[Ficlet] Na do Saranghae

Yo! Yo! Yo! FF ini adalah permintaan maaf-ku sama Dong Hae oppa. Soalnya akhir-akhir ini sering merasa bosen plus kehilangan feel sama dia. Eh malah tercipta FF kacau kayak gini. Tapi sekarang feel-nya udah balik lagi kok. *nyengir*

Buat readers, mianhae ya jarang post FF. Asli! Belakangan ga ada mood sama sekali buat ketik FF. Niat awal kan mau berusaha buat nyelesein mini series aku yang ketiga kan? Eh tapi malah akhirnya aku ga ngelanjutin FF itu sama sekali. Masih macet di part 2. Dan malah bikin FF lainnya.

Oh ya, mianhae lagi kalo FF kali ini agak-agak ga jelas. Duh! Gatau deh! Bener-bener ga jelas dah FF ini. Gatau juga kenapa bisa kepikiran bikin kayak gini. Asli adegan yang terakhir itu baru kepikiran pas ngetik. Ah tidak! Hehehe…

Ya udah deh, ini kalau dilanjutin bisa-bisa lebih panjang intro-ku daripada FF-nya.

Don’t forget to leave your comment or thumb! Thank you… ^_^

♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥

Title : Na Do Saranghae

Author : neys


Ketika cinta tak lagi ada, masih perlukah sebuah hubungan itu dipertahankan? Dan jika hanya jenuh yang mewarnai kisah, masih perlukah berusaha memperbaiki?


“Mianhae. Jeongmal mianhaeyo, oppa. Aku tak sanggup lagi melanjutkan hubungan ini.”

“Jae Mi ah~? Waeyo?”

“Hubungan kita terlalu datar. Aku bosan. Aku capek berpura-pura menikmati hubungan kita. Dan… aku tak lagi mencintaimu.”

“Kau… tak lagi mencintaiku? Sejak kapan?”

“Mollayo, oppa. Mungkin sudah lama, hanya aku saja yang baru menyadarinya.”

“Jelaskan padaku, Jae Mi ah~. Aku… aku tak mengerti…”

“Oppa, aku tahu ini pasti berat untukmu. Begitu juga denganku. Kita terbiasa menghabiskan waktu bersama-sama. Meski tidak berarti kita selalu bersama tapi setidaknya kita selalu keep in touch. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku saat ini. Tapi sungguh, aku tidak bisa memaksakan diriku lebih lama lagi. Karena itu juga akan menyakitimu nantinya. Kau berhak mendapatkan penggantiku. Seseorang yang benar-benar mencintaimu.”

“Aku mencintaimu, Jae Mi ah~. Sangat-sangat mencintaimu. Rasa ini masih sama seperti tiga tahun yang lalu, awal kita merajut semua kisah cinta kita.”

“Oppa… Jebal… Kau pasti bisa merelakanku. Kau berhak bahagia, oppa.”

“Bagaimana bisa aku bahagia jika hal yang membuatku bertahan hidup bahkan sudah tak lagi di sisiku? Katakan padaku, bagaimana caranya?”

“Oppa…”

Jae Mi memeluk Dong Hae yang tertunduk. Tak lama Dong Hae pun mulai menangis. Perasaan tak rela melepas Jae Mi dari sisinya menelusup begitu dalam di hatinya. Rasa sesak yang luar biasa menerkam dadanya. Apakah mungkin ia dapat melupakan seseorang yang sangat ia cintai dengan mudah? Seseorang yang selama tiga tahun ini menjadi kekasihnya. Padahal baru saja ia berniat untuk melamar Jae Mi. Menjadikan Jae Mi menjadi milik Dong Hae seutuhnya.

Park Jae Mi, gadis yang ia kenal sekitar empat tahun yang lalu. Seorang gadis yang mampu memikatnya hanya dari tatapan matanya. Dong Hae jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan sayangnya, seseorang itu pulalah yang akhirnya membuat hatinya hancur, bahkan lebih dari berkeping-keping saat ini.

“Oppa… Uljima… Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak seperti ini?”

Dong Hae mengangkat kepalanya, menatap Jae Mi dengan tatapan sayu-nya. Masih nampak dengan jelas bulir-bulir air mata di wajahnya.

“Jangan tinggalkan aku.”

“Oppa…”

“Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku.”

“Bagaimana caranya, oppa?”

“Atau… Kau sudah menemukan penggantiku?”

Jae Mi menggeleng karena memang bukan itu alasannya hendak mengakhiri hubungannya dengan Dong Hae. Hanya saja, Jae Mi merasa perasaannya pada Dong Hae telah berubah. Tidak ada lagi letupan-letupan saat bersama dengan kekasihnya itu.

