[Series] No More Tears – Chapter 3

Annyeong!!! Mian lama post-nya… *pasang tampang tak bersalah*

Hm… Enaknya ngomong apa ya? Oh ya, tanya dong. Pada tertarik ga sama jalan cerita FF ini? Soalnya ini FF perwujudan dari rasa kangen aku bikin FF terutama FF series. So, semoga ga mengecewakan para hadirin sekalian.

Di chapter depan kayaknya aku bakalan kasih pertanyaan lagi. Hehehe. Oke deh, met baca aja. Jangan lupa kritik, saran, kesan, pesan atau apapun deh saya harapkan untuk singgah di kolom comment. Gomawo. ^_^

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


“Annyeonghaseyo, Jung Lee Na imnida.”

“Annyeong, Park Jae Mi imnida. Manasseo bangapseumnida.”

“Jadi kau wanita yang selama ini Dong Hae ceritakan?”

“Ne?”

“Ah, Dong Hae pasti belum mengatakannya padamu ya?”

“Mengatakan apa?”

“Ah…”

“Ya! Kalian sudah ngobrol sampai mana? Ini, minumlah…”

“Bagaimana kau tahu kalau aku menyukai susu?”

“Ne? Aku tidak tahu. Aku memesankan milikmu sama denganku karena aku tidak tahu apa kesukaanmu. Tak kusangka ternyata kesukaanmu benar-benar sama denganku. Ah! Aku senang sekali.”

“Ya! Kau itu kenapa? Sakit?”

“Kau tidak usah mencemaskanku, sayang. Aku tak apa-apa.”

“Sayang? YA!”

Entah kenapa aku tidak bisa benar-benar marah memanggilku dengan kata sayang. Aku memang tidak suka tapi tak sepenuhnya. Heran? Tentu saja. Aku bahkan baru mengenalnya beberapa waktu yang lalu. Aish! Sadarlah Park Jae Mi!

Dia mengacak poniku sambil tersenyum manis. Haruskah aku jujur? Senyumannya sangat teduh dan membuatku sangat ingin untuk membalasnya. Tapi ini tidak boleh. Aku memutuskan untuk menatapnya sedikit tajam lalu menepis tangannya.

“Jangan terus-terusan memperlakukanku seperti kekasihmu.”

“Kau kan memang kekasihku.”

“Ya!”

“Sudahlah. Tidak baik kita membiarkan temanku menonton kemesraan kita. Aku membawamu ke tempat ini bukan untuk pacaran.”

“Siapa juga yang mau pacaran denganmu di sini?” gumamku pelan. Tapi aku yakin dia masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“Jadi apa yang perlu aku lakukan untuk kekasihmu ini, Dong Hae ah~?”

“Kau hanya cukup meyakinkannya bahwa dia ini sebenarnya berharga. Berhenti menjadi sosok anti sosial yang tidak percaya akan dirinya sendiri.”

“Ya! Ya! Asumsi macam apa yang kau katakan barusan? Kau tidak mengenal diriku yang sesungguhnya.”

“Setidaknya Park Jae Mi yang kukenal tidak seperti dirimu saat ini.”

“Kapan kau mengenalku? Jangan berandai-andai!”

“Kau mungkin lupa tapi aku tidak mungkin lupa. Oh ya, dan aku tidak ingin berusaha mengenal dirimu yang sekarang karena ini bukan dirimu. Aku juga yakin sebenarnya kau sendiri tidak nyaman dengan keadaanmu yang sekarang. Apa aku salah?”

“Berhenti bertingkah seakan-akan kau sungguh mengenalku. Aku yakin aku tidak pernah kenal denganmu sebelum ini.”

“Aku tidak berbohong Park Jae Mi,” ucapnya perlahan dengan penekanan di setiap kata-nya.

“Sudahlah, jangan terus berdebat. Lagipula aku yakin kalau kekasihmu ini sudah menyadari betapa berharganya dirinya setelah dia mendengar ceritaku tadi dan menangis dalam pelukanmu. Aku yakin setidaknya dia bisa merasakan bahwa dirinya itu berharga untuk dirimu. Benarkan, Jae Mi ssi?”

