[One Shot] Leave Me in the Rain

Ni hao!!! Aku datang membawa FF baru. Tepatnya, FF mandarin pertamaku. Dibuat dengan penuh perjuangan coz ga ada ide paten yang melanglang buana. Juga dikarenakan minimnya kosa kata dalam bahasa mandarin *banyak yang udah lupa*. Maaf juga kalo-kalo ada pin yin yang salah. Zhen de due bu qi…

FF ini cast-nya gege Aaron, bias pertamaku. Hahaha. Aku Cuma berharap kalian suka sama FF-ku yang satu ini. Apa kalian mandopop juga?

At least, don’t forget to leave your comment or thumb! Xie xie ni men!

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Title : Leave Me in the Rain

Author : neys

CAST

Yan Ya Lun (Aaron Yan – Fahrenheit/ Fei Lun Hai)

Wang Xing Ai


Dulu… Aku menyukai hujan. Karena hujan yang membuatku mengenalnya.

Sekarang… Aku membenci hujan. Karena dia meninggalkanku di tengah hujan lebat.

Dan kini, lagi-lagi aku harus melihatnya di tengah hujan setelah 2 tahun tidak melihatnya.

Aku membenci hujan hari ini. Karena aku harus melihatnya dengan wanita lain.

Aku sedang menghindari air hujan, tentu saja karena lagi-lagi aku lupa membawa payung. Aku berteduh di depan sebuah toko yang sedang tutup, dan dia tiba-tiba saja lewat tanpa sempat menoleh padaku. Aku yakin dia tidak menyadari keberadaanku.

Haruskah aku melupakannya? Apa aku masih mencintainya? Ataukah aku membencinya sekarang? Hatiku, rasanya sudah mati.

#flashback

Hari ini aku bangun kesiangan. Dan sialnya aku juga ketinggalan bus. Lebih parahnya lagi, aku merasakan butiran-butiran air menimpa tubuhku. Aku bergegas mencari tempat untuk berteduh. Saat menemukannya, aku langsung berlari. Ternyata ada seorang lain yang juga sedang berteduh. Seorang pria yang harus aku akui sangat cute.

Aku menggigit bibir bawahku dan memeluk diriku sendiri. Ya, aku kedinginan karena aku sempat terkena hujan. Dan tubuhku hampis basah seluruhnya.

“Ni mei shi ma?”

Aku menoleh pada pria yang ada di sampingku ini. Aku tersenyum padanya.

“Wo mei shi. Mungkin hanya kedinginan.”

“Due bu qi, ni jiao shen me ming zi?”

“Oh, wo jiao Xing Ai. Wang Xing Ai. Ni ne?”

“Ya Lun. Yan Ya Lun.”

Cukup lama kita terdiam didampingi suara hujan yang makin keras. Hujan menjadi sangat lebat. Dan aku terjebak berdua bersama dengannya.

“Kalau boleh tahu, kau mau kemana sebenarnya?”

“Aku mau ke kampus. Tapi sialnya aku kesiangan jadi aku ketinggalan bus. Saat hendak mencari kendaraan lain, tiba-tiba turun hujan. Kau sendiri?”

“Aku? Hanya ingin pergi ke suatu tempat saja.”

Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Misterius sekali pria ini.

#flashback end


Itulah awal perjumpaanku dengannya. Seseorang yang telah membuatku tahu bagaimana rasanya dicintai dan dicampakkan. Tunggu! Dicintai? Apa iya dia pernah mencintaiku? Lalu kenapa dia harus meninggalkanku?

* * * * * * *

Aku melihatnya. Seseorang yang sangat aku rindukan. 2 tahun tidak melihat wajahnya tidak membuatku melupakannya.

