[Series] Fate – Part 1

Lalala… Aku datang lagi. Bawa Two Shots lagi. Hehehe. Dan FF ini dibuat dengan susah payah. Gatau kenapa susah banget nambah halaman.

Sekali lagi minta maaf kalo ceritanya geje n ga sesuai harapan. Cuma menuangkan apa aja ide yang muncul. Entah itu jelas ataupun ga jelas. Jadi ya beginilah.

Akhir kata, met baca aja deh. Like ataupun comment sangat dinantikan. Makasih ya? ^_^

♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥

Title : Fate

Author : neys

 

Jika sesuatu itu memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, tidak peduli kapan, dimana dan bagaimanapun caranya, sesuatu itu pasti akan menjadi milik kita.

* * *

Aku mencintainya, tanpa pernah mengungkapkan. Aku memperhatikannya, tanpa pernah memperlihatkan. Aku menginginkannya, tanpa pernah berharap.

Aku dan dirinya bagaikan air dan minyak yang seolah tak mungkin dipersatukan. Tapi juga seperti larutan gula yang terdiri dari air dan gula yang menyatu pekat, menimbulkan sensasi manis.

Bertemu dengannya, aku percaya bukanlah sebuah kebetulan. Tak peduli pada rentang usia yang membentang. Nyatanya kita merasa nyaman satu sama lain. Tanpa mengikat satu sama lain dengan status yang mungkin sering dipertanyakan.

Bertemu dalam keadaan mendamba cinta. Diperhadapkan dengan seorang gadis belia berusia 16 tahun. Tentu sangat muda jika dibandingkan dengan diriku yang telah menapaki usia 26 tahun. Diriku yang telah mapan dan terjebak di usia yang orang-orang katakan telah pantas untuk membina rumah tangga.

Diperhadapkan lagi dengan kenyataan bahwa masih ada seseorang yang harus aku hadapi. Seorang wanita berusia 24 tahun. Calon istriku. Bolehkah aku berkata jujur? Sebenarnya, bukan dia wanita yang ingin kujadikan istriku. Aku menyayanginya tapi tidak sebagai seseorang yang akan menghabiskan seluruh masa hidupnya bersama denganku. Bukan dia.

* * *

Aku mencintainya meski aku tahu aku tak pantas untuk mencintainya. Ada seseorang yang lebih pantas daripada aku. Aku hanya seorang gadis belia berusia 16 tahun. Tidak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan. Tentu saja bila dibandingkan dengan wanita itu.

Bercermin. Sungguh tak pantas rasanya dibandingkan. Segala yang wanita itu punya sungguh aku tak dapat meraihnya. Termasuk cinta darinya. Seseorang yang mungkin memang tidak akan pernah menjadi milikku.

Cinta pada pandangan pertama. Adakah yang masih percaya akan adanya cinta pada pandangan pertama. Tak peduli ada atau tidak, yang pasti aku masih percaya. Aku percaya karena aku mengalaminya. Kalau saja aku boleh meminta, andai kau merasakan hal yang sama denganku waktu itu. Andai saja.

* * *

Hae Won ah~ jika aku mengungkap semua rasa ini padamu. Jika aku mengatakan cinta yang tertanam di dalam hatiku ini padamu. Juga semua luapan perasaan ini dihadapanmu. Apa yang akan kau katakan padaku? Adakah rasa yang sama itu juga ada di dalam hatimu? Bolehkah aku sedikit berharap? Meskipun aku tak dapat memilikimu, setidaknya aku tahu kau juga mencintaiku. Bolehkah aku berharap seperti itu?

Hari berlalu begitu cepat. Aku ingin menghentikannya. Agar aku dapat selalu menghabiskan waktu bersamamu seorang. Melewati waktu tanpa takut bertambahnya usia. Melewati waktu tanpa takut kehilangan. Aku ingin di setiap hari yang aku jalani, walau hanya sedetik, setidaknya ada dirimu didalamnya.

Tell me your wish. Tolong katakan padaku harapan-harapanmu padaku. Aku akan berusaha mewujudkannya, seberapa sulitnya harapanmu. Katakan, sebelum aku tak punya kesempatan untuk menjadikannya nyata.

“Oppa… Mianhae sudah membuatmu menunggu lama.”

“Hae Won ah~. Gwaenchanayo, aku juga baru datang kok.”

“Jinjjayo?”

“Ne.”

Bohong! Aku berbohong! Aku menunggumu dua jam lebih. Biarkan orang berkata aku bodoh karena sebenarnya aku datang satu jam lebih awal dari waktu yang seharusnya. Hanya karena aku terlalu merindukanmu.

“Bagaimana persiapan pernikahanmu, oppa?”

“Mollayo. Aku tidak ikut mengurusnya.”

“Waeyo, oppa? Bukankah pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan hidup seseorang?”

