[One Shot Series] The Last (Love You Till the End of Time)

Title : The Last (Love You Till the End of Time)

Author : neys

Minggu pagi yang dingin, aku menarik selimutku ke atas agar menutupi tubuhku sampai sebatas leher. Aku benar-benar masih mengantuk. Semalam aku terjaga hingga pukul satu dini hari, menanti telepon atau sekedar pesan singkat darinya. Tapi rupanya tak ada. Atau bahkan mungkin dia sama sekali tidak mengingat eksistensi hari ini.

Aku mengambil ponsel Blackberry Gemini Putih-ku enggan, mengabaikan pesan-pesan, panggilan tak terjawab serta pemberitahuan lain yang menyambut. Aku melirik angka-angka yang menunjukkan waktu di layar ponselku. Masih pukul lima. Itu berarti aku baru terlelap sekitar empat jam.

Setelah itu baru aku mengecek pesan masuk satu-persatu tanpa membaca isinya. Tidak ada namamu di sana. Pun demikian dengan daftar panggilan tak terjawab, tak ada. Beralih ke facebook, twitter, e-mail, atau bahkan friendster. Namamu benar-benar tidak ada di mana-mana.

Aku mendesah kecewa. Sebegitu tidak berartikah diriku untukmu? Aku menantimu sedemikian rupa tapi kau tak pernah ada untukku. Aku senang masih banyak teman-teman yang memperhatikanku. Mengucapkan kata-kata yang sebenarnya paling ingin aku dengar darimu. Tapi nyatanya itu hanya mimpi belaka.

Aku selalu berharap, di ulang tahunku yang ke dua puluh ini kau akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Mendampingiku menyambut usia dengan angka dua di depannya. Tapi lagi-lagi, hanya harapan kosong.

Di mana dirimu sekarang? Aku bahkan tidak tahu. Atau mungkin memang dirimu yang tak menginginkan diriku tahu keberadaanmu? Apa yang kau lakukan sekarang? Masih sempatkah kau memikirkan diriku? Atu mungkin kau sibuk dengan urusanmu sendiri?

Aku memang bukan gadis lemah, tapi aku juga seorang gadis normal yang membutuhkan perhatian dari seseorang yang special. Kau special untukku, tahukah kau? Lalu, apa aku juga special untukmu?

Aku membuka pesan masuk satu persatu. Ini cukup menghibur, setidaknya masih banyak yang memperhatikanku. Entah benar-benar memperhatikan atau hanya sekedar menunjukkan kehadiran setelah melihat pemberitahuan tentang hari ini. Apapun itu, setidaknya aku tidak benar-benar sendiri.

From : Eun Hye
Chingu-ya~~ Saengil Chukae! Haengbokaseyo… Kiss and Hug… Love you…

From : Mi Hwang
Ga Eul ah~~ Saengil Chukae! Sarang… Sarang… Saranghae… Hug!

From : Yun Ho Oppa
Ga Eul ah~~ Saengil Chukae! Semoga kau bertambah dewasa seiring dengan bertambahnya usiamu. Aku tunggu undangan makan malam-nya.

Aku tertawa kecil membaca pesan dari Yun Ho oppa. Undangan makan malam? Jangan bilang dia berharap aku mentraktirnya makan. Tidak akan.

From : Jun Su Oppa
Ya! Saengil Chukae!!! Makan!!! Kekkekkeke~~

From : Yoo Chun Oppa
Saengil Chukae Ga Eul ah~~

From : Chang Min oppa
Ga Eul ah~ Saengil Chukae! Big hug for you…

Here we go… Dan masih banyak pesan-pesan bernada sama yang aku baca. Enough for this morning. Saatnya melanjutkan tidur. Nanti saja aku balas pesan-pesan mereka. Aku sudah tak sanggup menahan mata ini agar tetap terjaga.

