[Series] Because it is you – Part 2 (End)

Hello Hello! *ala FT Island*

Aku datang!!! Akhirnya!!! Aku selesein juga part ini. Patut berterima kasih akan keeksisan hari ini, lebih tepatnya karena hari ini libur. Hehehe. Entah dapet bisikan dari mana, dan entah mood itu balik tiba-tiba. Alhasil aku putusin buat ngelanjutin nih FF.

Semoga sesuai harapan. Soalnya akhir-akhir ini bener-bener kehilangan mood bikin FF. Buat baca aja kadang juga males.

Akhir kata, selamat membaca! Comment and jempolnya aku tunggu ya? Gomawo… ^_^

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Title : Because it is you

Author : neys

 

CAST

Cho Kyu Hyun

Choi Hae Won

Cho Yeon Hae

Choi Si Won

 

…Choi Hae Won pov…

Aku masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Jujur saja, ternyata pria bernama Kyu Hyun itu sangat menyenangkan.

“Ya! Sepertinya aku akan mendapat makan malam gratis hari ini.”

“Oppa? Ya! Kau yang merencanakan pertemuan tadi ya? Menyebalkan!”

“Tapi senang kan?”

“Kenapa aku harus senang?”

“Karena berkat aku, kau bisa berkencan dengan namja seperti Kyu Hyun.”

“Lalu?” ucapku sambil duduk di sebelah Si Won oppa. Tak lama Si Won oppa mengacak rambutku, membuatku teringat akan perlakuan Kyu Hyun oppa padaku tadi. Aku tersenyum tanpa aku sadari.

“Apa aku melewatkan sesuatu?”

“Ne?”

“Apa saja yang terjadi di café tadi? Kenapa senyum-senyum sendiri begitu?”

“Tidak ada. Hanya makan saja.”

“Jinjja?”

“Ne…”

“Arayo… Dongsaeng-ku kini sudah dewasa…”

“Apa sih?”

“Aku setuju jika kau bersama dengan Kyu Hyun.”

“Ya! Kami berdua baru saja saling kenal.”

“Baru kenal tapi langsung cocok kan? Sama-sama tertarik kelihatannya.”

“Kata siapa?”

“Kata oppa. Apa kau tidak mendengar baru saja oppa berkata seperti itu?”

“Aish! Dasar oppa menyebalkan!”

Aku beranjak dari sofa lalu bergegas menuju kamarku. Usai mandi aku mengecek handphone-ku. Rupanya ada pesan masuk.

 

From : Kyuppa
Apa kau sudah sampai di rumah? Mianhae tadi tidak bisa mengantarmu karena harus menjemput Yeon Hae. 🙂

To : Kyuppa
Ne, gwaenchana. Aku sudah sampai dengan selamat. Terima kasih sudah mentraktirku makan siang tadi. Seharusnya Si Won oppa saja yang membayar. Nanti akan aku bantu untuk menagih bon kita tadi padanya. 🙂

From : Kyuppa
Andwae! Tidak perlu! Aku memang ingin mentraktirmu makan kok. Suatu hari nanti, kau masih mau keluar makan denganku kan?

 To : Kyuppa
Tentu saja. Tapi aku yang traktir ya? 🙂

From : Kyuppa
Kita lihat saja nanti… 🙂

…pov end…

 

…Cho Kyu Hyun pov…

Gadis itu sungguh berbeda dari kekasih-kekasihku yang sebelumnya. Saat bersama dengannya aku benar-benar seperti terhipnotis, melupakan segalanya. Dia seolah menjadi candu untukku. Ada apa ini?

“Kau baru saja bertemu dengan gadis itu lagi ya?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Terlihat dari raut wajahmu yang nampak sangat bahagia itu.”

“Jinjja?”

“Mungkin kau tak menyadarinya. Tapi orang lain yang melihatmu akan langsung bisa menangkap gurat kebahagiaan dari wajahmu.”

“Kau benar. Aku memang sedang bahagia. Kau harus bertemu dengannya, Yeon.”

“Aku malas.”

“Wae?”

“Aku tak suka padanya. Dia merebutmu dariku.”

“Oh, ayolah Yeon! Kau selamanya adalah dongsaeng-ku kan? Kau akan selalu memilikiku.”

“Aku tak peduli.”

“Kau kenapa sih?”

“Belum jadi kekasihmu saja sepertinya dia sudah merebutmu dariku.”

“Ne?”

“Tadi kan kau hampir lupa menjemputku. Sekarang aku tahu apa penyebabnya.”

“Mianhae. Maafkan oppa ya? Tapi jangan salahkan Hae Won. Dia kan tidak bersalah.”

“Ne, arayo. Ini memang salahmu! Dasar kau! Jangan-jangan nanti kekasihmu juga tidak kau pedulikan sepertiku. Tragis sekali nasibnya?”

“Aku selalu peduli pada orang-orang yang kusayangi, little pig!”

“Kau hanya peduli pada eomma!”

“Kata siapa?”

“Ya! Jelas-jelas aku yang mengatakannya! Kyu babo!”

