[Series] No More Tears – Chapter 7 (End)

Last chapter!!! Aku bebasin deh kalian mau ngomong apa aja di kolom comment. Mau nanya, mau jawab, apa aja deh. Hehehe.

Sampai jumpa di FF selanjutnya, yang aku masih belum tau kapan bakal nongol lagi. Dan sebenernya ga yakin bakalan bikin FF lagi dalam waktu deket. Tapi, gomawo karena udah ngikutin series ini dari chapter satu sampe chapter tujuh ini. Bener-bener makasih ya?

Mian kalo FF ini masih belum seperti yang Anda-Anda harapkan. Saya pamit undur diri dulu. Bye!!! ^_^

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


“Aku menemukanmu, sayang…”

Aku terkejut mendengar suara yang sudah seminggu belakangan ini tidak aku dengar. Suara yang sangat aku rindukan. Tidak salah lagi ini suaranya.

Aku membalikkan tubuhku dan melihatnya bediri beberapa meter di hadapanku.

“Dong Hae ah~.”

“Aku menemukanmu, sayang. Dan kumohon, jangan pernah pergi lagi. Aku membutuhkanmu. Sehari saja tidak melihatmu, atau setidaknya mendengar suaramu membuat hidupku terasa mati.”

“Setidaknya biarkan aku tahu bahwa kau baik-baik saja.”

“Mianhae.” Hanya itu saja yang dapat aku ucapkan. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Dia berhasil menemukanku bahkan tepat setelah aku baru saja mengijinkannya untuk mencariku.

“Apa kau sudah membaca pesanku?”

“Ne. Tepat saat aku tiba di sini pesanmu masuk. Tidakkah itu berarti kita sudah ditakdirkan untuk bersama?”

“Aku merindukanmu,” ucapnya dengan ekspresi wajah yang sulit untuk kuartikan.

Aku bisa melihatnya berjalan mendekat ke arahku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga merindukannya. Tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk mengatakannya.

Dan saat dia berdiri tepat di hadapanku, kali ini dengan jarak hanya belasan centimeter, dia langsung memelukku. Sangat erat.

“Jae Mi ah~ saranghae. Jeongmal saranghaeyo.”

* * *

“Kau akan membuka hatimu. Kau tidak berbohong soal itu kan?”

“Aku tidak berbohong. Tapi, aku hanya bilang untuk mempertimbangkannya. Dan tidak harus berarti itu kau.”

“Ya! Kau tega sekali menyiksaku?”

“Menyiksamu memberi kepuasan tersendiri untukku.”

“Kejam!”

“Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu.”

“Tanyakan saja, akan aku jawab sebisaku.”

“Bisa kau jelaskan padaku tentang dirimu yang seolah sudah mengenalku sejak lama?”

“Ah, itu…”

Pagi hari yang cerah, nampak anak-anak kecil sedang bermain-main di tepi pantai. Sebuah pantai di kota Mokpo. Anak-anak itu namja dan yeoja, umur mereka berkisar antara lima hingga tujuh tahun. Bermain pasir dengan riang. Bersama-sama meski bahkan ada yang belum saling mengenal sebelumnya.

Salah seorang di antara mereka hanya duduk sambil memperhatikan yang lain. Namja. Dia seorang namja. Wajah namja itu nampak sedih dan tidak bersemangat hingga akhirnya ada seorang yeoja kecil yang menghampirinya.

“Ya, kau sedang apa duduk sendirian di sini? Kenapa tidak ikut bermain bersama kami?”

Tidak ada sahutan.

“Setidaknya saat bermain kau tidak perlu memasang wajah seperti itu. Dengan bermain kau bisa tersenyum. Kau mau mencobanya?”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Asal bermain dengan teman-temanmu makan kau pasti akan merasa lebih baik. Ayo, main denganku saja. Kau mau main apa?”

Namja itu pun akhirnya mengikuti kemana yeoja itu pergi. Mereka berdua main bersama. Bermain dengan riang hingga namja itu pun akhirnya ikut tertawa.

“Apa aku bilang? Kalau kau bersedih lagi, main saja denganku. Aku sering datang ke sini.”

“Neo. Siapa namamu?”

“Jae Mi. Park Jae Mi imnida. Kau?”

“Panggil saja aku Fish.”

