[Series] Our Memories – Part 5

Whoah!!! Bener-bener lega!!! Finally!!! Kelar juga part yang satu ini. Asli! Part yang paling susah diselesein. Feel menghilang, jadinya ga mood buat lanjutin. Padahal beneran deh berkali-kali berniat lanjutin, idenya sih udah ada di pikiran tapi giliran dibuka ga tau mau ngetik apa.

Buat yang penasaran, maaf ya sudah membuat kalian nunggu lama (siapa juga yang nungguin???). Kalo emang author lagi ga ada feel, ga bisa dipaksa juga kan? Tapi akhirnya maksain juga sih. Hahaha.

Satu lagi, karena jujur ni bikinnya rada maksa, mian kalo ceritany juga rada maksa… Kalo ada kesalahan di sana sini mohon dimaklumi ya?

Oke lah, seperti biasa, don’t forget to leave your comment or thumb. Thank you!

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Soo Hyun PoV_

Aish! Bocah itu benar-benar membuatku sebal. Berani sekali dia? Dia yang menahanku untuk tetap bersamanya, bahkan memeluk pundakku di depan Hong Ki oppa. Benar-benar menghancurkan citra diriku. Setelah itu bahkan berlalu begitu saja dan langsung mengantarku pulang tanpa mengucapkan hal lain selain menanyakan alamat rumahku. Apa-apaan bocah itu? Aku mengacak rambutku sendiri.

“Museun iriya, noona? No gwaenchani?”

“Aniyo. Aku hanya sedang sebal saja.”

“Nuguya?”

“Bocah menyebalkan itu. Temanmu, Choi Min Hwan.”

“Waeyo?”

“Aish! Sudahlah aku malas membahasnya. Seung Hyun ah~ aku ke kamarku dulu.”

“Ya! Noona! Ceritakan padaku apa yang Min Hwan lakukan!”

Aku mendengar ia sedikit berteriak karena aku tetap melangkah menjauh lalu menuju tangga karena kamarku ada di lantai dua. Beruntung masih ada Seung Hyun di rumah ini. Anak dari adik laki-laki appa-ku. Kalau tidak ada dia di rumah ini aku pasti akan sangat kesepian.

Aku masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Menandakan ada pesan masuk.

Aku meraih handphone di saku-ku. Nomor siapa ini?

From : +6xxxxxxxxx
Ya! Noona! Apa kau perlu bantuanku untuk memata-matai Hong Ki hyung? ^_~


Aish! Tidak salah lagi! Pasti bocah itu! Apa sih maunya? Lagipula, tahu nomorku darimana dia? Ah pasti dari Min Hae. Setelah menyimpan nomornya, aku memutuskan untuk membalas pesannya.

To : Minan
Ya! Dasar bocah sok tahu! Urusi saja noona-mu itu!

From : Minan
Hahaha.. Noona-ku bisa mengurusi dirinya sendiri. Jadi aku mengurusmu saja.. ^_~

Mwoya? Mau apa sebenarnya bocah ini? Membuatku merinding saja. Tapi anak ini menarik juga. Dia berani sekali terhadapku? Apa dia belum tahu siapa aku? Lebih baik aku menggodanya saja sekalian. Kelihatannya ini akan menyenangkan.

To : Minan
Yakin kau mampu mengurusku? Aku sangat merepotkan loh.

From : Minan
Tenang saja. Kau mau bagian apa dulu dari dirimu yang aku urus? Mau aku jemput besok pagi?

To : Minan
Menjemputku? Tentu saja. Aku akan menunggumu di rumah jam 7 pagi. Awas kalau sampai kau terlambat.

From : Minan
Dan awas kalau kau belum siap saat aku datang menjemputmu. Araji?

To : Minan
Harusnya aku yang mengancam-mu. Tidak usah balik mengancam-ku. Jangan lupa, dandanlah yang rapi! Aku tak sudi dijemput seorang bocah!

