[Series] No More Tears – Chapter 1

Annyeong!!! I’m back!!! Adayang kangen sama aku atau at least, sama tulisan aku? Hehehe… Sebenernya ini FF udah mau aku post sejak Agustus lalu, tapi karena inet yang belakangan ini ngambek, ga bisa dibuat buka facebook alhasil aku jadi males deh buat nyoba-nyoba buka facebook lewat kompi. :p

Ini FF series aku yang ketiga. Kali ini aku sengaja bikin FF ini dari awal sampe akhir dulu, publish-nya belakangan. Soalnya takut kehilangan mood atau ide di tengah jalan kayak series sebelumnya. Fortunately, aku cukup lancar nulis FF ini. Sekitar sebulanan udah kelar. Tapi mohon maaf, jadwal publish FF ini kayaknya ga bakal berdekatan. Soalnya mood aku buat nulis FF sedang menurun drastis jadinya aku ga ada stok FF yang memadai.

Keep update ya? Mungkin FF ini bakal aku publish dengan jeda antara satu sampe dua minggu per chapter-nya. Jadi, dimohon sabar dengan jeda yang menurut aku lama itu. Hehehe.

Ya udah lah daripada ditimpukin readers karena kebanyakan omong, lebih baik saya sudahi sampai di sini prakata-nya.

Kalo udah baca jangan lupa buat tinggalin comment. Sekalian nitip jempol juga sangat dipersilakan. Gomawo, chingu! ^_^

= = = = = = =

Title : No More Tears

Author : neys


Sekali, aku memberikan seluruh hatiku pada seorang pria. Sekali, aku merasakan hatiku hancur tanpa bisa menyatukannya kembali. Aku terluka tapi tak berniat untuk mengobatinya karena aku tak lagi mengenal rasa cinta.

* * *

Orang bilang cinta itu buta. Ya, tentu saja. Dia telah berhasil membutakan aku. Aku bertahan selama bertahun-tahun di sisi seorang pria yang bahkan tidak pernah menghargai setiap usahaku.

Orang bilang cinta itu butuh perjuangan. Kalau itu benar, maka dilihat dari apa yang sudah ia lakukan untuk hubungan kami maka harus aku katakan bahwa dia tidak mencintaiku.

Aku memang tak sehebat yang keluarganya inginkan. Kualitasku tak memenuhi standard untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Tapi tidakkah mereka melihat hati? Kalau mereka tak melihat hati, pun demikian denganku kini. Semua omong kosong.

“Jae Mi ah~ kenapa baru datang jam segini?”

“Aku ada sedikit urusan tadi. Wae? Apa terjadi sesuatu?”

“Aniyo. Oh ya, tadi ada yang mencarimu.”

“Nugu?”

“Mantan kekasihmu, Si Won oppa.”

“Si Won? Dia bilang apa padamu?”

“Eopsoyo. Dia hanya minta aku menyampaikan padamu kalau dia mencarimu.”

“Aish! Jinjja! Apa sih maunya?”

“Waeyo, Jae Mi ah~?”

“Gwaenchana, Yeon. Aku masuk dulu ya? Kelasku akan segera dimulai.”

Dan sungguh aku tak mengerti apa yang ia inginkan sekarang. Bukankah semua sudah berakhir? Aku tak berniat untuk memulai kembali sesuatu yang tidak pantas untuk diperjuangkan. Aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama karena aku yakin jika akhirnya pun akan jatuh di titik yang sama dengan sebelumnya. Lalu untuk apa?

To : Si Won ssi
Aku tak tahu apa yang kau inginkan. Tapi yang jelas aku tak ingin berhubungan lagi dengan dirimu. Ingat! Hubungan apapun, aku tak sudi!

From : Si Won ssi
Jae Mi ah~ haruskah kau sebenci ini padaku? Setidaknya biarkan aku menjadi sahabatmu.

To : Si Won ssi
Aku tak butuh sahabat seperti dirimu!

Aku mematikan ponselku lalu memasukkannya ke dalam tas. Sepertinya aku harus segera mengganti nomor ponselku agar tidak diganggu oleh pria itu.

