[Series] No More Tears – Chapter 5

Aha! Chapter kali ini juga dilarang ada yang protes kalo pendek! Yang ini lebih panjang dari chapter sebelumnya kok, meskipun tetep aja pada kenyataannya emang pendek. Hahaha.

Pertanyaan kali ini, sementara ga ada deh. Atau mungkin kalian yang ada pertanyaan? Ayo tanya aja. Hehehe.

Hm… Tiba-tiba jadi keinget. Makasih ya buat kalian semua yang udah bersedia baca apalagi comment di FF aku yang masih pemula ini. Masih penulis amatiran yang sedang belajar menjadi penulis professional. Hehehe. Tanpa kalian mungkin aku bukan apa-apa. FF ini tanpa comment kalian ga bakal ada artinya. Jadi, jeongmal gomawoyo chinguya! ^_^

Dan kali ini, saya lagi-lagi meminta untuk kalian bersedia meluangkan waktu untuk meninggalkan jejak di sini kalau-kalau kalian udah singgah and baca FF ini. Kalian baik deh… *ngerayu

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


DEG!

“Ah sudahlah lupakan. Anggap aku tidak pernah berkata demikian. Tentu saja kau harus membayar. Kalau aku terus mentraktirmu akan mengurangi keuntungan yang aku dapat. Lalu…”

Dia masih saja terus berbicara sementara aku hanya terdiam. Aku tahu dia hanya berusaha mengalihkan. Andai saja aku bisa mengiyakan permintaanmu. Andai saja. Tapi jujur, aku belum siap.

“Kedaiku nanti akan aku desain seperti café, jadi aku bisa menyalurkan bakat menyanyiku. Lantas…”

“Aku doakan semoga impianmu akan tercapai. Setidaknya pada acara pembukaan kau akan mentraktirkukan?”

“Akan kupertimbangkan.”

“Ya! Bagaimana bisa kau sepelit itu?”

“Aku hanya bercanda, sayang,” ucapnya sambil mengacak poniku.

“Aku pegang kata-katamu, sayang.”

“Ah! Akhirnya kau memanggilku sayang. Senangnya hatiku.”

“Menjijikkan! Hahaha.”

* * *

Bulan berganti bulan. Kian mendekati hari kelulusanku. Aku tengah duduk di balkon apartment-ku. Menikmati angin semilir. Tak lama handphone-ku berdering, menandakan ada email yang masuk.

Aku meraih handphone yang aku letakkan di meja sebelahku. Email dari Si Won oppa? Wah, sudah lama dia tidak muncul.

From : Si Won oppa (csw_407@xxx.com)
Ya! Jae Mi ah~ annyeong!!! Long time no see. Ah! I miss you so much.

Aku tersenyum membacanya. Sama. Aku juga merindukanmu, oppa.

Minggu depan aku pulang!

Eh? Jinjja? Akhirnya kau pulang keKorea, oppa. Kita harus bertemu! Aku ingin melihatmu yang sekarang seperti apa.

Tapi aku pulang tidak sendiri. Aku pulang bersama calon tunanganku.

DEG! Calon tunangan? Ah! Dia sudah menemukannya ternyata. Semoga kali ini keluarganya menerima.

Dia sebaya denganmu. Orang korea juga. Dia pindah ke Jepang sekitar tujuh tahun yang lalu. Ah, aku rasa kalian bisa berteman dengan baik.

Hm… Aku harap begitu, oppa…

Aku meletakkan kembali handphone-ku. Memejamkan mata sejenak. Berusaha mencerna perasaanku, berusaha menerjemahkan artinya.Ada sebuah perasaan kehilangan tapi ternyata tak sebesar yang pernah aku bayangkan. Dan, sedikit sakit.

* * *

Hari ini adalah hari kepulangan Si Won oppa. Aku berencana menjemputnya di bandara. Namun sepertinya nasib baik tidak berpihak padaku. Hari ini dosen pembimbing-ku mengatakan ingin bertemu denganku.

“Ada masalah?”

Aku menoleh dan mendapati Dong Hae duduk di sampingku sambil memamerkan senyuman andalannya itu.

“Hari ini aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku.”

“Lantas?Ada masalah? Bukankah bagus? Selama ini kau kan susah mencari waktu untuk membicarakan skripsimu?”