= n = e = y = s =

Pukul sembilan pagi aku kembali terjaga dan mendapati keadaan ponsel yang tidak jauh berbeda. Masih belum ada ucapan apapun dari dirinya. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan ini seorang diri. Setetes air mata jatuh tepat di layar ponselku. Aku yang menyadarinya langsung mengusap air mataku. Aku tidak akan menangis.

Aku beranjak dari tempat tidur lalu memutuskan untuk mandi. Saat mengeringkan rambut ponselku berdering. Sepertinya ada telepon masuk. Aku menghentikan sejenak kegiatanku lalu berjalan ke arah tempat tidur.

“Yeoboseyo.”

“Ga Eul ah~~ Saengil Chukae!!!”

“Ya! Oppa! Untuk apa menelepon? Bukankah kau tadi sudah mengirim pesan untukku?”

“Aniyo. Rasanya tak lengkap saja kalau belum berbicara langsung denganmu.”

“Kau berlebihan!”

Aku mendengar suara kekehannya di seberang sana. Dasar Jun Su Oppa! Tiba-tiba aku teringat dengannya. Harusnya mereka berada di tempat yang sama bukan? Aku memberanikan diriku untuk menanyakan keberadaannya.

“Oppa, apakah Jeje oppa sedang bersamamu?”

“Eh? Aniyo, dia masih ke kamar mandi? Kau mau bicara dengannya? Biar nanti aku sampaikan.”

“Andwae! Jangan bilang apa-apa padanya. Tidak perlu, oppa.”

“Jeongmal? Kalian baik-baik saja kan?”

“Ne. Kami baik-baik saja. Dia sehat kan, oppa?”

“Kau tenang saja. Dia sangat sehat. Dia makan banyak belakangan ini.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya.”

“Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu ya? Jangan lupa, aku tunggu ajakan makan malam darimu. Bye, Ga eul.”

“Bye, oppa.”

Aku menangis. Kali ini benar-benar menangis. Bahkan Jun Su oppa masih sempat meneleponku di tengah kesibukan yang sama. Lalu, apa ini akhir dari kebersamaan kita selama ini? Empat tahun bukan waktu yang singkat bukan? Tapi bahkan kau sudah semakin jarang menghubungiku. Tidak sempatkah kau membalas pesanku sekali saja? Terakhir kali kau membalas pesanku sudah lebih dari seminggu yang lalu. Kini aku tahu bahwa aku memang tak berarti apa-apa untukmu.

Ponselku kembali berdering. Tanda ada e-mail masuk. Aku jadi teringat, aku belum membalas semua ucapan yang masuk hari ini.

From : neul_mediaxxx@yahoo.com

Ga Eul ssi! Saengil Chukae! Tetaplah berkarya. Kami tunggu novel berikutnya di meja redaksi kami. Semoga hari ini menyenangkan!

Aku menghela nafas dengan berat. Yah, semoga saja. Aku membaca e-mail lain yang masuk. Kebanyakan dari pembaca novel-novelku. Setidaknya ada banyak orang yang masih mengingat hari ini hari apa. Dukungan kalian sangat berarti untukku.

= n = e = y = s =

Aku membuka laptopku sambil menunggu pesananku datang. Niat awalku adalah menyelesaikan novel terbaruku tapi entah kenapa aku malah terjebak di sebuah folder bernama ‘Jeje Pyol’. Kursorku berhenti di folder ini cukup lama hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka folder tersebut.

Baru saja folder terbuka dadaku langsung terasa sesak. Fotoku bersama dengannya empat tahun yang lalu. Sesaat setelah dia menyatakan cintanya di taman rumahku.

“Bisakah aku menjadi seorang pria yang menempati urutan pertama di hatimu?”

“Ne?”

“Ada ruang-ruang di hatimu, bolehkah aku mendapatkan ruangan yang special? Sebuah ruangan yang penghuninya tidak bisa digantikan. Sebuah ruangan yang sangat berharga bagimu. Bolehkah aku meminta ruangan itu untuk kutempati mulai hari ini?”

“Oppa, bicaralah dengan bahasa yang lebih mudah kupahami. Kenapa aku merasa seolah-olah kau sedang menyatakan cinta padaku?”