From : Minan
Kau tak perlu khawatir. Hati-hati terpesona padaku besok pagi. Kau tidak tidur? Jal jayo, noona. Mimpikan aku ya??? ^_~

To : Minan
Memimpikanmu? Mimpi kau! Ne, jal jayo…

Aku meletakkan handphone-ku di meja sebelah ranjangku. Aku menuju kamar mandi. Gosok gigi dan cuci muka, mengganti baju-ku dengan piyama lalu merebahkan diriku ke ranjang. Bagaimana bisa bocah ini terus mengusik hidupku? Padahal aku berharap Hong Ki oppa lah yang selalu ada untukku, pria yang berhasil membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Entahlah… Aku berusaha memejamkan mataku dan aku pun terlelap.

>>>

“Annyeong, noona!” sapa Seung Hyun saat melihat sosok-ku di tangga. Ia sedang menyantap sarapan-nya.

“Sopan sekali kau tidak menungguku?” ucapku sambil mengambil gelas, hendak membuat segelas susu.

“Saat bangun tadi aku benar-benar kelaparan. Makanya setelah siap aku langsung sarapan.”

“Aish! Alasan saja! Oh ya, hari ini kau berangkat saja sendiri. Aku akan dijemput seseorang.”

“Nuguya? Hm… Biar aku tebak! Pasti Min Hwan kan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Ingat, kau itu noona bagi-nya!”

“Apa maksud dari kata-katamu itu? Aku kan tidak berniat menjadikannya kekasihku!”

“Yakin?”

“Aish! Kau sama menyebalkannya dengan dia!” usai mengucapkan itu aku langsung meneguk susu yang baru saja kubuat.

Tak lama bel rumahku berbunyi. Aku beranjak mengambil tas-ku lalu segera keluar. Aku membuka pintu dan nampak Min Hwan yang sepertinya sedikit berbeda tapi tampak sangat menawan.

“Annyeong! Kau sudah siap rupanya. Kajja!”

“Seung Hyun ah~ cepatlah berangkat dan jangan coba-coba membolos.” Ucapku sebelum aku keluar dan menutup kembali pintu rumah-ku.

Saat di luar aku kaget karena aku hanya melihat sebuah sepeda motor di sana. Hey! Mana mobilnya?

“Ya! Jangan katakan padaku bahwa kau yang mengendarai motor itu.”

“Ne. Itu memang milikku.”

“Mwoya? Itu artinya aku juga harus naik motor besarmu itu? Andwae!”

“Waeyo? Mobilku dipakai noona-ku. Aku tidak mungkin membiarkan noona-ku yang mengendarai motor ini kan?”

“Why not?”

“Ya! Apa aku setega itu pada noona-ku? Bagaimanapun juga aku ini dongsaeng-nya. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya jika aku membiarkan dia mengendarai motor ini.”

“Jadi maksudmu kau tega padaku?”

“Aniyo. Kalau kau, kan aku yang menyetir. Tenanglah, aku sudah mahir. Lagipula ini akan terasa seru.”

“Jinjja?”

“Ne. Kajja!”

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Aku mengerjapkan mataku. Sepertinya ini sudah pagi. Hari ini aku ingin pulang saja ke rumah. Aku tak betah lama-lama di sini.

“Hye Jin ah~ bisakah kau urusi kepulanganku? Aku tak betah lama-lama berada di tempat ini. Bukankah aku sehat-sehat saja? Hanya kepala-ku saja yang terbentur.”

“Ara… Ara… Aku akan segera mengurus kepulanganmu.”

Ia pun keluar dari kamarku. Aku sedang duduk di ranjang. Tempat ini sungguh sangat membosankan. Tak lama aku mendengar derap langkah mendekat. Siapa lagi?

“Jong Hun ah~ apa yang terjadi denganmu?”

Aku memandang seseorang di hadapanku ini. Siapa dia? Aku tak merasa mengenalnya.

“Kau siapa?”

“Kau lupa padaku? Aku Won Bin.”

“Won Bin? Mianhae, aku benar-benar tak ingat kau ini siapa.”

“Operasi itu memang menyebabkan dirimu lupa ingatan, tapi usai operasi itu kita kan masih sempat bertemu dan aku telah menjelaskan padamu siapa aku.”

“Operasi? Operasi apa?”

“Ya! Jong Hun ah~ apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

“Mollayo. Tapi aku benar-benar tidak merasa pernah mengenalmu.”

“Jinjja?” ucapnya sambil mengernyitkan keningnya.

