[One Shot] I Got You Back (I Let You Go just because I Love You‘s Sequel)

Wohooo!!! Adakah yang menantikan FF-ku yang satu ini??? Akhirnya bisa nyelesein ni FF satu. Setelah mengalami perombakan ending, abis ga sreg ama ide awal. Pas lagi ngetik tiba-tiba  ada inspirasi yang lain lewat, ya udah tak samber… *ngomong opo toh kowe, thor?*

Don’t forget to leave your comment or thumb! Xie-xie…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Title : I Got You Back

Author : neys

CAST

Yan ya Lun ♥ Wang Xing Ai

Wang Dong Cheng (Da Dong)

Wu Mei Xing & Chen Li Xia

Previous story : Leave Me in The Rain, I Let You Go just because I Love You

Aku masih terus menangis, memandangi punggungmu yang semakin menjauh. Kenapa kau memutuskan untuk pergi, Xing Ai? Kau benar-benar memutuskan hubangan kita?

Dia bilang apa? Demi kebaikan orang yang kita sayangi? Aku bahkan tidak merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak bahagia, dan aku yakin dia pun tidak bahagia dengan keadaan seperti ini.

Satu tahun Xing Ai. Hanya satu tahun lagi, tapi kau memilih untuk mengakhiri semua ini dengan caramu sendiri. Tidak adakah lagi pintu yang terbuka, menyisakan celah dan memberiku kesempatan untuk masuk?

Tapi satu hal, Xing Ai! Kau akan selalu memiliki ruang tersendiri di hatiku. Ruangan yang tak mungkin lagi diisi oleh orang lain selain dirimu.

* * * * * * *

Perpisahan ini sungguh terasa menyakitkan. Dan pada kenyataanya, hatiku tidaklah sejalan dengan kata-kataku tadi. Aku benar-benar mencintainya dan tak ingin berpisah darinya. Tapi memang inilah jalan yang terbaik untuk kami berdua. Setidaknya ia tidak lagi harus bekerja terlampau keras seperti beberapa waktu belakangan ini. Ia juga tidak perlu lagi melewati hari-harinya dengan diliputi rasa takut atas keselamatan dirinya, keluarganya serta diriku. Dan dia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak setelah ini.

Satu hal yang perlu aku lakukan saat ini adalah memulihkan hatiku dan melupakannya. Aku harap waktu bersedia kompromi denganku. Bisakah aku meminta supaya aku berhasil melupakannya segera?

Teman? Omong kosong dengan kata-kata itu! Jelas-jelas aku mencintainya. Mana mungkin aku masih bisa bertahan di sisinya dengan status yang tidak kuharapkan itu?

Ya Tuhan! Jika memang Kau tak mengijinkan aku untuk bersamanya, kumohon Bantu aku untuk menghapus rasa ini dari hatiku. Aku tidak akan sanggup melihatnya bersama dengan wanita lain jika perasaan yang ada dalam diriku masih seperti ini.

Aku membuka pintu rumahku ragu. Aku yakin Da Dong ge sudah ada di rumah dan jika dia melihatku dalam keadaan seperti ini? Dia pasti sangat khawatir. Haruskah aku menambah bebannya dengan keadaanku sekarang?

“Xing Ai! Ni lai le ma? Ni qu zai nar?”

“Shi, ge. Aku hanya keluar untuk bertemu teman tadi. Lupa membawa payung dan kehujanan deh.”

“Zhen de ma? Matamu kenapa? Kau kelihatan seperti baru menangis.”

“Mei you a, ge. Wo mei shi.”

“Ceritakanlah padaku, Xing Ai. Setidaknya itu akan membuat perasaanmu menjadi sedikit lebih lega.”

Aku hanya menggeleng pelan lalu berjalan menuju kamarku. Usai mandi aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur, tak lama air mataku kembali jatuh. Aku menangis mengingat semuanya.

Tak lama aku mendengar pintu kamarku dibuka. Aku tak menghiraukannya. Aku yakin itu adalah Da Dong ge. Aku menelungkupkan wajahku ke bantal dan masih tidak bisa menghentikan tangisku.

