[Series] Fate – Part 2 (End)

Title : Fate

Author : neys

Lima tahun. Lima tahun aku tak melihatmu, tak mendengar suaramu. Dan sekarang aku melihatmu ada di depan mataku. Aku ingin memelukmu tapi aku tahu aku tidak pantas untuk itu. Aku ingin menceritakan banyak hal padamu. Menceritakan apa saja yang terjadi lima tahun belakangan ini. Tapi untuk apa?

“Hae Won ah~ aku pulang dulu ya? Sepertinya kau ada teman lama. Nanti aku telepon. Bye.”

Ki Bum oppa – tunanganku mengecup puncak kepalaku sekilas lalu berpamitan pada eomma di dalam sebelum benar-benar meninggalkan rumahku.

Aku masih terdiam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur aku sangat merindukannya. Terlalu merindukan hingga tak sanggup mengungkapkannya. Lima tahun tanpa dirinya sangat hampa.

“Apa kabar?”

“Aku? Baik. Bagaimana dengan dirimu, oppa?”

“Tidak sebaik saat kita masih dekat.”

“Ne?”

Kau berjalan lalu duduk di sofa. Memejamkan matamu sejenak. Aku pun duduk di sampingmu. Diam. Menantimu membuka mata dan menjawab ketidakpahamanku.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Kau membuka matamu lalu memelukku. Sangat erat. Ingin sekali aku membalas pelukanmu tapi pikiran sadarku memerintahkan agar aku tak melakukannya.

“Apa kau tahu? Lima tahun ini aku hidup tapi sebenarnya aku mati. Aku ingin segera kembali dan berada di sisimu untuk selamanya.”

“Oppa? Apa maksudmu? Ha Neul onnie?”

“Jangan memikirkan Ha Neul. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.”

Aku menghempaskan tubuhnya menjauh dariku. Dia dan Ha Neul onnie tidak ada hubungan apa-apa? Apa maksudnya?

* * *

“Berapa lama kalian saling mengenal?”

“Sejak aku masuk kuliah. Kira-kira tiga tahun yang lalu.”

“Lalu? Sejak kapan kalian bertunangan?”

“Seminggu yang lalu ia mengatakannya padaku tapi peresmiannya baru minggu depan. Wae?”

“Tidak ada apa-apa. Semoga kau berbahagia dengan pilihanmu ini. Kajja habiskan makananmu.”

Seminggu lagi kau akan resmi menyandang status sebagai tunangan dari seorang namja bernama Kim Ki Bum. Meski ini terasa berat, aku akan selalu mendoakanmu Hae Won ah~. Semoga kau berbahagia. Bila hatiku ini memang tak ditakdirkan untuk bersatu dengan dirimu, tak apa. Asalkan hatimu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, sungguh aku akan baik-baik saja.

Mianhae untuk tidak menceritakan banyak hal tentang apa yang sudah aku alami selama lima tahun. Lima tahun terkelam dalam hidupku karena berada jarak yang tidak terjangkau oleh mataku. Lalu, bagaimana dengan dirimu? Lima tahun tidak melihatku apa kau tidak merindukanku?

“Kau sendiri kenapa tidak menghabiskan makananmu, oppa?”

“Ah, aku sudah kenyang.”

“Kau aneh.”

Aneh? Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak bertingkah aneh saat aku mengetahui seseorang yang sangat aku cintai akan bertunangan dengan pria lain? Selangkah lebih dekat menuju jenjang yang sungguh bahkan membayangkannya saja aku tidak sanggup.

Aku sudah bertahan selama lima tahun hidup tanpamu. Lalu? Apa sekarang aku harus menyiapkan diriku untuk selamanya hidup tanpa dirimu. Melewati sisa hidupku tanpa pernah memiliki kesempatan untuk memilikimu?

“Aku sudah selesai. Mau langsung pulang atau kau masih butuh bantuanku untuk menemanimu ke suatu tempat?”

“Kita ke apartment-ku saja.”

* * *

Ke apartment-nya? Itu sama artinya dengan pergi ke tempat dengan kenangan terbanyak antara diriku dengan dirinya. Bukannya aku tidak ingin kesana, aku hanya tidak ingin pertahananku selama ini runtuh. Aku takkan sanggup. Setiap sudut ruangan itu menyimpan kenangannya masing-masing. Sanggupkah aku bertahan agar tak menangis jika aku menginjakkan kakiku di tempat itu lagi?

“Hae Won ah~, masuklah. Kenapa mematung di depan pintu?”

“Ah, ne oppa.”

