[One Shot] Our Marriage’s Gift

Title : Our Marriage’s Gift

Author : neys


Kewajiban seorang istri adalah melayani kebutuhan suaminya. Semua istri juga tahu akan hal itu. Tetapi aku malah tak pernah lagi melakukannya. Masih pantaskah aku disebut seorang istri?

Seperti biasa saat aku bangun, dia sudah berangkat ke kantornya setelah memasak sarapan untuk dirinya sendiri dan juga untukku. Istri macam apa yang membiarkan suaminya memasak sarapan? Dan harus aku akui, masakannya sangat enak.

Usai merapikan diri aku memakan sarapan yang telah dibuat oleh suamiku itu. Lalu mencuci semuanya. Setelah itu aku membersihkan apartment. Lalu berbelanja untuk keperluan kami sehari-hari.

Aku duduk di balkon sambil menyesap secangkir teh. Apakah aku terlalu jahat pada suamiku? Ini bukan mauku juga bukan salahnya, tapi ini adalah keharusan. Aku tak ingin membuatnya tersiksa karena cinta dan perhatian dariku. Dia harus bisa berjuang sendiri demi hidupnya nanti.

Aku kembali ke dalam kamar, memutuskan untuk mandi. Dan seperti biasa, aku menenteng laptopku menuju café langgananku. Di sanalah aku biasa menghabiskan waktu dari sore hingga tengah malam. Tempatku menuangkan semua inspirasiku dalam sebuah tulisan. Ya, aku adalah seorang penulis.

Jangan tanyakan cinta padaku karena aku tak punya cinta di dalam hatiku. Sejak hari itu, aku telah mengubur perasaanku ini dalam-dalam. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah bisa membuatnya bahagia. Entah bagaimana perasaanku yang sebenarnya sekarang terhadap suamiku. Aku juga tak yakin.

Tapi jujur, ada seseorang yang menarik perhatianku di café ini. Seseorang yang juga selalu ada di café ini setiap hari. Setiap hari, saat aku tiba di café ini, dia sudah duduk di pojok ditemani dengan secangkir teh hijau. Wajahnya tampan dan berwibawa. Berbalik dengan penampilannya yang sangat santai. Sepertinya dia seorang fotografer, itu karena aku selalu melihatnya membawa kamera.

Aku kembali ke apartment menjelang tengah malam. Saat aku masuk ke dalam kamar, aku melihatnya sudah terlelap. Ya, setiap hari seperti ini. Aku memang sengaja pulang larut malam sehingga aku tidak perlu berinteraksi dengan dirinya. Aku membersihkan tubuhku sebentar lalu naik ke atas tempat tidur dan menenggelamkan diri di balik selimut.

* * *

Aku merindukannya. Aku merindukan sosoknya yang dulu. Dia yang selalu tersenyum ceria dan bersemangat. Dia yang dulu berhasil membuat aku jatuh cinta lalu memintanya untuk menjadi istriku, menemani hari-hariku. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang? Dia memang istriku tapi mengapa aku merasa sendiri?

Beberapa hari setelah pernikahan, semua berubah. Terlebih, dirinya berubah. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi darinya. Tidak ada lagi sarapan yang ia siapkan khusus untukku. Tidak ada lagi jas dan kemeja yang ia siapkan sebelum aku berangkat kerja. Tidak ada lagi sambutan saat aku pulang. Dan tidak ada lagi sosoknya saat aku memejamkan mata di malam hari.

Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak bisakah dia membaginya denganku? Aku suaminya dan dia istriku. Sudah lupakah dia dengan semua kenangan kita bersama? Masih adakah cinta yang tersisa untukku?

#flashback

“Ga Eul ah~ aku punya sebuah permintaan. Maukah kau mengabulkannya”

“Aku? Bisakah?”

“Tentu saja. Karena hanya kau yang bisa mengabulkannya.”

“Jinjja? Kalau aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya.”

“Jadilah istriku.”

“Ne???”

