[Series] Our Memories – Part 8

Peeermiiisiii… Aku datang lagi bawa part 8…

Hm… Bingung mau ngomong apa. Oh ya! Ini adalah part-part akhir. Udah deket ma ending nih. Seneng ga? Loh? Salah ya pertanyaanku? Lebih tepatnya 2 part terakhir. Jadi dimohon saran and kritiknya supaya bisa lebih baik di FF-FF yang akan datang. Hehehe…

Don’t forget to leave your comment or thumb! Gomawo…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Jong Hun PoV_

Aku terbangun dari tidurku. Rasanya kepalaku masih sakit. Aku membuka mataku perlahan. Tidak ada siapapun di ruangan ini.

“Oppa, kau sudah sadar?”

“Hye Jin? Hm… Nuguya?” ucapku menatap seseorang di sebelahnya.

“Oh, kenalkan dia temanku.”

“Lee Jae Jin imnida.”

“Choi Jong Hun imnida.”

“Manasseo bangapseumnida, hyung!”

“Sudah berapa lama aku pingsan?”

“Dari kemarin sore, oppa. Min Hae yang membawamu.”

“Min Hae? Dimana dia sekarang?”

“Dia ada di rumahnya. Kemarin dia menunggumu sampai malam. Tapi kusuruh dia pulang, bagaimanapun dia juga butuh istirahat.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Cincin itu. Ya, dimana cincin itu? Tiba-tiba aku merasakan jika ada sebuah benda melilit jari kelingking kiriku.

Dan benar saja, cincin itu ada di jariku.

“Waeyo, oppa?”

“Aniyo. Apa Min Hae akan kembali mengunjungiku hari ini.”

“Sepertinya. Apa kau mau aku hubungi Min Hae untuk memastikannya?”

“Tidak perlu. Biarkan saja dia mau datang atau tidak.”

“Baiklah. Aku ke kantin dulu ya? Aku mau sarapan. Kau mau aku belikan apa?”

“Terserah kau saja.”

“Kajja, Jae Jin ah~”

Selepas kepergian mereka berdua aku hanya bisa menatap langit-langit di kamarku. Aku telah menemukan sesuatu yang hilang itu. Min Hae. Dia lah yang telah hilang dari hidupku. Aku telah menemukan kembali ingatanku.

“Hye Jin ah~!”

Aku menoleh kea rah pintu. Min Hae. Dia datang.

“Hye Jin sedang membeli sarapan di kantin bersama dengan Jae Jin.”

“Jae Jin? Hm… Nuguya?”

“Kau tidak mengenalnya?”

Dia menggeleng pelan lalu duduk di sofa.

“Dia teman Hye Jin. Tapi sepertinya bukan sekedar teman.”

“Jeongmalyo? Tapi Hye Jin tidak pernah bercerita apa-apa padaku.”

“Belum mungkin. Akhir-akhir ini kan masalahku membuatnya repot juga.”

“Ah, ne. Kau benar!”

Hening. Aku dan Min Hae sama-sama terdiam.

“Min ah~ ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa yang kau lihat kemarin tidak sepenuhnya seperti yang kau pikirkan. Aku mungkin memang sering bermain-main dengan para wanita, tapi semua itu ada alasannya. Dari kecil aku hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Aku bahkan tidak lagi bisa mengingat wajah eomma-ku karena dia telah meninggal saat aku berusia satu tahun. Dan tanpa aku sadari aku merindukan sosok seorang ibu di hidupku. Ternyata para wanita itu menjadi pelarianku untuk mendapatkan perhatian dari wanita layaknya seorang ibu.”

“Sebelum ini, aku tidak tahu apa yang aku lupakan tapi yang jelas aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari diriku. Dan sekarang aku telah mengetahui apa yang hilang itu. Sesuatu yang hilang itu adalah kau, Min ah~.”

“Saat bersamamu ada sebuah perasaan untuk mengakhiri semua permainanku. Tapi aku acuhkan. Dirimu… Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku. Aku bingung.”

“Kau ingin aku menjawab apa, oppa? Aku bahkan tidak tahu harus berkomentar apa.”

“Tidak perlu. Aku hanya ingin menyampaikan yang sebenarnya saja. Asalkan kau tahu, itu sudah cukup.”

“Mianhae Min ah~.”

