[Series] The Right One – Part 1

FF ini terinspirasi dari kisah cintanya Joe Sandy. Yupz, setelah aku liat acara Hitam Putih tadi malem. Hehehe. Pas kemaren lagi nonton langsung tersentuh. Omo!!! Joe Sandy so sweet banget.

Dan ga tau kenapa pas aku ketik ni FF rasanya ngalir gitu aja. Bikinnya cepet banget. Trus, bikin aku jadi mellow pula. Huhuhu. Aku harap kalian para readers-ku tercinta ini pada suka and menanti-nantikan part dua-nya. Amen.

Buat yang mengharapkan lanjutan dari Our Memories, terutama sahabatku tercinta… Mianhae ya??? Aku masih ga ada mood buat lanjutin, lagipula ga ada gambaran mau dibikin kayak apa.

Trus, buat yang nunggu part 3 dari FF pertamaku. Alias, lanjutan dari Left In Autumn & Airport With Love. Sekali lagi jeongmal mianhaeyo. Part 3-nya belum tersentuh sama sekali. Ide cerita juga masih ngambang. Tapi kedua-duanya pasti aku lanjutin kok. Hehehe.

Waduh, ini panjang banget kata-kataku? Prakata apa curcol ini? Hahaha.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : The Right One

Author : neys

CAST

Choi Si Won (Super Junior)

Lee Dong Hae (Super Junior)

Park Jae Mi


Maybe God want us to meet a few wrong people before we meet the right one.

So, when we meet the right one, we know how to be grateful.


_Park Jae Mi PoV_

Naneun Park Jae Mi imnida. Usiaku saat ini 23 tahun. Aku memiliki seorang kekasih yang usianya dua tahun di atasku. Namanya Choi Si Won. Sudah lima tahun ini kami menjalin hubungan dan aku sangat mencintainya.

Aku bekerja sebagai penulis artikel di sebuah kantor majalah. Aku menyukai pekerjaanku ini. Pemilik kantor tempatku bekerja ini bernama Lee Dong Hae. Dia seusia dengan namjachingu-ku. Dan aku sangat menghormatinya. Ia sosok yang sangat berwibawa. Meskipun ia kaya raya tapi dia tidak pernah sombong. Itulah yang membuatku kagum. Muda dan berbakat.

Aku tinggal di sebuah apartment. Bukan milikku pribadi tapi sewa. Tentu saja, aku bukan anak dari orang kaya. Lagipula kedua orang tuaku sudah lama meninggal dan aku tidak memiliki saudara kandung. Sementara keluargaku yang lain, aku tak mengetahui keberadaan mereka. Semenjak aku kecil tidak sekalipun aku pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Jadi aku benar-benar seorang diri.

Oh ya, Choi Si won bekerja di bidang perbankan. Ia manajer di salah satu bank ternama di Seoul. Sudah tujuh tahun ia bekerja di sana, semenjak ia lulus SMA. Aku akui dia sangat pandai. Dan aku bangga memiliki kekasih sepertinya.

>>>

Aku menunggunya di café dekat tempat kerjaku. Ya, setiap jam istirahat aku dan Si Won akan bertemu di sini. Café ini dipilih karena dekat dengan tempat kerjaku. Tentu saja dipilih yang dekat dengan tempat kerjaku karena aku tak memiliki kendaraan untuk pergi ke tempat yang jauh. Sementara Si Won, dia dapat mengandalkan mobil inventaris dari kantornya tersebut. Mobil yang sama yang selalu menjemputku di rumah juga mengantarku ke kantor.

“Hey! Apa sudah lama?”

“Aniyo. Aku baru saja sampai. Aku sudah memesan makanan. Seperti biasa kan?”

“Ne. gomawo.”

Tiba-tiba aku marasakan sakit di dadaku. Aku memegang dadaku. Tidak hanya sakit, tapi juga sesak.

“Jae Mi ah~ no gwaenchani?”