Ruang tamu. Masih dengan meja dan sofa yang sama. Kenapa kau tidak pindah saja dari apartment ini, oppa? Kenapa kau bahkan masih mengusahakan agar barang-barangmu tetap terawat? Lima tahun kau membiarkan apartment ini kosong. Apa sebenarnya alasanmu mempertahankan apartment ini?

“Duduklah, aku akan mengambilkan minuman untukmu.”

Aku melangkah mendekat lalu duduk di sofa. Sofa yang sama dengan sofa yang hampir setiap hari aku duduki dulu. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ada air mata yang tumpah.

“Ya! Hae Won ah~ kenapa kau suka sekali sih mengerjakan tugas di apartment-ku?”

“Itu karena kau pintar, oppa. Jadi ketika ada yang tidak kumengerti aku bisa langsung menanyakannya padamu.”

“Kau pikir aku guru private-mu?”

“Aniyo. Kau lebih dari sekedar guru private untukku.”

Guru private? Tentu saja kau lebih dari itu, oppa. Keberadaanmu di dekatmu akan memberiku semangat untuk terus belajar. Itulah alasanku yang sesungguhnya. Karena percuma jika aku mengerjakannya di rumah, hatiku takkan benar-benar ada pada tugas itu sendiri.

“Es jeruk, kesukaanmu. Masih tetap kan?”

Ucapanmu membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum menanggapi pertanyaanmu lalu meminumnya seteguk Es jeruk? Tentu saja aku masih menyukai minuman itu. Minuman pertama yang kau buatkan untukku. Salah! Satu-satunya minuman yang pernah kau buat untukku. Bagaimana mungkin aku tak lagi menyukai minuman ini jika setiap aku melihat minuman ini aku akan selalu teringat akan dirimu. Dirimu yang selalu bisa membuat es jeruk seenak ini.

“Aku ke kamar mandi dulu, oppa.”

Kamar mandi ini. Di tempat inilah kau biasa meninggalkanku. Mungkin tidak terlalu lama, tapi selalu berhasil membuatku merindukanmu. Adakah waktu 30 menit lama? Mungkin sebenarnya tidak, tapi terasa sangat lama untukku.

Omo! Bagaimana mungkin sikat gigi pemberianku masih ada? Tapi kenapa kau menyimpannya seperti ini? Kenapa kau menyimpannya seolah takkan pernah menggunakannya lagi? Adakah kau menginginkan agar sikat gigi ini hanya memiliki kenangannya di kamar mandi ini?

Oppa… Aku mohon, kenapa rasanya sulit sekali untuk bertahan? Rasa itu, apakah masih ada? Dosakah aku jika aku masih menyimpan secuil harapan untuk bisa bersamamu? Dosakah aku jika aku masih mencintaimu bahkan di saat aku telah memiliki seseorang yang juga mencintaiku. Seseorang yang selalu menemaniku beberapa waktu belakangan ini. Seseorang yang berhasil mengingatkanku akan indahnya tersenyum. Aku memang sangat berdosa padamu, Ki Bum oppa.

“Kenapa lama sekali?”

“Aniyo. Kau sedang apa, oppa?” tanyaku saat melihatmu di dapur.

“Tidak ada. Hanya mengecek persediaan makanan. Aku tidak mau saat aku kelaparan nanti malam ternyata aku bahkan tidak memiliki persediaan apapun.”

“Kau mau aku berbelanja sedikit untukmu?”

“Tidak perlu. Persediaannya masih cukup banyak ternyata.”

“Eh?”

“Orang yang selama ini menjaga apartment-ku. Dia yang menyiapkannya. Kau tenang saja, aku takkan kelaparan nanti malam.”

* * *

Hari ini aku mengunjungi Hae Won di rumahnya. Aku ingin mengajaknya berkeliling. Aku merindukan kota Seoul.

Aku melihat sebuah mobil baru saja berhenti di depan rumah Hae Won. Seorang pria turun dari mobil. Kim Ki Bum. Dia. Aku harus berbicara dengannya. Aku bergegas turun dari mobilku dan menepuk pundaknya. Dia menoleh dan tersenyum padaku.

“Aku perlu bicara denganmu. Berdua saja.”

“Denganku? Baiklah. Kita naik mobil masing-masing saja ya?”

“Tak masalah.”

Mungkin apa yang aku lakukan ini terdengar konyol. Tapi aku harus memastikan bahwa Hae Won akan bertunangan dengan orang yang tepat. Setidaknya aku harus menekankan pada pria itu untuk selalu membuat Hae Won berbahagia.

“Seberapa besar rasa cintamu pada Hae Won?”

