[Series] The Right One – Part 2 (End)

Jeng… Jeng… Aku bawa part dua neh… Sapa yang nunggu??? Hehehe..

Nothing to say, semoga kalian suka ya???

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : The Right One

Author : neys

CAST

Choi Si Won (Super Junior)

Lee Dong Hae (Super Junior)

Park Jae Mi


_Choi Si Won PoV_

Aku berjalan menyusuri koridor kantor tempat Jae Mi bekerja. Aku tidak sedang mencari Jae Mi karena hari ini adalah jadwal dimana dia harus cuci darah. Aku mencari orang lain, Lee Dong Hae.

Aku mengetuk pintu ruangannya.

“Nuguseyo?” terdengar suara dari dalam.

“Ini aku, Choi Si Won.”

Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Si Won ah~ ada apa? Masuklah.”

Dia mempersilahkanku duduk di hadapannya.

“Ini tentang Jae Mi.”

“Jae Mi? Waeyo? Apa terjadi sesuatu dengannya?”

“Hari ini aku akan memberitahumu tentang apa yang sebenarnya Jae Mi alami selama ini.”

“Dia… Dia mengidap penyakit gagal ginjal.”

“Mwoya? Jae Mi mengidap gagal ginjal? Andwae! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

“Itu karena kami tak ingin merepotkanmu dulu. Tapi ternyata aku benar-benar butuh bantuanmu saat ini.”

“Katakan saja. Aku pasti akan membantu kalian.”

“Seseorang yang menderita gagal ginjal hanya bisa disembuhkan jika mendapatkan donor ginjal. Padahal kedua orang tua Jae Mi sudah meninggal dan ia tidak memiliki saudara. Satu-satunya cara adalah menemukan orang lain yang ginjalnya cocok dengan Jae Mi.”

“Selama ini Jae Mi rutin melakukan cuci darah. Dan kau tahu itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Beberapa bulan ini aku bertahan. Aku menggunakan semua tabunganku. Bahkan aku berhenti agar aku mendapatkan uang pensiun dini-ku. Tapi toh semuanya kini habis. Dan aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Kau ingin meminjam uang padaku?”

Aku menggeleng pelan. Bukan itu tujuanku. Meminjam? Berapa jumlah uang yang harus aku pinjam?

“Aku mohon supaya kau menjaga Jae Mi.”

“Maksudmu?”

“Aku tahu kau mencintai Jae Mi.”

“Ne? Apa maksudmu?”

“Katakan saja. Kau mencintai Jae Mi bukan?”

“Ne. Aku memang mencintainya. Tapi…”

“Jika kau benar-benar mencintainya, tolong jaga dia. Usahakan kesembuhannya. Aku tidak sanggup jika harus melihatnya pergi begitu saja. Aku percaya kau bisa membahagiakan Jae Mi.”

“Apa kau bersedia?”

“Ne. Tentu saja. Tapi, Jae Mi?”

“Kau tenang saja. Aku yang akan berbicara padanya. Aku dan dia tidak bisa terus seperti ini. Kami berdua harus melanjutkan hidup kami. Gomawo. Aku yakin kau pria yang tepat untuk Jae Mi.”

Aku melangkahkan kakiku keluar dari gedung tersebut dan menuju ke rumah sakit.

>>>

“Oppa, kau darimana saja?”

“Mianhae, Jae Mi ah~ bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Asalkan ada kau di sisiku, aku akan selalu baik-baik saja.”

Mendengar kata-katanya semakin membuatku ingin menangis. Berat sekali rasanya melepaskanmu, Jae Mi ah~.

“Jae… Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Bicaralah, oppa.”

Ia beranjak dari tidurnya. Merubah posisinya menjadi duduk di ranjang. Aku menggenggam jemarinya erat.

“Berjanjilah padaku kau akan mengerti posisiku.”

“Oppa, apa maksudmu?”

“Berpisahlah denganku dan mulailah lembaran baru bersama dengan Dong Hae.”

“Oppa? Apa yang kau katakan?”

Aku melihat ekspresi wajahnya yang sangat kaget. Ada gurat kecemasan dan marah di sana. Terlebih gurat kesedihan yang semakin membuatku ingin menangis. Dan kali ini aku tak bisa menahannya. Air mataku jatuh. Jae Mi pun mulai menangis.

Aku mengusap air matanya. “Uljima, jagiya.”

“Apa kau sudah tidak mencintaiku? Kau tidak mau bersama dengan seorang gadis yang sakit-sakitan? Apa begitu oppa?”

“Tidak. Tidak seperti itu. Aku sangat mencintaimu. Karena itu aku ingin kau sembuh. Dan Dong Hae bisa membantumu. Mianhae, aku sudah tidak memiliki apapun untuk membiayaimu.”

“Jadi karena biaya? Kau tidak perlu membiayaiku apa-apa, oppa. Aku tidak butuh cuci darah. Asalkan aku ada di sampingmu maka aku akan baik-baik saja. Biarkan aku mati dalam pelukanmu, oppa.”

