[One Shot Series] Airport With Love (Part 2/3)

Fiuh!!! Akhirnya ni FF selesai juga. Setelah terlantar sekian lama. Hari ini tiba-tiba keinget ma FF ini yang ga selesei-selesei, macet tanpa pernah diusik lagi. Akhirnya aku putuskan untuk berusaha menyelesaikannya. Eh, bisa ternyata. Hahaha.

Oh ya, ini lanjutan dari FF-ku sebelumnya, Left In Autumn. Ceritanya berdiri sendiri, tapi masih ada kaitannya.

Khusus buat unnie gisel, mian ya udah nunggu lama part yang satu ini. Semoga un suka ya? Ameeen… hehehe.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Airport with Love

Author : neys

CAST

Lee Mi Hwang

Kim Jun Su (DBSK / JYJ)

Jung Ga Eul

Kim Jae Joong (DBSK / JYJ)


*Incheon International Airport, Seoul*

_Kim Jun Su PoV_

“KAU???”

Long time no see, how have you been?
Has your dog grown up?
Are you still wearing my scarf?
You’ve probably thrown away my photos
I can’t cut the hair at the back of my head
This excuse is pretty good eh (Hey it’s not bad)
A pair of scissors, a bunch of nonsense talk
I want to beg you to come back right?

Don’t get angry by yourself anymore
Giving him headaches and worries
Even though it’s got nothing to do with me
What can I do, he’s my buddy
Yeah
Just forget about it, it’s been so long already
Think about it, Autumn is nearly passed
Yeah
He’ll get cold when Winter comes along
If you don’t come back, you can’t be wanting me to hold him
Is that all right?

It was my bad
I didn’t hold onto you tightly
You say it’s very dangerous to leave tears
If you waited for the rain (waited for the rain)
And shed the tears together with it, it won’t be discovered by compassion

After I shout at this and that falling star in the sky
Will there be any miracles?
Even if we can just be friends it doesn’t matter
I changed for you, I don’t even recognize myself
It’s not that I went to get plastic surgery
I merely showed my true heart
I open up this and that bottle of champagne
Going to my Mr. J restaurant
I light the candles and while I’m there I eat some dessert
I celebrate your undying perseverance to not get in touch
It’s not trendy to give someone the silent treatment anymore
Hurry up and come back
To my side

(Jay Chou – Long Time No See)


Aku bertemu lagi dengannya setelah enam tahun berlalu. Aku benar-benar ingin mendekapnya dalam pelukanku. Aku sangat merindukanmu, Lee Mi Hwang.

Setelah perpisahan yang sebenarnya aku sendiri tidak kehendaki.

Aku merindukanmu, Mi Hwang ah~. Apa kau juga merindukanku?

“Non gwaenchana?” ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya. Ia bangkit berdiri tanpa menyambut tanganku.

“Ne, gwaenchana, Jun ah~.” Ia tersenyum padaku. Senyum yang sama dengan enam tahun yang lalu.

Oraemaniyeyo, al jinae syeosseoyo?”

“Ne, jal jinaeyo Jun ah~.”

“Aku merindukanmu, Hwang ah~.”

Dia tersenyum sinis. “Jinjja? Tidak merindukan temanmu itu lagi?” ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.

“Hwang…” aku menahan tangannya.

“Waeyo? Kau tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Aku sudah cukup jelas dengan keputusanmu waktu itu. Kau dan aku punya jalan masing-masing sekarang. Jangan ganggu hidupku lagi. Itu akan membuatku sulit untuk melepasmu untuk yang ke dua kalinya.

“Justru itu, aku tidak ingin kau kembali melepasku.”

“Apa maksudmu. Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk membahas masa lalu apalagi hal-hal tidak penting macam ini. Harusnya kau tahu bagaimana rasa sakitku waktu itu, jadi jangan coba-coba untuk mengulanginya lagi.” Dia beranjak pergi dan aku tak menahannya lagi.

Oh Tuhan! Dia masih marah padaku. Dia masih merasa sakit akan keputusan tololku empat tahun yang lalu.

#Flashback

“Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini, Hwang.”

