[One Shot] I Let You Go just because I Love You (Leave Me in the Rain‘s Sequel)

Aloha!!! Aku datang bawa sekuel Leave Me in the Rain. Ada yang menantikannya?

Dui bu qi kalo ceritanya tidak sesuai harapan kalian. (Lah emang kalian maunya yang kayak gimana sih? *apasih*)

By the way soal pemilihan judul, judul awalnya itu ‘Bring My Rain Back’ tapi setelah something happened in last Saturday yang menyebabkan aku dapet inspirasi kata-kata itu *pengalaman pribadi euy*.

So, pas finishing FF ini tadi pagi, judulnya aku ganti jadi ‘I Let You Go just because I Love You* coz tiba-tiba sadar kalo ternyata cocok ma FF aku ini. *nyengir*

Yo wes, daripada banyak omong ntar malah ditimpukin readers yang udah ga sabar baca *pedegila*. Don’t forget to leave your comment or thumb! Xie-xie…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Title : I Let You Go just because I Love You

Author : neys

CAST

Yan Ya Lun (Aaron Yan – Fahrenheit/ Fei Lun Hai)

Wang Xing Ai

Chen Li Xia

Wu Mei Xing

Previous story : Leave Me in The Rain

Hujan mulai reda. Aku kembali berjalan, mencari tempat berteduh yang lebih nyaman. Aku melihat sebuah café. Aku putuskan untuk berteduh di sana saja, lagipula sudah terlambat untuk ke kampus hari ini.

Memandang hujan sambil menikmati segelas cappuccino. Aku merindukan hujan, sejak hari itu aku tidak pernah lagi bermain dengan hujan. tanpa dia, hujan terasa menyebalkan.

“Dui bu qi, xiao jie. Semua tempat sudah penuh. Kalau aku duduk di sini, ke yi ma?”

Aku menatap seseorang di hadapanku. Seorang pria. Aku mengedarkan pandanganku ke semua penjuru café. Ternyata memang sudah penuh.

“Mei guan xi. Duduklah.”

Tak lama dia sudah duduk di hadapanku dan sibuk dengan laptopnya. Aku tak terlalu peduli dengan pria di hadapanku. Aku tak mengenalnya dan tak ingin mengenalnya. Aku hanya diam sampai akhirnya aku menangkap sosoknya di depan café ini. Memandangku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Lagi-lagi aku juga tak peduli dengan seseorang di luar sana. Tidak peduli hujan yang kembali deras membasahi tubuhnya. Aku tidak peduli.

Aku menatap jam tanganku. Sudah 1 jam dia berdiri di sana, tidak beranjak sedikitpun. Apa dia begitu bodoh? Dia bisa sakit jika terus berdiri dan kehujanan seperti itu.

Selang beberapa waktu hujan kembali reda. Aku memutuskan untuk pulang. Begitu aku melangkah mendekat ke arah pintu, ia beranjak pergi dari tempatnya tadi. Dia meninggalkanku. Lagi.

* * * * * * *

Aku melihatnya berjalan ke arah pintu. Aku bergegas pergi. Dia tidak boleh melihatku. Aku sedikit menjauh dari café. Tak lama aku kembali mencarinya. Aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku benar-benar merindukannya. Setidaknya ijinkan aku melihatnya sedikit lebih lama.

Aku tahu dia akan kemana dari arah yang dia ambil. Dia hendak pulang ke rumah. jadi, setelah dia masuk ke dalam rumah aku tidak bisa melihatnya lagi?

Saat ia sampai di rumah, aku melihat Da Dong ge yang hendak pergi. Itu artinya, dia sendirian di rumah? Dia bahkan lebih sering sendiri di rumah. Orang tuanya sudah lama meninggal, sementara gege-nya lebih sering berada di luar karena bekerja. Harusnya aku ada di sisinya. Harusnya aku yang menemaninya.

Aku pun beranjak meninggalkan tempat ini. Waktu sudah mengharuskanku untuk menjemput wanita tadi. Wanita yang membuatku harus merelakan Xing Ai pergi dari kehidupanku.

#flashback

“Ya Lun, ada sesuatu yang baba ingin bicarakan denganmu.”

“Shen me?”

