[One Shot] Only You

Hai! I’m back! Lama tak jumpa… Entahlah ini bisa disebut FF atau ga, ini cuma sekelumit kata-kata yang aku rangkai menjadi sebuah cerita. Aku membebaskan kalian untuk membayangkan pria manapun untuk menjadi cast dari ceritaku kali ini. Sebenernya ide cerita ini muncul pas aku lagi inget kata-kata di awal cerita ini. Kalo mau tau apa, ntar pas baca deh ya? Hehehe…

Ya udah deh daripada kebanyakan omong mending langsung baca ya? Comment-nya sangat aku nantikan. Makasih… ^_^

♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥

Title : Only You

Author : neys

CAST : Someone special in your mind

A wise man entered the café to tell a joke…and everyone laughing. Then, he repeats his joke. This time, only a few people who laughing. 5 minutes later he told his joke again and no laughing. With a smile, this man said, “If you can not laugh over and over again at the same joke, why do you cry over and over again on the same problem?”

= = n = e = y = s = =

Aku selalu beranggapan mengapa wanita-wanita begitu bodoh, menangis hanya karena seorang pria. Bagaimana mereka merasakan hancur saat mereka putus cinta. Bagaimana mereka merasakan sakit hati karena dikhianati. Dan bagaimana mereka merasakan patah hati karena cintanya tak berbalas. Mengapa air mata mereka nampak seolah begitu mudahnya mengalir hanya karena seorang pria? Tapi itu dulu. Semua anggapan itu hanya berlaku di masa lalu sampai aku sendiri mengalaminya. Ya, aku menangis dan tangisan itu disebabkan oleh seorang pria yang aku cintai.

Aku menyesap teh buatanku sendiri sambil menatap sendu pada layar ponselku. Membaca kembali pesan-pesan darinya yang masih kusimpan di dalam kotak masuk ponselku. Pesan-pesan sederhana yang selalu berhasil membuat kedua sudut bibirku tertarik ke samping, membentuk sebuah senyuman. Apakah dia tahu, betapa aku begitu merindukannya. Dan rindu ini begitu menyesakkan, merindukan seseorang yang bahkan belum pernah menjadi milikku. Seringkali aku berniat untuk menghapus pesan-pesan tersebut, berharap dengan hilangnya pesan-pesan tersebut maka perasaanku padanya juga akan terkikis. Tapi aku tidak pernah rela. Sedikitpun aku tidak merelakan kenangan itu untuk terhapus begitu saja.

Air mataku menetes seiring dengan lagu broken vow yang mengalun dari ponselku, lagu yang selalu berhasil membuatku ingin menangis. Untuk kesekian kalinya aku menangis karena dirinya. Dan aku seolah kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Lagi-lagi aku tak bisa menhentikan tangisku sendiri. Aku membiarkannya mengalir sesuka hati karena menahannya sama saja dengan menusuk hatiku sendiri, menyakiti hatiku sendiri lebih lagi. Aku memegang dadaku, sesak. Apakah mencintai seseorang harus demikian menyakitkan?

I let you go…
I let you fly…
Why do I keep on asking why?
I let you go…
Now that I found…
A way to keep somehow…
More than a broken vow…

Ketika aku bertemu dengannya untuk yang pertama kali, aku tidak pernah tahu bahwa dirinya akan menjadi sedemikian penting di hidupku. Seseorang yang mampu membuatku merasakan hal-hal yang sebelumnya tidak kumengerti. Seseorang yang mampu membuatku tersenyum hanya dengan melihat sosoknya. Seseorang yang mampu mengubah mood-ku hanya dengan obrolan sederhana saat kami berdua kebetulan sedang online di jejaring sosial. Seseorang yang mampu membuatku merasakan perasaan senang yang membuncah saat dia mengirimiku pesan terlebih dahulu. Seseorang yang mampu membuatku tersenyum sepanjang hari hanya dengan menanyakan bagaimana kabarku. Sungguh aku tidak menyangka bahwa dialah pria pertama yang berhasil membuatku merasakan yang namanya jatuh cinta.