“Ne. Seingatku aku tidak punya teman bernama Won Bin.”

Tak lama kemudian ia duduk di sofa tapi keningnya masih berkerut, tanda bahwa ia masih sedang berpikir.

“Oppa, ayo kita pulang! Loh? Kau sedang ada teman?” Tanya Hye Jin padaku. Aku hanya mengangguk sekilas.

“Annyeong!” Hye Jin memberi salam pada Won Bin lalu berjabat tangan dengannya.

“Oh Won Bin imnida.”

“Choi Hye Jin imnida.”

“Oh, jadi kau adik Jong Hun?”

“Ne.”

“Bisakah aku ngobrol denganmu sebentar, sebelum kalian berdua pulang?”

“Ne? ngobrol denganku?”

“Tentang oppa-mu.”

“Oh, arasseo. Oppa, tunggu sebentar ya?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Tak lama mereka berdua keluar dari kamar. Kira-kira apa yang mau Won Bin bicarakan? Memang apa yang telah terjadi denganku?

_PoV end_


_Choi Hye Jin PoV_

“Sebenarnya apa yang telah terjadi pada oppa-mu?”

“Tunggu, sebenarnya kau ini siapa?”

“Oh ya, mian. Aku lupa menjelaskan padamu. Aku adalah teman Jong Hun sewaktu dia di rawat di Singapura. Aku adalah adik dari dokter yang menanganinya di sana.”

“Oh begitu.”

“Jadi?”

“Mollayo. Kemarin aku menemukan dia tergeletak di kampusku. Sepertinya kepalanya terantuk sesuatu. Dan saat bangun, dia seperti ini. Ingatannya kembali ke masa kurang lebih setahun yang lalu. Masa sebelum dia mengenal Min Hae.”

“Min Hae? Gadis yang sangat berarti untuk Jong Hun itu?”

“Kau tahu?”

“Ne. Dia selalu menceritakan tentang gadis itu. Gadis yang sudah mengubah hidupnya.”

“Ne. Dan sekarang, dia melupakan Min Hae. Dia kembali menjadi sosok yang dulu. Padahal dia sudah berubah menjadi lebih baik, Aku bingung harus melakukan apa.”

“Kau tenanglah, suatu saat ingatannya pasti pulih kembali.”

“Ne. Gomawo.”

“Ya sudah. Boleh aku minta alamat rumahmu, mungkin aku akan menjenguk Jong Hun.”

“Tentu saja.”

Aku mengambil kartu nama yang ada di dompetku lalu menyerahkan padanya.

“Aku pulang dulu. Terima kasih telah menemani oppa saat di Singapura dulu. Annyeong!”

>>>

Aku dan oppa berjalan ke kamar oppa. Sesampai di kamar dia langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

“Hye Jin ah~, temanmu itu manis juga?”

“Oppa???” aku membulatkan mataku mendengar perkataannya. Dia mengatakan hal itu dengan nada yang sangat santai. Seolah ingin memperlakukan Min Hae sama dengan gadis-gadis lainnya.

“Waeyo? Apa dia sudah punya kekasih?”

“Aniyo. Kau tidak bermaksud…”

“Bermaksud apa? Ayolah, dia sangat menarik. Masa iya, harus aku lewatkan begitu saja karena dia itu temanmu?”

“Oppa!!! Aku tidak mau kau memermainkan perasaan Min Hae. Aku tidak akan mengijinkan kau mendekatinya kalau pada akhirnya kau hanya akan menyakitinya.”

“Hye Jin ah~, tidak biasanya kau ikut campur urusanku sampai sejauh ini.”

“Kali ini aku tidak bisa diam saja. Min Hae adalah sahabatku.”

“Dan aku oppa-mu.”

“Justru karena kau adalah oppa-ku. Aku tidak ingin oppa-ku sendiri menyakiti sahabatku.”

“Aku tidak bermaksud menyakitinya kok.”

“Tapi dengan sifatmu yang seperti ini, aku yakin kau akan menyakitinya oppa.”

“Sifatku yang mana?”

“Kau memperlakukan gadis-gadis dengan sangat baik, seolah mencintai mereka. Tapi lantas kau campakkan begitu saja.”

