[Series] Our Memories – Part 9 (End)

Aku datang bawa last part. Tapi aku pesimis ma part ini. Kayaknya bener-bener ga sesuai harapan. Maksa banget. Ah, mollayo. Aku udah berusaha semaksimal mungkin. Mianhae kalo ternyata hasilnya ga memuaskan. Hehehe..

Don’t forget to leave your comment or thumb! Gomawo…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Min Hae PoV_

“Aku pulang!”

“Noona…”

“Annyeong Minari! Eh? Soo Hyun ah~?”

“Min Hae ah~…”

“Noona, biar aku perkenalkan secara resmi padamu. Kenalkan kekasihku, Choi Soo Hyun. Soo Hyun ah~ kenalkan ini noonaku, Choi Min Hae.”

“Ka… Kalian? Sepasang kekasih?”

“Ne. Kami berdua serasi kan, noona?”

“Ah, ne. Chukaeyo dongsaeng ah~.” Ucapku sambil memeluknya.

“Gomawo noona.”

“Chukaeyo Soo Hyun ah~.” Kali ini aku memeluk Soo Hyun.

“Min Hae ah~ aku ingin meminta maaf padamu.”

“Ne? Untuk?”

“Untuk semua kesalahan yang aku perbuat, yang mungkin bahkan kau tidak tahu. Selama ini aku selalu iri padamu. Padahal tidak seharusnya aku membencimu. Kita semua memiliki jalan masing-masing. Dan… Terima kasih berkat adikmu aku bisa berubah menjadi lebih baik.”

“Ah, gwaenchanayo. Syukurlah kalau kau merasa lebih baik sekarang. Jujur, aku tidak pernah marah atas semua sikapmu padaku selama ini. Sungguh.”

“Gomawo. Jeongmal gomawoyo, Min Hae ah~.”

“Ne. Cheon maneyo, Soo Hyun ah~.”

“Kalian berdua tidak apa-apa kan kalau aku tinggal? Aku ingin langsung ke kamar.”

“Tentu saja. Kau istirahat saja, noona. Aku tidak ingin kau sakit.”

“Baiklah. Sekali lagi selamat ya?”

Aku melangkahkan kakiku ke kamar dengan berat. Hari ini benar-benar melelahkan. Kenapa Jong Hun oppa mengatakan hal yang dulu memang aku nanti-nantikan tapi sekarang di saat dia benar-benar mengatakannya kenapa justru terasa menyakitkan?

#flashback

Aku duduk diam di sofa setelah mendengar penjelasan Jong Hun oppa. Tak lama handphone-ku bergetar. Satu pesan masuk.

From : Hye Jin
Mianhae, Min Hae ah~ tiba-tiba Jae Jin membawaku pergi dari rumah sakit. Katanya ada yang penting. Bisakah kau membantuku untuk menjaga Jong Hun oppa hari ini? Oh ya, dia belum sarapan pagi. Aku minta maaf dan mohon bantuannya ya? gomawo…


MWO??? Menjaga Jong Hun oppa satu hari ini? Apa aku tidak salah baca? Dalam keadaan seperti ini? Ya! Hye Jin ah~ kau benar-benar ingin menyiksaku? Aku memasukkan kembali handphone-ku ke dalam saku.

“Oppa, kau mau makan apa untuk sarapan?”

“Ne? Bukankah Hye Jin dan Jae Jin sedang membelinya?”

“Jae Jin mengajak Hye Jin pergi dari rumah sakit. Aku tidak tahu pasti ada apa. Yang pasti Hye Jin memintaku untuk menjagamu hari ini.”

“Mwo?”

“Jadi? Kau mau makan apa?”

“Apa saja.”

“Kau makan bubur saja ya?”

“Bubur?”

“Ne. Kau kan sedang sakit?”

“Aniyo. Sakitku ini tidak sampai harus mengubah menu makanku kan? Sudah, makan ramyeon saja ya?”

“Ramyeon? Baiklah. Kau tunggu di sini. Aku akan membelikannya untukmu.”

– – –

Jong Hun oppa sudah menyelesaikan makannya beberapa waktu yang lalu dan kini kami berdua kembali terdiam.

“Jika ingatanku pulih bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana apanya, oppa? Tidak akan ada banyak perubahan. Kita di masa lalu juga teman kok.”

