[Series] Our Memories – Part 2

Yeay!!! I like this part so much! Hehehe… Selain itu, aku berhasil menyelesaikan part ini dengan cepat. Kata-kata seolah mengalir begitu saja. Semoga part-part selanjutnya juga begitu. Amen.

Dan masih seperti biasa, buat yang aku tag wajib comment ya? Karena comment-comment kalian itu sangat berguna demi kelangsungan hidup FFku. Halah!

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Choi Min Hae PoV_

“Kau siapa?”

Hatiku bagai disambar petir mendengar kata-kata tersebut. Dua bulan dia menghilang dan saat kembali ternyata dia telah melupakanku.

“Oppa kau tidak mengingat Min Hae?”

Dia menggeleng lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hye Jin.

“Kau sendiri siapa?”

“Oppa? Kau bahkan tak mengingat adikmu sendiri? Aku Choi Hye Jin, adik kandungmu satu-satunya.”

“Jadi kau yang bernama Hye Jin? Arasseo.”

“Oppa, jadi kau pun tak mengingatku? Apa yang telah terjadi?” tanya Hye Jin.

“Mianhae, aku tidak bermaksud untuk melupakan keluargaku sendiri. Biar appa saja yang menjelaskannya nanti padamu, Hye.”

“Ne.”

“Apa… kau… kekasihku?” tanyanya padaku terbata. Aku menangkap gurat penyesalan di wajahnya

Aku tiba-tiba menangis mendengar pertanyaan tersebut. Aku terdiam cukup lama lalu kemudian menjawab pertanyaan tersebut.

“Aniyo. Aku bukan kekasihmu. Mianhae, aku sudah membuatmu bingung. Lebih baik aku pergi dari sini. Semoga kau cepat sembuh. Annyeong.”

Aku berlari keluar dari rumahnya. Aku menangis. Ya, karena sekarang aku sadar aku memang bukan siapa-siapa. Kami memang sangat dekat tapi dia belum pernah sekalipun mengatakan bahwa ia mencintaiku.

Aku berjalan menuju café. Hari mulai gelap tapi aku tidak ingin membuat dongsaeng-ku khawatir dengan melihatku menangis.

Aku duduk di tempat biasa, memesan minuman seperti biasa. Betapa bodohnya aku baru menyadari bahwa diantara aku dan Jong Hun memang tidak pernah ada hubungan apa-apa. Kami hanya dekat. Itu saja. Lalu aku? Apa aku mencintai Jong Hun?

“Hey! Kau kembali kemari?” seseorang menepuk pundakku, aku menoleh. Hong Ki ternyata.

“Ne. Kau juga?”

“Ne, tiba-tiba saja aku ingin kembali. Apa yang terjadi? Bukannya bahagia kau malah menangis.”

“Aku menangis bahagia.” Ucapku bohong. Aku tidak ingin menceritakan masalah ini kepada siapapun. Biarlah aku menyimpannya seorang diri.

“Jeongmalyo? Baguslah kalau begitu. Itu artinya aku tidak akan melihat wajah sendu-mu lagi.”

“Ne. Tidak akan lagi. Gomawo, Hong Ki ah~”

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

“Oppa!!!”  aku mendengar seorang gadis berteriak, sepertinya memanggilku. Kemudian dia langsung memelukku dengan erat. Siapa dia? Kenapa pelukannya terasa begitu nyaman?

“Kau kemana saja? Aku merindukanmu, oppa.”

Dia merindukanku? Siapa dia? Kekasihku kah? Aku melepaskan pelukannya. Aku harus memastikan dia siapa.

“Kau siapa?”

Dia tidak langsung menjawabku. Dia malah terdiam, sepertinya kaget karena aku tidak mengenalinya.

“Oppa kau tidak mengingat Min Hae?”

Aku menggeleng. Kemudian beralih menatap gadis yang baru saja bertanya padaku.

“Kau sendiri siapa?”

“Oppa? Kau bahkan tak mengingat adikmu sendiri? Aku Choi Hye Jin, adik kandungmu satu-satunya.”

“Jadi kau yang bernama Hye Jin? Arasseo.”

