[Starlight Stories] I Just Wanna Stay With You (I Want to Change Something About You)

Title : I Just Wanna Stay With You (I Want to Change Something About You)

Author : neys

Aku berdiri di depan pintu gereja. Gaun yang kukenakan panjangnya menjuntai hingga menyentuh lantai. Gereja ini akan menjadi saksi bisu dari dua insan yang akan menyatukan janji. Akan menjadi salah satu tempat yang memegang peranan penting dalam perjalanan cinta dua insan itu sendiri.

“Apa yang sedang kau pikirkan di tempat ini?” tanya seseorang sambil mendorong kepalaku pelan. Tubuhku oleng tapi aku berhasil menyeimbangkan tubuhku kembali.

“Bukan urusanmu,” ucapku setengah sebal. Tega sekali dia padaku?

“Aish! Begitu saja marah. Eh, kau sudah siap belum? Apa kau gugup?”

“Aku? Gugup? Untuk apa? Seharusnya pertanyaan itu kau tanyakan langsung pada mempelai wanita. Bukannya padaku.”

“Bukannya hari ini kita yang akan menikah?”

“A Ge! Jangan bercanda!”

A Ge tertawa lepas, “Aku hanya bercanda. Tapi bukankah suatu saat nanti kita juga akan menikah?”

“Tapi tidak sekarang kan? Jadi berhenti membicarakannya sekarang.”

“Ah! Kau malu ya? Bukannya setiap wanita selalu membayangkan akan seperti apa pernikahannya nanti dengan kekasih yang dicintainya?”

“Memang aku mencintaimu? Siapa yang bilang?”

“Tidak bilang juga aku sudah tahu kok.”

Aku hendak menjawab tapi tidak tahu harus menjawab apa. Aku kehabisan kata-kata. Selalu seperti ini. Hanya dia sosok yang bisa membuatku seperti ini. Salah tingkah tapi tetap saja merasa berbunga-bunga. Pria ini bernama Wu Geng Lin tapi orang biasa memanggilnya Yan Ya Lun atau Aaron Yan. Ya, kalian benar, dia adalah salah satu personil dari boyband Taiwan, Fahrenheit. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan A Ge, singkatan dari A Bu Ge Ge. Anggap saja itu panggilan sayang dariku.

Ini adalah tahun kelima kami menjalin hubungan. Tidak banyak yang mengetahui hubungan kami berdua dan itu memang kami sengaja. Harus aku akui bahwa aku sangat mencintai A Ge. Kekasih pertama dan satu-satunya hingga sekarang. Dia sungguh beruntung bukan karena telah mendapatkanku?

“Kau begitu mencintaiku ya, sampai-sampai memandangku dengan tatapan seperti itu?”

Aku langsung tersadar dari lamunanku lalu memelototkan mataku padanya. Pria ini benar-benar menyebalkan kalau sedang menggodaku, “Kau menyebalkan!”

Dia terkekeh, aku memutuskan untuk beranjak dari tempatku, berjalan ke tempat di mana calon kakak iparku berada. Tidak mempedulikan A Ge yang memanggil namaku. Hari ini adalah hari pernikahan gege-ku. Dia memutuskan untuk menikah setelah menjalin hubungan dengan kekasihnya selama tiga tahun. Sebagai adik tentu saja aku merasa bahagia. Semoga mereka berdua bisa menjadi keluarga yang harmonis.

“Jie!!!” panggilku saat membuka pintu ruangan tempat di mana Xiao Feng jie berada.

“Ah! Xing Ai, Ya Lun zai nar?” (Ya Lun ada di mana?)

“Bu zhi dao. Dia menyebalkan.” (Tidak tahu)

“Aiyou… Sudah lama menjadi pasangan kekasih masih saja seperti ini. Apa sih yang dilakukannya padamu?”

“Sudahlah, jie. Tidak usah dibicarakan, lebih baik sekarang kita membahas tentang jiejie dan gege yang akan segera menikah.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Bagaimana perasaanmu, jie?”