“Kalau saja bukan hari ini maka aku akan sangat bersyukur.”

“Wae?”

“Hari ini Si Won oppa pulang dan aku ingin menjemputnya di bandara.”

“Hari ini dia pulang?”

Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala. Kenapa dosen itu muncul di saat yang tidak tepat sih?

“Ya sudahlah, mungkin kalian memang belum waktunya bertemu.”

“Mungkin kau benar. Ya sudah aku pergi dulu.”

“Ehm… Nanti malam aku telpon.”

Aku menganggukkan kepalaku lalu melambaikan tangan pertanda sampai jumpa padanya. Ya, Dong Hae memang rutin menelepon-ku setiap malam – sekalipun tidak ada hal yang perlu dibahas.

Aku mengambil handphone-ku dan mengetik pesan pada Si Won oppa, memberitahunya kalau aku tidak bisa datang menjemputnya di bandara.

* * *

Aku terpaku di lorong menuju apartment-ku. aku melihatnya. Sosok yang sudah tujuh tahun tidak aku lihat, bahkan kabarnya saja aku tak tahu.

Dia menoleh, sepertinya menyadari keberadaanku. Dan detik itu juga dia langsung tersenyum padaku lalu menghampiriku yang masih diam di tempat.

“Jae Mi ah~! Tidakkah kau merindukanku?” tanyanya sambil memelukku.

“Kau jahat. Menghilang tanpa kabar sedikitpun dan sekarang tiba-tiba saja sudah muncul di depan apartment-ku.”

Dia melepaskan pelukannya lalu tersenyum, “Setidaknya ijinkan aku masuk terlebih dulu. Aku lelah sekali usai perjalanan.”

Aku mempersilakan dia duduk di sofa lalu mengambilkan minum untukknya.

“Jadi, ada yang ingin kau ceritakan tentang ketidakmunculanmu itu? Kau bahkan tidak memberitahukan alamatmu di Jepang.”

“Mianhae. Jeongmal mianhaeyo, Jae Mi ah~. Aku sungguh tak bermaksud seperti itu. Saat aku tiba di Jepang, saat aku hendak mengabarimu ternyata handphone-ku hilang. Semua data tentangmu ada disana, mulai dari email, alamat rumah sampai nomor telepon. Dan aku belum sempat menghafal nomormu yang baru.”

“Kita benar-benar tidak berjodoh selama tujuh tahun. Lalu, bagaimana kau bisa sampai kemari? Aku kan baru empat tahun yang lalu pindah kesini.”

“Aku tadi ke rumahmu, menanyakanmu pada eomma-mu. Beliau bilang kau di sini, makanya aku langsung kesini.”

“Ah, arasho.”

“Oh ya, aku pulang membawa kabar gembira.”

“Oh ya? Kabar apa?”

“Aku akan segera bertunangan.”

“Jeongmalyo? Dengan siapa?”

“Hm… Aku tak tahu apa kau mengenalnya atau tidak. Dia orang Korea juga. Kami bertemu dua tahun yang lalu saat dia ke Jepang.”

“Ah, ternyata kau masih suka dengan pria Korea ya?”

“Tentu saja. Kau belum lihat seperti apa dia.”

“Kalau begitu perkenalkan denganku.”

“Andwae! Aku ingin memberimu kejutan. Langsung datang saja berkenalan saat pertunanganku.”

“Memang kapan kalian akan bertunangan?”

“Seminggu lagi. Nanti aku kirimkan pesan di mana alamatnya. Aku pinjam handphone-mu.”

Aku memberikan handphone-ku padanya. Tak lama handphone miliknya berbunyi. Lalu dia mengembalikan handphone-ku.

“Jadi, bagaimana dengan dirimu? Siapa kekasihmu?”

“Aku tidak punya kekasih.”

“Tidak mungkin! Masa iya kau tidak mempunyai kekasih.”

“Aku sudah menjomblo selama dua tahun, sahabatku sayang.”

“Memang berapa lama kalian berpacaran?”

“Sekitar lima tahun.”

“Ah, sayang sekali. Lantas, kenapa kalian putus?”

“Simple saja, orang tua-nya tak menyukaiku.”

“Benar-benar sangat disayangkan. Hubungan lima tahun harus berakhir begitu saja.”

