[Series] Our Memories – Part 1

Annyeong!!! Aku datang bersama FF mini series ke dua. Kali ini pake cast FT Island. Tapi mohon maaf, entahlah part 1 ini super puendek. Hehehe. Untuk next part aku usahakan lebih panjang.

Don’t forget to leave your comment or thumb… Thank you…

Selamat membaca, kawan!!! ^_^

= = = = = = =

Title : Our Memories

Author : neys

CAST

Lee Hong Ki (FT Island)

Choi Jong Hun (FT Island)

Lee Jae Jin (FT Island)

Choi Min Hwan (FT Island)

Song Seung Hyun (FT Island)

Oh Won Bin (Ex FT Island)

Choi Min Hae

Choi Hye Jin

Choi Soo Hyun


_Lee Hong Ki PoV_

Hari ini adalah hari kesekian aku melihatnya duduk di tempat yang sama. Setiap hari di jam yang sama dia akan duduk di kursi yang sama dan menatap keluar jendela sambil sesekali meminum tehnya.

Aku selalu melihatnya di sini sejak kepindahanku ke kota ini.

Di hari pertama kepindahanku aku memutuskan untuk berjalan-jalan sampai akhirnya menemukan café ini. Aku melihat wajahnya yang begitu sendu. Dan tidak tahu kenapa, keesokan harinya aku datang ke tempat ini di jam yang sama. Aku kembali melihatnya. Begitu setiap hari. Dan aku rasa kebiasaannya sudah tertular padaku. Aku selalu duduk di kursi yang sama, pada jam yang sama pula setiap harinya.

Lagi-lagi aku tidak tahu mengapa aku harus mengikuti kebiasannya ini. Dari tempatku sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Setiap hari, memandang wajahnya yang begitu sendu membuatku penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengannya.

The next day

Hari ini saat aku datang, café penuh. Aku menoleh ke arahnya. Dia selalu datang sendiri, jadi kursi di depannya kosong. Aku putuskan untuk menghampirinya. Mungkin ini saatnya untukku dapat mengenalnya lebih jauh.

“Annyeong! Bolehkah aku duduk di sini?”

Ia mendongakkan kepalanya, menatapku sekilas lalu menebarkan pandangannya ke semua sudut café. Lalu akhirnya mengangguk.

“Le Hong Ki imnida.”

“Choi Min Hae imnida.”

“Aku perhatikan, sepertinya kau datang ke tempat ini setia hari ya?”

“Ne? Kau memperhatikan?”

“Oh, bukan. Maksudku, setiap hari aku juga kemari dan aku selalu melihatmu di sini.”

Ia tersenyum sambil mengaduk teh-nya.

“Ada sesuatu yang membuatku ingin selalu di sini. Sesuatu yang sangat penting bagiku.”

“Kau selalu sendirian ke tempat ini?”

“Dulunya tidak. Baru dua bulan belakangan ini aku sendirian.”

“Hm… Memang apa yang terjadi?”

“Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Sudah ya? Aku pergi dulu. Annyeong!”

“Ne. Jalga.”

_PoV end_


_Choi Min Hae PoV_

Hari ini aku bertemu dengan seorang pria di café itu. Membuatku semakin merindukan dirinya. Entahlah kau ada di mana sekarang. Tidak tahukah kau betapa aku sangat merindukanmu?

Aku bergegas pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap dan aku tidak ingin membuat dongsaeng-ku khawatir.

“Aku pulang!”

“Noona. Bagaimana hari ini?”

“Masih seperti hari-hari kemarin. Noona ke kamar dulu ya?”

Aku melangkahkan kakiku ke kamarku. Duduk di depan meja belajarku. Menatap ke sebuah foto. Aku mengambil sebuah kertas dan mulai menulis, sambil menangis.

Dear you,

Sudah dua bulan kau berlalu begitu saja. Berlalu tanpa pemberitahuan apa-apa.

Tahukah kau? Dua bulan ini aku selalu menantimu. Masih mempercayai kata-katamu padaku. Ataukah kau yang melupakannya? Bolehkah aku mengingatkanmu?

Kau berjanji padaku untuk selalu bersamaku. Tapi sekarang? Bahkan untuk menatap wajahmu pun aku tidak bisa.

