[Series] Our Memories – Part 6

Aku dataaaaaaang!!!!!!! Yeah! Author is back!!! Setelah sekian lama lanjutan Our memories tak terjamah akhirnya berhasil juga aku menyelesaikan part ini. Dan menurut survey *halah*, ini adalah part yang paling lama proses pengerjaannya. Dan juga yang paling susah. Author sampe melakukan berbagai cara supaya mood and feel ngelanjutin ni FF balik sekaligus dapet inspirasi lanjutannya.

Setelah bertapa, merekap kira-kira apa aja yang seharusnya aku ceritain. Setelah lumayan agak dipaksain juga soalnya aku janji sama diriku sendiri kalo aku ga bakal post FF lain sebelum post Our mem yang part 6, jadilah aku bersemangat coz udah ga sabar post FF yang lain *emang ada gitu stoknya?*, akhirnya inspirasi itu datang juga. Berikut dengan mood-nya. Tapi ga dengan feel. Hahaha. So, mianhae kalo feel-nya ga dapet.

Di part 6 ini ada lumayan banyak rahasia-rahasia yang terungkap. Dengan bantuan salah satu kawan, aku berhasil mendata apa saja yang belum terkuak di FF ini *halah bahasaku lo*. Weleh, wes dah ga nyangka panjang banget ceritaku??? *ditimpuk rame-rame ama readers*

Akhir kata, semoga saja part selanjutnya ga makan waktu selama part yang satu ini. Amen. Oh ya, comment-comment kalian sangat membantu untuk menaikkan mood author. So, don’t forget to leave your comment or thumb. Okay?

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Lee Jae Jin PoV_

Aku sedang berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamarku. Dan hanya ada satu yang memenuhi pikiranku sejak tadi.

Seorang gadis bernama…

Choi Hye Jin…

Oke, katakan saja ini aneh. Aku bahkan baru saja mengenalnya bukan? Tapi gadis ini berhasil menguasai pikiranku dengan telak.

“Ya! Apa yang sedang kau pikirkan?”

Rupanya Hong Ki hyung sudah mengambil posisi tepat di sebelahku.

“Aniyo.”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”

“Mwo?” aku bangkit dari posisiku dan menatapnya tak percaya.

“Hye Jin. Choi Hye Jin. Kau sedang memikirkan gadis itu kan?”

“Mwo? Bagaimana mungkin kau tahu? Kau bisa membaca pikiran orang lain ya?”

“Hahaha. Reaksimu berlebihan!”

“Ada apa memangnya? Kau menyukai gadis itu?”

“Eh??? Aniyo.”

“Jeongmalyo? Tapi matamu tidak selaras dengan apa yang kau katakan.”

“Hm… Mollayo, hyung. Hanya saja, gadis itu benar-benar menarik perhatianku. Dia simple, tidak ribet dan seolah punya dunianya sendiri. Dan rasanya aku senang saat bersama dengannya.”

“Jadi begitu. Lalu? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Maksudmu?”

“Ya! Bukankah sudah jelas? Kau harus melakukan sesuatu untuk mendapatkannya bukan?”

“Mwo? mendapatkan bagaimana maksud hyung?”

“Ya! Kau ini benar-benar tidak mengerti atau benar-benar bodoh sih?”

“Ayolah, hyung… Kau jelaskan saja, aku benar-benar tidak mengerti.”

“Kau tertarik padanya kan?”

“Ne.”

“Apa kau merasa nyaman saat berada di sisinya?”

“Hm… Ne…”

“Apa kau ingin selalu di sampingnya?”

“Tidak juga.”

“Mwo?”

“Kan tidak mungkin aku berada di sisinya terus, hyung. Bayangkan, rumah kami saja berbeda. Kalau aku terus-terusan mengikutinya nanti aku dikira penguntit lagi!”

“Ya! Jeongmal baboya!”

“Awww! Sakit hyung! Kenapa kau memukul kepalaku?”

