[Series] No More Tears – Chapter 2

Chapter 2 datang!!! Ada yang menantikan? Secara pribadi aku suka sama chapter kali ini, soalnya ada bagian yang isinya itu sangat menggugah buat kaum wanita. Ga percaya? Monggo, dibaca aja. Saya harap sih, setelah baca chapter kali ini para kaum wanita maupun pria (?) bisa mengambil sisi baiknya.

Udah ah, segitu aja prolog-nya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Jangan lupa comment ya, kawan??? ^_^

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


Hari minggu yang cerah. Aku memutuskan untuk pergi ke gereja. Gereja yang sama dengan yang selalu aku kunjungi bersama Si Won dulu.

Perasaanku berubah menjadi jauh lebih baik saat aku berada dalam Rumah Tuhan seperti ini. Mungkin seharusnya aku selamanya di sini.

Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Perjalanan pulang kali ini sepertinya akan terasa menyenangkan. Semoga saja.

“Park Jae Mi ssi.”

Aku menoleh dan mendapati sosok wanita paruh baya yang telah sangat tidak ingin aku temui. Wanita yang memaksakan kehendaknya sendiri dan selalu meremehkan orang lain.

“Oh, ahjumma. Wae?”

“Sepertinya kau baik-baik saja.”

“Tentu. Berpisah dengan anakmu bukan masalah besar untukku.”

“Baguslah kalau begitu. Aku sangat lega kalau begitu, setidaknya aku tidak membuat hidup seseorang hancur kan?”

“Oh, tentu saja tidak. Aku justru berterima kasih padamu. Karenamu aku tidak jadi memiliki ibu mertua yang jahat.”

“Kau!”

“Kalau tidak ada hal lain yang ingin Anda bahas saya permisi dulu.”

Aku beranjak meninggalkannya yang berdiri mematung. Kau tidak perlu khawatir Nyonya Choi, selamanya aku tidak akan pernah lagi kembali pada anakmu. Ini pilihan kalian dan aku juga punya pilihanku sendiri. Lima tahun, kau masih pada pendirianmu. Kinerja yang bagus Nyonya Choi.

Park Jae Mi kau tidak boleh kalah! Tunjukkan bahwa kau bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Cinta itu omong kosong. Berhenti berharap akan sesuatu yang kosong.

* * *

Aku berjalan menyusuri rak-rak buku. Saat ini aku sedang berada di perpustakaan kampus. Aku menoleh ke sebelah kanan karena aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku sejak aku masuk tadi.

“Akhirnya sadar juga, eh?”

Aku melihat seorang pria berdiri di ujung lorong, pria yang sama dengan pria yang menawarkan bantuan padaku beberapa hari yang lalu. Dia tersenyum kepadaku tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik untuk membalas senyumannya.

“Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa,” ucapnya sambil berjalan semakin dekat ke arahku.

“Kau mengenalku?”

“Memang kau siapa? Apa aku harus mengenalmu?”

“Dong Hae. Lee Dong Hae imnida. Kau harus mengingat namaku mulai dari sekarang, araji?” ucapnya sambil menepuk kepalaku pelan, tidak langsung menurunkan tangannya tapi membiarkannya tetap di kepalaku.

“Lepaskan tanganmu!” ucapku dingin.

“Apa kau seperti ini pada semua orang? Atau hanya padaku?”

“Aku tidak mengenalmu dan sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun.”

Aku melepaskan tangannya yang masih belum ia turunkan dari kepalaku. Menatapnya tajam lalu berbalik menjauhinya. Jinjja! Mimpi apa aku semalam harus bertemu lagi dengan pria sok tebar pesona macam dia?

“Ya Park Jae Mi! Suatu saat nanti kau pasti akan menjadi milikku.”

Mendengar kata-katanya refleks membuatku kembali menoleh. Dia bahkan sudah tahu namaku. Ini benar-benar awal dari mimpi burukku selanjutnya. Dan betapa menyebalkannya saat aku melihatnya tengah tersenyum puas. Seolah baru saja berhasil memenangkan sebuah perlombaan.

“Coba saja kalau bisa, Lee Dong Hae ssi.”

“Pasti.”

* * *

From : +62xxx
Sentuhan pertama yang mengesankan. Sampai jumpa kembali, Nona Park.

Nomor ini lagi. Siapa? Mungkinkah… Ya! Tidak mungkin! Aish! Pria itu benar-benar ingin bermain-main denganku?