“Menikahlah denganku. Enam tahun hubungan kita aku rasa sudah cukup.”

“Ne, oppa. Tentu saja aku mau.”

Aku memeluk Ga Eul erat. Gadis yang sudah enam tahun menjadi kekasihku.

#flashback end

Malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Dia tidak ada di apartment. Meski sebenarnya aku tahu di mana dia berada, aku tak ingin mengganggunya. Aku tahu dia sangat menyukai dunianya itu. Saat-saat dia tenggelam bersama dengan laptopnya itu.

Setiap malam aku berusaha keras untuk memejamkan mataku. Karena sejujurnya ini sangat sulit aku lakukan. Aku selalu berharap dia ada di sampingku.

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku beranjak dari tempat tidur lalu menghampirinya ke sisi tempat tidur yang satunya, menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya lalu mengecup keningnya.

“Selamat pagi, yeobo.”

Aku keluar dari kamar dan mulai memasak. Sebenarnya bisa saja aku membangunkan istriku lalu memintanya memasak. Tapi aku tak tega, aku tahu dia baru pulang tengah malam dan aku tidak ingin melihatnya kurang tidur. Biar saja aku yang memasak, setidaknya aku masih bisa memberikan perhatianku padanya.

Sambil menunggu masakan sedikit lebih dingin aku kembali ke kamar. Mengambil pakaian lalu mandi. Andai saja dia yang menyiapkan semua ini, aku pasti akan sangat bahagia. Dua bulan sudah ini berlangsung dan aku masih belum tahu alasannya.

Aku harap ini hanyalah sebuah mimpi belaka, dan saat aku bangun nanti semua akan kembali seperti sedia kala.

* * *

Hari ini aku kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Saat hendak pulang, rupanya turun hujan sangat deras. Dan kebetulan sekali hari ini aku tidak membawa mobil-ku karena sedang malas menyetir. Di saat aku tengah kebingungan, seseorang menawariku tumpangan. Seseorang yang aku lihat setiap hari di café.

“Perkenalkan, Kim Sang Bum imnida. Tapi aku biasa dipanggil Kim Bum.” Ucapnya memperkenalkan diri saat kami dalam perjalanan.

“Kim Ga Eul imnida. Manasseo bangapseumnida Kim Bum ssi.” Aku memperkenalkan diriku dengan marga suamiku.

“Tak menyangka akhirnya aku bisa berkenalan denganmu, Ga Eul ssi. Selama ini aku hanya menyadari keberadaanmu di café itu setiap hari.”

“Ne, aku juga. Aku juga tahu kau selalu mengunjungi café itu. Bahkan lebih awal dariku.”

“Aku biasa mengedit foto hasil jepretanku di sana. Tempatnya sangat nyaman, jadi aku betah berlama-lama di sana.”

“Aku juga biasa mengetik di sana.”

“Kau penulis?”

“Ne. Dan kau fotografer?”

“Ne.”

Malam itu kami ngobrol banyak sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya tiba di apartment-ku dengan suamiku. Saat hendak turun dari mobil ia kembali bertanya padaku.

“Kau tinggal sendiri di sini?”

“Aniyo. Aku tinggal bersama suamiku.”

“Suami? Kau sudah menikah?”

“Ne.”

“Ah, mianhae kalau begitu.”

“Untuk?”

“Untuk membawa istri orang tengah malam seperti ini.”

“Gwaenchana. Justru seharusnya dia berterima kasih padamu karena telah mengantarkanku. Gomawo, Kim Bum ssi.”

“Ne, cheon maneyo.”

“Annyeong!”

Aku turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Jam pulang-ku hari ini sedikit lebih dari biasanya. Hujan yang tadinya deras sudah mulai reda.

Tapi betapa kagetnya aku saat aku masuk ke dalam apartment, aku melihat suamiku sedang duduk di sofa dan tengah memandangku lekat.

Tumben dia belum tidur?