“Baba berhutang sangat banyak pada teman baba. Baba berjudi. Dan baba berhutang pada teman baba yang notabene adalah pemilik tempat judi tersebut. Baba tidak bisa melunasi hutang baba, sampai akhirnya dia menawarkan sesuatu.”

“Dia ingin kau menikah dengan putrinya. Putrinya menyukaimu.”

“SHEN ME???”

“Apa kau tega jika suatu hari kau mendengar kabar bahwa baba-mu dibunuh karena tidak bisa membayar hutangya?”

“Bu shi. Wo you ai ren, ba… Wo ai da…”

“Lepaskan dia. Atau buat dia membencimu, jadi akan lebih mudah baginya untuk melupakanmu.”

“Ba…”

#flashback end


Menyakitkan jika harus mengingat penyebab aku harus melepaskannya. Dua tahun ini begitu berat. Namun, dua tahun ini aku terus berusaha. Bekerja di berbagai tempat. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dapat segera melunasi hutang baba. Uang itu harus segera terkumpul, karena wanita itu ingin menikah tahun depan.

Sebenarnya ada sedikit keraguan di hatiku. Akankah keselamatanku dan baba-ku terjamin jika aku memutuskan untuk membayar hutang baba dan tidak menikahi putrinya. Tapi aku tidak peduli. Aku akan berusaha untuk menyelamatkan semua. Dan aku harap aku benar-benar bisa dan semoga aku belum terlambat saat aku kembali pada Xing Ai.

Keesokan paginya…

Waktunya istirahat. Satu jam. Aku harus memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Aku menuju rumah Xing Ai. Betapa beruntungnya aku, saat aku tiba di sana Xing Ai baru saja keluar dari rumahnya. Sepertinya hendak ke kampus.

Apa yang sedang aku lakukan ini sepertinya sudah tidak masuk akal. Seperti seorang stalker saja. Tapi apa peduliku? Aku hanya ingin melihatnya saja.

Sebenarnya bukan tanpa alasan dua tahun ini aku tidak pernah mencarinya, tidak pernah muncul di hadapannya. Dua tahun ini aku sengaja menghilang supaya ia tidak tersiksa hanya karena terus melihatku berada di sekitarnya. Sebut saja aku bodoh! Ya, karena aku memang bodoh. Adakah yang bertanya, kalau aku mampu bertahan selama dua tahun lalu kenapa sekarang aku terus-terusan mencarinya?

Sebut saja aku gila! Sejak aku kembali melihatnya, aku sudah tidak bisa lagi menahan diriku. Kerinduan ini benar-benar sudah lewat dari batas. Dua tahun aku berusaha untuk jauh darinya tapi sekarang semua pertahananku runtuh.

Kerinduan ini pula yang membuatku semakin bersemangat untuk bekerja. Aku mohon bertahanlah sedikit lagi, Xing Ai. Satu tahun lagi. Aku berjanji aku akan kembali demi drimu. Atau, haruskah aku memberitahumu lebih dulu? Tidak! Itu akan membahayakan keadaanmu. Orang tua wanita itu bisa saja mencelakaimu.

Satu tahun lagi. Uang yang terkumpul sudah mendekati nominal yang seharusnya. Jia you, Ya Lun!

* * * * * * *

Dia muncul di tempat kursusku. Kemarin dia mengikutiku sampai ke rumah. Sebenarnya apa sih mau-nya? Tiba-tiba muncul dan terus-terusan mengikutiku? Apa dia tidak tahu bahwa perasaanku untuknya tidak lagi seperti dulu. Tidak lagi dan tidak akan pernah sama lagi. Dia telah pergi meninggalkanku dan aku sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan celah untuknya kembali.

Aku muak melihat wajahnya yang seolah tak bersalah. Muak melihat wajah sendunya yang seolah mengguratkan penyesalan. Aku muak padanya.

Hari beranjak gelap dan kembali turun hujan. Kali ini aku memutuskan untuk menerobos hujan. Tidak mungkin menunggu, karena hari akan semakin gelap. Aku tahu dia berada di dekatku. aku berlari kencang menuju rumahku. Pikiranku kacau, bahkan aku melupakan bahwa seharusnya aku naik bis tadi. Benar-benar bodoh!

