseorang yang sangat penting untukku. Kau sakit, aku mana bisa tidak peduli?”

Jinjjayo?

“Kau sudah minum obat?”

“Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja, Yong.”

“Tidak sakit bagaimana? Kau pasti belum bercermin ya? Lihat, wajahmu sudah putih pucat. Seperti hantu saja. Masih mengaku tidak sakit. Ck!”

 

Neon naege banhaesseo banhaesseo dalkomhan naesarange nogabeoryeosseo
Neon naege banhaesseo banhaesseo hwangholhan nae nunbiche chwihaebeoryeosseo
See my eyes neon naege ppajyeosseo
See my eyes neon naege banhaesseo

 

“Yeoboseyo.”

“Shin Hye ah, no gwaenchani?”

“Ya! Shin Hye ah waegure?”

“Hyo, mianhae. Aku harus pergi. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Shin Hye tapi sepertinya dia membutuhkanku sekarang. Aku akan segera kembali.”

“Yong!”

Aku turun dari tempat tidurku dan mengejarnya. Tidak. Aku tidak akan mengalah lagi. Aku harus mengatakan pada Yong tentang perasaanku. Aku ingin menahannya untuk tetap di sisiku.

 

I’m sorry because I only know you

I’m nothing without you.

Because of this bitter love, I call for you

You don’t know…

Aku terus berlari mengejarnya. Aku tahu aku masih sakit tapi aku tidak peduli. Aku juga tahu bahwa dia juga tidak menyadari jika aku sedang mengejarnya. Tubuhku semakin melemah. Kakiku sakit karena aku bahkan belum sempat memakai alas kaki. Air mata juga semakin menghalangi penglihatanku. Kenapa aku malah menangis?

Yong menyeberang. Aku harus cepat kalau tidak ingin kehilangan jejaknya. Aku langsung menyeberang tanpa melihat ke kiri dan kanan terlebih dahulu.

BRUAK!

“YONG!!!”

= = = n – e – y – s = = =

Always under exactly the same sky, always exactly the same day

Other than your not being here, there’s nothing different at all

I just want to smile, want to forget everything

Just like absolutely nothing has happened, smiling to live my days

Aku menutup buku laguku kasar. Tidak biasanya aku duduk sendirian seperti ini. Tempat yang sama, waktu yang sama, kebiasaan yang sama. Tapi kini semua terasa benar-benar berbeda. Tidak ada dirimu di sini, Hyo.

Aku ingin melupakan apa yang telah terjadi. Hal yang berhasil mengubah segalanya. Aku ingin tersenyum, bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Aku ingin menjalani hidupku secara wajar kembali. Meskipun tidak ada lagi sosok Min Hyo, aku harus tetap bertahan. Karena aku sendiri lah yang membuat semuanya menjadi seperti ini.

 

Miss you, miss you so much, because I miss you so much

Everyday all by myself, calling and calling you

Want to see you, want to see you, because I want to see you so much

Now it’s like I have this habit, keep calling out your name

It’s the same today

Aku merindukanmu, Hyo. Sangat-sangat merindukanmu. Entah sudah hari keberapa ini, aku benar-benar ingin melihatmu. Aku rindu berbincang denganmu. Aku rindu bercanda denganmu. Aku rindu melihat wajahmu, senyummu. Semuanya yang ada padamu. Hyo…

Entah aku bisa bertahan sampai kapan. Setiap hariku masih sama saja. Aku masih merindukanmu. Tidak ada hal yang lain yang kurasakan betapa aku merindukan seorang Song Min Hyo.

 

I thought I’d let go, not leaving anything behind

No, no, now I still can’t let you go

Kenapa harus begini? Apa aku sebegitu bodohnya sampai tidak menyadari apa yang sebenarnya kau rasakan? Dan lebih bodohnya lagi, aku bahkan tidak menyadari perasaanku sendiri.

Aku bodoh! Song Min Hyo… aku belum bisa merelakanmu. Aku benar-benar ingin kau kembali di sini, di sisiku. Aku membutuhkanmu, Hyo. Apa yang sedang kau lakukan di sana?

“SONG MIN HYO!!! AKU MERINDUKANMU!!! KEMBALILAH!!!”

 

Miss you, miss you so much, because I miss you so much

Everyday all by myself, calling and calling you

Want to see you, want to see you, because I want to see you so much

Now it’s like I have this habit, keep calling out your name

It’s the same today

Aku menatap ponselku. Aku merindukan pesan-pesan masuk yang selalu memenuhi inbox-ku setiap harinya. Aku merindukan panggilan-panggilan masuk yang selalu ada di register panggilanku. Aku merindukan top score yang selalu berhasil ia ciptakan di setiap permainan di ponselku. Aku merindukan suara kamera ponselku yang selalu ia pinjam untuk memotret, entah memotret diri sendiri atau pemandangan. Setiap ditanya kenapa tidak memakai ponsel sendiri hanya menjawab dengan juluran lidah.

Aku merindukan semuanya. Sampai kapan aku harus menahan rindu ini seorang diri. Tidakkah kau merindukanku juga, Hyo? Seperti inikah yang dinamakan mencintai? Kenapa kau tega membiarkan orang yang kau cintai merindukanmu sebesar ini?

Katakan, Hyo!

 

Everyday, everyday, it feels like I’m gonna die, what should I do?

Aku memejamkan mataku. Mengingat kejadian hari itu. Mengingat apa saja yang terjadi setelah itu.