To : Mr. Lee
Sentuhan pertama dan yang terakhir, Tuan Lee.

From : Mr. Lee
Jinjjayo? Aku tidak akan membiarkannya menjadi yang terakhir. Aku akan membuat jemarimu selalu dalam genggamanku.

To : Mr. Lee
In your dreams, Mr. Lee!

From : Mr. Lee
Just wait and see, Mrs. Lee… ^_^

Aish! Jinjja! Dia memanggilku Mrs. Lee? Nyonya Lee? Dia benar-benar cari mati! Aku melemparkan ponselku ke tempat tidur. Tidak bisakah ia tidak mengganggu hidupku? Aku bahkan tak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini.

Baru saja aku ingin memejamkan mataku, bel apartment-ku berbunyi. Siapa sih? Mengganggu saja. Eh? Kenapa dia membalikkan tubuhnya? Aku memanggilnya lewat intercom.

“Nuguseyo?”

“Annyeong, Mrs Lee,” balasnya setelah membalikkan tubuhnya.

“Ya! Mau apa kau kemari?”

“Bukakan pintunya dulu.”

“Shireo!”

“Kalau begitu aku akan membuat kegaduhan di sini dan aku akan bilang kalau aku itu temanmu.”

“Kau!”

Aku membukakan pintu dengan enggan. Begitu aku membuka pintu, dia menyambutku dengan senyuman sok aegyo-nya itu.

“Ada apa?”

“Tidak mempersilakan aku masuk?”

“Aku tidak membawa orang asing masuk dalam apartment-ku.”

“Kajja! Temani aku ke sebuah tempat,” ucapnya sambil menarik tanganku. Refleks aku berusaha melepaskan diri.

“Ya! Ya! Shireo!”

“Kau mau aku membawamu dengan cara baik-baik atau kau mau aku membopongmu?”

“Aish! Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu.”

“Okay.”

Aku tak menyangka ternyata dia membawaku ke laut. Entah ini di mana sepertinya aku tak pernah ke tempat ini. Laut ini sangat indah dan bersih tapi anehnya tak ada seorangpun di sini selain kami berdua.

“Luapkan semua beban yang ada di hatimu. Jangan biarkan ada ganjalan.”

“Ne?”

“Berteriaklah. Jika ada seseorang yang kau benci, makilah dia. Percayalah, perasaanmu akan menjadi jauh lebih baik.”

“Nan shireoyo, untuk apa aku menurutimu?”

“YA! PARK JAE MI! KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN! KAU MEMBUATKU TAK TAHU HARUS MELAKUKAN APA!”

“Ne? Apa maksud kata-katamu itu?”

“Fiuh… Bimil!”

“Ya Lee Dong Hae! Kau! Aish!”

“Cobalah…”

“CHOI SI WON!!! AKU AKAN BUKTIKAN PADAMU BAHWA AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA TANPA DIRIMU!!!”

“DAN KAU CHOI AHJUMMA, KAU AKAN MENYESAL KARENA MENOLAKKU SEBAGAI CALON MENANTUMU!!!”

“AAARGH!!!”

“Choi Si Won? Anak dari Tuan Choi yang kaya raya itu? Ah! Kau?”

“Omo! Omo! Ternyata wanita yang ada di sampingku ini bukan wanita biasa.”

Aku menghela nafas panjang lalu duduk di tepi pantai. Tak lama, Dong Hae pun mengikuti apa yang aku lakukan. Kami berdua diam selama beberapa saat. Sesekali riak-riak ombak menyapu kaki kami. Sungguh! Harus aku akui perasaanku sedikit lebih lega.

“Hubungan kami sudah berakhir. Jadi kumohon, jangan pernah menyebut namanya lagi.”

“Oh, ne arashoyo.”

“Gomawo.”

* * *

Kelas hari ini sudah berakhir. Lagi-lagi aku tak tahu apa yang akan aku lakukan. Kenapa hidup begitu membosankan?

“Ya! Kau mau kemana?”

Aku menoleh dan mendapati Dong Hae yang tengah menatapku sambil merangkul pundakku. Beraninya dia merangkul pundakku dan menyebabkan jarak antara kami berdua menjadi sangat dekat.

“Ya!” ucapku sambil menepis tangannya yang bertengger di pundakku.

“Mianhae, kau mau kemana?”

“Nan molla. Wae?”

“Tertarik ikut denganku?”

“Kau mau mengajakku kemana lagi?”