Lari dari masalah? Aku bukan lari dari masalah. Kalau begitu, lari dari kenyataan? Aku juga tidak sedang lari dari kenyataan. Tapi memang kenyataanlah yang mengharuskan aku untuk berada jauh dalam jangkauannya. Setidaknya itu ‘perintah’ dari orang tuanya padaku.

“Ahjumma, mianhae membuat Anda lama menunggu.”

“Jadi wanita yang tidak tepat waktu seperti dirimu ini yang selalu Si Won banggakan? Benar-benar tak pantas.”

“Ahjumma, tadi aku ada urusan mendadak jadi terpaksa aku terlambat.”

“Aku tak peduli. Hanya ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. Jauhi Si Won. Kau tak pantas untuknya. Bahkan dari segi manapun.”

“Ahjumma…”

“Menjauh dari Si Won.”

“Aku tidak akan meninggalkannya kecuali Si Won yang meninggalkanku. Dan itu tidak akan terjadi.”

“Baik. Tunggu sampai Si Won mengucapkan kata-kata perpisahan itu padamu langsung. Dan aku pastikan itu tidak lama lagi.”

* * *

Betapa membosankannya hidupku. Tidak ada semangat. Tidak ada tujuan. Berkuliah di sini juga bukan karena aku benar-benar menginginkannya. Betapa bodohnya aku memilih untuk berkuliah di kampus ini hanya karena dia adalah lulusan kampus ini. Bahkan memilih jurusan yang sama dengannya dulu, jurusan yang tidak aku minati dan benar-benar tidak aku kuasai.

Teman? Jangan tanyakan teman.? Aku bahkan tidak pernah membagi kisahku dengan mereka. Aku lebih suka menyimpan semuanya untukku sendiri. Salah seorang teman yang cukup dekat denganku di kampus adalah Cho Yeon Hae, cewek aneh kekasih dari Park Jung Soo – mahasiswa abadi. Dia juga adik dari Cho Kyu Hyun yang merupakan kekasih dari Choi Hae Won – adik Choi Si Won.

Sebenarnya masih ada seorang lagi, teman lamaku tapi dia memutuskan untuk melanjutkan studi ke Jepanglimatahun yang lalu dan kami kehilangan kontak saat itu juga.

Aku tahu dulu aku tak begini. Tapi semua berubah. Aku bukanlah seorang Park Jae Mi yang dulu. Setidaknya dulu aku sedikit lebih terbuka. Tapi sekarang, mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi pada sosokku yang lama. Karena pada kenyataannya sikapku yang dulu pun tak berhasil merubah apapun.

“Jae Mi ah~ kau mau kuantar pulang dulu?”

“Oh, Jung Soo ssi tak perlu. Kau cukup menunggu lalu mengantarkan kekasihmu saja. Annyeong.”

Aku tak butuh perhatian dari siapapun. Perhatian hanya membuatku menjadi semakin lemah. Dan aku benci menjadi seperti itu. Sudah cukup aku menjadi sosok mengerikan seperti itu beberapa waktu yang lalu.

Cukup sekali aku mengemis cinta. Dan sayangnya aku mengemis pada orang yang salah. Mengemis cinta pada orang yang tak punya cinta untuk diberikan padaku. Bodoh! Aku memang benar-benar bodoh!

Aku duduk seorang diri di kantin. Tempat ini menyimpan beberapa kenangan kami berdua, sesaat sebelum dia meninggalkan kampus ini. Itu sebabnya aku tak pernah mau mengunjungi tempat ini saat kami berdua baru saja mengakhiri hubungan kami.

Aku bisa. Aku harus bisa melupakan semua kenangan itu. Aku mengaduk-aduk minumanku. Bosan. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Tanganku terhenti saat ada seseorang yang menghentikan pergerakan tanganku. Aku mendongak dan mendapatkan dia berdiri di seberang mejaku.

“Mau apa kau?” ucapku sambil tersenyum sinis.

“Berhentilah bertindak layaknya anak kecil.”

“Anak kecil? Siapa?”

“Kau. Berhenti menghindariku.”

“Aku tidak menghindarimu. Aku hanya benar-benar tidak ingin berada di dekatmu.”

“Wae?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku meminum minumanku sedikit lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Baru beberapa langkah aku merasakan tanganku ditarik kebelakang. Dan kini, aku sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya yang kokoh.