“Sayangnya aku tak pernah mengukur rasa cintaku pada Hae Won.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius. Di saat kau mencintai seseorang jangan pernah memikirkan tentang seberapa besar cintamu untuknya. Itu hanya akan membawamu pada obsesi.”

“Jangan pernah membuat Hae Won bersedih.”

“Aku tak akan pernah dengan sengaja membuatnya bersedih.”

“Maksudmu?”

“Apakah ada seorang pria dengan sengaja membuat orang yang ia cintai bersedih? Aku rasa tak ada. Maka demikian pula dengan diriku. Aku tak perlu khawatir.”

“Apapun itu aku tak ingin melihatnya menangis. Apalagi jika itu gara-gara dirimu.”

“Memang ada apa dengan diriku?”

“Karena… Karena…”

“Karena kau merasa harusnya dirimulah yang berada di posisiku saat ini? Sebagai tunangan Hae Won?”

* * *

Aku memainkan ponselku, berusaha mengurangi kebosanan. Ki Bum oppa lama sekali? Ponselnya juga tidak aktif. Sebenarnya kemana sih dia?

“Maaf aku terlambat. Tadi ada urusan mendadak.”

“Kau kan tahu kita ada janji mengambil pesanan gaun di butik?”

“Ne. Mianhae, Hae Won ah~. Kajja.”

Gaun ini sangat indah. Gaun yang akan aku kenakan di pertunanganku. Gaun berwarna biru muda dengan panjang semata kaki. Gaun ini begitu sederhana tapi sangat anggun. Aku sangat menyukainya.

Aku akan bertunangan dengan Ki Bum oppa. Tepatkah pilihanku ini? Benarkah aku mencintai Ki Bum oppa? Kenapa kali ini aku ragu? Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku setega ini pada Ki Bum oppa?

Tanpa kusadari air mataku menetes. Tapi aku bahkan tak tahu apa yang aku tangisi. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?

“Hae Won ah~ gwaenchanayo?”

“Oppa…”

“Uljima… Ceritakan padaku, ada apa?”

Aku menggeleng. Karena aku bahkan tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kau menarikku ke dalam pelukanmu dan tangisku malah makin menjadi. Oppa, aku sudah sangat bersalah padamu. Mianhae.

“Apapun keputusanmu aku akan menerimanya. Asal kau bahagia, apapun itu.”

Apa yang baru saja Ki Bum oppa katakan? Apa kau bisa membaca pikiranku? Apa sudah sebegitu jelasnya-kah aku menyakitimu? Aku benar-benar sudah menjelma menjadi gadis jahat yang tidak berperasaan.

Bagaimana perasaanku yang sebenarnya? Kenapa saat ini terasa sangat sulit untuk aku jabarkan? Sungguh aku tak bermaksud seperti ini. Mencintai dua orang pria sekaligus dalam satu waktu. Sebelumnya berhasil meyakinkan diri bahwa aku telah melupakannya, tapi kenapa di saat dia kembali aku menjadi ragu? Perlahan rasa yang telah mati-matian aku lupakan itu pun ikut kembali. Apa yang harus aku lakukan?

* * *

Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Inilah saat terberat dalam tiga puluh satu tahun hidupku. Mengetahui fakta bahwa gadis yang aku cintai akan bertunangan dengan pria lain. Saat ini, pesta itu pasti sudah dimulai. Inikah akhir dari harapanku?

Tidak. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Hae Won tidak boleh menjadi milik orang lain selain diriku.

* * *

Pria tampan yang ada di hadapanku ini akan menjadi tunanganku. Kim Ki Bum. Selamanya hanya boleh ada satu nama itu di hatiku. Tidak juga dengan namanya. Nama yang dulu selalu ingin aku simpan untuk diriku seorang.

Cincin yang akan kami kenakan adalah tanda bahwa kami akan saling mengikat hingga waktu itu benar-benar datang. Inilah pilihanku.

“HAE WON AH!!!”

Suara ini. Suara yang paling tidak ingin aku dengar saat ini. Suara yang sangat mungkin menghancurkan pertahananku. Aku tidak ingin mendengarkan suara ini. Tidak sekarang.

“HENTIKAN HAE WON AH!!! AKU MOHON!!!”

Ya Tuhan! Haruskah aku berbalik dan menatapnya? Aku tahu sebenarnya aku telah memiliki kesempatan untuk memilikinya saat ini. Ingatanku kembali ke percakapanku dengan Kyu oppa hari itu.

“Aku dan Ha Neul sudah bercerai dua tahun yang lalu.”

“Ber… ce… bercerai?”

