[Series] No More Tears – Chapter 4

Hal pertama yang mau saya bilang. Dilarang protes kalo part ini pendek banget. Emang sengaja, soalnya kalo dilanjutin malah gat au mau di cut di mana. *nyengir

Trus saya minta maaf juga kalo update-nya lamaaa bangeeet. Hehehe.

Nah, yang mau aku tanyain itu. Menurut kalian gimana karakter Dong Hae di sini? Pada suka ga? Trus, bisa ga ngebayangin dia dengan karakternya di sini? *ah banyak omong nih

Untuk kali ini cukup sekian. Siapa tahu chapter depan ada pertanyaan lagi. Comment kalian sangat diharapkan kalo udah baca FF aku ini. Kamsahamnida, chingu!

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


Aku duduk di sudut ruangan. Pentas baru saja dimulai. Dong Hae duduk di sebelahku. Aku memperhatikan sekeliling, cukup banyak orang yang datang dan hampir semua tidak kukenal.

“Sebentar lagi aku akan tampil.”

“Eh? Jinjja? Semoga berhasil.”

“Aku pergi dulu ya?”

Aku mengangguk pelan. Dong Hae pun bangkit berdiri lalu bergegas ke belakang panggung. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Dong Hae ah~!”

Dia menoleh. “Ne?”

“Dong Hae ah~ hwaiting!”

Dia mengangguk sambil tersenyum. “Gomawo.”

Dong Hae benar-benar berada di panggung setelah satu penampil lainnya. Melihatnya berada di panggung memberikan kesan tersendiri untukku. Jujur, dia sangat tampan dalam balutan jas kasual hitamnya tersebut.

Han namjaga geudaereul saranghamnida
(One man loves you)

Geu namjaneun yeolsimhi saranghamnida
(He loves you with all his heart)

Maeil geurimjacheorom geudareul ttaradanimyeo
(Everyday he follows you like a shadow)

Geu namjaneun usumyeo ulgo isseoyo
(He is laughing but crying)

 

Dia menyanyi sambil menatapku sendu. Demi Tuhan kenapa dia memilih lagu ini? Kenapa memilih lagu That Man-nya Hyun Bin? Dan wajahnya, kenapa dia seolah benar-benar menghayati lagu ini? Dia seperti hendak…menangis…

Eolmana eolmana deo neoreul
(Just how much more do I have to)

Ireoke baraman bomyeo honja
(Must I gaze at you like this alone?)

I baram gateun sarang i geoji gateun sarang
(This meaningless love, this miserable love)

Gyesokhaeya nega nareul sarang hagenni
(Must I continue for you to love me?)

Jogeumman gakkai wa gogeumman
(Come closer a little bit more)

Hanbal dagagamyeon du bal domangganeun
(When I take a step closer, you run away with both feet)

Neol saranghaneun nan jigeumdyo yeope isseo
(I who loves you, even now I’m at your side)

Geu namjan umnida
(That man is crying)

 

Perlahan dia turun dari panggung dan berjalan ke arahku. Masih dengan tatapan mata dan ekspresi wajah yang sendu. Benarkah ini yang selama ini kau rasakan, Dong Hae ah~?

Geu namjaneun seonggyeogi sosimhamnida
(That man is timid)

Geuraeseo utneun beobeul baewotdamnida
(So he learnt how to laugh)

Chinhan chingugedo motaneun yaegiga manheun
(There are so many things he cannot tell his closest friend)

Geu namjaui maemeun sangcho tusongi
(That man’s heart is full of tears)

 

Tes! Air matanya menetes tepat saat dia berdiri di hadapanku. Dong Hae ah~ mianhae. Benarkah kau menangis karena kau benar-benar merasakan apa yang lagu ini ceritakan? Dia meraih tanganku untuk ikut berdiri.

Geuraeseo geu namjaneun geudael
(So that man said he)

Neol sarang haetdaeyo ttokgataseo
(Loved you because you were the same)

Tto hangateun babo tto hanagateun babo
(Another fool, another fool)

Hanbeon nareul anajugo gamyeon andwaeyo
(Won’t you hug me once before you go?)

 

Dia memiringkan kepalanya seolah bertanya. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Dan ia pun memelukku. Pelukannya benar-benar lembut. Dia masih menyanyi dan kali ini terdengar lebih menyayat hati.

Nan sarangbatgo sipeo geudaeyeo
(I want to be loved, my dear)

Maeil sogeuroman gaseum sogeuroman
(Everyday in my heart, in my heart)

Sorireul jireumyeo geu yeojaneun oneldo
(I shout out)

Geu yeope itdaeyo
(That man is beside you even today)

Geu namjaga naraneun geon anayo
(Do you know that man is me?)

Almyeonseodo ireneun geon anijyo
(Don’t tell me you know and are doing this to me)

Moreul geoya geudaen babonikka
(But you won’t know because my dear, you’re a fool)

 

Ne. Aku memang bodoh. Aku bodoh karena aku tidak bisa melihat betapa besarnya pengorbananmu selama ini. Kau sudah berbuat sangat banyak untukku tapi aku bahkan tidak pernah melakukan apapun untukmu.

Eolmana eolmana deo neoreul
(Just how much more do I have to)

Ireoke baraman bomyeo honja
(Must I gaze at you like this alone?)

I babo gateun sarang i geoji gateun sarang
(This foolish love, this miserable love)

Gyesokhaeya nega nareul sarang hagenni
(Must I continue for you to love me?)