Meski raga ini tak lagi di sisimu
Tak lagi menjagamu
Meski kau takkan percaya
Percayalah aku masih menyimpan cinta ini

Jika raga ini harus menjadi milik orang lain
Jangan pernah menangis
Senyummu adalah hal terindah
Meski aku harus rela melepasnya

Jika kau membenciku
Maafkan aku
Kumohon jangan lupakan aku
Jangan lupakan setiap kenangan kita

Aku meninggalkankanmu
Tidak berarti aku melupakanmu
Aku bersama orang lain
Tidak berarti aku tidak mencintaimu

Pergilah…
Carilah seseorang yang dapat selalu menjaga hatimu
Aku merelakanmu
Bahagia tanpaku

Apa kau kedinginan? Maaf, untuk tidak berada di sisimu. Aku bahkan sedang bersama wanita lain. Melihatmu seorang diri di tengah hujan seperti ini sungguh membuatku khawatir. Ada begitu banyak kenangan kita bersama hujan. Apa kau masih mengingat semua?

#flashback

“Ge! Kemarilah! Hujan turun!”

“Kenapa kau malah keluar?”

“Hujan kan yang mempertemukan kita, ge. Cepat kemari!” tak lama ia menarik tanganku.

Dan sekarang, kami berdua malah berhujan-hujan ria. Dia nampak sangat bahagia. Sudah beberapa bulan kami dekat. Tidak pernah ada kata jadian untuk kami berdua. tapi kami mempunyai perasaan saling memiliki satu sama lain. Dia milikku dan aku miliknya.

Jika harus mengingat keluargaku. Betapa banyak hal yang telah aku sembunyikan darinya. Aku tahu aku akan kehilangan dia, tapi ijinkan aku bersamanya lebih lama lagi. Ijinkan aku merasakan kebahagiaan ini. Ijinkan aku merasakan indahnya mencintai dan dicintai.

Aku tahu suatu saat aku akan menyakitinya. Ia akan tersakiti dengan hubungan ini. Maafkan aku yang begitu egois membiarkan ini semua berlanjut.

“Ge! Kenapa melamun? Hujan sudah mulai reda. Masuk yuk!”

Kami berdua masuk ke dalam rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar lalu keluar membawa handuk lalu menyerahkannya padaku.

“Keringkan dirimu! Tunggu sebentar, aku akan meminjamkan baju untukmu pada Da Dong ge.”

Tak lama lagi. Ya, tak lama lagi aku harus meninggalkan gadis ini. Seseorang yang sangat berarti untukku. Sanggupkah aku berpisah darinya? Oh Tuhan! Cobaan ini terlalu berat!

“Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan pakaian padaku. Aku pun masuk ke kamar mandi dan mengganti bajuku. Saat aku keluar ia sudah berganti pakaian juga.

“Maaf, mengajakmu hujan-hujanan. Tapi aku benar-benar ingin berhujan-hujan tadi.”

“Mei shi. Aku juga senang kok main hujan tadi. Terasa menyenangkan.”

“Zhen de ma? Xie xie lah, ge.”

“Xie xie? Ni shuo shen me, Xing Ai?”

“Mei you lah. Hanya tiba-tiba ingin mengatakan itu saja.”

Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumanku. Aku akan selalu mengenang senyumanmu, Xing Ai.

“Xing Ai, foto yuk!”

“Kau mengajakku foto? Boleh. Ayo!”

Aku mengambil handphone-ku di meja. Menariknya untuk duduk di sebelahku. Aku merangkul bahunya.

“Yi… Er… San…”

JEPRET!

“Xing Ai, xiang xin wo. Wo ai ni, zhen de zhen de hen ai ni.” Ucapku sambil menggenggam jemarinya.

“Ge? Ni shuo shen me? Ni bu yao shuo lah. Wo zhi dao le, ge.”

Lagi-lagi aku tersenyum padanya. Due bu qi, Xing Ai. Zhen de zhen de due bu qi.

#flashback end

* * * * * * *

Misteri. Semua masih menjadi misteri. Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu kenapa kau meninggalkanku saat itu. Di tengah tengah hujan lebat.

#flashback

“Ge, kau mau mengajakku kemana?” tanyaku saat kami berdua sudah naik ke atas motor-nya.

“Jalan-jalan.”

“Kau sedikit aneh hari ini, ge.”