“Teman ya? Tapi sekarang aku tidak merasa kita berteman. Hubungan kita ini canggung sekali, Min ah~.”

“Jinjjayo?”

“Min ah~…” panggilnya sambil berusaha turun dari tempat tidur lalu menghampiriku.

Sekarang dia berada tepat di hadapanku. Menarik tanganku dengan lembut agar aku berdiri. Kami berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Melihat wajahnya dari dekat membuatku ingin menyentuhnya. Tanpa sadar aku menggerakkan tangan kananku ke atas lalu menyentuh pipinya. Dia segera menggenggam tanganku yang berada di pipinya. Aku langsung menyadari perbuatanku dan bermaksud untuk melepaskan tanganku tapi dia menahannya.

“Min ah~ ingatanku sudah pulih.”

“Aku sudah ingat semuanya. Aku mengingat bagaimana kita bertemu untuk yang pertama kali dulu. Bagaimana perasaanku saat melihatmu waktu itu.”

“Aku mengingat semua kenangan kita. Setiap perjumpaan kita aku mengingat semuanya.”

“Dan yang paling penting adalah aku mengingat betapa pentingnya dirimu untukku.”

“No reul saranghae, Min ah~”

MWO? Apa dia bilang? Dia mencintaiku? Apakah ini mimpi? Aku bahagia, akhirnya aku mendengar pengakuan ini darinya. Tapi kenapa, perasaanku juga sangat sedih? Sakit. Rasanya sangat sakit. Sesak. Dadaku terasa sesak.

“Min ah~ mianhae jika selama ini aku telah melupakanmu. Mianhae selama ini aku tidak mengingat semua hal tentangmu, padahal jelas-jelas kau adalah seseorang yang paling berarti untukku. Maukah kau memaafkanku?”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, oppa. Kau tidak salah apa-apa. Menjadi amnesia, itu bukan pilihanmu. Tapi takdir yang tidak membiarkan kita untuk dekat.”

“Apa maksudmu, Min ah~?”

“Dua kali. Dua kali oppa kau melupakanku. Haruskah aku bilang itu semua hanya kebetulan? Tidak bisakah aku menganggap itu sebagai pertanda bahwa memang tidak seharusnya kita menaruh perasaan lebih dalam hubungan kita.”

“Kau mencintaiku, Min ah~?”

“Aku mencintaimu, oppa. Jauh sebelum kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Tapi, aku ragu. Aku ragu, oppa.”

“Apa yang kau ragukan, Min ah~? Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan perasaanku padamu?”

“Aku tidak meragukan perasaanmu, oppa. Aku hanya meragukan kebersamaan kita. Sepertinya bukan jalan ini yang harus kita ambil. Mianhae, oppa. Aku tidak bisa, benar-benar tidak bisa.”

Aku melepaskan genggaman tangannya dan bergegas keluar. Tapi dia menahan tanganku dan menarikku kembali ke hadapannya.

“Jangan pergi lagi, Min ah~ aku tak bisa kalau harus berpisah lagi darimu.”

Aku tak menghiraukan kata-katanya dan tetap pergi dari hadapannya. Aku tak sanggup untuk berlama-lama lagi. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku.

#flashback end

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Dia pergi. Dia pergi meninggalkanku. Semua ini memang salahku. Kalau saja sebelum aku pergi ke Singapura waktu itu aku mengungkapkan perasaanku terlebih dulu padanya. Dia pasti bisa menerimaku kembali. Sekarang, aku terlanjur menyakiti hatinya. Dua kali. Dua kali aku melupakannya. Mianhae, Min ah~. Kau harus tahu, kaulah satu-satunya gadis yang aku cintai. Satu-satunya gadis yang mengisi hatiku. Satu-satunya gadis yang mampu meluluhkan hatiku serta mengubahku.

Min ah~ apa yang harus aku lakukan?

“Oppa, gwaenchanayo?”

“Hye Jin ah~? Jae Jin ssi? Kenapa kalian kembali lagi kemari?”

“Tadi kami sempat pulang untuk mandi. Tapi aku putuskan untuk kembali kemari. Dan dia memaksa untuk mengantarku.”

“Oh, arasho.”

“Museum iriya, oppa?”

“Min Hae. Dia…”

“Waeyo, oppa?”