Mianhae karena aku tidak memberitahumu bahwa sebenarnya ingatanku telah pulih. Aku takut. Benar-benar takut kehilanganmu. Apa yang harus aku lakukan agar aku dapat memilikimu?

_PoV end_


_Lee Jae Jin PoV_

Hari ini aku memutuskan untuk menemani Hye Jin menjaga oppa-nya di rumah sakit. Entah kenapa aku jadi ikut peduli pada keluarga Hye Jin. Gadis yang sudah berhasil menarik perhatianku.

Aku dan dia sedang berjalan ke kantin bersama dengan Hye Jin. Sepertinya aku harus segera mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Hye Jin.

“Hye Jin ah~.”

“Ne?”

“Ikut aku!” ucapku lalu langsung menggandengnya, mengajaknya keluar rumah sakit.

“Ya! Kemana? Kau lupa kita harus membeli sarapan?”

“Nanti saja! Ada hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan!”

“Tapi?”

“Kau tenang saja. Min Hae pasti akan datang ke rumah sakit kan hari ini? Kau hubungi dia saja, minta tolong untuk hari ini saja.” Ucapku masih sambil menggandeng tangannya.

“Terserah kau saja lah.”

“Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”

Aku bergegas menuju ke tempat di mana motor-ku diparkir. Lalu kembali ke tempat Hye Jin menunggu.

“Pakai ini.” Ucapku padanya sambil menyerahkan helm.

“Kau bahkan sudah mempersiapkan helm?”

“Sudah pakai saja.”

“Pegangan yang erat ya?”

“Ya! Memang kau pembalap?”

“Sudah, turuti saja…” ucapku sambil menarik tangannya lalu melingkarkannya di pinggangku.

Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Aku memang tidak bermaksud untuk kebut-kebutan. Apalagi saat ini aku membonceng gadis yang berharga untukku. Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Aku memberhentikan motorku di sebuah taman hiburan. Aku menoleh sebentar ke arahnya, memperhatikan ekspresi wajahnya yang nampak begitu bersemangat. Syukurlah, sepertinya aku tidak salah memilih tempat.

Lagi-lagi aku menggandeng tangannya saat memasuki area taman bermain. Dia menoleh ke arahku lalu menatap tangan kami berdua yang saling terpaut.

“Dengan begini kita tidak akan terpencar.”

“Oh, arasho.”

Kami memainkan wahana yang ada satu persatu. Dia nampak begitu bahagia, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kadang dia tertawa lepas. Dan aku sangat menyukai tawanya.

Saat ini kami sedang istirahat, menikmati ice cream. Wahana di sini sungguh sangat banyak. tak terasa hari sudah siang, tapi bahkan kami belum memainkan separuh dari semua wahana yang ada di sini.

“Apa kau lelah?”

“Lumayan. Tapi ini sangat menyenangkan.”

“Aku senang jika kau senang.”

“Ne?”

“Tidak apa-apa.”

“Dasar aneh! Hahaha.”

“Masih mau lanjut bermain?”

“Tentu saja. Rugi kalau tidak memainkan semua wahana di sini. Aku jarang bisa kesini.”

“Baguslah kalau begitu.”

Tak terasa hari beranjak sore. Sebentar lagi matahari terbenam. Melewatkan waktu bersamanya benar-benar membuatku lupa waktu.

Satu-satunya wahana yang belum kami mainkan adalah bianglala. Sengaja memang, aku punya rencana untuknya.

“Terakhir, kita naik bianglala.”

“Ne, kajja!”

Bianglala mulai berputar. Sekali, dua kali. Tepat di putaran ketiga, saat aku dan Hye Jin berada di tempat teratas, bianglala berhenti berputar.

“Ya! Kenapa bianglala ini tiba-tiba berhenti?”

“Hye Jin ah~…”

“Ne? Kenapa wajahmu tiba-tiba menjadi serius?”

“No reul saranghae, Hye Jin ah~…” ucapku sambil menatap matanya lekat-lekat.

Dia diam. Tapi raut wajahnya nampak berubah. Seperti, menahan tawa? Ah sudahlah, aku akan tetap menunggu jawabannya.

“Na ddo, Jin ah~…”

“Ne?”

“Tidak ada siaran ulang, Jin.”

Menyadari perkatannya, reflek aku langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku memeluknya erat. Dia pun membalas pelukanku.