“Maksudmu aku playboy?”

“Tepat sekali.”

“Aish! Terserah kau lah. Sudah, aku mau tidur. Heran, hari ini kau cerewet sekali.”

Aku hendak menjawab kata-katanya lagi. Tapi aku urungkan. Karena nampaknya ia sudah tidak berminat untuk mendengar kata-kataku.

Aku berjalan keluar dari kamar oppa dan bergegas ke kampus. Syukurlah, hari ini aku hanya ada kelas siang.

Saat aku sedang berjalan terburu-buru ada seorang pria memanggilku. Suara yang tidak asing.

“Hye Jin ah~!”

Aku menoleh dan mendapati Jae Jin yang tengah melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Tak lama ia berlari menghampiriku.

“Pagi ini aku tak melihatmu melukis.”

“Ah, iya. Aku memang baru datang dan sepertinya tidak akan melukis hari ini.”

“Kenapa terburu-buru?”

“Ah, aniyo. Hanya ingin mencari temanku.”

“Min Hae?”

“Ne. Kau melihatnya?”

“Tadi aku sempat melihatnya di kantin. Duduk sendirian.”

“Kalau begitu, aku ke sana dulu ya? Sampai jumpa!”

Aku melambaikan tangan padanya. Entah kenapa, ada sebuah perasaan tak rela meninggalkannya. Aish! Apa sih yang aku pikirkan?

Saat aku sampai di kantin, aku melihat Min Hae duduk seorang diri menatap ke depan dengan pandangan kosong. Aku menghampirinya lalu menepuk pundaknya sekilas. Ia terlonjak kaget. Dia menoleh padaku lalu tersenyum.

“No gwaenchani?” tanyaku sambil mengambil posisi duduk di hadapannya.

“Ne. Waeyo?”

“Kau yakin? Oppa-ku?”

Dia tersenyum, tapi aku tak menyukai senyumnya itu. Nampak sekali sangat dipaksakan.

“Tak masalah dia melupakanku. Mungkin memang sudah seharusnya begitu. Lagipula, kita juga tidak ada hubungan apa-apa.”

“Min Hae ah~.”

“Gwaenchana Hye Jin ah~. Kau tidak perlu bersikap seperti ini. Kalau toh suatu saat oppa-mu mengingat semua, tidak akan ada perubahan berarti. Tenanglah…”

“Tapi aku yakin. Kau begitu special untuk oppa-ku.”

“Itu sudah tidak penting. Aku akan mulai menjalani hari-hariku seperti biasa.”

“Mianhae. Jeongmal mianhaeyo Min Hae ah~.”

_PoV end_


_Choi Min Hae PoV_

Ya, aku akan melupakannya. Harus bisa melupakannya. Aku tidak akan lagi menangis dan berharap. Setelah hari ini, tidak ada lagi tangisan karena seseorang bernama Choi Jong Hun.

Aku memasuki rumah dengan enggan. Berusaha memasang senyum di wajahku agar Min Hwan tidak khawatir.

“Noona pulang!”

“Noona!!!”

Aku menatap wajah dongsaeng-ku satu-satunya ini. Entah kenapa menatap wajahnya membuat pertahananku runtuh. Air mataku jatuh tiba-tiba. Ia kaget melihatku menangis.

“Noona, waeyo?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya, malah terus menangis. Min Hwan menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat seorang dongsaeng. Berada di pelukan Min Hwan sangat nyaman, namun malah membuat tangisku semakin deras.

Min Hwan mengusap punggungku pelan.

“Menangislah, noona. Luapkan semuanya.”

Cukup lama aku menangis dalam pelukan Min Hwan. Aku mulai bisa menenangkan diriku. Aku berhenti menangis dan melepaskan diri dari pelukan Min Hwan.

“Minan… Gomawo…”

“Ne, noona. Waeyo? Kau tampak sangat pucat.”

“Noona tidak apa-apa.”

“Kau harus istirahat. Kajja!”

Min Hwan menuntunku menuju kamarku. Menyuruhku untuk tidur. Lalu menyelimutiku.

“Tidurlah, noona. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”

Aku mengangguk dan tersenyum. Betapa beruntungnya aku memiliki adik sebaik ini.

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s