Aku masih berlari sampai seseorang menarik tanganku lalu memelukku. Aku kaget, sontak aku mendorongnya tapi tak berhasil, dia menahanku untuk tetap dalam pelukannya. Siapa dia? Aku berusaha menajamkan penglihatanku. Ternyata…

“Fang kai wo!” aku masih berusaha melepaskan diriku dari pelukannya.

“Wo bu ren shi ni! Fang kai wo!”

“Xing Ai! Ting wo! Shi wo, Ya Lun.”

“Aku tahu kau Ya Lun tapi aku tak mau lagi mengenal orang bernama Yan Ya Lun. Wo bu yao!”

Aku mendorongnya kembali. Kali ini dia tidak menolak. Bahkan tubuhnya limbung setelah kudorong. Apa karena kata-kataku barusan? Tapi aku mengatakan yang sebenarnya bukan? Aku tidak lagi mengenal seseorang yang bernama Yan Ya Lun.

Aku hendak berjalan meninggalkannya, ketika akhirnya dia berkata sesuatu padaku.

“Wo ai ni.”

Aku menoleh padanya. Kali ini aku dapat melihat dengan jelas bahwa dia sedang menangis.

“Wo ai ni, Wang Xing Ai. Zhen de zhen hen ai ni.”

“Apa maksudmu? Berhentilah mengatakan hal-hal yang tidak ingin kudengar.”

“Dui bu qi.”

“Tidak juga kata-kata itu.”

“Aku belum bisa menjelaskan apa-apa padamu. Tapi yang pasti aku benar-benar minta maaf. Dan satu hal, aku tidak pernah melupakanmu. Aku masih seperti yang dulu. Masih Ya Lun yang kau kenal.”

“Sayangnya, aku tak lagi mengenalmu.” Ucapku tegas lalu pergi dari hadapannya.

* * * * * * *

Dia membenciku. Jelas-jelas dia membenciku. Lalu untuk apa semua usahaku? Haruskah aku melanjutkan usahaku? Bagaimana jika dia akhirnya tidak mau menerimaku kembali?

Kejadian kemarin benar-benar mengganggu konsentrasiku. Hari ini saja sudah beberapa kali aku ditegur oleh atasanku karena pekerjaanku hari ini sedikit kacau.

Aku bingung harus bagaimana. Wanita yang baba bilang menyukaiku itu sebenarnya tidak buruk, sangat bagus malah. Tapi sayangnya dia tidak mampu membuatku memandangnya sebagai wanita seperti aku memandang Xing Ai. Bahkan kebersamaan selama dua tahun ini juga tidak sanggup menumbuhkan sedikit rasa yang berbeda di hatiku.

Suatu hari nanti, dengan kembalinya aku ke sisinya apakah itu akan menyakitinya? Adakah yang dapat memberi tahu aku apa yang harus aku lakukan?

Lagi-lagi aku memanfaatkan jam istirahatku untuk menemuinya. Aku menunggunya di kampus. Tak lama ia keluar bersama teman-temannya, Li Xia dan Mei Xing.

Ia tertawa. Aku merindukan tawa itu. Aku tersenyum menatapnya. Tak lama dia menoleh ke arahku. Mata kami bertemu, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya dariku. Saat memandangku, tatapannya terasa sangat dingin. Sebesar itukah kebencianmu padaku?

Aku beranjak dari tempatku. Aku harus kembali bekerja. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak membenciku? Aku tidak bisa memberitahu alasanku, ataukah aku harus memberitahunya?

* * * * * * *

Hari ini dia kembali muncul. Dia ada di kampusku. Mataku sempat bertemu dengannya. Aku masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Tatapan dingin dan hampa. Sementara yang dapat kutangkap dari tatapannya adalah kesedihan. Dia menatapku sendu dan penuh rasa bersalah. Apa aku terlalu kejam? Tapi dia benar-benar telah menyakiti hatiku.

Dia bilang belum bisa menjelaskan apa-apa padaku. Tapi kenapa? Kalau dia benar-benar mencintaiku, harusnya dia mengatakan padaku apa alasan dia meninggalkan aku dulu.

Kalau dia tidak ingin kehilanganku, harusnya dia berkata jujur padaku.

Beberapa hari ini, melihatnya seperti itu. Jujur membuatku sedikit terusik. Dia membuatku kembali mengingat masa lalu. Masa-masa indah saat bersama dengannya. Aku tersenyum mengingatnya. Tunggu! Aku tersenyum? Tidak! Aku tidak akan pernah tersenyum lagi karena ataupun untuknya.