“Gomawo…”

“Tak perlu berterima kasih padaku, Jin ah~”

Aku melepas pelukanku lalu menyuruhnya untuk melihat ke arah barat. Melihat matahari terbenam bersama-sama. Aku mengalungkan tanganku ke pundaknya, sementara ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Tak kusangka kau sungguh romantis.”

“Dan kau sungguh tidak romantis, Hye. Aku tahu tadi kau menahan tawa kan saat mendengar pernyataanku?”

“Ne? Kau tahu? Ah, mian. Aku hanya sedikit geli melihat raut wajahmu yang mendadak serius tadi. Tapi aku senang kok.”

“Awas ya kalau kau berani mentertawaiku?”

“Tergantung.”

“Ya! Kau berani?”

“Siapa takut?”

Bianglala pun kembali berputar. Mengiringi kami yang tengah asik berdebat.

_PoV end_


_Choi Min Hwan PoV_

Hari ini noona akan menemani Jong Hun hyung karena tiba-tiba Hye Jin noona ada urusan. Semoga noona baik-baik saja.

Semua kelas sudah berakhir. Tapi aku malah memutuskan untuk ke kantin. Karena aku tahu di rumah pasti tidak ada makanan.

“Ya! Kali ini kau tidak bisa kabur!”

“NOONA???”

“Tidak perlu kaget begitu, bodoh!” ucapnya sambil menjitak kepalaku lalu duduk di sebelahku.

“Mau apa kau?”

“Aku? Ya makan lah.”

“Eh, noona…”

“Hm?”

“Aniyo… Tidak jadi.”

“Ya! Kau jangan membuatku penasaran begitu!”

“Baiklah, aku ingin bertanya padamu. Tapi jangan marah ya?”

“Tergantung…”

“Jangan, noona! Nanti kalau kau tergantung kau bisa mati!”

“Ya! Sekali lagi kau bercanda aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!”

“Ne, arasho…”

“Sebenarnya, apa alasan noona tidak menyukai noona-ku?”

“Ne?”

“Tidak apa-apa. Ceritakan saja, aku tidak akan memihak siapa-siapa.”

“Eopsoyo, Minari… Yang pasti, noona-mu tak punya salah apapun terhadapku.”

“Semua murni dari diriku sendiri. Perasaanku sendiri, pemikiranku serta keegoisanku semata. Aku hanya, iri padanya.”

“Iri? Waeyo?”

“Latar belakangku, mungkin semua orang akan berkata bahwa seharusnya aku bersyukur karena memiliki orang tua yang usahanya sangat sukses. Tapi pada kenyataannya, aku kekurangan kasih sayang. Mereka terlalu sibuk. Aku juga jadi susah mencari teman yang benar-benar tulus denganku. Bahkan banyak orang munafik yang aku temui, mereka berpura-pura baik hanya karena segan atau sekedar ingin mencari perhatian orang tuaku. Aku benci mereka semua.”

“Hidupku tak sesempurna yang orang-orang bayangkan. Mungkin aku bisa masuk ke kampus dengan mudah. Tentu saja bukan? Padahal aku bukanlah anak yang pintar seperti Min Hae. Aku tidak bisa memiliki banyak teman seperti Min Hae. Menyapa semua teman-teman sekelas. Aku seorang diri, Minan. Dan aku tidak suka. Aku ingin bisa menjadi seperti Min Hae. Hidupnya terlihat sempurna.”

“Kita tidak bisa melihat hidup seseorang hanya dari yang tampak, noona. Kau hanya belum tahu bahwa hidup noona-ku juga tidak sesempurna yang kau pikirkan.”

“Maksudmu?”

“Apa kau tahu, pria yang sangat dicintai oleh Min Hae noona melupakannya? Sama sekali tak mengenalnya lagi? Melupakan semua kenangan mereka berdua? Bisa kau bayangkan bagaimana perasaannya?”

“Jong Hun maksudmu? Dia? Amnesia?”

“Ne.”

“Menurutku. Tidak ada yang salah dengan seperti apa latar belakang kita. Tidak peduli kaya ataupun miskin. Tidak peduli memiliki orang tua lengkap atau yatim piatu. Semua akan kembali pada diri kita masing-masing. Kita ingin diperlakukan bagaimana oleh orang lain? Jika noona memilih langkah yang noona ambil sekarang, tentu saja itu kurang tepat. Noona hanya akan memposisikan diri noona dan orang lain pada keadaan yang tidak mengenakkan. Bersikaplah biasa saja, abaikan seperti apa orang tua noona. Noona adalah diri noona sendiri jadi bangunlah imej noona tanpa perlu mengkaitkan latar belakang.”