“Itu karena ucapanmu sendiri. Maksudku adalah kau ingin selalu menemaninya di saat dia membutuhkan seseorang.”

“Oh maksudmu begitu. Ngomong yang jelas dong, hyung! Iya iya, aku mau.”

“Nah, itu artinya kau menyukainya.”

“Iya, aku memang menyukainya hyung. Tidak perlu kau bilang juga aku sudah tahu.”

“Ya! Kalau kau sudah tahu lalu apa lagi yang kau tunggu?”

“Aku tidak sedang menunggu, hyung.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

“YA!!! LEE JAE JIN!!!”

_PoV end_


_Choi Hye Jin PoV_

Saat ini ada banyak sekali hal yang memenuhi pikiranku. Mulai dari sikap oppa yang kembali seperti dulu, dan mirisnya sampai saat ini aku pun tidak tahu mengapa oppa nampak seperti menjaga jarak denganku. Lalu, kebiasaan-kebiasaan oppa yang kembali muncul. Keadaan Min Hae sampai perasaanku pada namja bernama Lee Jae Jin itu.

Aku melangkahkan kakiku malas ke dalam rumah. Appa lagi-lagi tidak ada di rumah. Rasanya dia lebih sering berada di luar negeri. Tinggal berdua bersama dengan oppa, ya dengan beberapa pelayan terasa sangat membosankan. Terlebih dengan sikap oppa yang sekarang telah kembali.

Saat aku masuk, aku melihat oppa sedang duduk di sofa ruang tamu. Dia duduk tepat di bawah lukisan keluarga kami sambil membaca buku. Entah itu buku apa. Aku berniat langsung masuk ke kamar, tapi suaranya menghentikan langkahku.

“Darimana saja kau? Kenapa baru pulang?”

“Kampus.”

“Setelah dari kampus?”

“Tidak ada. Aku langsung pulang.”

“Memang kampus-mu itu ada di Indonesia apa? Lama sekali?”

“Aish! Sudahlah, aku lelah oppa. Aku mau istirahat.”

“Ya! Aku ini mengkhawatirkanmu!”

“Kau? Mengkhawatirkanku?”

“Bagaimanapun juga kau kan adikku.”

“Adik yang tak dianggap.” Ucapku sambil berlalu pergi.

“Ya! Apa maksudmu?”

Aku tidak menghiraukan pertanyaannya. Aku sedang malas berdebat dengannya. Aku masuk ke kamarku, bergegas untuk mandi. Hari ini rasanya cukup melelahkan. Saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat oppa sudah duduk di kursi di depan meja belajarku.

“Ada apa?”

“Aku belum selesai berbicara denganmu tadi.”

“Ne. Ada apa?”

“Tidak bisakah kau memberitahuku kalau kau akan pulang malam? Setidaknya aku tahu kalau kau baik-baik saja. Aku ini kakak-mu. Kau kan tahu appa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan kita tak lagi mempunyai eomma.”

“Apa oppa peduli padaku?”

“Tentu saja!”

“Jinjja? Tapi kenapa aku selalu merasa bahwa oppa tidak peduli padaku? Tidak sayang padaku? Aku bahkan tidak tahu mengapa. Aku ingin sekali menepis semua perasaanku itu, tapi pada kenyataannya aku tidak bisa karena memang itu yang aku rasakan. Lalu sekarang kau menuntutku?”

“Apa sih yang kau bicarakan, Hye Jin? Aku ini kakakmu, tentu saja aku sayang padamu.”

“Mana buktinya? Mana?”

“Aku sayang padamu. Sejujurnya aku sangat sayang padamu. Tapi jujur, aku juga sangat membencimu. Karena eomma meninggal gara-gara melahirkanmu. Nyawanya hilang karena dia lebih menginginkan kau hadir di dunia ini daripada mempertahankan nyawanya dan membiarkanmu tak pernah lahir di dunia ini. Karena itu setiap aku ingin menunjukkan rasa sayangku padamu, aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Hye Jin. Karena aku selalu teringat akan hal itu.”