“Oppa, jadi kau pun tak mengingatku? Apa yang telah terjadi?” tanya Hye Jin.

“Mianhae, aku tidak bermaksud untuk melupakan keluargaku sendiri. Biar appa saja yang menjelaskannya nanti padamu, Hye.”

“Ne.”

Jadi dia Hye Jin, adik yang tadi appa ceritakan padaku? Aku semakin yakin gadis bernama Min Hae ini adalah kekasihku.

“Apa… kau… kekasihku?” tanyaku padanya terbata. Aku benar-benar takut jika aku menyakitinya karena aku tak lagi mengingatnya.

Dia tiba-tiba menangis mendengar pertanyaanku tersebut. Dia terdiam cukup lama lalu kemudian menjawab pertanyaanku.

“Aniyo. Aku bukan kekasihmu. Mianhae, aku sudah membuatmu bingung. Lebih baik aku pergi dari sini. Semoga kau cepat sembuh. Annyeong.”

Melihat punggungnya yang menjauh kenapa terasa menyesakkan? Seolah tidak rela ia meninggalkanku. Benarkah dia bukan kekasihku? Tapi kenapa aku merasa bahwa dia adalah gadis yang sangat berarti untukku?

“Benarkah dia bukan kekasihku?” aku bertanya pada Hye Jin.

“Mollayo, oppa. Kau tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Hm… Dia temanmu?”

“Ne, dia teman kuliahku.”

“Apa aku mengenalnya darimu?”

“Ani. Kau mengenalnya sendiri.”

“Hm… Arasseo.”

“Sudahlah, kau istirahatlah dulu. Aku akan menemui appa untuk menanyakan keadaanmu.”

Sepeninggal Hye Jin aku masih tidak bisa berhenti memikirkan Min Hae. Aku bangkit dari dudukku. Aku mencoba mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa memberiku informasi tentang hubunganku dengan Min Hae.

Aku membongkar isi laci-ku. Tak lama aku menemukan sebuah agenda. Aku mengambilnya dan membukanya. Aku tersenyum saat aku mendapati selembar foto. Foto-ku bersama Min Hae. Aku mengamati foto tersebut, berusaha mencari jawaban. Saat aku membalik foto tersebut aku melihat deretan tulisan di sana. Sepertinya tulisanku.

Min ah~
Aku sangat berharap untuk dapat selalu bersama denganmu…
Aku ingin selalu melihat senyummu…
Aku mohon, jangan pernah menangis karena-ku…
Maafkan aku…

Alisku bertaut saat aku membaca tulisanku itu. Apa maksud kata-kataku ini? Aku yang menulis tapi sekarang aku sendiri pun tak paham.

Aku membolak balik agendaku. Memperhatikan lembar demi lembar. Sampai aku menemukan sebuah tulisan.

Jika raga ini tak lagi bisa menemanimu…
Maafkan aku untuk janji yang mungkin akan teringkari…
Maafkan untuk setiap sesal yang kucipta…
Aku ingin mengelak…
Sungguh tak sanggup aku kehilanganmu, tapi lebih tak sanggup melihatmu kehilanganku…
Mungkinkah lebih baik jika tak ada awal, agar tak ada akhir yang pahit…
Seandainya aku dapat membaca masa depan, aku takkan pernah muncul di hidupmu…
Bolehkah aku pergi darimu sebelum waktunya?

Aish! Apa sih maksud kata-kataku ini? Kenapa aku tidak menulisnya dengan gamblang?

Aku membalik agendaku kembali.

Melihat senyummu adalah sesuatu yang sangat berharga…
Aku tak ingin kau kehilangan senyummu…
Ingatlah aku hanya sebatas yang ingin kau ingat…
Lupakan aku jika kelak aku menyakitimu…
Tapi kumohon jangan pernah membenciku…


Aku tak menyangka bahwa aku yang menulis semua ini. Aku masih tak mengerti dengan perasaanku di masa lalu.