Xiao Feng Jie tertawa, “Tentu saja bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia akan segera menjadi istri dari pria yang ia cintai? Tidak hanya bahagia sih sebenarnya. Perasaan ini susah untuk dijelaskan. Kau juga akan merasakannya sendiri saat menikah dengan Ya Lun-mu itu nanti.”

“Memang siapa yang mau menikah dengannya?”

“Ah, masa???” goda Xiao Feng jie dengan tampang jahilnya itu, mau tak mau aku tersenyum lalu berkata, “Setidaknya tidak dalam waktu dekat, jie. Aku masih dua puluh tahun.”

“Kenapa tidak? Usia jiejie juga masih dua puluh dua tahun, begitupun dengan gege-mu.”

“Ah, pokoknya aku tidak ingin terburu-buru menikah. Masih banyak yang ingin aku lakukan sebelum aku menikah.”

“Baiklah, nanti akan kusampaikan pada Ya Lun-mu kalau kau masih belum ingin menikah. Akan aku katakan padanya untuk menunggumu siap terlebih dahulu baru melamarmu.”

“JIE!!!”

= = n = e = y = s = =

Pemberkatan pernikahan akan dimulai sekitar lima belas menit lagi. Aku duduk di koridor gereja sambil memegang ponselku. Tidak ada yang aku kerjakan dengan ponselku sebenarnya. Hanya memandang wallpaper yang terpampang di sana.

Tak terasa ini sudah tahun kelima kami bersama. Itu artinya sudah empat tahun kami merajut jalinan cinta ini. Ada begitu banyak hal yang terjadi selama empat tahun kebersamaan kami. Dan tak jarang pula ada hal-hal yang seolah menyuruhku untuk menyerah akan hubungan ini. Terlalu banyak skandal, terlalu banyak skinship dengan lawan main-nya baik di film ataupun MV, dan itu juga berarti terlalu banyak tekanan yang aku rasakan.

Terkadang aku merasa lelah dengan hubungan ini, tapi ketika aku memikirkan untuk mengakhiri hubungan ini aku sadar bahwa aku lebih tidak sanggup jika harus berada jauh darinya. Aku takkan sanggup jika dia tak ada dalam jangkauanku. Takkan sanggup jika hidup tanpa kabar darinya.

Entah apa yang membuatku begitu jatuh cinta dengan pria satu ini. Aku hanya merasakan aman saat berada di sisinya. Aku hanya merasa dengan dia ada di dekatku, aku akan baik-baik saja. Kalau boleh sedikit menggombal, segala yang dia punya itulah memang kucari.

Aku teringat tentang tadi malam, sekali lagi kami merayakan ulang tahunnya bersama. Bersama-sama menunggu pergantian waktu menuju hari ini.

Aku tengah menyibukkan diri dengan berbagai persiapan untuk pernikahan gege hari ini. Aku tahu akan ada dua peringatan penting. Tapi sepertinya aku sedikit melupakan yang satunya karena persiapan pernikahan gege. Jujur, aku merasa bersalah tapi aku harap dia mengerti.

Aku melirik jam yang tergantung di ruang tamu. Jarum panjang jam berada di angka sembilan sementara jarum pendek jam berada hampir di angka sebelas.

“Sudah malam rupanya,” ucapku sambil membereskan barang-barang yang harus kubawa.

Baru saja aku hendak ke kamar, ponselku berdering. Dan cukup dengan mendengar nada deringnya aku langsung tahu siapa yang meneleponku.

“Wei.” (halo)

“Wei. Kenapa kau belum tidur?”

“Tentu saja karena menunggu telepon darimu,” ucapku menggodanya lalu terkikik pelan.

“Berhenti menggombal tengah malam begini, nona Yan.”

“Kau yang berhenti memanggilku begitu. Yang akan menikah besok itu Jian Hua ge dengan Xiao Feng jie, bukan kita.”