* * *

Entah kenapa hari ini perasaanku sedikit berbeda. Rasanya ada sesuatu yang seolah melarangku untuk tidur lebih dulu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menunggu istriku pulang.

Hujan turun sangat deras. Seharusnya aku menjemputnya. Tapi lagi-lagi entah kenapa hatiku seolah enggan. Cukup lama hujan mengguyur sampai akhirnya sedikit lebih reda.

Aku mendengar suara mobil di bawah apartment. Aku memutuskan untuk mengintip dari balik jendela. Dan aku melihat sosok istriku turun dari mobil itu. Mobil siapa itu? Milik seorang pria kah? Aku kembali duduk di sofa.

CEKLEK. Pintu terbuka dan aku tahu dia terkejut melihatku yang masih terjaga.

“Oppa?”

“Apa kau mau menjelaskan sesuatu padaku?”

“Menjelaskan apa?”

“Mollayo. Mungkin saja ada yang ingin kau ceritakan padaku. Aku rasa, sudah sangat lama kita tidak saling berbicara.”

“Mianhae.”

“Kenapa meminta maaf padaku? Kau melakukan kesalahan?”

“Aniyo. Bukan begitu. Hanya saja, mianhae. Jeongmal mianhaeyo untuk sikapku belakangan ini.”

“Sikapmu yang mana?”

“Semua.”

Aku berdiri dari sofa tempatku duduk tadi.

“Semua? Ga Eul ah~ apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apakah aku melakukan kesalahan sehingga membuatmu berubah?”

Dia hanya menggeleng pelan. Aku dapat melihat bulir-bulir air mata di pelupuk matanya. Aku menghampirinya perlahan. Memeluknya dengan erat. Dan aku bisa merasakan tangisnya tumpah saat itu juga.

Aku membiarkan dia meluapkan semuanya. Menunggu sampai dia benar-benar berhenti menangis. Lama. Sampai akhirnya dia berhenti menangis. Aku melepas pelukanku dan menatapnya lembut.

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak tahan jika harus melihat istri yang sangat aku cintai menangis seperti tadi.”

“Oppa… Aku bukan istri yang baik untukmu. Aku tidak pantas untukmu.”

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang sangat diharapkan oleh pasangan suami istri, oppa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa memberimu keturunan, oppa. Aku mandul.”

“A… Apa?”

“Ne, aku sudah memeriksakan diri ke dokter. Kita tidak bisa mempunyai anak. Jadi untuk apa lagi aku memberikan banyak harapan padamu? Itu sebabnya aku berubah, oppa.”

“Ga Eul ah~.”

Aku memeluk tubuhnya sekali lagi. Aku tidak pernah tahu dia menanggung beban seberat itu sendirian. Aku memang mengharapkan suatu saat kami akan memiliki keturunan. Tapi kalaupun ternyata dia tidak bisa memberiku keturunan, aku masih tetap mencintainya. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya.

“Gwaenchana, Ga Eul ah~. Asalkan ada kau di sisiku dan menemaniku, itu tidak masalah. Aku bisa menunggu, aku masih percaya akan adanya mujizat. Atau setidaknya, kita masih bisa mengadopsi bukan?”

“Gomawoyo, oppa.”

Aku melepas pelukanku, mengusap air matanya lalu membelai rambutnya.

“Jangan menangis. Istri dari seorang Kim Jae Joong terlihat lebih cantik saat tersenyum.”

“Mana senyumnya???” Tanyaku dengan nada menggoda. Membuatnya mau tak mau tersenyum.

Aku membalas senyumannya. Meraih kedua pundaknya dengan tanganku lalu mengecup keningnya lama. Akhirnya kau kembali, istriku.

* * *

Tiga tahun berlalu. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku. Setiap pagi aku membangunkan suamiku, sarapan bersama. Lalu menunggunya pulang kerja. Menyambutnya pulang adalah hal yang sangat aku tunggu. Setiap akhir pekan kami habiskan di luar. Entah itu hanya sekedar makan atau jalan-jalan.