“Sebenarnya, ingatanku sudah kembali, Hye…”

“Mwoya??? Kau sudah mengingat semuanya, oppa?”

“Ne… Dan, Min Hae… Dia meninggalkanku…”

“Waeyo?”

“Mollayo, Hye… Mungkin ini semua memang kesalahanku. Aku yang bodoh! Aku terlambat mengungkapkan perasaanku padanya.”

“Terlambat? Apa karena hyung-ku? Tapi tidak mungkin. Hong Ki hyung hanya menganggap Min Hae seperti adik kandungnya sendiri.” Ucap Jae Jin padaku.

“Hyung-mu? Aniyo. Ini tidak ada hubungannya dengan hyung-mu. Semua murni kesalahanku.”

“Oppa, kau tidak salah. Mungkin kau hanya perlu meyakinkan Min Hae. Yakinkan Min Hae bahwa sebenarnya kalian seharusnya memang bersatu. Bukan saling menyakiti seperti ini.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Buktikan bahwa kau benar-benar mencintainya, oppa. Mungkin sesuatu yang romantis bisa membantu.”

“Romantis?”

“Ne. Seperti yang Jae Jin lakukan padaku misalnya?”

“Mwoya? Apa yang Jae Jin lakukan padamu hah?”

“Aniyo, hyung. Aku… Aku hanya…”

“Ya! Jangan bilang kalau kalian sekarang adalah sepasang kekasih?”

“Kau setuju kan, oppa?”

“Aish! Aku kan baru mengenal bocah ini, Hye?”

“Kau tenang saja, dia pria baik kok.”

“Ara… Ara…”

_PoV end_

_Author PoV_

Min Hwan dan Soo Hyun masih menghabiskan waktu sambil menonton TV di rumah. Menghabiskan waktu bersama-sama. Sementara Min Hae masih mengurung diri sambil menangis di kamar. Berusaha menyangkal perasaan bahagianya karena pernyataan Jong Hun di rumah sakit tadi. Juga berusaha meyakinkan diri untuk melupakan Jong Hun.

Sementara di lain tempat, Jong Hun, Hye Jin dan Jae Jin masih berusaha memikirkan cara untuk membuktikan perasaan Jong Hun pada Min Hae. Betapa Jong Hun ingin menjadikan Min Hae sebagai miliknya. Menjadikan Min Hae kekasih hatinya.

“Bagaimana kalau candle light dinner?” usul Hye Jin.

“Makan malam? Sepertinya terlalu biasa.”

“Bagaimana kalau membelikannya hadiah yang dia inginkan?” kali ini Jae Jin memberi usul.

“Aku tidak tahu dia sedang menginginkan apa saat ini. Kau tahu, Hye?”

“Aku tidak tahu. Akhir-akhir ini dia jarang bercerita padaku.”

“Aish!”

Cukup lama mereka bertiga terdiam hingga akhirnya suara pekikan Jong Hun menyadarkan Hye Jin dan Jae Jin.

“AKU TAHU!!!”

“Apa?”

“Begini…”

* * *

Min Hae masih dalam keadaan yang sama saat seseorang telah berhasil masuk ke dalam taman di belakang rumah Min Hae. Seseorang itu mulai memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Mendengar suara itu, Min Hae beranjak dari tempat tidurnya menuju jendela kamarnya. Membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya. Dan kaget melihat seseorang di bawah sana.

I memorize and memorize again
Your back side that is walking away from me
So, I won’t forget you

I memorize and memorize again
Even your voice telling me good bye

I picture you again thousands times
So I would recognize you
When just in case you come back to me

Every time I do so, my heart tears into pieces
But I don’t stop to remember you

Because my heart is foolish
And my love is foolish
I cry like a baby with you in my arms.
Because my brain is foolish
It only remembers you
Even when a new love arrives,
I cannot grab it because I’m scared that I’ll forget you

I pass by where you went often everyday
And look for someone who resembles you
And in case your number changed, I secretly call you sometimes

Because my heart is foolish
And my love is foolish
I cry like a baby with you in my arms.
Because my brain is foolish
It only remembers you
Even when a new love arrives,
I cannot grab it because I’m scared that I’ll forget you

I remember you everyday
Worrying that you might have cut your long hair

Because my two eyes are foolish,
They only try to look at you
They only know you so they cannot see anyone else
Because my two ears are foolish,
They only your voice
And in case you call me
They stay up all night
In case they don’t hear your footsteps coming back to me

(FT Island – Memorize)


Jong Hun. Dia sedang menyanyi di taman belakang rumah Min Hae. Min Hae kaget. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa ia sadari air mata jatuh begitu saja.