Sebenarnya kau ada di mana? Kenapa kau pergi begitu saja? Apa yang harus aku lakukan agar kau kembali?

Hidupku dua bulan ini benar-benar terasa hampa. Tidak ada lagi tawamu. Tidak ada lagi gurauanmu. Tidak ada lagi genggaman tanganmu yang begitu hangat. Tidak ada lagi kejutan-kejutan manis darimu. Aku merindukan semua yang ada pada dirimu.

Kembalilah, oppa…


Aku melipat kertas itu lalu menyimpannya di dalam laci. aku terdiam. Dan tiba-tiba saja semua memoriku tentang dirinya muncul.

Kira-kira satu tahun yang lalu. Saat hari kelulusan SMA. Aku bersama teman-temanku pergi ke sebuah café. Kami semua terlalu berisik sampai akhirnya ada seorang pria yang mendatangi meja kami.

“Ya! Bisakah kalian tenang sedikit? Aku sedang mengerjakan tugasku. Kalian terlalu berisik.”

Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Pertemuan yang kemudian mengubah hari-hari berikutnya. Satu minggu setelah hari itu aku kembali mengunjungi café itu, karena aku sangat menyukai teh hijau café itu. Dan, aku bertemu lagi dengan pria itu. Entah bagaimana, kami bisa mengobrol dengan asik. Itulah awal kedekatan kami.

Mungkin ini terlihat bodoh. Tapi kami selalu berjanji untuk bertemu di café tersebut. Tidak setiap hari tapi bisa dibilang cukup sering.

Salah satu kebiasaan kami saat berada di café adalah menebak-nebak tujuan ataupun masalah dari para pengunjung café.

“Kau lihat gadis di meja nomor 3 itu? Aku rasa dia baru saja putus cinta.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Lihatlah Min ah~ wajahnya nampak begitu kusut. Mungkin kau juga akan seperti itu jika sedang putus cinta.”

“Ya! Kau tidak akan membiarkan aku seperti itu bukan?”

“Tentu saja, Min ah~ aku akan selalu membuatmu menyunggingkan senyum manismu itu.”

“Ya, oppa! Kau lihatlah pria yang baru saja masuk. Sepertinya ia baru saja gagal mendapatkan proyek.”

“Kau benar Min ah~ tampangnya tampak begitu menyeramkan. Hahaha.”

Aku merindukan saat-saat seperti itu bersamanya. Merindukan senyumnya yang membuat hati para gadis meleleh. Merindukan tawanya yang begitu menentramkan hatiku. Juga merindukan kejutannya.

“TARA!!!”

“Apa ini?”

“Buka saja. Aku yakin kau akan berteriak histeris.”

“OPPA!!! Ini indah sekali!!!”

“Aku tahu kau akan menyukainya. Sekarang benda itu sudah menjadi milikmu. Gantilah topik, jangan membicarakan benda itu lagi.”

Benda itu adalah benda yang sangat berarti bagiku. Sebuah cincin dengan hiasan hati diatasnya. Aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba memberiku cincin ini. Sejak hari itu aku selalu memakai cincin ini.

“Noona, non gwaenchana?”

Aku kaget mendengar suara dongsaeng-ku. Aku segera mengusap air mataku.

“Ne, gwaenchanayo.”

“Kalau tidak apa-apa kenapa menangis? Pasti ulah hyung kan? Kemana sih dia? Dia sudah membuat noona yang paling kusayangi menangis setiap kali mengingatnya.”

“Aniyo. Noona baik-baik saja. Ada apa kau mencari noona?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin mengingatkanmu. Besok adalah hari pertamaku kuliah. Jadi jangan meninggalkanku dan berangkat sendiri ke kampus.”

“Aku mengerti.”

_PoV end_


_Choi Min Hwan PoV_

Hari ini adalah hari pertamaku kuliah. Aku merasa sedikit lega karena sekarang aku bisa menjaga noona-ku. Selama ini aku belum bisa menjaganya sepernuhnya karena aku berada di tempat yang berbeda. Ia sudah kuliah sementara aku masih SMA. Tapi sekarang…

“YA! KENAPA KAU MELAMUN?” Aku kaget mendengar ada seseorang yang berteriak. Aku menoleh ke arah suara. Rupanya ia sedang menatapku.