Terdengar suara tawa di seberang selama beberapa saat sebelum aku kembali mendengar suaranya, “Oh ya ngomong-ngomong aku merindukanmu.”

“Shen me?” (apa?)

“Aku merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu, sejak kau sibuk dengan persiapan pernikahan gege-mu. Senin sampai sabtu, dari pagi sampai sore kau bekerja. Pulang kerja masih sibuk juga.”

“Aiyou… Dui bu qi.” (maaf)

“Jangan meminta maaf. Itu bukan kesalahanmu.”

“Tapi aku benar-benar sudah mengabaikanmu belakangan ini.”

“Tidak apa-apa. Oh ya, karena aku merindukanmu, aku sudah ada di depan rumahmu saat ini.”

“SHEN ME???” teriakku tanpa sadar. Reflek aku langsung menoleh ke arah jendela depan, dekat pintu. Dan benar saja A ge sudah berdiri di depan sambil tersenyum padaku.

“Bukakan pintunya ya? Masa tidak sadar, daritadi aku sudah berdiri di sini memperhatikanmu.”

“Zhen de ma?” (benarkah?) tanyaku sambil berjalan ke arah pintu, lalu membukakan pintu untuknya.

“Hm…” jawabnya bertepatan dengan pintu yang terbuka.

A ge menurunkan ponselnya, menekan tombol merah di ponselnya lalu memasukkannya ke saku celana. Tak perlu menunggu lama, aku melakukan hal yang sama dengannya.

“Aku merindukanmu,” ucapnya sekali lagi sambil merentangkan kedua tangannya. Mengerti dengan apa maksudnya, aku menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya.

“Aku lebih merindukanmu, ge.”

A ge membelai rambutku pelan lalu mengeratkan pelukannya. Dan entah mengapa justru di saat yang seperti ini air mataku malah jatuh tanpa dikomando. Mungkinkah aku terlalu bahagia?

A ge melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundakku. Memandangku dengan begitu lembut sampai akhirnya menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“Melihatmu menangis seperti ini membuatku ingin menangis juga.”

Mendengar ucapannya mau tak mau membuatku tertawa, “Kau terlalu emosional, ge.”

“Nah, aku lebih suka melihatmu yang seperti ini.”

“Kau mau duduk di dalam atau di teras?”

“Di teras saja. Malam ini aku ingin menikmati bintang dan bulan bersamamu.”

“Sok romantis!” ucapku sambil memencet hidungnya.

“Daridulu aku memang romantis, kau saja yang tidak mau mengakuinya.”

A ge menggandeng jemariku, membawaku untuk duduk di anak tangga teras rumahku. Ia mendongakkan kepalanya, memandang langit malam ini. Aku mengikutinya dengan ikut mendongakkan kepalaku juga. Bintang dan bulan bersinar begitu indah. Aku merindukan kebersamaan yang begitu intens seperti ini.

“Tidak terasa ini sudah tahun kelima kita merayakan ulang tahunmu.”

“Hm… Dan aku bersyukur akhirnya aku bisa merayakannya bersamamu lagi setelah tahun lalu harus berbagi dengan fans.”

“Aku tak keberatan kok berbagi dengan fans. Tahun lalu kan konser solo pertamamu.”

“Setidaknya aku masih bisa melihatmu di antara para fans yang hadir.”

“Hm… Terima kasih karena telah berhasil menemukanku di antara sekian banyak penonton yang hadir waktu itu. Oh ya aku minta maaf, aku belum mempersiapkan kado untukmu. Kau mau apa? Besok setelah acara berakhir aku akan mencarikannya untukmu.”

“Kau mau tahu apa yang benar-benar aku inginkan untuk menjadi hadiah di hari ulang tahunku?”

“Tentu saja.”

A ge merapikan poni yang menutupi dahiku ke samping. “Aku hanya menginginkan kau di sisiku malam ini,” ucapnya lalu mengecup keningku.