“Mwo? Apa kau bilang? Apa aku melakukan kesalahan?”

“Aniyo. Tapi aku akan pergi bersama temanku. Kau tahu apa yang aku maksud dengan temanku kan? Mungkin aku tidak akan kembali ke Seoul selama beberapa tahun. Jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.”

“Apa rasa cintamu padanya lebih besar dari rasa cintamu padaku?”

“Kau tahu aku sangat menyayanginya. Ia sudah menemaniku sejak kecil. Selalu menemaniku saat aku kesepian. Dan kali ini aku pergi juga demi masa depanku.”

“Kalau kau ingin pergi dengan temanmu itu, pergi saja. Kenapa harus memutuskan hubungan kita? Aku bisa menunggumu.”

“Karena aku tidak mau kau menunggumu. Karena aku takut, aku tidak pantas kau tunggu.”

“Kau selalu seperti ini. Sekarang aku yakin kau memang tidak pernah benar-benar mencintaiku.”

#Flashback end

_PoV end_


_Lee Mi Hwang PoV_

Aku bertemu lagi dengannya. Namja yang dulu sangat aku cintai. Namja yang pernah mengisi hari-hariku. Aku merindukannya. Jujur perasaan cintaku padanya belum hilang sepenuhnya. Meski kini aku mencintai Jae Joong. Apa aku memang tidak pantas untuk dicintai? Tak terasa air mataku tumpah.

“Onnie!!!” aku mendengar teriakan Ga Eul. Aku tersenyum padanya.

“Mian, onnie. Kami terlambat menjemputmu. Ini semua gara-gara dia.” Ucap Ga Eul sambil menunjuk-nunjuk Jae Joong.

“Ya! Kenapa kau malah menyalahkanku?” ucap Jae Joong sambil melingkarkan tangannya di pundak Ga Eul. Jujur hatiku sedikit sesak melihatnya bersama Ga Eul.

“Sudahlah. Lebih baik kalian membantuku membawa barang-barangku. Aku sangat lelah.”

“Siap noona!” ucapnya sambil memberi hormat padaku. Membuatku terkikik.

Aku berjalan di depan. Mereka berdua mengikutiku dari belakang. Sesekali terdengar mereka berdebat lalu tertawa kemudian. Mereka benar-benar pasangan baru yang berbahagia.

>>>

Aku sudah sampai di apartment-ku. Mereka berdua juga sudah pulang. Aku masuk ke kamarku, mengambil kotak kecil yang terletak di dalam lemari-ku. Aku membawanya ke tempat tidur. Membuka tutupnya lalu mengeluarkan isinya. Foto-fotoku bersama Jun Su. Foto-foto saat kami masih duduk di bangku SMP. Mungkin aku tidak punya barang kenangan seperti kebanyakan pasangan. Tapi hari-hariku saat bersamanya sudah lebih dari cukup bagiku.

Oke. Mungkin sekarang perasaan itu kembali muncul. Tepat di saat aku kembali bertemu dengannya. Apa ini masih bisa dibilang cinta? Apa iya aku masih mencintainya? Tapi, bukankah aku mencintai namja lain? Ataukah sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mencintai Jae Joong? Apakah aku hanya bergantung padanya? Karena dia yang selalu ada di sisiku. Atau ini hanya perasaan sayang seorang noona kepada namdongsaeng-nya saja?

Entahlah, aku terlalu lelah untuk memikirkan semua ini.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Membiarkan tangisan ini tumpah. Juga membiarkan rasa sakit hatiku ini keluar.

Andai tangisan ini dapat membawa rasa sakit di hatiku, aku akan menangis sampai semua rasa sakit ini hilang. Andai saja…

Aku terbangun dari tidurku. Rupanya tadi aku menangis sampai aku tertidur. Aku memutuskan untuk mandi, bersiap-siap untuk keluar. Aku ingin berjalan-jalan sejenak. Aku merindukan kota ini. Merindukan indahnya pemandangan sekitar sungai han di malam hari.

Aku berhenti di tepi sungai Han. Duduk lalu memandang jembatan banpo yang sangat indah di malam hari. Memandang pancuran air berwarna-warni dari sisi jembatan itu. Benar-benar keren.