Aku dapat merasakan ada tangan yang membelai rambutku dengan lembut. Rasanya sangat menenangkan. Aku mengangkat tubuhku perlahan lalu langsung menghambur ke pelukan Da Dong ge. Aku bisa merasakan tangan Da Dong ge yang mengusap-usap punggungku.

“Menangislah. Luapkan semua yang kau rasakan, Xing Ai.”

“Ge…”

Aku melepaskan pelukanku. Lalu menatapnya lekat-lekat. Aku memutuskan untuk menceritakan semuanya. Ada gurat kaget di wajahnya saat mengetahui yang sebenarnya. Aku tahu ia juga terkejut, karena dulu Da Dong ge juga dekat dengan Ya Lun ge. Tidak hanya aku yang kehilangan Ya Lun ge tapi juga Da Dong ge.

“Gege rasa keputusanmu itu sudah benar. Gege percaya suatu hari nanti kalian akan menemukan kebahagiaan kalian. Dengan atau tanpa bersama lagi.”

“Xiexie, ge.”

“Sekarang istirahatlah. Lupakan semua hal yang telah membuatmu menangis dan sakit hati. Songsong hari esok dengan semangat yang baru. Jia you, Xing Ai!”

Aku menganggukkan kepalaku mantap. Ya, mulai besok tidak akan ada lagi Wang Xing Ai yang meratapi nasib dan selalu menangis karena bersedih. Tidak akan ada lagi Wang Xing Ai yang terus mengingat-ingat masa lalunya dengan seseorang bernama Yan Ya Lun. Mulai esok, hanya akan ada sosok Wang Xing Ai yang selalu tersenyum dan menatap masa depan tanpa keraguan. Jia you, Xing Ai!

* * * * * * *

Enam bulan berlalu. Dan semenjak hari itu aku tak pernah melihatnya. Tak lagi melihat senyumnya. Tak lagi mengetahui kegiatannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Aku harap dia baik-baik saja. Sementara aku? Aku masih dengan semua kegiatanku. Dengan semua usahaku untuk mengumpulkan uang. Aku akan tetap berjuang.

Aku tak lagi muncul di hadapannya. Aku tak ingin lagi mengusik hatinya sampai aku benar-benar berhasil lepas dari semua ini. Meski sejujurnya aku sangat merindukannya. Merindukan semua yang ada pada dirinya.

Hari ini aku sengaja mengosongkan semua jadwal kerjaku. Aku ingin istirahat sejenak, melepas penat dengan berjalan-jalan. Sudah lama aku tidak berkeliling kota dengan berjalan kaki seperti ini. Langkahku terhenti saat aku melihatmu berjalan ke arahku. Dirimu kini sedikit berbeda. Kau memakai sebuah kacamata coklat serta topi berwana senada yang menghiasi rambut di kepalamu.

Semakin dekat, tapi aku bahkan belum beranjak sama sekali dari tempatku. Apa kau melihatku, Xing Ai? Apa kau akan berhenti lalu menyapaku? Atau setidaknya, tersenyum?

Kau lewat begitu saja tanpa menoleh sama sekali kepadaku. Sakit, Xing Ai.

The scenery here is called “once loved”
Once existed your caress and gentleness
Tearing the ticket stub, wandering alone
The price is the anguish of missing you

You said be friends but we are not friends
We are more unfamiliar with each other than strangers
After rebuilding the ruins of my emotions
Who will come visit occasionally?

I stand at the road of memories
Walking into the loneliness of my left chest
Naked disappointment, transparent pain
I can’t say I am tired is because I am too fragile

I follow fate’s arrow, helplessly
Inexorably moving on to the next person’s warmth
I haven’t loved you enough, yet you want me to let go
In time’s secret garden, you never left

I say I love you too freely
So freely, it’s like I am just saying it without meaning it
I never loved the future scenery
I only miss your everything

No matter how I love and miss you, it’s all became only memories
All they can see is a fake calm

…Fahrenheit – Ji Mo Bao Zou/ Bursting Loneliness…


Benarkah kau tidak melihatku, Xing Ai?

* * * * * * *

Aku melihatmu. Aku melihatmu dari jarak yang sangat dekat. Aku tahu kau melihatku. Maafkan aku yang bersikap seolah tak melihatmu meski sebenarnya aku sangat ingin menatapmu lebih lama lagi.

