[Series] Our Memories – Part 7

Wohooo!!! Aku datang bawa part 7 neh… Siapa yang udah ga sabar pengen tahu lanjutannya??? Hayo??? Hehehe…

Tanpa banyak berbasa-basi dah, semoga part ini ga mengecewakan. Dengan segenap usaha aku lanjutin FF yang satu ini. Semoga next part ga terlalu lama jeda-nya. Ameeen…

Don’t forget to leave your comment or thumb! Gomawo…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Soo Hyun PoV_

“Karena… Kau tahu seial drama You’re beautiful kan?”

“Ne, tahu. Memang kenapa?”

“Kau tidak sadar jika Hongki oppa itu sangat mirip dengan Jeremy?”

“Mwo? Jadi kau menyukainya hanya karena wajahnya mirip dengan Jeremy?”

“Ne. Kau kan tahu aku sangat menyukai peran eremy di serial itu. Dan saat aku melihat Hongki oppa aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Ya! Noona! Itu bukan cinta namanya! Dasar!”

“Ya! Kau berani mengataiku hah? Cari mati kau!”

Aku berlari mengejar Seung Hyun yang sudah lebih dulu beranjak dari sofa dan berlari ke kamarnya.

BLAM!!!

Pintu kamarnya tertutup tapi aku langsung membukanya dan masuk ke dalam. Aku melihatnya sedang berbaring di tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Ya! Kau tidak perlu bersembunyi lagi!” ucapku sambil membuka selimut yang menutupinya. Tapi saat aku membukanya aku bukannya melihat Seung Hyun melainkan sebuah guling.

“Aku pergi dulu ya, noona?”

Aku mendengar sebuah suara dari arah pintu kamar, saat aku menoleh ia sedang tersenyum penuh kemenangan lalu menghilang begitu saja.

“YA! SONG SEUNG HYUN!!!”

“Ne, waeyo noona?” dia kembali melongokkan kepalanya melalui celah kecil yang dibuatnya.

“Ya!, kemarilah! Aku ingin bertanya.”

“Janji tidak akan memukulku?”

“Ne. Aku berjanji.”

Kami berdua duduk di atas tempat tidur. Dia langsung mengambil posisi tiduran sementara aku duduk di sebelahnya.

“Memang salah ya alasanku menyukai Hongki oppa?”

“Tidak salah noona. Tapi itu bukan cinta, hanya perasaan kagum.”

“Jinjja? Tapi aku tak suka melihatnya dekat dengan Min Hae.”

“Tentu saja! Itu artinya kau termasuk fans yang tidak rela jika idolanya memiliki kekasih.”

“Mwo? Kau bilang apa?”

“Iya, noona. Kita ibaratkan seperti itu saja. Karena jenis perasaanmu memang seperti itu. Kau tahu kan diluar sana banyak sekali fans-fans yang tak merelakan jika idola mereka memiliki kekasih. Aku sebenarnya kasihan pada mereka, mereka jadi terbebani dan tidak bisa mengejar kebahagiaan mereka sendiri.”

“Ya! Omonganmu terlalu berlebihan!”

“Aku ini pengertian tahu! Oh ya, noona bagaimana hubunganmu dengan Min Hwan?”

“Hubunganku dengan Min Hwan? Hubungan yang bagaimana maksudmu?”

“Ya hubungan antara pria dan wanita, noona. Kalian kan dekat. Bagaimana? Menyenangkan bukan bersama dengan pria yang lebih muda? Kalau saja aku bukan saudaramu aku jamin kau juga akan tergila-gila padaku, noona.”

“Jangan berkhayal terlalu tinggi!” ucapku sambil memukul kepalanya, membuatnya meringis karena sakit.

Aku beranjak dari tempat tidur lalu menuju pintu. Saat aku membuka knop pintu, Seung Hyun kembali bertanya padaku.

“Benar kau tidak memiliki perasaan apa-apa pada Min Hwan?”

“Berhentilah bertanya atau kupukul kau?”

“Kenapa kau galak sekali sih, noona?”

“Karena kau bodoh!”

Aku keluar dari kamar Seung Hyun lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Udara malam ini cukup menusuk. Dan sialnya aku lupa membawa jaket.

Aku menyusuri jalanan sekitar rumahku. Sudah lama tidak berjalan-jalan seperti ini. Tiba-tiba langkahku terhenti saat melihat seseorang di ujung jalan. Tidak salah lagi itu Choi Min Hwan. aku putuskan untuk menghampirinya.

“Ya! Sedang apa kau malam-malam di sini?”

“Noona? Kau sendiri?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan. Tidak menyangka akan menemukanmu di sini.”