“Ne???”

“Mungkin aku hanya bisa membantu sampai di sini. Tapi aku yakin Dong Hae bisa melakukan jauh lebih banyak untuk menyadarkan bahwa dirimu itu berharga. Jangan pernah menganggap rendah dirimu sendiri, Jae Mi ssi. Setiap kita memiliki kekhususannya masing-masing dan kau harus bangga akan hal itu.”

“Ne, kamsahamnida Lee Na ssi.”

“Cheonmaneyo. Sekarang aku hanya bisa mendukungmu, Dong Hae ah~. Aku tahu kau bisa.”

“Kau ini. Ini kan tugasmu?”

“Ani. Tentu saja ini tugasmu. Dia berharga untukmu, tentunya kau adalah orang yang paling tepat untuk menyadarkannya. Buat dia merasakan rasa berharga darimu itu. Araji?”

“Aish! Kau menyebalkan!”

* * *

Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Hari ini cukup mengesankan. Mungkin aku terlalu rendah menilai seorang Lee Dong Hae karena sepertinya dia tidak terlalu buruk. Aish! Apa yang sedang kupikirkan?

From : Si Won ssi
Aku akan berangkat ke Jepang besok. Setidaknya temui aku sebelum aku berangkat.

Dia akan ke Jepang? Berapa lama? Ah! Kenapa rasanya masih begitu menyakitkan? Dan sekarang dia akan pergi ke Jepang, meninggalkanku semakin jauh. Apakah itu artinya aku memang harus segera melupakannya?

To : Si Won ssi
Baiklah. Kapan dan di mana?

From : Si Won ssi
Malam ini aku akan ke apartment-mu.

Choi Si Won. Nama yang sangat aku sukai lima tahun belakangan. Nama yang mampu membuatku tersenyum hanya dengan membacanya atau mendengar seseorang melafalkan namanya. Tapi sekarang semua hal yang berhubungan dengan namanya, kenapa terasa begitu menyakitkan? Kenapa?

Aku memutuskan untuk mandi. Aku berendam cukup lama. Menenangkan pikiran. Tepat di saat aku keluar dari kamar mandi, bel apartment-ku berbunyi. Masih dengan jubah mandi dan handuk yang melilit di kepalaku aku berjalan ke arah pintu, mengintip apakah benar dia sudah datang.

Aku membukakan pintu dan mempersilakan dia masuk ke dalam. Dia sangat tampan hari ini. dan pria tampan ini bukan lagi milikku. Aku tersenyum tipis padanya.

“Tunggu sebentar. Aku akan ganti baju. Kalau kau haus, kau tahu kan harus kemana? Bersikaplah seperti biasanya saja.”

“Ne.”

Aku kembali ke kamar. Mengganti pakaian dengan kaus oversized berwarna putih dan celana pendek. Aku mengeringkan rambutku sekilas lalu keluar kamar dan mendapati dirinya yang sedang melongokkan kepalanya ke dalam kulkas.

“Ya! Apa yang kau cari?”

“Eopso. Hanya mengecek isi kulkasmu. Kau harus banyak makan dan minum yang menyehatkan. Lihat tubuhmu sudah semakin kurus.”

“Ah, arasho. Kau mau minum apa? Biar aku buatkan.”

“Ani. Aku sudah mengambil air putih sendiri tadi. Kajja, kita duduk saja di sofa,” ucapnya lalu menggandeng tanganku.

“Kau akan ke Jepang? Berapa lama?”

“Mollayo. Mungkin setahun, dua tahun atau mungkin seterusnya.”

“Ne?”

“Wae?”

“Aniyo.”

“Kau takut akan merindukanku?”

“Aku tidak akan merindukanmu. Kita bukan lagi pasangan kekasih yang berhak merindukan satu sama lain.”

“Kenapa tidak? Rindu bukan hanya milik pasangan saja. Apa merindukan teman itu berdosa?”

