[Series] Our Memories – Part 3

Permisiii… Adakah yg menantikan post-ku kali ini??? Aku tahu pasti ada seseorang yang sangat menanti2kan dan sempet nagih beberapa kali… hehehe… Ni, aku post part 3-nya… Setelah aku tunda sekian lama cz ide mandeg buat part 4-nya…

Yeay! Ngomong apa ya? Part ini ga kayak part sebelumnya yang sangat-sangat menyentuh (PeDe!!!). Part ini lebih didominasi sama dialog-dialog. Menceritakan hal-hal lain juga, selain Jong Hun sama Min Hae. Hehehe. Ah! Aku bingung mau ngomong apa!

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Min Hwan PoV_

Hari ini adalah hari kedua. Aku berangkat bersama noonaku. Sesampai di kampus aku mendengar sesorang menyapa noonaku.

“Min Hae ah~!!!”

“Hong Ki??? Kau kuliah di sini juga?”

“Ne. Mulai kemarin aku kuliah di sini. Aku baru saja pindah ke Seoul. Apa aku belum menceritakannya padamu?”

“Aniyo. Oh ya, kenalkan. Ini adikku.”

“Choi Min Hwan imnida.”

“Lee Hong Ki imnida.”

“Ya sudah aku ke kelas dulu. Annyeong noona, hyung.”

“Ne.” sahut mereka bersamaan.

Aku melenggang menuju kelasku. Tak sengaja aku melihat Soo Hyun noona sedang ngobrol bersama teman-temannya. Aku jadi teringat peristiwa kemarin.

#Flashback#

“Jadi kau adalah adik dari Choi Min Hae?”

“Ne. Kau mengenal noona-ku?”

“Aniyo. Aku hanya merasa dia rivalku.”

“Rival?”

“Aish! Sudahlah!”

#Flashback end#


Rival? Kenapa dia menganggap noona sebagai rival? Aku harus terus mengawasi Soo Hyun noona. Aku tidak ingin dia menyakiti noona-ku.

Saat aku hendak melangkahkan kakiku masuk ke kelas, seseorang memanggilku. Membuatku menghentikan langkahku. Aku menoleh dan mendapati Soo Hyun noona tepat di hadapanku.

“Waeyo, noona?”

“Di mana kakakmu itu?”

“”Noona-ku? Kau ada urusan apa dengan noona-ku?”

“Ya! Kau berpikir aku akan menyakiti noona-mu? Aku tidak serendah itu.”

“Mana aku tahu? Yang aku tahu, aku akan selalu menjaga noona-ku dari siapapun, bahkan kau, Soo Hyun noona.”

“Aigo! Dasar anak kecil!”

“Apa kau bilang? Dasar sok tua!”

“Ya! Kau berani denganku? Kau tidak tahu aku siapa?”

“Siapa takut? Kau? Kau itu noona-noona galak yang cerewet sekaligus kekanakan.”

“Aish! Menyebalkan!” ucapnya lalu berlalu dari hadapanku.

Apa sih mau-nya? Aku rasa noona seorang yang baik. Apa noona-ku melakukan kesalahan terhadapnya? Tapi, apa mungkin???

_PoV end_


_Lee Jae Jin PoV_

Hari ini hyung meninggalkanku dan berangkat lebih dulu ke kampus. dia orang yang terlalu bersemangat. Sebenarnya aku tidak ada kelas pagi namun aku malas sendirian di rumah. Sesampainya di kampus aku memutuskan untuk bermain bola seorang diri, seperti dua hari yang lalu.

#Flashback#

Kuliah baru akan dimulai besok tapi aku memutuskan untuk berkeliling kampus terlebih dahulu agar aku tidak bingung besok, sampai akhirnya aku menemukan sebuah lapangan sepak bola. Dan menemukan sebuah bola di pinggir lapangan.

Aku memainkan bola itu sendiri. Menendangnya ke gawang. Sampai akhirnya salah satu tendanganku meleset dan terlempar ke arah lain. Tak lama aku mendengar seorang gadis merintih. Sepertinya bolaku mengenai-nya.

Aku berlari ke pinggir lapangan dan melihat seorang gadis yang memegang kepalanya dengan tangan kirinya sementara di tangannya terdapat pensil. Sepertinya ia sedang melukis.

“Mianhae, aku tak sengaja.”

Dia menatapku. “Ne, gwaenchanayo.”

“Kau baik-baik saja kan? Apa perlu kubantu ke ruang kesehatan?”

“Aniyo. Tidak perlu. Tendanganmu tidak sampai membuatku gegerotak kok.”

“Hahaha. Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Lee Jae Jin imnida. Kau?”

“Choi Hye Jin imnida.”