Terlambat…
Semua sudah terlambat…
Aku pasti membuatmu menangis…
Mianhae, jeongmal mianhaeyo…
Hari ini, ijinkan aku mengingat kembali semua kenangan kita…
Penyakit yang menggerogotiku kian hari kian menyiksa…
Menyiksa raga, terlebih batinku…
Sungguh aku tak ingin melupakanmu…
Tapi aku yakin bahkan ketika semua memoriku ini terhapus…
Akan ada saat di mana kau kembali muncul di hadapanku…
Maka pada saat itu pula aku tidak akan pernah melepasmu lagi…

Sedalam itukah perasaanku pada Min Hae? Benarkah semua ini kutulis untuk Min Hae? Kenapa aku tak menuliskan namanya? Bodoh!

Aku membolak-balik agendaku kembali. Nihil. Aku tidak menemukan tulisanku lagi. Tapi aku menemukan sesuatu terselip. Aku mengambil lalu membukanya. Sebuah surat sepertinya..

My dearest Min ah~
Mungkin kau bahkan tak akan pernah membaca suratku ini.
Aku menulis surat ini dengan harapan aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu.
Salah! Tepatnya seolah mengungkapkan padamu. Karena aku tak benar-benar berniat untuk memberikan surat ini padamu nantinya.

Na reul saranghae…
Aku benar-benar ingin mengucapkan kata-kata itu di hadapanmu.
Mengatakannya sambil menggenggam jemari-mu.
Dan saat kau mengatakan ‘na ddo saranghae’ aku akan mendekapmu ke dalam pelukanku.
Jika kau mengetahui hal ini kau pasti tertawa, kenapa aku bisa sepercaya diri ini.
Aku bukan percaya diri, jagiya. Aku hanya berharap kau akan mengatakannya padaku.

Tapi semua itu tidak mungkin.
Penyakit ini. Aku benci penyakit ini. Kenapa dia harus muncul di dalam tubuhku?
Dan kenapa aku baru mengetahuinya setelah perasaanku padamu ini tak lagi bisa kukontrol?
Andai aku mengetahuinya lebih awal, aku tak akan mengusikmu dengan kehadiranku.

Apa yang harus aku lakukan?
Aku tak bisa hidup tanpamu. Lalu kau? Bisakah kau hidup tanpaku?
Aku yakin kau pasti bisa.
Jika kau membaca surat ini, kau pasti bertanya kenapa aku begitu yakin bahwa aku akan pergi meninggalkanmu. Iya kan?
Entahlah…
Perasaan ini muncul begitu saja.
Kau tahu kanker otak bukan?
Penyakit itu lah yang kini bersarang di tubuhku.
Aku akan pergi meninggalkanmu atau setidaknya melupakanmu.
Aku tak mau. Tapi kemungkinan untuk sembuh tanpa menghapus memori itu sangat kecil.
Lalu kenapa aku memutuskan untuk operasi? Kenapa tak membiarkan diriku menghabiskan sisa hidupku bersamamu?
Aku punya jawabannya, jagiya.

Aku tak ingin kau menjagaku yang sakit-sakitan.
Aku tak ingin kau menyia-nyiakan waktumu.
Jadi, aku membiarkan diriku menghilang dari hadapanmu.
Aku memutuskan untuk mengobati penyakit ini.
Setidaknya aku masih punya satu harapan.
Jikalau aku benar-benar sembuh, tapi mungkin aku melupakanmu.
Aku masih berharap, kau akan mampu membuatku kembali mengingatmu.
Kembali mengingat semua kenangan kita.

Mianhae…
Bodohkah aku memilih semua keputusanku ini?

Min ah~…
Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali dan aku tak mengenalimu, aku mohon jangan membenciku.
Dan, jangan menangis jika kau mengetahui bahwa aku tak lagi mengingat siapa dirimu.
Tak lagi mengingat betapa pentingnya dirimu di hidupku.
Tak lagi mengingat betapa besar cintaku padamu.

Buat aku kembali mengingatmu. Aku mohon.

Tapi, jika aku tak pernah muncul kembali di hadapanmu…
Aku mohon, lanjutkanlah hidupmu.
Temukan seseorang yang bisa menjagamu.
Seseorang yang tidak akan meninggalkanmu sepertiku.