 

-3 months later-

Hubunganku dengan Hae Won semakin dekat. Aku harus berterima kasih pada Si Won hyung. Bagaimanapun ini juga berkat dirinya. Aku juga sering bertamu ke rumahnya. Terkadang juga mengobrol bahkan bermain catur dengan appa-nya.

Hari ini seperti biasa aku menjemputnya di kampus. Ya, sekarang menjemputnya di kampus adalah jadwal tetapku meski tiap pagi aku tidak perlu menjemputnya karena dia akan berangkat bersama dengan Si Won hyung.

“Sudah lama?” Tanyanya saat dia baru masuk ke dalam mobilku.

“Aniyo. Baru saja.”

“Tas itu? Apa isinya?” Tanyaku saat menyadari ia tidak hanya membawa tas yang biasa ia bawa.

“Oh ini. Ini berisi kotak makan. Bekal yang dibuatkan Si Won oppa untukku.” Ucapnya sambil tersenyum lebar. Sepertinya bahagia sekali.

“Hyung bisa memasak?”

“Tentu. Mungkin sebenarnya tidak seenak buatan restaurant, tapi asal aku tahu bahwa oppa membuatnya dengan sepenuh hati untukku, rasanya jadi jauh lebih enak.”

“Hm… Mungkin lain kali aku harus membuatkan Yeon bekal juga.”

“Tentu. Dia pasti akan sangat senang.”

“Minggu depan jadi ke pulau Jeju?”

“Jadi.”

“Kau akan berada di sana selama sebulan ya?”

“Ne. Waeyo?”

“Gwaenchana. Berarti selama sebulan aku bebas dari tugas untuk menjemputmu.”

“Jadi, selama ini kau keberatan?”

“Bukan begitu. Aku hanya takut merindukan hal itu.”

“Nappeun!”

“Mwo?”

“Masa iya, merindukan hal-hal seperti itu?”

“Tidak hanya itu sebenarnya.”

“Maksudnya?”

“Merindukan seseorang yang setiap hari aku jemput, misalnya?”

…pov end…

 

…Choi Hae Won pov…

Aku tengah mempersiapkan barang bawaanku besok saat tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku memasang earphone pada telingaku lalu menekan tombol hijau – menerima telepon.

“Yeoboseyo…”

“Won ah~ sedang apa?”

“Sedang packing. Ada apa menelepon?”

“Hanya memastikan.”

“Ne? Memastikan apa?”

“Memastikan bahwa aku yang akan mengantarmu ke bandara besok.”

“Neo?”

“Waeyo? Apa Si Won hyung belum memberitahumu?”

“Memberitahu apa? Kenapa kalian suka sekali membahas hal hanya berdua sih? Hahaha.”

“Jangan berpikir yang aneh-aneh, Won ah~.”

“Ya! Memang apa yang kupikirkan?” Ucapku sambil menahan tawa.

“Ah! Sudahlah! Pokoknya besok kau berangkat denganku.”

“Arasho, Mr. Cho Kyu Hyun!”

“Ya sudah. Aku tutup dulu teleponnya. Jangan tidur malam-malam.”

“Ne.”

Aku tertawa terbahak-bahak usai menutup telepon dari Kyu Hyun, seseorang yang cukup dekat denganku belakangan ini. Berbicara dengannya selalu terasa menyenangkan.

“Sebegituh bahagianya-kah ditelepon oleh seorang Cho Kyu Hyun?”

“Oppa! Sejak kapan kau ada di sana?” Tanyaku heran.

Sejak kapan Si Won oppa duduk di sofa yang ada di dalam kamarku? Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya.

“Sejak tadi.”

“Ya! Kau mengendap-endap ya? Bagaimana mungkin aku tidak menyadari saat kau masuk ke kamarku?”

“Tidak, mungkin kau saja yang terlalu asik ngobrol dengan Kyu Hyun.”

“Aish! Oh ya, jadi kau yang menyuruh Kyu oppa untuk menjemputku besok?”

“Uwooo! Jadi sekarang kau memanggilnya Kyu oppa? Manis sekali???”

“Ya! Ya! Ya! Ada apa dengan dirimu oppa? Kenapa ekspresimu begitu menjijikkan? Berhentilah sok aegyo seperti itu.”

“Apa katamu? Sok? Aish! Sudahlah! Intinya, besok aku tidak bisa mengantarmu ke bandara jadi aku serahkan kau pada Kyu Hyun saja.”

“Menyerahkan? Memang aku barang?”

“Tentu. Kau itu barangku yang paling berharga! Hahaha.”

Dan dia pun langsung berlalu pergi dari kamarku. Kabur tepatnya.

* * *

“Sudah bawa obat-obatan?”

“Ne.”

“Sudah bawa charger?”

“Ne.”

“Sudah bawa…”

“Ya! Banyak sekali yang kau tanyakan? Aku sudah membawa semua yang aku butuhkan, Mr. Cho Kyu Hyun.”

“Yakin tidak ada yang ketinggalan?”