Aku tersenyum miris mengingat awal perkenalanku dengan dirinya. Pria pertama yang berhasil membuatku menangis karena cinta. Pria pertama yang berhasil membuatku melangkah terlebih dahulu. Mungkin aku memang bukan tipe wanita yang terkenal dan mampu membuat pria-pria terpesona, tapi setidaknya selama ini akulah yang didekati terlebih dahulu. Kalau saja waktu itu aku tidak mengambil langkah itu, akankah ada yang berbeda dengan perasaanku di hari ini?

Melihat sosoknya rasanya terlalu sempurna untuk dikagumi. Melihatnya bernyanyi sambil memetik gitar. Lalu menyanyi sementara jari-jarinya menari lincah di atas tuts-tuts keyboard. Pesonanya yang terlalu kuat atau memang aku saja yang kebetulan terjerat? Dan justru karena semua kelebihannya itulah yang membuatku rendah diri. Aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang juga mengaguminya. Tangisan pertamaku karenanya, pantaskah aku mencintai sosoknya yang begitu luar biasa? Menangis saat menyadari betapa sulit untuk meraih dirinya, betapa sulit untuk lebih dekat dengan dirinya.

Apa kalian berniat untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku rasa iya, karena aku sendiri tak tahu pasti apa jawabannya. Kekuatan apa lagi yang sanggup memberiku keberanian sebegitu besar kalau bukan cinta?

Keputusanku untuk lebih dekat dengan dirinya ternyata membawa dampak yang besar di hari-hariku kemudian. Aku mulai berpikir hanya tentang dirinya. Aku mulai menyukai untuk selalu mengingat namanya. Aku mulai terlalu bersemangat pada hal-hal yang berhubungan dengannya. Dan aku juga mulai menangis karenanya.

Aku menutup folder kotak masuk, menghentikan aktivitas yang sering aku lakukan itu. Aku membuka playlist di ponselku dan kembali menemukan lagu-lagu yang justru akan membuatku semakin tidak segan untuk menangis. Atau mungkin juga, aku saja yang memang mencari-cari alasan supaya aku bisa menangis?

Wajahmu… Hatimu… Dan tentang dirimu…
Selalu kau berada di dalam hatiku…
Sejak awal bertemu kutahu rasa itu…
Namun tak mungkin aku untuk memilihmu…

 Dan tak mungkin untukku…
Untuk dapat cintamu…
Walau rasa di hati…
Ingin memilikimu…

Cinta harus berkorban…
Walau harus menunggu selamanya…
Kutahu…
Kau bukan untukku…

Aku merelakannya menjadi kata-kata yang sering kukatakan meski pada kenyataannya sangat sulit untuk kulakukan. Jujur, sampai saat ini aku belum berhasil merelakan dirinya sepenuhnya. Bisakah kalian membayangkan bagaimana perasaanku saat aku mengetahui bahwa dia mencintai wanita lain, dan melihat keduanya secara langsung di depan mataku tengah mengumbar kemesraan? Hari itu, aku melihatnya bersama dengan seorang wanita yang akhirnya kuyakini sebagai seseorang yang memiliki arti khusus untuknya. Wanita itu memeluk pinggangnya begitu posesif, seolah sengaja menunjukkan jati diri bahwa mereka saling memiliki. Waktu itu, aku terlalu kaget untuk bereaksi dan memilih untuk mengalihkan pandanganku, menahan air mataku.

Haruskah aku berbahagia atas kebahagiaannya itu? Haruskah aku tersenyum meski hatiku menangis? Seseorang yang selama ini kucintai diam-diam ternyata sudah memiliki seorang kekasih. Tapi, dengan bodohnya aku masih saja berdiri di tempat yang sama dan malah berjalan mendekat ke arah mereka. Aku masih saja enggan beranjak dari status kedekatanku dengannya. Bukan, bukan maksudku untuk merebutnya tapi entahlah aku hanya tidak sanggup untuk menarik diriku menjauh meski itu sama artinya dengan menyakiti hatiku sendiri yang akan dengan jelas mengetahui bagaimana kedekatan mereka.