“Oppa, tidakkah kau memikirkan perasaanku? Aku bahkan baru tahu alasanmu bersikap begitu dingin padaku selama ini. Tidakkah kau pernah menyadari mengapa aku jadi seperti ini? Dingin kepada semua orang? Seolah aku hanya hidup sendirian di dunia ini?”

“Harusnya kau sadar, akulah orang yang paling merasa bersalah atas kematian eomma. Aku selalu berusaha menghibur diriku sendiri karena aku tahu, akupun tak punya pilihan saat itu. Seandainya aku bisa memilih tentu aku tidak akan membiarkan eomma melahirkanku dan meninggalkanmu serta appa. Tapi kenyataannya aku tidak pernah bisa memilih bukan?”

“Lukisan keluarga yang ada di ruang tamu. Betapa aku selalu ingin menangis saat melihatnya. Apakah oppa tahu? Saat aku melukisnya, hatiku sangat sakit. Hanya itu satu-satunya foto keluarga yang kita punya. Meskipun wajahku tak nampak, setidaknya aku tahu aku berada dalam kandungan eomma saat itu. Satu-satunya foto keluarga yang lengkap. Appa, Eomma, Oppa dan aku yang masih dalam kandungan eomma.”

“Selama ini aku selalu berusaha tegar. Aku memiliki seorang appa yang sangat baik dan sayang padaku tapi jarang sekali ada di sisiku. Sementara aku memiliki seorang oppa yang nampaknya dekat denganku tapi pada kenyataannya selalu bersikap sangat dingin padaku.”

Air mataku tumpah. Jatuh bercucuran membasahi wajahku. Aku bahkan tidak lagi ingat kapan terakhir kali aku menangis. Tapi kali ini aku tidak bisa menahan emosiku.

“Hye Jin ah~ mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Sekarang aku mengerti perasaanmu.”

Jong Hun oppa memelukku. Pelukan pertama yang aku dapat darinya. Selama 19 tahun menjadi adiknya, tidak pernah sekalipun ia memelukku. Dan ternyata rasanya begitu damai. Tapi entah kenapa tangisku semakin menjadi. Ia mengusap punggungku perlahan.

“Oppa…”

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Kini aku mengerti perasaan Hye Jin, adikku. Selama ini aku telah menyakiti hatinya. Harusnya aku sadar bahwa kepergian eomma bukan salahnya. Dia justru orang yang paling tertekan karena kepergian eomma. Aku memang bukan oppa yang baik.

Choi Min Hae. Mengapa tiba-tiba aku mengingat nama gadis itu ya? Sepertinya ada perasaan yang berbeda. Tapi apa iya? Sepertinya aku pernah mengenalnya tapi kapan?

Keesokan paginya…

Hari ini aku memutuskan untuk tidak kuliah terlebih dahulu. Tiba-tiba saja aku malas kuliah. Aku memutuskan untuk minum teh di café remember. Seperti biasa aku duduk di tempat favorit-ku. aku memandang sekelilingku, tiba-tiba pandanganku tertumpu pada punggung seorang gadis. Ada perasaan aneh yang menelusup. Perasaan apa ini? Seperti kerinduan yang mendalam. Rindu? Hey! Aku bahkan belum tahu siapa dia.

Aku menghampirinya perlahan. Pemilihan tempat duduknya seolah mengingatkanku sesuatu. Sepertinya familiar. Aku terus berjalan kearahnya dan saat ini aku dapat melihat wajahnya. Min Hae? Dia?

Sepertinya dia menyadari keberadaanku karena dia menoleh kearahku dan menatapku kaget.

“Oppa?”

Aku tersenyum lalu duduk di hadapannya. Perasaan apa yang tadi muncul? Padahal kemarin saat melihatnya di rumah sakit aku tidak merasakan apa-apa. Sebenarnya apa yag terjadi padaku?