Kau tak berubah. Masih seperti terakhir kali aku melihatmu di taman itu. Masih Ya Lun ge-ku. Dan kau nampak baik-baik saja. Bagaimana kehidupanmu sekarang? Apa kau tahu bahwa sekarang aku sedang berusaha untuk mewujudkan impianku menjadi seorang penulis ternama? Apa kau tahu bahwa aku sudah menyelesaikan kuliah sastra-ku? Dan, apa kau tahu bahwa novel pertamaku telah beredar di pasaran? Novel yang menceritakan tentang kita. Tentang awal perjumpaan kita. Tentang masa-masa indah kita. Tapi juga tentang kejadian malam itu. Perpisahan yang tak jelas.

Dan sekarang, tahukah kau? Aku sedang menulis novel yang baru. Lanjutan dari novel pertamaku itu. Aku tidak menyangka sambutan masyarakat begitu baik. Novel pertamaku sudah beberapa kali dicetak ulang. Dan atas permintaan pembaca-lah akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkannya. Meski sebenarnya aku benar-benar tidak sanggup untuk menceritakan kisah kita yang ini. Kisah kita yang telah usai.

Saat melewatimu aku melajukan langkahku lebih cepat. Berjalan sambil menahan air mata yang tumpah agar tak semakin menyeruak. Kenapa hati ini masih terasa sakit? Sudah 6 bulan berlalu tapi mengapa perasaan ini bahkan tak berubah sedikitpun.

Aku masuk ke sebuah café, di sana aku melihat Mei Xing dan Li Xia sudah duduk menungguku.

“Maaf aku terlambat.” Ucapku lalu duduk di hadapan mereka.

“Mei guan xi. Tunggu, kau baru saja menangis, Xing Ai a?” tanya Li Xia padaku.

“Mei you a. wo mei shi.”

“Xing Ai a. Xiang xin wo men. Wei shen me?” kali ini Mei Xing yang bertanya padaku.

“Tadi aku melihatnya.”

“Shi shei? Ya Lun ge ma?”

“Shi. Shi ta.”

“Kalian sempat ngobrol”

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Aku bahkan berpura-pura tak melihatnya meski aku tahu dia sedang menatapku.”

“Xing Ai a~…”

“Kau yakin dengan keputusanmu tempo hari? Kalian bisa berjuang bersama-sama?”

“Itu berbahaya. Aku tidak bisa melihatnya hidup dalam sebuah ancaman. Aku tidak ingin nyawanya menjadi sebuah taruhan atas hubungan kami.”

“Pria itu belum tentu akan membunuh Ya Lun ge bukan?”

“Belum tentu tidak berarti tidak kan?”

“Setidaknya jangan bersikap seperti ini, Xing Ai. Dia akan semakin tersiksa.”

“Aku hanya ingin membantunya melupakan perasaannya padaku.”

“Ayolah, Xing Ai. Kau juga mengalami hal serupa dengannya. Lalu bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Apa kau tidak lagi mencintainya?”

“Aku masih mencintainya.”

“See? Jadi apa yang kau lakukan itu sia-sia.”

“Wo ye bu zhi dao. Tapi rasanya aku tidak akan bisa menahan perasaanku lagi jika aku harus terus berdekatan dengannya. Akan semakin sulit untuk merelakannya dengan wanita lain.”

“Wo zhi dao le. Jia you Xing Ai a~!!!”

“Shi. Jia you!”

“Semoga kalian berdua mendapatkan yang terbaik. Tapi rasanya aku masih yakin kalau sebenarnya kalian berdua itu berjodoh.”

“Xiexie ni men. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi besok bukan?”

* * * * * * *

Hampir satu tahun berlalu semenjak perpisahanku dengan Xing Ai. Dan aku masih belum bisa mencintainya. Aku malah semakin menyayanginya layaknya seorang kakak. Terlebih dengan keadaannya sekarang. aku baru tahu mengapa pria itu untuk cepat-cepat menikah dengan putrinya. Hal itu disebabkan oleh penyakit yang diderita oleh putrinya. Leukemia.