“Menemukan? Kau kira aku apa, noona?”

“Hahaha… Mianhae…”

“Mau kutemani jalan-jalannya?”

“Boleh…”

Entah kenapa aku malah mengiyakan tawarannya menemaniku jalan-jalan. Aku kembali teringat dengan kata-kata Seung Hyun tadi.

“Min Hwan ah~…”

“Ne?”

“Bagaimana perasaanmu saat bersamaku?”

“Maksud noona?”

“Apa perasaanmu sama seperti saat bersama dengan noona-mu?”

“Tentu saja tidak, noona. Kalian dua orang yang berbeda. Dan perasaanku pada kalian juga berbeda. Jika Min Hae noona itu adalah noona kandung-ku. sementara kau???” ucapnya lalu tersenyum padaku. Senyum yang sangat mencurigakan.

“Perasaanku padamu tentulah seperti seorang pria pada wanita. Kau mengerti maksudku kan, noona?”

“Ya! Apa maksudmu? Jelaskan padaku!!!” aku berteriak. Karena usai mengucapkan itu ia sedikit berlari menjauh dariku.

Aku mengejarnya. Sial! Larinya cepat juga. Kemana perginya anak itu? Tiba-tiba aku merasakan ada yang menutupi mataku dengan tangan. Aku berusah melepaskannya dan langsung menoleh ke belakang.

“Noona…”

“Ya! Kau ini sebenarnya mau apa sih? Cepat jelaskan padaku maksud dari kata-katamu tadi.”

“Kata-kataku yang mana?”

“Tidak usah berpura-pura tidak mengerti!”

“Noona, kau galak sekali? Aku kan benar-benar tidak mengerti…” ucapnya sambil bergelayut di lenganku.

“Dasar manja!”

“Baiklah aku jelaskan. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Tapi yang pasti aku tidak pernah berusaha untuk menganggapmu sebagai noona-ku. Dan sepertinya perasaanku juga mengatakan hal yang sama. Perasaanku padamu sama sekali tidak bisa dibilang antara dongsaeng.”

“Saat pertama kali melihatmu. Jujur, aku sama sekali tidak takut padamu. Bahkan saat Seung Hyun mengatakan kau galak aku tak peduli. Dan saat aku tahu ternyata kau tidak menyukai noona-ku. Memang aku sempat khawatir tapi entah kenapa aku yakin kau tidak akan berbuat buruk pada noona-ku. Ya, setidaknya kau tidak akan menyakitinya dengan cara kasar. Semua itu membuatku tertarik padamu. Karena aku yakin dibalik semua sifatmu itu sebenarnya kau orang yang sangat lembut, noona.”

“Ya! kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau terkagum-kagum dengan kata-kataku barusan?”

“Ah… Aniyo… Aku hanya tak menyangka penilaianmu terhadapku begitu dalam. Gomawo…”

“Ne, chon manneyo. Hati-hati jangan terlalu lama melihatku, kau bisa jatuh cinta padaku nanti, noona.”

“Kau sendiri? Bukannya kau sendiri sudah jatuh cinta padaku?”

“Siapa bilang?”

Setelah itu ia berlari, lalu kemudian menoleh sambil menjulurkan lidahnya pdaku. Aish! Dia benar-benar menyebalkan! Lagi-lagi aku harus mengejarnya.

“MINAN!!!”

_PoV end_


_Oh Won Bin PoV_

Keesokan harinya…

Hari ini aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Jong Hun. Aku masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku memencet bel rumahnya. Tak lama kemudian pintu dibuka dan aku melihat gadis yang aku kenal sebagai adik dari Jong Hun, Hye Jin.

“Oh kau? Annyeong!”

“Ne, annyeong Hye Jin ah~”

“Masuklah…”

Aku masuk ke dalam lalu duduk di sofa setelah dipersilakan oleh Hye Jin. Ia pamit sebentar ke belakang dan kembali dengan dua gelas jus jeruk.

“Kau ingin bertemu dengan oppa?”

“Apa dia masih ada di rumah?”

“Ne. Dia bahkan masih ada di kamarnya. Entah sudah bangun atau belum.”

“Tidak usah kalau begitu. Aku juga kemari untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Jong Hun.”

“Oppa? Bukankah aku sudah pernah memberitahumu?”

“Ne. Tapi jujur aku masih bingung.”

Hm, begini Won Bin ssi. Oh atau boleh aku panggil kau oppa saja?” aku mengangguk.

