[Songfic] I Wanna Grow Old With You

Aaalooohaaa… Aku datang bawa FF baruuu… Jenis yang baru juga… Kali ini aku coba buat songfic. Karena ini songfic pertama, semoga ga mengecewakan yah. Aku agak bingung bikin songfic, ga pernah soalnya. Baca juga jarang. Hehehe…

Don’t forget to leave your comment or thumb! Thank you… ^_^

♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥   ♥

Title : I Wanna Grow Old With You

Author : neys

CAST

Cho Kyu Hyun ♥ Choi Hae Won

Song : Westlife – I Wanna Grow Old With You


Another day…

Without your smile…

Aku duduk di dekat jendela kamarku. Memandang langit biru yang terbentang luas di atas sana. Satu tahun sudah aku tak melihat wajahnya. Tak melihat senyumnya. Aku merindukan dirinya.

Aku mengambil handphone-ku. Menggunakan speed dial no 1-ku. Lalu menunggu jawaban dari seberang sana.

“Kyu…”

“Baby… Kau sedang apa?”

“Aku? Aku sedang mengerjakan tugas kuliahku. Why, Kyu?”

“Kau masih mengerjakan tugas kuliah? Bukankah di sana sekarang sudah malam?”

“Memang, tapi tugasku belum selesai. Banyak sekali.”

“Andai saja aku bisa membantumu. Andai saja aku ada di tempat yang sama denganmu sekarang.”

“Sudahlah, tak apa. Kita kan sama-sama sedang berjuang untuk masa depan.”

“Aku benar-benar merindukanmu.”

“Aku juga. Oh ya, kau sedang apa? Jangan bilang kau baru saja bangun tidur?”

“Hahaha. Kau memang yang paling tahu. aku memang baru bangun tidur. Lalu langsung meneleponmu. Karena tiba-tiba saja aku merindukanmu.”

“Aaa! Kau gombal sekali!”

“Aku serius, baby. Sudahlah kau kerjakan saja tugasmu. Aku tidak mau membuatmu tidur semakin malam.”

“Baiklah. Aku tutup ya? Selamat beraktifitas, Kyu! Saranghae!”

“Na do saranghae…”

Aku menutup telepon dengan perasaan bahagia. Meneleponnya adalah cara yang paling ampuh untuk menaikkan mood. Hanya dengan mendengar suaranya aku dapat kembali bersemangat.

Another day…

Just passes by…

Aku mengambil jaketku lalu keluar dari apartment. Bergegas menuju ke kampusku. Satu hari lagi aku lewati tanpa dia di sisiku. Setelah selama sekian tahun selalu berada di sisinya. Selalu bersekolah di sekolah yang sama selama 14 tahun. Dan menjadi sepasang kekasih sejak 4 tahun yang lalu.

Satu tahun berlalu. Hari demi hari yang harus aku lewati tanpa dirinya. Aku melewatinya begitu saja.

But now I know…

How much it means…

For you to stay…

Right here with me…

Aku masih tak percaya jika akhirnya dia memilih untuk menerima beasiswa di New York itu. Dan memutuskan untuk berada di tempat yang sangat jauh denganku selama beberapa tahun.

Satu tahun sudah terlewati. Masih ada beberapa tahun lagi yang harus kita lalui. Aku akan bertahan. Selalu menunggunya untuk dapat bersama kembali.

Aku mencintainya dan jujur satu tahun tanpanya di sisiku membuat sebagian dari hidupku hilang, terbawa olehnya ke negeri nun jauh di sana. Betapa sekarang aku tahu arti kehadirannya di hidupku. Dia selalu saja membawa dampak yang besar bagiku.

“Hey! Melamun lagi?” seseorang menepuk pundakku.

“Oh, kau? Ada apa?”

“Tidak ada. Sedang menunggu kelas dan tidak sengaja melihatmu di sini yang lagi-lagi sedang melamun.”

“Memang aku sering melamun ya?”

“Terlalu sering malah.”

“Benarkah? Aku benar-benar tidak menyadarinya.”

“Sebegitu pentingkah kekasihmu itu? Dia tak berada di sisimu saja sudah berhasil membuatmu linglung.”

“Keberadaannya di sisiku itu sangat berarti untukku.”

The time we spent apart will make our love grow stronger…

But it hurt so bad I can’t take it any longer…

Tidak ada dirinya di dekatku tidak lantas membuatku melirik yeoja-yeoja lain. Bukan karena tidak ada yeoja yang menarik tapi aku karena hatiku memang sudah tertambat pada hatinya. Dan sudah tidak mungkin lagi berpindah ke lain hati.