Hari ini adalah jadwalnya untuk ke rumah sakit. Keadaannya sudah kian parah. Dan pria itu untuk menikahi putrinya dua bulan lagi. Dua bulan lagi? Aku rasa uangku akan cukup tak kurang dari dua bulan lagi. Tapi rasanya tak tega harus meninggalkannya dalam keadaan sakit seperti ini. Aku harus bagaimana?

Sambil menunggu proses chemotherapy aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Aku masuk ke sebuah toko buku. Di sana aku melihat sebuah poster yang membuatku terkejut. Wang Xing Ai? Penulis novel? Novel keduanya akan segera dilaunching? Kedua?

Aku berjalan menghampiri pelayan toko buku tersebut. Menanyakan di rak mana aku bisa mendapatkan novel pertama Xing Ai.

“Wah, novel itu sangat laris. Sudah beberapa kali dicetak ulang. Sebentar.”

Tak lama dia kembali dengan menenteng sebuah novel. Benarkah Xing Ai telah berhasil menggapai impiannya?

“Anda beruntung. Ternyata novel ini tinggal satu.”

“Xiexie.”

Aku berjalan kembali ke rumah sakit. Aku duduk di ruang tunggu. Lalu mengamati novel yang saat ini sudah ada di tanganku. Novel ini tidak terlalu tebal. Sebuah novel karya Wang Xing Ai. Judulnya, Leave Me in the Rain.

DEG!

Ada sebuah perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul. Firasatku mengatakan bahwa novel ini menceritakan tentang dia dan aku.

Aku memutuskan untuk membacanya. Lembar demi lembar. Perasaanmu tergambar dengan jelas melalui tulisan-tulisan ini, Xing Ai. Terkadang aku tersenyum sendiri membaca kejadian-kejadian yang kau ceritakan dalam novel ini. Aku merindukan masa-masa itu, Xing Ai.

Sampai akhirnya di bab terakhir. Aku hampir tak sanggup untuk melanjutkan membaca. Air mataku sudah benar-benar tak bisa ditahan. Aku menangis membacanya. Maafkan aku untuk kejadian waktu itu, Xing Ai. Aku benar-benar minta maaf.

Aku menutup novel yang sudah selesai aku baca. Mengusap air mataku yang masih membasahi wajahku. Lalu berusaha menenangkan diriku. Aku tidak mungkin menemuinya dalam keadaan seperti ini.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Launching novel keduanya? Xing Ai…

* * * * * * *

Aku sudah menyelesaikan novel keduaku. Sejujurnya sangat berat saat aku harus kembali mengingat-ingat setiap kejadian yang sungguh menyakitkan itu. Tapi syukurlah, akhirnya aku berhasil.

Hari ini adalah jadwal launching novel keduaku. Aku sangat bahagia akhirnya aku benar-benar menjadi seorang penulis yang diterima oleh para pembaca. Kuharap mereka tidak memintaku untuk kembali meneruskan kisah novel ini karena tidak ada lagi yang bisa diceritakan.

Aku berangkat ke lokasi yang ditentukan bersama dengan Li Xia dan Mei Xing. Tapi entah mengapa, ada sebuah perasaan yang seolah berkata bahwa hari ini akan terjadi sesuatu. Bukan perasaan tidak enak tapi deg-degan. Apa yang sebenarnya akan terjadi?

“Kau kenapa? Seperti ada yang sedang kau pikirkan.”

“Entahlah. Tapi aku sangat gugup, seperti akan ada sesuatu yang terjadi.”

“Mungkin saja akan ada seseorang yang melamarmu di sana nanti.”

“SHEN ME???”

Aku sampai di lokasi yang telah direncakankan. Aku memperhatikan semuanya, memastikan bahwa semua baik-baik saja. Seprtinya tidak ada yang mencurigakan.

Waktu berlalu begitu cepat. Banyak sekali pembaca yang hadir, karena hari ini akan diadakan acara tanda tangan pada novel yang mereka beli. Di depan telah disiapkan novel keduaku. Jadi saat mereka datang mereka bisa langsung membelinya.