“Min ah~…”

Tunggu! Kenapa aku memanggilnya Min ah~? Panggilan ini tak terasa asing. Seperti halnya aku yang kaget dengan ucapanku sendiri, rupanya ia pun kaget mendengar ucapanku.

“Min Hae ah~ apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Sepertinya ada yang berbeda.”

“Maksud oppa? Memang Hye Jin belum memberitahu oppa?”

“Eopso. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang keadaanku.”

“Kau mengalami amnesia sebagian. Kau melupakan sebagian memory-mu.”

“Jinjja? Pantas saja rasanya seperti ada yang hilang.”

Hening. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Sungguh! Perasaanku gugup! Tapi sepertinya aku pernah mengalami hal yang demikian. Perasaan ini begitu familiar. Seolah ada perasaan untuk selalu menjaganya.

“Apa sebelumnya kita telah saling mengenal?”

Kau hanya mengangguk sambil mengduk-aduk minumanmu lalu meminumnya, tanpa menatapku.

“Seberapa dekat?”

Kali ini kau menatapku.

“Sedekat yang kau lupakan, oppa.”

“Maksudmu?”

“Kau melupakanku. Itu berarti kedekatan kita memang tak pantas diingat.”

“Aku benar-benar tak mengerti.”

“Sudahlah lupakan kata-kataku tadi. Anggap saja kita baru saja kenal.”

Gadis ini. Mengapa jawabannya justru membuatku semakin penasaran. Apa sebenarnya hubunganku dengan dia di masa lalu?  Benarkah kita tidak dekat?

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Tiffany is calling…

“Yeoboseyo…”

“Oppa… Temani aku jalan-jalan yuk!”

“Mwo? Ah, ne… Arasseo, kau tunggu aku di apartment-mu. Aku segera ke sana.”

“Ne… Sampai jumpa…”

Saat aku menoleh ke arah Min Hae aku mendapatinya sedang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Ada gurat kecewa, sedih dan juga… marah?

Tapi kenapa dia menatapku seperti itu?

“Min ah~, aku minta maaf sepertinya aku harus pergi.”

“Pergilah, oppa. Lagipula tadi aku memang sedang sendirian.”

Aku beranjak dari dudukku, tapi panggilan seseorang menahan langkahku.

“Min Hae ah~, Jong Hun ah~!”

Siapa laki-laki ini? Sepertinya aku tidak mengenalnya. Tapi, tadi dia memanggilku juga kan? Itu artinya dia mengenalku? Mungkinkah dia salah satu orang yang aku lupakan juga, sama seperti Min Hae?

“Hong Ki oppa…”

“Ah, aku mengganggu kalian ya?”

Min Hae menggeleng. “Aniyo, aku dan Jong Hun oppa hanya tidak sengaja bertemu di sini. Lagipula dia sudah akan pergi kok.”

“Jinjja?”

Aku melihat laki-laki yang bernama Hong Ki ini menautkan alisnya, sepertinya heran dengan jawaban Min Hae.

“Ah, ne. Aku memang sudah mau pergi. Annyeong!”

_PoV end_


_Lee Hong Ki PoV_

Ada apa ini? Kenapa aneh sekali? Sikap Jong Hun tadi benar-benar aneh!

“Dia kenapa?”

“Ne? Nuguya?”

“Jong Hun. Dia kenapa?”

“Jong Hun oppa? Memang dia kenapa?”

“Sikapnya aneh, Min Hae ah~. Kau yakin dia tidak apa-apa?”

“Dia tidak apa-apa. Hanya saja dia sedang amnesia sebagian sekarang.”

“Mwo? Maksudnya?”

“Sekarang dia tidak lagi melupakan semua hal. Namun hanya beberapa hal yang ia lupakan. Atau tepatnya melupakan apa yang sudah terjadi beberapa waktu belakangan ini.”

“Dia… melupakanmu lagi?”