“Aku tidak perlu mengubahnya menjadi bahasa yang lebih mudah, Ga Eul ah~ karena memang itu yang sedang aku lakukan sekarang.”

“Kau? Kau menyatakan cinta padaku?”

“Sebenarnya bukan memberi pernyataan sih. Tapi aku sedang bertanya dan aku membutuhkan jawaban darimu, Ga Eul ah~.”

“Eh? Tapi… Sebenarnya ruangan yang oppa maksud itu sudah ada penghuninya.”

“MWO?”

Aku mengangguk pelan. Aku tidak berbohong. Ruangan khusus itu telah memiliki penghuni sejak beberapa waktu yang lalu. Seorang pria bernama Kim Jae Joong lah penghuninya.

“Jadi aku sudah terlambat? Siapa? Siapa yang berhasil menempati ruangan itu?”

“Seorang pria babo bernama Kim Jae Joong.”

“Ah! Apa aku mengenalnya? Jankaman! Kim Jae Joong? Maksudmu?”

Aku menangguk pelan sambil tersenyum jahil. Dan tiba-tiba saja aku merasakan ada seseorang yang menarik tanganku ke dalam pelukannya.

“Kau hampir membuatku terkena serangan jantung mendadak, Ga Eul ah~.”

“Saranghae, jeongmal saranghaeyo Jung Ga Eul.”

Apakah perasaanmu masih sama seperti empat tahun yang lalu, oppa? Jeje oppa? Apa kau masih menyukai panggilan dariku itu? Pyol? Aku masih sangat menyukai panggilan darimu untukku itu. Sangat menyukainya.

= n = e = y = s =

Entah sudah cangkir keberapa yang kuhabiskan. Hari ini aku meminum banyak sekali kopi. Kopi pahit. Hari ini aku sengaja memesan minuman itu karena aku merasa bahwa hatiku juga sangat pahit hari ini.

Hari sudah beranjak sore. Rupanya sudah sangat lama aku berdiam di café favoritku ini. Café yang sama dengan café yang sering aku dan Jeje oppa datangi, dulu. Café yang sama dengan café yang menyimpan banyak kenangan manis. Juga café yang sama dengan café yang selalu menjadi tempatku menenangkan diri.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku ingin berendam, menghilangkan semua penat. Aku lelah.

Usai mandi aku memutuskan untuk membalas satu persatu ucapan untukku. Cukup banyak rupanya. Tapi sungguh, aku masih menantikan ucapan darinya. Apa aku terlalu bodoh, berharap akan sesuatu yang tak pasti.

Selesai membalas semua ucapan yang masuk tiba-tiba saja terbesit niat untuk mengetahui apa kegiatannya hari ini. Selama ini aku jarang mencari tahu tentangnya di internet. Aku memulai kegiatan browsing-ku, kata kunci yang aku cari adalah JYJ Schedule on june 26th 2011.

[INFO] JYJ 2011 World Tour Concert Encore in Gwangju on June 26th!

Hello Everyone

This is C-jes Entertainment.

During JYJ’s World Tour Concerts, the members want to express their gratitude to all the Korean fans who sent JYJ their voice of support.

Because JYJ’s concerts are centered around Seoul at this time, for fans to have a chance to see them again, JYJ World Tour Concert is preparing to stop at Gwangju, so please give them more support and love!

The information below relates to concert ticket sales.

Thank you.

JYJ WORLD TOUR CONCERT IN GWANGJU

Time: June 26, 2011 (Sunday) 7PM

Location: Gwangju Sports Complex

Ticket Sales: Start June 17, 2011 8PM

Categories: VIP 120,000 Won/ R seats 110,000/ S seats 90,000/ A seats 70,000/ B seats 60,000 (Non inclusive of tax)

Source: [C-Jes]

Translation credits: Supernike911@tohosomnia.net

Shared by: tohosomnia.net

“Jadi, dia sedang berada di Gwangju,” gumamku pelan.