“Manasseo banggawoyo.”

“Ne.”

#Flashback end#


Lagi-lagi aku melihat gadis itu di pinggir lapangan. Aku memutuskan untuk menghampirinya terlebih dahulu.

“Hey!”

“Oh, hey! Mian, kemarin aku menabrakmu.”

“Gwaenchanayo.”

“Apa kau selalu melukis di tempat ini?”

“Ne, setiap aku ada waktu aku akan kemari dan melukis.”

“Kenapa harus di tempat ini?”

“Karena tempat ini cukup tenang. Tidak ada yang bermain bola di jam-jam kuliah. Mereka biasa bermain sore hari. Kecuali kau tentunya.”

“Ya! Kau masih dendam padaku karena kejadian dua hari yang lalu?”

“Aniyo. Hahaha.”

“Tunggu! Bukankah dua hari yang lalu kuliah belum dimulai? Kenapa kau ada di tempat ini?”

“Aku akan kemari jika ingin melukis.”

“Baiklah, aku ke lapangan dulu. Semoga kali ini tidak ada bola yang nyasar ke tempatmu.”

“Semoga.”

_PoV end_

_Choi Hye Jin PoV_

Aku bisa melihatnya dengan sangat jelas dari tempatku sekarang. Dan tanpa aku sengaja aku mulai melukis wajahnya di buku gambarku. Dan harus aku akui permainannya juga cukup bagus.

Kehadirannya di tempat ini memberi warna yang berbeda. Biasanya aku selalu sendiri di tempat ini. Sunyi. Tapi kini, dua hari ini tepatnya. Aku melukis diiringi suara permainan bola darinya. Dan anehnya aku tak merasa terganggu sama sekali. padahal biasanya aku sampai tak mengijinkan Min Hae untuk menelepon atau mengirim pesan padaku saat aku sedang melukis. Aku takut terganggu. Aneh bukan?

Aku melihatnya mengakhiri permainannya dan kembali berjalan ke arahku. Aku bergegas menutup buku gambarku.

“Kenapa berhenti?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Aku mau ke kantin. Kau mau ikut?”

“Aniyo. Aku masih mau di sini.”

“Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Aku kembali membuka buku gambarku dan melanjutkan melukis.

_PoV end_

_Choi Min Hae PoV_

Aku mengetuk-ngetukkan pensilku ke meja. Aku sedang memikirkan ucapan Jong Hun oppa kemarin. Bagaimana dia bisa mengucapkan kata-kata itu? Dia bahkan belum mengingat masa lalunya sama sekali.

Handphone-ku tiba-tiba bergetar. Pesan dari Hye Jin rupanya.

From : Hye Jin
Min Hae ah~, pulang bersamaku ya? Mainlah ke rumah…

To : Hye Jin
Memang ada apa?

From : Hye Jin
Sepertinya oppa ingin bertemu denganmu…

DEG! Dia ingin bertemu denganku?

To : Hye Jin
Baiklah. Tunggu aku di depan gerbang. Aku akan segera ke sana.


Setelah mengirim pesan pada Min Hwan, memberi tahunya bahwa aku pulang bersama Hye Jin, aku bergegas merapikan barang-barangku dan beranjak keluar.

>>>

“Min ah~ kau sudah datang?”

“Ne.”

“Duduklah di sampingku.”

Aku melangkahkan kakiku lalu duduk di sebelahnya. Aku merasa sedikit canggung. Apa yang harus aku katakan setelah kemarin ia memintaku untuk menjadi kekasihnya?

Tiba-tiba saja ia memelukku. Sangat erat.

“Mianhae. Anggap saja aku tidak bicara apa-apa padamu.”

“Aku tidak ingin kau menjadi kekasih seseorang yang bahkan tidak mengingat masa lalunya.”

“Oppa?”

Ia melepaskan pelukannya. Menatapku dalam. Tatapannya begitu sendu. Dan tiba-tiba saja aku melihat air mata jatuh dari pelupuk matanya. Entah keberanian darimana, aku mengarahkan tanganku ke wajahnya. Aku mengusap air matanya.

“Oppa, uljima.”

Dia melepaskan tanganku dari wajahnya lalu menggenggamnya.

“Bantu aku untuk mengingat masa laluku. Setidaknya bantu aku untuk mengingat semua kenangan kita dulu.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku pasti akan membantumu, oppa. Aku akan membuatmu kembali mengingat semua kenangan antara kita berdua. Aku akan mengembalikan senyum serta tawa itu ke wajahmu. Aku berjanji.

“Café itu, aku merasa familiar.”

“Ne? Café itu adalah tempat di mana kita bertemu pertama kali. Dan setiap kita bertemu juga di situ.”