Tiga tahun berlalu dan kami masih belum dikaruniai anak. Tapi kami juga belum memutuskan untuk mengadopsi anak. Aku sangat mencintai suamiku. Dia sangat sabar menunggu mujizat bahwa suatu saat nanti aku akan mengandung. Dia adalah suami terbaik yang aku miliki.

Hari ini adalah malam natal, kami memutuskan untuk merayakan berdua di dalam apartment. Saat ini aku sedang memasak untuk makan malam nanti. Aku memasak jajangmyun. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi menyukai makanan itu. Rasanya ada yang kurang jika tidak memakan jajangmyun dalam sehari.

Jae Joong oppa datang tak lama setelah aku selesai memasak dan mandi. Meja makan sudah kusulap sedemikian rupa sehingga menjadi sangat indah. Sambil menunggu Jae Joong oppa mandi, aku mengganti baju-ku dengan dress berwarna putih selutut. Tak lama Jae Joong oppa keluar. Dia mengenakan kemeja dengan setelan jas casual-nya.

“Kau sangat tampan, oppa.”

“Gomawo, yeobo. Kau juga sangat cantik.”

“Gomawo.”

Aku menggamit lengannya menuju ke meja makan. Dia menarikkan kursi untukku, mempersilakan aku duduk terlebih dahulu. Lalu menuju ke kursi di depanku, tempat duduknya sendiri.

Saat kami hendak makan, aku merasakan perutku sangat mual. Aku bergegas menuju kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutku.

“No gwaenchani, yeobo ya?”

Aku masih terus memuntahkan isi perutku. Kenapa rasanya mual sekali?

“Kita ke rumah sakit saja ya?”

“Tidak perlu. Kita kan mau merayakan malam natal, oppa.”

“Kesehatanmu lebih penting, yeobo. Kajja!”

* * *

“Saya sarankan kalian untuk periksa ke dokter kandungan.”

“Dokter kandungan? Maksud Anda?”

“Ya, karena memang kalian seharusnya tidak periksa ke sini. Kalian salah tempat.”

“Mak… Maksud Anda ada kemungkinan istri saya mengandung?”

“Ne. Saya rasa seperti itu.”

Benarkah Ga Eul hamil? Semoga saja itu benar. Itu akan menjadi hadiah natal terindah yang pernah aku dapat.

Aku mengantarkan Ga Eul ke dokter kandungan dengan penuh semangat dan harapan yang sudah memuncak. Ya Tuhan! Semoga apa yang dokter katakan tadi itu benar.

Aku dan Ga Eul sedang duduk di dalam ruangan dokter kandungan. Dokter kandungan itu tengah berdiri di hadapan kami sambil memegang hasil pemeriksaan.

“Selamat, Anda akan segera menjadi ayah.” Ucap dokter itu sambil mengulurkan tangannya padaku.

“Jeongmalyo?”

“Ne. Chukae Mr and Mrs Kim!”

Aku menyambut uluran tangannya. Kami berjabat tangan sekilas. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Senyumku pasti sudah sangat lebar saat ini. aku menoleh ke arah istriku, dan rupanya dia tengah melakukan hal yang sama denganku. Kami berdua sama-sama tersenyum bahagia.

“Usia kandungan istri Anda sudah memasuki bulan kedua.”

Aku memeluk Ga Eul erat. Aku bahagia sekali akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami berdua. Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja. Ya Tuhan! Ini benar-benar hadiah yang sangat indah untuk pernikahan kami berdua. Aku takkan pernah melupakan Natal kali ini.

“Chukae yeobo!”

.F.I.N.

Hai semua!!! FF ini sebenernya udah lama aku bikinnya, kebetulan pas ada ide and sengaja memang aku simpen buat malam natal. Mianhae kalo belakangan udah jarang banget post FF dan mungkin setelah ini bakal semakin jarang lagi. Hehehe… Anyway, aku sangat mengharapkan comment dari kalian semua.

Merry Christmas, friends! May the peace of God be with you all this night. God bless! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s