“Beberapa waktu yang lalu, appa akhirnya berhasil menemukan oppa yang sempat hilang. Ya, kau tahu sendiri dia ada di Singapura bersamamu. Lalu kami mengetahui bahwa ia sebenarnya amnesia. Selang beberapa waktu saat dia berada di kampusku, aku tidak tahu apa penyebabnya tiba-tiba aku melihatnya terjatuh dan sepertinya kepalanya terbentur dengan keras. Dokter menjelaskan bahwa Jonghun oppa mengalami amnesia sebagian. Dan setelah aku perhatikan, ingatannya hanya sebatas 19 tahun usianya. Dia kembali ke masa sebelum mengenal Min Hae.”

“Min Hae… Gadis itu ya…”

“Kau mengenal Min Hae, oppa?”

“Aniyo. Hanya saja Jong Hun sering menceritakan tentang gadis itu. Bagaimana hari-hari mereka dan tentang bagaimana perasaannya pada Min Hae.”

“Perasaannya pada Min Hae?”

“Ne. Dia selalu mengatakan bagaimana pentingnya arti seorang Min Hae. Juga karena gadis itu telah mampu mengubah tabiat buruknya.”

“Jadi benar karena Min Hae oppa berubah? Tapi bahkan mereka bukanlah sepasang kekasih.”

“Jong Hun hanya takut. Saat ia menyadari perasaannya ia terlanjur tahu bahwa dia menderita kanker otak. Dia tidak ingin membuat Min Hae menjadi semakin sedih dengan status mereka nantinya.”

“Aku baru tahu, ternyata oppa sangat memperhatikan perasaan Min Hae.”

“Oppa-mu sangat mencintainya. Dan sayangnya dia amnesia, melupakan cintanya juga.”

“Lebih kasihan Min Hae. Aku tahu dia juga mencintai oppa tapi kini oppa malah melupakannya.”

“Mungkin saja Min Hae bisa membantu oppa-mu untuk memperoleh ingatannya kembali.”

“Min Hae?”

“Iya, bagaimanapun juga mereka memiliki kenangan dan perasaan tersendiri bukan?”

“Semoga saja. Nanti akan kubicarakan dengan Min Hae. Oh ya, sebenarnya aku penasaran. Apa kau begitu dekat dengan oppa-ku? Kalian bukannya baru saja saling mengenal?”

“Tentu saja dekat. Mungkin kami memang baru saja kenal, tapi itu bukan sebuah alasan untuk tidak bisa dekat kan? Aku dan dia bertemu setiap hari karena aku selalu berkunjung ke sana sekaligus untuk menemani appa-ku. Appa-ku adalah dokter Jong Hun.”

“Hye Jin ah~ kau tidak ada kuliah hari ini?”

“Jong Hun ah~”

“Oppa, kau sudah bangun? Kebetulan sekali, ini temanmu selama di Singapura datang. Kau temani dia ya? Aku berangkat ke kampus duluan ya?”

“Won Bin?”

“Ne, Won Bin. Kau masih tidak ingat padaku ya?”

“Kau ngobrollah dengan Won Bin oppa, siapa tahu dapat membantumu mengingat. Aku pergi dulu. Annyeong!”

_PoV end_

_Choi Min Hae PoV_

Hari ini aku berangkat ke kampus bersama dengan Minan. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan dongsaeng-ku satu ini.

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum terus daritadi?”

“Ah, aniyo noona. Aku hanya sedang senang.”

“Waeyo?”

“Kapan-kapan aku ceritakan deh!”

“Kenapa harus kapan-kapan?”

“Karena aku belum mendapatkan kepastian.”

“Dasar dongsaeng aneh!”

Tak lama aku dan Min Hwan sampai di kampus dan aku melihat Hye Jin di depan gerbang. Sepertinya menunggu seseorang.

“Aku turun di sini saja. Kau sendiri saja yang ke tempat parkir.”

“Arasho. Hati-hati noona…”

“Ne…”

Aku turun dari mobil lalu setengah berlari ke arah Hye Jin.

“Hye Jin ah~”

“Min Hae ah~ akhirnya kau datang juga.”

“Sudah lamakah?”

“Tidak juga. Oh ya, ada yang ingin aku ceritakan padamu.”

“Kita ke kantin saja ya?”

Setibanya di kantin, aku dan Hye Jin memesan minuman. Hye Jin pun memulai ceritanya. Jujur, aku kaget saat mendengar ceritanya. Apa benar Jong Hun oppa mencintaiku? Tapi pada kenyataannya dia melupakannku saat ini. Itu artinya dia juga telah melupakan cintanya padaku bukan?

“Won Bin oppa yakin kau mampu membantunya mengingat semua ingatan yang telah hilang itu.”

“Jeongmalyo? Bagaimana jika aku tidak bisa?”

“Setidaknya kau telah berusaha, Min Hae.”