“Fish?”

“Baiklah, Fish. Kalau kau datang kesini dan melihatku, panggil aku lalu kita akan main bersama.”

“Pasti.”

“Jadi kau adalah Fish? Aish, jinjja!”

“Ne. Dan kau adalah cinta pertamaku sejak tujuh belas tahun yang lalu.”

“Kau jangan bercanda. Hal seperti itu mana ada.”

“Kau yang saat itu berhasil membuatku kembali tersenyum, salah tertawa. Saat itu aku sedih sekali. Ayahku memarahiku. Tapi kau sanggup membuatku tertawa dengan gembira. Kau adalah malaikat penolongku.”

“Kau berlebihan.”

“Mungkin kau berpikir demikian tapi tidak denganku. Hari itu saat aku bersama denganmu ada sebuah perasaan bahwa kita harus terus bersama. Bukan karena aku lebih baik saat bersamamu tapi karena aku tak bisa hidup tanpamu.”

Aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya.

“Kau mau main pasir lagi denganku seperti dulu? Anggap saja nostalgia,” tawarku.

“Aku sedang tidak ingin bermain.”

“Oh, ayolah. Kita sedang berada di Mokpo loh. Kota kelahiran kita. Masa kau mau menyia-nyiakannya begitu saja?”

“Tujuanku kemari bukan untuk berkunjung ke kampung halaman, nona.”

“Lalu?”

“Tujuanku kemari adalah untuk menjemputmu. Membawamu kembali ke sisiku.”

“Dong Hae ah~.”

“Aku tidak sedang bercanda, nona Park.”

“Dong Hae ah~.”

“Berhenti memanggilku karena aku sudah tahu namaku itu Dong Hae.”

“Dong Hae ah~.”

Aku tidak tahu, tapi aku hanya sanggup untuk melafalkan namanya. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Terlebih soal pengakuannya padaku. Haruskah aku mengakui jika aku mulai merasakan hal yang sama dengannya. Ah salah! Mungkin bukan baru merasakan tapi baru menyadari.

Lee Dong Hae. Seorang namja yang berhasil membuatku ketergantungan akan semua hal tentangnya. Asal berada di dekatnya aku akan merasa nyaman dan damai. Haruskah aku jujur saat ini?

“Saranghae. Jeongmal saranghaeyo, Park Jae Mi.”

“Aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu padamu.”

“Tanyakan saja.”

“Apa kau sengaja masuk ke kampus yang sama denganku?”

“Mwo? Aku?”

“Hm… Sebenarnya aku tidak tahu kau kuliah di sana. Tapi hari itu saat melihatmu terjatuh, hatiku langsung berkata bahwa itu kau. Hatiku yang mengatakan demikian dan ternyata itu benar-benar kau.”

“Asal kau tahu, tujuanku pindah dari Mokpo juga untuk mencarimu. Entah mengapa ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa kau sedang membutuhkan diriku dan ternyata aku tidak salah. Kau memang sedang membutuhkanku.”

“Aku? Membutuhkanmu?”

“Ehm… Kau membutuhkanku untuk membawamu kembali ke alam nyata. Kembali ke duniamu yang seharusnya. Kembali menjadi seorang Park Jae Mi yang aku kenal.”

“Asal kau tahu saja. Saat aku melihatmu hari itu di kampus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak langsung memelukmu dan mengatakan bahwa aku adalah Fish. Entah mengapa saat itu aku merasa aku harus merahasiakannya terlebih dulu darimu.”

“Dan sepertinya aku mengambil keputusan yang tepat. Usahaku juga tidak bisa dikatakan gagal.”

“Gomapta. Terima kasih karena sudah berbuat demikian banyak untukku,” ucapku sambil terisak.

“Ya! Kenapa kau malah menangis? Aku kan tidak sedang menceritakan kisah yang mengharukan?”

“Tapi semua pengorbananmu untukku telah membuatku lebih dari sekedar terharu.”

Dong Hae merengkuhku ke dalam pelukannya. Dan aku tak sanggup untuk menolaknya. Karena jauh di dalam hatiku seolah ada sebuah suara yang mengatakan bahwa aku memang membutuhkan dirinya. Sangat membutuhkannya.

“Mianhae karena sudah merepotkanmu selama ini.”