Kalau saja aku ke tempat ini bersama kekasihku pasti akan terasa sangat romantis. Aish! Apa yang sedang kupikirkan?

“Mi Hwang ah~…”

“Jun Su? Kenapa kau ada di sini?”

“Aku hanya merindukan tempat ini. Tak menyangka bisa bertemu denganmu.”

“Bagaimana kabar temanmu itu?”

“Baik. Dia selalu menemaniku selama ini. Aku dan dia berkeliling dari kota ke kota. Dari Negara yang satu ke Negara yang lainnya.”

“Baguslah kalau begitu. Sampaikan salamku padanya.”

“Kau bisa menyampaikan langsung salammu itu padanya. Aku membawanya serta saat ini.”

Aku melihat ia berjalan ke arah mobilnya. Dan kembali kemari bersama temannya itu.

“Nah, silahkan.”

“Ne. Ya! Kenapa sekarang kau muncul di depanku? Tak tahukah kau yang membuat temanmu ini meninggalkanku enam tahun yang lalu?”

“Berhentilah membencinya, Hwang. Semua salahku.”

Aku tersenyum padanya. Jujur, aku tidak pernah benar-benar membencinya. Mungkin memang takdir kami saja yang tidak berjodoh waktu itu.

“Dan sekarang aku ingin merubah semua pemikiranmu tentangnya. Kalau dulu dia berhasil membuatmu menangis. Kali ini dia akan membuatmu tersenyum.”

I’m lying here tonight thinking of the days we’ve had
Wondering if the world would be so beautiful
If I had not looked into your eyes
How did you know that I’ve been waiting?
I never knew the world would be so beautiful at all

I’m spending all the days dreaming of the nights we’ve had
I never knew that love would be a miracle
When I think of all the ones before
But now that I’ve found you I am flying
I never knew that love would be so beautiful to me
I never knew that love would be so beautiful to me

And when we dance to the rhythm that is burning like a flame
And when you touch me I can hardly move you take my breath away
You give me all that I want to feel when we become as one
And then you take me to the heaven of your heart

Did nobody ever tell you?
You’re the best thing that has ever been

Ah … you … ah … so beautiful … ah … so beautiful

I’m standing here tonight thinking of the time we’ll have
I never knew that you would be so beautiful
From the day you came into my life
I just want to say you make me happy
I never knew that you would be so beautiful to me
I never knew that you would be so beautiful to me

So beautiful to me …
So beautiful to me …
So beautiful to me …
… to me

I’m lying here tonight
I’m dreaming here tonight
I dance with you tonight

(Chris De Burgh – So Beautiful)

 

Dia menyanyikan lagu itu bersama temannya. Salah! Lebih tepatnya diiringi oleh temannya. Ya, gitar kesayangannya itu.

Dia benar, aku tersenyum selama ia bernyanyi. Jujur, perasaanku sangat berbunga-bunga. Entahlah, kenapa dia tega sekali mempermainkan perasaanku?

_PoV end_


_Kim Jun Su PoV_

Aku melihatnya tersenyum saat aku bernyanyi. Aku pun ikut tersenyum. Aku merindukan senyumnya ini.

Aku menghampirinya lalu menggenggam jemarinya. Menatapnya dalam-dalam. Tapi dia tidak membalas tatapanku. Apa dia gugup?

“Hwang ah~ tatap aku.”

“Ne?”

“Mianhae aku meninggalkanmu waktu itu. Kalau boleh mengulang masa lalu, aku tak akan pernah mengambil keputusan bodoh itu.”

“Tapi sayangnya masa lalu tidak bisa di ulang.”

“Bolehkah aku meminta kesempatan kedua?”

“Mianhae.”

“Hwang ah~ aku masih sangat mencintaimu. Empat tahun terpisah darimu benar-benar menyiksa. Tidakkah kau masih mencintaiku?”

“Sayangnya tidak.”

Aku terdiam mendengar jawabannya. Benarkah ia sudah melupakan semua perasaannya padaku? Ya, enam tahun memang bukan waktu yang singkat. Apa saja bisa terjadi dalam kurun waktu enam tahun.