Sepertinya dia tidak berniat menjelaskan apa-apa karena dia langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ada apa ini? Tidak biasanya ia mengebut karena dia tahu aku takut. Reflek aku memeluknya. Aku bisa merasakan ia sedikit kaget karena sebelumnya aku bahkan tidak pernah berpegangan padanya. Aku benar-benar takut.

“GE! WEI SHEN ME LAH? JANGAN NGEBUT BEGINI! AKU TAKUT!”

Ciiit….

Ia mengerem mendadak. Kali ini aku benar-benar kaget dan takut. Tubuhku gemetar. Aku langsung turun dari motornya dan terduduk di pinggir jalan. Aku tak sanggup berdiri lagi.

“Xing Ai, ni mei shi?”

Tubuhku bergetar. Aku bahkan tak sanggup menjawab pertanyaannya.

TES!

Hujan! Sebentar lagi akan turun hujan. Tanpa kusadari, sebuah senyuman tersungging di bibirku. Dan entah kekuatan dari mana, aku langsung bangkit berdiri, menyambut tetesan air hujan yang mulai deras. Saat aku mulai memejamkan mataku dan menengadahkan tanganku. Aku merasakan seseorang menarik tanganku dengan kasr. Saat aku membuka mata. Aku tahu bahwa seseorang itu adalah gege Aaron.

“Berhentilah menyukai hujan!”

“Wei shen me?”

“Ing wei… Ing wei…”

Aku menunggu jawabannya tapi ternyata dia tak melanjutkan ucapannya. Dia bahkan tak lagi memandangku.

“Ge…”

Dia menoleh padaku. Dia menatapku tajam. Ya, sangat tajam. Baru kali ini dia memandangku seperti ini.

“Berhentilah menyukai hujan! Berhentilah bermain hujan! BERHENTI!”

Aku memandangnya. Air mataku jatuh. Entahlah, ucapannya barusan terasa begitu menyakitkan. Dia tak pernah seperti ini padaku.

“Wei shen me, ge?”

“Kau tidak perlu tahu! Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah berhenti menyukai hujan. dan berhenti mencariku saat hujan. Karena aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Tidak akan.”

“Wei shen me, ge? WEI SHEN ME?” aku berteriak di tengah-tengah tangisanku.

Hujan semakin deras. Membasahi tubuh kami berdua. Membuat pandangan sedikit kabur. Mungkin dia tidak dapat melihat tangisku. Tapi entahlah, sepertinya aku dapat melihat bahwa dia sedang menangis.

“Jangan mencariku lagi, Xing Ai.”

“Ge…”

#flashback end


Itu adalah pertemuanku yang terakhir dengannya, 2 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya aku kembali melihatnya tadi. Di tengah hujan bersama dengan seorang wanita. Tapi, bukan diriku.

* * * * * * *

Sekarang aku sendirian. Wanita itu tidak lagi di sampingku. Tugasku untuk mengantarnya sudah selesai. Aku bergegas kembali ke tempat di mana aku melihatnya tadi. Nihil. Dia sudah tidak ada di tempat.

Aku menyusuri jalan ini. Hingga akhirnya aku menemukan sosoknya sedang duduk di sebuah café. Sedang menikmati scangkir kopi. Bersama dengan…

SEORANG PRIA?

Siapa dia? Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena posisi-nya membelakangiku. Hatiku benar-benar terasa sesak melihat pemandangan ini. Apa kau telah melupakanku, Xing Ai?

Due bu qi. Ini semua memang salahku, dan sudah sepatutnya aku mendapatkan perlakuan seperti ini.

Harusnya aku lega sekarang, itu artinya kau sudah menemukan seseorang yang dapat selalu di sisimu. Aku harap kau akan selalu berbahagia.

Apakah masih ada harapan untuk kita bersama? Atau haruskah aku menganggapnya sebagai kawan lama-ku? seorang sahabat? Tapi aku tidak bisa.

Aku sangat berharap aku dan dia dapat bersama. Aku akan menunggu kesempatan itu.