“Andwae! Aku tidak akan membiarkanmu meninggal begitu saja. Aku mohon mengertilah, Jae Mi ah~ kau tidak boleh menyerah. Aku percaya kau akan sembuh.”

“Shireo, oppa! SHIREO!!!” Ia mulai berteriak lalu menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya. Tubuhnya bergetar.

Aku memeluknya. Sungguh, hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini. Benarkah bukan aku seseorang yang tepat untukknya? Benarkah Lee Dong Hae, seseorang itu?

Ia melepaskan diri dari pelukanku.

“Oppa, berjanjilah kau akan baik-baik saja meskipun aku tidak bersamamu lagi.”

“Pasti. Aku akan baik-baik saja demi-mu.”

“Kalau begitu aku juga akan berusaha untuk terus menjalani hidupku.”

“Gomawo, Jae Mi ah~.”

“Gomawo, oppa untuk semuanya. Pengorbananmu sungguh sangat besar untukku. Aku beruntung memiliki cinta sebesar ini darimu. Saranghae. Jeongmal saranghaeyo, oppa.”

“Na ddo saranghae, Jae Mi ah~.”

>>>

Bulan kedua aku melewati hari-hariku tanpa Jae Mi disisiku. Aku masih sering menemuinya. Tapi semua sudah berbeda sekarang. Ada Dong Hae yang menjaganya. Melihat cara Dong Hae menjaga Jae Mi, aku sangat yakin dia benar-benar mencintai Jae Mi dan aku tak menyesal sudah mempercayakan Jae Mi padanya.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan Jae Mi pada Dong Hae. Aku harap dia bisa segera mencintai Dong Hae. Sementara aku? Aku pun juga berharap dapat menemukan seseorang di luar sana. Aku tidak tahu siapa tapi aku yakin suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukanku dengan seseorang yang tepat. Seseorang yang Dia siapkan untukku.

_PoV end_


_Park Jae Mi PoV_

Sudah dua bulan ini Dong Hae yang menggantikan posisi Si Won di sisiku. Aku merindukan sosok Si Won yang selalu menemaniku. Tapi saat melihat Dong Hae yang sangat baik padaku membuatku merasa bersalah padanya. Aku belum bisa mencintainya. Aku sudah berusaha melupakan Si Won dan belajar mencintainya. Tapi aku belum bisa.

“Jae Mi ah~ bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanya Dong Hae padaku yang sedang berada di balkon apartment-ku.

“Baik.”

“Kau merindukan Si Won?”

“Eh, aniyo. Aku hanya menikmati udara segar pagi ini.”

“Sudah dua bulan, dan aku masih belum menemukan donor ginjal yang cocok untukmu. Mianhae.”

“Kenapa meminta maaf?”

“Karena aku belum bisa menepati janjiku pada Si Won agar kau lekas sembuh.”

“Mungkin memang belum waktunya aku sembuh.”

“Tapi aku yakin kau akan sembuh.”

“Semoga.”

Aku memandang ke langit sambil memeluk kedua lututku. Aku duduk di lantai balkon beralaskan bantal kecil. Tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Ya, Dong Hae sedang memelukku. Dan perasaanku mengatakan bahwa aku masih sangat mencintai Si Won. Aku berharap bahwa yang sedang memelukku sekarang ini adalah dirinya, bukan Dong Hae. Salahkah aku???

>>>

Satu tahun berlalu. Usaha pencarian ginjal untukku sudah mencapai titik terang. Dan tentang perasaanku pada Dong Hae, sepertinya memang ada yang berubah. Aku tidak yakin ini cinta. Tapi saat ini aku benar-benar sangat bergantung padanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika dia pergi meninggalkanku. Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku lebih takut kehilangannya dibanding saat Si Won mengatakan untuk berpisah dariku.

“Oppa!!!” aku menghambur ke pelukannya saat ia datang ke apartment-ku.

“Kau sudah siap?”

“Ne. Aku sudah siap.”

Hari ini adalah hari operasi-ku. Aku tidak menyangka akhirnya kami menemukan ginjal yang cocok untukku. Aku benar-benar merasa bahagia.

Si Won oppa. Akhir-akhir ini kami jarang bertemu. Kabar terakhir yang kudengar kini ia sudah memiliki kekasih. Namanya Yoon Ji Hyeon. Aku belum pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi aku berharap dia adalah gadis yang tepat untuk Si Won oppa. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan.

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan. Hari ini Jae Mi akan dioperasi. Aku berharap operasi ini akan berhasil.

Tentang perasaan Jae Mi padaku. Aku tidak paham betul seperti apa. Tapi sepertinya ia sudah bisa menerima kehadiranku di sisinya. Aku bahagia, ia mulai membuka hatinya untukku.

Kami melaju menuju rumah sakit. Dan saat kami sampai aku melihat Si Won sudah berada di sana.

“Pagi sekali kau sudah sampai?”

“Hanya terlalu bersemangat mungkin.”