Aku memperhatikan gambar di bawah info tersebut. Always keep the faith. Kata-kata itu membuatku teringat akan TVXQ. Tak peduli dengan kenyataan bahwa mereka berlima saat ini terpaksa berada di jalan yang berbeda untuk sementara. Aku bersyukur setidaknya mereka masih berteman. Yun Ho oppa dan Chang Min oppa bahkan masih mengingat hari ulang tahun-ku. Tidak tahu kapan dan bagaimana, aku percaya suatu saat nanti mereka berlima akan kembali bersatu.

Aku menghela nafas dengan berat. Dia sedang berada di Gwangju dan akan mengadakan konser malam ini. Dengan ini aku juga tahu bahwa aku tidak boleh lagi berharap banyak. Gwangju – Seoul memang tidak terlalu jauh tapi tentu akan memakan beberapa jam untuk perjalanan. Sementara konser-nya saja baru akan dimulai pukul tujuh. Tidak apa-apa, asal dia baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan menjadi kekasih yang egois.

= n = e = y = s =

Aku mengerjapkan mataku saat aku mendengar suara gemerisik di luar. Sepertinya dari arah gerbang rumah. Siapa yang datang malam-malam begini? Siapa yang berani mengganggu tidurku? Aku kembali dikejutkan ketika seseorang mengetuk jendela kamarku. Kamarku memang menghadap ke depan, bersebelahan dengan pintu masuk. Aku mendekatkan diri ke jendela, berusaha melihat siapa yang datang. Dan betapa kagetnya aku setelah mengetahui siapa yang bertamu tengah malam seperti ini. Lagi-lagi dia memanjat pagar rumahku seenaknya.

Aku bergegas keluar dari kamar dan berlari ke arah pintu masuk. Saat pintu terbuka aku sudah dihadapkan dengan sebuket bunga mawar merah yang sangat besar hingga berhasil menyembunyikan wajah dari pembawa bunga itu sendiri.

“Biar aku tebak ada berapa tangkai bunga yang kau bawa.”

“Coba saja.”

“Sembilan puluh sembilan?”

“Ne?”

Bunga mawar itu kini telah beralih tempat karena telah disingkirkan oleh keterkejutan. Sebuket bunga mawar itu harus rela bergeser sedikit ke kanan, menyembulkan wajah sang pembawa bunga.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena aku tahu bahwa kau hanya akan mencintaiku seorang sampai ajal menjemputmu.”

“Tidak bertanya kenapa aku tidak memberimu delapan tangkai saja?”

“Tentu tidak. Karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak bersalah apapun padaku.”

“Kenapa bisa di sini? Bukannya kau ada konser di Gwangju?” tanyaku, saat ini aku dan pria pembawa bunga tadi – Kim Jae Joong sedang duduk di teras rumahku.

“Konsernya sudah selesai.”

“Aku tahu. Maksudku…”

“Karena aku memang sudah seharusnya di sini, Pyol.”

Kau menggenggam tanganku erat. Menatap kedua mataku lekat. Tatapan ini, tatapan yang selalu berhasil mengunci tatapanku agar tak berpaling.

“Mian, seminggu ini aku tidak memberi kabar padamu. Aku benar-benar sibuk. Tapi khusus untuk hari ini aku memang sengaja.”

“Sengaja?”

“Aku hanya ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkan padamu.”

Kau melirik arloji-mu sekilas. Lalu bangkit berdiri dan menarikku ke halaman. Kau membaringkan tubuhmu di rerumputan. Lalu menepuk tempat di sebelahmu, mengajakku untuk berbaring di sana juga.

“Lihatlah, langit malam ini dipenuhi banyak bintang. Mereka bersinar layaknya dirimu yang selalu bersinar di hatiku.”

“Berhentilah merayuku, Tuan Kim.”

“Ya! Aku tidak sedang menggodamu, Nona Jung.”