“Kau tidak pernah merepotkanku. Aku rela melakukan apapun asal kau berbahagia.”

“Aku punya satu permintaan,” ucapku sambil melepaskan diri dari pelukannya.

“Tadi satu pertanyaan. Sekarang satu permintaan. Sebenarnya kau ada niat untuk menjawab pernyataanku tidak sih?”

“Yang namanya pernyataan tidak butuh jawaban kecuali kau bertanya padaku.”

“Baiklah. Kalau begitu aku akan bertanya padamu. Apa kau mau menikah denganku?”

“Ya! Kenapa langsung menikah? Aku bahkan belum di wisuda.”

“Aku kan tidak memintamu menikah denganku besok.”

“Nyanyi dulu baru aku jawab.”

“Ya! Kalau saja aku tidak mencintaimu aku tidak akan menurutimu. Aish!”

Aku tertawa mendengar kata-katanya. Tak lama dia mulai bernyanyi.

It’s been a long and winding journey, but I’m finally here tonight
Picking up the pieces, and walking back into the light
Into the sunset of your glory, where my heart and future lies
There’s nothing like that feeling, when I look into your eyes

 My dreams came true, when I found you
I found you, my miracle

If you could see what I see, that you’re the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness I feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here

Standing here before you, feels like I’ve been born again
Every breath is your love, every heartbeat speaks your name

 My dreams came true, right here in front of you
My miracle

If you could see what I see, that you’re the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness I feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here

Brought me here to be with you
I’ll be forever grateful (oh forever faithful)
My dreams came true, when I found you
My miracle

If you could see what I see, that you’re the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness I feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here
Yes, they brought me here
If you could feel the tenderness I feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here

(Guy Sebastian – Angels Brought Me Here)

 

Selama dia bernyanyi aku hanya bisa tersenyum sambil menatapnya. Memandangi wajahnya yang beberapa hari ini tidak kulihat. Kalau benar malaikat yang membawanya ke tempat ini – ke tempat kita pertama kali bertemu, maka, tidakkah kalian merasa bahwa sudah seharusnya kami membuat kenangan berharga juga di sini?

“Terpesona, eh?”

“Jangan bermimpi, Tuan Lee!”

“Sayangnya kali ini aku tidak sedang bermimpi. Saat ini aku sedang berada di Mokpo, di hadapan seorang gadis yang aku tak bisa hidup tanpanya. Dan sedang menanti jawaban dari gadis itu. Jawaban yang akan sangat berpengaruh untuk kelanjutan hidupku kelak.”

“Jangan membuat keadaan menjadi mencekam seperti itu. Gadis itu akan segera menjawab pertanyaanmu, kau tenang saja.”

“Aku akan tenang setelah gadis itu berkata…”

“Aku akan selalu di sisimu, Fish. Takkan lagi menghilang dari jangkauanmu. Aku akan selalu berada di tempat yang bisa kau deteksi. Keadaanku juga akan selalu kau ketahui.”

“Jae Mi ah~ jeongmalyo? Coba katakan sekali lagi.”

“Andwae! Tidak ada siaran ulang.”

“Jae Mi ah~ jebalyo…”

“Andwae!!!” teriakku sambil langsung bangkit berdiri lalu berlari.

“Ya! Jangan kabur!”

Berkejar-kejaran di tepi pantai Mokpo – kota kelahiranku, bersama dengan seseorang yang punya arti khusus di hatiku. Aku bahkan tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.

Karena lelah akhirnya aku berhenti lalu duduk. Dong Hae menghampiriku lalu duduk di sampingku.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Kami berdua melihat matahari terbenam untuk pertama kalinya dengan status yang berbeda.

Satu hal yang pasti. Kini, tidak ada lagi air mata kesedihan. Aku percaya dia takkan membuatku menangis. Mungkin suatu hari nanti aku akan menangis tapi aku percaya itu bukan karena dia menyakiti hatiku. Entah air mata bahagia, terharu ataupun yang lain. Terima kasih untuk segalanya my Fish, Lee Dong Hae.

* * *

Don’t marry someone you can live with, but marry someone you can’t live without.

.F.I.N.

Advertisements

2 thoughts on “[Series] No More Tears – Chapter 7 (End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s