[One Shot Series] A Lifetime Loving You

Hello! Hello! FF ini aku buat khusus untuk ulang tahun Jae Joong oppa-ku tercinta. Trus, ini merupakan FF pertamaku yang pake satu sudut pandang aja. Ide cerita bener-bener pas-pasan. Ga ada ide cemerlang yang muncul. Whoa! So, mianhae kalo ceritanya agak-agak geje bin maksa. Aku udah berusaha semaksimal mungkin demi ikut memeriahkan hari ulang tahun Jaeppa. Halah!

Oh ya, jangan lupa ucapin selamat ulang tahun ya ke Jaeppa??? Hehehe…

Dan, aku akan mewakilkan Jaeppa untuk mengucapkan gomawo… ^_^

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : A Lifetime Loving You

Author : neys

Main cast

Kim Jae Joong (DBSK / JYJ)

Jung Ga Eul

Other Cast

Jung Yun Ho (DBSK)

Kim Jun Su (DBSK / JYJ)

Shim Chang Min (DBSK)

Park Yoo Chun (DBSK / JYJ)

Kim Eun Hye

Lee Mi Hwang


Jung Ga Eul. Gadis yang sudah menjadi kekasihku selama 3 tahun. Aku sangat mencintainya. Tapi, sampai saat ini ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku.

Bahkan di saat aku mengungkapkan cinta padanya. Ia hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Apa dia menerimaku karena kasihan? Tapi ini sudah berjalan 3 tahun.

Selama ini kami nampak seperti pada pasangan pada umumnya. Kami pergi berkencan, seperti nonton film, jalan-jalan atau makan berdua. Meskipun aku tidak pernah mendengar panggilan sayang darinya saat bersamaku.

Aku dan dia satu kampus, itu sebabnya aku selalu berangkat dan pulang bersama meskipun jam kelas kami terkadang berbeda. Sekarang ia semester 4 sementara aku sudah semester akhir. Saat di kampus pun ia sangat jarang bersamaku. Ia lebih sering bersama dengan kedua sahabatnya, Kim Eun Hye dan Lee Mi Hwang. Kadang aku iri pada mereka berdua.

Oh Tuhan! Apa yang harus aku lakukan agar aku mengetahui perasaan Ga Eul yang sebenarnya padaku???

“Jae Joong ah~! Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aniyo, Chang Min ah~. Gwaenchanayo.”

“Ga Eul menunggumu di ruang tamu.”

“Ga Eul? Jeongmalyo?”

“Ne.”

Ga Eul datang ke rumahku? Apa ini sebuah keajaiban? Ini adalah kali pertama ia berkunjung kemari. Selama ini aku lah yang selalu main kerumahnya.

“Jagiya?” ia menoleh padaku.

“Oppa. Apa aku mengganggu?”

“Aniyo. Aku sangat senang kau kemari.” Ucapku lalu duduk di sebelahnya.

“Mianhae, oppa. Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu.”

“Katakan saja.”

“Aku ingin kita berpisah.”

“MWO???”

“Jeongmal mianhaeyo, oppa. Aku benar-benar tidak bisa menjadi kekasihmu lagi.”

Kami berdua diam beberapa saat. Aku masih berusaha mencerna kata-katanya, berusaha menerima kenyataan bahwa ia baru saja mengatakan ingin berpisah dariku,

“Ga Eul ah~ bolehkah aku bertanya satu hal padamu?”

“Ne?”

“Apa selama ini kau tidak pernah mencintaiku?” ia hanya diam mendengar pertanyaanku. Ekspresi wajahnya pun tak dapat kuartikan. Ia nampak sedih, tapi tak ada air mata.

“Mianhae, oppa.”

Hanya itu kata-kata yang dia ucapkan sebelum akhirnya keluar dari rumahku. Kini aku tahu bahwa selama ini dia sama sekali tidak mencintaiku. Lalu, apa artinya kebersamaan kita 3 tahun ini kalau ternyata dia bahkan sama sekali tidak mencintaiku?