Tidaklah masih menjadi hal yang penting untukku, jika pengantinnya bukanlah dirimu. Dan karena bukan dirimu yang menjadi pengantinku, semua hal yang berhubungan dengan pernikahan itu akan menjadi tidak penting untukku.

“Eomma sudah menyewa EO handal untuk mengurus semuanya. Jadi, aku tak perlu bersusah payah lagi untuk mengurusnya.”

“Sayang sekali. Suatu hari nanti, saat aku menikah. Calon suamiku harus mau menemaniku untuk mengurus pernikahan kami. Aku ingin semuanya sesuai dengan yang kuinginkan.”

DEG! Kumohon, hentikan pembicaraan ini. Aku takut aku takkan lagi sanggup menahan semua gejolak yang ada di dalam dadaku ini. Sakit, Hae Won. Berhenti membicarakan pernikahan seolah kau memang akan menikah dengan orang lain. Aku tak rela. Sampai kapanpun aku takkan pernah rela.

“Kau sakit?”

“Aniyo. Memang kenapa?”

“Kau sedikit aneh. Kau menjadi lebih pendiam dan tidak bersemangat. Ada apa? Ceritakanlah padaku.”

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir. Mungkin hanya sedikit lelah.”

“Lelah? Karena apa? Pekerjaanmu?”

“Sepertinya…”

“Berapa kali aku harus bilang padamu, oppa? Jangan terlalu memforsir tenagamu saat bekerja. Jangan terlambat makan apalagi sampai lupa makan. Jaga kesehatanmu. Bagaimana jika kau sakit? Aku kan tidak mungkin menjagamu sepanjang hari.”

“Kenapa tidak?”

“Tentu saja karena aku sibuk.”

“Kau hanya sok sibuk!” Ucapku sambil mengacak rambutnya pelan.

“Berhenti memperlakukanku layaknya anak kecil.”

“Lihat kenyataan. Umurmu memang berada jauh di bawahku bukan?”

“Terserah kau saja!”

* * *

Sebatas itukah perasaanmu padaku? Apa selamanya aku hanyalah seorang anak kecil dimatamu? Tapi aku tahu, aku sudah cukup dewasa untuk mengenal sebuah rasa bernama cinta.

Kau akan menikah. Bohong jika aku berkata bahwa aku baik-baik saja. Apa yang nampak dari luar tidak selalu berarti sama dengan yang sesungguhnya bukan? Jadi, jika aku berkata bahwa hatiku saat ini telah remuk, apa kalian percaya?

Aku menangis. Andai saja setiap rasa sakit ini akan keluar seiring dengan setiap tetesan air mataku. Aku akan menangis untuk menumpahkan semua rasa sakit yang ada di dalam hatiku.

“Hae Won ah~ gwaenchanayo?”

“Mi Yong ah~…”

Sesaat setelah Mi Yong duduk di sampingku, aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Museun iriya? Ceritakanlah padaku.”

Aku melepaskan pelukanku. Lalu berusaha menghentikan tangisku. Kwon Mi Yong, sahabatku yang sangat dekat denganku. Semoga saja keadaanku akan menjadi lebih baik setelah menceritakan semua padanya.

“Dia akan segera menikah, Yong. Perasaanku ini tidak akan pernah berbalas, Yong. Apa yang harus aku lakukan?”

“Menikah? Jinjjayo? Kapan?”

“Secepatnya. Tanggal pastinya belum dipastikan.”

“Siapa nama calon istrinya?”

“Kim Ha Neul.”

“Kau mengenalnya?”

Aku hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Mi Yong. Melihat jawabanku dia langsung memelukku.

“Aku mengerti perasaanmu. Menangislah jika kau ingin menangis. Lepaskan semua sakit yang ada di dalam hatimu. Jangan ditahan karena nanti justru akan terasa lebih menyakitkan. Menangislah…”

Aku pun kembali menangis di dalam pelukan Ji Yong. Menangis. Benar-benar menangis. Meluapkan semua rasa sakit. Tapi mengapa saat menangis hati ini rasanya seperti disayat-sayat?

“Luapkan semua. Menangislah sampai kau merasa tidak ada lagi yang harus kau tangisi.”

* * *

“Minggu depan aku akan menikah.” Ucapku pada Hae Won yang sedang mengerjakan tugasnya di apartment-ku.

Dia diam. Tidak memberikan reaksi apapun. Dia terus melanjutkan aktivitasnya mengerjakan tugas. Apa dia tidak mendengar kata-kataku barusan?

“Hae Won ah~, minggu depan aku akan menikah.”

Dia meletakkan pena-nya. Lalu menatapku. Entah hanya perasaanku atau memang benar, aku melihat sorot kesedihan dari matanya. Dia menatapku seolah tak rela. Ada bulir-bulir air mata di mata indah itu. Mata yang selalu membuatku tak bisa berpaling.