Zhi hao rang li wu an jing tang zai wo kou dai
(It’s best to let the gift quietly lie in my pocket)

Zhu yuan kan zhu ni gen ta kuai le diao dao xiao kai yeah~
(Peacefully looking at you with him, talking until you laugh)

Dan yong qing liang zi bu zu xing rong wo qing gan
(But this word friendship cannot describe my emotions)

Xin qing dou sui ni zhuan wan
(Feelings have been changed by you)

Er qi ta qing jing wen wo er duo ai qing duo ting bu wan
(And when other circumstances ask me that love cannot be heard enough)

Shi he wo men de cong bu shi lang man
(What suits us has never been romantic)


Ni bu hui ai wo de ai wo ming bai
(You don’t know how to love my love, I understand)

Ni de zui ai na yi kuai na tian wo cai cun zai
(Your best love, that piece, only then did I exist)

Wo bu hui ai  ni de ai shou shang hai
(I don’t know how to love your love without getting hurt)

Suo yi zhu yuan an jing de deng dai
(So I agree to patiently and quietly wait)


Zhi sheng xia bing leng kong qi pei wo yi zheng wan
(The only remainder is the icy cold air that is with me all night)

Ji mo que duo dao sic he gen ben wu fa dong dan yeah~
(Lonely but like a racing car, there is no way to move it)

Yi fan shen wo zai ban ye tu ran jiu xing lai
(When I turn in the night, I suddenly wake up)

Meng li ni de chun rou rang
(Dreaming of your soft lips)


Ai ni wo men bu xi alai mei you na yi tian li wai
(Loving you, I cannot slow down, no day is an exception)

Yuan zi ji bi kuai wo hui gan shang ni wei lai ho~
(Letting myself be quicker, I will make my move on your future)


Bu pa kong bai
(Not afraid of telling the truth)

Zai xian yin yue shi ting xia zai qing fang wen
(I will continue waiting)

…Fahrenheit – Bu Hui Ai…

* * * * * * *

Aku melihatnya. Dia ada di depan café ini. Menatapku. Meski aku tidak terang-terangan balik menatapnya, tapi aku menyadari keberadaannya. Ada tatapan tak senang sepertinya? Apa karena seseorang di hadapanku ini? Aku tak peduli.

Di luar masih hujan dan dia membiarkan payung yang tadi melindunginya terjatuh. Dia kehujanan. Aku juga tidak peduli.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia harus muncul lagi? Percuma! Hatiku sudah mati. Tidak ada lagi cinta…

Cinta untuknya…

Maupun untuk yang lainnya…

.F.I.N.

Ini FF apaan toh??? Ide awal geje, eh akhirnya jadi kayak gini deh FF-nya. Ada rencana bikin sekuel-nya sih. Gimana, kalian mau ga??? Kalau kalian mau n penasaran, ntar aku bikin. Kalo nggak, yo wes aku ga bikin. Hehehe.

Ini FF mandarin pertama eh malah sad ending.

Eh btw, ini juga FF dengan sad ending pertama-ku loh. Hahaha. *ga ada yang nanya*

TRANSLATE

– Ni mei shi ma? –> Apakah kamu tidak apa2?

– Wo mei shi — > Aku tidak apa-apa

– Dui bu qi, ni jiao shen me ming zi? –> Maaf, namamu siapa?

– wo jiao Xing Ai. Wang Xing Ai. Ni ne? –> namaku Xing Ai. Wang Xing Ai. Kamu?

– Ni shuo shen me, Xing Ai? –> Kamu bilang apa, Xing Ai?

– Mei you lah –> tidak ada

– Xing Ai, xiang xin wo. Wo ai ni, zhen de zhen de hen ai ni –> Xing Ai, percayalah padaku. aku mencintaimu, sungguh2 sangat mencintaimu

– Ni bu yao shuo lah. Wo zhi dao le, ge –> Kamu tidak perlu lah mengatakannya. Aku tahu, kak

– Wei shen me? –> mengapa?

Hm.. Cukup sekian dan terima kasih.. ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s