Kenapa kau harus memperlakukan aku seperti ini Ga Eul? 3 tahun kebersamaan kita justru membuatku semakin mencintaimu, semakin tidak sanggup untuk kehilanganmu. Kenapa kau tidak menolakku saja dari awal? Setidaknya mungkin tidak akan sesakit ini rasanya.

“Jae Joong ah~, no gwaenchani?”

Aku menoleh dan aku mendapati keempat sahabatku yang menatapku dengan tatapan iba.

“Bisakah aku baik-baik saja?”

“Apa perlu kutanyakan pada Eun Hye?”

“Mi Hwang mungkin?”

“Aniyo, Yun Ho ah~, Jun Su ah~. Gomawo.”

“Apa akhir-akhir hubungan kalian ada masalah?”

“Aku dan dia tidak ada masalah apa-apa.”

Aku beranjak dari tempat dudukku, menuju ke kamar. Aku hanya bisa terdiam memandangi foto kami berdua yang aku letakkan di meja sebelah tempat tidurku.

Foto ini diambil kira-kira satu tahun yang lalu. Saat kami merayakan kelulusannya.

#Flashback

“Chukaeyo, jagiya!” ucapku sambil memeluknya.

“Gomawo, oppa.”

“Aku ingin mengajakmu ke taman hiburan untuk merayakan kelulusanmu. Kau mau?”

“Dengan senang hati.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.

Aku dan dia bersenang-senang seharian di taman bermain. Memainkan hampir semua wahana yang ada. Aku benar-benar bahagia. Beberapa kali aku meminta tolong kepada para karyawan di sana untuk memotretku dan Ga Eul. Aku merangkul pundaknya setiap kali akan berfoto.

#Flashback end


Bahkan ia tersenyum di foto ini, sepertinya sangat bahagia. Apakah senyum ini juga palsu?

The next day

Aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Tidurku benar-benar tidak nyenyak. Aku mengambil handphone-ku dan mengetik sebuah pesan.

To : Ga Eulove
Kau mau aku jemput pagi ini?

From : Ga Eulove
Gomawo, oppa. Aku berangkat sendiri saja.

To : Ga Eulove
Kau tidak sedang berusaha menjauhiku kan?

From : Ga Eulove
Aniyo, oppa. Kita tetap teman kan? Besok kau boleh menjemputku seperti biasa. ^_^

To : Ga Eulove
Ne, kita tetap berteman.


Pesan-ku yang terakhir kukirim dengan tidak rela. Teman? Aku tidak berharaphanya menjadi temannya. Aku hanya ingin dia menjadi pendampingku.

Aku berangkat kuliah dengan malas. Sampai di kampus aku melihatnya sedang bersama Eun Hye dan Mi Hwang dan juga kekasih mereka, Yun Ho dan Jun Su. Harusnya aku ada di sebelahnya bukan?

Aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Tapi sebelum aku berhasil mengejar mereka, mereka sudah menghilang terlebih dulu.

Aku berusaha mencari Chang Min dan Yoo Chun pun tak berhasil. Mereka semua kompak sekali membiarkan aku yang sedang terpuruk ini seorang diri?

Kelas akan dimulai sepuluh menit lagi, aku bergegas menuju ruang kelasku.

“Kumpulkan laporan kalian.”

Aku memanggil Yoo Chun yang duduk disebelahku.

“Laporan apa?”

“Kau belum mengerjakan? Bukankah kemarin aku sudah mengingatkanmu?”

“Jinjja? Aish! Bagaimana ini?”

“Ada apa Kim Jae Joong?”

“Aniyo. Saya belum mengerjakan laporan itu.”

“Mwoya? Kalau begitu silahkan mendengarkan materi saya di luar.”

“Ne.”

Aku melangkah keluar dengan gontai. Satu persatu kesialan menimpaku. Salah apa aku?