“Baiklah, aku akan menemuinya nanti. Bisakah nanti kau membantuku mencari tahu dimana dia berada?”

“Pasti.”

Hari beranjak sore, semua kelas sudah selesai. Dan aku bergegas menuju tempat yang telah Hye Jin berikan padaku. Tadi Hye Jin sengaja mengirim pesan pada Jong Hun oppa untuk mengetahui keberadaaanya.

Café Black Nine. Aku belum pernah ke sana sekalipun. Karena aku dengar café itu sedikit mencurigakan. Tapi tak apa, setidaknya aku tahu bahwa di sana ada Jong Hun oppa. Aku pasti akan baik-baik saja.

Aku masuk ke dalam. Ya Tuhan! Kenapa tempat ini seperti club? Aku mencari-cari di mana Jong Hun oppa berada. Aku terus berjalan ke dalam. Bau rokok dan alkohol sangat menyengat. Membuatku pusing dan mual.

Akhirnya aku melihat sosoknya. Aku mendekatinya. Rupanya ia sedang ‘bersenang-senang’ di sini. Dua orang wanita berada di sisinya, dalam rangkulannya. Aku sungguh muak melihat pemandangan ini dan mataku terasa panas. Oh Tuhan jangan biarkan aku menangis. Aku mohon.

“Oppa…”

“Min ah~???”

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Café Black Nine. Ya, di sinilah aku sekarang berada. Setelah tadi Jessica menyuruhku untuk ke tempat ini. Well, here we go again… Saatnya bersenang-senang.

Oh Won Bin. Pria tadi yang mengaku sebagai temanku saat berada di Singapura. Aku sungguh tak mengingatnya, tapi sepertinya apa yang ia katakan benar. Aku telah kehilangan memori yang sangat berharga untukku. Karena sejujurnya aku merasakan memang ada sesuatu yang hilang dari diriku dan aku tidak tahu apa itu.

Jessica dan Sunny sudah menungguku di kursi kebanggan mereka. Sambil mengulas sebuah senyum yang sebenarnya tidak terlalu aku sukai.

Aku duduk di antara mereka berdua. Dan mereka seperti biasa, bertingkah sangat menyebalkan. Jujur, sebenarnya aku tidak nyaman dengan semua ini. Aku melakukan semua ada alasannya. Alasan yang hanya aku sendiri yang tahu.

“Oppa…”

Sepertinya suara itu ditujukan untukku. Dan suara ini, panggilan seperti ini…

Aku mendongakkan kepalaku untuk melihatnya.

“Min ah~???”

Dia langsung berlari menuju pintu. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari mengejarnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa aku harus mengejarnya.

“MIN AH~!!!”

Aku berteriak memanggilnya, berharap ia akan berhenti. Sebenarnya aku pun tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Tapi yang pasti ada perasaan yang mengatakan bahwa aku harus menjelaskan semuanya padanya.

“MIN AH~!!!”

Akhirnya aku berhasil memperkecil jarak di antara kami. Aku memegang lengannya lalu menarik tubuhnya agar menghadap padaku. Aku melihat ada air mata di wajahnya. Kenapa dia menangis? Ia berusaha melepaskan tangannya dariku tapi aku malah mencengkeramnya semakin kuat. Kulihat dia sedikit kesakitan, akhirnya aku melepaskan tangannya.

“Aku mundur.” Ucapnya sambil menatap mataku tajam.

“Apa maksudmu?”

“Aku mundur. Aku akan berhenti berusaha dan berharap. Karena semua percuma!”

Usai itu dia melepaskan cincin di jarinya lalu melemparkannya padaku. Lalu pergi meninggalkanku.

“YA! MIN AH~ KAU HARUS MENDENGARKAN PENJELASANKU TERLEBIH DAHULU!”

Aku mengambil cincin yang ia lemparkan. Kilasan-kilasan memori seolah berkelebat di pikiranku. Tidak! Kepalaku sakit sekali. Argh! Aku terus mengerang kesakitan. Berusaha memijat kepalaku.

“MIN AH~ TOLONG AKU! KEPALAKU SAKIT SEKALI!!!”

Aku mendengar suara derap kaki mendekat ke arahku. Apa dia kembali? Min ah~…

“Oppa, gwaenchanayo???”

“Min ah~…”

Aku memeluknya erat. Lalu semua tiba-tiba gelap.

– – – To be continue – – –

NB : Eh, mau cerita bentar… Aku baru aja pulang dari pasar malam loh… Trus tadi sempet naik bianglala juga… Hahaha… *sadar umur woi!*

Yang pasti aku seneeeng banget, akhirnya bisa naik bianglala lagi setelah sekian lama…

Yeay!!! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s