“Aku dan dia bahkan tidak lebih dari dua orang yang tidak saling mengenal. Kami tinggal seatap tapi hampir tidak pernah ngobrol. Kami tidur di kamar terpisah. Aku benar-benar tak tahu pernikahan macam apa yang kami berdua jalani saat itu.”

“Oppa…”

Dan sekarang dia datang di pesta pertunanganku, menyuruhku untuk menghentikan pertunangan ini. Sebenarnya apa yang dia inginkan?

“Wae? Wae, oppa? Kenapa aku harus menghentikan pertunangan ini?”

“Hae Won ah~…”

Kenapa kau menangis oppa? Kenapa? Hanya dengan melihatmu menangis dengan mudahnya aku ikut menangis.

“WAE, OPPA?”

“Karena hanya aku satu-satunya pria yang boleh menjadi pendampingmu.”

“Pendamping? Atas dasar apa?”

“Tidakkah kau merasakan apa yang aku rasakan padamu, Hae Won?”

“APA? PERASAAN APA? KAU TIDAK PERNAH BERKATA APAPUN TENTANG PERASAANMU PADAKU!”

Tubuhku merosot ke bawah. Aku tak sanggup lagi. Lima tahun yang lalu menikah dengan wanita lain, meninggalkan korea. Lalu kembali dan ternyata tidak lagi dengan status yang dulu mengikat. Saat kembali juga tidak mengatakan apa-apa. lalu sekarang? Menghentikan pertunanganku?

“Ki Bum oppa. Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu. Kenapa kau malah membiarkan dia merusak pesta pertunangan kita?”

“Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu. Hanya dirimu sendiri yang tahu mana yang terbaik. Kau berhak memilih, Hae Won ah~.”

“APA LAGI INI? KENAPA KALIAN MEMPERMAINKAN PERASAANKU?”

“Hae Won ah~”

“Lepaskan aku!” ucapku saat dia berusaha untuk memelukku.

“Saranghae, Hae Won ah~. Jeongmal saranghaeyo.”

Saranghae? Dia mencintaiku? Kenapa baru mengatakannya? Kenapa di saat seperti ini? Tidak bisakah sekali saja tidak membuat perasaanku ini rumit?

* * *

“Oppa. Aku rasa undangan yang ini jauh lebih bagus. Aku suka desainnya. Tapi yang ini lebih simple dan terkesan mahal.”

“Yang mana saja lah. Palli wa, dari tadi kau belum menentukan pilihanmu.”

“Ya! Ini kan pernikahan kita! Jadi aku ingin yang terbaik.”

“Arayo. Tapi kita sudah lebih dari tiga jam di sini. Aku harus segera menyelesaikan game-ku, Hae Won ah~.”

“YA! CHO KYU HYUN!!!”

* * *

“Karena kau merasa harusnya dirimulah yang berada di posisiku saat ini? Sebagai tunangan Hae Won?”

“Eh?”

“Aku tahu kau mencintai Hae Won dan kini aku tahu siapa pria yang membuatnya seperti itu. Seperti saat pertama kali aku mengenalnya.”

“Seperti apa dia?”

“Seperti kehilangan tujuan hidupnya. Kau mungkin mengerti, karena aku yakin kau juga merasakan hal yang sama dengannya, bukan?”

“Ne???”

“Aku mungkin berhasil membuatnya tersenyum kembali. Berhasil membuatnya kembali melangkah. Tapi aku tidak pernah berhasil merebut posisimu di hatinya. Saat ini, semua aku kembalikan padamu.”

“Padaku?”

“Di hari pertunanganku nanti, lakukan apa yang seharusnya sudah kau lakukan lima tahun yang lalu. Ikuti kata hatimu jika tidak ingin menyesal. Aku pergi dulu.”

Jika sesuatu itu memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, tidak peduli kapan, dimana dan bagaimanapun caranya, sesuatu itu pasti akan menjadi milik kita.

.F.I.N.

Oke! Finally part ini selesai juga. Setelah perombakan ide habis-habisan. Tulisan yang sebelumnya udah ada banyak yang aku delete dan akhirnya jadilah yang seperti ini. Gimana? Gimana? Udah terjawab kan siapa namja yang kalian pertanyakan itu? Hehehe.

Kalo gitu saya pamit undur diri dulu. ^_^

Btw, Saengil Chukae Leeteuk oppa!

Advertisements

2 thoughts on “[Series] Fate – Part 2 (End)

  1. keren pake banget…,
    aku suka ama ceritanya…,
    akhirnya setelah 5 tahun bernyesek-nyesek ria *?* hyewon akhirnya bersatu juga ama cho kyuhyun *?*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s