Aku harus menemuinya dan menyuruhnya untuk berhenti mengusik kehidupanku. Berhenti mengikutiku dan berhenti membuatku merasa bersalah karena terus-terusan berlaku dingin padanya.

Aku berjalan kerumahnya. Aku masih ingat dengan jelas dimana rumahnya. Mungkin aku memang tidak pernah berkunung ke dalam, tapi aku pernah kesini. Menunggunya di luar. Apa dia ada di rumah? Tapi seharusnya ia ada di rumah bukan? Ini sudah melewati jam kerjanya. Karena setahuku dia bekerja hanya sampai sore.

Saat aku hendak membuka gerbang rumahnya, dia muncul dari balik pintu. Entah kenapa, aku langsung bersembunyi. Dia berjalan keluar, aku memutuskan untuk mengikutinya. Sebenarnya dia mau kemana? Cukup jauh tempat yang ia tuju. Sebenarnya ini dimana? Tempat ini asing sekali.

Tak lama ia berhenti di sebuah tempat proyek pembangunan. Untuk apa dia ke tempat seperti ini? Jangan katakan bahwa dia bekerja di sini. Oh Tuhan! Dia benar-benar bekerja di sini. Sungguh aku tak tega melihat keadaanya sekarang. Dia bekerja sebagai kuli bangunan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu, ge?

Tanpa kusadari air mataku jatuh. Tapi kenapa? Kasihan? Tapi kenapa harus sampai menangis? Aku terus mengawasinya. Dari wajahnya aku dapat melihat betapa ia dalam kondisi sangat lelah. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Aku harus tahu apa yang menyebabkan dia harus bekerja seberat ini.

Aku masih duduk diam di depan tempat kerjanya. Cukup lama dan membosankan. Tak lama banyak orang keluar, aku mendongakkan kepalaku menanti dia keluar. Tak lama aku melihat sosoknya melewatiku.

“Ge…” panggilku pelan. Tapi rupanya dia mendengarku dan langsung menoleh dengan cepat.

“Ni?”

“Shi. Bisa kita bicara sebentar?”

Aku dapat melihat gurat kaget dari wajahnya. Apa sebegitu menakjubkannya-kah kemunculanku ini?

Saat ini kami sudah berada di sebuah taman. Keadaan terbilang cukup sepi. Maklum, ini sudah malam.

“Sejak kapan kau bekerja di sana, ge?”

“Baru saja. Saat proyek itu dimulai.”

“Wei shen me?”

“Maksudmu?”

“Kenapa kau bekerja di sana? Untuk apa? Kau kan sudah memiliki pekerjaan?”

“Karena aku memang harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.”

“Tidak bisakah kau jelaskan alasannya?”

“Dui bu qi.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Kau terlalu banyak berubah. Dan aku tidak mengerti.”

“Xing Ai…”

“Dulu kau pergi meninggalkanku, lalu tiba-tiba kau datang lagi dan mengatakan bahwa kau masih Ya Lun ge yang aku kenal. Tapi pada kenyataannya aku tidak merasa demikian, ge.”

“Kau bahkan tidak menjelaskan apapun padaku, mengapa kau meninggalkan aku saat itu.”

“Aku bukannya tidak mau, Xing Ai. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjelaskan padamu.”

“Ini semua demi kebaikanmu, Xing Ai.”

“Kau selalu berkata seperti itu. Tapi kenapa aku tidak merasa seperti itu? Untuk kebaikanku? Kau bahkan tidak tahu selama dua tahun ini aku tidak baik-baik saja!”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Kenapa rasanya begitu menyesakkan? Aku juga bisa merasakan air jatuh dari langit. Hujan. Kenapa harus turun di saat seperti ini?

“Xing Ai, hujan. Biar kuantar kau pulang.” Ujarnya sambil menggandeng tanganku.

“Wo bu yao!” teriakku sambil melepas tangannya.

“Xing Ai… Kumohon, mengertilah…”

“Aku tidak akan mengerti jika kau tidak menjelaskannya padaku, ge!”

“Baiklah.”