“Dengarkan aku. Aku mencintaimu, aku tidak pernah bohong soal itu. Berhenti menyangka bahwa aku tidak pernah mencintaimu selama ini.”

“Perpisahan kita, bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena hanya itu pilihan yang kita punya. Aku tidak akan memintamu untuk kembali ke sisiku karena itu sama artinya dengan kembali menyakitimu. Aku tahu kau tertekan saat bersamaku dulu. Mianhae karena aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Tapi kumohon ijinkan aku menggantikan semua laramu itu. Ijinkan aku menebus semua caci maki orang tuaku padamu.”

Aku melepaskan kedua tangannya dari wajahku.

“Tak perlu. Aku baik-baik saja. Aku katakan ini untuk yang terakhir kalinya. Berhenti mengasihani aku. Berhenti menganggap aku tidak baik-baik saja saat ini. Aku baik-baik saja, dengan ataupun tanpa dirimu.”

Aku berbalik dan berjalan menjauh darinya. Tapi kemudian aku teringat sesuatu. Aku berbalik dan kembali menatap lurus kedua manik matanya.

“Dan terima kasih untuklimatahun TERINDAH yang pernah kita lewati bersama. Itu akan menjadi kenangan TERINDAH dalam hidupku. Selamat tinggal Si Won ssi.”

Aku kembali melangkahkan kakiku menjauh darinya. Dan lirik lagu My Happy Ending dari Avril Lavigne seolah berputar-putar di dalam pikiranku.

You were everything, everything that I wanted
We were meant to be, supposed to be, but we lost it
And all of the memories, so close to me, just fade away
All this time you were pretending
So much for my happy ending

You’ve got your dumb friends
I know what they say
They tell you I’m difficult
But so they are
But they don’t know me
Do they even know you?
All the things you hide from me
All the stuff that you do

You were all the things I thought I knew
And I thought we could be

 It’s nice to know that you were there
Thanks for acting like you cared
And making me feel like I was the only one
It’s nice to know we had it all
Thanks for watching as I fall
And letting me know we were done

 So much for my happy ending…

* * *

Sebulan sudah hubunganku dengan Si Won berakhir. Awalnya memang terasa berat bahkan sangat berat. Seseorang yang sudah mati-matian aku pertahankan selama lima tahun akhirnya harus berakhir tanpa sisa.

Seseorang itu sempat menjadi segala-galanya di hidupku. Seseorang itu yang pernah memberikan banyak sekali kenangan yang saat ini sangat ingin aku lupakan. Bisakah aku menghapus memori-memori itu dari otakku?

“Sepertinya kita benar-benar harus menyerah saat ini, Jae Mi ah~.”

“Menyerah? Apa maksudmu, oppa?”

“Bagian mana lagi dari hubungan kita yang pantas untuk kita pertahankan? Cinta yang mana lagi yang pantas kita perjuangkan, Jae Mi ah~?”

“Oppa?”

“Aku mohon Jae Mi ah~ belajarlah untuk melupakan diriku.”

“Apa kau bilang? Melupakanmu? Bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang telah memberikanku terlalu banyak kenangan untuk diingat?”

“Aku yakin kau bisa. Sampai kapan kita harus bertahan dengan kondisi seperti ini? Berapa kalipun kita mencoba, hasilnya akan sama saja, Jae Mi.”

“Aku mohon, oppa. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku?”

“Aku mencintaimu oleh sebab itu aku tak ingin melihatmu berharap pada pria yang salah. Kita tidak seharusnya memaksakan kehendak kita sendiri.”

“Kau mencintaiku tapi tidak ingin bertahan. Aku tak mengerti. Tapi kalau memang kau sudah muak dengan diriku. Baik. aku tidak akan pernah mengganggu dirimu lagi. Mulai besok kau tidak akan melihatku muncul di hadapanmu lagi.”

“Ya! Apa yang akan kau lakukan? Jangan melakukan…”

“Tenang. Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan.”

“Aku… Aku…”

“Sampai jumpa. Oh salah! Selamat tinggal Choi Si Won ssi!”

Seperti itukah perpisahan yang kau harapkan setelahlimatahun kita bersama? Okay, mungkin aku salah jika aku menduga kau tidak pernah mencintaiku. Tapi aku yakin rasa cintamu tidaklah sebesar rasa cintaku padamu.