“Aku tak pernah mengkhianatimu, oppa. Percayalah, bukan karena itu aku ingin mengakhiri hubungan kita.”

“Ne, mianhae. Mungkin aku hanya kalut. Kumohon, jangan tinggalkan aku.”

“Oppa… Bagaimana jika aku justru semakin menyakitimu?”

“Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Aku mencintaimu dan aku yakin kau akan mencintaiku kembali.”
”Baiklah. Aku harap ini tidak akan memperburuk keadaan.”

Dong Hae memeluk kekasihnya erat. Kekasih yang baru saja berhasil ia pertahankan. Kekasih yang sangat berperan untuk perasaannya. Kekasih yang dapat membuatnya senang, sedih, marah, kecewa juga gila.

Sementara untuk Jae Mi. Sebenarnya peran Dong Hae dalam hidupnya juga sangat besar. Dong Hae adalah seseorang yang selalu memberinya semangat. Seseorang yang selalu menghiburnya saat ia sedih. Seseorang yang selalu muncul secara tiba-tiba di hadapannya saat ia sendirian. Seseorang yang selalu menenangkan serta menghapus air mata Jae Mi saat ia sedang ketakutan. Juga seseorang yang sangat mengerti kemauan Jae Mi.

“Anggap saja kejadian barusan tidak pernah ada. Lupakan tentang kau memutuskan hubungan kita. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku.” Ucap Dong Hae sambil mengusap punggung Jae Mi yang masih dalam pelukannya.

Dong Hae melepaskan pelukannya. Memandang wajah Jae Mi lekat. Tak lama Jae Mi mengangkat tangannya lalu mengarahkannya pada wajah Dong Hae. Mengusap sisa air mata di wajah kekasihnya itu.

“Jangan pernah lagi menangis karena diriku. Aku lebih suka melihatmu tersenyum daripada menangis.”

“Asal kau di sisiku, maka aku punya alasan untuk selalu tersenyum.”

“Caramu yang pertama kah?”

“Bukan. Aku hanya memberitahumu yang sebenarnya. Jika kau tak di sisiku, aku tak punya alasan lagi untuk tersenyum. Apalagi untuk bahagia, sama sekali tidak punya.”

“Baiklah. Aku akan mengajarimu cara tersenyum tanpa diriku.”

“Jae Mi…”

“Ara… Ara… Mianhae, mari kita lupakan apa yang baru saja terjadi.”

* * *

Dong Hae memeluk Jae Mi dari belakang. Malam ini Dong Hae mengajak Jae Mi ke sebuah bukit. Dari atas bukit, nampak pemandangan yang sangat indah. Dong Hae tahu Jae Mi akan menyukai pemandangan ini.

“Apa kau menyukainya?”

“Sangat. Gomawo, oppa.”

Dong Hae memutar tubuh Jae Mi menghadap ke arahnya. Tangannya masih melingkar di pinggang gadis itu. Dong Hae memandang gadis itu lembut lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Saranghae.”

Jae Mi membeku. Tak sanggup bereaksi dengan apa yang baru saja Dong Hae lakukan padanya. Selama tiga tahun mereka menjadi sepasang kekasih, belum pernah Dong Hae melakukan itu padanya. Dan sekarang, Dong Hae justru melakukannya setelah kejadian kemarin.

Jantung Jae Mi berdegup sangat kencang. Ataukah rasa cinta itu belum terhapus sepenuhnya? Benarkah Jae Mi masih mencintai Dong Hae?

Tanpa menghiraukan Jae Mi yang masih terdiam, Dong Hae memeluk Jae Mi.

“Udara malam ini sangat dingin. Aku tak mau kau sakit. Jadi biarkan aku memelukmu, setidaknya dengan begini kau tidak akan kedinginan.”

“Na do saranghae.”

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jae Mi. Sesuatu yang bahkan Jae Mi sendiri tidak tahu sebabnya.

“Aku tahu kau masih mencintaiku. Hanya jenuh. Mianhae kalau selama ini aku membuatmu bosan kepadaku. Mianhae juga jika aku terlalu sibuk bersama grup-ku sehingga membuat kita jarang bertemu dan hanya berhubungan melalui dunia maya.”

Dong Hae melepaskan pelukannya. Lalu menggenggam jemari Jae Mi.

“Jae Mi ah~, menikahlah denganku…”

“MWO???”

.F.I.N.

Hehehe… Gimana? Geje kan? *kabur!!!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s