Aku hanya menggeleng. Lalu tiba-tiba aku juga merasa tak enak di perutku. Aku berusaha menahan rasa mualku ini karena makanan yang aku pesan sudah datang.

“Gomawo.” Ucap Si Won pada pelayan yang mengantarkan makanan.

Aku menatap makananku malas. Aku tak tahu hilang kemana nafsu makanku. Aku hanya mengaduk-aduk makananku.

“Kenapa tidak dimakan?”

“Tiba-tiba saja aku tidak ingin makan, oppa.”

“Makanlah, walau hanya sedikit. Aku tidak mau kau sakit.”

“Ne.”

Aku berusaha memasukkan makanan itu ke dalam mulutku tapi mual itu kembali datang.

“Oppa. Aku ke toilet sebentar.”

Aku bergegas ke toilet, dan aku langsung memuntahkan isi perutku. Menyadari aku sedang berada di toilet aku teringat sesuatu. Aku bahkan belum buang air kecil dari tadi pagi. Tidak tidak! Bukan hanya hari ini tapi beberapa hari belakangan ini. Ada apa dengan diriku?

“Kau pucat sekali, Jae?”

“Jeongmalyo? Mungkin hanya kecapekan.”

“Makanlah makananmu. Kau belum memakannya sama sekali. Atau kau mau aku antar ke dokter?”

“Tidak perlu, oppa. Aku baik-baik saja.”

Aku berusaha memakan makananku. Satu suap, dua suap. Dan suapanku terhenti di suapan ketiga. Lalu meminum jus jeruk-ku.

“Aku sudah selesai. Kau mau langsung kembali?”

“Aku masih ingin menemanimu di sini. Kau yakin tidak apa-apa? Lebih baik kau kuantar pulang saja.”

“Aku tidak apa-apa.”

Jam istirahat hampir berakhir. Si Won pun kembali ke kantornya dan aku berjalan kembali ke kantorku.

Aku duduk di meja kerjaku. Rasanya tak sanggup menahan rasa sesak di dadaku dan rasa mual di perutku. Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja kerja. Berusaha memejamkan mata sambil menahan sakit. Tiba-tiba teleponku berbunyi…

“Yeoboseyo.” Ucapku pelan.

“Jae Mi ssi, bisakah kau ke ruanganku sebentar?”

“Ne, Dong Hae ssi.”

Aku melangkahkan kakiku gontai ke ruangan boss-ku tersebut. Saat sampai aku mengetuk pintu ruangannya pelan. Lantas terdengar jawaban supaya aku masuk ke dalam.

“Annyeong, Dong Hae ssi. Ada yang bisa saya bantu?”

“Duduklah.”

Aku mengangguk lalu duduk di hadapannya.

“Kau pucat sekali? Apa kau baik-baik saja?”

“Ne, gwaenchana.”

“Hm… Baiklah, begini minggu depan ada acara festival kebudayaan. Aku ingin kau menghadirinya lalu membuat artikel yang bersangkutan dengan acara tersebut.”

“Arasseo. Dengan siapa aku bertugas?”

“Denganku.”

“Mwo? Denganmu? tapi kau kan…”

“Acara sebagus itu tidak mungkin aku lewatkan. Setiap kantor hanya memiliki dua undangan. Jadi aku putuskan saja bahwa kau dan aku yang akan berangkat.”

“Tapi… Kita butuh fotografer.”

“Tenang saja. Aku yang menggantikan tugas rekanmu. Aku bisa kok.”

“Kau yakin, Dong Hae ssi?”

“Sangat yakin.”

“Baiklah. Ada lagi?”

“Tidak ada. Kembalilah bekerja.”

“Ne. Annyeong!”