Saat aku di luar aku melihatnya. Ya, aku melihat gadisku Ga Eul sedang duduk di taman kampus. Membuatku ingin menghampirinya saja. Tapi, tunggu! Siapa itu? Kenapa ada seorang pria yang menghampirinya? Ya! Kenapa dia duduk di sebelah Ga Eul? Hey! Itu terlalu dekat, jauhkan dirimu!

Ah! Pemandangan ini benar-benar membuatku kesal. Mereka kelihatannya akrab sekali? Mengobrol dan tertawa. Apa karena pria itu Ga Eul memutuskanku? Apa dia berselingkuh di belakangku? Aish! Tidak mungkin! Pikiran macam apa ini? Ga Eul tak mungkin mengkhianatiku.

Tak lama kemudian aku melihat mereka beranjak pergi dan yang membuat nafasku seolah berhenti adalah… aku melihat pria itu menggandeng tangan Ga Eul. Ingin rasanya aku menghampiri mereka dan menyuruh pria itu untuk melepaskan tangannya itu.

Mereka berlalu. Hatiku kembali hampa. Sehari menyandang status lajang membuatku tak nyaman. Aku benar-benar menyukai statusku yang sebelumnya, kekasih dari seorang gadis bernama Jung Ga Eul.

Kelas akhirnya berakhir. Aku melangkah ke kantin. Duduk seorang diri. Tak lama aku melihat Ga Eul berjalan ke kantin. Lagi-lagi bersama pria yang tadi. Aku mengambil handphone-ku dan mengirimkan pesan padanya. Aku harus tahu siapa pria itu.

To : Ga Eulove
Bisakah kau memberitahuku siapa pria yang sedang bersamamu itu?


Aku melihatnya mengambil handphone di sakunya. Membacanya sekilas lalu kembali memasukkan handphone-nya itu. Apa-apaan ini! Dia tidak berniat membalas pesanku? Lama-lama aku bisa gila karenanya.

Aku kembali mengirim pesan padanya.

To : Ga Eulove
Bahkan untuk membalas pesan-ku pun kau enggan, Ga Eul ah~? Mianhae kalau ternyata aku mengganggumu…


Aku terus memperhatikannya. Kali ini rupanya ia bahkan tak membaca pesanku. Malah asik ngobrol bersama pria itu. Oh Tuhan selamatkan aku, air mataku rasanya akan jatuh sebentar lagi.

TES!

Air mataku menetes. Aku mengusapnya dan langsung beranjak pergi. Aku tak sanggup lama-lama di tempat ini. Melihat gadis yang kucintai bersama dengan pria lain.

Usai kuliah, aku melajukan mobilku tanpa arah tujuan yang jelas. Dan tanpa kusadari aku malah melajukan mobilku ke rumah Ga Eul. Aku melihatnya turun dari sebuah mobil. Pasti pria itu. Aku melihatnya melambaikan tangan sambil tersenyum. Emosiku memuncak! Aku turun dari mobilku.

Saat ia hendak masuk aku menahan lengannya. Aku menariknya kasar hingga menatapku.

“Oppa, sakit.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan tanganku dari lengannya.

Aku melepaskan cengkramanku dan sekarang kedua tanganku berada di bahunya.

“Jadi karena dia kau meninggalkanku?”

“Apa yang sedang kau katakan, oppa?”

“Kau bertanya apa? Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Menyembunyikan apa?”

“Apa selama ini kau berselingkuh di belakangku?”

“Ya! Oppa! Apa yang kau katakan? Tega sekali kau menuduhku seperti itu?”

Aku melihat ia mulai menangis. Apa tuduhanku salah? Dan sekarang aku malah membuat gadis yang paling aku cintai menangis.

“Aku capek, oppa. Aku masuk dulu.” Ia melepaskan tanganku yang masih berada di bahunya. Lalu masuk ke dalam.

Aku berlutut di tempatku berdiri tadi. Menyesali apa yang baru saja aku lakukan. Aku telah menyakitinya. Pria mana yang menyakiti gadis yang ia cintai? Aku benar-benar jahat!