“Oh ya? Seberapa sering kita bertemu?”

“Hampir setiap hari.”

“Pantas. Ceritakanlah padaku apa saja yang kita lakukan selama di sana.”

“Apa ya? Kita banyak mengobrol selama di sana. Terkadang aku memperhatikanmu menyelesaikan tugas kuliahmu.”

“Kuliah ya? Aku ingin kembali berkuliah, siapa tahu ingatanku bisa segera pulih. Apa kita satu kampus?”

“Ya! Kau belum mengetahui apa-apa? Tidak menanyakan sebelumnya pada Hye Jin?”

“Aku lebih tertarik bertanya padamu. Aku ingin tahu seberapa jauh kau mengenalku.”

“Kita tidak satu kampus. Itu sebabnya kita selalu bertemu di café itu.”

“Lalu? Adakah hal lain yang kita lakukan di café itu?”

“Hahaha. Terkadang kita menebak-nebak apa yang baru terjadi pada pengunjung café tersebut.”

“Maksudnya?”

“Jadi begini, misalkan aku melihat seorang pria ber-jas bertampang kusut aku akan mengatakan padamu, oppa lihatlah pria itu pasti dia baru saja gagal mendapatkan proyek. Dan kau akan tertawa saat melihat pria itu. Ya kira-kira seperti itu keseharian kita.”

“Hahaha. Aku tak menyangka kita melakukan hal-hal konyol seperti itu.”

Kami berdua pun tertawa bersama. Aku bahagia aku dapat melihat tawanya lagi. Tawa yang benar-benar aku rindukan.

“Hey! Adakah benda yang dapat membantuku mengingat sesuatu?”

“Benda?”

“Ne. Apa aku pernah memberimu sesuatu?”

“Ne. Cincin ini kau yang memberikannya.” Ucapku sambil melepaskan cincinku dari jari manis tangan kiri-ku lalu memberikan padanya.

Tiba-tiba saja dia memegangi kepalanya. Sepertinya sakit sekali.

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Aku melihat sekelebat bayangan. Aku melihat kartas. Aku melihat ada sebuah gambar di atas kertas itu. Sebuah design cincin. Cincin yang sama dengan yang ada dalam genggamanku saat ini. Kepalaku terasa sakit. Sangat sakit.

“Oppa, no gwaenchani?”

“Ne.”

Aku berusaha menenangkan diriku dan sakit itu mulai berkurang secara perlahan.

“Wajahmu tampak pucat, oppa.”

“Aku tak apa. Tapi sepertinya aku melihat bayangan tentang cincin ini tadi.”

“Jeongmalyo? Apa yang kau lihat?”

“Entahlah, tak terlalu jelas. Aku hanya melihat sebuah kertas dengan design cincin ini diatasnya.”

“Itu artinya, cincin ini kau sendiri yang mendesign-nya?”

“Aku tak tahu.”

“Ya sudah, kau jangan memaksa dirimu untuk mengingatnya.”

“Temani aku ke café itu. Aku ingin merasakan suasana yang sama dengan yang biasa kita rasakan.”

“Kajja!”

>>>

Aku berjalan lalu duduk di sebuh kursi di dekat jendela.

“Oppa?”

“Waeyo?”

“Tahukah kau, kau sekarang duduk di tempat kita biasa duduk.”

“Jeongmalyo? Mungkin alam bawah sadar yang memberitahuku.”

Aku memanggil waitress dan memesan dua gelas teh hijau.

“Kau bahkan memesan minuman yang selalu kita pesan, oppa.”

Aku melihatnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. Aku menggenggam jemarinya sambil tersenyum.

Kami masih saja mengobrol. Dia bercerita banyak tentang masa laluku. Tapi aku belum juga berhasil mengingat sesuatu. Aku benar-benar nyaman bersamanya. Dan aku tidak merasa asing dengan apa saja yang aku lakukan bersamanya di café ini.

Entahlah, meskipun aku amnesia tapi sepertinya aku merasa bahwa aku jatuh cinta dengan gadis yang ada di hadapanku ini. Aku menyadari, tidak peduli aku di masa lalu dan aku yang amnesia sekarang, dia selalu berhasil membuatku jatuh cinta padanya.

Dan kini aku akan membuktikan kata-kata yang aku tulis di agenda-ku. Aku tidak akan pernah melepasmu, Min ah~

_PoV end_


_Choi Soo Hyun PoV_

Kenapa kau selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Min Hae ah~? Aku memang lebih populer di kampus daripada kau. Tapi itu hanya karena orang tua-ku adalah pemegang saham di kampus. Selebihnya???

Kau tidak bermaksud mendapatkannya juga kan? Kali ini saja, mengalahlah padaku.

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s