[Series] No More Tears – Chapter 6

Astaga!!! Chapter kali ini kembali memendek! Oke, saya akui sekarang malah ga bisa bikin FF panjang-panjang. Padahal aku masih inget FF oneshot pertama aku panjangnya ya ampun. Hahaha. Tapi kalo sekarang disuruh bikin oneshot pasti pendek. At least, ga sepanjang dulu lagi.

Okay, by the way juga mau minta maaf soalnya update kali ini bener-bener lama. Entah, Cuma lagi ga ada mood buat post aja. *nyengir dengan wajah tanpa dosa

Sekedar informasi, next chapter adalah chapter terakhir. Hohoho. Jadi, saya sangat menantikan comment dari kalian semua. Akhir kata, thank you. ^_^

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


Aku memakai gaun hitam selutut dengan lengan model sabrina. Memakai flat shoes dan membawa clutch berwarna senada. Aku memoleskan make up tipis ke wajahku.

Tak lama kemudian bel apartment-ku berbunyi. Itu pasti Dong Hae. Dia benar-benar tepat waktu. Jangan tanyakan kenapa aku pergi bersama dengan Dong Hae, bukannya dengan Yeon Hae. Tentu saja karena Yeon Hae akan pergi ke acara bersama dengan kekasihnya itu.

Saat aku membuka pintu apartment dia memamerkan senyumnya itu. Lagi-lagi senyuman yang belakangan ini berhasil membuatku membalas senyumannya secara sukarela.

Dia memakai kemeja berwarna hitam. Membiarkan dua kancing teratasnya tidak terkait. Dia ingin terlihat seksi, eh? Tapi harus aku akui penampilannya malam ini sangat menawan. Dan yang tidak aku sangka, warna pakaiannya sama denganku – hitam.

“Apa tuan putri sudah siap?” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Tentu,” ucapku sambil menyambut tangannya.

“Kajja!”

* * *

Aku melangkah masuk bersama dengan Dong Hae. Setelah perdebatan kecil di mobil, akhirnya aku menyetujui untuk berjalan sambil memegang lengannya. Aku sempat menolak karena itu sama artinya dengan aku memberitahukan bahwa Dong Hae adalah pasanganku. Tapi Dong Hae berhasil meyakinkanku bahwa ini hanya sekedar formalitas.

Aku menghentikan langkahku saat melihat foto yang dipampang di depan pintu masuk hall. Juga membaca satu persatu tulisan yang tertera di papan sebelahnya.

Engagement

Choi Si Won ♥ Yeon Ji Hyeon

December, 09th 2011

Tidak salah lagi, itu foto Si Won oppa dan Ji Hyeon. Bodohnya diriku tidak menyadari ini sebelumnya. Harusnya aku mengerti, semua sudah sangat jelas. Aku benar-benar bodoh.

Si Won oppa ternyata bertunangan dengan Ji Hyeon, sahabatku sendiri. Ini benar-benar sulit dipercaya.

“Museun iriya, Jae Mi ah~?”

Aku menoleh, menatap Dong Hae masih dengan ekspresi tidak percaya. Tidak percaya dengan fakta yang baru saja aku dapatkan. Ini bukan mimpi, eh?

“Ji Hyeon. Dia. Dia sahabat yang aku ceritakan padamu itu,” ucapku akhirnya setelah beberapa saat terdiam – mengacuhkan pertanyaannya.

“Mwoya? Jadi, Si Won hyung akan bertunangan dengan sahabatmu sendiri?”

“Ne. Dan betapa konyolnya diriku karena baru mengetahuinya.”

“Kau baik-baik saja kan? Atau lebih baik kita pulang saja?”

“Ani. Untuk apa kita pulang? Sudah sepantasnya aku berbahagia untuk mereka.”

“Jae Mi ah~ jebalyo. Jangan berpura-pura baik kalau kenyataannya kau tidak.”

“Kajja, kita masuk sebelum terlambat,” ucapku sambil sedikit menarik lengannya.

“Jae Mi ah~…”

“Kau tenang saja. Lagipula kalau terjadi sesuatu padaku kan ada dirimu yang menjagaku. Sudah ayo!”

“Ya!”

* * *

Aku melihat mereka berdua. Mereka berdua nampak seperti dua orang yang tampil paling bersinar di tempat ini. Wajah mereka berdua berbinar-binar memancarkan kebahagiaan.