“Jeongmalyo? Adakah pria lain yang berhasil menggantikan posisiku?”

“Aniyo. Aku tidak pernah berusaha mencari penggantimu. Setiap orang yang hadir dalam hidupku memiliki tempatnya masing-masing.”

“Itu berarti aku masih memiliki tempat di hatimu bukan?”

“Ne. Tapi tempat itu sudah tidak bisa diusik lagi. Kau bukanlah Jun Su-ku yang dulu.”

“Kalau begitu ijinkan Jun Su yang baru ini masuk ke hatimu.”

“Tidak semudah itu. Aku sedang tak ingin membuka hatiku. Sudah cukup hatiku tersakiti dua kali.”

“Dua?”

“Ne. Aku baru saja putus.”

“Kau memiliki kekasih setelah berpisah denganku?”

“Sudahlah, adakah pembahasan lain yang bisa membuatku bertahan denganmu di sini.”

“Ara. Anggap saja kita sedang reuni SMP. Tapi hanya kita yang bisa hadir.”

“Hahaha. Baiklah.”

>>>

Beberapa hari ini aku cukup sering bertemu dengan Mi Hwang. Kami kembali dekat seperti dulu. Aku merasa dia tidak lagi membenciku. Dan saat ini aku sedang dalam perjalanan ke apartment Mi Hwang. Hari ini dia mengundangku makan malam bersama kedua hoobae-nya.

“Annyeong!” sapaku saat melihatnya membukakan pintu untukku.

“Masuklah. Mereka sudah menunggumu.”

“Annyeong! Joneun Jung Ga Eul imnida.”

“Kim Jae Joong imnida.”

“Ne. Kim Jun Su imnida.”

“Semuanya sudah berkumpul. Ayo kita ke meja makan.” Mi Hwang memanggil kami semua.

“Jal mogossoyo!!!“ Ucap kami bersama-sama.

“Ini semua kau yang memasak?” tanyaku pada Mi Hwang.

“Aniyo. Aku dibantu oleh mereka berdua.”

“Ne? Kau juga bisa memasak?” tanyaku pada Jae Joong.

“Tentu saja. Dulu saat aku masih menjadi kekasihnya, aku selalu memasak untuknya.”

“Mwo? Jadi mantan kekasih Hwang itu kau?”

“Ne. Tunggu! Jangan bilang kau itu adalah mantan kekasih Hwang noona yang meninggalkannya enam tahun lalu?”

“Ne. Itu memang aku.”

“Ya! Apa yang sedang kalian bicarakan. Hentikan pembicaraan ini.”

Jadi, pria ini mantan kekasih Hwang? Lalu gadis yang bersama dengannya ini siapa?

“Tunggu! Gae Eul ah~ apa kau kekasih Jae Joong yang sekarang?”

“Ne. Dia kekasihku.” Pertanyaanku malah dijawab oleh Jae Joong.

“Arasseo.”

Apa? Secepat itu Jae Joong menemukan pengganti Mi Hwang? Aish!

Usai makan Mi Hwang mengajakku ke balkon. Kami berdiri menatap langit bersisian. Sama-sama terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya dia buka suara.

“Kau jangan salah paham pada Jae Joong. Daridulu dia memang tidak pernah benar-benar jatuh hati padaku. Dia hanya salah mengartikan perasaannya sendiri padaku.”

“Maksudmu?”

“Dia hanya sekedar mengagumiku. Padahal gadis yang sebenarnya ia cintai adalah kekasihnya saat ini.”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau benar-benar mencintai Jae Joong?”

“Mollayo. Aku sendiri takut aku sepertinya, hanya salah mengartikan perasaanku sendiri.”

Kami kembali terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku memikirkan hari esok. Besok aku akan pergi dari kota ini. Kembali melanjutkan perjalananku. Apa aku dan Mi Hwang memang tidak ditakdirkan untuk bersatu?

“Hwang ah~ apa kau benar-benar tidak bisa memberiku kesempatan kedua?”

Dia menoleh padaku. Menatapku lekat lalu menggeleng pelan.