“Sudahlah jangan membahas itu lagi.”

* * *

“Dong Hae ah~ kau tahu tidak, sahabatku yang pernah aku ceritakan padamu itu. Tadi kami bertemu.”

“Ah, jeongmalyo? Dia pulang ke Korea?”

“Ne. Kau tahu kenapa dia pulang?”

“Ani.”

“Dia akan bertunangan. Ah, lama tak berjumpa dan ternyata…”

“Kau bahagia?”

“Tentu saja. Melihatnya bahagia aku juga bahagia. Dan lagi, dia beruntung… Dia sudah menemukan sosok yang akan mendampinginya kelak.”

“Kau juga ingin bertemu dengan pangeranmu kelak?”

“Keurom.”

“Bukankah kau sudah menemukannya?”

“Nugu?”

“Tentu saja aku, sayang.”

“Jangan bermimpi sebelum tertidur, Tuan Lee!”

“Aku tidak sedang bermimpi.”

“Kalau begitu aku yang sedang bermimpi.”

“Babo!”

“Ya! Beraninya kau mengataiku babo, ikanMokpo!”

“Ampun sayang!”

“Aish sudahlah! Aku mau tidur. Aku matikan ya?”

“Okay, jaljayo Jae Mi ah~.”

“Ne…”

Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Hari ini cukup menyenangkan. Ah, kenapa Si Won oppa belum menghubungiku ya? Dia pasti lelah sekali.

Aku cukup tersentak saat handphone-ku kembali berbunyi, terlebih saat membaca tulisan yang nampak di layar. Apakah ini yang namanya kontak batin? Si Won oppa meneleponku.

“Yeobseyo.”

“Jae Mi ah~.”

“Oppa.”

“Mian baru menelepon.”

“Gwaenchana, oppa. Bagaimana, apa kau masih lelah usai perjalanan?”

“Sudah tidak lagi. Oh ya, sepertinya aku akan sangat sibuk sampai hari pertunanganku nanti. Jadi sepertinya aku tidak bisa menemuimu.”

“Gwaenchana, oppa. Aku mengerti. Kau urusi saja dulu pertunanganmu dengan baik. Kita kan masih ada waktu setelah kau resmi bertunangan.”

“Kau benar. Nanti akan aku kirimkan alamatnya.”

“Aku tunggu. Oh ya, kau belum memberi tahu padaku siapa nama gadis yang berhasil menaklukkan hatimu itu.”

“Kejutan. Aku kenalkan saat pertunanganku saja.”

“Kalian berdua sama saja!”

“Eh?”

“Ani. Sudah kau istirahat saja. Persiapkan pertunanganmu baik-baik.”

“Okay, jaljayo Jae Mi ah~.”

“Jaljayo, oppa.”

* * *

Aku mengerutkan keningku. Di tempat yang sama dan jam yang sama. Apa iya di gedung itu bisa dibagi menjadi dua? Itu artinya aku tidak bisa mengikuti seluruh acara dari keduanya.

Aku mengaduk-aduk minumanku dan sesekali meminumnya. Dua orang yang penting dalam hidupku akan meraih kebahagiaannya masing-masing. Lalu, di mana kebahagiaanku?

“Hei! Lama tak melihatmu!”

“Oh, Yeon ah~.”

“Kemana saja kau?”

“Aku tidak kemana-mana. Kau saja yang terlalu sibuk dengan pacarmu itu.”

“Eh? Jung Soo oppa? Aniyo. Kau itu yang terlalu sibuk dengan Dong Hae-mu itu.”

“Dong Hae? Kau ini bicara apa?”

“Setiap hari kau bersama dengannyakan? Kau pikir aku tidak tahu setiap hari dia mengantarmu pulang?”

“Ya! Ya! Kau memata-mataiku?”

“Aku tidak memata-matai kalian. Tapi kalian itu sudah sangat terkenal. Tidak perlu memata-matai juga sudah dengar dengan sendirinya.”

“Kalian semua terlalu mengada-ada. Aku dan Dong Hae tidak ada hubungan apa-apa.”

“Ah sudahlah. Tapi aku yakin suatu hari nanti kalian akan jadian.”

“Will see. Aku juga tidak berani memastikan.”

“Itu artinya kau juga memiliki harapan akan itu.”

“Terserah kau saja lah…”

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s