_PoV end_


_Lee Dong Hae PoV_

Apa yang membuat Jae Mi begitu pucat? Ia nampak sakit tapi kenapa bersikukuh mengatakan bahwa ia baik-baik saja? Jujur, aku sangat mengkhawatirkannya. Ya, aku jatuh cinta dengan gadis itu. Tapi aku sadar, aku tidak bisa mendapatkannya karena ia sudah memiliki seorang kekasih. Kekasih yang sangat dicintai dan mencintainya.

Bohong jika aku tidak ingin memilikinya. Tapi aku tidak akan berusaha merebutnya dari Si Won. Aku ingin kesempatan itu datang dengan sendirinya padaku.

Dan untuk acara minggu depan itu. Bukan itu satu-satunya alasan aku bersikukuh menghadirinya. Tapi juga karena aku ingin dekat dengan Jae Mi. Walaupun hanya sebatas pekerjaan, aku merasa senang jika ada di dekatnya.

One week later

Hari ini adalah hari dimana festival kebudayaan digelar. Aku sudah bersiap-siap menjemput Jae Mi di apartment-nya.

Aku memencet bel apartment-nya. Tak lama dia keluar, ia memakai blouse berwarna putih dan celana jeans berwarna hitam. Memakai flat shoes putih andalannya, juga tas selempang yang selalu ia bawa.

Tapi aku melihat wajahnya semakin pucat. Satu minggu ini dia juga tidak nampak baik. tapi saat ini dia benar-benar nampak sakit.

“Apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali.”

“Ne. Aku baik-baik saja. Kajja!”

>>>

Kami masuk ke arena festival tersebut. Ada banyak sekali stan yang menarik. Di tengah-tengah terdapat panggung besar.

Saat kami mengunjungi salah satu stan, tubuh Jae Mi limbeng. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya yang hendak jatuh. Dia pingsan. Astaga!!! Aku menggendong tubuhnya ke mobil.

Aku bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Jae Mi langsung dibawa ke UGD. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Aku memutuskan untuk menelepon Si Won, kekasihnya. Bagaimanapun juga dia harus tahu. selang beberapa menit Si Won sudah sampai di rumah sakit. Dia berlari ke arahku.

“Bagaimana keadaannya?”

“Aku tidak tahu. dokter belum keluar.”

“Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?

“Apa kau tahu beberapa hari belakangan ini dia nampak pucat?”

“Ne, aku tahu. tapi ia selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja.”

“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu apa dia benar dalam keadaan baik-baik saja selama ini. Yang jelas tadi saat kami pergi ke festival ia tiba-tiba saja pingsan.”

TING!

Pintu ruang UGD terbuka. Aku dan Si Won menghampiri dokter .

“Bagaimana keadaannya?” tanya Si Won pada dokter tersebut.

“Siapa keluarga pasien?”

“Aku kekasihnya.”

“Keluarganya?”

“Dia sudah tidak memiliki keluarga.”

“Baiklah, sekarang kau ikut ke ruanganku.”

Aku menepuk bahu Si Won pelan, memberinya semangat. Dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

_PoV end_


_Choi Si Won PoV_

Aku mengikuti dokter ke ruangannya. Duduk di hadapannya, dan menunggu dengan cemas. Mencoba mengira-ngira apa yang akan dikatakannya. Semoga Jae Mi baik-baik saja.

“Park Jae Mi. Bagaimana kondisinya belakangan ini?”

“Dia… Akhir-akhir ini sepertinya kurang sehat. Dia sering memegangi dadanya karena sesak. Dia juga sering merasa mual. Hanya sebatas itu yang saya tahu, dok.”

“Kalau begitu, dugaan saya tidak salah.”

“Dugaan?”

“Dia mengidap penyakit gagal ginjal.”

“MWO?”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Menghampiri dokter tersebut.

“Kau bohong kan dokter? Jae Mi tidak mungkin menderita gagal ginjal. Itu artinya dia membutuhkan ginjal lain agar sembuh bukan?”