Aku beranjak dari tempatku dan kembali melajukan mobilku tanpa tujuan. Aku menghentikan mobilku di tepi jalan. Aku duduk diam di dalam mobil tanpa melakukan apapun. Sekelebat bayanganku bersama Ga Eul muncul tiba-tiba. Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat merindukannya saat ini.

Tiga tahun ini, sekalipun aku tidak pernah mendengarnya berkata bahwa ia mencintaiku, aku merasa sangat bahagia. Aku merasa dia sangat perhatian padaku. Tidak ada panggilan sayang memang. Tapi aku selalu menyukai saat dia memanggilku oppa. Ada perasaan melindungi saat dia memanggilku seperti itu.

Aku menyukai dia apa adanya. Dia yang tidak feminine. Dia yang cerewet. Dia yang sensitive. Terlebih, aku sangat menyukai senyumnya. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya, tanpa terkecuali

Dan sekarang, aku tidak lagi berhak atas dirinya. Dia bukan lagi kekasihku. Bagaimana hari-hariku selanjutnya tanpa dirinya? Satu hari ini saja aku sudah gila rasanya.

Tak terasa aku sudah tiga jam berada di sini. Aku bahkan sampai tertidur. Jam menunjukkan pukul 20.00, sudah gelap rupanya.

Aku melajukan mobilku kembali ke rumah. Tapi saat aku masuk rumah dalam keadaan kosong. Aku menemukan sebuah memo di pintu kamarku.

Jae…
Kami berempat pergi makan sekaligus jalan-jalan dengan Mi Hwang, Eun Hye dan Ga Eul.
Kami menunggumu tapi kau tak kunjung pulang.
Mungkin kami pulang agak larut.
Sampai jumpa…


“Ya! apa-apaan mereka itu? Mereka pergi bersama Ga Eul juga? Kenapa tak langsung meneleponku saja? Mereka benar-benar menyebalkan!” ucapku sambil mengacak rambutku sendiri.

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Kembali mengingat peristiwa-peristiwa yang menimpaku belakangan ini.

Tanpa aku sadari aku kembali tertidur. Hari ini aku gampang sekali tertidur? Aku melirik jam yang tergantung di dinding ruang tamu. Sudah jam setengah dua belas. Tapi kenapa masih sepi? Apa mereka semua belum pulang?

Aku berjalan menuju kamar mereka, dan nihil. Mereka masih belum pulang. Apa yang mereka lakukan hingga selarut ini? Apalagi mereka membawa Ga Eul ikut serta.

Tapi, sepertinya baru hari ini mereka keluar sampai larut malam begini.

Aku memutuskan untuk menelepon Ga Eul. Handphone-nya tidak aktif. Ya! Dia benar-benar membuatku khawatir. Aku memutuskan menelepon yang lain. Sama saja. Handphone mereka semua tidak aktif. Aish!

Aku mondar mandir di ruang tamu, tiba-tiba lampu di ruangan ini mati. Apa lagi ini?

“Saeng il chukahamnida… Saeng il chukamnida… Saranghaneun uri Jaejoong… Saeng il chukahamnida…”

Aku melihat mereka semua ada di hadapanku sambil menyanyi. Dan Ga Eul, ia membawa sebuah tart. Aku baru sadar kalau besok, salah! Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku tak sanggup mengatakan apa-apa.

“Waktunya make a wish, oppa.” Ucap Ga Eul padaku.

Aku memejamkan mataku. Mengucapkan harapanku dalam hati. Hm… Semoga Tuhan mengabulkan harapanku ini.

Aku membuka mataku lalu meniup lilinnya.

“Sekarang, potong kuenya.” Ucap Mi Hwang yang sudah membawa pisau dan piring di tangannya.

“Lalu, berikan kue pertama pada orang yang kau anggap paling penting.” Sambung Eun Hye.