Aku berlari menghampiri Hyo dengan sangat panik. Darah keluar begitu banyak dari kepalanya. Aku menggendongnya ke rumah sakit. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Dan… ingatanku juga terpaksa melayang ke pembicaraanku dengan Jong Ki hyung di rumah sakit.

Dia mengajakku duduk di kantin rumah sakit lalu memberiku sekaleng kopi, “Kau tahu apa yang ingin kubicarakan?”

Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

“Min Hyo sebenarnya mendapatkan beasiswa. Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2-nya di Jepang tapi dia nampak begitu ragu untuk mengambilnya. Kau tahu kenapa?”

Lagi-lagi aku hanya menggeleng.

“Karena dirimu. Dia tidak ingin meninggalkanmu. Tidak, tidak. Alasan yang sebenarnya adalah karena dia mencintaimu. Dia ingin selalu ada di sampingmu. Dan karena dia merasa kau masih membutuhkannya, dia jadi semakin ragu.”

“Apa kau mencintai adikku? Kalau tidak, bisakah kau menghilang saja dari kehidupannya? Biarkan dia mengejar impiannya. Jangan membuatnya bertahan untuk sesuatu yang bahkan tidak akan mungkin didapatnya. Aku ingin adikku bahagia.”

“Katakan padanya langsung bahwa kau tidak membutuhkan adikku untuk selalu menemanimu karena kau bisa hidup mandiri tanpa adikku. Tapi kalau kau memang mencintai adikku, jaga dia dan jangan pernah membuatnya bersedih. Ingat itu.”

Kata-kata Jong Ki hyung waktu itu benar-benar membuatku berpikir. Aku tahu Min Hyo berhak mendapatkan yang terbaik. Dia harus mengambil beasiswa ke Jepang itu. Cukup sudah aku menggantung semuanya. Aku harus menemuinya sekarang.

Aku beranjak dari tempat tidurku, menyambar jaket beserta kunci motorku lalu melaju menuju rumah sakit tempat di mana Hyo dirawat.

Aku masuk ke kamar rawat Hyo. “Hyung…”

“O, Yong Hwa ya sepertinya kau sudah mengambil keputusan. Aku tinggal dulu. Bicaralah, meskipun dia belum sadar aku yakin dia masih bisa mendengarmu.”

“Gomapta, hyung.”

Aku memandang wajah Hyo yang begitu damai, matanya terpejam. Masih terpejam, sama seperti saat aku mengantarnya ke rumah sakit. Dia masih belum mau membuka matanya sejak hari itu. Mengapa kau tidak juga bangun, Hyo? Apakah kau begitu enggan melihatku lagi? Apa kau membenciku? Tak ingin lagi melihatku? Aku tahu aku sudah menyakitimu begitu banyak. Aku tahu.

Aku duduk di sebelah Hyo lalu menggenggam tangan kanannya, “Baiklah, kalau itu memang maumu. Aku akan mengabulkannya. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku, di detik pertama setelah aku menutup pintu kamar ini, kau harus membuka matamu. Kau harus sembuh dan sehat untuk seterusnya. Kau harus melanjutkan hidupmu dan kau harus mengejar mimpimu yang sempat hendak kau tangguhkan hanya demi namja bodoh sepertiku. Araji?”

Aku beranjak dari kursi lalu menatap wajah Hyo lekat, berusaha merekam setiap inchi wajahnya. Mungkin setelah ini aku tidak bisa lagi menatap wajahmu dari jarak sedekart ini, Hyo. Mungkin setelah ini aku bahkan tidak punya kesempatan untuk berjumpa apalagi berbincang denganmu. Setelah hari ini, kau harus menjadi Hyo yang kuat, tidak lagi menggantungkan hidupnya pada namja yang kau cintai. Apalagi jika ternyata namja itu tidak menghargai cintamu.”

“Selamat tinggal, Hyo.”

Aku bisa merasakan ada air mata yang menetes di wajahku. Demi Tuhan, belum pernah aku merasakan sakit dan sesak yang luar biasa seperti ini. jujur, aku sebenarnya tidak ingin berpisah dari Hyo, tapi aku harus. Aku tidak boleh terus-terusan menyiksanya begini. Jujur saja, aku ingin memilikinya, tapi jika itu berarti aku harus mengorbankan impiannya aku tidak akan memaksakan diri. Aku percaya Hyo akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Seseorang yang mampu menjaga Hyo.

 

Love you, love you, I love you

I hadn’t even spoken the words, I just let you go

Sorry, sorry, do you hear my words

My late confession, can you hear it

I love you

Aku mengusap pipi Hyo lalu menyibakkan poni yang menutupi dahinya. Aku memberanikan diri untuk mengecup keningnya, “Saranghae, Hyo.”

Salahkah aku baru menyadarinya? Salah atau tidak, sepertinya memang takdir. Aku berbalik, berjalan menjauh dari Hyo. Meraih gagang pintu lalu keluar. Aku keluar dari kamarmu, Hyo. Itu artinya aku memutuskan untuk keluar dari kehidupanmu. Terima kasih telah menjadi sahabatku selama ini. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Hyo.

= = = n – e – y – s = = =

Tanpa Yong Hwa ketahui, di detik pertama setelah ia menutup pintu kamar Min Hyo, ada cairang bening yang mengalir keluar dari kedua sudut mata Min Hyo. Ya, Min Hyo menangis dan dia mendengar semua pengakuan Yong Hwa padanya.

 

Maybe some people are meant to fall in love with each other, but not meant to be together.

 

Fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s