* * * * * * *

Dia mencariku. Katakan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Dia bahkan memanggilku ‘ge’ seperti dulu. Panggilan yang sangat aku rindukan. Aku menatap wajahnya. Masih sama seperti dulu, tapi ada yang berbeda. Wajahnya tak lagi ceria seperti dulu.

Dan sekarang, aku harus menjelaskan semuanya padanya. Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk dia mengetahuinya? Tapi, bagaimana jika dia bersikukuh bahwa dia akan baik-baik saja? Bagaimana caraku melindunginya di saat aku bahkan hampir tak punya waktu luang. Semua waktuku habis untuk bekerja.

“Sebenarnya tidak ada alasan dari diriku pribadi untuk meninggalkanmu. Semua karena aku harus menyelamatkan baba-ku.”

“Ni de baba?”

“Shi. Dia berjudi. Hutangnya sangat banyak. Bagaimanapun aku harus melunasinya karena jika tidak dia akan membunuh baba-ku. Sampai akhirnya dia menawarkan sebuah syarat yang mau tidak mau baba-ku terima meski aku tidak setuju. Dia ingin aku menikahi putrinya.”

“SHEN ME?”

“Shi. Dia bilang ptrinya menyukaiku. Jika aku menikahi putrinya dia akan manganggap lunas hutang baba.”

“Jadi, kau sudah menikah dengan putrinya itu?”

“Shen me? Mei you a… Kami belum menikah.”

“Zhen de ma?”

“Shi a… Tapi dia berkata agar aku menikahi putrinya tahun depan.”

“Jadi kau akan menikah dengannya tahun depan?”

Aku menggeleng cepat. Tidak, Xing Ai. Aku tidak akan menikah dengannya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak mencintainya. Lagipula, alasanku bekerja lebih keras selama ini hanya supaya aku bisa membayar semua hutang baba.”

“Shen me? Bekerja lebih keras untuk membayar hutang baba-mu? Maksudnya?”

“Dua tahun ini, aku memang menghilang. Itu karena aku harus bekerja lebih keras. Aku mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar aku dapat membayar hutang baba. Dui bu qi kalau sebelumnya aku tidak memberitahumu yang sebenarnya. Aku hanya tidak ingin nyawamu terancam. Aku tidak ingin pria itu mengetahui bahwa sebenarnya aku mencintai gadis lain yaitu dirimu.”

Dia diam. Cukup lama. Dan aku dapat melihat bulir air mata di pelupuk matanya. Dia menangis? Aku bahkan masih bisa melihat tangisnya di tengah hujan ini.

“Berhentilah bekerja sekeras itu, ge.”

“Berhentilah bekerja sepanjang hari. Kau bisa sakit, ge. Aku tidak mau melihatmu menderita.”

“Ni shuo shen me? Wo bu ming bai.”

“Kau mengkhawatirkan aku bukan? aku pun mengkhawatirkanmu.”

“Kalaupun akhirnya kau berhasil mengumpulkan uang itu. Kau berhasil melunasinya. Aku tidak yakin dia akan melepasmu begitu saja. Aku hanya tidak ingin semua usahamu berakhir sia-sia, ge.”

“Ni shuo shen me a, Xing Ai?”

“Aku tidak ingin jika pada akhirnya pria itu membunuhmu karena kau tidak menepati janjimu untuk menikahi putrinya. Itu sama saja dengan membohonginya bukan?”

“Dui bu qi kalau selama ini aku bersikap dingin padamu. Ternyata aku salah paham padamu. Kalau aku tahu dari awal aku tidak akan bersikap seperti itu padamu. Setidaknya, kita masih bisa berteman bukan? Atau mungkin saudara?”

“Teman? Saudara? Sebenarnya apa yang kau katakan, Xing Ai?”

“Aku mencintaimu, ge. Mungkin aku sempat membencimu. Salah! Aku bukan membencimu. Aku bahkan sebenarnya tidak sanggup memebencimu karena tanpa aku sadari aku masih peduli padamu meskipun aku selalu berusaha menyangkal.

Dan aku juga tahu kau mencintaiku. Terima kasih, ge. Tapi sungguh sepertinya memang bukan jalan kita untuk bersatu. Aku tidak ingin melihatmu menderita. Dan kau pun tidak ingin nyawaku terancam bukan? Lepaskanlah aku seperti aku berusaha untuk merelakanmu bersama wanita itu. Aku rasa dia cukup menarik.”