“Minari, aku tak menyangka kau bisa sebijaksana ini.”

“Terkadang, keadaan sulit akan membantu seseorang untuk menjadi lebih dewasa. Hwaiting, noona! Jadilah dirimu sendiri dan orang akan menghargai itu.”

“Anak pintar!” ucapnya sambil mengacak rambutku.

“Ya! Noona! Aku bukan anak kecil tahu! Berhenti mengacak rambutku!” ucapku sambil mengambil tangannya, lalu menariknya ke arahku sehingga wajahnya tepat berada di hadapanku sekarang. Aku dapat melihat perubahan ekspresinya yang sedikit takut dan… GUGUP!!!

“Mulai sekarang, jika kau ada masalah, berbagilah denganku. Arasho?”

Dia mengalihkan pandangannya dariku lalu memainkan sedotan di gelasnya.

“Arasho, nae babo dongsaeng ah~”

“Ya! Aku bukan dongsaengmu!”

“Tapi tetap saja kau lebih muda dariku!”

“Setidaknya tidak ada larangan untuk jatuh cinta pada wanita yang lebih tua bukan?”

“Mwo?”

“Ucapanku kemarin, apa kau masih mengingatnya?”

“Yang mana ya?”

“Semua.”

“Ingat. Waeyo?”

“Kalau aku memintamu untuk menjadi kekasihku, apa kau mau?”

“Berhentilah bercanda denganku, Choi Min Hwan.”

“Aku tidak sedang bercanda, Choi Soo Hyun.”

“Buang muka seriusmu itu! Aku tak sanggup menahan tawaku lagi!” ucapnya sambil menepuk pipiku singkat lalu tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

“Kau benar-benar ingin menjadi kekasihku?”

Aku menganggukkan kepalaku mantap.

“Oh… Arasho… Tunggu tiga bulan lagi. Aku akan memberimu jawaban resmi.”

“Mwo? Tiga bulan?”

“Ne. Aku ingin lebih mengenalmu terlebih dahulu. Oke tiga bulan ini anggap saja aku kekasihmu. Tak masalah. Tapi tiga bulan lagi, itu baru jawabanku yang sebenarnya.”

“Ya! Noona! Kenapa lama sekali? Satu minggu saja ya?”

“Shireo!”

“Noona…” ucapku merajuk.

“Kau itu orangnya tidak mudah dideteksi. Jadi waktu satu minggu tidak akan cukup, Minan!”

“Jahat!” ucapku lalu memalingkan wajahku.

“Minari… Kau marah? Jangan marah ya?” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku.

Aku berbalik ke arahnya dan langsung mengecup pipinya sekilas lalu kabur…

“MINAN!!! BERANI SEKALI KAU!!!”

_PoV end_


_Lee Hong Ki PoV_

“Hyung!”

“Jae Jin ah~ darimana saja kau?”

“Aku? Tentu saja kencan.”

“Kencan? Kau serius?”

“Tentu saja.”

“Jadi kau sudah menyatakan perasaanmu pada Hye Jin?”

“Ne. Dan dia menerimanya. Gomawo, hyung! Ini semua berkat kau.”

“Cheon manneyo, dongsaeng ah~”

“Oh ya, hyung! Kau tahu tidak jika Jong Hun hyung masuk rumah sakit lagi? Dan aku rasa Min Hae masih ada di sana sekarang.”

“Jong Hun? Dia sudah mengingat semuanya kah?”

“Eopso.”

“Kau tahu bagaimana kabar Min Hae saat ini?”

“Mollayo. Aku belum sempat bertemu dengannya tadi.”

“Oh ya, hyung! Sebenarnya bagaimana sih perasaanmu pada Min Hae? Kau sepertinya sangat memperhatikannya tapi tidak nampak bahwa kau ingin memilikinya.”

“Memang tidak. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Sama seperti Hae Jin.”

“Kalau begitu lekaslah mencari kekasih. Masa kau kalah denganku?”

“Ya! Lee Jae Jin! Kau sudah bosan hidup hah?”

– – – To Be Continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s