“Aku juga berharap ini bohong. Tapi pada kenyataannya Jae Mi memang sedang sakit gagal ginjal. Dan lebih parahnya lagi, tadi kau berkata bahwa keluarganya sudah tidak ada. Dan itu berarti kita harus mencari donor yang lain. Meski dengan catatan, sangat jarang ada ginjal yang cocok jika tidak ada hubungan darah.”
”Lalu aku harus bagaimana, dok? Aku tidak ingin kehilangannya.”

“Untuk saat ini, satu-satunya cara agar dia bertahan adalah melakukan cuci darah secara rutin. Sampai kita menemukan donor ginjal yang cocok untuknya. Dan semoga tidak memakan waktu yang terlalu lama. Karena penderita gagal ginjal tidak bisa menunggu terlalu lama.”

“Andwae! Kenapa dia harus menderita penyakit seperti ini?”

Aku terduduk di kursi dan perlahan air mataku menetes. Aku menangis. Ya, aku tak akan sanggup kehilangan Jae Mi. Dia adalah nafas hidupku. Bagaimana jika dia pergi? Tidak! Aku akan selalu mengusahakan kesembuhannya. Tak peduli apapun, kau harus sembuh Jae Mi.

Aku keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke kamar dimana Jae Mi dirawat. Aku melihat Dong Hae menggenggam jemari Jae Mi. Apa dia juga sangat mengkhawatirkan Jae Mi? Ataukah, dia mencintai Jae Mi?

Aku berdiri di sebelah Dong Hae. Menyadari keberadaanku dia langsung melepaskan tangannya lalu berdiri, membiarkan aku menggantikan posisinya tadi. Ia sepertinya sedikit kaget dengan keadaanku yang masih menangis.

Aku duduk di sebelah Jae Mi. menggenggam jemarinya erat.

“Jae Mi ah~ kau harus sembuh. Aku percaya kau pasti kuat. Aku yakin kau akan mampu bertahan sampai Tuhan mengirimkan penolong untukmu.”

“Jae Mi ah~ aku mohon jangan tinggalkan aku. Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu. Aku mohon bertahanlah.”

>>>

Sebulan sudah semenjak Jae Mi keluar dari rumah sakit. Kini dia juga sudah mengetahui bahwa ia mengidap gagal ginjal. Dan terhitung sudah dua kali dia melakukan cuci darah. Aku tidak memberi tahu Dong Hae tentang penyakit Jae Mi. Jae Mi juga setuju untuk merahasiakannya dari Dong Hae. Dia tidak mau boss-nya itu kasihan lalu ikut membiayai pengobatannya.

Betapa miris hatiku saat harus mengantar Jae Mi cuci darah. Aku yakin pasti menyakitkan. Tapi aku mohon bertahanlah Jae Mi.

Bulan berganti bulan. Kondisi tabunganku dan Jae Mi semakin menipis. Aku juga sudah berhenti dari pekerjaanku agar aku bisa mendapatkan pesangon dari pensiun dini-ku. Jumlahnya sangat besar. Tapi toh akhirnya semua habis tak bersisa.

Aku bingung harus melakukan apa. Sekarang kondisi Jae Mi mengharuskannya untuk cuci darah lebih intensif lagi. Aku tidak bisa membiarkan Jae Mi pergi begitu saja. Dia harus sembuh. Dia harus bertahan sampai kami menemukan donor ginjal yang cocok untuknya.

Aku tidak memberitahu kondisi keuanganku pada Jae Mi. aku tidak ingin dia menyuruhku untuk berhenti berusaha. Aku tidak mau.

Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide. Meski aku tahu, aku harus merelakan Jae Mi untuk orang lain. Meski hatiku harus sakit karena dia tidak bisa bersamaku lagi. Jujur hatiku sangat sedih. Tapi aku tidak boleh egois. Aku yakin ini bisa menjadi jalan keluar yang terbaik untuk saat ini. Mianhae, Jae Mi ah~…

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s