“Ke suatu tempat yang bisa menyadarkan betapa berharganya dirimu.”

“Ne?”

“Kajja!”

Dia menggandengku dan anehnya kali ini aku membiarkannya. Pria ini, kenapa dia baik sekali? Aku tidak boleh terbuai. Ingat Jae Mi! Semua pria sama saja.

“Nuguseyo?” tanyaku saat kami berada di depan pintu sebuah ruangan. Ada seorang wanita yang sepertinya sebaya denganku, dia tengah berbicara sementara ada beberapa wanita beragam usia sedang duduk di bangku-bangku. Layaknya guru dan murid.

“Dia temanku, namanya Jung Lee Na. Coba dengarkan apa yang dia katakan.”

“Saya pernah membaca sebuah tulisan. Ini cerita ketika Tuhan menciptakan wanita. Ada seorang malaikat yang bertanya, ‘Mengapa begitu lama Tuhan?’ Lalu Tuhan menjawab, ‘Sudahkah kamu lihat semua detil yang Aku ciptakan untuknya?”

“Kedua tangan ini harus bisa selalu dibersihkan, setidaknya terdiri dari dua ratus bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik agar dapat mengolah berbagai jenis makanan.”

“Mampu memberikan kenyamanan bagi anak-anaknya.”

“Punya pelukan yang menyembuhkan rasa sakit hati dan keterpurukan.”

“Dan semuanya cukup dilakukan dengan kedua tangan ini.”

“Malaikat pun takjub lalu kembali bertanya, ‘Hanya dengan dua tangan ini? Tetapi Tuhan, Engkau membuatnya begitu halus dan lembut.’”

“Tuhan menjawab, ‘Ya, Aku membuatnya begitu lembut. Tapi kamu belum bisa bayangkan kekuatan yang Aku berikan kepadanya agar ia bisa mengatasi banyak hal yang luar biasa.’”

“Lalu malaikat kembali bertanya, ‘Dia bisa berpikir?’”

“Tuhan pun menjawab…”

“Tidak hanya berpikir, dia juga mampu bernegosiasi dan mengutarakan pendapatnya.”

“Malaikat itu menyentuh dagunya, ‘Tuhan Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh, seolah banyak sekali beban untuknya.’”

“Itu bukan kerapuhan. Itu air mata. Aku berikan padanya supaya dia bisa mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan rasa bangga.”

“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini sungguh menakjubkan!”

“Ya… Harus! Wanita ini mempunyai kekuatan untuk mempesona laki-laki.”

“Dia dapat mengatasi beban hidup, mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.”

“Mampu tersenyum bahkan ketika hatinya menjerit.”

“Mampu tertawa saat hatinya menangis.”

“Dia bisa berkorban demi orang-orang yang dikasihinya.”

“Dia bisa melawan ketidakadilan.”

“Dia bersorak saat melihat kawannya bahagia.”

“Hatinya terluka saat melihat kesedihan.”

“Dia tahu sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”

“Cintanya tanpa syarat.”

“Malaikat sangat kagum kemudian mengajukan sebuah pertanyaan lagi, ‘Lalu apa kekurangannya?’”

“Tuhan menjawab, ‘Hanya satu hal. Dia terkadang lupa betapa berharganya dia.’”

Aku menyeka air mataku. Rupanya tanpa sadar aku menangis. Kata-katanya benar-benar menyadarkanku tentang betapa berharganya diriku. Tentang aku yang tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Tentang aku yang seolah dapat menerima kenyataan padahal sebenarnya tidak. Tentang aku yang berusaha mengubah diriku menjadi sosok lain. Tentang aku yang berpura-pura baik-baik saja padahal rasanya masih sangat sakit.

Aku masih saja belum bisa menghentikan tangisanku. Dan saat Dong Hae merengkuhku ke dalam pelukannya pun aku tak banyak bereaksi. Menangis di dadanya seperti ini ternyata sangat nyaman. Selama ini aku tak pernah menunjukkan sisi lemahku di hadapan Si Won oppa. Kalau aku tahu rasanya bisa demikian nyamannya, aku pasti akan melakukannya dari dulu. Tapi, apakah akan sama rasanya?

“Menangislah,” ucapnya sambil mengelus rambutku.

Alam sadarku mengatakan aku harus segera melepaskan diri dari pelukan ini tapi hatiku seolah tidak mau. Untuk kali ini saja, ijinkan aku mengikuti kata hatiku.

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s