Aku mengusap air mataku. Air mataku belum juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti mengalir. Empat tahun lebih sudah berlalu, bahkan sekarang segalanya menjadi semakin tidak memungkinkan tapi kenapa hatiku masih sama saja? Ada seorang sahabatku yang mengatakan jika aku kelewat setia? Aku harus berbangga? Tapi pujian itu begitu miris untuk dibanggakan untuk kasus satu ini. Sementara di lain pihak, entah berapa kali sahabatku mengatakan bahwa aku harus bisa moving forward, berapa kali mereka memberiku dukungan dan semangat bahwa aku bisa, semua hanya masalah waktu. Waktu, kapan waktu itu akan datang? Kapan aku bisa merelakan dirinya yang telah menjadi satu dengan wanita yang dicintainya itu? Kapan aku bisa merelakan dirinya yang telah menikah?

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku sendiri saat itu, tapi aku rasa kata hancur belum cukup untuk mendeskripsikan kondisiku karena keadaanku yang sebenarnya adalah lebih dari hancur. Saat di mana dirinya memberitahuku bahwa dia akan menikah dengan kekasihnya. Sesak luar biasa. Ada rasa sakit yang menjalar tapi aku tidak memiliki obatnya. Pupus sudah harapanku. Cintaku berubah menjadi kemustahilan.

Bodohkah aku yang masih saja menangisi hal yang sama? Menangisi perasaan yang belum sempat kuungkapkan. Menangisi cinta tak mungkin ini. menangisi dirinya yang telah berdua. Menangis karena cintanya bukanlah untukku. Menangis dan terus menangis. Aku menangisi diriku sendiri. Benarkah seperti itu?

Aku memandangi cangkirku yang sudah kosong. Ya, sama seperti hatiku saat ini. Kosong. Tidak ada harapan. Hampa. Aku berusaha melupakannya tapi tak pernah berhasil. Semua usahaku selalu berakhir pada ujung yang sama, air mata. Aku berubah menjadi seorang yang cengeng karena cinta. Terkutuk oleh perkataan sendiri, eh?

Meski aku harus menangis begitu banyak karena dirinya, entah malaikat mana yang merasuki sehingga membuatku tidak menyesal sama sekali. Sosoknya di mataku tetap sempurna, tanpa cela. Dia tetap menjadi sosok yang aku kagumi dan mempunyai arti penting di hidupku. Dan aku tidak berniat untuk mengubahnya sedikitpun. Seberapapun besarnya rasa sakit yang harus kutanggung, aku juga mendapat begitu banyak hal baik karena pengalaman ini. Mengenal sosok luar biasa seperti dirinya bukanlah hal buruk sama sekali, justru sebaliknya. Dan aku bersyukur jika pada akhirnya aku bisa berada dalam ruang lingkup hidupnya, menjadi adik kecilnya yang (semoga) dia sayangi.

Aku beranjak dari tempatku lalu duduk di hadapan sebuah keyboard yang ada di kamarku. Mengambil ponselku untuk menelepon seseorang lalu mengaktifkan layanan loudspeaker. Aku meletakkan jari-jariku perlahan di atas tuts-tuts berwarna hitam putih tersebut sambil menunggu teleponku tersambung.

“Hello…”

Seputih cinta ini ingin kulukiskan di dasar hatiku…
Kesetiaan janjiku untuk pertahankan kasihku padamu…
Bukalah mata hati kumasih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi…
Yang mungkin takkan pernah membawamu di genggamku…

Aku menyanyi sambil terisak. Aku tak kuasa menahan tangisku walaupun aku tahu seseorang yang kuhubungi pasti mendengar isakanku juga. Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli.

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
Intan permata yang tak pudar…
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku…

Tangisku semakin menjadi dan aku tahu lirik yang kunyanyikan menjadi semakin tidak jelas. Aku juga bisa mendengar seseorang di seberang sana sempat memanggil namaku beberapa kali dan syukurlah sepertinya dia memilih bertahan dibandingkan memutus panggilan dariku.