Aku percaya padanya dan diapun percaya padaku. Mungkin ini adalah sebuah ujian dari Tuhan untuk semakin meningkatkan kualitas hubungan kami. Karena kami berdua belajar untuk saling mempercayai pasangan kami masing-masing.

Tapi sungguh keadaan ini juga menyakitkan. Di saat aku membutuhkannya, dia tidak bisa menemaniku. Begitupun dengan diriku. Jujur kadang itu membuatku merasa bersalah karena tidak bisa membantunya juga dengan dirinya yang terus-terusan meminta maaf jika dia tidak bisa menemaniku disaat aku membutuhkan seseorang.

Mampukah aku bertahan lebih lama? Aku benar-benar merindukannya. Dan aku benar-benar menginginkannya untuk selalu berada di sisiku. Seperti sebelum-sebelumnya. Dia adalah seseorang yang aku tak bisa hidup tanpanya.

I wanna grow old with you…

I wanna die lying in your arms…

I wanna grow old with you…

I wanna be looking in your eyes…

Aku duduk di tempat tidurku. Memegang album foto lalu mengamati setiap foto satu persatu. Fotoku bersama dengan Hae Won. Gadis yang tumbuh besar bersamaku. melewati setiap fase kehidupan bersama-sama. Mulai dari bangku taman kanak-kanak hingga lulus SMA. Aku melihat perkembangannya, melihat perubahan-perubahannya.

Aku selalu berada di sisinya. Tidak membiarkan seorang pria pun untuk mendekatinya. Tidak membiarkan dia menjadi milik orang lain. Aku tidak rela dan tidak akan pernah merelakannya untuk orang lain.

Dan sekarang aku ingin untuk terus hidup bersamanya. Menjadi tua pun bersama-sama. Saling mendukung satu sama lain. Hae Won ah~ bogoshipo…

“Kyunnie… Apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku menoleh kea rah suara berasal. Eomma-ku sedang berjalan ke arahku lalu duduk di sebelahku. Membelai rambutku pelan. Aku tersenyum padanya.

“Eomma tahu, kau pasti sedang merindukan Hae Won bukan?”

“Ne, eomma. Aku sangat merindukannya. Bagaimana eomma bisa tahu?”

“Tentu saja. Kau kan anak eomma. Lagipula bagaimana eomma tidak tahu, kau memandangi fotonya terus. Apa kau mau berkunjung ke sana? Memberinya kejutan mungkin?”

“Apakah boleh?”

“Kenapa tidak?”

“Gomawo, eomma…” ucapku lalu langsung memeluk eommaku ini. Dia memang yang paling mengerti diriku.

I wanna be there for you…

Sharing everything you do…

I wanna grow old with you…

“Baby… Bogoshipo…”

“Na ddo, Kyu ah~”

“Kau sedang apa?”

“Aku sedang menyusun anggaran untuk acara kampus yang akan diadakan beberapa bulan lagi.”

“Jangan terlalu sibuk, aku tidak mau kau sakit. Kau kan tinggal sendirian di sana.”

“Ne, tenanglah… Aku akan menjaga kesehatanku. Kau sendiri sedang apa?”

“Aku baru saja memandangi foto-foto kita.”

Aku mendengar dia tertawa. Tawa yang sangat aku rindukan. Aku ingin melihatnya secara langsung.

“Ya! Kenapa kau tertawa?”

“Tidak. Hanya saja aku tidak menyangka kalau kau begitu merindukanku, Kyu.”

“Tentu saja. Jeongmal bogoshipoyo.”

“Ara… Ara… Semoga saja liburan berikutnya aku bisa pulang.”

“Ne. Kau harus pulang liburan berikutnya. Liburan barusan kau tidak bisa pulang gara-gara menemani temanmu bekerja part time.”

“Tahun ini tidak lagi kok. Waktu itu kan masih tahun pertama jadi dia takut jika harus sendirian.”

“Janji?”

“Mollayo, Kyu. Aku tidak berani berjanji. Hm… Begini saja, aku janji tidak akan bekerja part time lagi liburan berikutnya. Tapi aku tidak menjamin jika ada hal-hal lain yang tidak bisa aku prediksi sebelumnya.”

“Kalau begitu aku saja yang menyusulmu. Aku akan membantumu menyelesaikan apa saja yang menghadangmu untuk pulang.”

“Ya! Kyu! Kau benar-benar membuatku senang dengan kata-katamu.”

“Kau harus memberiku hadiah saat kita bertemu nanti.”