“Teman? Tentu saja. Merindukan sosok yang harusnya berstatus teman tapi tidak dengan perasaan sebagai teman. Aku rasa itu berdosa.”

“Jae Mi ah~”

Dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Pelukan ini kenapa rasanya begitu menyesakkan? Pelukan ini terasa seperti inilah pelukan terakhir untuk kami. Pelukan perpisahan?

Aku menangis. Jujur, aku tak bisa menahan air mataku. Aku masih mencintainya dan kini aku harus merelakannya pergi dariku. Berada di tempat yang jauh, Jepang. Dia tidak akan lagi ada dalam jangkauan mataku hingga waktu yang dia sendiri tidak bisa memastikan. Aku pasti akan merindukannya. Tidak peduli dengan status apa, aku yakin aku akan merindukannya.

Aku mendengar suara isakan. Mungkinkah dia juga menangis? Mungkinkah dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Mungkinkah semua presepsiku selama ini salah? Dia mencintaiku sebesar aku mencintainya. Dia merasakan sakit sedalam yang aku rasakan. Dan kini aku tahu, aku bersalah kepadanya.

“Jae Mi ah~ berjanjilah kau akan baik-baik saja.”

“Si Won ssi…”

“Panggil aku oppa, jebalyo. Jangan pernah panggil aku seperti itu lagi. Panggilan itu menyakiti hatiku.”

“Oppa… Aku akan baik-baik saja. Kau tenang saja.”

Si Won oppa mengeratkan pelukannya. Dia mengusap kepalaku pelan. Lalu mengusap punggungku perlahan, berusaha menenangkanku yang masih menangis. Dia sendiri baru saja berhasil menguasai emosinya.

Dia melepaskan pelukannya tapi masih meletakkan kedua tangannya di atas pundakku. Memandang kedua mataku intens lalu menyibakkan poniku yang berantakan.

“Kau harus berbahagia. Berjanjilah padaku, Jae Mi ah~.”

“Oppa… Kau juga harus berjanji padaku. Kau juga harus berbahagia. Temukan kebahagiaanmu. Temukan seseorang yang kau cintai dan bisa diterima oleh keluargamu. Aku percaya kau akan menemukannya.”

“Kau juga. Temukan seseorang yang selalu bisa menjagamu. Seseorang yang bisa mempertahankan cinta kalian dan akan terus berjuang, apapun yang terjadi. Aku juga percaya kau akan menemukannya.”

“Ne. Kita harus berbahagia.”

Si Won oppa mengusap air mataku lalu tersenyum. Senyuman tulus yang sangat aku sukai. Dan senyuman itu pula yang harus aku relakan saat ini.

Dia mengecup keningku. Lama. Dan perasaanku terasa begitu damai. Aku merelakanmu, oppa…

* * *

Aku menopang dagu dengan kedua belah tanganku. Bosan menunggu kelas berikutnya. Dan masih sedih perihal keberangkatan Si Won oppa ke Jepang. Dia tidak mengijinkanku mengantar. Selain karena akan ada eomma-nya juga di sana, dia takut keyakinannya akan goyah jika melihatku.

“Ya! Musen iriya? Wajahmu suntuk sekali?”

“Oh, Yeon ah~ gwaenchana. Mana kekasihmu?”

“Dia sedang ada kelas. Oh ya, sepertinya aku melewatkan beberapa cerita menarik darimu.”

“Cerita apa?”

“Cerita tentang Lee Dong Hae mungkin?”

“Memang ada cerita apa?”

“Ya, sayangku kenapa kau masih belum mengerti maksud dari temanmu ini? Tentu saja tentang hubungan kita.”

Aku merasakan seseorang duduk di sampingku, tanpa jarak. Ia mengalungkan tangannya di pundakku. Ya Lee Dong Hae! Berani sekali kau.

“Ya! Berhenti bertingkah seperti ini! Jangan seenaknya mengaku sebagai kekasihku, terlebih berhenti menyentuhku semaumu sendiri!”