“Mungkin eomma-ku akan secerewet dirimu kalau saja dia masih ada. Sudahlah! Kau tidak perlu khawatir. Semua sudah aku bawa. Bahkan rasanya aku sudah memindahkan perabot rumahku ke dalam koper.”

“Aku pergi dulu ya? Sampai jumpa bulan depan.”

“Aku akan merindukanmu.” Ucapnya sangat pelan, nyaris berbisik tapi aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“Aku juga.” Ucapku sambil tersenyum dan sukses membuatnya membelalakkan mata, sepertinya kaget karena ternyata aku mendengar apa yang ia katakan padaku.

“Telepon aku kalau kau merindukanku. Sampai jumpa…”

Aku melambaikan tangan ke arahnya. Aku masih melihat dia mematung di tempatnya tanpa membalas lambaian tanganku hingga beberapa saat kemudian ia tersadar dan langsung membalas lambaian tanganku.

“AWAS SAJA KALAU KAU BERANI TIDAK MENGANGKAT TELEPONKU!”

Aku mengacungkan jempolku lalu berbalik. Aku berusaha menahan senyumku agar tidak terlalu lebar. Aku pasti akan merindukanmu, Cho Kyu Hyun. Aku pasti menunggu dan mengangkat telepon darimu.

…pov end…

 

…Cho Kyu Hyun pov…

Aku memandang gelisah layar handphone-ku. Memandang wallpaper yang terpampang di sana. Tak terasa sudah dua minggu Hae Won berada di pulau Jeju.

“Ada apa denganmu? Sebegitu tersiksanyakah merindukan seseorang?”

“Ne?”

“Kau merindukan Hae Won?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Daritadi kau terus memandang fotonya. Aku sampai bosan melihatmu menatap layar ponsel yang bahkan tidak bisa kau ajak bicara.”

“Aku merindukannya, Yeon. Kau tidak mengerti.”

“Tentu saja aku tidak mengerti dan aku memang tidak ingin mengerti.”

“Kurasa aku jatuh cinta padanya.”

“Yah, sama jatuhnya seperti biasa kan? Seperti kekasih-kekasihmu yang sebelumnya.”

“Tidak. Kurasa tidak. Kali ini aku benar-benar jatuh. Dan hanya dia yang bisa mengangkatku.”

“Kata-katamu terlalu rumit dan aku tidak mengerti. Ya sudah, kalau kau memang cinta bilang saja. Itu mudah kan?”

“Semoga saja semudah yang kau katakan, Yeon.”

“Yeah.”

* * *

“KYU HYUN AH~!!!”

Aku menolehkan kepalaku ke arah suara tersebut. Aku mengenal –sangat mengenal suara ini. Choi Hae Won.

Saat dia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat denganku, refleks aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. Sesaat setelahnya aku baru sadar karena reaksi tubuhnya yang kaget. Tapi entah kenapa aku tidak berniat melepasnya sedikitpun.

“Bogoshipoyo.” Ucapku sambil mengeratkan pelukanku.

“Na ddo. Kangen-kangenannya nanti aja ya? Sepertinya aku belum terbiasa jadi pusat perhatian seperti ini.”

Refleks aku melepaskan pelukanku lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Dia benar! Cukup banyak orang yang melihat ke arah kami. Aku mengambil alih koper yang ia bawa lalu menggandeng tangan yang satunya.

“Kajja! Kuantar kau pulang sekarang!”

* * *

Aku dan Hae Won sedang berada di kebun binatang. Entah kenapa hari ini dia tiba-tiba ingin sekali ke tempat ini. Kami berdua berjalan beriringan dan aku menggandeng tangannya. Syukurlah dia tidak keberatan meskipun agak kaget awalnya.

“Won ah~ jadi kekasihku ya?” Ucapku pelan saat kami sedang duduk di salah satu sudut sambil menikmati ice cream.

“Ne???”

“Masa kau tidak mendengar apa yang aku katakan barusan?”

“Tidak.”

“Ah!”

“Apa sih? Coba katakan sekali lagi.”

“Won ah~ jadi kekasihku ya?”

“Ne???”

“Masa masih belum dengar juga?”

Tiba-tiba saja dia tertawa lalu kembali menyantap ice creamnya. Seolah tidak mempedulikanku yang masih menunggu jawaban darinya.

“Betapa malang nasibku mempunyai kekasih yang sangat tidak romantis saat menyatakan cintanya.”

“Mwo?”

“Kau tidak romantis, oppa.” Ucapnya singkat lalu kembali menikmati ice creamnya setelah sempat melirikku sekilas.

“Ya! Hae Won ah~ kau bilang apa tadi? Kekasih? Itu artinya kau menerimaku?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Ya!”

Dia tertawa lalu bangkit dari tempat duduknya.

“Kejar aku. Kalau kau berhasil mengejarku, aku akan mengatakannya sekali lagi.”

“Tidak perlu. Tadi aku sudah dengar kok. Aku makan ice cream saja.”

“YA! OPPA! KAU CURANG!!!”

 

.F.I.N.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s