“Lalu?”

“Hae Won ah~ ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Aku tak apa-apa.”

Dia menggeleng pelan lalu mengambil kembali pena-nya dan kembali mengerjakan tugasnya.

“Oh ya, aku lupa. Selamat ya? Semoga pernikahanmu berjalan dengan lancar. Oh, salah! Semoga kau berbahagia.”

“Kenapa tak menatapku saat berbicara?”

“Mianhae.”

“Hae Won ah~ katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Ucapku sambil menarik lengannya supaya berdiri menghadapku.

Dia menangis. Tapi dia buru-buru menghapus air matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah ia tak rela jika aku menikah dengan Ha Neul?

“Gwaenchana. Nan jeongmal gwaenchanayo, oppa. Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa di hari pernikahanmu.”

Dia bergegas membereskan barang-barangnya lalu beranjak pergi dari hadapanku. Ya Tuhan! Sakit. Kenapa sakit sekali melihatnya menangis seperti tadi dan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menenangkannya. Bahkan penyebabnya saja aku tidak tahu.

Argh! Aku menjambak rambutku sendiri. Masih pantaskah aku mencintainya? Apa yang harus aku lakukan? Belajar untuk melupakannya dan mencintai calon istriku? Tapi bagaimana caranya? Aku benar-benar tidak tahu.

* * *

Saat ini acara pemberkatan nikah sedang berlangsung. Seharusnya aku berada di dalam gereja sekarang karena aku sudah berjanji untuk hadir. Tapi aku malah duduk seorang diri di sebuah café, menyesap secangkir kopi hangat.

Mianhae, oppa. Aku mengingkari janjiku. Aku hanya takut. Aku takut aku tidak bisa menahan diriku saat melihatmu mengikat janji setia dengan gadis itu. Aku takkan pernah sanggup.

Setelah hari ini, aku tidak lagi punya hak untuk berkunjung ke apartment-mu walau hanya sekedar untuk mengerjakan tugas. Terlebih untuk memintamu mengajariku materi yang belum aku kuasai. Aku tahu bahwa aku tidak lagi berhak.

Setelah hari ini, aku takkan pernah lagi muncul di hadapanmu. Karena selama perasaan ini masih ada di dalam hatiku, maka aku takkan pernah sanggup lagi menatap wajahmu. Takkan lagi sanggup menahan air mata, mengetahui kau takkan pernah bisa kumiliki serta mengingat bahwa telah ada seseorang yang memilikimu secara utuh.

“Hae Won? Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau bilang hari ini adalah hari pernikahannya?”

“Ne. Memang benar. Aku sengaja tidak datang. Kau tahu kan apa alasanku?”

“Arashoyo. Hwaiting Hae Won ah~!”

“Gomawo, Mi Yong ah~.”

* * *

Dia tidak datang. Aku menunggu kehadirannya sehari ini tapi aku tak menangkap sosoknya hadir. Aku berusaha menghubunginya tapi nihil. Ponselnya tidak aktif. Apa yang sebenarnya terjadi?

Andai saja dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Andai saja dia tahu betapa aku sangat mencintainya. Andai saja…

5 years later…

Lima tahun berlalu. Lima tahun aku meninggalkan Seoul. Lima tahun pula aku tidak melihatmu, Hae Won. Seperti apa kau sekarang? Masih sama seperti dulu kah? Ah pasti tidak, saat ini kau pasti sudah kuliah bukan?

Lima tahun yang lalu. Kau menghilang begitu saja. Semenjak pertemuan kita di apartment-ku waktu itu, seminggu sebelum pernikahanku, aku tak pernah lagi bertemu denganmu. Kau jelas-jelas menghindar dariku. Nomor ponselmu berubah dan kau tak pernah keluar untuk menemuiku saat aku berkunjung ke rumahmu.

Lima tahun yang lalu. Aku harus pindah ke Jepang. Meninggalkan Seoul, terlebih meninggalkan dirimu.

“Hae Won masih belum pulang. Apa kau mau menunggunya di dalam?”

“Ne, ahjumma. Gomawo.”

Aku memandang dinding di sekeliling ruang tamu. Aku melihat ada fotomu bertengger di sana. Aku merindukanmu, Hae Won ah~. Sangat-sangat merindukanmu.

“Eomma, aku pulang!”

DEG! Itu suaramu. Aku menoleh ke arah pintu. Aku melihatmu. Dan kau pun menoleh ke arahku. Dan aku bisa melihat gurat kekagetan dari wajahmu.

“Oppa?”

Tapi tunggu! Siapa laki-laki yang ada di sebelahmu? Kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?

“Hae Won ah~ apa kabar?”

“Baik. Kau sendiri?”

“Seperti yang kau lihat. Nuguseyo? Temanmu?”

“Ah, mianhae. Kenalkan, dia tunanganku.”

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s