Kucoba memahami bimbangnya nurani tuk pastikan semua…
Tak akan kuingkari terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi…
Namun tak pernah bisa…
Lenyapkanmu di benakku…

Ya, aku tidak berbohong. Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, bukannya tidak ada pria yang mencoba mendekatiku. Tapi semua berakhir sama. Belum ada yang berhasil merebut hatiku darinya. Belum ada yang mampu membuatku berpaling darinya.

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
Intan permata yang tak pudar…
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku…

 Jiwaku…

Meski sekarang sudah tidak ada kesempatan untukku memilikinya. Meski cintaku ini takkan pernah berbalas. Dirinya akan selalu menjadi sosok yang penting. Semua ingatan tentang dirinya takkan pernah kulupakan. Sosoknya akan selalu bersinar di hatiku. Dan biarlah aku boleh tetap tersenyum setiap kali aku mengingat semua tentangku dan tentang dirinya, tentang kami.

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
Intan permata yang tak pudar…
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku…

 Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
Intan permata yang tak pudar…
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku…

 Tak lekang oleh waktu…

Aku mengakhiri laguku. Lagu ini, mewakili seluruh perasaanku padanya. Setiap lirik dari lagu ini akan selalu mengingatkanku pada sosoknya. Sosoknya yang takkan pernah lekang oleh waktu. Selamanya, tidak akan pernah terganti. Sekalipun suatu hari nanti aku bertemu dengan seseotang yang mampu membuatku kembali merasakan jatuh cinta, posisinya di hatiku tidak akan berubah. Dia, tak lekang oleh waktu.

“Are you okay, my little sister?”

“I’m okay, my big brother.”

The end.

Dan lagi-lagi… FF Galau~~~ Kkk~~~ Kali ini no comment lah… Mungkin dari semua cerita-cerita galau saya, ada sesuatu yang bisa kalian tangkap… Annyeong! ^_^

Advertisements

9 thoughts on “[One Shot] Only You

  1. “If you can not laugh over and over again at the same joke, why do you cry over and over again on the same problem?” << ini jleb banget.. hohoho~~

    baca ini membuatku flashback ke beberapa tahun lalu.. aku pernah mengalaminya.. hampir sama.. sampai dia yang *dulu pernah* kucintai menikah..
    aku mencintai sahabatku sendiri *yg begitu luar biasa dan terlihat sempurna* dengan sepenuh hati.. hingga pada akhirnya tidak mendapatkan apa apa..
    cinta.. torehan pertamanya cukup menyakitkan ternyata..
    mungkin karena kita membuka seluruh hati atau mungkin karena dia membutakan..
    aku tak lagi menangis sekarang.. kurasa.. aku telah benar2 merelakanya.. 🙂

    Like

    • Aku bisa mengerti perasaanmu…
      Syukurlah kalo kamu akhirnya sudah benar2 merelakannya. 🙂
      Btw, kamu masih berhubungan baik kah sama dia? Kamu pernah bilang ke dia kalo kamu suka sama dia? #mendadakpenasaran

      Like

  2. sorry neys baru bales… 2hari ini aku pulang malem terus dan kecapean.. jadi ga sempet buka internet.. hoho.. *ketinggalan banyak- termasuk berita changtoria XD *

    okay, kembali ke topik..
    awalnya sih susah neys.. susah banget malah..
    bisa dateng ke acara nikahan dia dan ngasih selamat itu adalah suatu prestasi(?) setidaknya menunjukkan aku baik2 saja meskipun tetep aja balik acara nangis.. hahaha XD
    aku ga pernah sih bilang perasaanku ke dia, tapi.. dari sikapku kurasa kita sama2 tau.. bahkan orang2 di sekitarku saja tau.. cuman masalahnya.. semacam kita ga pengen merusak persahabatan aja gitu *bodoh ya?* lol
    dan aku masih berhubungan baik sama dia, tapi ga se-dekat dulu sih.. udah beda juga statusnya.. 🙂

    Like

    • Ah, aku malah hampir berkaca2 ini baca comment kamu.
      Ikut seneng kalo akhirnya udah bisa merelakan dan masih berhubungan baik. ^^
      Aku smpe bingung mau ngmg apa lagi. Hahaha.

      Kamu masih kuliah ato udah kerja emang?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s