A ge diam sejenak masih dengan tatapannya yang begitu serius sebelum akhirnya kembali membuka suara, “Aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu. Hari di mana aku tidak dapat melihatmu adalah hari di mana aku kehilangan sebagian dari diriku. Ingat baik-baik, aku hanya ingin bersamamu. Jadi kumohon untuk malam ini tetaplah di sisiku, bersama-sama melewatkan detik pertama di hari ulang tahunku.”

“Ge…”

A ge menarikku ke dalam pelukannya. Entah mengapa malam ini aku bisa merasakan betapa dia memang benar-benar membutuhkanku.

“Dui bu qi. Aku benar-benar kekasih yang jahat karena membiarkan tidak ada orang luar yang tahu bahwa aku milikmu. Maafkan aku yang pernah membuat kebohongan publik saat aku mengatakan aku putus dengan seorang gadis karena dia memanfaatkanku, padahal sebenarnya gadis itu sama sekali tidak ada. Maafkan aku untuk setiap adegan yang menyakiti hatimu. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis saat kau terpaksa melihat adegan yang tidak ingin kau lihat. Sementara aku bahkan belum memberitahumu terlebih dahulu. Maafkan aku, ai.”

“Ge… Terkadang aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa membenci dirimu saat kau menyakitiku. Setiap kali kau muncul di hadapanku, aku hanya merasa bahwa aku begitu membutuhkanmu.”

“Wo ai ni. Wo zhen de zhen de hen ai ni, Wang Xing Ai.” (Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, Wang Xing Ai.)

Aku melepas pelukan A ge lalu memegang kedua pipinya lembut, “Ge, apa kau tahu? Ada begitu banyak orang yang memanggilku dengan namaku. Tapi, hanya ada satu orang yang membuatnya terdengar begitu spesial.”

“Dan orang itu adalah aku.”

Aku terkekeh lalu melepaskan tanganku dari wajahnya, “Dasar!”

A ge kembali menggandeng jemariku,”Ah! Tanganmu dingin! Kenapa aku baru menyadarinya?”

A ge melepas jaket yang ia kenakan lalu memakaikannya padaku. Dan apa hasilnya? Jaket ini terlalu besar untukku, jaket ini menenggelamkan tubuhku.

“Kau lucu sekali mengenakan jaketku. Tunggu, kau akan kufoto. Berposelah.”

A ge mengambil ponselnya lalu mengarahkannya padaku, “Satu… dua… tiga…”

Saat A ge menyimpan ponselnya kembali, aku mendesah pelan. Tapi ternyata cukup keras untuk bisa didengar oleh A ge.

“Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Ada apa? Katakan padaku.”

“Kau benar ingin tahu?”

“Ai, katakan padaku ada apa?”

“Tidak. Tiba-tiba saja aku berpikir tentang betapa menyenangkan kalau saja aku bisa mengupload foto-foto kita berdua di akun-akun sosial milikku. Ah sudahlah! Aku hanya sedang melantur. Lupakan! Lupakan!”

“Dui bu qi.”

“Ge… bisakah kau berhenti minta maaf? Ah iya! Sudah hampir jam dua belas. Apa kau sudah menyiapkan doa?”

“Dui bu qi, Ai…”

“Ge…”

“Wo ming bai… wo ming bai…” (Aku paham)

Aku menoleh ke belakang, melirik jam yang ada di ruang tamu. “Sudah jam dua belas, ayo make a wish!”

A ge memejamkan matanya. Entah doa apa yang ia panjatkan. Tapi, kalau boleh aku ikut meminta. Kiranya Tuhan selalu menyertainya, memberikan A ge kebahagiaan yang berlimpah untuk setiap usahanya dan ijinkan aku untuk selalu berada di sisinya.

A ge membuka matanya, “Tuhan mengabulkan permintaanku.”

“Eh? Memang apa yang kau minta?”

“Aku berdoa supaya saat aku membuka mataku, aku akan selalu melihatmu. Jadi suatu saat nanti, orang pertama yang akan selalu kulihat di pagi hari saat aku membuka mata adalah dirimu. Itu artinya kau harus menikah denganku.”

Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. Aku tahu dia serius saat mengatakannya. Dia ternyata benar-benar ingin menjadikanku istrinya suatu hari nanti?

“Kau pasti pernah mendengar ungkapan ini. When a girl thinks of her future with her boyfriend, it’s normal. But, when a boy thinks of his future with his girlfriend, he’s serious.”

A ge menyandarkan kepalaku di bahunya lalu kembali menggenggam tanganku, “Tidurlah… aku tahu kau pasti lelah.”

“Xie xie, ge…. Xie xie… Zhu ni sheng ri kuai le. Happy twenty sixth anniversary. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk dirimu.”

A ge merengkuh pundakku sementara aku memejamkan mata. Terima kasih Tuhan untuk malam yang begitu indah ini.

sui ran shi jian dan de xing rong
sui ran shi chong fu de dong zuo
yin wei you ni
rang yi qie dou bian cheng bu ping fan
hao xiang feng he ni wo shou xin
jiu zhe yang qian zhu fang bu kai
you ni pei ban
hu xi zhu you ni de kong qi, jiu shi xing fu

(Although it appears simple,
although it’s repetitive,
Because of you
everything strangely changed.
(I) really want to become one with you,
not just by holding hands, but also in the heart,
a kind of binding that cannot be broken.
(Me) accompanying you,
breathing the same air as you, is happiness.)

Ti amo Te quiero
mei yi tian dou yao ai shang ni
xiang zhu ni, chen ru meng jing
yi zhang yan, yi qing xing
di yi ge xiang dao you shi ni

(I love you (Italian). I love you (Spanish).
Every day (I) want to love you.
I am missing you in my dreams.
Even sober, the first thing that I think of is you.)

sa rang hae and I love you
wo mei tian dou yao ai shang ni
shao yi tian, jiu hui yi han
pei zhu ni, de guang yin
zen yang dou bu suan, cuo tuo

(I love you (Korean) and I love you (English)
Every day I must love you.
There are few days (I can) regret.
Accompanying you in the sunlight,
(I) cannot think about (your) imperfections.)

 

Aku masih bisa mendengar suara merdu A ge. Dia menyanyikan lagu ini. Lagu kesukaanku sekaligus lagu yang memiliki kenangan bagi kami berdua.

hao xiang feng he ni wo shou xin
jiu zhe yang qian zhu fang bu kai
you ni pei ban
hu xi zhu you ni de kong qi, jiu shi xing fu

((I) really want to become one with you,
not just by holding hands, but also in the heart,
a kind of binding that cannot be broken.
(Me) accompanying you,
breathing the same air as you, is happiness.)

Ti amo Te quiero
mei yi tian dou yao ai shang ni
xiang zhu ni, chen ru meng jing
yi zhang yan, yi qing xing
di yi ge xiang dao you shi ni

(I love you (Italian). I love you (Spanish).
Every day (I) want to love you.
I am missing you in my dreams.
Even sober, the first thing that I think of is you.)

Saranghae and I love you
Wo mei tian dou yao ai shang ni
Shao yi tian jiu hui yi han
Pei zhe ni de guang yin
Zen yang dou bu suan cuo tuo
Pei zhe ni de guang yin yong yuan dou jue de bu gou

(I love you (Korean) and I love you (English)
Every day I must love you.
There are few days (I can) regret.
Accompanying you in the sunlight,
(I) cannot think about (your) imperfections.
Accompanying you in the sunlight,
Forever thinking about this, is not enough.)

= = n = e = y = s = =

“Wang Jian Hua dan Lin Xiao Feng, setelah janji kalian berdua untuk saling mengasihi dalam ikatan pernikahan suci, maka atas nama Gereja Allah dan di hadapan saksi serta umat sekalian, saya menyatakan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah. Semoga berkat ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi saudara berdua mulai sekarang dan selama-lamanya. Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Apa yang telah disatukan Allah janganlah diceraikan manusia.”

Aku tersentak saat merasakan seseorang mengusap pipiku pelan. “Jangan menangis.”