Aku bukannya membencimu. Aku bukannya ingin bertindak begitu kejam padamu. Aku hanya tidak ingin semua yang aku lakukan sebulan ini berakhir percuma. Aku hanya tidak ingin pertahanan yang sudah aku bangun dengan susah payah akhirnya runtuh.

Mianhae, oppa…

* * *

“Ya! Jae Mi ah~ kenapa kau lama sekali sih datangnya?”

“Wae?”

“Adamahasiswa baru. Pindahan dariMokpo. Anak seni. Dia benar-benar tampan. Kau harus melihatnya,” ucapnya bersemangat lalu berlari sambil menarik tanganku.

“Ya! Ya! Kau bilang aku harus melihatnya tapi lihat siapa yang lebih bersemangat? Ingat! Kau sudah punya kekasih!”

“Tenang, aku ingat kok.”

“Ya! Kenapa ramai sekali?”

“Sudah aku bilang dia itu sangat tampan. Wajar saja banyak yang ingin melihatnya.”

“Aish!”

“Ayo, kita kedepan!”

“Ya! Nan shireo!”

“Ayo…” ucapnya sambil menarik-narik lenganku.

“Andwaeyo…”

Aku berusaha melepaskan tangannya sekuat tenaga. Dan tiba-tiba saja tangannya terlepas dari tanganku akibat mahasiswi-mahasiswi yang terlalu banyak berdesakan. Tak dapat dielakkan lagi aku terjatuh. Aku mendarat dengan sangat indah.

BUGH!

Aku meringis, berusaha menahan sakit di tubuhku.

“Gwaenchana?”

Aku mendapati ada tangan yang menjulur ke arahku dan suaranya terdengar asing di telingaku. Aku mendongak dan mendapti sosok seorang pria yang tengah menatapku lurus. Aku akui, dia cukup manis tapi aku tak peduli.

Aku berusaha bangkit sendiri. Menatapnya sekilas lalu berbalik dan berjalan menjauh darinya.

“Ya! Jae Mi ah~ kau mau kemana? Tunggu aku!”

* * *

“Bagaimana? Dia tampan bukan?”

“Nugu?”

“Pria tadi. Lee Dong Hae.”

“Pria yang mana? Kita bahkan belum sempat melihatnya bukan?”

“Ya! Pria yang hendak menolongmu tadi. Dia yang bernama Lee Dong Hae.”

“Oh.”

“YA! KAU INI TERDAMPAR DARI PULAU MANA SIH?”

“Wae?”

“YA!!!”

“Apa sih? Kenapa kau teriak-teriak terus sih dari tadi?”

“Aish! Jinjja! Kau benar-benar menyebalkan Jae Mi ah~!”

“Aku? Memang aku melakukan apa?”

“Apa penglihatanmu masih normal? Pria tadi, Jae Mi ah~. Dia sudah menawarkan dirinya padamu tapi kau malah dengan santainya pergi dan menolak bantuannya.”

“Aku tak tertarik padanya.”

“Oh! Jangan-jangan kau sudah tidak tertarik lagi pada pria? Hm…”

Aku hanya diam sambil tersenyum enggan menanggapi pertanyaannya. Jujur, aku tak suka dengan bahasan kali ini.

“Oh! Aku tahu! Jangan-jangan kau kembali pada…”

“YA!NANSHIREO!”

Aku langsung berdiri dan berjalan meninggalkannya.

“Ya! Jae Mi ah~, museum iriya?”

“Berhenti membahas hal ini jika kau masih ingin ngobrol denganku.”

“Sebenarnya kau kenapa sih? Sedang ada masalah? Coba ceritakan padaku. Mungkin ada yang bisa aku bantu.”

“Gwaenchanna. Aku hanya sedang tidak ingin membahas hal tadi.”

“Ne, arashoyo.”

Aku tersenyum dan menepuk kepalanya pelan. Tampangnya saat ini begitu menggemaskan, seperti anak kecil. Tiba-tiba ponselku bergetar. Satu pesan masuk. Eh? Nomor siapa ini?

From : +62xxxx
Annyeong! No gwaenchani? Tidak ada yang luka? Mungkin kita bisa berkenalan di lain kesempatan.

Eh? Nuguya?

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s