Aku mengambil mikrofon yang disediakan. Berusaha menetralkan kegugupanku yang belum juga hilang. Aku berdehem pelan sebelum akhirnya mulai berbicara pada semua yang hadir.

“Selamat pagi semua. Hari ini aku sangat bahagia melihat kehadiran kalian semua di sini. Sampai saat ini rasanya masih tidak percaya bahwa saat ini aku akan melaunching novel keduaku. Juga masih tidak menyangka bahwa novel pertamaku disambut antusias oleh para pembaca sekalian. Aku benar-benar sangat berterima kasih atas respon positif yang diberikan sehingga aku bisa menulis novel keduaku yang merupakan lanjutan kisah dari novelku yang pertama. Dan saat ini juga aku ingin menyampaikan minta maaf karena sepertinya tidak akan ada seri ketiga untuk cerita ini. Karena memang tidak ada lagi yang bisa aku ceritakan. Mungkin aku akan kembali dengan cerita yang baru. Terima kasih atas dukungannya.”

Aku meletakkan mikrofon tersebut dan here we go, acara selanjutnya adalah menandatangani cover novel keduaku. Aku menandatangani satu persatu. Sampai ada sesuatu yang menghentikan tanganku. Seseorang meletakkan novelnya di hadapanku. Tidak dalam keadaan tertutup melainkan terbuka dan aku melihat sederet kalimat yang telah digaris dengan bolpoint berwarna merah.

“Mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita. Aku percaya jika kita memang berjodoh, suatu saat kita akan kembali bersatu. Karena aku percaya, aku harap kau pun percaya. Wo ai ni, ge.”

 

Aku mendongakkan kepalaku, dan sangat kaget mendapati siapa yang berada di hadapanku saat ini.

“Ge…”

* * * * * * *

Hari ini adalah jadwal launching novel kedua Xing Ai. Aku bergegas untuk bersiap-siap lalu berangkat ke lokasi yang sudah ditentukan. Sesampainya di sana aku melihat sudah banyak orang yang datang. Aku bergegas membeli novel tersebut lalu mencari tempat untuk duduk dan langsung membacanya.

Aku tertegun saat aku membaca sebuah dialog dalam novelnya.

“Mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita. Aku percaya jika kita memang berjodoh, suatu saat kita akan kembali bersatu. Karena aku percaya, aku harap kau pun percaya. Wo ai ni, ge.”

 

Aku kembali mengingat kejadian waktu itu. Sekarang aku bertambah yakin bahwa memang inilah saatnya. Di hadapan semua pembaca yang ada, di hadapan mereka yang telah mengetahui kisah kami berdua. Aku meminjam bolpoint ke salah seorang di sana lalu menggaris bawahi kalimat tadi.

Aku masuk ke dalam ruangan. Aku segera berdiri di barisan paling belakang, di belakang orang-orang yang sedang mengantri untuk mendapatkan tanda tangan Xing Ai. Tapi bukan tanda tangannya yang aku ingin dapatkan. Melainkan dirinya.

Setelah beberapa saat mengantri, giliranku tiba. Dia belum juga menoleh kearahku. Lantas akupun meletakkan novel itu dalam keadaan terbuka. Tepat di halaman yang aku tandai tadi. Dia memperhatikannya selama beberapa saat sampai akhirnya mendongakkan kepalanya lalu melihatku dengan tatapan kaget.

“Ge…”

Aku tersenyum menatapnya. Aku sangat merindukan gadis yang ada di hadapanku saat ini.

“Temui aku usai acara ini di taman waktu itu. Aku akan menunggumu.”

Usai mengatakan itu aku berlalu dari hadapannya, berjalan menuju taman. Taman yang menjadi saksi bisu perpisahanku dengan Xing Ai satu tahun yang lalu.

Satu jam kemudian aku melihatnya berlari kecil ke arahku. Aku menatapnya sambil tersenyum. Dia pun membalas senyumku.

“Kau masih sama seperti terakhir kali aku melihatmu, ge.”

“Kau juga.”
”Ada apa?”

“Kembalilah padaku, Xing Ai…”

“Shen me???”

#Flashback

Hari ini tiba-tiba saja pria itu meneleponku, mengatakan bahwa putrinya sedang kritis. Aku bergegas menuju rumah sakit.