“Aku menangis karena terharu, tahu!”

“Aku tahu. Tapi aku lebih suka melihatmu tersenyum. Pokoknya tidak boleh menangis nanti riasanmu luntur.”

“Egois!”

A ge hanya tersenyum. Dia benar-benar menyebalkan.

Pemberkatan telah selesai. para hadirin telah pulang. Jian Hua ge dan Xiao Feng jie juga tengah bersiap menuju ke tempat resepsi tapi aku malah dengan santainya tetap duduk di dalam gereja.

“Ikut aku,” tiba-tiba saja A ge menarik tanganku ke depan altar.

“Apa yang kau lakukan?”

“Melamarmu,” ucapnya sambil menggenggam jemariku.

“Hah?”

“I want to change something about you.”

Aku berusaha untuk mengontrol detak jantungku yang detaknya baru saja bertambah kencang lalu bertanya, “What is that?”

“I want to change your last name with mine.”

“WHAT?” Aku tidak bisa menutupi kekagetanku lagi. Apa dia serius?

“Just answer, Ai…”

Aku menghembuskan napasku pelan. Memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Oh Tuhan terima kasih karena telah mengirimkan seseorang yang benar-benar serius dengan hubungan ini. Terima kasih untuk seseorang yang mau menerima apa adanya diriku dan terima kasih untuk membuatku juga menerima A ge apa adanya. Dan biarlah Kau yang menjadi pemersatu diantara kami berdua.

“It shouldn’t be really soon. Perhaps four, five until six years later. But at least, you’re welcome to change my last name with yours.”

.F.I.N.

Okay… Saya terima segala macam cacian, hujatan dan makian atas FF saya yang over romantic kali ini. Buat yang mau muntah-muntah juga silakan. Saya emang ga bisa biasa aja kalo udah berkaitan sama cowok yang satu ini. Hahaha…

Entahlah, pas bikin FF ini kayaknya daku agak-agak labil bin tergila-gila sama gege satu ini. Tapi ya, emang beneran kok udah empat tahun saya cinta mati sama cowok yang saya panggil A ge ini.

Oh ya, sedikit curhat. Ada tujuh halaman dari FF ini yang saya bikin dengan cara tulis tangan soalnya pas lagi seru-serunya ngetik FF, kompi disabotase sama papa. Alhasil, daripada ditunda trus ntar malah kehilangan mood & feel akhirnya saya putuskan untuk tetep ngelanjutin bikin FF ini.

Dengan demikian FF ini jadi FF pertama saya yang selesai lewat jalur tulis tangan, *trus opoo? :p

Finally, thanks ya buat yang udah bersedia baca. Comment sangat diharapkan buat kalian yang udah baca FF ini, baik yang di tag ataupun tidak.

Zhu ni sheng ri kuai le, A ge!!! ^_^

Advertisements

2 thoughts on “[Starlight Stories] I Just Wanna Stay With You (I Want to Change Something About You)

  1. sweety ff kak neys, melumer lgi kan aku jadinya 😀 walaupun aku nggak tau betul siapa A Ge itu tpi aku enjoy bacanya, karena yang ada di otakku waktu baca ff ini tuh malah jadi Xiumin #LOL entah kenapa cast yang ada di otakku malah si Xiumin*ini bener-bener aneh*… Ini yang series eps.1 ya kan kak? oh ya kak neys, A Ge itu umurnya berapa skarang?

    Like

    • Ini FF udah lama banget, 3 tahun lalu. Sorry banget kalo misal abal-abal banget. Hehehe…

      A Ge itu cowok imut-imut yang memulai debutnya di Fahrenheit, yang kini sudah berevolusi jadi cowok keren. ^^

      Iya, ini yang pertama… A Ge itu pas FF ini dibuat umurnya 26 tapi masih imut-imut banget, kalo sekarang udah 29 dan sayangnya dia udah ubah penampilan, udah nggak seimut dulu. Hahaha… XD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s