Berbahagialah, nae jagiya Min ah~

Saranghae…

With all my heart, your Jong Hunnie…

DEG! Surat ini menjawab semua pertanyaanku. Min ah~ mianhae. Aku pasti menyakitimu tadi sore.

Aku mengusap air mataku. Ya, surat ini benar-benar membuatku terhanyut.

Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanku terhadap Min Hae di masa lalu.

Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?

_PoV end_


_Lee Hong Ki PoV_

“Kau yakin tidak ingin pulang? Tapi hari sudah semakin gelap.”

“Aniyo. Kau pulanglah dulu. Aku menunggu seseorang.”

“Kau yakin dia akan datang?”

“Aku yakin. Pulanglah Hong Ki ah~”

“Ne. Aku pulang dulu. Kau berhati-hatilah.”

>>>

“Hyung? Kau pergi kemana lagi barusan?”

“Dari café yang tadi.”

“Kenapa kau suka sekali kesana sih?”

“Entahlah, seperti ada sesuatu yang mengharuskanku untuk kesana.”

“Gadis itu?”

“Ne?”

“Gadis yang bersamamu itu.”

“Mungkin. Aku ke kamar dulu.”

Aku duduk di atas tempat tidurku. Mencoba memikirkan apa yang terjadi padaku. Kenapa aku selalu ingin ke café itu? Selalu memperhatikan gadis itu. Ada perasaan ingin menjaga. Aku yakin ini bukan cinta. Tapi apa?

Bagaimana dengan dia ya? Apa dia masih berada di café itu? Siapa yang dia tunggu? Seseorang yang selama ini membuat dia sendu itu kah?

Aku harap kau baik-baik saja, Min Hae.

_PoV end_


_Choi Jong Hun PoV_

Aku mengambil mantelku, aku memutuskan untuk berkeliling kota. Siapa tahu bisa membantuku mengingat sesuatu.

“Kau mau kemana, oppa?”

“Hanya jalan-jalan sebentar. Kau tidak perlu khawatir.”

Aku berjalan dan berjalan. Melewati taman, mencoba mampir sebentar tapi aku tidak berhasil mengingat apapun. Kemudian berjalan kembali. Samapi aku melihat sebuah café. Kenapa café ini terlihat begitu familiar? Aku memutuskan untuk masuk ke dalam.

Aku membuka pintu dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang di depan pintu.

“Min ah~?”

Apa ini jawaban darimu Tuhan? Kau mempertemukanku dengan Min Hae di café ini?

“Oppa? Kau… ke café ini???”

Min Hae menatapku dengan tatapan tidak percaya. Ada apa dengan café ini? Sepertinya dia kaget sekali mengetahui aku datang ke café ini.

“Min ah~ mianhae. Jeongmal mianhaeyo.”

“Ne?”

“Bolehkah aku mengobrol denganmu? Aku akan mengantarmu pulang.”

“Ne?”

“Nanti aku jelaskan di perjalanan.”

Aku menarik pergelangan tangannya untuk keluar dari café itu. Kami berjalan beriringan. Jujur aku sebenarnya tak ingat di mana rumahnya.

“Apa dulu aku pernah mengantarmu pulang?”

“Ne?”

“Min ah~ bisakah kau mengucapkan kata-kata lain selain ne?”

“Mian, oppa. Aku senang kau masih memanggilku dengan cara yang sama.”

“Min ah~ maksudmu?”

“Ne. Min ah~.”

“Jadi? Apa aku pernah mengantarmu sebelum ini?”

“Aniyo. Ini baru pertama kalinya.”

Jeongmalyo? Bodoh sekali diriku! Aku mencintainya tapi aku bahkan tak pernah mengantarkannya pulang.

“Apa kau ingin tahu apa penyebabnya sampai aku amnesia?”

Aku melihatnya mengangguk sambil tersenyum.

“Aku menderita kanker otak. Dan operasi itu membuat semua ingatanku hilang.”

“Mwo? Kau menderita kanker otak?”

“Dulu. Tapi sekarang aku sudah sembuh.”

“Ne. Dan melupakan semuanya.” Ucapnya pelan dan lirih.

“Min ah~ bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“Tentu saja.”

“Jadilah kekasihku.”

“Mwoya???”

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s