Aku hanya tersenyum mendengar kata-katamu. Aku menyukai saat-saat bersamamu. Sekali lagi kau melirik arloji-mu. Lalu tersenyum kecil. Kau menoleh padaku, masih dengan senyum-mu yang terlalu memikat itu

“Saengil chukaeyo, Pyol…”

“Gomawo, Jeje oppa.”

“Aku berhasil menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu di hari ulang tahun-mu.”

“Memang kenapa kau ingin menjadi orang yang terakhir?”

“Hanya ingin menegaskan, mungkin aku bukan pria pertama yang mengisi hatimu. Tapi aku hanya memastikan bahwa aku adalah pria terakhir yang akan selalu memenuhi hatimu.”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku tidak menyangka dia bisa menjadi semanis ini.

“Kalau kau bisa memastikannya, aku juga akan memastikan bahwa aku adalah wanita terakhir yang akan selalu memenuhi hatimu.”

“Bintang-bintang di langit malam ini yang akan jadi saksinya.”

“Dan biar Tuhan yang mengabulkannya.”

Kau mengusap kepalaku pelan. “Aku akan membuatmu melewati pergantian hari dengan cara yang berbeda,” ucapmu lalu mengecup keningku. Lama.

“Sekarang sudah bukan hari ulang tahun-mu. Jadi, bagaimana harimu kemarin?”

“Berhenti bertanya padaku karena kau harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.”

“Jangan galak-galak, Nona Jung. Kau bahkan baru menginjak usia dua puluh. Ingat, usiamu sudah kepala dua sekarang.”

“Ya! Apa hubungannya?”

“Arayo. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Bagaimana mungkin kau ada di rumahku sementara konsermu saja baru dimulai pukul tujuh?”

“Tentu saja bisa. Usai konser aku langsung melajukan mobilku secepat mungkin kesini.”

Aku menjitak kepalanya. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”

“Aku sudah berdoa tadi sebelum berangkat jadi Tuhan sudah mengutus malaikatnya untuk menjagaku.”

“Babo! Oh ya, mana kadomu?”

“Kado? Bukannya aku sudah memberikannya padamu tadi?”

“Mana?”

“Bunga tadi?”

“Itu kan hanya lambang. Kau kan tahu aku tidak menyukai bunga.”

“Ne? Ah! Kau benar. Hm… Begini saja. Anggap saja aku kado untukmu.”

“Kau?”

“Kehadiranku di hari ulang tahunmu tentu membuatmu bahagia kan? Jadi anggap saja begitu.”

“Curang!” ucapku sambil mengerucutkan bibirku.

“Ya! Kau sudah dua puluh tahun, Pyol.”

“Berhenti menyebut-nyebut umurku! Kau sendiri sudah dua puluh lima tahun, sudah seperempat abad.”

“Oh ya, empat tahun lagi aku akan memberimu seratus empat puluh empat tangkai bunga mawar merah.”

“NE???”

“Oh ya, kau bahagia kan hari ini?”

“Wae?”

“You will really have your birthday when you are genuinely happy and energetic on the day.”

“Ya! Tidak kreatif sekali kau mengutip kata-kata orang lain?”

“Yang penting kan maknanya?”

“Aish! Ne, aku bahagia. Sangat-sangat berbahagia.”

“Anak pintar…” ucapnya sambil mengacak rambutku.

“YA!!!”

.F.I.N.

Annyeong!!! Ini FF khusus aku persembahkan untuk diriku sendiri. Hehehe. Entahlah FF ini kayaknya perpaduan tentang ultahku sama perasaan kangenku sama TVXQ. Kapan mereka balik berlima? T.T

Gimana ceritanya? Kalau agak aneh, dimaklumi aja ya? Oh ya buat yang ga ngerti apa arti dari 144 tangkai bunga mawar, artinya adalah maukah kau menikah dengan saya? Kekkekkeke~~ #abaikan

Ya udah deh. Makasih ya buat yang udah bersedia baca FF saya kali ini. *bungkuk bareng Jeje oppa

Byeeeeeee!!!!!!! ^_^

Advertisements

2 thoughts on “[One Shot Series] The Last (Love You Till the End of Time)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s