“Ne. Begitulah.”

Gadis di depanku ini nampak sekali sedang berusaha tegar padahal sebenarnya sangat rapuh. Sangat mengingatkanku pada Hae Jin. Semoga kau tenang di sana Hae Jin. Sekarang aku sudah menemukan seseorang yang menggantikanmu untuk dapat kujaga.

Aku akan selalu berusaha menepati janjiku padamu, Hae Jin.

“Hwaiting, Min Hae ah~!”

“Ne?”

“Hwaiting! Kau pasti bisa melewati semua ini.”

“Ah, ne. kau benar Hongppa. Boleh kan aku memanggilmu Hongppa?”

“Hm… Tentu saja. Kau adalah orang kedua yang memanggilku seperti itu.”

“Jinjja? Siapa yang pertama?”

“Adikku, Hae Jin.”

“Adik? Kau punya adik perempuan?”

“Ne. Dia adik yang sangat baik dan sangat aku sayangi.”

“Dia pasti gadis yang sangat manis. Kelas berapa dia sekarang?”

“Kalau dia masih ada, harusnya dia sekarang sudah kelas 2 SMA.”

“Kalau dia masih ada? Maksud Hongppa? Dia?”

“Ne. Dia sudah meninggal. Beberapa waktu sebelum kepindahanku ke kota ini.”

“Wae?”

“Sejak kecil dia sudah mengidap penyakit jantung. Sudah dioperasi tapi tetap saja tidak terlalu banyak membantu. Dia sangat lemah. Sayangnya dia tidak pernah bercerita saat dia sedang kesakitan. Dia selalu berusaha nampak baik-baik saja. Sampai akhirnya dia pergi meninggalkan kami semua.”

“Dia gadis yang sangat kuat aku rasa.”

“Kau benar. Dia sangat mirip denganmu. Karena itu aku selalu berusaha ada disampingmu.”

“Tenanglah Hongppa, aku tidak mengidap penyakit berbahaya apapun kok.”
”Bukan sakitnya Min Hae.”

“Hahaha. Ne, arasseo. Gomawo selama ini selalu menemaniku.”

“Dengan senang hati, dongsaeng!”

Kau tersenyum. Senyummu membuat perasaanku sedikit lebih lega. Tidak ada yang dapat aku lakukan selain menemanimu. Aku berharap kau aka selalu kuat menghadapi semua ini. Aku percaya kau pasti bisa, Min Hae! Dan aku juga percaya kau akan mendapatkan yang terbaik.

“Ah ya! Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan dongsaeng saja ya?”

“Ne, Hongppa. Terserah kau saja. Memang aku boleh menjawab tidak?”

“Hahaha. Dongsaeng pintar!” ucapku sambil mengacak rambutnya.

“Ya! Rambutku!”

_PoV end_


_Choi Soo Hyun PoV_

Lagi-lagi aku melihat Min Hae berduaan dengan Hongki oppa. Kenapa sih mereka akrab sekali? Menyebalkan!

Aku masuk rumah dengan kesal dan langsung membanting tas ke sofa. Tanpa mempedulikan Seung Hyun yang sedang nonton TV dan sedang duduk di sofa yang sama.

“Ya! Noona! Kau mengagetkanku tahu!”

“Aish! Sudah jangan banyak omong! Aku sedang kesal tahu!”

“Waeyo?”

“Kenapa aku harus menceritakannya padamu?”

“Ya! Ayolah , noona… Siapa tahu saja aku dapat membantumu…”

“Tadi aku melihat Hongki oppa sedang bersama dengan Min Hae. Dan kau tahu? Hongki oppa bahkan mengacak rambut Min Hae mesra.”

“Mwo? Jinjja? Apakah Hongki hyung menyukai Min Hae noona?”

“Mana aku tahu!”

“Ya! Noona kau benar-benar menyukai Hongki hyung?”

“Tentu saja!”

“Wae?”

“Karena…”

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s