“Xing Ai?” aku menatapnya tidak percaya. Apa yang dia katakan barusan? Ini diluar perkiraanku.

“Dui bu qi, ge. Zhen de dui bu qi. Mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita. Aku percaya jika kita memang berjodoh, suatu saat kita akan kembali bersatu. Karena aku percaya, aku harap kau pun percaya. Wo ai ni, ge.” Ucapnya lalu beranjak pergi.

Aku menarik tangannya lalu memeluknya. Erat, seakan tak rela melepasnya. Aku benar-benar belum siap kehilangannya.

“Tidak bisakah kau bertahan sebentar lagi, Xing Ai?”

“Ini bukan masalah bertahan lebih lama, ge. Ini masalah keputusan demi kebaikan kita semua, ge. Jika berkorban membawa perih di awal, tapi semua akan membawa sebuah rasa puas tersendiri. Berkorban demi kebaikan orang-orang yang kita sayangi. Jia you, ge!”

Aku melepas pelukanku dan merelakannya pergi dari hadapanku di tengah hujan. Mungkin hujan ini bisa membantuku menyembunyikan tangis yang tidak lagi dapat kutahan. Atau mungkin, langit ikut menangis bersamaku?

You colored the landscape with warmth and tranquility
And for the first time, I knew the scent of love
Bathed in radiant sunlight, nothing could make me fear
But that brightness made shadows invisible

If I tightly held your hand
With what kind of strength
Things like those other people
Might have been gone for good

Like not getting wet in the unending rain
Shoulder pressed to the way home
From that place you disappeared
Even now, the rain keeps falling on me

As time flows by
My feelings are on the road towards you
With the scene of first love

If I could walk towards
The deepest part of your heart
With shaking shoulders, I wonder,
If we could just meet honestly

If the unending rain could
Roughly wash away my mistakes
I’d search for the words to reach you
But even now, the rain keeps falling

I can see your face floating behind my eyelids
After the tears, everything about you
I don’t want to forget, I can’t forget
Grief is just like this

(FT Island – Raining)


.F.I.N.

NB : Gimanaaa? Gimanaaa? Aneh kah? Bagus kah? Mudah ketebak kah? Mau dibikin kelanjutannya lagi ga? *weleh! Author ketagihan rupanya!*

Entah kenapa, endingnya sad lagi. Awalnya sih mau aku bikin happy ending. Tapi begitu bikin langsung berubah semua. So, apa endingnya mengecewakan? Semoga tidak. Hehehe.

Xiexie ya buat yang udah bersedia baca. *bungkuk bareng ma koko Aaron*

TRANSLATE

–         Dui bu qi, xiao jie = Maaf, nona

–         Ke yi ma? = Bisakah?

–         Mei guan xi = Tidak apa-apa

–         Shen me? = Apa?

–         Bu shi. Wo you ai ren, ba. Wo ai da = Bukan. Aku memiliki kekasih, pa. aku mencintainya.

–         Fang kai wo! = Lepaskan aku!

–         Wo bu ren shi ni! = Aku tidak mengenalmu

–         Xing Ai! Ting wo! Shi wo, Ya Lun = Xing Ai! Dengarkan aku! Ini aku, Ya Lun

–         Wo bu yao! = Aku tidak mau!

–         Wo ai ni = Aku mencintaimu (Kalo ini mah aku yakin semua juga pada tau. :p)

–         Zhen de zhen hen ai ni = Sungguh-sungguh mencintaimu

–         Wei shen me? = Mengapa?

–         Ni de baba? = Ayahmu?

–         Mei you = Tidak

–         Zhen de ma? = Benarkah?

–         Ni shuo shen me? Wo bu ming bai = Kamu bilang apa? Aku tidak mengerti

Cukup sekian dan terima kasih. ^_^

Advertisements

2 thoughts on “[One Shot] I Let You Go just because I Love You (Leave Me in the Rain‘s Sequel)

  1. Slsai jga bca-nya ^^
    Crta-nya bgus mei! 😀
    Tpi yg kyk mei blg, knpa sad ending lgi ya? Mei suka crta sad ending kah??
    Smngat ya mei bkin FF, spa tau nti bsa bkin novel jga ㅋㅋㅋㅋㅋ
    加油 !

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s