Kami duduk di sofa. Aku memotong kue tart ini lalu meletakkannya di piring. Diam sejenak lalu memutuskan untuk memberikannya pada Ga Eul.

“Gomawo, oppa.”

“Jadi, kalian sengaja ya? memang sudah merencanakan ini ternyata?”

“Ne. Dan rupanya rencana kami berjalan sangat lancar. Semua cameo bisa diajak kerja sama dan sangat-sangat mendukung.” Ujar Yun Ho sambil tersenyum puas.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Permintaan Ga Eul untuk berpisah dariku. Apa itu termasuk dalam skenario? Aku mnerik tangan Ga Eul dan membawanya ke teras depan.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba menarikku keluar? Apa kau tahu bahwa aku dalang dari semua ini dan sekarang akan menghukumku karena sudah membuatmu sebal belakangan ini?” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.

“Ya! kenapa kau berbicara banyak sekali?”

“Oh, mian. Aku terlalu senang.”

“Ga Eul ah~ bukan itu yang sedang aku pikirkan.”

“Lalu?”

“Kata-katamu kemarin. Kau ingat?”

“Kata-kata yang mana?”

“Kata-katamu yang meminta berpisah dariku.”

“Oh, mianhae oppa. Untuk yang satu itu… aku…”

Aku melihat perubahan ekspresinya. Tak lagi tersenyum. Itu artinya dia serius ingin berpisah dariku.

“Aku mengerti. Sudahlah, lupakan saja.”

“Untuk yang satu itu… Itu adalah rencana utamanya, oppa.” Ucapnya sambil tersenyum puas lalu beranjak lari ke dalam.

Aku kaget mendengar ucapannya. Sial! Dia sukses mengerjaiku! Sebelum dia masuk ke dalam aku berhasil menahannya. Aku menariknya kembali ke hadapanku.

“Apa kau bilang?” ucapku dengan wajah seolah menakutinya.

“Ya! Harusnya kau senang bukan? Apa kau menginginkan itu benar-benar terjadi? Tidak kaaan???” ucapnya menggodaku.

Aku memeluknya erat.

“Tidak tahukah kau aku sangat takut. Takut kalau kau benar-benar meninggalkanku. Syukurlah kalau itu semua bagian dari rencanamu.”

“Aku masih punya hadiah untukmu. Aku tahu kau sudah menantikan hadiahku ini sejak lama.”

Aku melepaskan pelukanku. Hadiah? Apa? Rasanya aku tidak sedang menginginkan sesuatu.

Tiba-tiba dia mengecup pipiku sekilas. Lalu tersenyum sangat manis.

“Saeng il chukaeyo, jagiya. Saranghae.”

“Ga Eul ah~, kau memanggilku jagiya? Lalu, saranghae? Ya! Gomawo, jagiya!” ucapku meluap-luap lalu kembali memeluknya.

Dia menepuk punggungku pelan. “Uljima, oppa.”

“Ya! Aku tidak sedang menangis!”

Dia melepaskan pelukanku lalu berlari masuk ke dalam sambil tertawa.

“Hey! Kau belum menjelaskan siapa pria yang bersamamu tadi pagi!”

Tak lama kemudian handphone-ku bergetar. Sebuah pesan.

Form : Ga Eulove
Oppa, mianhae… Sudah membuatmu menunggu selama tiga tahun untuk aku mengatakan bahwa aku mencintaimu…
Oke sekarang akan aku katakan…
Saranghae… Saranghae… Saranghae…

Oh ya, pria itu… Jung Yong Hwa, sepupu sekaligus komplotanku. Hahaha.

Sudah, cepat! Masuk ke dalam sebelum tart-mu habis tak bersisa. ^_^

Gomawo, Ga Eul ah~. Ulang tahunku kali ini adalah ulang tahun terindah. Karena aku memilikimu di sisiku dan aku sekarang tahu bahwa kau pun mencintaiku.

Seumur hidupku aku akan selalu mencintaimu, Jung Ga Eul…

.F.I.N.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s