“Tidak untuk saat ini, Jun ah~”

_PoV end_


_Lee Mi Hwang PoV_

Hari ini aku berniat untuk kembali jalan-jalan. Tapi aku menemukan sebuah surat di depan, sisi dalam pintu rumahku. Siapa yang menyelipkannya?

Aku membuka surat tersebut, aku tahu ini tulisan tangan Jun Su. Aku mulai membacanya.

Hwang ah~
Enam tahun ini, bagaimana hidupmu?
Enam tahun yang lalu aku menghilang dari hidupku dan menorehkan sebuah luka.
Enam tahun kemudian aku kembali muncul di hadapanmu.
Maaf, kalau ternyata kau belum bisa memaafkan kesalahanku.

Gitarku itu…
Kau tahu dia yang membawaku meraih semua impianku.
Tapi, setelah meninggalkanmu aku menyadari impianku yang lain.

Selalu bersamamu…
Itulah impianku yang dengan bodohnya tidak aku sadari sebelumnya.
Entah dengan apa aku bisa menebus semua kesalahanku.

Tahukah kau, di detik pertama aku kembali melihatmu aku seolah melihat cahaya.
Cahaya yang selama ini hilang.
Aku masih berharap kau akan kembali ke dalam kehidupanku dengan cahaya yang sama.

Aku tak pandai berkata-kata.
Aku tak bisa merayumu dengan kata-kata yang manis.
Hanya satu yang pasti bahwa aku selalu mencintaimu.

Kemarin…
Hari ini…
Selamanya…

Oh ya, hari ini aku akan meninggalkan Seoul. Jika kau masih mau memberiku kesempatan kedua temui aku.
Atau kita berdua akan sama-sama kehilangan kesempatan itu.
Aku berangkat dengan jadwal penerbangan pertama ke China.

Sampai jumpa…

-Jun-


Aku langsung berlari keluar apartment, melajukan mobilku ke bandara. Aish! Apa yang dipikirkan anak itu? Aku baru menyadari bahwa ternyata aku masih mencintai pria bodoh yang satu ini.

Saat aku sampai di bandara, aku berlari dengan sekuat tenaga. Aku menghampiri lobi dan menanyakan keberangkatan pertama ke China. Dan betapa hancurnya hatiku saat mengetahui pesawat sudah lepas landas setengah jam yang lalu.

Aku terduduk di salah satu kursi. Aku menangis. Kenapa aku harus kehilangan dia untuk yang kedua kali?

“Apa yang kau tangisi?” ucap seseorang sambil mengulurkan sebuah sapu tangan padaku.

Sepertinya aku mengenal suara ini. Ini kan suara…

“Jun Su ya!!!” aku menghambur ke pelukannya. Dia mengelus punggungku pelan.

“Ya! Jangan menangis. Aku tak suka melihatmu menangis.”

Aku melepas pelukanku dan menatapnya tajam.

“Ya! Apa kau membohongiku?”

“Aniyo. Aku benar-benar akan berangkat ke China hari ini. Tapi tadi aku tiba-tiba sakit perut. Saat aku di kamar mandi, eh pesawatnya berangkat.”

“Tidak mungkin!”

Ia mengacak rambutku.

“Ikut denganku ya?”

“Hah? Kemana?”

“China.”

“Andwae!”

“Waeyo? Bukankah kau sudah memberiku kesempatan kedua itu?”

“Siapa bilang?”

“Ooo, arasseo. Kalau begitu aku pergi ya? Jangan merindukanku.”

“Ya! Kenapa kau ngambek?”

“Aku? Ngambek?”

“Hahaha. Aku memang memberimu kesempatan kedua. Tapi aku tetap tidak bisa meninggalkan Seoul. Aku harus menyelesaikan kuliah.”

“Aku mengerti. Aku menyukai tempat ini, bandara ini.”

“Waeyo?”

“Di tempat ini kita kembali dipertemukan. Di tempat ini pula kita kembali dipersatukan.”

Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku membalas pelukannya.

“Saranghae, Hwang.”

“Na ddo saranghae, Jun.”

.F.I.N.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s