Si Won oppa tampil sempurna dengan kemeja putih dan jas berwarna abu-abunya. Jas semi formal yang sangat pas di badannya.

Ji Hyeon tampil anggun dengan gaun putih panjangnya. Rambutnya digelung ke atas, menampakkan leher jenjangnya.

Mereka berdua sangat serasi. Aku tersenyum saat mereka berdua menoleh ke arahku. Kalau saja mereka tahu bahwa aku sebenarnya mengenal kalian berdua. Sangat mengenal.

Acara puncak akan segera dimulai. Si Won oppa dan Ji Hyeon berdiri berhadapan. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam bayanganku kini tengah berlangsung.

“Tidak usah dilihat kalau tidak mau melihat.”

Dong Hae membalikkan badanku lalu membenamkan wajahku di dadanya. Dia tidak memelukku, hanya menyembunyikanku dari pemandangan yang ada di depan.

“Menangislah kalau kau mau menangis. Aku ada di sini untukmu.”

Mendengar perkataannya seolah menyadarkanku. Tidak ada stok air mata yang sepertinya hendak turun saat ini. Dan aku rasa tidak ada perubahan ekspresi yang mencolok di wajahku. Hatiku memang sedikit kaget dan seolah susah percaya tapi terasa…melegakan.

Aku melepaskan tangannya yang masih berada di bagian belakang kepalaku. Aku menatapnya sejenak, memberikan senyum terbaikku.

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir. Ini bukan waktunya untuk menangis. Terima kasih telah begitu memperhatikan perasaanku.”

“Kau…benar…tak apa-apa?”

“Percayalah padaku, sayang,” ucapku sambil tersenyum menggodanya.

“Baiklah, sayang. Aku percaya padamu. Lagipula untuk apa menangis? Sudah ada aku di sini.”

“Itu kau tahu,” ucapku sambil mengambil posisi berdiri di sebelahnya. Aku bisa melihat mereka berdua saling bertukar cincin.

Dong Hae merangkul pundakku dan anehnya aku tidak menolak. Perasaanku justru berbunga-bunga. Apa artinya ini?

“Kau mulai menyadari ya kalau sebenarnya kau menyukaiku?”

“Terlalu percaya diri!”

“Hei! Aku bicara kenyataan.”

“Berhentilah menganggap mimpimu itu sebagai kenyataan, Tuan Lee.”

“Kau selalu begitu.”

Aku tergelak saat melihat ekspresi wajahnya yang seperti anak kecil. Aku menepukkan tanganku ke wajahnya tapi dia dengan cepat mengambil alih tanganku, menurunkan tanganku lalu menggandengnya.

“Jangan protes.”

* * *

Aku menghampiri Si Won oppa dan Ji Hyeon yang sedang berdiri di salah satu sudut. Mereka menoleh saat menyadari aku menghampiri mereka.

“Oh, Jae Mi ah~.”

“Oppa, Ji Hyeon chukae! Semoga kalian segera menikah. Jangan lupa mengundangku ya?”

“Pasti.”

“Oh ya, kenalkan ini temanku Lee Dong Hae. Dong Hae ah~ ini Si Won oppa dan ini Ji Hyeon.”

“Manasseo bangapseumnida.”

“Hm… Jae Mi ah~ rupanya kau sudah mengenal Si Won oppa ya?”

“Keurom. Dia adalah pria yang aku ceritakan padamu waktu itu.”

“MWOYA? Jadi…”

“Ne.”

“Maldo andwae! Jadi kau dan Ji Hyeon juga sudah saling kenal?”

“Tentu saja. Ji Hyeon adalah teman lamaku yang pergi ke Jepang tujuh tahun yang lalu.”

“Ne??? Dunia memang begitu kecil.”

“Ne. Dunia memang begitu kecil.”

“Ah, arasho. Dong Hae ssi ini kekasihmu?”

“Dia bukan kekasihku, oppa. Dia adalah seseorang yang selalu ada di sisiku baik saat aku butuhkan ataupun tidak,” ucapku santai lalu terkekeh.

“Ya! Apa maksudmu, Nona Park?”

* * *

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur usai mengganti baju-ku dengan piyama. Aku bahkan sudah mencuci kaki dan gosok gigi. Ingin segera tidur dan masuk ke alam mimpi.