“Mana kekasihmu, oppa? Kau tak mengajaknya?”

“Dia masih ada urusan.”

“Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali berkenalan dengannya.”

“Setelah kau operasi akan aku kenalkan kau dengannya. Masih ada banyak kesempatan bukan?”

“Ne. Kau benar.”

>>>

Saat ini Jae Mi sedang berada di dalam ruang operasi. Aku benar-benar gusar. Cemas sekali rasanya. Tanpa sadar aku terus mondar-mandir sedari tadi di depan ruang operasi.

“Kau tenanglah Dong Hae. Dia akan baik-baik saja.”

“Ne. Kau benar.”

Meskipun aku yakin dia akan baik-baik saja, aku tetap tidak bisa duduk diam. Aku tetap mondar-mandir seperti tadi. Sampai akhirnya lampu operasi mati dan dokter yang menangani Jae Mi keluar.

“Bagaimana keadaaan Jae Mi?”

“Operasi berhasil. Dia masih dalam pengaruh obat bius. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU.”

“Jeongmalyo? Gomawo.”

Dokter itu pun berlalu pergi. Aku memeluk Si Won yang kini sudah berada di sampingku,

“Si Won ah~ operasi Jae Mi sukses.”

“Ne. Chukae, Hae ah~!”

>>>

Beberapa hari berlalu. Aku selalu menemani Jae Mi di rumah sakit. Dan hari ini dia diperbolehkan untuk pulang.

“Aku sudah membereskan barang-barangmu. Kau sudah siap?”

“Ne. Si Won oppa tidak menjemputku juga?”

“Ani. Dia harus mengantarkan kekasihnya.”

“Jeongmalyo? Aku senang mendengarnya.”

“Waeyo?”

“Itu artinya dia benar-benar mencintai gadis itu. Buktinya dia lebih memilih untuk mengantar gadis itu daripada menjemputku bukan?”

“Lalu, bagaimana denganmu?”

“Aku? Mollayo. Kajja!”

Aku tahu dia masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Tapi aku akan menyadarkan dirinya bahwa saat ini yang ia cintai bukan lagi namja bernama Choi Si Won, melainkan seorang namja bernama Lee Dong Hae.

Bukan lagi namja yang telah menjadi kekasihnya selama lima tahun, melainkan namja yang selalu menemaninya selama satu tahun belakangan ini.

>>>

Kami berdua berada di balkon apartment-nya. Sama-sama diam tanpa berujar apapun. Aku memandangi wajahnya sedari tadi. Tidak ada lagi gurat menahan sakit, gurat kesedihan dan putus asa. Kini aku melihatnya tersenyum.

Aku melangkah, mendekatkan diriku padanya. Aku memeluknya dari belakang. Menemaninya memandang langit.

“Jae Mi ah~ saranghae.”

“Gomawo, oppa.”

Ya, aku tahu setiap aku mengatakan bahwa aku mencintainya ia hanya akan membalasnya dengan ucapan terima kasih. Tapi aku sangat yakin bahwa sebenarnya kini ia sudah mencintaiku.

Aku memutar tubuhnya menghadapku. Memandang kedua matanya lekat-lekat. Ia balas menatapku.

“Will you marry me?”

“Mwo???”

Aku berlutut dan mengambil sebuah kotak dari saku celanaku, membukanya lalu mengulurkan kotak itu ke hadapan Jae Mi.

Ia masih diam terpaku di tempatnya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku kembali berdiri, meraih jemarinya dan meletakannya di dadaku. Aku mulai bernyanyi…

Tell me can you feel my heart beat
Tell me as I kneel down at your feet
I knew there would come a time
When these two hearts would entwined

Just put your hand in mine forever

For so long I have been an island
When no one could ever reach the shores
And we’ve got a whole lifetime to share
And I’ll always be there

Darling this I swear

So please believe me
For these words I say are true
And don’t deny me
A lifetime loving you
And if you ask will I be true
Do I give my all to you
Then I will say I do

I’m ready to begin this journey
Well I’m with you with every step you take
And we’ve got a whole lifetime to share
And I’ll always be there
Darling this I swear

So please believe me
For these words I say are true
And don’t deny me
A lifetime loving you
And if you ask will I be true
Do I give my all to you
Then I will say I do

Come on just take my hand oh come on
Lets make a stand for our love
But I know this is so hard to believe
So please

So please believe me
For these words I say are true
And don’t deny me
A lifetime loving you
And if you ask will I be true
Do I give my all to you
Then I will say I do

(Westlife – I Do)

 

Aku kembali berlutut, menyodorkan kotak yang sama ke hadapannya.

“Will you marry me?”

“Yes, I will.” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Aku mengambil cincin yang ada di kotak tersebut lalu memakaikannya di jari manis tangan kiri Jae Mi. Aku bangkit berdiri lalu mencium keningnya.

“Saranghae, oppa.”

Aku tersenyum saat mendengar Jae Mi mengatakan itu. Na ddo saranghae, jagiya…

.F.I.N.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s