“Pasti…”


A thousand miles between us now…

It causes me to wonder how…

Our love tonight remains so strong…

It makes our risk right all along…

Aku menutup telepon dengan perasaan sangat berbunga-bunga. Jarak yang memisahkan kami berdua, tidak peduli seberapa jauh, aku percaya bahwa hatiku dan hatinya telah menjadi satu. Bahkan beda waktu belasan jam takkan mampu membuat kami untuk menyerah akan keadaan.

Aku harap dia merasakan hal yang sama denganku. Akan tetap memperjuangkan hubungan ini dan tetap manjaga cinta kami berdua. Keberadaannya di negeri nun jauh di sana sebenarnya sangat membuatku khawatir. Pergaulannya, budayanya sungguh berbeda dengan di Korea. Aku takut dia terpengaruh dan tidak lagi menjadi Hae Won-ku.

Aku juga tahu dengan LDR seperti ini membuat kami tidak saling tahu apa saja yang kami lakukan. Ada internet, handphone. Tapi tentu tidaklah sebanding dengan jika kita berada di tempat yang sama bukan? Aku bukannya curiga. Aku hanya takut.

Things can come and go I know but…

Baby I believe…

Something’s burning strong between us…

Makes it clear to me…

Dua bulan berlalu dan rindu ini kian menjadi-jadi. Dan sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku. Kuliah libur satu minggu. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk mengunjungi Hae Won di New York. Tunggu aku, baby…

Aku menginjakkan kakiku di New York. Saat aku sampai jam menunjukkan pukul 10 pagi. Dan setahuku Hae Won berada di kampus. Langsung saja aku memanggil taksi lalu menuju ke kampusnya.

Aku mencari-cari keberadaannya. Cukup lama berputar-putar tanpa arah yang jelas, karena aku tidak mengenal tempat ini. Dan akhirnya aku menemukan sosoknya. Dia tengah…

BERPELUKAN DENGAN NAMJA LAIN???

Ya Tuhan! Bukan pemandangan ini yang ingin aku lihat. Bukan dalam keadaan seperti ini aku ingin melihat dirinya. Terlebih tidak dengan semua perasaanku ini.

Apakah aku harus mendekatinya? Memanggilnya dan bersikap seolah itu hanya hal biasa di Negara barat seperti New York? Atau haruskah aku pergi meninggalkan tempat ini?

Aku bingung! Benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku terdiam di tempat cukup lama sampai akhirnya aku melihat Hae Won melepas pelukannya lalu menjabat tangan pria itu dengan senyum tulusnya itu. Senyum yang aku inginkan hanya menjadi milikku seorang.

Aku masih berdiri di tempatku saat akhirnya dia melihat ke arahku lalu kemudian terlihat sangat kaget menyadari keberadaanku. Aku melihatnya berbicara pada pria itu. Lalu berlari sambi tersenyum riang padaku. Dan dengan mudahnya aku membalas senyumannya seolah lupa akan apa yang baru saja aku lihat.

“Kyu!!!” panggilnya dan langsung menghambur ke pelukanku. Tubuh hangat ini, tubuh yang baru saja dipeluk oleh pria lain. Satu-satunya pria lain yang aku ketahui telah memeluk gadisku ini.

Ia mendongakkan kepalanya tenpa melepas pelukannya padaku.

“Kenapa diam saja? Tidak ingin memelukku dan mengatakan, aku merindukanmu baby… Aku piker kau akan berbuat begitu tapi rupanya aku yang terlebih dahulu memelukmu.”

Aku memeluknya erat. Aku tahu tidak seharusnya aku curiga padanya. Aku yakin ada alasan mengapa dia dan pria tadi berpelukan.

“Aku hanya terlalu bahagia dapat melihatmu lagi, baby…”

Ia melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum sangat manis. Menyibakkan rambut yang menutupi dahiku.

“Kau tidak berubah. Tetap Cho Kyu Hyun-ku yang tampan dan aku cintai.”

“Berhenti membelai wajahku. Kau lupa di sini banyak orang?” ucapku sambil mengambil tangannya dari wajahku lalu menggenggamnya.

“Hahaha. Kau berlebihan, Kyu! Oh ya, ayo kukenalkan kau pada sahabatku. Sepertinya kita akan makan gratis siang ini, Kyu.” Ucapnya lalu menarik tanganku. Dan… Berjalan ke arah pria tadi.

“Wae?”

“Dia baru saja memenangkan sebuah olimpiade. Olimpiade yang sudah lama ia tunggu-tunggu.”

Cinta memang takkan pernah salah…

I wanna grow old with you…


.F.I.N.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s