Sampai di sana, aku segera menuju kamarnya. Aku melihatnya terbaring lemah. Aku menghampirinya perlahan. Dia membuka matanya lalu menoleh padaku.

“Ge, dui bu qi. Selama ini aku merepotkanmu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kau mencintai orang lain. Tapi aku bersikeras untuk tetap menahanmu di sisiku. Setidaknya sampai aku tidak lagi hidup di dunia.”

“Kau tidak usah khawatir. Aku sudah bicara pada baba. Dia tidak akan mempermasalahkan hutang itu lagi. Semua pengorbananmu selama ini sudah lebih dari cukup untuk menebus hutang itu. Atau mungkin justru aku yang sekarang berhutang padamu. Kau kehilangan banyak hal.”

“Dan sekarang, aku punya sebuah permintaan terakhir. Kau harus kembali mendapatkan gadis yang kau cintai itu. Aku percaya dia adalah gadis yang baik dan gadis yang paling tepat untuk menemanimu.”

“Pergilah, ge…”

#Flashback end


“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Dia… Dia sudah meninggal satu minggu yang lalu.”

“SHEN ME???”

“Dan aku berdiri di sini. Bukan hanya untuk mengabulkan permintaan terakhirnya. Tapi lebih kepada permintaan hatiku sendiri. Malam itu, aku merasa tidak ada yang berakhir. Cintaku padamu belum berakhir. Dan aku tidak pernah menganggapmu meninggalkanku.”

“Namamu, senyummu, wajahmu, semua tentangmu itu selalu memenuhi hati dan pikiranku. Jadi coba jelaskan padaku bagaimana caranya agar aku dapat melupakanmu? Aku juga yakin, kau belum melupakanku.”

“Jika kau saja masih ingat dengan kata-katamu bahwa suatu saat jika kita berjodoh, kita pasti bisa bersatu kembali. Dan aku percaya bahwa waktu yang dimaksud adalah sekarang, Xing Ai.”

“Wo ai ni, Xing Ai. Zhen de zhen de hen ai ni. Ni ai wo ma?”

Diam. Hening. Tak ada respon apa-apa darinya. Dia hanya terdiam menatapku. Caranya menatapku masih sama seperti dulu. Tatapan yang ingin aku miliki selamanya.

“Shi. Wo ye hen ai ni, ge.”

Aku langsung memeluknya erat. Aku tak ingin dia pergi lagi dari hidupku. Aku tidak mau. Aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya sampai kapanpun.

Dan aku pastikan untuk sesegera mungkin mengubah marganya dari Wang menjadi Yan.

“Wo ai ni, Yan Xing Ai.”

I will be the last for you and you will be the last for me…

.F.I.N.

NB : How??? Kali ini udah bener-bener selesai. Ga bakal ada sekuelnya lagi kok. Hehehe.

And finally… Happy ending juga… Author emang ga gitu suka ma sad ending coz biasanya ikutan sedih. Hehehe.

Xiexie ya buat yang udah bersedia baca. *bungkuk bareng ma koko Aaron*

TRANSLATE

– Ni lai le ma? Ni qu zai nar? = Kau sudah datang? Kamu pergi kemana?

– Zhen de ma? = Benarkah?

– Mei you a, ge. Wo mei shi = Tidak, kak. Aku baik-baik saja

– Mei guan xi = Tidak apa-apa

– Xiang xin wo men. Wei shen me? = Percayalah pada kami. Ada apa?

– Shi shei? Ya Lun ge ma? = Siapa? Kak Ya Lun?

– Shi. Shi ta = Ya. Dia.

– Wo zhi dao le. Jia you Xing Ai a~!!! = Aku sudah tahu. Semangat Xing Ai!!!

– Wo ai ni, Xing Ai. Zhen de zhen de hen ai ni. Ni ai wo ma? = Aku mencintaimu, Xing Ai. Sungguh-sungguh mencintaimu. Kau mencintaiku?

– Shi. Wo ye hen ai ni, ge = Ya. Aku juga mencintaimu, kak

Advertisements

2 thoughts on “[One Shot] I Got You Back (I Let You Go just because I Love You‘s Sequel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s