Ia menatap Jong Hun tak percaya. Pria itu yang kini telah selesai menyanyi tengah tersenyum ke arah Min Hae.

“Min ah~, turunlah… Jebal…”

Tak lama kemudian Min Hae sudah berada di hadapan Min Hae. Jong Hun menyambut kedatangan Min Hae dengan sebuah senyuman. Jong Hun menggenggam tangan Min Hae.

“Percayalah padaku. Kebersamaan kita bukanlah sebuah kesalahan, Min ah~. Semua yang terjadi pada kita merupakan ujian. Aku mencintaimu, Min ah~. Maukah kau menjadi satu-satunya gadis yang mengisi hatiku? Melewati hari-hari bersamaku. Maukah?”

DUAR… DUAR…

Min Hae mendongakkan kepalanya. Di sanalah ia melihat kembang api yang telah membentuk tulisan ‘SARANGHAE’…

“Oppa…”

“No reul saranghae, Min ah~. Nomu nomu saranghaeyo…”

“Jangan pernah lagi berniat untuk meninggalkanku. Jangan, Min ah~. Jika kau lakukan itu, sama artinya dengan kau mengambil jiwaku. Tubuh tanpa jiwa, apalah artinya Min ah~. Jebal…”

“Na ddo. Na ddo, oppa.” Ucap Min Hae sambil terisak.

“Ya! Uljima!” ucap Jong Hun sambil mengusap air mata Min Hae.

“Mianhae, oppa.”

“Gwaenchana, Min ah~. Yang penting sekarang akhirnya kita bisa bersatu, setelah melewati semua rintangan yang ada. Perjalanan yang cukup melelahkan. Jangan pernah lelah untuk mencintaiku.”

Jong Hun melepas cincin yang berada di jari kelingkingnya lalu memakaikannya di jari manis tangan kiri Min Hae.

“Kau tahu? Jika sebuah cincin pas saat dikenakan di jari kelingking pria serta jari manis wanita, itu artinya mereka berjodoh. Kau tahu maksudku kan?” ucap Jong Hun sambil tersenyum. Min Hae hanya tersenyum menanggapi kata-kata Jong Hun tadi.

“Oh ya, kau harus berterima kasih pada teman-temanmu. Mereka yang membantuku menyiapkan kembang api tadi.”

“Teman-teman?”

“Ne. Oh ya, apa kau tahu Hye Jin sudah memiliki seorang kekasih sekarang.”

“MWO?”

“Kau tidak tahu.”

“Jae Jin. Dia kekasih Hye Jin. Dia yang ikut membantuku.”

“MWOYA? Awas saja kalau nanti aku bertemu Hye Jin. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku bahkan belum mengenal siapa itu Jae Jin.”

“Ya! Jangan marah-marah begitu! Jelek sekali wajahmu! Hahaha.”

“OPPA!”

Jong Hun memeluk Min Hae. Erat.

“Ara… Aku hanya bercanda. Aku berjanji untuk selalu mencintaimu. Saranghae yeongwonhi, Min ah~”

“Na ddo saranghae, nae Jonghunnie…”

.F.I.N.

Nih aku kasih foto cincinnya…

Gimana? Geje ya? Aku juga ngerasa gitu. Maaf ya? Eh tapi btw, makasih buat para readers setiaku yang udah bersedia baca FF ini dari awal sampe akhir. Mini series kali ini lagi-lagi berakhir di part 9.

Sampai jumpa di FF mini series berikutnya ya? Kali aja 9 part juga… Hahaha…

Eh tapi aku mau minta maaf coz FF mini series yang ketiga ga bisa aku post dalam waktu dekat. Aku mau ngerjain FF ini sampe kelar dulu. Gpp kan ya?

Semoga aja aku masih sempet ngerjain FF2 yang lain. Mungkin one shot atau two shots… *bungkuk bareng all new mini series cast*

See you all… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s