Saat aku memejamkan mata-ku, muncul kilasan-kilasan saat aku sedang bersama dengan Dong Hae. Aku baru menyadari hampir setiap saat dia bersamaku. melewati hari mulai pagi hingga malam bersama. Semua perhatiannya yang secara tidak langsung menjadi konsumsi-ku setiap hari.

Muncul sebuah pertanyaan, bisakah aku hidup baik tanpa dirinya? Apakah akan ada yang berubah kalau dia tidak ada di sisiku?

Harus. Aku harus mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Aku harus mengetahui perasaanku pada Dong Hae. Aku tidak ingin membuatnya berharap dan terus menungguku. Aku harus memberi sebuah kepastian.

* * *

Aku menggeret koper-ku memasuki sebuah rumah. Rumah yang sudah lama aku dan keluargaku tinggalkan. Rumah yang aku tinggali saat kecil dulu. Sebelum akhirnya kami sekeluarga pindah ke Seoul.

Rumah ini masih sama. Ada beberapa orang yang appa tugaskan untuk tinggal di sini. Kim ahjussi sekeluarga.

“Oh, Jae Mi ah~ kau sudah datang?”

“Ne, ahjumma. Apa kamarku sudah siap?”

“Tentu saja. Aku sudah mengganti sprei-nya.”

“Gomapta.”

Aku mengangkat koper-ku ke lantai dua, tempat di mana kamarku berada. Aku membuka pintu kamarku. Masih sama. Semoga dengan pergi ke tempat ini dapat memberiku jawaban atas perasaanku ini.

* * *

Seminggu sudah aku berada di sini. Seminggu sudah aku menon-aktifkan handphone-ku. Sengaja.

Hari beranjak senja. Saat ini aku sedang berada di pantai. Bermain dengan pasir dan air. Mengakrabkan diri dengan alam.

Harus aku akui seminggu ini aku cukup kesepian. Aku merindukannya. Bukan, aku sangat merindukannya. Aku merindukan Lee Dong Hae.

Aku merindukan celotehannya. Aku merindukan perhatiannya. Aku merindukan wajahnya. Aku merindukan teleponnya. Aku merindukan pesan-pesannya. Aku merindukan kemunculannya yang suka tiba-tiba. Aku merindukan candaannya. Aku merindukan panggilan sayangnya. Aku merindukan semua hal yang berhubungan dengan dirinya.

Apa ini artinya aku mencintai Lee Dong Hae?

Mokpo. Setahu-ku dia berasal dari sini juga. Tunggu! Bukankah dia pernah mengatakan sesuatu yang menyiratkan bahwa dia telah mengenalku sebelum ini. Mungkinkah sebelum ini aku pernah bertemu dengannya? Di Mokpo?

Ah! Tiba-tiba sebuah ide terbesit. Sepertinya ini bisa menjadi akhir dari perjuanganku mencari jawaban. Pantaskah aku kembali membuka hatiku untuk dirinya. Aku mengambil handphone-ku dari dalam tas lalu mengaktifkannya. Aku mengetikkan sebuah pesan.

To : Mr. Lee
Kalau kau bisa menemukanku, akan kupertimbangkan untuk kembali membuka hatiku. Kutunggu sampai besok jam 9 pagi.

Tak lama kemudian banyak pesan-pesan masuk juga panggilan-panggilan tak terjawab. 45 panggilan tak terjawab dan 26 pesan.

16 panggilan dari Dong Hae, 12 panggilan dari Si Won oppa, 10 panggilan dari Ji Hyeon dan 7 panggilan dari Yeon Hae. 11 pesan dari Dong Hae,  3 pesan dari Si Won oppa, 7 pesan dari Ji Hyeon dan 5 pesan dari Yeon Hae.

Aku membaca pesan-pesan itu satu persatu.

From : Mr. Lee
Apa kau sudah bangun? Bagaimana kabar-mu pagi ini? Kau ingin jalan-jalan?

From : Mr. Lee
Kau mematikan ponsel-mu ya? panggilan dariku masuk ke kotak pesan. Kau baik-baik saja kan?

From : Mr. Lee
Jae Mi ah~, no gwaenchani? Aku benar-benar mencemaskanmu. Kau ada di mana? Kenapa apartment-mu kosong?

Aku tersenyum membaca pesan-pesan darinya. Kau benar-benar mengkhawatirkanku, eh?

“Aku menemukanmu, sayang…”

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s