“Mian, noona.”

“Kau mengerti apa yang aku jelaskan?”

“Ne? Penjelasan apa?”

“Oh, arasseo. Kau benar-benar tidak menyimak kata-kataku rupanya.”

“Mianhae, noona. Aku tidak sengaja.”

“Sepulang kuliah nanti temui aku. Dan kau harus menemukan di mana aku berada.”

“Ne??? Bagaimana caranya?”

“Itu urusanmu.”

“Setidaknya beritahu aku siapa namamu, noona.”

“Baiklah. Namaku Choi Soo Hyun. Kalau kau tidak berhasil menemuiku dalam waktu lima belas menit, kau akan kuhukum besok.”

“Ne, noona.”

Aish! Bagaimana ini? Baru hari pertama kuliah saja aku sudah membuat kekacauan. Bagaimana aku bisa menjaga noona-ku?

“Hey! Kau tidak tahu siapa dia?”

“Aniyo. Memang dia siapa?”

“Oh ya, Song Seun Hyun imnida.”

“Choi Min Hwan imnida.”

“Dia adalah orang berpengaruh di kampus ini. Dia juga ketua panitia penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ini. Dan dia terkenal sangat galak.”

“Jinjja? Aish! Bagaimana ini?”

“Selamat berjuang ya? Semoga kau beruntung!”

Semua kegiatan hari ini sudah selesai. Itu artinya aku harus bergegas mencari Soo Hyun noona. Aish! Aku harus mencarinya kemana?

Aku berlari ke ruang pertemuan. Nihil. Ke kantin. Nihil. Sampai aku memutuskan untuk ke pergi ke perpustakaan. Aku menemukannya sedang duduk sambil membaca buku. Kelihatannya asik sekali.

“Noona…” ia menoleh padaku lalu melihat arloji di pergelangan tangannya.

“Bagus. Kau belum terlambat rupanya. Duduklah.”

“Ne.”

“Siapa namamu?”
”Joneun Choi Min Hwan imnida.”

“Min Hwan? Kau dongsaeng dari Min Hae?”

_PoV end_


_Author PoV_

Pada sore hari nampak Min Hae dan Hong Ki berada di dalam café Remember. Mereka duduk bersama. Tapi tidak ada yang mengucapkan satu kata pun.

“Hyung! Eomma menyuruhmu pulang.”

“Kenapa tidak menelepon saja?”

“Kau tidak membawa handphone-mu. Sudah ya, aku pulang dulu.”

“Ne.”

BRUK…

“Mianhae, aku tak sengaja.”

“Ne, gwaenchanayo.”

“Jae Jin ah~?”

“Hye Jin ah~?”

“Sepertinya kau terburu-buru sekali?”

“Ne, aku sedang mencari temanku.”

“Baiklah aku pulang dulu. Lain kali lebih berhati-hati. Annyeong.”

“Ne. Gomawo.”

Hye Jin segera mencari temannya tersebut. Karena dia membawa berita yang cukup mengejutkan.

“Min Hae!!!” panggilnya saat ia berhasil menemukan sosok temannya itu.

“Hye Jin ah~? Ada apa?”

“Oppa sudah ditemukan.”

“Jeongmalyo???”

“Ne. Dan appa sudah membawanya pulang ke rumah. Aku juga baru tahu. Saat aku masih di kampus, appa meneleponku. Aku langsung bergegas kemari mencarimu.”

“Hong Ki ah~ mianhae, aku harus pergi.”

“Sesuatu yang penting itu ya?”

“Ne. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal?”

“Gwaenchanayo.”

“Oh iya, sebelumnya kenalkan.”

“Choi Hye Jin imnida.”

“Lee Hong Ki imnida.”

“Sampai jumpa!”

Min Hae dan Hye Jin bergegas menuju rumah Hye Jin. Keduanya nampak tak sabar untuk segera sampai d rumah. Begitu sampai mereka langsung masuk dan menuju ke sebuah kamar.

“Oppa!!!” teriak Min Hae lalu menghambu ke pelukan seorang pria yang duduk di ranjang.

“Kau kemana saja? Aku merindukanmu, oppa.”

Pria itu melepaskan pelukan Min Hae. Menatap Min Hae dengan heran.

“Kau siapa?”

– – – To be continue – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s