Jogeumman gakkai wa jogeumman
(Come closer a little bit more)

Hanbal dagamyeon du bal domangganeun
(When I take a step closer, you run away with both feet)

Neol saranghaneun nan jigeumdo yeope isseo
(I who loves you, even now I’m at your side)

Geu namja umnida
(That man is crying)

 

Dia melepaskan pelukannya. Memandangku sambil tersenyum. Dia menyibakkan poni di wajahku lalu mengecup keningku sekilas. Lalu berjalan kembali ke panggung, meninggalkanku yang terpaku gara-gara perlakuannya padaku. Dia mengecup keningku? Berani sekali dia?

* * *

“Atas dasar apa kau berani menciumku tadi?” tanyaku saat ia sudah kembali duduk di sebelahku.

“Akukankekasihmu jadi wajarkanaku menciumku?”

“Ya Lee Dong Hae, aku serius.”

“Aku juga serius, Mrs. Lee. Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”

“Dong Hae ah~ jebalyo.”

“Aish! Arayo. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya tapi aku yakin kau pasti sudah mengerti, Jae Mi ah~.”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Hatiku rasanya ada yang menghimpit, menyesakkan. Benarkah? Jadi lagu itu benar-benar menggambarkan isi hatinya?

“Mianhae.”

“Eh?”

“Mianhae. Jeongmal mianhae.”

Entah kenapa hanya kata maaf yang terlontar. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku memang jahat. Tega sekali aku berbuat demikian terhadapnya. Tapi aku benar-benar takut untuk jatuh cinta. Tidak, bukannya aku tidak mau lagi jatuh cinta tapi aku takut sakit hati lagi.

“Gwaenchana. Sudahlah tidak usah memikirkannya lagi. Aku baik-baik saja. Oh ya, terlepas dari itu bagaimana penampilanku tadi?”

“Dong Hae jjang! Kau benar-benar keren! Seperti penyanyi saja.”

“Jinjja? Aku akan mentraktirmu ice cream besok karena pujianmu ini.”

“Ah? Dong Hae oppa memang benar-benar baik.”

“Aish! Berhenti bertingkah menjijikkan seperti itu, Jae Mi ah~!”

* * *

“Kudengar kemarin Dong Hae perform ya?”

“Ne. Wae?”

“Aku juga dengar katanya dia melakukan sesuatu saat perform kemarin?”

“Aish! Sudahlah, Yeon bicara terus terang saja. Aku sudah tahu mau kemana arah pembicaraanmu ini.”

“Hehehe. Jadi semua yang aku dengar itu benar?”

“Sepertinya begitu. Memang apa yang kau dengar?”

“Tentang Dong Hae menyanyikan sebuah lagu untuk gadis yang dia cintai. Tentang Dong Hae yang memeluk gadis itu juga tentang Dong Hae yang…”

“Ah, ara ara! Itu semua benar!”

“Jadi, gadis itu kau?”

Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaannya. Dia nampak seperti sedang berpikir lalu kemudian wajahnya berubah sumringah. Lantas menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan.

“Omo Jae Mi ah~ chukae!!!”

“Ne? Chukae?”

“Kau pastinya sudah benar-benar jadian dengan Dong Haekan?”

“Siapa yang bilang?”

“Tidak perlu bilang pun semua orang akan beranggapan sama denganku.”

“Ne? Jinjja? Jadi maksudmu, semua orang yang tahu cerita kemarin akan beranggapan sama sepertimu?”

“Keurom. Tadi saja banyak yang membicarakan kalian berdua. Kau sendirikantahu bagaimana terkenalnya Dong Hae itu jadi ya semua yang berhubungan dengannya akan menjadi konsumsi publik di kampus ini.”

“Naneottokhe?” ucapku dengan nada merajuk. Aku benar-benar bingung sekarang.

“Kau kenapa? Sudahlah, tidak usah menyembunyikan status kalian lagi. Toh semua orang juga sudah tahu.”

“Ya! Aku benar-benar belum jadian dengan Dong Hae.”

“Jinjja?”

“Keurom.”

“Ah kau pasti berbohong. Sudahlah aku masuk kelas dulu. Sampai jumpa.”

“YA! CHO YEON HAE!”

* * *

Aku dan Dong Hae sedang duduk di sebuah kedai ice cream. Kami duduk berhadapan dalam diam. Aku masih larut dalam pikiranku sendiri meskipun aku tahu Dong Hae hanya menatapku dari tadi.

“Kau tahu, banyak yang membicarakan kita di kampus?” akhirnya aku buka suara.

“Tentu saja aku tahu.Adamasalah?”

“Harusnya sih tidak ada. Tapikanmereka salah paham.”

“Apa kau merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka bicarakan?’

“Tidak juga sih. Tapi…”

“Kalau begitu biarkan saja. Nanti juga reda sendiri, Sudah makan ice cream-mu. Kau bahkan belum menyentuhnya darilimamenit yang lalu sejak pesananmu itu datang.”

“Hm, baiklah kalau begitu.”

Aku memakan ice cream-ku dengan lahap. Aku masih memusatkan konsentrasiku pada ice cream ini sampai akhirnya Dong Hae mengatakan sesuatu.

“Kalau aku lulus nanti mungkin aku akan membuka kedai ice cream juga.”

“Ne?”

“Supaya kau sering berkunjung ke kedaiku.”

“Kalau kau sering mentraktirku akan aku pikirkan.”

“Kau bisa makan sepuasnya setiap kali datang tanpa perlu membayar. Dengan satu syarat.”

“Ah, jinjja? Syarat apa?”

“Jadilah kekasihku.”

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s