“Omo! Omo! Kau sangat mengerikan, sayang.”

“YA!”

“Ah, arasho. Aku tidak akan memanggilmu sayang lagi.”

Aku mendengus sebal. Jinjja! Bagaimana mungkin bumi memiliki penghuni macam dia. Terlalu abstrak.

“Wae? Kau nampak tidak baik.”

“Gwaenchana.”

“Ya! Kalian benar-benar sudah jadian?”

“Keurom.”

“YA LEE DONG HAE! KAU CARI MATI HAH?”

* * *

Setahun sudah sejak keberangkatan Si Won oppa ke Jepang. Kami masih berhubungan beberapa kali. Tapi sepertinya dia sangat sibuk. Pengusaha muda. Dalam setahun ini sudah beberapa aku melihatnya menjadi cover majalah bisnis. Semoga kau berhasil, oppa!

Sementara diriku sendiri, tentu saja aku sudah jauh lebih baik sekarang. Meski aku belum berniat untuk membuka hatiku untuk orang lain tapi setidaknya kini aku sudah lebih terbuka.

Harus aku akui, hubunganku dengan Dong Hae juga menjadi lebih dekat. Tak aku pungkiri dia sosok yang sangat menarik. Dia baik dan sangat mengerti aku. Dia selalu bersikap layaknya pria gentle. Dia akan berjalan di sisi luar saat berjalan kaki denganku. Dia juga akan menungguku masuk terlebih dahulu ke dalam apartment sebelum pulang saat mengantarku.

Beberapa kali dia mengajakku ke tempat-tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dia mengajakku untuk menyadari betapa aku sangat berharga. Tidakkah dia tahu bahwa sebenarnya aku sudah sadar. Yang aku butuhkan adalah seseorang yang membuatku merasa sangat berharga. Tapi tidak sekarang.

“Jangan melamun!”

“Kenapa menjitak kepalaku?”

“Karena kau melamun. Bagaimana jika ada setan lewat lalu merasuki tubuhmu? Ah! Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya.”

“Ya! Neo baboya!”

“Jangan memasang tampang seperti itu. Kau sangat mengerikan. Oh ya, nanti malam jangan lupa menontonku.”

“Menontonmu? Memang kau akan tampil?”

“Tentu saja.”

“Kau akan tampil di mana?”

“Pentas seni.”

“Kampus kita?”

“Ne. Kau tidak tahu? Aish! Jinjja! Sudah pokoknya nanti malam jam enam kau aku jemput.”

“Ya! Ya! Ya!”

* * *

Jam menunjukkan pukul enam. Dong Hae benar-benar tepat waktu. Dia datang bersama dengan setangkai bunga mawar merah. Ah! Dia memang tipe pria romantis. Mau tidak mau aku tersenyum saat menerimanya.

“Jangan merayuku. Aku tidak menyukai bunga, Tuan Lee,” jawabku sambil mengambil bunganya. Aku membawa bunga itu ke dalam lalu kembali ke luar dan mengunci apartment.

“Baiklah, Nyonya Lee. Akan aku catat. Jadi, kesukaanmu apa?” tanyanya sambil berjalan menuju lantai dasar.

“Aku sangat menyukai cokelat. Aku juga menyukai ice cream, rasa cokelat tentunya. Lalu, seperti yang kau tahu aku menyukai susu cokelat. Ah! Kenapa semua rasa cokelat ya?”

“Tentu saja karena rasa cokelat itu enak. Disamping keuntungan-keuntungan lainnya seperti mengurangi stress dan menambah mood. Kau pasti sudah paham betul kan dengan kegunaan cokelat lainnya?”

Aku mengangguk pasti. “Oh ya, aku juga sangat menyukai buah-buahan seperti jeruk dan strawberry. Lalu… Ah! Kenapa aku jadi menjelaskannya padamu?”

Dia tertawa renyah. “Tak apa. Kan tadi aku yang bertanya padamu.”

“Ah iya, kau benar!”

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s